Wednesday, October 19, 2016

Sinopsis Drinking Solo Episode 12 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Drinking Solo Episode 12  Part 1


Ki Bum membuka episode kali ini dengan minum sendirian dengan makanan pesan kirim sebagai menu pendamping serta musik dengan irama cepat.


Ha menenangkan diri, ia yakin Jung Suk mengerti, ia sudah membuat semuanya jelas kemarin dengan pesannya.

Tapi tiba-tiba Jung Suk memanggilnya. Ia sengaja menjemput Ha Na agar bisa berangkat bersama.

"Kau kan sudah baca pesan yang kukirim kemarin." Tanya Ha Na.

Jung Suk sudah membacanya, makanya ia bersikap begitu pada Ha Na. Ia menyuruh Ha Na masuk mobilnya agar bisa membicarakan kelanjutannya di perjalanan.

Ha Na menolaknya, tapi Jung Suk memaksa. Ha Na bersikeras tidak mau dan cepat-cepat melarikan diri.

"No Geu Rae! Hey, No Geu Rae!" Panggil Jung Suk tapi Ha Na tak merespon.



Saat sampai di akademi, Ha Na yakin kalau Jung Suk pasti paham sekarang karena ia sudah bilang langsung pada Jung Suk tadi.

Tapi tiba-tiba Jung Suk menyusulnya dengan membawa 2 gelas kopi. Ia menjelaskan kalau ia sengaja membeli kopi kualitas tinggi hanya untuk Ha Na seorang.

"Ayo minum di teras sambil mengobrol."

Ha Na kembali menolak dengan alasan kalau tidak ada yang ingin ia obrolkan dengan Jung Suk.

"Haruskah kau bersikap dingin begini, No Geu Rae? Bukannya kau bilang kau menyukaiku? apa itu bohong?"

Ha Na memang menyukai Jung Suk tapi ia sudah memutuskan untuk lebih baik melupakan Jung Suk saja. Jadi... ia ingin Jung Suk tidak mengungkit-ungkitnya lagi. Ha Na akan pergi tapi Jung Suk memblokir jalan Ha Na.

Jung Suk mengerti sikap Ha Na yang dingin padanya karena ia sudah menyakiti Ha Na. Makanya ia sedang berusaha keras untuk membuatnya melupakan itu.

"Tidak ada gunanya, jadi hentikanlah." Lalu Ha Na pergi.

Jung Suk mengeluh, ternyata Ha Na punya kemauan sekuat baja. Tapi kemudian ia mengerti, Ha Na begitu padanya karena ia sudah keterlaluan pada Ha Na.

"Jelas saja, yang kulakukan ini masih belum cukup untuk meluluhkan hatinya. Ayo coba lagi! Yeah!"


Bos Kim ingin mengambil air dan ia mendapati Jung Suk membawa dua gelas kopi. Bos Kim mengira kalau segelasnya adalah untuk dirinya. Jung Suk langsung memberikan kopi itu pada Bos Kim, dua-duanya malahan.

"Wow. Terima kasih! Terima kasih banyak!" Walaupun sebenarnya ia heran dengan sikap Jung Suk ini.


Ki Bum melihat Chae Yeon makan seperti biasa, ia tahu kalau hari ini ulang tahun Chae Yeon dan menegur Chae Yeon karena tidak makan sup rumput laut.

Chae Yeon balik bertanya, darimana Ki Bum tahu kalau hari ini ia ulang tahun. Ki Bum menjawab kalau ia cuma mendengar saja. Chae Yeon tak percaya, hanya dengar saja?

"Pokoknya, kau harus mentraktir makan malam. Ini harus dirayakan."

Chae Yeon menyebut Ki Bum gila, ia bahkan tidak merayakan bersama teman-temannya, jadi untuk apa ia merayakannya dengan Ki Bum dkk. Ki Bum beralasan kalau ia hanya mau memanfaatkan ulang tahun Chae Yeon untuk memperbaiki semuanya itu saja!

"Tapi kau bahkan tidak merayakannya dengan teman-temanmu? Kau tidak punya teman yang mau merayakan--"

"Tidak. Aku tidak punya. Sudah lama aku tidak berhubungan dengan mereka, karena aku ingin fokus belajar. Lagi pula, memangnya ada orang yang giat belajar tapi masih peduli acara ulang tahunnya? Memangnya kita punya kesempatan untuk itu? Kalau kau sibuk pesta dan bermain main. kapan kau akan belajar dengan giat?"

Ki Bum terkesan memaksa, jadi apa Chae Yeon mau melewatkan memoen sekali seumur hidup ini untuk belajar? Setidaknya rayakahlah walaupun kecil-kecilan!

Chae Yeon tetap tidak mau, ia malahmenyuruh Ki Bum untuk melupakan saja niatnya untuk memperbaiki semuanya dan belajar sajalah, Ki Bum kan sudah susah susah datang ke Noryangjin.


Dong Young masuk sejak Chae Yeon menolak yang pertama dan ia baru bicara saat Chae Yeon pergi. Dong Young penasaran, bagaimana Ki Bum bisa tahu kalau hari ini Chae Yeon ulang tahun.

Ki Bum bingung sejenak mau menjawab pa lalu ia mengarang cerita, sebenarnya ia juga tidak peduli dengan ulang tahun Chae Yeon tapi ia sudah dengar semua pembicaraan anak-anak.

"Aissh. Siapa juga yang peduli soal ulang tahun anak itu?"

Menghindari pertanyaan lebih banyak lagi, Ki Bum pun meninggalkan dapur. Tapi ia tak sadar telah meninggalkan ponselnya.


Dong Young mengambil ponsel Ki Bum hendak mengembalikannya. Tiba-tiba alaram ponsel Ki Bum berbunyi, tanda pengingat kalau hari ini ulang tahun Chae Yeon dan setelah Dong Young memeriksa ponsel Ki Bum, ternyata Ki Bum mengeset pengingat tiap jam hari ini supaya Ki Bum tidak lipa kalau hari ini Chae Yeon ultah.

"Ampun. 'dengar-dengar,' apanya. Dia bahkan buat alarm setiap jam karena takut lupa. Padahal dia yang paling heboh!" Keluh DOng Young.


Bos Kim mengajak Jung Suk makan siang bersama dengan Jin Yi juga. Jung Suk balik bertanya, apa Bos Kim pernah lihat ia makan bersama yang lain.

Bos Kim tahu hal itu, tapi sayang aja dengan kupon makandi restaurant China, ia memiliki tiga. Jung Suk bertanya, kenapa Ha Na tidak ikut?

"Ha Na bilang dia sedang tidak selera makan." Jawab Jin Yi dan itu membuat Jung Suk khawatir.

Bos Kim ikut-ikutan, sebenarnya ia juga tidak selera makan hari ini, tapi ia harus tetap makan supaya tidak mati, "Ya ampun. Aku juga belakangan tidak selera makan. Aku juga tidak ingin makan apapun."

Jin Yi lalu mengajak Bos Kim untuk cepat pergi. Jung Suk bertanya-tanya, kenapa Ha Na tidak makan?


Selanjutnya Jung Suk membawakan kue kulaitas tinggi. Ha Na menolaknya, ia menyuruh Jung Suk memakannya sendiri saja.

"Jangan begitu. Cicipilah. Ini adalah cake keju dengan  kualitas tinggi, dibuat dengan susu organik terbaik. Aku sudah susah-susah membawakannya dari toko roti di hotel hanya untukmu."

Ha Na minta maaf, ia sedang tidak berselera. Lalu kabur dari sana. Jung Suk cuma bisa mendesah.


Jin Yi dan Bos Kim datang setelah makan siang dan mereka menemukan Jung Suk membawa kue di meja. Bos Kim mengira kalau Jung Suk sengaja membelikan kue itu karena tadi ia bilang tak selera makan.

"Makanlah sepuas hatimu." Jawab Jung Suk lalu masuk ke ruangannya.

Di dalam ruangan Jung Suk menggerutu karena kue kualitas tingginya malah dinikmati oleh dua orang yang salah.


Tak lama kemudian Ha Na kembali. Jung Suk membatin, Apa  lagi yang harus ia lakukan agar Ha Na tidak bersikap dingin lagi padanya? Ini adalah pertama kalinya ia tidak bisa menemukan jawaban.


Chae Yeon akan mengambil buku di lokernya dan ia teringat Gong Myung lalu menulis pesan,

"Apa kau baik-baik saja, Gong Myung..."

Tapi kemudian ia menghapusnya lagi karena takut mengganggu istirahat Gong Myung.

Saat Chae Yeon menutup lokernya ternyata Gong Myung sudah berada di sampingnya. Ia langsung menyapa Chae Yeon. Chae Yeon khawatir, apa Gong Myung sudah benar-benar baikan? Apa tidak perlu istirahat lagi?

"Tidak, aku baik-baik saja kok. Aku akan belajar keras mulai hari ini. Aku akan menjadi yang pertama masuk kelas."


Sebelum masuk Chae Yeon membuka lokernya lagi, untuk merapikan penampilannya dan ia juga tersenyum.


Tanpa mereka sadari Dong Young ternyata ada tak jauh dari sana dan ia mendengar serta melihat semuanya.

"Daebak, Jung Chae Yeon. Aku hanya menerka, apa dia bener-benar menyukai Gong Myung?

Ki Bum merangkul Dong Young saat akan masuk kelas dan mereka melihat Gong Myung duduk di barisan pertama. Dong Young menanyakan keadaan Gong Myung, Gong Myung memastikan kalau ia sangat baik.

"Tunggu, kenapa kau duduk di depan? Oh! Kau duduk di depan apa karena ini adalah kelas Profesor Park kesayanganmu? Jadi kau bisa melihat wajahnya dari dekat? Huh?"

Gong Myung menyuruhnya diam, tapi Ki Bum malah menyanyi keras "Wow. Itu namanya cinta! Cinta!"

Ki Bum kesal dan memukul kepala Ki Bum untuk membuatnya diam. Ki Bum memegangi kepalanya dan menjulurkan lidahnya ke arah Gong Myung. Dong Young cuma bisa geleng-geleng dengan kelakuan teman-temannya.


Ha Na masuk kelas dan sebelum mengatakan apa-apa ia mengedarkan pandangannya pada murid-muridnya. Saat Ha Na melihat Gong Myung, diam-diam Gong Myung melambaikan tangannya. Ha Na membalasnya dengan senyum simpul lalu memulai kelas.

Ki Bum mengamati Gong Myung saat melihat Ha Na dan ia melapirkannya pada Dong Young. Orang yang sedang jatuh cinta tatapan matanya akan berbeda. Lalu ia menatap Chae Yeon.


Dong Young membenarkan, orang yang sedang jatuh cinta memang punya pandangan mata yang berbeda. Setelah itu Dong Young mengamati kelas,

"Tapi kenapa cinta bersegi-segi itu memusingkan? Ada berapa segi sih sebenarnya??"

Ki BUm -> Chae Yeon -> Gong Myung -> Ha Na.

Dong Young membayangkan, jikalau Ha na menyukai Ki Bum maka lengkaplah sudah... Wow, benar-benar menjadi cinta bersegi-segi yang membingunkan.

Dong Young memandang Ki Bum iba, karena Ki Bum lah satu-satunya yang tidak disukai, "Si kunyuk yang menyedihkan."


Gong Myung menyapa Ha Na saat kelas usai. Ki Bum melihat mereka berbincang, sebuah ide gila muncul dari benaknya.

Ki Bum pura-pura tak sengaja mendorong Gong Myung sehingga Gong myung tak sengaja memeluk Ha Na. Gong Myung menkhawatirkan Ha Na, lalu ia menegur Ki Bum.

"Oh, maaf. Maafkan aku guru. Aku terpeleset, Anda lihat kan." Alasan Ki Bum.

Ha Na menyuruhnya hati-hati lain kali lalu pamit pada Gong myung.


Gong Myung tahu Ki Bum pasti sengaja kan. Ki Bum membenarkan, malah ia menuntu terimakasih dari Gong Myung yang telah berhasil memeluk Ha Na karena dirinya.

"Memangnya kau anak SD? Kenapa kekanak-kanakan sekali?"

Ki Bum beralasan kalau ia hanya ingin menyemangati kisah cinta Gong Myung. Ia ingin mematahkan cinta terlarang antara murid dengan guru, agar tetap bersemi!


Gong Myung malah memukuli Ki Bum kesal. Lagi-lagi Dong Young melihat kejadian ini, ia kembali membatin,

"Dia sama sekali tidak seharusnya menolong orang lain karena dia sendirilah yang tidak disukai siapapun."

Dan ia bergumam, "Kunyuk yang menyedihkan."


Bos Kim meminta Jung Suk untuk menggantikan kelas Jin Woong minggu depan. Bos Kim pikir-pikr kalau Jin Woong belum sepenuhnya baikan jadi sepertinya kondisinya belum memungkinkan untuk mengajar minggu depan.

"Jadi bagaimana kalau kau mengubah jam mengajarmu jadi Professor Min bisa mengambil jam mu minggu depan."

Jung Suk langsung menolaknya, ia tidak mau mengajar lebih dari 26 jam per minggu. karena akan menurunkan kualitas mengajarnya.

Bos Kim memaksa, kalau seorang pengajar populer seperti Jung Suk bertukar jam mengajar para siswa tidak akan banyak komplain.

"Sudah kubilang aku tidak mau! Suruh saja Profesor Min segera kembali bekerja." lalu Jung Suk meninggalkan kursinya.


Bos Kim lalu meminta Jin Yi sebagai gantinya karena Ha Na sibuk menyusun soal untuk ujian minggu depan. Jin Yi menolak, ia juga punya banyak pekerjaan.

"Apa yang kau bicarakan? Kau bahkan tidak sering menemui pacarmu lagi kan?"

"Apa maksudmu?"

"Berhentilah menunggu pria yang bahkan tidak mau bertemu denganmu, oke? Ambillah kesempatan ini dan akhiri saja hubunganmu dengannya. Gunakan semua energimu untuk bekerja. Oke?"

"Baiklah. Aku akan mematuhi perintahmu. Aku akan putus dengannya, dan fokus bekerja. Sekaranng kau senang?"

Lalu Jin Yi mulai kesal dengan diam saja dan tiba-tiba membuang apa saja yang ada di meja dengan kesal. Bos Kim sampai terjengkal karena kaget.


Ha Na selanjutnya menawarkan diri untuk menggantikan jadwal Jin Woong.

Saat mereka keluar, Bos Kim bertanya, apa benar Ha Na akan baik-baik saja. Ha Na meyakinkan kalau ia baik-baik saja. 

"Aku yakin kau akan sangat sibuk. Ini adalah pertama kalinya kau membuat soal."

"Tak apa." Jawab Ha Na bertepatan dengan masuknya Jung Suk tapi ia memilih keluar.


Jung Suk bertanya pada Bos Kim, apa maksud Ha Na berkata "tak apa" tadi. Bos Kim mengatakan kalau Ha Na akan menggatikan jadwal Jin Woong minggu depan.

"Apa?"


Selanjutnya Jung Suk mencari Ha Na untuk mengajaknya bicara. Ia tidak mengerti, kenapa Ha Na bersedia untuk menggantikan jadwal Jin Woong.

"Apa maksudmu kenapa? Kita harus saling tolong saat ada yang butuh bantuan."

Jung Suk mengingatkan, kan Ha Na sendiri sedang sibuk membuat soal ujian! Haruskah Ha Na menolong orang dan  merepotkan dirinya sendiri?

"Apa?" Ha Na tak mengerti.

Jung Suk menjelaskan kalau Noryangjin bukan sebuah tempat indah seperti yang Ha Na pikirkan. Noryangjin adalah medan perang dan Ha Na harus memenangkannya. Tidak ada untungnya Ha Na membantu orang saat Ha Na sendiri sedang berperang!

"Satu-satunya yang bisa kau percayai hanya dirimu sendiri."

Ha Na menjawab kalau kata-kata Jung Suk tadi mencerminkan diri Jung Suk sendiri. Jung Suk sekarang yang tidak mengerti maksud Ha Na.

"Bagaimana bisa kau selalu mementingkan dirimu sendiri? Baiklah. Aku yakin tak ada yang bisa kau lakukan. Karena kau sudah nyaman sejak awal, dan tidak pernah mengalami kesulitan sejauh ini. Karena kau tidak pernah menolong dan ditolong oleh orang lain."

"Apa yang kau bilang--"

"Makanya kau bersikap seperti ini padaku. Kau mengacuhkan pendapatku karena kau anggap perasaanmu lebih penting. Tapi aku tidak sama denganmu,  Profesor Jin. Aku punya banyak kekurangan, jadi aku masih perlu bantuan orang. Kalau aku mau menerima bantuan aku harus memberikan bantuan. Itu yang kupercaya. Dan tidak ada yang bisa kulakukan kalaupun kau menyalahkanku. Karena, setidaknya aku tidak mau jadi orang egois sepertimu."

"No Geu Rae--"

"Urus saja urusanmu sendiri. angan memaksakan perasaanmu padaku, lagi."


Ki Bum melihat Chae Yeon makan kimbab segitiga sambil belajar, ia membatin,

"Bahkan orang menyedihkan seperti Kim Dong Young tidak menghabiskan hari ulang tahunnya seperti itu. Setidaknya dia bisa makan daging babi yang disukainya."


Ki Bum lalu belanja daging banyak ia menyiapkan semuanya di atap. Dong Young yang datang pertama. Ki Bum beralasan kalau ia sedang ingin makan samgyupsal dan Dong Young juga bisa ikutan.

"Oh, terima kasih!"

Ki Bum meminta Dong Young untuk memeriksa daging, apakah cukup untuk mereka berdua. Dong Young sangat terkejut melihat banyaknya daging yang dibeli Ki Bum, ada 4 porsi lebih.

"Oh, kebanyakan ya? Aku hanya minta dua prosi, tapi penjualnya ngotot memberikan banyak karena katanya aku terlalu ganteng." Jawab Ki Bum.


Dong Young tterpukau mendengarnya, ia menambahi, bisa-bisa kalau penjual daging itu melihat Ki Bum lagi, dia pasti akan menyerahkan seluruh tokonya pada Ki Bum.

Ki Bum lalu menyuruh Dong Young untuk menelfon Gong Myung dan Chae Yeon juga sekalian. Dong Young cepat mengerti, jadi tujuan Kibum ini hanya untuk mengajak Chae Yeon?

"Yeah. Kan sayang kalau dagingnya dibuang-buang."

"Oh ho, baiklah."

Lalu Dong Young melihat ada kue juga disana. Ki Bum lagi-lagi mengatakan kalau itu gratis, awalnya ia hanya ingin membeli roti untuk sarapan besok tapi manajer tokonya bilang kalau ia terlalu tampan dan...

"Dia memberikan ini gratis untukmu? Wow! LSepertinya kau bertemu dengan orang-orang dermawan hari ini!" Lanjut Dong Young.

Ki Bum mengiyakan. Dong Young jelas tak percaya, ia meminta kejujuran Ki Bum, pasti membeli semua itu karena mau mengadakan pesta ulang tahun untuk Jung Chae Yeon, kan?

"Bicara apa sih kau? Oh... um... oh yeah! Ini ulang tahunnya, ya? Aku sudah lupa. Kau masih ingat? Wow, mengejutkan sekali. Aku mau cuci seladanya dulu, jadi cepatlah telpon Gong Myung. Dan juga, si Orang Jahat itu. Tapi terserah kau sajalah mau telpon atau tidak. Aku tak peduli. Sebaiknya memang telpon Chae Yeon saja kalau mau menghabiskan semua ini."

Ki Bum pergi gak tau kemana. Dong Young semakin yakin kalau Ki Bum pasti menyiapkan ini untuk Jung Chae Yeon.

"Ampun deh. kunyuk yang menyedihkan. Dia bahkan tidak tahu kalau Jung Chae Yeon menyukai Gong Myung. Tapi bukankah itu pelengkapnya pesta harus diiringi oleh sebuah kisah cinta yang rumit? Oh, terserahlah. Lagipula dia sudah belanja sebanyak ini. Jadi telepon saja mereka."


Dong Young menelfon Gong Myung, ia menjelaskan kalau hari ini adalah ulang tahun Chae Yeon dan Ki Bum sama sekali tidak bisa mengatakan kalau Ki Bum yang menyiapkan semua ini, jadi Ki Bum menyuruhnya menelpon dengan alasan dagingnya terlalu banyak.

"Jadi, kau bujuklah Jung Chae Yeon dan bawa dia bagaimanapun caranya."

"Tapi, apa menurutmu dia mau datang?"

"Dia akan datang kalau kau bisa membujuknya."

"Benarkah? Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

"Oh, terserahlah. Bujuk dan bawa saja dia."


Gong Myung lalu menghampiri Chae Yeon, mengucapkan selamat ulang tahun dan ia berterimakasih karena Chae Yeon terlahir ke dunia ini. Chae Yeon kaget.

Gong Myung menjelaskan,  Kalau Chae Yeon tidak lahir, siapa lagi yang mau mambantunya belajar? Makanya ia bersyukur.

"Kau bilang apa sih?" Tapi Chae Yeon tersenyum.

Lalu Gong Myung mengajak Chae Yeon makan daging dengan teman-temannya di lantai atas asrama

"Ayo ikut dan anggap saja itu adalah pesta ulang tahunmu."

Chae Yeon menolaknya, ia baru akan merayakan ulang tahunnya setelah lulus nanti tapi ia mengijinkan Gong Myung jika mau pergi.

"Ayolah, kita pergi saja. Mana mungkin aku bisa makan sendiri. sementara guruku belajar keras di hari ulang tahunnya?"

Chae Yeon memastikan kalau ia tak apa-apa dan menyuruh Gong Myung pergi. Gong Myung kemudian menggunakan alasan kalau ia baru keluar dari rumah sakit dan membutuhkan asupan daging.

"Sepertinya keadaanku akan tambah baik kalau makan daging hari ini. Oh, baiklah, tak ada pilihan. Kalau Shabu tidak pergi, aku juga tidak bisa pergi."


Ha Na masih sibuk mengetik soal, sementara Jin Yi mengirim pesan untuk Min Ho, kekasihnya.

"Apa kau benar-benar mau begini, Min Ho?"
"Kau tidak menjawab pesanku selama 3 hari. Apa kau benar mau putus denganku?"

Bos Kim datang memberi kabar gembira untuk Ha Na, ia merekomendasikan Ha Na mengikuti kelas bebesa spesial.  Anak-anak berkumpul dan Ha Na menyampaikan sesuatu yang gratis! Kalau Ha Na  bisa melakukannya dengan baik, tentu saja kelas Ha Na akan ramai! Ini akan jadi sarana promosi yang baik!

"Direktur! Kenapa kau cuma menawari Ha Na? Kenapa aku tidak?" Protes Jin Yi.

Bos Kim beralasan kalau Ha Na sangat baik karena sudah menggantikan kelasnya Jin Woong. .

"Oh, terima kasih banyak."

Jin Suk keluar kelas dan melewati mereka. Ha Na sengaja mengatakan sesuatu agar Jung Suk mendengar.

"Kau bahkan membuatkan kelas bebas spesial untukku karena aku mengisi kelas kosong Profesor Min? Hidup dengan penuh rasa perhatian dan kepedulian terhadap orang lain kau harus dapat hadiah!"

Maksud hati sih ingin membantah kata-kata Jung Suk tadi, eh malah Jin Yi yang merasa tersinggung dengan ucapan Ha Na. Ha Na tentu saja segera mengelaknya.

"Maaf karena aku egois. Aku pikir, aku sedang dihukum karena banyak masalah bermunculan!" Jawab Jin Yi lalu keluar setelah Jung Suk.

Bos Kim bertanya-tanya kenapa gerangan dengan Jin Yi belakangan ini. Ha Na pikir, semua ini karena kekasihnya Jin Yi dan ia mohon pengertian Bos Kim.


Jin Woong mendatangi rumah lama ibunya untuk mengumpulkan barang-barang ibunya tapi setelah membuka almari, ia tidak menemukan apa-apa.

Jin Woong heran, kemana semuanya? Lalu ia menemukan surat di laci bawah. Jin Woong duduk bersila dan membacanya,

"Jin Woong, ini Ibu. Ibu sudah membawa semua barang-barangku ke pengelola. saat ibu masih sadar. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ibu. Kau sudah bekerja keras, mengurus ibumu yang sakit sampai sekarang. Kau bisa melepaskan beban ini dan hidup dengan nyaman sekarang. Itulah harapan Ibu. Ibu hanya ingin kau bahagia. Ibu mencintaimu anakku."

Tentu saja Jin Woong menangis membacanya, ia sedih, kenapa Ibunya pergi seperti ini tanpa meninggalkan apapun?

Kemudian telfon rumah berdering. Jin Woong menangkatnya dan segera menuju tempat si penelfon.


Ha Na diminta membuatkan kopi ekstra manis untuk Bos Kim, dan saat Ha Na mencicipinya ia hampir muntah saking manisnya, tapi Bos Kim baik-baik saja tuh.

Setelah minum kopi mertua Bos Kim menelfon. Bos Kim menjawabnya dengan sangat manis. Tapi entah apa yang tidak cocok, ibu mertua Bos Kim tiba-tiba berteriak marah-marah.

Setelah telfon usai, Ha na bertanya pada Bos Kim, ada apa gerangan. Bos Kim kesal sekali sampai akan melempar galon.

"Aku bertanya-tanya kenapa Jin Jung Suk memberiku kopi dan cake tapi ternyata tidak ada alasan apapun. Dan aku tidak tahu itu sama sekali. Menyebalkan!"

"Huh? Apa maksudmu?"

"Padahal itu karena Jin Jung Suk mencampakkan adik iparku! Dia bilang dia sedang memikirkan perempuan lain dan mengacaukan kencannya!"

Ha Na terkejut mendengarnya dan Bos Kim pusing karena mertuanya sangat marah, bahkan bilang kalau dirinya telah mengenalkan pria buruk untuk adik iparnya.


"Sial. Aku harus bagaimana sekarang? Tamatlah riwayatku."

Ha Na meminta Bos Kim tenang tapi malah di bentak oleh Bos Kim, bagaimana ia bisa tenang sekarang? Ia benar-benar kesal dengan Jung Suk dan meminta Ha Na untuk menyuruh Jung Suk datang ke ruangannya begitu Jung Suk kembali.


Ha Na lalu curhat dengan ponselnya,

"Melihat dia menghancurkan kencan dengan  wanita lain dan mengatakan kalau dia memikirkan wanita lain. Lalu dia menemuiku untuk mengungkaplan perasaannya padaku.. mungkin dia benar-benar menyukaiku."

Ponsel menjawab kalau tidak baik mengabaikan perasaan tulus orang lain. Ha Na tak peduli, Kalaupun Jung Suk menyukainya, pada akhirnya ia hanya akan sakit hati karena berada di sisi orang yang egois seperti Jung Suk. Sebaiknya aku tak usah berurusan dengan sampah itu. Benar kan?

" "Sampah" adalah sebutan untuk sesuatu yang kau anggap tidak berguna."

"Wah, kau juga memberikan saran yang baik untukku. Hentikan."


Jung Suk jujur kalau adik ipar Bos Kim memukulinya dan pada akhirnya ia menyuruh Bos Kim untuk mint maaf pada dirinya.

"Tunggu, kenapa aku harus minta maaf?"

"Karena kau memperkenalkanku pada seorang wanita rendahan."

"Oh... okay. Aku.. minta maaf."

"Sudah, kan? Kalau begitu aku pergi."

Lalu Bos Kim mendapatkan protes dari Profesor Seo karena Bos Kim hanya membantu Ha Na dan ia mengancam akan mengundurkan diri jika Bos Kim selalu berpihak pada Ha Na.

"Jadi yang harus kulakukan hanyalah membatalkan kelas bebas spesialnya Profesor Park Ha Na, kan? aiklah kalau begitu. Bersemangatlah, oke?" Jawab Bos Kim.

Jung Suk mendengarnya dan bertanya, kenapa Bos Kim harus melakukan itu. Bos Kim menjelaskan kalau Profesor Seo mengancam akan berhenti atau apalah.

"Anda sungguh mau membatalkannya?"

"Ya, harus kubatalkan. Dia mungkin bukan pengajar terbaik. Tapi dia cukup kompeten. Aku mana bisa membiarkannya berhenti."

Jung Suk hanya bisa mendesah.


Jin Woong mendatangi toko laundri. Bapak pemilik toko memberikan jelet ibu Jin Woong yang di lanundri disana.

"Kami akan tutup jadi sedang dalam proses pembersihan. Aku senang akhirnya bisa menghubungimu."

Jin Woong berterimakasih lalu membawanya pergi. Saat di luar Jin Woong mengeluarkan baju ibunya, setidaknya ia masih memiliki satu banju Ibunya.

"Harusnya aku membelikannya pakaian  yang lebih banyak." Sesal Jin Woong.


3 komentar

akhirnya .... emmmm ditunggu part 2, sibuk yach say..? solnya minggu ini dah sampai eps 14. fighting

Benar2 bikin penasaran... :)
Ditunggu part 2-nya, mbak..
Semangat trs ya...!!
Aku cek link-nya hampir setiap jam...
Klo bisa jgn kelamaan ya..
Hehehehe
Gomawo, unni..:)

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...