Thursday, November 10, 2016

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 13 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari KBS2

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 13  Part 1

Soo Ah berkata kalau ia merindukan Do Woo saat Do Woo menjemputnya tapi Do Woo tidak mendengarnya karena masih ada di seberang. Do Woo akhirnya membawa Soo Ah berkendaran dengan Soo Ah duduk di bak belakang.

“Sejak hari itu, aku mengitari tempat yang sama dan mengatakan hal-hal yang sama. Apa yang akan terjadi kepada kita sekarang? Mari kita lihat bersama.”


Do Woo menghentikan mobilnya di pinggir laut. Ia membuka tutup bak mobil dan menyuruh Soo Ah untuk duduk di tepi. Mereka berpandangan.

“Apa aku sudah memberitahumu ini? Senang bertemu denganmu, Seo Do Woo-ssi.”

Do Woo akan mensyukuri ucapan Soo Ah itu. Lalu ia menggenggam kedua tangan Soo Ah “Senang berjumpa denganmu. Choi Soo Ah-ssi.”



Soo Ah menjemput Hyo Eun. Hyo Eun membawa bunga Lizzie sebagai hadiah untuk melakukan pekerjaan rumah hari ini. Hyo Eun tiba-tiba menyebut “Annie Unnie.”

Soo Ah terkejut, apa lagi ada Do Woo di mobil. Ternyata Hyo Eun Cuma mau menamai bunga itu “Annie Unnie” tapi Soo Ah menyarankan untuk memanggilnya Lizzie saja dan Hyo Eun setuju.


Setelah Hyo Eun tertidur, Soo Ah menatao ke luar lalu buru-buru ke luar. DI luar sudah ada DO Woo dengan sepedanya. Do Woo meminta Soo Ah untuk datang besok pagi. Soo Ah mengangguk dan Do Woo mengayuh sepedanya pulang.


Do Woo menunggu Soo Ah dengan cemas, bahkan ia sudah menyiapkan air mendidih dan beberapa bunga (untuk diseduh menjadi teh). Ia tidak sabar dan memutuskan untuk ke rumah Soo Ah tapi ternyata Soo Ah tidak di rumah.


Dimana Soo Ah? Soo Ah masih mengantar Hyo Eun ke halte. Dan beberapa saat kemudian ia baru datang ke rumah Do Woo dimana Do Woo sudah menunggunya setelah dari ruamahnya tadi.


Soo Ah masuk ke rumah Do Woo dan melihat semua karya Nyonya Go terpajang disana. Soo AH teringat pertemuan terakhirnya dengan Nyonya Go.

“Sebelum seseorang meninggal , Mereka melakukan sesuatu yang istimewa untuk orang yang disayangi Karena mereka menghargai orang itu.”


Soo Ah selanjutnya membaca surat wasiat Nyonya Go dan ia tersenyum saat membaca namanya tertulis dibaris terakhir (Pesan disampaikan oleh Choi Soo Ah)

“aku bersamamu ... Pada waktu dan tempat seperti ini. aku tidak percaya itu.” Ujar Do Woo.

Soo Ah merasa kalau ini tidak nyata. apa ini rasanya jika  bertemu di Mars?  Untuk pertama kalinya dalam hidup Soo Ah, ia bertemu seseorang yang ia rindukan.  Ia tidak berpikir ada yang lebih baik daripada ini.

“pastinya ada.” Jawab Do Woo.


Do Woo memiliki satu pertanyaan mengenai pesan Soo Ah. Soo Ah sepertinya tahu apa yang akan ditanyakan Do Woo.

“apa suamimu masih bertemu Mi Jin?”

Soo Ah menjelaskan kalau itu hanya salah paham.  Mereka hanya teman sekarang. Mereka hanya tetangga yang makan bersama-sama.  Hanya... Tetangga.


Kemudian Soo Ah mengalihkan pembicaraan, bagaimana Do Woo bisa menemukan tempat yang sangat mirip dengan surat wasiat Nyonya Go. Dan ia bertanya, apa Do Woo disana tinggal sendirian?

“Kau pasti memiliki banyak pertanyaan. Jika kau sangat merindukanku, Bagaimana kau bisa menahan diri? aku selalu menghubungi tepian Sungai Han.

“Kalau begitu... aku akan mengajukan pertanyaan. Kau di sini sendiri?”

Do Woo akan memberitahu Soo Ah lusa. Ia pasti akan memberitahu Soo Ah lusa.  Kemudian Do Woo mendapat telfon. Setelah menutup telfon Do Woo mengajak Soo Ah bergegas.


Meja pesanan Soo Ah sudah jadi dan sekarang diantar ke rumah.  Soo Ah tampak suka dengan meja itu. Do Woo menyuruh temannya pergi duluan, sementara ia akan melihat seluruh isi rumah untuk mencari tahu apa yang Soo Ah butuhkan lagi.


Do Woo ingin melihat kamar Soo Ah tapi Soo Ah tidak mengijinkannya. Soo Ah berusaha menutupnya tapi kesulitan. Do Woo bertanya, apa pintunya macet. Soo Ah menjawab kalau ia sudah menulisnya di pesannya.


Soo Ah bersiap untuk pergi ke Bandara. Do Woo bertanya, kenapa waktu itu Soo Ah menagis tersedu, sejujurnya itu mengganggunya hingga saat ini.

"Kupikir, aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Jawab Soo Ah.

Do Woo mamastikan, apa yang bersama Soo Ah waktu itu adalah suami Soo Ah. Soo Ah lega kalau Do Woo hanya melihat suaminya sekilas, ia malah berharap kalau Do Woo tidak melihat suaminya.


Do Woo dan Soo Ah keluar dari gerbang rumah. Do Woo menyuruh Soo Ah menebak apa yang berubah saat pulang dari Bandara nanti.

"Apa yang akan kau lakukan untukku?"

"Sesuatu yang ingin kulakukan untukmu."

Soo Ah pun pergi. Lalu ia berbalik karena Do Woo masih berdiri di tempatnya. Do Woo langsung bisa tahu kalau Soo Ah dibesarkan di Jeju karena saat ini Soo Ah bisa beradaptasi dengan baik.

"Kata 'pelengkap' digunakan dalam desain. Artinya sesuatu yang lebih kuat dan disekitarnya saling melengkapi dalam keseimbangan yang sempurna. Kamu dan tempat ini saling melengkapi. Tampaknya kalian berdua saling membutuhkan. Kamu membutuhkan tempat ini dan tempat ini membutuhkanmu. Sangat melengkapi.”

Do Woo akan menjemput Soo Ah di Bandara nanti. Soo Ah ijin untuk mengajukan satu pertanyaan yang kekanak-kanakan. Do Woo mengangguk, ia akan maju untuk mendengarkan tapi Soo Ah melarangnya karan pertanyaannya akan terlalu memalukan.

"Bagimu, apa..." Soo Ah terhenti, ia teringat jawaban Jin Suk waktu itu, Jin Suk melarangnya menanyakan pertanyaan kekanakan. 

"Apa artiku bagimu?" Lanjut Soo Ah.

Do Woo balik bertanya, apa Soo Ah mau ia menjawabnya sekarang?

"Kamu memiliki jawabannya?"

"Tentu saja. Aku bisa menjawabnya kapan saja. Tanyakan itu kepadaku lagi saat kamu murung atau saat kamu sangat sedih. Jawabanku akan langsung menghiburmu."

Mendengar itu, Soo Ah merasa sudah mendengar jawaban Do Woo dan ia bisa berangkat ke Bandara dengan senyum.


Soo Ah mampir ke sekolah Hyo Eun dulu sebelum ke Bandara. Ia tahu kalau Hyo Eun tidak mau berbohong pada ayahnya.

"Ibu salah. Saat kamu sudah dewasa pun, jangan memaksakan dirimu untuk berbohong. Jangan hidup dalam kegelisahan. Sesuatu yang buruk tetap buruk."

Soo Ah yang melakukan kesalahan ini, jadi ia yang akan mengurus ini. Ia akan menceritakan semuanya kepada Jin Suk.

Hyo Eun menebak kemungkinan terburuknya mungkin mereka akan dipaksa kembali ke Seoul. Soo Ah lebih senang Hyo Eun hidup tanpa rasa gelisah.

"Kapan Ibu akan memberi tahu Ayah?"

"Setelah penerbangan Ayah. Jangan khawatir."


Do Woo menelfon Hye Won, mengabari kalau ia akan datang besok.

"Kamu pasti tergesa-gesa. Aku akan memastikan waktunya dan meneleponmu kembali." Jawab Hye Won

Hye Won kelihatan syok setelah menutup telfon. Lalu Ji Eun datang karena Hye Won memintanya datang. Hye Won ingin menunjukkan sesuatu pada Ji Eun. Hye Won menunjukkan seluk beluk rumah tua. 


"Sebagian besar seniman yang akan kamu temui mengingat hal-hal seperti ini. Saat kamu tidak memiliki topik obrolan, kamu bisa menyebutkan tempat ini. Itu akan memudahkan kalian berbicara."

Hye Won memberi Ji Eun buku daftar seniman yang ia kumpulkan. Ji Eun akan membutuhkan itu untuk membujuk para seniman.

"Buku ini berisi daftar tentang mereka. Ada beberapa tanggal ulang tahun dan sejumlah catatan. Sebagian besar dari mereka tidak peduli tentang material. Kamu harus sering mengunjungi mereka setiap ada kesempatan. Kamu juga bisa mengomeli mereka. Tapi jangan terlalu menyebalkan. Omeli tentang kesehatan mereka. Mereka senang mendengar hal-hal seperti itu. Terserah kamu bagaimana cara melakukannya."

Ji Eun membuka-buka buku Hye Won dan disana tertulis lengkap hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghadapi para seniman.

Hye Won menasehati kalau Ji Eun menyukainya maka Ji Eun pasti bisa menghadapi para seniman itu.

"Ini membutuhkan komitmen. Jika sudah bisa memercayai Kyung Sook, bawa dia bersamamu."

Ji Eun bertanya, apa dengan ini berarti Hye Won mempercayainya. Hye Won pecaya karena Ji Eun temannya Do Woo.

"Dia pandai dengan menikahimu." Ujar Ji Eun dan ia memastikan agar Hye Won bekerja kembali dengannya jika kembali nanti.

"Aku tidak menghakimi orang. Lagi pula aku temannya Doh Woo. Aku hanya peduli dengan kepribadian seseorang."

Tiba-tiba Hye WOn mendapat pesan dari Nyonya Hong yang memintanya untuk datang.


Do WOo memperbaiki pintu kamar Soo Ah, juga membelikan kasur untuk Soo Ah.


Nyonya Hong mencaritahu sendiri karena Hye Won dan Do Woo memperlama masalah perceraian mereka.

"Tindakanmu salah. Kenapa mengatakan kamu membesarkannya? Eun Hee, Doh Woo, dan aku. Kamu membohongi kami semua."

Nyonya Hong sampai tidak bisa tidur saat mengetahuinya semalam, wajah Nyonya Go terus terbayang di benaknya. Ia berpikir untuk membatalkan janjinya kepada Hye Won, tapi Do Woo akan berkata, "Tidak ada yang bisa dilakukan." "Mungkin dia tidak sengaja melakukannya."

Hye Won minta maaf karena telah berbohong pada Nyonya Hong. Nyonya Hong berkata kalau tidak ada gunanya meminta maaf pada dirinya karena Nyonya Go dan Annie tidak bisa mendengar.

"Kini hanya Do Woo yang tersisa. Mari kita akhiri di sini. Akhiri hubunganmu dengannya. Jika tidak, aku tidak akan diam saja."

Hye Won sudah mendapatkan surat cerai, ia lalu berangkat ke Jeju hari itu juga.


Nyonya Kim membawa masuk beberapa surat yang ditujukan ke rumahnya. Ia lalu membaca satu surat, itu dari Hyo Eun.

"Nenek, aku harus menulis surat kepada seseorang yang tinggal di Korea daratan. Aku merindukan Nenek. Sepertinya aku mulai menyukai Nenek."

Nyonya Kim tertawa saat membacanya karena Hyo Eun melakukan salah eja. Lalu ia melihat nama sekolah Hyo Eun yang ditulis di amplop.


Nyonya Kim langsung menelfon Soo Ah. Soo Ah jujur kalau Hyo Eun tidak belajar di sekolah internasional, hanya belajar di SD lokal.

"Kamu membohongi aku?"

Soo Ah beralasan kalau Nyonya Kim pasti tahu penderitaan Hyo Eun di Selandia Baru. Keadaannya lebih baik setelah mereka tinggal di Jeju. Hyo Eun bahagia dan sehat kembali.

"Kalian berdua kini sudah berpisah?"

"Tidak. Belum."

"Belum"? Kamu bergurau, bukan? Hubungan kalian berdua tidak pernah baik. Seharusnya aku sudah bisa menduganya."

Soo Ah berjanji akan memberi tahu Jin Seok tentang sekolah Hyo Eun. Nyonya Kim membenarkan, tentu saja Soo Ah yang harus melakukannya, ia tidak akan mencampuri urusan mereka.

"Tapi tetap saja, Soo Ah. Ini tidak benar. Ibu tahu hubungan kalian buruk, tapi berbohong tetap salah. Setidaknya bertengkarlah dan selesaikan masalahnya. Keberadaanmu di sana tidak akan mewujudkan apa pun. Seharusnya sejak awal Ibu tidak perlu tertarik dengan urusan kalian."

Soo Ah minta maaf, tapi ini masalahnya dengan Jin Suk. Seperti yang Nyonya Kim ketahui, Jin Suk itu...

Nyonya Kim memotong Soo AH untuk berhenti, Soo Ah tidak memiliki niat untuk konsultasi dengannya, kan?

"Soo Ah, Ibu menyukaimu, tapi ini tidak benar."

"Tapi hanya Ibu yang mengetahui semua masalahnya secara terperinci."

"Jangan. Ibu tidak mau mendengarnya. Ibu mempunyai masalah sendiri tentang pengembangan ini. Benar. Ibu akan mengurusi masalah Ibu sendiri dan kamu harus mengurus masalahmu."

Nyonya Kim lalu memutus telfon.


Jae AH kembali ke rumah Mi Jin, ia curhat kalau ia ada masalah di pekerjaannya. Mi Jin menebak, apa Jae Ah keluar dari pekerjaannya?

"Tidak. Kurasa kini aku sudah dewasa. Aku bisa menghadapinya."

"Kamu tidak tahu betapa bangganya aku kepadamu."

Mi Jin hanya bisa menyiapkan makanan sederhana untuk Jae Ah karena sebentar lagi ia harus terbang. Jae Ah bertanya, apa kakak iparnya juga?

"Keluarlah." Bentak Mi Jin.

Jae Ah tidak mau, ia akan pergi setelah makan. Dan ia duduk di menja makan. Jae Ah tahu, pasti Mi Jin belum minta maaf pada Soo Ah, kan?

"Kenapa semua orang menyuruhku melakukan itu? Kenapa aku harus meminta maaf? Berikan alasannya kepadaku." teriak Mi Jin.

"Benar. Kamu hanya dibutakan cinta."

Mi Jin mengambil mangkuk nasi Jae Ah.

"Pertemuanmu dengannya beberapa kali bukan masalah besar." lanjut ae AH dan Mi Jin mengembalikan mangkuknya.

Tapi tetap saja Jae Ah penasaran. Kenapa Jin Suk menikahi teman dari mantannya? Kenapa Soo Ah menerimanya? Ia bisa membayangkan Jin Suk melakukan hal itu, tapi Mi Jin bisa memberitahu Soo Ah. Mi Jin adalah sahabat Soo Ah.

"Kamu tahu betapa naifnya Noona-ku. Jika kamu menceritakan kebenarannya kepadanya, mungkin dia akan tetap menikahinya."



Soo Ah keluar dari ruangan staff dan Kevin menghampirinya. Kevin ternyata sedang bicara di telfon dengan Mi Jin dan Mi Jin memintanya untuk memberikan telfonnya pada Soo Ah.

Soo AH menerima telfon itu. Mi Jin mengatakan kalau Kevin tidak tahu apa-apa jadi Soo Ah jangan bilang apa-apa.

"Apa yang akan kamu lakukan di sana? Aku tahu Doh Woo juga ada di sana." Tanya Mi Jin.

Soo Ah tidak menjawabnya, ia malah mengembalikan telfonnya pada Kevin. Mi Jin meminta Kevin untuk memberikan telfonnya kembali pada Soo Ah.


Do Woo sampai di bandara. Kevin memaksa Soo Ah untukbicara dengan Mi Jin, jika tidak, ia tidak akan membiarkan Soo Ah pergi.

Soo Ah pun menjawabnya dan Kevin menjauh. DO Woo yang berada tak jauh dari sana mendengar percakapan Soo Ah di telfon. Kevin juga mendengarnya.

Soo Ah mulai dengan, darimana Mi Jin mendengar tentang Do Woo. Mi Jin menjawab kalau ia mendengar banyak hal, lucu, kan?

"Ya, sama seperti aku mendengar hubunganmu dengan Jin Seok. kamu benar. Tidak ada rahasia di dunia ini." Jawab Soo Ah.


"Kudengar Doh Woo ada di Pulau Jeju. Kamu bertemu dengannya? Apa yang kamu lakukan? Ada apa di antara kalian berdua?"

Soo Ah akan mengajukan pertanyaan yang sama. Mi Jin meminta Soo Ah untuk mendengarkannya baik-baik. Malam itu, ia dan Jin Suk hanya mengobrol semalaman. Tidak ada apa-apa. Ia mohon agar Soo Ah percaya padanya.

"Ada satu hal dalam hati nuraniku. Saat Jin Seok memintaku untuk mengikuti kata hatiku, aku berpikir untuk membiarkannya menjadi bagian dalam hidupku. Maafkan aku soal itu. Kamu tahu kenapa? Itu karena aku malu kepada diriku sendiri. Aku tidak bisa berteman dengan pria yang meninggalkanku untuk temanku. Aku menyedihkan dan aku tahu itu. Kamu puas?"

Soo Ah mengiyakan dan akan memutus telfon. Mi Jin tiba-tiba minta maaf. Soo Ah terkejut, kenapa memangnya. Mi Jin menjawab kalau semua orang ingin ia meminta maaf, engan kata lain, sudah waktunya juga bagi Soo Ah untuk meminta maaf. Mungkin Soo Ah harus meminta maaf kepada lebih banyak orang.

"Aku akan meminta maaf. Berikan daftarnya kepadaku." Jawab Soo Ah.

Mi Jin mengerti, tapi ia minta nomor ponsel Soo Ah terlebih dahulu, lalu ia akan mengirimkan daftarnya.

Soo Ah bertanya, kenapa Mi Jin tidak mencegahnya untuk menikah dengan Jin Suk.

"Itu tiba-tiba sekali. Fokuslah. Jika kamu ketahuan, Jin Suk akan membunuhmu. Seharusnya kamu bercerai terlebih dahulu."


"Kenapa kamu tidak mencegahku menikah seperti ini? Seharusnya kamu menghentikanku. Seharusnya kamu bilang bahwa dia tidak bisa membina keluarga. Bahwa dia akan membenciku karena bernapas dan berjalan. Sama seperti dia memacariku saat dia berpacaran denganmu, bahwa dia akan selalu berselingkuh. Bahwa aku tidak akan menjadi bagian dari hidupnya. Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Soo Ah meluapkan emosinya saat mengatakan itu.

Mi Jin bertanya, apa jika ia menghentikannya Soo Ah akan mendengarkan?

"Ya. Jadi, semua ini adalah salahmu."

Mi Jin tertawa, ia yakin kalau Soo Ah tidak akan mendengarkannya karena Soo Ah sangat mencintai Do WOo.

"Kamu tidak hidup dengan damai di sana, bukan? Kamu pasti bingung memilih. Apakah hidupmu bahagia atau tidak? Setidaknya beri tahu aku itu. Aku mengkhawatirkanmu. Beri tahu aku alasanmu pergi ke sana. Aku akan membantumu semampuku."

Soo AH menegaskan kalau ia bahagia lebih dari bahagia malah. Mi Jin bahkan akan terkejut. Mi Jin menyuruhnya berhenti berbohong. Ia langsung tahu.

"Kurasa kamu tidak bisa melakukan apa-apa karena mengkhawatirkan semua orang. Tapi kamu yang terpenting. Bukan Seo Do Woo, Park Hyo Eun, atau Park Jin Suk. Pikirkan dirimu sendiri dahulu. Ini dari hatiku. Aku tidak bisa memberitahumu tentangnya dahulu. Maaf."

So Ah menutup telfon. Mi Jin menangis, merasa bersalah pada Soo Ah.

Sementara Soo Ah memberikan kembali ponselnya pada kevin dan ia berjalan pergi, Kevin pun membiarkan Soo Ah dan Do Woo sengaja tidak menghampiri Soo Ah.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon