Wednesday, November 30, 2016

Sinopsis Oh My Geum Bi Episode 3 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari KBS2

Sinopsis Oh My Geum Bi Episode 3 Part 1


Geum Bi menangisi Hwi Cheol yang terbaring di ranjang rumah sakit. Hwi Cheol membuka matanya, ia kesal kenapa Geum Bi menangis tengah malam begini?

"Jangan menangis. Nanti dikira orang aku sudah mau meninggal, loh."

"Kau akan mati memangnya?"

"Tentu saja aku akan mati."

Air mata Geum Bi malah semakin deras. Lalu Hwi Cheol melanjutkan, tentu ia akan mati tapi tidak sekarang, mungkin 50 tahun lagi, mungkin saja waktu itu umur Geum Bi sudah 60 tahun dan akan jadi nenek lampir tua. Barulah Geum Bi berhenti menangis, membuat Hwi Cheol bertanya, apa Geum Bi mau ia meninggal secepatnya?

Geum Bi tidak peduli Hwi Cheol mati atau hidup. Hwi Cheol tambah kesal, ternyata Geum Bi benar-benar tidak tahu berterima kasih. Tapi kemudian ia menanyakan kata dokter, apa Geum Bi terluka?

"Aku tidak meminta kau menyelamatkanku." Ujar Geum Bi.

Hwi Cheol membenarkan dan menyesali keputusannya yang telah menyelamatkan Geum Bi tadi. Ia harusnya meninggalkan Geum Bi saja. Dasar jelek!


Geum Bi membalas kesal kata-kata Hwi Cheol itu dengan menggoncang-goncangkan tubuh Hwi Cheol. Hwi Cheol berteriak minta Geum Bi untuk berhenti.


Selanjutnya perawat datang dan menyuruh Geum Bi berhenti. Perawat mengatakan kalau Hwi Cheol gegar otak ringan jadi tidak boleh banyak bergerak dan efeknya akan merasa mual, Hwi Cheol juga mengalami leher terkilir. 


"Astaga. Aku gegar dan leherku terkilir. Kau dengar tidak?" Ratap Hwi Cheol.

Geum Bi pikir ini bukan waktunya Hwi Cheol untuk marah. Tunggu saja, jika Hwi Cheol sembuh ia pasti akan membalas Geum Bi dengan mengikat Geum Bi di langit-langit dan..

Hwi Cheol terpaksa menghentikan bicaranya karena Kang Hee datang. Kang Hee menanyakan keadaan Hwi Cheol. Hwi Cheol tidak menjawabnya, ia bertanya pada Geum Bi, apa Geum Bi yang menelfon Kang Hee?

"Siapa lagi memangnya yang bisa kutelpon? Mana bisa aku menelpon teman-teman penipu-mu itu."

"Jaga bicaramu."

Kang Hee kembali bertanya, Sekarang Hwi Cheol mau bagaimana? Hwi Cheol menggerutu kalau Geum Bi yang membuatnya kecelakaan.


Kang Hee menjelaskan, Sekarang cuaca makin dingin. Apa yang akan Hwi Cheol lakukan dengan..

Hwi Cheol menyela dengan memarahi Geum Bi yang berani-beraninya melompat ke depan truk. Geum Bi membantah, ia tidak melompat kok. Truknya saja yang datang entah darimana.

Kang Hee mengatakan kalau Geum Bi butuh di CT scan. Geum Bi tak mengerti apa itu. Hwi Cheol menakut-nakuti kalau di CT scan itu akan sangat menyakitkan. Mendengar itu Geum Bi langsung menolaknya.


Hwi Cheol menemui dokter. Dokter menjelaskan hasil CT scan Geum Bi, mereka menemukan kalau hati dan limpa Geum Bi membengkak. Ada kemungkinan Geum Bi menderita gangguan metabolisme atau leukimia.

"Leukemia?"

Dokter membantahnya, mereka sudah melakukan CT scan dan tes darah, tampaknya Geum Bi baik-baik saja. Hwi Cheol pun akhirnya lega.

Tapi tetap harus dilakukan biopsi pada Geum Bi, walupun hasil CT dan tes darah menunjukkan kalau Geum Bi baik-baik saja tapi dokter cemas soal hati dan limpa Geum Bi yang membengkak.

"Aku tidak yakin soal limpanya, tapi gejala pembengkakan hati sudah terlihat." Jawab Hwi Cheol yang membuat dokter tertawa garing dengan candaan hwi Cheol itu.

Dokter menyodorkan surat persetujuan yang harus Hwi Cheol tanda tangani.


Geum Bi berlari menjauh saat perawat akan membawanya untuk di biosi dan ia bersembunyi di bilik toilet. Kang Hee mencoba membujuk Geum Bi untuk diperiksa tapi Geum Bi kekeh tidak mau.

Kang Hee membujuk kalau rasanya tidaka akan sakit. Geum Bi tahu kalau itu bohong. 

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ya, pokoknya tahu sajalah."

Lalu Kang Hee menjelaskan kalau ayah Geum Bi harus mengurus beberapa hal jadi dia mengajak Geum Bi untuk pulang ke rumahnya.


Geum Bi kemudian membuka pintunya, ia menggeleng. Ia ingin ikut tapi... Kang Hee mengerti dan ia hanya memeluk Geum Bi. 


Kang Hee bicara berdua dengan Hwi Cheol yang sepertinya menolak tawarannya. Apa harga diri Hwi Cheol begitu penting sampai tega membiarkan anaknya hidup di jalan?


"Harga diri? Aku sudah membuangnya sejak lama." Jawab Hwi Cheol.

"Jadi kenapa kau keras kepala sekali?"

Hwi Cheol juga ingin menanyakan pertanyaan yang sama. Kang Hee begitu keras kepala untuk menampung dua orang asing di rumahnya. Memangnya Kang Hee Bunda Teresa? Kalau Kang Hee mau menolong orang, masih banyak orang di luar sana yang tidak beruntung.

Kang Hee meminta Hwi Cheol untuk menatapnya tapi bagi Hwi Cheol itu tak penting. Tidak, itu penting, Kang Hee menyadari kalau Hwi Cheol belum melihatnya sejak kemarin.

"Lihat mataku."

"Aku hanya melihat wanita yang cantik."

"Jadi kenapa kau melukis wajah perempuan jelek?"


Hwi Cheol teringat gambarnya, tapi ia tidak menjawab apapun. ia memilih berdiri dan jalan menjauh sambil menggerutu. "Aku tidak pernah bilang kau jelek."


Gil Ho menjenguk Hwi Cheol dengan membawa jus, ia bertanya apa Chi Soo menghubungi Hwi Cheol lagi. Hwi Cheol tiba-tiba mual. Setelahmualnya reda,ia berkata kalau ia akan kabur malam ini.

"Sepertinya aku tidak bisa hidup di jalanan bersama seorang anak kecil. Sepertinya wanita itu (Kang Hee) akan menjaga anak itu sementara waktu. Aku tidak yakin sih anak itu akan lapor polisi atau tidak. Kalau dia lupa padaku, ya itu lebih baik."

Gil Ho menebak, wanita yang dimaksud Hwi Cheol pasti Kang Hee. Ia menyuruh Hwi Cheol untuk mendekati Kang Hee, jangan melarikan diri.

"Apa kau sedang berusaha mengkhianati kami.. karena kau sudah tergoda olehnya?"

Hwi Cheol kesal, apa ia pernah melakukan hal jahat hanya karena seorang wanita? Gil Ho balik membentaknya. Kalau begitu kembali saja ke rumah Kang Hee! Ambil kesempatan selagi bisa.

"Sialan. Aku kan cuma bilang. Aku tidak mau berurusan dengan dia." Alasan Hwi Cheol dan saat Gil Ho bertanya lebih jauh, Hwi Cheol malah membentaknya, ia tidak tahu, tidak mau ya tidak mau saja.

"Aku akan meninggalkan planet ini. Jangan cari aku lagi."


Malam harinya, Hwi Cheol mengintip koridor dari dalam kamarnya, setelah yakin tidak ada siapapun ia pun keluar dengan mencopot penyangga lehernya dan menyembunyikannya dibalik jaketnya.

Tapi tiba-tiba Geum Bi menarik tangannya. Hwi Cheol heran, kenapa Geum Bi belum tidur? Geum Bi menuntut Hwi Vheol, kemana Hwi Cheol mau pergi?

Hwi Cheol berbohong kalau ia tidak mau kemana-mana, hanya mencari udara segar. Geum Bi mengingatkan kalau perawat melarang Hwi Cheol banyak bergerak.

"Omong kosong. Kenapa juga aku tidak boleh bergerak? Masuk dan tidur sajalah."

Geum Bi tahu kalau Hwi Cheol akan melarikan diri, ia mengingatkan Hwi Cheol agar jangan sampai ketahuan. Hwi Cheol celingukan, takut ada yang mendengar, ia memastikan pada Geum Bi kalau ia tidak akan melarikan diri jadi Geum Bi balik tidur sana!

Geum Bi menyuruh Hwi Cheol untuk memasang penyangga lehernya kembali. Jangan sampai tertangkap! Ia akan berjaga di luar.

"Apa?"

"Jangan cemas. Aku tidak akan lapor polisi."

"Melaporkan apa?"

"Melaporkan kalau kau menelantarkanku. Kau akan kembali ke penjara kalau sampai mereka tahu."


Geum Bi kemudian membuka pintu tangga darurat, ia memastikan kalau tidak ada siapapun disana. Hwi Cheol tersentuh, ia menghampiri Geum Bi menegaskan kalau ia tidak akan melarikan diri.

"Sudah kubilang, aku tidak akan memberitahu mereka."

"Kau tidak pernah percaya padaku."

"Kalau aku lari, apa yang akan kau lakukan?"

Geum Bi sudah mencari tahu, dan sepertinya panti asuhan juga tidak buruk. Ia akan menepati janjinya.

Geum Bi berdoa saat Hwi Cheol tak sadarkan diri. Kalau Hwi Cheol sadar, ia akan pergi ke panti asuhan. Jadi Geum Bi menyuruh Hwi Cheol untuk segera pergi karena akan sangat memalukan jika Hwi Cheol tertangkap.

Geum Bi menarik Hwi Cheol untuk segera pergi tapi Hwi Cheol malah diam saja. Kenapa? bukannya Hwi Cheol sangat ingin mengirim Geum Bi ke panti asuhan?

Hwi Cheol bertanya apa Geum Bi pergi ke gereja, Geum Bi menggeleng. Ke kuil? Geum Bi juga menggeleng.

"Lupakan sajalah."

"Lupakan apanya?"

"Karena kau tidak punya agama, jadi doamu tidak masuk hitungan. Kau tidak perlu menepati janjimu."


Geum Bi memastikan kalau ia baik-baik saja. Jadi Hwi Cheol berhentilah bersikap sok baik.

Hwi Cheol memasang kembali penyangga lehernya sambil menyuruh Geum Bi untuk menelfon Kang Hee karena Geum Bi bilang mau tinggal di rumah Kang Hee.

"Aku kan sudah bilang tidak akan pergi. Kau harusnya lari selagi kau punya kesempatan."

"Kau yakin? Kalau begitu jangan pergi. Aku yang akan pergi sendiri." 


Hwi Cheol kembali ke kamarnya dan Geum Bi dapat tersenyum. Lalu Geum Bi berjalan di samping Hwi Cheol saling bercanda.

Hwi Cheol memberitahu kalau Geum Bi suka begadang nanti tidak tumbuh tinggi. Geum Bi menuntut, memangnya apa pentingnya jadi tinggi.

"Kau tidak tahu apa-apa. Hal yang suka dilakukan oleh orang pendek.. misalnya mengantri di ruang darurat. Itu cuma candaan... Astaga, kemana selera humormu?"


Kang Hee menunjukkan kamar untuk Geum Bi, disana ada ranjang untuk anak-anak. Geum Bi heran, kang Hee ingin menjelaskan, dulu...

"ini ranjangmu, ya?" potong Geum Bi.

Dan Geum Bi membaringkan diri di ranjangnya dengan antusias.


Sementara itu Hwi Cheol juga mendapat kamarnya sendiri, ia mengamati setiap sudut kamarnya.


Mereka bertiga duduk di depan pintu rumah dan Geum Bi mengantuk, hingga akhirnya ia roboh ke pangkuan Kang Hee.

Kang Hee iri pada Hwi Cheol yang memiliki putri semanis Geum Bi. Kang Hee tidak tahu sih, kalau Geum Bi nakal rasanya Hwi Cheol ingin membuangnya saja.

"Karena itu kau melompat ke depan truk dengannya?"

Hwi Cheol beralasan kalau itu hanya kecerobohan saja. Ia bahkan tidak ingat lagi kejadiannya. Jujur saja, Kang Hee juga curiga pada Hwi Cheol, ia pikir Hwi Cheol adalah salah satu dari penipu itu.

"Tapi saat aku melihat kau dengannya, Aku tahu. Aku tahu kau adalah pria baik. Walaupun kau melakukan kesalahan, itu pasti karena terpaksa."

Hwi Cheol membantah kalau Kang Hee tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Kang Hee kaget, kalau begitu Hwi Cheol benar-benar salah satu dari penipu itu dong?

"Ya."

Tapi Kang Hee malah menganggap itu keren, karena ia hanya seseorang yang ingin jadi seperti Bunda Teresa.

"Kau punya dendam, ya?"

"Maafkan aku."

"Tidak usah minta maaf."

"Karena aku jelek."


Hwi Cheol memintanya berhenti, lupakan soal itu. Kang Hee begitu karena Hwi Cheol tidak mau menatap matanya.

"Begitulah biasanya kalau seseorang merasa bersalah. Mereka tidak akan bisa melihat mata orang yang sudah mereka sakiti."

"Seberapa besar sebenarnya rasa bersalahmu?"

"Kejahatanku sudah membuat hidupku sia-sia."

Kang Hee mengenal dialog itu, itu adalah dialog film. Hwi Cheol malu, ia pikir Kang Hee tidak menyadarinya karena itu film lama.

"Memangnya kenapa kalau membuang-buang sebagian hidupmu? Kau kan bisa memulai lagi semuanya dari awal."


Hwi Cheol akhirnya menatap Kang Hee tapi ia malah mual-mual. Kang Hee menepuk-nepuk punggung Hwi Cheol untuk membuatnya merasa baikan.

"Apa aku segitu jeleknya? Apa sampai membuatmu ingin muntah?"


Hwi Cheol menjelaskan kalau bukan itu penyebabnya ia muntah, tapi ia terus muntah-muntah. Geum Bi yang tertidur tersenyum mendengar mereka.


Di sekolah, Ibu guru memutarkan video terbentuknya bayi, Ketika sperma bertemu dengan sel telur, bayi akan terbentuk dalam perut ibu. Ketika Ibu dan Ayah saling jatuh cinta, sperma bertemu dengan sel telur, dan menghasilkan bayi. Saat bayi tumbuh besar, mereka akan tumbuh jadi anak-anak yang cantik seperti anak-anak sekalian.

"Apa kalian bisa melihat bagaimana berharganya setiap orang di dunia?"

Anak-anak serempak menjawab, "Iya..."


Hwi Cheol membersihkan seluruh isi rumah, kamar Geum Bi juga dan ia menaiki kuda-kudaan yang ada di sana. Ia melihat ke tiang di sebelahnya, disana ada catatan tinggi seorang anak hingga berusia 7 tahun. Namanya Jun Hee.


Hwi Cheol juga membersihkan halaman dan melihat ada sepeda anak-anak di sana. Hwi Cheol mengecek keadaan sepeda itu. Lalu ia teringat Gil Ho.

Gil Ho menjelaskan kalau Kang Hee pernah memiliki anak perempuan.

Lamunannya buyar karena telfon dari Jae Gyung.


Hwi Cheol menyusul Jae Gyung dan Gil Ho di taman bermain. Hwi Cheol heran, Kang Hee kan bukan target mereka satu-satunya tapi Kenapa Gil Ho mencoba mengambil dari sesuatu yang salah?

Prinsip Gil Ho itu mencoba terus hingga benar-benar gagal baru berhenti.

"Di mana rasa kemanusiaanmu? Apa kau benar-benar ingin jadi manusia rendahan?"

Jae Gyung mengingatkan, jangan ngaco deh. Kalau mereka bukan manusia rendahan, lalu apa?


Gil Ho menjelaskan, Penipu terbaik adalah penipu yang membuat korban tidak sadar tentang penipuannya sampai akhir. Penipu bodoh akan ketahuan oleh korban setelah penipuannya berakhir. Ketahuan sebelum penipuannya selesai adalah penipuan yang paling buruk.

Kalau begitu Gil Ho penipu yang paling buruk Dong. Gil Ho membenarkan, ia ketahuan dan itu karen Hwi Cheol.

Hwi Cheol jelas tidak mau disalahkan. Gil Ho dan Jae Gyung sengaja mengaku supaya Hwi Cheol bisa tetap bekerja sama dengan kang Hee. Dan ini cara Hwi Cheol membalasnya?


"Kau begini.. karena kau jatuh cinta dengan perempuan itu?" Tuntut Jae Gyung.

Gil Ho menyadarkan Hwi Cheol, ingatlah berapa banyak hal yang mereka korbankan untuk ini. Kalau berhasil, mereka tidak perlu hidup seperti ini lagi.

"Para pria, berambisilah." Kita harus lebih ambisius. Bisa kita lebih ambisius lagi?"

Hwi Cheol mengerti, ia sedang mencoba. Kemudian Gil Ho menunjukkan replika keramik kesayangan Kang Hee, ia menyuruh Hwi Cheol untuk menukarnya.

Hwi Cheol pikir mereka akan akan mengambil semua yang Kang Hee punya. Gil Ho menjelaskan kalau mereka harus menemukan cara baru setelah kejadian waktu itu. dibutuhkan uang untuk langkah selanjutnya.

"Baiklah. Akan kuganti kalau aku punya kesempatan."

Jae Gyung tidak setuju, ia menyuruh mereka berdua untuk berdiri sekarang dan mengikutinya.


Jae Gyung ternyata mengajak mereka untuk masuk ke rumah Kang Hee. Hwi Cheol mencoba menghentikan Jae Gyung, apa Jae Gyung harus melakukan ini?

"Ya. Tentu." Jawab Jae Gyung tegas.

"Jae Gyung punya cara menyelesaikan semuanya." Imbuh Gil Ho.

Jae Gyung menyuruh Hwi Cheol untuk segera menggantinya dan Hwi Cheol melakukannya terpaksa. Saat Jae Gyung meminta keramik yang asli dari Hwi Cheol tiba-tiba Kang Hee pulang. Hwi Cheol lalu mencorong keduanya untuk segera bersembunyi dan ia menyembunyikan keramik itu di balik jaketnya.


"Kau pulang cepat."

"Aku segera pulang begitu pekerjaanku selesai."

"Kau bolos, ya?"

"Kenapa? Orang jelek memangnya tidak boleh bolos kerja?"

"Tentu saja boleh. Dan aku tidak bilang kau jelek."

Jae Kyung dan Gil Ho ngumpet di balik sofa. Jae Kyung menggerutui Hwi Cheol yang bersikap bodoh. Gil Ho membisikinya untuk diam.


Kang Hee mengajak Hwi Cheol makan malam bersama Geum Bi juga nanti. Hwi Cheol mengiyakan sambil lirik-lirik ke arah Gil Ho dan Jae Gyung.

Kang Hee akan berjalan ke dalam tapi ia terhenti saat melihat keramik kesayangannya. Kang Hee mengambilnya dan memperhatikannya membuat Hwi Cheol dan rekan-rekannya ketar-ketir.

Kang Hee kemudian meletakkan keramik itu lagi, itu adalah hadiah ulangtahun dari ayahnya. Waktu itu musim semi, di hari ulang tahunnya yang ke-15.

"Begitu, ya. Kau pasti sangat menyukai.. ini sejak kau masih kecil."

Tapi sebenarnya keramik itu bukan milik Kang Hee melainkan milik orang lain. Hwi Cheol bertanya, orang lain? dan itu membuat Kang Hee memandangnya.

Ia menyinggung mengenai sepeda anak yang dilihatnya di gudang.

"Sudah sangat tua, kan?"

Kang Hee menyinggung kalau mereka sepertinya sudah semakin dekat. Hwi Cheol membenarkan.

"Tapi kita tidak cukup dekat.. untuk saling berbagi soal kesulitan hidup kita."

"Ya, aku setuju."

Kang Hee heran kenapa Hwi Cheol dan Geum Bi bisa punya marga berbeda. Tapi ia tidak akan tanya, kok.Hwi Cheol bisa memberitahunya kalau waktunya sudah tepat. Kang Hee kemudian berjalan menuju kamarnya.

"Kalau kau tidak mau membuangnya, keluarkan dan perbaiki lagi saja. Aku tahu aku tidak seharusnya bicara begini, tapi kurasa itu akan mengurangi sakitnya. Kalau tidak, itu akan terus menyakitimu."

Kang Hee mengangguk dan melanjutkan jalannya.


Setelah Kang Hee tidak ada, Jae Gyung muncul dan langsung meminta keramik asli yang disembunyikan Hwi Cheol.

Hwi Cheol mengeluarkannya lalu Jae Gyung merebutnya dan segera keluar dari rumah menyusul Gil Ho.


Kang Hee mengajak Geum Bi dan Hwi Cheol makan daging. Geum Bi memakannya dengan lahap. Geum Bi berkata kalau ia belajar bagaimana bayi bisa terbentuk hari ini.

Hwi Cheol kaget, kelas berapa sih Geum Bi memangnya. Geum Bi menjawab ketus, kelas 3, masa gak tahu sih!

Kang Hee selanjutnya bertanya, jadi bagaimana bayi bisa terbentuk?

"Aku melihat gambar deskripsinya, tapi aku tidak yakin sih. Aneh sekali sebenarnya. Kupikir bayi tidak akan lahir hanya karena pegangan tangan saja."

Geum Bi beralih pada Hwi Cheol, bagaimana ia bisa lahir. Hwi Cheol melirik Kang Hee sebelum menjawab.


"Kenapa kau tanya? Kau kan terlahir jelek."

Kang Hee menengahi, ia akan menjelaskan semuanya pada Geum Bi saat tiba di rumah nanti. Hwi Cheol berkata kalau Geum Bi akan tahu kalau sudah dewasa nanti.

"Bagaimana kalau aku tidak bisa dewasa?"

"Anak pemarah biasanya akan punya anak di usia muda. Jangan begitu, ya?"

"Kau bicara apa sih?"

Tanpa mereka sadari Chi Soo memperhatikan mereka dari meja sebelah.


Hwi Cheol membeli alat-alat untuk memperbaiki sepeda. Saat itu tiba-tiba pnselnya berbunyi dari Gil Ho (Chi Soo yang menelfon). 

Hwi Cheol mengangkatnya.


Gil Ho menemui pak antik dengan membawa keramik kesayangan Kang Hee tapi ternyata keramiknya palsu. Gil Ho geram, Hwi Cheol sudah menipunya.


Kang Hee mengantar Geum Bi ke sekolah dan Hwi Cheol mengantar mereka sampai depan gerbang. Saat keduanya berjalan, Chi Soo lewat, membuat Hwi Cheol tegang.


Hwi Cheol langsung menyudutkan Chi Soo saat Kang Hee dan Geum Bimenjauh. Chi Soo melihat kalau Hwi Cheol berubah jadi pengecut, dulu Hwi Cheol tidak begitu.

Hwi Cheol beralasan kalau ini sudah 15 tahun. Bukankah itu sudah cukup? Chi Soo masih santai, Hwi Cheol pasti mengerti dirinya, Hwi Cheol tidak akan bisa meninggalkannya sampai mati.

"Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu." Geram Hwi Cheol.

"Kau takut. Ada apa? Kau bilang kau tidak peduli kau hidup atau mati."

"Ya. Aku tidak peduli mau hidup atau mati."

"Benarkah?"


Gantian Chi Soo yang memelintir Hwi Cheol, ia dengar Hwi Cheol merencanakan sesuatu bersama Gil Ho. Selesaikan semuanya dalam seminggu dan serahkan padanya!

Chi Soo lalu membanting Hwi Cheol, ia menitipkan ponsel Gil Ho pada Hwi Cheol dan pergi dari sana.


Hwi Cheol dimarahi Gil Ho karena tidak menukar keramik Kang Hee. Hwi Cheol tidak menganggapi kemarahan Gil Ho, ia mengeluarkan ponsel Gil Ho dan memberikannya.

Hwi Cheol meminta Gil Ho untuk menjauh sementara waktu. Sementara ia akan tetap waspada dan mengawasi semuanya.


Hwi Cheol melipat seekor katak dengan kertas, ia penuh pikiran dan ia melihat Kang Hee sedang memasak.


Geum Bi menghampirinya dan memainkan katak lipatan Hwi Cheol. Hwi Cheol mengijinkan Geum Bi untuk menyimpannya jika ingin. Geum Bi tentu saja senang mendengarnya.

"Aku harap kau tahu kalau kita tidak bisa tinggal di sini selamanya."

Geum Bi tahu, tapi mereka kan bisa tinggal di mobil, mereka juga punya tenda tahan air.

"Sebentar lagi musim dingin akan tiba. Kau tahu kita tidak bisa melakukannya."

Jadi? Apa sekarang tentang panti asuhan lagi. Hwi cheol menawari, bagaimana kalau ia menemukan bibi Geum Bi. Geum Bi tidak membutuhkan itu, ia kesal dan kembali ke kamarnya meninggalkan katak lipatan hwi Cheol.


Subuh, hwi Cheol meninggalkan rumah Kang Hee dengan membawa tas gede.


Kang Hee melihat sepeda Jun Hee yang sudah diperbaiki Hwi Cheol. Geum Bi muncul lalu bertanya, sepeda siapa itu.


kang Hee tidak menjawabnya, ia malah menengok ke arah rumah. Geum Bi menyadari sesuatu dan langsung berlari ke kamar hwi Cheol dan mendapati kamar Hwi Cheol kosong.


Geum Bi kembali ke ruang tamu, ia menatap Kang Hee sedih lalu beralih menatap katak lipat hwi Cheol yang masih di meja, dimana ia meninggalkannya semalam.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...