Wednesday, October 26, 2016

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 10 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari KBS2

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 10  Part 2


Mi Jin datang ke rumah Soo Ah dan mereka bicara di luar. Mi Jin mengakui kalau yang dikatakan Jae Ah memang benar.

"Jangan katakan itu. Aku tidak ingin mendengarnya." Larang Soo Ah.

Mi Jin tidak ingin Soo Ah mendengarnya dari orang lain. Ia ingin memberikan informasi yang tepat.

"Aku bilang, jangan."

Tapi Mi Jin tetap melanjutkan, ia bercerita kalau ia mengenal Jin Suk sejak masih kulian. Mereka hidup bersama setelah setelah ia menjadi seorang pramugari selama sekitar tiga tahun.

"Kemudian dia berselingkuh denganmu. Itu sebabnya aku selalu merasa menyesal ketika aku melihatmu. Aku sangat menyesal kalau aku tak pernah memberitahumu Pria seperti apa dia. Aku bersumpah kalau aku tak pernah berbicara dengannya sebelum ada masalah dengan istrinya Doh Woo. Aku terus menjaga kesetiaanku padamu."

Mi Jin minta maaf karena sudah tinggal bersama dengan suami Soo Ah, ia harus melakukan itu karena istrinya Do Woo. Tapi kenapa ia yang salah?

"Kau tak punya hak untuk mengatakan apapun padaku. Kau tak bisa menamparku."

Soo Ah baru menatap Mi Jin, Apa tak ada yang terjadi di kamar hotel?

"Jika aku bilang... Kami hanya berbicara..."


Soo Ah terluka, ia berdiri dan pergi dari sana. Tapi baru beberapa langkah ia berbalik. Soo Ah tidak yakin apa Mi Jin akan percaya atau tidak dengannya.

"Aku kecewa kepadanya (Jin Suk), Tapi aku lebih sedih lagi karena itu kau. Apa kau mengerti? Aku telah mengenalmu lebih lama  Aku benar-benar hancur. Bagaimana bisa kau? Bagaimana bisa kau..."

Soo Ah tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Mi Jin minta maaf, tapi ia tidak menyesal. Kenapa semua orang ada di pihak Soo Ah?

"Kau adalah orang yang berselingkuh... Tapi para anggota awak pesawat berada di pihakmu. Bagaimana dengan Jae Ah? Kau punya adik yang menyayangimu. Tak akan ada yang berubah dalam hidupmu bahkan jika kau kehilangan teman. Kau memiliki segalanya."

"Kau bisa membawanya."

"Kau membuangnya."

Soo Ah menghapus airmatanya lalu kembali ke rumah. Di rumah ia tidak bisa tidur, hanya berbaring di sofa.


Sampai pagi tiba, Soo Ah masih ada di sofa. Hyo Eun terbangun dan menegur ibunya yang tidak membangunkannya, kan jadinya ia terlambat.


Soo Ah mengatakan kalau ia merasa sedikit tidak enak badan hari ini, ia mengajak Hyo Eun untuk menghabiskan waktu bersama. Hyo Eun senang karena ia tidak harus ke sekolah hari ini.

"Luar biasa. Kemana kita harus pergi?"

"tak tahu. Kemana kita harus pergi?"

Hyo Eun menyarankan ke tempat yang jauh saja. Soo AH tampaknya setuju. Jauh sekali... Sangat jauh sekali...


Seok memutuskan untuk pergi dari rumah, Do Woo mungkin bisa hidup bersama Hye Won, tapi ia tidak bisa. Do Woo juga membuatku takut. Bagaimana Do Woo bisa hidup dengan semua kebohongan Hye Won? Beraninya Hye Won bilang dia membesarkan Eun Woo?

Do Woo mengijinkannya pergi tapi hanya agar Seok bisa menghirup udara segar lalu kembali lagi tapi Seok tidak akan kembali, bukan karena ia muak pada Hye Won tapi karena Hye Won membuatnya takut.

"Jagalah rumah ini. Aku harus pergi sementara waktu untuk bisa memenuhi keinginan ibu. Seseorang harus ada disini."

"Apakah kau..."

"Haruskah aku membuat dia yang bertanggung jawab? Studio, galeri, rumah lama, Aset budaya dan kamar ibu. Haruskah aku menyerahkan mereka padanya?"

Seok melarang keras, jangan sampai Hye Won menyentuh semua yang ada di sana.


Do Woo lalu menjelaskan pada Hye Won dan Seok kalau ia akan pergi selama enam bulan sampai satu tahun. Sementara ia pergi, segala hal mengenai rumah ini akan diserahkan pada Seok.

"Kau bisa membantu dia dengan pameran. Kau tahu bahwa tempat ini... membutuhkan seseorang dengan kegigihan agar tetap terjaga. Aku akan terus membahas masalah pekerjaan denganmu. Kita punya masalah sebagai pasangan yang menikah. Aku pikir kami memiliki hubungan kerja yang baik. Dan tentang proyek Ji Eun... Mereka ingin bekerja denganmu. Jangan khawatir tentang hal itu."

"Apakah keputusan ini... Ada hubungannya dengan..."

Do Woo memotong, ia lebih suka kalau Hye Won tidak bertanya. Ini diantara Nye Won dan dirinya. Ia tidak berpikir ini terjadi karena orang lain. Masalah ini diantara mereka dan kita sendiri.

"Kau istriku... Dan aku mencintaimu. Aku mengandalkanmu. Kau ibunya Annie. Memang sulit melakukannya. Sementara kita terpisah, Segera setelah kau tenang, Mari kita berpisah. Mari... Kita akhiri disini."


Soo Ah dan Hyo Eun tiba diLaut Jeju. setelah dari laut mereka mengunjungi musium layang-layang. Bahkan Hyo Eun bisa menerbangkan layang-layang, pokonya disana mereka dihiasi senyuman.


Mereka terus berjalan dan melewati sekolahan, dimana ada sekelompok siswa seusia Hyo Eun yang sedang main bola. Soo Ah menyuruh Hyo Eun untuk bergabung dengan mereka.

"Apa mereka akan memperbolehkanku?" Tanya Hyo Eun.

"Tanyakan pada mereka. Tak masalah jika mereka bilang tidak."

Hyo Eun pun perlahan bergabung dan mereka membiarkan Hyo Eun bahkan mengoper bola pada Hyo Eun. Soo Ah tersenyum melihatnya.


Seseorang mendekati Soo Ah, mungkin ibu dari salah satu anak-anak yang main bola. Ibu itu bertanya, apa Soo Ah dari Seoul. Soo Ah mengiyakan.

Ibu itu menjelaskan kalau ia baru pindah kesana bulan lalu, ia bertanya lagi, apa Soo Ah akan tinggal di sana. Soo Ah belum mummutuskan hal itu.

"Begitulah awal mulanya. Banyak orang datang berlibur dan tidak pernah kembali. Apa kau memiliki tempat tinggal?"

"Belum."

"Kau tidak punya rencana, kan? Seperti itulah semua orang. Kami hanya ingin pergi jauh. Seperti itulah sebagian besar dari kami berakhir disini."


Lalu ibu itu mengantar Soo Ah dan Hyo Eun ke sutu rumah. Ibu itu  mengatakan kalau banyak orang-orang ingin tinggal disana selama satu bulan atau lebih dan akan sulit mendapatkan rumah di akhir musim tapi kebetulann pemilik rumah itu kembali ke Seoul kemarin jadi Soo Ah dan Hyo Eun bisa tinggal disana untuk beberapa hari.

Soo Ah tak menjawab tapi mukanya menunjukkan banyak pertanyaan, lalu ibu itu menjelaskan kalau mereka juga tinggal di rumah seperti itu. Soo Ah pun berterima kasih dan ibu itu pamit.

Hyo Eun naik ke lantai 2, ia sangat menyukai rumah itu. Soo Ah juga senang, Bagus sekali.

"Akan sangat bagus bisa tinggal disini." Angan Hyo Eun.


Soo Ah dan Hyo Eun keluar menuju pantai. Hyo Eun sibuk mencari keong sementara Soo Ah menatap jauh ke laut. 

"Tempat ini berangin dan juga tenang."

Ia teringat Do Woo yang mengajaknya untuk hidup di tempat seperti itu.

Hyo Eun menunjukkan keong yang keluar dari cangkangnya, mereka sama-sama tertawa. Lalu Soo Ah mengajak Hyo Eun untuk tinggal bersama disana.

"Benarkah?" Hyo Eun sangat senang.


Jin Suk terus menghubungi Mi Jin tapi tidak diangkat. Lalu pesan Soo Ah masuk, mengatakan kalau Hyo Eun masuk ke sekolah internasional di Jeju.

Jin Suk tak mengerti, lalu ia menelfon Soo Ah. Soo Ah menjelaskan kalau mereka mendaftar di Malaysia dan Jeju setelah gagal di Selandia Baru. dan sekolah Di Jeju tiba-tiba menelfon, dan mereka datang ke sana untuk mengurus semuanya.

"Dalam dua hari? Itu tidak masuk akal."

Soo Ah mengingatkan kalau Jin Suk juga mencarikan Hyo Eun sekolah di Malaysia dalam dua hari. Jin Suk membenarkan. Soo Ah bertanya, haruskah Hyo Eun pergi atau tidak.

"Tentu saja, dia harus pergi." Jawab Jin Suk senang.

Soo Ah kembali menjelaskan kalau ia ingin tinggal disana bersama Hyo Eun. Jin Suk heran, apa disana tidak ada asrama.

"Asrama... Itu... Mereka tidak memilikinya."

Jin Suk mengerti, lalu Soo Ah meminta Jin Suk untuk mengirimkan koper yang ada di rumah Nyonya Kim. Jin Suk menyuruh Soo Ah untuk datang sendiri saja, mana ia tahu apa yang harus dikirim toh hanya memakan waktu sehari, ia akan menelfon perusahaan pindahan.

"Kau akhirnya melakukan hal yang benar." Puji Jin Suk senang.

Soo Ah bertanya, Jin Suk bahagia, kan? Soalnya Jin Suk tidak suka hidup dengannya.

"Kau menyingkirkan penumpang yang mengerikan. Kau pasti lebih senang." Balas Jin Suk.


Soo Ah menyelimuti Hyo Eun yang tertidur lalu ia kembali ke depan. Ia melhat ponselnya. setelah itu ia ke halaman samping, mondar-mandir disana.

Do Woo di ruangan favoritnya, membuka jendela dan menata keluar. Soo Ah menghubunginya, tapi setelah ia angkat, Soo Ah tak kunjung bicara.

"Kau dapat mengatakan apa pun yang kau inginkan." Ujar Do Woo.


Soo Ah tiba-tiba bertanya siapa penyanyi kesukaan Do Woo dan saat Do Woo mengatakannya, ia akan mendengarkan lagu-lagu penyanyi itu setiap hari,

"Aku suka Kim Dong Ryul. Saat aku mendengarkan lagu-lagunya, Aku ingin tahu apakah mereka kisah nyata. 'Bagaimana rasanya dicintai seperti itu?' Aku selalu membayangkan wanita seperti itu dan iri padanya." Lanjut SOo Ah.

Do Woo merespon kalau ia harus menganalisa liriknya kalau begitu. Soo Ah mengaku kalau sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu taoi malah bertanya aneh-aneh.

Do Woo merubah posisi duduknya untuk mendengarkan Soo Ah.

"Aku pikir aku tidak bisa melakukan... Apa yang kau minta. Hyo Eun dan aku... akan pindah ke tempat yang jauh."

Do Woo bertanya, dimana tempat itu, tapi Soo Ah hanya menjawab kalau tempatnya itu jauh sekali. Soo Ah pikir mereka harus menyerah pada "Dua hal tidak boleh" itu."

Do Woo ingin menjaga satu saja tapi Soo Ah tidak ingin berharap lebih, ia menyalahkan dirinya sendiri bahkan saat istirahat.

"Aku pikir semuanya salahku. Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi. Aku minta maaf."


Do Woo mengajaknya bertemu saat ini. Soo Ah segera menolaknya karena saat ini ia sangat jauh. Sangat jauh. Ia berkata pada dirinya sendiri, "Itu bukan apa-apa." "Itu pasti bukan apa-apa." ratusan kali.

"Bagiku, itu adalah... Yang paling... Masalah yang paling... Terbesar yang pernah ada. Itu terlalu banyak. Jika kita mengakhirinya sekarang, Itu akan menjadi bukan apa-apa. Kau tahu apa yang aku maksud, bukan?"

"Aku tidak bisa membantah itu. Aku rasa aku tahu... Kenapa kau mengatakan ini. Itu semua... Masuk akal."

Soo Ah berterimakasih untuk segalanya dan ia minta maaf untuk semuanya. Baik Soo Ah maupun Do Woo merasa sangat sedih.


Soo Ah dan Hyo Eun mendatangi sekolah baru Hyo Eun. Soo Ah menemui pihak sekolah dan mereka mengatakan kalau Hyo Eun bisa sekolah disana, yang mereka perlukan saat ini hanyalah alamat rumah dan dokumen kepindahan.

Hyo Eun sangat senang mendengarnya. Soo Ah lalu menjelaskan kalau ia akan ke Seoul hari ini untuk mengurus semuanya juga bertemu dengan Jin Suk dan akan kembali sore ini juga.

Hyo Eun tak masalah pokoknya Soo Ah harus kembali sebelum gelap, ia malah mendorong ibunya untuk cepat pergi.


Do Woo mulai berkemas. Seok melarangnya khawatir masalah rumah, dan bersenang-senang sajalah. Seok pastikan kalau semua hal di rumah akan dijaganya dengan baik, ia juga sudah minta bantuan seorang ahli.

"Aku semangat dengan penuh gairah. Tapi aku tak tahu apa-apa."

Do Woo menjawab kalau itu adalah kelemahan Seok. Sekali lagi Seok melarang Do Woo untuk khawatir, ia akan berjuang untuk tempat itu.

"Terima kasih Hyung."


Hye Won akhirnya mempunyai ruang kerja sendiri. Ji Eun curhat pada Hyun Jung kalau seharusnya yang ada di ruangan Hye Won adalah Do Woo.

"Aku benar-benar tidak ingin melakukan ini. Kau juga tidak, kan?"

Hyun Jung hanya tersenyum.


Soo Ah mendapatkan formulir kepindahan Hyo Eun dari sekolah. Setelah itu ia naik bis. Mi Jin menelfon tapi Soo Ah tidak mengangkatnya.

Soo Ah pergi ke daerah kantor Do Woo, ia memotret gedung itu dari bawah. Kemudian Hyun Woo datang habis belanja. Hyun Woo bertanya  kenapa Soo Ah ada disana,

Soo Ah berbohong bahwa ia hanya lewat saja, lalu pamit. Hyun Woo berjanji kalau ia tidak akan bilang pada Do Woo kalau ia melihat Soo Ah disana. Soo Ah menangguk.


Mi Jin mendapat pesan dari Jin Suk kalau Soo Ah dan Hyo Eun akhirnya pergi dan ia bisa beristirahat. Mi Jin langsung menghapus SMS itu setelah membacanya.

Soo Ah turun dari bis dan Mi Jin menelfonnya tapi kali ini Soo Ah mengangkatnya. Tapi Soo Ah cuma mau bilang supaya Mi Jin tidak menelfonnya lagi.

"Apa kau pergi ke suatu tempat?" Tanya Mi Jin.

"Apakah Jin Suk memberitahumu?"

"Apa yang terjadi?"

Soo Ah hanya mengatakan kalau mereka pergi ke tempat yang jauh. Dengan kata lain, ia punya hak untuk menampar Mi Jin sekarang. Mi Jin bertanya, apa Soo Ah mengakhirinya.

"Aku tidak ingin melihatmu." Tutup Soo Ah lalu melemparkan ponselnya ke tong sampah. (Trus apa gunanya tadi Soo Ah mengambil foto ya?)

Soo Ah selanjutnya membeli ponsel baru dan nomor baru.


Soo Ah ke rumah ibu mertuanya, ia mengambil giok Annie yang disimpannya di laci.

Soo Ah selanjutnya berbicara dengan Nyonya Kim mengenai apa yang harus dibawa oleh perusahaan pindahan.

Nyonya Kim merasa kalau Jeju lebih baik daripada Selandia baru karena lebih dekat tapi mengenai gaji bulanan yang Soo Ah janjikan itu tidak bisa Soo Ah lakukan kan? Itu adalah uang pesangon Soo Ah,

"Aku berharap aku bisa mendapatkan 50 dolar setiap bulan. Mau bagaimana lagi. Aku tidak ditakdirkan untuk menikmati gaji yang mewah. Jangan khawatir tentang hal itu."

Soo Ah menjawab kalau ia akan segera menghubungi ibu mertuanya setelah mereka menetap. Nyonya Kim mengeri, tapi bagaimana dengan Jin Suk.

"Kami akan bertemu di suatu tempat." Jawab Soo Ah.


Soo Ah menemui Jin Suk di kafe. Soo Ah menjelaskan kalau ia tidak bisa membawa banyak barang jadi ia meminta Jin Suk untuk mengirim buku-buku dan pakaian saja.

"Mereka akan tiba besok. Hubungi mereka. Berikan mereka alamatnya."

Soo Ah mengerti dan pangsung bangkit. Jin Suk heran, apa cuma itu saja. Soo Ah beralasan kalau ia harus sampai sebelum gelap karena Hyo Eun sendirian.

"Berapa banyak yang harus aku kirim untuk biaya hidup?"

Soo Ah menjawab kalau mereka akan hidup dari uang pesangonnya untuk saat ini. Jin Suk tahu, sekolah disana pasti sangat mahal. Soo Ah beralasan kalau biaya hidup disana tidak mahal dan mereka menemukan rumah sewa bulanan yang murah.

"Maka... Aku rasa kita sudah sepakat."

"Aku akan melihat bagaimana Hyo Eun tinggal disana... Dan memutuskan apakah akan tinggal lebih lama atau kembali."

Jin Suk yakin kalau Hyo Eun pasti baik-baik saja tinggal disana. Itu sebabnya kenapa mahal. Soo Ah setuju karena Hyo Eun bilang akan mencoba.

Lalu Jin Suk mengajak Soo Ah pergi untuk mengejar penerbangan sore ini. Sementara ia membayar di kasir, Jin Suk meminta Soo Ah menunggu di bawah.


Saat Soo Ah turun tangga, Do Woo masuk ke dalam jadi mereka saling menatap. Tak lama kemudian Jin Suk ikut turun, ia mengajak Soo Ah bergegas.


Jin Suk berjalan duluan melewati Do Woo. Perlahan-lahan Do Woo dan Soo Ah mendekat. Soo Ah tak bisa menahan tangisnya, Do Woo diam-diam mengganggam tangan Soo Ah saat mereka berpapasan. Soo Ah semakin emosi, airmatanya tak bisa berhenti.

Tai Do Woo hanya menggenggam tangan Soo Ah sebentar karena mereka harus melanjutkan jalan masing-masing. Tapi kemudian mereka saling berbalik.

Do Woo mengangguk malah membuat Soo Ah semakin sedih. Tapi pada akhirnya Soo Ah tetap harus mengikuti suaminya.


11 komentar

sprtiny di jeju soo ahjd pramugari lg ya.. semoga do woo bisa brtemu soo ah du jeju. lgsung bulan madu aja deh heheheheee. tq sinopnya min say

Jalannya ga mudah utk bahagia...harus lewati masa2 sulit dulu..semoga berakhir bahagia yaa...

Moga bisa ketemu d jeju..
Lebih baik soAh ama do woo dr pd ma jin suk..
Smngat minn buat sinopsis'a di tnggu ep 11'a😁

Moga bisa ketemu d jeju..
Lebih baik soAh ama do woo dr pd ma jin suk..
Smngat minn buat sinopsis'a di tnggu ep 11'a😁

Ditunggu next episode nya.... trims...

trm ksih sinopsisnya. dtggu ep. 11

Semangat min, aku selalu nunggu sinopsisnya..

sprtinya do woo suka bgt mainin lampu..eps 11 lebaaayyy..drama korea bgt, prtemuan tak trduga n jaim2an...tp aku suka aku suka miiiinnn... hayo lanjuuuttkaaann

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...