Saturday, October 15, 2016

Sinopsis Drinking Solo Episode 11 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Drinking Solo Episode 11  Part 2


Ki Bum membeli buku sekaligus majalah dewasa, ia bahkan meminta poster promo majalah itu.

Saat akan keluar Ki Bum bertemu dengan Kwon yang juga sedang membeli buku. Ki Bum menyayangkan, kenapa Kwon tidak minta tolong saja padanya yang sudah pengalaman selama 3 tahun.

"Jadi apa yang kau beli? Coba kulihat."


Dan ternyata Kwon berubah pikiran, ia tidak jadi mengincar posisi Administrasi Umum, ia mau jadi pekerja sosial saja. Setelah mendengar apa yang Dong Young bilang kemarin, ia pikir ujian level 9 akan
sangat kompetitif.

"Setelah aku mencari tahu, ternyata pekerja sosial tidak banyak saingannya."

"Dasar kunyuk plin-plan."

"Kau kan tahu aku benci persaingan."


Ki Bum tahu sangat hal itu, makanya dulu Kwon berkencan dengan cewek terjelek di kelas. Saking besarnya dia, orang menyangka dia itu pria.

"Wajahnya adalah satu-satunya yang tidak bisa diperbaiki oleh dokter bedah plastik. lebih gampang kalau dia dilahirkan kembali saja, kalau dia mau jadi cantik."

Tapi dengan begitu Kwon merasa tenang karena tak ada satupun pria lain yang menyukai mantannya itu jadi ia tidak ada saingan.


Ki Bum terpeleset, ia sampai terguling di tangga dan ia rasa tulang ekornya patah. Ia pun meminta Kwon untuk menggendongnya sampai ke asrama.

Kwon pun menggendong Ki Bum sampai ke kamarnya. Dan setelah itu mengeluh karena terlalu capek gara-gara Ki Bum.


"Hei, apa kau kesal hanya karena aku meminta sedikit bantuanmu? Bagaimana bisa kau bersikpa begitu kalau kau mau jadi pekerja sosial?"

Kwon tak mengerti lalu Ki Bum menjelaskan kalau pekerja sosial itu harus mendahulukan kepemtingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Harus bermurah hati untuk memberikan pertolongan pada tetangga! Harus punya rasa kemanusiaan semacam itu!

"Oh, benarkah!"

"Jadi kau mau memijit bokongku, kan? Rasanya sakit sekali tahu! Sepertinya tulang ekorku patah!"

Kwon malah kabur.


Gong Myung membaringkan Ha Ha di tempat tidurnya dan ia malah duduk sambil belajar. Gong Myung menjahili Ha Na dengan menulis sesuatu di wajah Ha Na (Guru yang Bersinar-sinar).

Ha Na terkejut saat bangun karena ia ada di tempat tidur Gong Myung. Gong Myung sebenarnya ingin ketawa saat melihat Ha Na tapi ia menahannya lalu menjawab kalau ia yang memindahkan Ha Na ke atas.

Ha Na minta maaf lalu pamit untuk mengambil air. Setelah Ha Na keluar barulah Gong Myung meluapkan tawanya, sampai memukul-mukul kasur.


Saat di luar orang-orang berbisik-bisik saat melihat Ha Na. Ha Na tentu saja merasa lalu ia bercermin,

"Apa ini? Sialan Jin Gong Myung! Oh tidak! Oh tidak!"

Ha Na langsung menghapusnya dengan air. Tak lama kemudian Gong Myung muncul, bertanya apa Ha Na baik-baik saja.

"Apa kau ingin mati?" Kesal Ha Na tapi Gong Myung malah tertawa saat melihat wajah Ha Na.

"Aku menulis 'Guru yang Bersinar-sinar', dan sekarang ini jadi 'Perempuan Gila'."


Ha Na kembali bercermin dan benar apa yang dikatakan Gong Myung. Ia pun tambah kesal dan hendak memukul Gong Myung. Tapi ia menemukan gambar di jarinya. Ha Na bertanya, apa lagi itu?

"Oh, itu hadiah dariku. berlian besar, kan?"

Ha Na kesal lalu mengejar Gong Myung yang kabur dari sana.


Kwon menyapa Ki Bum dan Dong Young saat mereka akan masuk kelas. Dong Young ingin memastikan apa Kwon benar-benar ganti pilihan mau jadi pekerja sosial?

"Aku memutuskan untuk jadi agen real estate resmi yang bersertifikat." Jawab Kwon sambil menunjukkan buku barunya.

Setelah ia pikir-pikir, ia tidak bisa jadi pekerja sosial yang harus mengesampingkan urusan pribadinya.

Baik Ki Bum maupun Dong Young tak terkejut mendengarnya karena Kwon sudah bolak-balik berubah pikiran!

"Makanya aku pikir, aku akan sangat cocok jadi agen perumahan. Yang perlu kulakukan hanya tinggal membawa pembeli berkeliling dan melihat-lihat rumah."


Lalu Kwon kembali ke asrama, ia mau mencari akademi yang cocok untuk profesi itu.

Saat Ki Bum dan Dong Young selesai pelajaran, mereka melihat Kwon diturunkan oleh mobil polisi di depan asrama. Mereka bertanya, kenapa Kwon bisa sampai bersama polisi.

Kwon menjelaskan kalau ia tersesat, jadi meminta pak polisi untuk mengantarnya ke asrama. Dong Young sekarang jadi ingat kalau Kwon memang sering tersesat kemanapun Kwon pergi.

"Kalau kau mau jadi agen perumahan. Kau harus ingat jalan. au harus ingat jalan di sekitarmu. Kalau kau sering nyasar, kau pikir kau bisa jadi agen perumahan?" Bentak Ki Bum.

Kwon kembali menyerah, Sepertinya sih tidak bisa. Jadi, ia berubah pikiran lagi. Ia ingin jadi polisi. Saat ada di mobil polisi, rasanya luar biasa sekali. Ia juga suka seragamnya.

Ki Bum mengibaratkan Kwon sebagai pelangi. Dong Young tak mengerti itu. Ki Bum lalu menjelaskan

"Dia ada di mana-mana dengan berbagai warna. Bagaimana bisa kau jadi polisi? Polisi sering terlibat perkelahian dengan penjahat. Bagaimana bisa kau bertengkar kalau kau letoi?"


Kwon tentu saja kesal dikatai Letoi. Ki Bum kabur dan Kwon mengejarnya. Hanya Dong Young yang waras disana.

Kwon kelelahan saat mengejar Ki Bum. Ia mengancam akan menghabisi Ki Bum jika tertangkap nanti. Ki Bum membalas kalau Kwon lah yang akan habis sebelum menangkapnya.

"Bisakah kau jadi polisi? Kau akan lari kesana kemari untuk menangkap penjahat. Kalau larimu saja lambat, mana bisa kau menangkap mereka?"

Kata-kata Ki Bum tadi makin memicu semangat Kwon. Ki Bum juga tidak menyerah, ia terus berlari dengan berbagai gaya.


Dong Young mencari-cari kawan-kawannya itu, kemana gerangan mereka berdua. Lalu ia menemukan Kwon sedang duduk sambil minum dan Ki Bum berjalan mundur ke arak Kwon.

Ki Bum bertanya, kenapa Kwon tiba-tiba berhenti mengejarnya. Kwon merasa bisa mati kalau ia lari lagi. Jadi ia menyerah untuk menjadi polisi. 

"Sekarang keinginanmu jadi polisi, sudah lenyap. Ada berapa keinginanmu yang lenyap hari ini? Apa ada sesuatu yang benar-benar bisa kau lakukan  di dunia ini?"

Dong Young menegur Ki Bum yang menurutnya terlalu kasar dan meminta Kwon untuk tidak memperdulikan Ki Bum.


"Tidak. Dia benar. Aku memang kunyuk tak berguna." Aku Kwon.

Dong Young menyemangati Kwon, jangan putus asa dengan begitu mudahnya, "Ada berapa banyak orang yang benar-benar bisa menjadikan keinginan mereka sebagai profesi?"

kemudian Dong Young menyarankan kwon untuk mencoba lagi level 9: ujian Administrasi Umum. Kwon tidak mau karena saingannya terlalu ketat.

Selanjutnya Dong Young menyarankan untuk ikut ujian jadi pekerja sosial saja. Ki Bum tiba-tiba menyahut minuman Kwon dan kwon langsung merebutnya kembali sambil marah-marah kalau itu miliknya, jika Ki Bum mau, beli sendiri saja sana!

Melihat sikap Kwon itu, Dong Young berpikir kalau pekerja soaial bukanlah ide yang baik. Ia pun menyuruh kwon untuk memikirkan kembali tentang agen perumahan.

"Aku menghargai semangat kalian untukku. Aku cuma sedang tidak bisa mendengarkan sekarang. Aku mau ke asrama dulu."

Kwon berjalan ke kanan, tapi asrama sebenarnya ke arah kiri. Walaupun malas, Ki Bum tetap mengingatkannya. Kwon pun berbalik arah dengan malu.

Dong Young merasa kalau Kwon tak mungkin jadi agen perumahan lalu ia menyarankan pada Ki Bum, haruskah mereka menyuruh kwo jadi polisi saja?

"Kau pikir dia mau karena kita menyuruhnya?" Tanya Ki Bum sambil melihat ke arah Kwon yang muntah-muntah di pinggir jalan.

Dong Young lantas membenarkan Ki Bum, mungkin tidak ada yang benar-benar bisa Kwon lakukan di planet ini.

"Bagaimana ya dia nanti?"

Ki Bum cuma bisa geleng-geleng.


Selanjutnya Gong Myung menelfon Dong Young minta pinjam catatan hari ini. Dong Young bertanya, memangnya Gong Myung kemana seharian ini?

"Apa? Rumah sakit?"

Gong Myung mengatakan kalau ia sudah boleh pulang hari ini jadi mereka tak usah repot-repot menjenguk.


Selesai menelfon, Ha Na masuk dengan membawa alat pelembab ruangan. Gong Myung sudah melarang Ha Na melakukan apapun tapi Ha na terus saja melakukan sesuatu.

Ha Na menjawab kalau ia tidak apa-apa. Gong Myung ingin ke toilet, ia memastikan Ha Na agar tidak melakukan apapun selagi ia tidak ada.

Ha Na melepas jam tangannya untuk membersihkan lengannya yang kotor. Ponsel Gong Myung tiba-tiba berdering, dari Ibu. Ha Na pun memutuskan untuk mengangkatnya.


Jin Yi sama sekali tidak mendapat telfon dari pacarnya, ia kesal sekali. Apa pacarnya benar-benar ingin putus?

Lalu ia masuk mobil dan menjalankan mobilnya melewati Jung Suk. Jung Suk menirukan kata-ka Jin Yi tadi, mirip seperti cara bicara Jin Yi..

"Siapa yang akan menyukai orang egois seperti dia"?

Jung Suk menjawab kalau Ha Na menyukai pria semacam dirinya. Mengatakan itu membuatnya bertanya-tanya, kenapa Ha Na tidak menelfonnya ya?

"Sampai kapan dia mau sok jual mahal, hah?"


ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan untuk Ha Na.

"Bagaimana bisa kau tidak menelponku lagi setelah panggilan tak terjawab dariku?"
"Aku tidak punya banyak kesabaran."
"Jangan main-main dan telponlah aku, No Geu Rae."

Saat ia memasukkan kembali ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Jung Suk langsung tersenyum senang,

"Kalau cuma begini, ngapain juga dia sok jual mahal sih?"


Tapi ternyata itu telfon dari ibunya, bukan dari Ha Na. Ibunya mengabari kalau Gong Myung kecelakaan.

"Seberapa buruk kau perlakukan dia? Bagaimana mungkin dia tidka bisa menelponmu sementara dia di rumah sakit? Perhatikanlah orang di sekelilingmu. Bergaullah. Jangan hanya berpikir tentang dirimu sendiri." Tegur Ibu.

Jung Suk berjanji akan bicara pada Gong Myung.


Jung Suk langsung menuju rumah sakit Gong Myung, sambil menunggu pintu lift terbuka ia bertanya-tanya, bagaimana bisa Gong Myung kecelakaan? Memang dasar tidak hati-hati.

Disaat yang sama, Ha Na dan Gong Myung juga menunggu lift terbuka. Ha Na sangat senang mendengar kalau kakak Gong Myung mau datang. Tapi tidak dengan Gong Myung,

"Guru seharusnya tidak mengangkat telfon ibuku. Tidak ada kakakku sebenarnya lebih baik."

Ha Na jadi makin penasaran dengan kakak Gong Myung sampai-sampai Gong Myung sebegitu tidak sukanya.


Pintu lift Jung Suk terbuka dan ia punlangsung naik ke atas ke lantai 7, dimana ada Gong Myung dan Ha Na berdiri di sana.

Pintu lift di lantai 7 juga terbuka. Tapi di dalamnya kosong, Gong Myung dan Ha Na pun segera masuk ke dalam. Tepat saat itu Jung Suk juga sampai di lantai 7 tapi ia tidak menemukan siapapun disana.


Gong Myung tetap mengantar Ha Na sampai luar walaupun Ha Na terus menyuruhnya masuk kembali. bahkan kalau bisa Gong myung ingin mengantar ha na sampai rumah.

"Tak apa. Aku malu. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Tapi, malah kau yang melakukan segalanya untukku. Aku makan dan tidur nyenyak di sini. Aku merasa tak enak.

"Jangan bicara begitu."


Ha Na pun pergi setelah mengucapkan terimakasih. Gong Myung tak rela melepas Ha Na. ia pun menyusul Ha Na dan memeluknya dari belakang.

"Aku mau berterima kasih padamu, Guru. Aku senang karena kau di sini sepanjang hari denganku. Sekarang aku akan masuk."

Gong Myung melepaskan Ha Na dan berjalan masuk ke rumah sakit. Ha Na masih tidak bisa mengatakan apa-apa karena terkejut, lalu ia berbalik menatap Gong Myung. Gong Myung juga berbalik melambai pada Ha Na lalu berlari kecil kembali ke rumah sakit.

Ha Na membatin, "Bagaimana bisa perasaannya tidak berubah sedikitpun padaku? Aku mungkin akan bahagia jika bisa bersama orang seperti dia. Dia sama sekali tidak egois seperti si Sampah Kualitas Tinggi."


Gong Myung kembali ke kamarnya namun sudah ada Jung Suk di dalam yang sedang lihat-lihat. Jung Suk menegur Gong Myung yang malah keluyuran bukannya di tempat tidur.

"Jangan mencemaskanku. Sudah kubilang jangan datang kenapa masih datang juga?"

Jung Suk datang juga bukan karena keinginannya, Ia datang karena Ibu menyuruhnya datang. Lalu ia mulai bertanya, apa yang terjadi pada Gong Myung? apa Gong myung terluka?

"Kelihatannya kau habis belajar berhari-hari, tapi karena tidak sanggup jadi kau membuat masalah, kan?" Tuduh Jung Suk.

"Apa? Masalah? Bagaimana kau bisa bicara begitu pada adikmu yang sakit? Ayah dan Ibu memberimu nama yang benar-benar cocok. Jin Sang, seperti dirimu.

"Beraninya kau."

Gong Myung menyuruh Jung Suk pergi jika tidak bisa bersikap baik pada seorang pasien. Ia minta uang saja lalu meminta Jung Suk memberikan dompetnya.


Tepat saat itu Ki Bum masuk. Mereka tentu saja heran melihat Jung Suk menjenguk Gong Myung.

"Kenapa Anda ada di sini?"

"Untuk mengurus kelas gabunganku.."


Gong Myung terpaksa jujur pada Ki Bum kalau Jung Suk adalah kakanya. Ki Bum protes kenapa Gong Myung merahasiakannya?

"Kakakku bilang memalukan, kalau orang tahu dia punya adik pecundang sepertiku. Dia terlalu merasa dipermalukan."

Ki Bum membenarkan, kenyataan bahwa Gong Myung adalah adik Jung Suk bukan sesuatu yang bisa kau banggakan.


"Semua gen pintar ada padanya, kan? Dia yang pintar, kau tidak. Tidak adil, kan?"

Gong Myung bertanya, kenapa Ki Bum datang bukannya belajar. Ki Bum datang karena ia tidak mau belajar. Ia akan begadang dengan Gong Myung di sana.

"Ayo main game."

"Tidak terima kasih."

"Kau sudah suruh Dong Young datang, kan?" Tanya Gong Myung.

Ki Bum mengiyakan, Dong Young akan datang setelah mandi dan ia mengelukan Dong Young yang sering sekali mandi.



Dong Young tak lama muncul, ia langsung nerocos kalau ia melihat Sampah Kualitas Tinggi hari ini. Gong Myung jelas tak mengerti siapa yang dimaksud Dong Young itu.

Ki Bum mengkode Dong Young untuk berhenti tapi Dong Young tak menangkap kode itu, ia lalu menjelaskan pada Gong Myung,

"Ya, Sampah Kualitas Tinggi. Itu panggilan untuk Profesor Jin. Penampilan dan pendidikannya semua kualitas tinggi. Tapi kelakuannya benar-benar seperti sampah. Bahkan Profesor yang lain membicarakanya di belakang. Cocok."

Ki Bum menegur Dong Young untuk berhenti sambil kode-kode kalau bicara seperti itu tidak sopan. Dong Young tak peduli, mengingat apa yang dilakukan Jung Suk padanya pagi ini.

"Kita kan sedang tidak di tempat les. Haruskah aku mengabaikan kedudukannya? Menyebalkan!!!"

Dan Ki Bum lantas membungkam mulut Dong Young agar berhenti. Dong Young membentak, kenapa ia harus berhenti?

"Sampah Kualitas Tinggi adalah kakaknya Gong Myung." Ujar Ki Bum.

Dong Young langsung melotot. Gong Myung angkat bicara, ia memyuruh teman-temannya santai saja, tidak usah mencemaskannya, ia juga benci kakanya kok. apa? Sampah Kualitas Tinggi? Siapapun yang punya ide itu benar-benar cemerlang.

Tapi setelah Gong Myung pikir-pikur nama "Sampah Kualitas Tinggi" terdengar familiar di telinganya.


Jung Suk ditinggal sendirian di ruangan Gong Myung, lalu ia melihat jam tangan Ha Na. Ia mengambil jam itu dan setelah mengamatinya mirip sekali dengan milik Ha Na. Kemudian Gong Myung masuk, Jung Suk lalu menanyakan jam itu milik siapa?

Gong Myung langsung merebut jam Ha Na dari Jung Suk, ia menjawab kalau itu adalah jam kekasih masa depannya. Jung Suk tak menyangka kalau Gong Myung ternyata punya pacar.

"Ya, dan uruslah saja urusanmu." Sergah Gong Myung.

"Kau ini benar-benar sesuatu."


Ki Bum dan Dong Young masuk untuk pamitan, mereka memanggil Jung Suk dengan sebutan kakak bukan Profesor. Mereka beralasan kalau Kakak temannya adalah kakak mereka juga. 

"Aku tidak ikut-ikutan. Sudah cukup punya adik bodoh seperti dia, aku tidak mau lagi. Pergilah. Dan tolong jangan beritahukan pada siapapun di tempat les tentang ini."

Ki Bum mengerti, tapi ia penasaran akan satu hal. Jung Suk mengiklankan di mana-mana tentang bagaimana cara mendapatkan kesuksesan, tapi kenapa Jung Suk tidak memberitahukan caranya pada Gong Myung?

Sebelum Jung Suk marah, Gong Myung mengusir teman-temannya untuk cepat pergi.


Jung Suk langsung menegur adiknya, ia menuduh kalau adiknya itu bersama kunyuk dua itu bukan untuk belajar, kan?

"Apa? Kau jangan bilang begitu. Kau tidak tahu apa-apa."

Jung Suk membentak, kanapa memangnya ia tak boleh bilang begitu. Gong Myung harusnya kan belajar. tapi sekarang malah bicara tentang pacar. benar-benar menyedihkan.

"Kenapa aku menyedihkan? Kau tidak benar-benar menyukai seseorang, kan? Aku yakin kau tidak pernah benar-benar menyukai seseorang. Kau hanya menyukai dirimu sendiri. Makanya orang memanggilmu Sampah Kualitas Tinggi."

Jung Suk syok mendengarnya. Gong Myung dengan berat hati menjelaskan kalau semua orang di tempat les
memanggil Jung Suk Sampah Kualitas Tinggi.

"Sampah Kualitas Tinggi. Penampilan dan pendidikanmu kualitas tinggi, tapi kelakuanmu seperti sampah."

Jung Suk sedikit menurunkan nada suaranya, karena ia Sampah Kualitas Tinggi makan tidak ada gunanya iadi sana dan bersikap seolah-olah aku peduli pada adiknya.

Gong Myung membenarkan. Jung Suk keluar dengan muka ditekuk, sedikit sakit hati. Gong Myung juga sebenarnya kesal pada dirinya sendiri karena sudah mengatakannya. 


Chae Yeon belajar seorang diri tapi terus terbayang Gong Myung yang biasanya ada disampingnya.

"Konsentrasilah, bisa? Jung Chae Yeon. Kalau kau sudah susah-susah ke Noryangjin... fokuslah belajar." Batin Chae Yeon.


Saat pulang ke asrama pun ia kembali teringat Gong Myung yang pernah mengantarnya. Chae Yeon menyesal sudah setuju dengan permintaan Gong Myung sebagai mentor.

"Kalau begini, tidak ada hal baik yang akan terjadi." gumamnya.

Lalu Chae Yeon menelfon Gong Myung untuk memberitahukan bahwa ia berhenti mengajari Gong Myung. Mulai besok Gong Myung harus belajar sendiri. Saat Gong Myung bertanya alasannya, ia menjawab,

"Kau tidak punya kemauan dan hanya mau mencari jalan pintas saja. Aku tidak mau menghabiskan waktu untukmu."


Ki Bum dan Gong Myung mendengar saat Chae Yeon mengucapkan jawaban itu. Ki Bum menegur Chae Yeon yang menakutkan dan menyeramkan.

"Kau sudah kelewatan, Orang Jahat."

Chae Yeon tak mengerti, memangnya apa salahnya. Ki Bum menyalahkan Chae Yeon sebagai penyebab Gong Myung tidak fokus.

Dong Young mencoba menghentikan Ki Bum karen Gong Myung minta apa yang terjadi hari ini dirahasiakan. Ki Bum tak peduli.

"Gong Myung bilang jangan memberitahunya agar belajarnya tak terganggu. Dia kesal sendiri karena tidak tahu." Ujar Ki Bum.

Chae Yeon tambah tak mengerti arah pembicaraan Ki Bum. Ki Bum kemudian bertanya, pasti Chae Yeon kan yang menyuruh Gong Myung untuk membaca catatan sambil berjalan?

"Dia sampai kecelakaan! semua ini gara-gara kau!"

"Apa?"


Selanjutnya Chae Yeon menyendiri di atap. Gong Myung menelfonnya, mengatakan kalau ia benar-benar tidak bisa menemui Chae Yeon hari ini, jadi ia harap Chae Yeon tidak marah. Ia berjanji kalau hal yang sama tak akan terulang lagi, maaf.

"Aku sudah dengar semua. Kau kecelakaan, kan? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?"

Chae Yeon minta maaf, ia tidak tahu kalau Gong Myung terluka karena dirinya. Gong Myung menegaskan kalau ia baik-baik saja kok! sungguh.

Gong Myung malarang Chae Yeon khawatir, dan sampai ketemu besok.


Chae Yeon menangis setelah menutup telfon. Ia merasa bersalah pada Gong Myung.

"Maafkan aku, Gong Myung. Semua ini salahku."

Dong Young tak sengaja melihat Chae Yeon menangis dan mendengar gumaman Chae Yeon.

"Apa yang terjadi? Dia menangis karena Gong Myung? Dia adalah penyihir berhati dingin."


Dong Young lalu kembali turun. Di tangga ia bertemu dengan Ki Bum yang langsung bertanya, apa Chae Yeon ada di atap karena kata anak-anak Chae Yeon kemungkinan disana.

Dong Young balik bertanya, untuk apa Ki Bum butuh Chae Yeon. Ki Bum merasa sudah kelewatan tadi pada Chae Yeon dan ia merasa tidak enak.

Dong Young berbohong kalau Chae Yeon tidak ada di atap lalu ia mengajak Ki Bum kembali turun.

"Kau bilang tidak suka padanya. Kenapa merasa tak enak. Ayo pergi."


Gong Myung menyempatkan diri untuk belajar, saat istirahat, ia mengambil jam tangan Ha Na di meja.

Ha Na sedang menyiapkan soal untuk ujian akademi, tapi ia tidak bisa konsentrasi. Saat ia memaksa untuk kembali berkonsentrasi, Gong Myung mengiriminya pesan.


Gong Myung memberitahu kalau Ha Na meninggalkan jam tangannya. Ha Na baru teringat kalau ia kelupaan.

Kemudian Gong Myung bertanya mengenai cicncin yang ia gambar, apa Ha Na sudah menghapusnya?

"Tidak. Kau pakai spidol permanen? Aku tidak bisa menghapusnya."Jawab Ha Na.


Lalu Gong Myung memotret tangannya dan mengirimya pada Ha Na, sebenarnya itu adalah cincin pasangan mereka. Ha Na tersenyum membacanya tapi tak membalasnya.


Ha Na mengambil botol minuman di kulkas lalu menenggaknya sambil melihat kembali pesan Gong Myung.

Ha Na baru mengecek pesan masuk yang lain dan itu dari Jung Suk, 

"Bagaimana bisa kau tidak menelponku setelah panggilan tak terjawab dariku?"
"Aku tidak punya banyak kesabaran."
"Berhentilah sok jual mahal, dan teleponlah aku, No Geu Rae."


Jung Suk kesal karena Ha Na tidak menjawab pesannya, cuma membacanya. Ia bertanya-tanya, apa Ha Na sedang menguji kesabarannya atau bagaimana?

Barulah pesan masuk dari Ha Na,

"Bermain-main? Semuanya masih tentang dirimu, kan?"
"Aku masih belum mendengar pengakuanmu. Jangan telepon aku lagi kalau tidak ada kepentingan."


Paginya, Jung Suk menjalankan hobinya. Mengoperasikan drone.

"Ketika pagi terasa menyegarkan. Kadang aku keluar untuk menikmati hobiku. Hobiku adalah bersenang-senang dengan diriku sendiri. Waktu untuk diri sendiri waktu untuk menyembuhkan diri."

Tapi ia tidak tenang saat mengingat kata-kata Gong Myung kalau orang-orang memanggilnya "Sampah Kualitas Tinggi."

Tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak peduli apa anggapan orang. Karena pada akhirnya, ia memang lebih suka sendiri.

Lalu Ia teringat kata-kata Jin Yi,

"Siapa orang yang menyukai manusia egois seperti dia?"

Jung Suk menegaskan kembali pada dirinya kalau ia tidak peduli orang tidak menyukainya. Ia hanya akan hidup mewah, sendirian seumur hidupknya.


Jung Suk beristirahat tapi ia kembali teringat Ha Na dan pesan balasan Ha Na membuatnya berubah,

"Dulu, aku merasa sangat nyaman sendirian. Tapi sekarang, aku ingin bersamamamu, No Geu Rae. Sekarang akhirnya aku menyadari perasaanku padamu. Kenapa dia jadi dingin? Apa yang sudah kulakukan?"

Ia teringat kata-katanya saat di pesta pernikahan mengenai wanita isealnya. Ia mendesah pasti Ha Na punya alasan sendiri, kenapa menolaknya.

"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkannya kembali?"


Ha Na akan berangkat ke akademi, ia menasehati dirinya untuk memperlakukan Jung Suk seperti biasanya saja, ia yakin Jung Suk sudah mengerti dengan maksud SMS-nya itu.


Tapi kemudian Jung Suk datang entah darimana dan memanggilnya.

6 komentar

Semangat mba, lanjut terus nulis sinopsisnya yah ☺☺☺, ak termasuk pembaca setia sinopsis DS loh, gomawo...^^

Aq jg unnie!d cepetin ngerecap ep 12 y gomawo,!fighting

Menanti episode selanjutnya, unni!! Fighting!!!

Dilanjut secepatnya ya eonni recapan drinking solo dan on the Way airport nya, hheee

Dilanjut please ya kakak, semangat

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon