Wednesday, October 19, 2016

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 8 Part 2


Tak diperdengarkan apa jawaban Soo Ah dari pertanyaan Do Woo tadi lansung loncat saat mereka akan pulang. Soo Ah membantu Do Woo memasukkan barang-barang (karya Nyonya Go ke dalam mobil.

Kemudian mereka berkendara melewati jalan sempit yang kakan kirinya di tumbuhi pohon-pohon rindang. Soo Ah kelihatan sangat menikmati perjalanan itu.



Mereka sampai di lokasi selanjutnya. Do Woo sudah menerima karya ibunya, tapi Soo Ah malah melakukan sesuatu di udara. Do Woo bertanya sedang apa Soo Ah.

"Beginilah aku memeriksa pesawat sebelum kami pergi. Aku memeriksa untuk melihat apakah ada yang tertinggal di tempat penyimpanan."


Do Woo meniru Soo Ah lalu mengajaknya pergi. Saat perjalanan pulang, Soo Ah menatap Do Woo, ia teringat pertanyaan Do Woo tadi yang mengajaknya tinggal di temat seperti itu.


Do Woo meminggirkan mobilnya, mereka sudah sampai. Ia berterimakasih pada Soo Ah untuk hari ini, lalu ia mengajak Soo Ah bersalaman.

Soo Ah mengatakan kalau ia ada penerbangan besok. Kali ini ia akan benar-benar terbang ke Oakland.

"Semoga penerbanganmu aman." Pesan Do Woo dan Soo Ah mengangguk.


Soo Ah menjenguk ibu mertuanya dan saat ia sampai nafasnya terengah-engah. Di saat itu, ibu mertuanya sedang dalam masa perawatan tapi Nyonya Kim menolak.

Perawat mengatakan pada Soo Ah kalau Nyonya Kim tidak mau terapi saat ini maka nantinya akan berjalan seperti robot. Pokoknya harus menekuk lutut hari ini.


Nyonya Kim lebih baik berjalan seperti robot daripada seperti orang tua. Soo Ah membenarkan, setidaknya robot berenergi, lalu ia memijit kaki Nyonya Kim, sambil terus membenarkan apapun yang dikatakan Nyonya Kim, Soo Ah pelan-pelan menekuk paksa lutut Nyinya Kim dibantu oleh perawat.

" Hei, dasar kau!" Teriak Nyonya Kim.

"Ibu tahanlah! harus menahannya ibu!"


Setelah mengantar Soo Ah, Do Woo menjemput Marie di hotel. Marie membawa koper dan bungkusan kain merah. Kopernya muat di bagasi mobil Do Woo beimpit dengan bungkusan kotak karya-karya ibunya.

"Aku harus menjalankan tugas ibu." Jawab Do Woo melihat Marie heran dengan bagasinya yang penuh.

"Bagasinya sudah penuh, apa tidak apa-apa?"

"Tentu saja, Annie mungkin sudah lama menunggu."

Do Woo akan membantu meletakkan bungkusan merah yang masih di bawa Marie tapi Marie berkata kalau ia akan membawanya saja.

Marie berziarah ke makam Annie dan kelihatannya ia sangat terpukul.


Nyonya Kim sudah tenang. Ia bertanya siapa yang akan menjaga Hyo Eun besok. Soo Ah menjawab kalau Hyun Joo akan menjaga Hyo Eun.

"Dimana adikmu?"

"Dia akan datang lusa."

Nyonya Kim mengijinkan Hyo Eun ke rumah sakit jika tidak punya tempat tujuan, Hyo Eun juga bisa tidur dengannya. Soo Ah diam saja membuat Nyonya Kim bertanya, apa Soo Ah tidak berterimakasih padanya? Ibu mertua yang sakit menawarkan untuk menjaga anak.

"Karena kita sudah membicarakannya, Aku merasa tidak enak mengambil 70% gajimu. Aku akan mengambilnya 50% saja."

Soo Ah tersenyum, ia ragu bisa memberikan 50% jika sudah dikurangi tagihan rumah sakit. Nyonya Kim meninggikan suaranya, mengatakan kalau ia akan segera keluar.

Soo Ah ternyata tadi hanya bercanda, ia tetap akan memberikan Ibu mertuanya bayaran 70% dari gaji bulanannya.

"Terkadang, Ibu sangat manis sekali."

"Apa kau bercanda?"


Kemudian Soo Ah mendapatkan pesan. Dari guru Hyo Eun yang melapor kalau Hyo Eun tidak masuk sekolah hari ini.

Soo Ah langsung ke sekolah Hyo Eun, ia menghubungi Hyo Eun tapi lama sekali baru diangkat. Soo Ah bertanya, dimana Hyo Eun saat ini.

Soo Ah sudah bertemu dengan Hyo Eun. Hyo Eun bersikeras tidak mau sekolah. Soo Ah memaksa, ia akan menemani Hyo Eun.

"Bagaimanapun aku di buli, Aku bisa bertahan berkat sepak bola. Tapi tanpa harapan masuk ke tim, Pembulian itu sepertinya menakutkan. Sakit sekali setiap mereka memukulku."

Soo Ah terkejut mendengar mereka memukuli Hyo Eun. Hyo Eun menambahi kalau mereka sangat ahli melakukannya. Soo Ah menyuruh Hyo Eun melapor pada wali kelas, ia akan menunggu Hyo Eun hingga jam pulang sekolah.


Hyo Eun pun kembali ke sekolah dan langsung disambut bulian oleh tiga anak laki-laki. Soo Ah melihat hal itu dan langsung meneriaki mereka. Soo Ah lalu menghampiri Hyo Eun dan merangkulnya.

Untung saat itu wali kelas Hyo Eun lewat. Soo Ah langsung melapor kelauan anak-anak tadi terhadap Hyo Eun dan ia yakin kalau wali kelas juga melihatnya.

"Mereka mungkin hanya bercanda." Jawab wali kelas.

Soo AH tentu saja emosi, lalu ia berkata kalau orang bahkan meninggal di tentara saat bercanda. Ia lalu memeluk Hyo Eun.


Soo Ah menggandeng Hyo Eun pulang. Ia meminya Hyo Eun bersabar, semuanya akan berlalu, Hyo Eun akan segera menjadi dewasa.


Selanjutnya Do Woo mengantar Marie ke Bandara. Do Woo khawatir kalau Marie mungkin ketinggalan pesawat tapi Marie memastikan kalau waktu mereka masih banyak.

"Beberapa dari foto itu berasal dari rumahku."

Do Woo menjawab kalau Soo Ah yang membawa foto-foto itu. Dan Soo Ah juga sangat membantunya sejak kecelakaan itu. Soo Ah jugalah yang membelikan makanan terakhir ibunya sebelum meninggal.

"Tidakkah itu aneh? Dia bahkan tidak mengenal ibuku. Aku tidak membuat alasan. Aku hanya ingin kau merasa tenang. Kau sangat spesial bagiku. Aku tidak mau kau... Merasa tidak nyaman."


Mereka sampai di depan Bandara. Do Woo meminta Marie menunggu di mobil saja sementara ia mengambil keranjang dorong untuk tempat barang-barang Marie.

Marie berbicara pada bungkusan kain merahnya (itu adalah barang-barang Annie dari polisi). Marie tidak tahu apakah itu yang terbaik untuk Annie, tapi ia meninggalkan bungkusan itu di antara karya-karya Nyonya Go di jok belakang mobil.


Waktunya obrolan para Pramugari. Suaminya Hyun Joo (Choi Hoon)menyapapara Juniornya. Joo Hyun bertanya, apa ia boleh liburan setelah penerbangan ini. Choi Hyun heran, bukannya Joo Hyun sudah pergi liburan musim panas ini?

"Ya. Aku benar-benar membenci penerbangan ini." Jawab Joo Hyun.

Yang lain bertanya, memangnya kenapa sengan Sidney. Joo Hyun tak menjawabnya, yang lain lagi menyahut kalau masa liburannya akan segera tiba. Joo Hyun menyarankan untuk pergi ke Nankai karena ada diskon karyawan.

Choi Hoon menyarankan ke Kinabalu yang menurutnya tujuan terbaik diseluruh penerbangan. Tapi pramugari itu ingin pergi ke Maldives mengingat ini adalah penerbangan pertamanya.

Lalu mereka berdebat kalau Maldives itu untuk bulan madu tapi Choi Hoon tak setuju, baginya Langkawi lebih tepat untuk bulan madu dan akhirnya obrolan mereka terhenti karena waktu penerbangan tiba.


Seperti biasa. Jin Sukmemimpin perjalanan ke Sydney. Kali ini Ji Eun pergi dengan Hye Won ke Sydney.


Do Woo menunjukkan surat wasiat ibunya pada Nyonya Hong. Nyonya Hong sangat mengerti, kata-katany bersih. Ia akan meninggalkan Do WOo dan Nyonya Go dari bisnisnya. Nyonya Hong bisa menggunakan artis lain untuk bisnisnya.

Dan satu hal lagi, Nyonya Go membahas tentang Hye Won. Nyonya Hong menunjukkan hasil karya Nyonya Go yang diklaim Hye Won sebagai karya terakhir Nyonya Go sebelum meninggal.

Nyonya Hong tahu kalau jarya itu tampak sangat tua. Nyonya Hong bercerita kalau Nye Won memberikannya itu dan mengatakan kalau Nyonya Go bersedia bergabung dengan bisnis. 

"Dia memintaku untuk mempercayainya dengan bukti ini. Aku dengar kau merekomendasikannya untuk bisnisnya Ji Eun. Yah, ada masalah dengan kredibilitas. Mari kita keluarkan Hye Won dari bisnis ini juga."


Do Woo mengatakan kalau Hye Won adalah orang terbaik untuk pekerjaan ini. Hye Won punya koneksi dengan banyak orang-orang hebat dan Hye Won sangat mencintai pekerjaannya

"Dengan mengenyampingkan cerita itu, dia yang terbaik untuk pekerjaan itu. Aku rasa dia melakukan ini karena dia ingin melakukannya dengan baik. Aku minta maaf."

"Maksudmu Hye Won masih bagus untuk pekerjaannya?"

Do Woo tanpa ragu menjawab iya.

"Kalau kau mengatakan dia keluar batas karena kemarahan, baiklah, aku akan mempertimbangkan menerimanya bekerja."

Dan Nyonya Go mengatakan kalau rumah Do Woo seperti musium, semunaya layak untuk di lestarikan. Do Woo harus lebih bersikeras daripada orang yang mau mengambilnya

"Aku harap... Kau melakukan segalanya untuk mempertahankannya. Pastikan bahwa... Keinginan terakhir Eun Hee terpenuhi. Kalau kau tidak bisa melakukannya, Aku akan.. Mengambil rumahnya."


Soo Ah curhat mengenai pembullian yang dialamai putrinya pada Hyun Joo. Hyun Joo mengatakan kalau saat ini adalah saat krisis Soo Ah dalam menjadi ibu.

"Ini waktu yang sulit bagi semua murid. Kau bisa menyelesaikan semua masalah dengan membiarkannya. Saat anakmu di buli, Seperti kau sendiri yang dibuli. Aku sering melihat ibu-ibu merasa depresi."

Soo Ah minta saran, bagaimana kalau ia bicara dengan wali kelas Hyo Eun. Hyun Joo balik bertanya, apa Soo Ah bisa tegas?

Soo Ah yakin, ia harus seperti itu, tapi Soo Ah merasa takut untuk pergi ke sekolah Hyo Eun. Hyun Joo juga merasa takut.

"Tempat paling menakutkan di dunia adalah kantor dari guru anakmu. Kalau kau cemas anakmu menjadi takut, Maka beranikan diri dan pergilah."


Jin Suk mengijinkan Kevin Oh makan.


Ji Eun ingin bersantai tapi ia tak bisa menggunakan tombol kursinya, kemudian datanglah Mi Jin dan membantunya hingga ia merasa nyaman. Sementara Hye Won tetap memeriksa dokumen.

Mi Jin berbicara informal pada Ji Eun dan itu mengganggu Hye Won. Ji Eun mengatakan kalau Mi Jin adalah temannya.

Soo Ah minta maaf pada Hye Won. Ji Eun mengatakan kalau MMi Jin adalah teman yang sudah dikenalnya lama, Mi Jin juga kenal dengan Doo Wo.

Joo Hyun mendengar dari belakang kalau nama Do Woo di sebut-sebut. Ji Eun mengatakan pada Mi Jin kalau Hye WOn adalah istri Do Woo. Lalu Mi Jin memberi salam pada Hye Won.

"Aku kenal Doh Woo dari beberapa temanku. Kau ibunya Annie. Aku kenal ibu teman sekamarnya Annie..."


Sebelum Mi Jin mengatakan lebih lagi, Ji Eun membawanya pergi, dengan alasan kalau ia mual. Dibelakang, Ji Eun melarang Mi Jin untuk bilang kalau Mi Jin mengenal ibu dari teman sekamar Annie.

"Kenapa tidak?" Tanya Mi Jin.

Ji Eun tak mengatakan alasannya, pokoknya jangan. Mi Jin menjelaskan kalau kapten dari penerbangan ini adalah ayah dari teman sekamarnya Annie.

"Jadi, Ayahnya Hyo Eun... Suami ibunya Hyo Eun? Suami ibunya Hyo Eun seorang pilot?" Tanya Ji un kaget.

Mi Jin membenarkan, suaminya Soo Ah. Ji Eun malah menggebu-gebu, ia memastikan agar Mi Jin menjaga rahasia ini. Mi Jin bertanya lagi alasannya kenapa.

"Aku tidak bisa mengatakannya, aku belum yakin, pokoknya diam saja dulu." Jawab Ji Eun.


Joo Hyun memanggil Hye Won yang berdiri mematung di depan ointu. Lalu tak lama kemudian Ji Eun keluar dari pintu itu.


Joo Hyun bingung melihatnya lalu ia melapor pada Mi Jin. Ia bertanya, apa Seo Do Woo yang itu, yang tak sengaja ia sebutkan?

Mi Jin mengiyakan, tapi Mi Jin lupa, waktu itu Joo Hyun bilang apa? Melihat Seo Doo Wo dan Soo Ah berbicara?

"Ya, mereka berbicara dibalik tirai di dekat toilet. Sepertinya serius sekali."

Joo Hyun makin yakin kalau ada sesuatu karena ia tadi melihat Hye Won menguping saat Mi Jin dan Ji Eun bicara. Mi Jin lalu menyuruh Joo Hyun untuk mempersiapkan kereta minuman.

Mi Jin selanjutnya berpikir, pria yang disukai Soo Ah adalah pria yang sudah menikah, ia bertanya-tanya, Apa mungkin Do Woo?


Hyo Eun mengunci diri dalam kamar. Soo Ah mengatakan kalau nomor dari penjaga Hyo Eun dan nomor telponnya ada di kalender. Ia memastikan agar Hyo Eun memeriksanya sebelum pergi ke sekolah setiap pagi.

"Aku tidak mau pergi kesekolah. Perutku sakit." Jawab Hyo Eun.

Soo AH berjanji akan bicara dengan wali kelas Hyo Eun. Hyo Eun tetap tidak mau ke sekolah seumur hidupnya. Soo Ah meminta Hyo Eun untuk membuka pintunya dulu. Hyo Eun membentak kalau perutnya sakit. Soo Ah pun tidak memaksa lagi,

"Hyo Eun. Ibu tahu kau melalui waktu yang sulit. Tapi kalau kita berusaha lebih keras, Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Ibu akan berusaha yang terbaik di kantor dan ayah juga berusaha yang terbaik. Kau harus berusaha yang terbaik pada apa yang kau lakukan. Maka kita tidak akan punya masalah sama sekali. Anak-anak yang memukulmu cuma anak-anak saja. Jangan takut pada mereka, dunia ini..."


Hyo Eun langsung membuka pintu, ia tidak setuju dengan kata-kata ibunya yang menyebut mereka semua cuma anak-anak. Ia membalik, bagaimana perasaan ibunya jika ia bilang kalau pekerjaan ibunya cuma sekedar pekerjaan,

"Kenapa harus aku yang berkorban? Kenapa kita harus pindah sesuai dengan jadwal ibu dan ayah? Karena ayah dan ibu, Aku akan bermasalah yang seharusnya bahkan tidak ada di sini. Karena ibu dan ayah, Aku harus pergi ke sekolah dimana aku tidak punya teman. Jadwal apa itu? Tidak bisakah ibu berkorban untukku?

Aku bersedia tinggal di rumah supaya ibu bisa memenuhi jadwal ibu. Tapi aku harus menahan diri dengan pembulian? Aku mau tinggal di rumah seolah-olah aku tidak ada. Ibu tidak mengorbankan apapun. Ibu keluar di tengah malam meninggalkan aku dengan orang lain."


Soo Ah selanjutnya membuat Kimbab. Ia mengirim pesan pada suaminya, mengatakan kalau Hyo Eun memiliki masalah di sekolah dan ia rasa Hyo Eun tidak bisa masuk sekolah untuk sementara waktu, ia minta Jin Suk menelfon jika bisa.

Soo Ah memukul-mukul dadanya yang sesak.


Soo Ah menemui wali kelas Hyo Eun pagi-pagi sebelum para siswa datang. Soo AH mengatakan kalau Hyo Eun sepertinya harus tinggal beberapa hari di rumah

"Harus ada surat dokternya atau dia akan dianggap bolos. Anda tahu itu, kan?"

Lalu Soo Ah membicarakan mengenai anak-anak yang membuli Hyo Eun. Ia marah saat melihatnya dan berteriak tapi...

"Nyonya Choi, kalau kau memarahi mereka secara langsung, Apa kau pikir mereka akan membiarkan Hyo Eun begitu saja? Bahkan aku tidak melakukan itu. Itu hanya menambah masalah. Mereka akan memukulinya lagi di tempat rahasia karena sudah mengadu dan kemudian mengadukannya padaku. Kalau kau benar-benar ingin menghukum mereka, Bawakan aku bukti. Screencap pesan mereka atau fotolah mereka."


Soo Ah berjalan di lorong sekolah yang kosong, jawaban Ibu walikelas tadi belum selesai,

"Kalau mereka tahu kau berbuat begitu, Mereka tidak akan melakukannya lagi. Hanya supaya Anda tahu, kami memiliki kamera di koridor."


Soo Ah kembali ke rumah dengan membawa belanjaan buah-buahan, ia bertanya pada Hyo Eun, apa Hyo Eun bisa pergi ke dokter sendirian.

"Ibu akan meminta Hyun Joo untuk datang. Mintalah surat keterangan dokter."

Tidak ada jawaban dari Hyo Eun, Soo AH khawatir lalu ia mencari kunci cadangan dan membuka pintu kamar Hyo Eun. Ternyata Hyo Eun cuma sedang tertidur dan SOo Ah bisa bernafas lega.


Soo Ah pergi bekerja sebelum Hyo Eun bangun, ia teringat kata-kata Hyo Eun,

"Jadwal apa itu? Tidak bisakah ibu berkorban untukku? Kenapa harus aku yang berkorban? Kenapa kita harus pindah mengikuti jadwal ibu dan ayah?"


Do Woo berkata pada Seok kalau ia akan pergi ke sekitar Gyeonggi-do sampai hari ini, kemudian pergi ke selatan. Seok bertanya, siapa yang akan Do Woo kunjungi hari ini. DO Woo tidak tahu, ia tidak mengenali namanya.

"Biar kulihat. Mun Gyeong Deuk? Apa ada seseorang yang tidak kau ketahui?"

Do Woo melihat daftarnya dan orang itu hanya punya satu hasil karnya ibunya. Mereka berdua penasaran apa itu.


Do Woo menghentikan mobilnya di pinggir sawah. Ia menatap pesawat yang terbang di langit.


Soo Ah saat ini di bis menuju bandara, ia menerimapesan Do Woo.

"Hati-hati di jalan."

Soo Ah membalas kalau sekarang ia dalam perjalanan menuju ke bandara. Ia sudah sering kali melakukan ini, Tapi sekarang, ia tidak percaya ia terbang begitu jauh. Ia merasa sangat takut hari ini. Ia merasa akan terjadi sesuatu.

Tapi ia tak mengirimnya, ia hanya membalas, "Aku sedang dalam perjalanan menuju ke bandara, sampai jumpa lagi."

Narasi Do Woo : Jangan lupakan saat ini. Itu akan memberimu kekuatan selamanya.


Seok menemui orang yang merekrut Hye Won dulu, yang waktu itu di telfon Seok saat menanyakan berkas-berkasHye Won.

"Seandainya aku lebih cepat menelpon waktu aku terbang kemari, Aku mungkin bisa bertemu dengan Nyonya Go sekali lagi. Aku dengar berita kemarin." Kata orang itu.

Seok membalas kalau tidak ada seorang pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Orang itu hanya berkunjung singkat, ia sangat bingung saat di telfon Seok.

"Aku merekomendasikan Hye Won untuk pekerjaan sebelum aku pergi. Aku tidak tahu dia sudah menikah dan aku juga tidak tahu dia menikah dengn Do Woo. Aku menelpon guru yang mengenalkan aku padanya dan dia adalah murid dari temannya yaitu pria yang dulu tinggal bersama Hye Won."

Seok bertanya, apa maksudnya suami Hye Won. Orang itu bingung menjawabnya, bisa dibilang suami tapi juga tidak karena mereka tidak pernah menikah secara resmi hanya tinggal bersama saja.

"Aku rasa dia pembuat barang-barang tembikar."

Seok membenarkan. Lau orang itu menceritakan kalau Hye Won kemudian berpisah jadi tidak ada surat resmi.

"Dan Eun Woo?" tanya Seok.

"Siapa?"

"Anaknya."

"Oh, dia?"

Orang itu menjelaskan kalau ayahnya lah yang membesarkan Annie sendirian karena Hye Won langsung pergi setelah melahirkan. Hye WOn bahkan tidak tahu Annie.

Seok sangat terkejut mendengar kalau Hye Won tidak tahu tentang Annie.


Do Woo kembali ke tempat ayah Annie, disana ada banyak tembikar. Ia kembali disambut oleh orang yang sama seperti saat ia kesana terakhir kali.  
 

Mi Jin satu hotel dengan Ji Eun dan Hye Won. Mereka bertemu saat akan menggunakan lift. Tapi mata Hye Won tidak tertuju pada pintu lift melainkan pada Jin Suk.

(Hye Won tadi kan menguping jadi ia tahu  Jin Suk adalah suami Soo Ah. Suami Ibunya Hyo Eun yang berhubungan dengan suaminya).

Mi Jin menyadarai situasi ini, ia mengkode-kode Ji Eun  dan sepertinya Ji Eun juga paham dengan kode Mi Jin.

Jin Suk baru saja membaca pesan Soo Ah. Ia bingung mau menulis balasan apa, maka ia menulis

"Semua orang memiliki masalah." Lalu ia mendesah.


Pintu lift terbuka. Mi Jin menyilahkan Ji Eun dan Hye Won masuk duluan. Ji Eun lalu memaksa Hye Won untuk masuk. Tapi Hye Won masih tetap memandang Jin Suk tajam.

Mi Jin tidak ikut masuk ke dalam lift, ia bingung, dalam benaknya ada banyak pikiran,

"Apa yang harus kulakukan padamu, Soo Ah? Semua orang kecuali kau sudah tahu."


Soo Ah menerima pesan Jin Suk saat ia dalam bis.

"Hyo Eun selalu mengeluh. angan berpikir untuk membiarkannya berhenti sekolah lagi. Suruh dia berangkat."

Soo Ah lagi-lagi menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Kemudian Hyo Eun menelfon, Hyo Eun bangun tapi tidak ada siapapun di rumah, ia jadi takut. Soo Ah mengingatkan kalau ia ada penerbangan hari ini.


"Kalau begitu, apa aku sendirian?" Tanya Hyo Eun.

"Berapa kali ibu harus mengatakannya padamu? Apa kau mau bersama nenekmu di rumah sakit? Ada tempat tidur tambahan. Oh, benar. Hyo Eun~a.. Hyun Joo akan segera kesana."

Hyo Eun mengangguk lalu telfon diputus.


Soo Ah tidak tenang, ia meminta pak supir untuk menghentikan bis. Soo Ah turun dari bisa dan berjalan kembali ke rumah. 

"Aku lupa memberitahu Hyun Joo untuk membawa Hyo Eun Ke dokter dan membawa surat keterangan dokter. Aku lupa memberi bumbu kimbap, aku tidak memberitahu Hyo Eun. Aku tidak memasak nasi, atau membeli rumput laut kering. Apa aku melakukan hal yang benar?"


Soo Ah berhenti saat melihat ibu rumah tangga menjemur selimut di beranda. Ia teringat kata-kata Hyun Joo kalau menyaksikan pemandangan itu rasanya sangat menenangkan.

"Cuacanya sangat bagus hari ini. Saat aku melihat langit... Dan mulai bertanya-tanya... Kenapa aku hidup seperti orang gila."


Soo Ah lalu menghubungi kantor, ia rasa ia tidak bisa ikut penerbangan kali ini dan ia tahu konsekuensinya, ia akan menyerahkan surat pengunduran dirinya sesegera mungkin.

Soo Ah pun kalah... Ia kembali menatap ibu-bu yang menjemur selimut itu.


8 komentar

Semagat minn
D tunggu ep selanjut'a😁🙏

semakin bagus ceritanya yaa.seruu...makasih

Terima kasih sinopsis y..d tunggu kelanjutan y..😊😊

Ditunggu eps 9 & 10 nyaa yaaa mbak ..

Ditunggu eps 9 & 10 nyaa yaaa mbak ..

iyaa..ditunggu episode 9 dan 10 yaa..makasih...

belum aja miinnm, udah ngeces nih. kebalap nih besok udah rabu min eps 11... penasaran sooh ntr di jeju jd pramugari lg ya??

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon