Wednesday, November 16, 2016

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 3 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari SBS

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 3 Part 2


Dr. Nam dan Kim Sabu selesai melakukan operasi. Ini tidak seperti perkiraan Dr. Nam, tidak ada antrian pasien jumat ini.

"Bagaimana si pemula? Menurutmu dia akan berguna?"

Kim Sabu mengatakan kalau Dong Joo itu sampah. Dr. Nam kecewa karena tampaknya Dong Joo itu baik.

"Tunggu. Aku lupa. Aku dengar Kau menyuruh Seo Jung untuk meninggalkan rumah sakit ini. Kau tidak serius, kan?"

Kim Sabu serius, ia takkan membiarkan orang seperti Seo Jung bersama pasien.



Kim Sabu kembali ke ruangannya, disana sudah ada direktur Yeo yanga meletakkan satu anggerk lokal di ruangannya.

Kim Sabu bertanya, apa ada yang ingin direktur katakan. Direktur garuk kepala lalu pelan-pelan menyinggung mengenai Seo Jung.

"Kau tidak akan mengusirnya, bukan? Kau tidak serius, kan?"

Direktur Yeo juga mendengar kabar itu dari Perawat Oh seperti Dr, Nam.

Kim Sabu hanya menghela nafas.


Suster Oh celingukan di depan ruangan Kim Sabu. Saat Kim Sabu keluar, ia pura-pura sedang mengerjakan sesuatu. Kim Sabu tidak menegur Perawat Oh, sehingga perawat Oh yang menegurnya.

"Anda mau keluar?"

Kim Sabu memebenarkan, ia akan keluar untuk menikmati hobinya. Perawat Oh mengingatkan kalau ini hari jumat. Kim Sabu menjelaskan kalau ia sudah menugaskan Dong Joo di UGD. 

"Tetap saja, ini hari Jumat. Bukankah sulit baginya untuk kerja sendirian?"

"Terkadang, tidak buruk untuk mengerjakan banyak tugas. Dia dapat menambah pengalaman."

Pada akhirnya, Perawat Oh bertanya mengenai Seo Jung, Kim Sabu tidak serius, kan?

"Ya, aku serius. Kali ini, Direktur Yeo atau Do Il (Dr. Nam) tidak akan merubah pikiranku. Jadi, kau juga harus menyerah."


Seo Jung masih di tempatnya tadi, ia meyakinkan dirinya kalau Kim Sabu tidak serius. Kim Sabu takkan mengusirnya. Ia harus memohon pada Kim Sabu lagi.

"Aku tidak keberatan untuk berlutut."


Seo Jung kembali masuk ke dalam rumah sakit, ia melihat ada wanita yang celingukan di setiap ruangan, lalu ia memutuskan untuk mengikuti wanita itu.


Kim Sabu melihat kesibukan di UGD sebelum pergi. Ia mengamati kecakapan Dong Joo. lalu ia mendapat pesan "VIP telah tiba."

Kepala Jang melihat Kim Sabu keluar, ia bertanya mau kemana Kim Sabu tapi Kim Sabu tetap geloyor pergi sementara Kepala Jang sibuk dengan urusan administrasi dengan para wali pasien.


Wanita tadi sampai di ruang ICU. Ia ternyata adalah wali dari pria pelaku tabrak lari. Perawat Woo lalu mengijinkan wanita itu untuk menjenguk.

Seo Jung memperhatikan, perawat menyuruh wanita itu untuk mencuci tangan dan memakai masker tapi ia cuma amemakai masker saja lalu masuk ke ruangan. Maka Seo Jung pun pergi.

Perawat Woo meninggalkan wanita itu sendiri di ruangan karena ia harus mengangkat telfon di luar. Wanita itu lalu membuka maskernya dan menatap tajam si pasien.

Kilas balik...


Wanita itu kembali dari belanja, di seberang putranya yang baru pulang sekolah memanggilnya, puntanya bersama temannya. Setelah lampu hijau menyala, putranya menyebrang tapi mobil kencang melaju ke arah putranya.

Itu adalah mobil yang dikendarai oleh pasien itu. Pasien itu tak melihat lampu lalu lintas karena sibuk dengan ponselnya.

Ia menabrak dua pelajar itu lalu menabrak sebuah kedai di pinggir jalan. Setelah itu ia menjalankan mobilnya dengan kasar ke rumah sakit Doldam.

Kilas balik selesai...


Wanita itu lalu mencekik si pasien karena sudah membunuh anaknya. Perawat Woo menyadari hal itu lalu berlari masuk ke dalam untuk menjauhkan wanita dari si pasien tapi ia kalah kuat.

Selanjutnya Seo Jung masuk, ia menahan si wanita dan menyuruh perawat Woo untuk memanggil orang.


Tapi malah Seo Jung yang menjadi sasaran amukan dari wanita itu karena sudah menyelamatkan pembunuh putranya.

Tak lama kemudian Perawat Park datang dengan satu perawat pria, mereka memegangi wanita itu, sementara Perawat Woon memegangi Seo Jung.

Seo Jung mengatakan kalau pasien itu bukan orang yang menabrak putra wanita itu. Pengendara tabrak lari dipindahkan ke kamar rawat inap tadi.

"Dia baru dibawa ke rumah sakit karena kecelakaan motor. Anda hampir membunuh orang yang tidak bersalah."

Lalu Seo Jung memerintahkan dua perawat itu untuk membawa wanita itu keluar.


Seo Jung ngos-ngosan kepalanya pening. Tapi ia memastikan pada perawat Woo kalau ia baik-baik saja. Tapi kemudian ia jatuh pingsan karena tidak bisa menahan diri.


Dong Joo menatap pintu keluar,

-= Kang Dong Joo.. Kau harus pergi. Kau harus keluar dari pintu itu sekarang. =-

Dong Joo melepaskan stetoskopnya dan melangkah pasti menuju pintu keluar. Perawat Oh melihatnya tapi diam saja.


Pasien darurat datang. Usianya 48 tahun, keracunan setelah minum pestisida. Perawat Oh memanggil-manggil Dong Joo.

-= Tidak. Jangan menengok ke belakang. Segera setelah aku berbalik, hidupku akan hancur. =-

Dong Joo memantapkan hatinya untuk kembali melangkah tapi Perawat Oh kembali memanggilnya. Dong Joo menghentikan langkahnya, lalu terdengar suara ibu si pasien

"Tolong selamatkan anakku. Tolong selamatkan anakku. Dokter, kumohon. Selamatkan anakku, Dokter. Aku mohon. Selamatkan anakku."

Dong Joo berbalik menatap nenek itu, ia teringat ayah dan ibunya di rumah sakit dahulu. Dong Joo mengepalkan tangannya.

-= Sial! =-

Ia kembali, ia melepas adsinya lalu meraih stetoskop. Perawat Oh lega melihatnya, ia lalu menjelaskan kondisi pasien.

Dong Joo mengomando untuk melakukan pertolongan pertama dan menyuruh perawat untuk memindahkan pasien ke ruang Hybrid.


Dr. Song dan Direktur Do serta satu orang lagi sudah ada di restaurant, mereka sudah mulai minum. Direktur Do bertanya, siapa lagi yang akan datang?

"Dr. Kang Dong Joo akan datang. Bukan berarti dia kompeten. Tapi kami butuh dokter seperti dia di Departemen Bedah Umum. Anda tahu apa yang terjadi di bedah umum. Dokter muda saat ini tidak ingin menjadi dokter bedah. Rumah sakit penuh pasien tapi kekurangan dokter. Ini bukan untuk Kang Dong Joo. Ini untukku, Direktur Do."

"Bagaimana dengan dokter kardiotoraks untuk operasi ketua?"

"Jangan khawatir. Kami akan kerahkan dokter bedah kardiotoraks terbaik untuk operasi."

"Kau tahu akan ada rapat dua bulan lagi, kan?

"Tentu Saya tahu. Saya akan lakukan semua yang Saya bisa untuk jangka kedua Anda berturut-turutmu."


Dong Joo memompa isi perut pasien, ia mendapat 7 liter cairan. Lalu perawat lain menunjukkan hasil tes analisis gas darah arteri, PH nya 6,8. Dong Joo minta 5 ampul natrium bikarbonat pada perawat Oh, sementara ia akan melakukan intubasi.  
 

Dr. Song mulai cemas karena Dong Joo tidak datang-datang.


pasien Dong Joo kehilangan detak jantung, Dong Joo melakukan CPR dan menggunakan alat kejut jantung. Ia berusaha semaksimal mungkin.


Sudah hampir jam 9. Dr. Song menelfon Dong Joo tapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia meninggalkan pesan suara.

"Dong Joo. Kau pikir apa yang kau lakukan? Ini hampir jam 9. Kenapa kau tidak datang? Kau mengalami kecelakaan mobil atau apa? Atau kau berlagak cerdas di depanku?"

Direktur Do pulang karena sudah merasa lelah, mereka melewati Dr. Song.

"Dong Joo. Dasar bodoh. Kau sudah tamat sekarang, mengerti?!"


Dong Joo masih terus melakukan CPR tapi detak jantung pasien tetap tidak mau kembali. Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Dong Joo masih ngos-ngosan,

"Anda harus menyatakan dia meninggal. Sekarang... Jam 9:29 malam."

-= Kenapa juga aku harus... =-


Dong Joo keluar untuk menemui ayah dan ibu pasien. Ia mengatakan kalau anakmereka meninggal tapi mereka tidak bisa mendengar Dong Joo karena lupa membawa alat bantu dengar.

"Aku bilang anakmu telah meninggal dunia." Ulang Dong Joo.

Mereka tetap tidak mendengarnya.

"Dokter. Aku tahu anakku sudah tua, tapi dia harus bertemu wanita baik dan segera menikah. Tolong rawatlah dia. Tolonglah, Dokter.

-= Kenapa aku harus melakukan ini? =-

"Anakmu telah meninggal dunia. Anakmu meninggal. Dia sudah meninggal." Ulang Dong Joo dengan suara lebih keras.

Si Ibu memegang tangan Dong Joo, ia ingin melihat menantunya sebelum meninggal. Ia memohon agar Dong Joo menyelamatkan putra satu-satunya. 

Dong Joo hanya mampu minta maaf. Si Ibu menangis karena sudah kehilangan puntanya.

-= Kenapa aku... =-


Dong Joo mendengarkan pesan suara Dr. Song, ia mendesah. Lalu ibunya menelfon kali ini ia mengangkatnya.

"Kau sibuk seharian, ya? Kau tidak meneleponku."

Dong Joo tidak menjawabnya, ia menahan tangisnya. Ibunya tahu kalau Dong Joo pasti merasa berat. Akhirnya Dong Joo tak kuat menahan tangisnya, ia menangis sendirian di sana hanya ibunya yang mendengar melalui telfon.

Ibunya pun tak mengatakan apa-apa, ia membiarkan Dong Joo menangis, ibunya hanya mendengar..


Perawat Oh mengabari Kim Sabu kalau hari jumat ini berlalu dengan lancar berkat Dong Joo. Tapi tetap saja ia meminta Kim Sabu untuk kembali segera.

"Masih ada hal yang harus kukerjakan. Aku akan kembali setelah aku selesai." Jawab Kim Sabu.

Setelah menutup telfon, ia melihat VIP yang dimaksid di pesannya tadi.


Dong Joo mengunjungi Seo Jung. Ia sudah mendengar kejadian yang dialami Seo Jung tadi. Ia mengecek suhu tubuh Seo Jung, tidak demam dan tangannya juga ada pembengkakan. Tidak ada sensasi panas.

"Kau sedang apa sekarang?"


Dong Joo menjawab kalau ia hanya memeriksa pasien. Seo Jung ingin dokternya diganti. Dong Joo mengingatkan kalau di RS mereka tidak ada dokter lain, atau Seo Jung ingin dipanggilakn Kim Sabu?

"Pasti canggung, kan? Dia mendiskualifikasimu di depan wajahmu."

"Kau mau mati?"

Dong Joo mengira kalau mereka itu sangat dekat tapi ternyata ia salah.

Seo Jung membentaknya, kenapa Dong Joo di RS Doldam? Kenapa Dong Joo muncul dalam hidupnya lagi?


Dong Joo menjelaskan kalau ia ke RS Doldam bukan karena ia ingin, dan kebetulan saja Seo Jung juga ada di sana. 

"Bukankah ini sangatlah salah? Kau dan aku... Di rumah sakit yang sama?"

"Tidak, kau salah. Kau bahkan tidak bekerja di sini lagi."

Seo Jung tak menyangka dengan perubahan ekstrim Dong Joo ini. Dong Joo menegaskan kembali kalau ia selalu seperti itu mungkin Seo Jung saja yang tidak ingat. Ia selalu berterus terang.

"Kenapa kau minum obat penenang?"


Seo Jung tidak mau menjawabnya, ia meminta Dong Joo meninggalkannya sendirian karena ia mau istirahat.

Seo Jung berbaring dan Dong Joo berdiri, tapi hanya sampai disana sampai Seo Jung harus mengulangi lagi, ia ingin istirahat dan ingin Dong Joo pergi.

"Aku merindukanmu. Aku serius." Ujar Dong Joo.

Seo Jung malah menutupi kepalanya dengan selimut. Dong Joo melihat kali Seo Jung yang tidak tertutup selimut, ia menarik selimut untuk menutupi kaki Seo Jung.


Ia akan mendekati Seo Jung tapi tuba-tiba ada telfon dari UGD katanya ada pasien luka bakar, 4 pasien.

Seo Jung langsung bangun mendengar ada pasien luka bakar, berapa pasien, tanyanya pada Dong Joo.

Pasien sudah tiba dan Perawat Oh meminta Dong Joo untuk bergegas. Dong Joo ingin menjelskan tapi perawat Oh keburu menutup telfon.

Seo Jung menyuruh Dong Joo untuk bergegas. Dong Joo mengaku kalau ia tidak pernah menangani pasien luka bakar.

"Apa?"


Pasein tiba. Perawat Oh menyuruh tim penyelamat untuk membawa pasien tingkat 3 ke ruang Hybrid dan yang lainnya di UGD saja.

Dong Joo tiba, perawat Oh menyuruhnya untuk menangani pasien tinggat 3 dulu. Dong Joo bingung. Seo Jung menyuruhnya untuk ke ruang Hybrid. Mereka berhubungan lewat telfon.


Dong Joo mual melihat keadaan pasien yang melepuh. Seo Jung memerintahkannya untuk mengamankan jalan nafas terlebih dahulu, lalukan intubasi.

Dong Joo minta alat intubasi pada perawat Park, ia sudah mencoba melakukannya tapi Trakea pasien membengkak.

"Lakukan krikotiroidotomi." Perintah Seo Jung.

Tapi setelah melihat lebih lanjt, DOng Joo memutuskanuntuk menggunakan tube. Seo Jung panik, untuk apa tube? Apa yang sedang Dong Joo coba lakukan?


Tapi Dong Joo berhasil, Seo Jung memutuskan untuk melihat lebih dekat. DOng Joo melapor pada Seo Jung kalau ia sudah berhasil.

Seo Jung selanjutnya menyuruh Dong Joo untuk menggunakan IV dengan 2L hidrasi. Dong Joo memerintahkan perawat Woo untuk mengambil cairan itu.

"Kau bagus sejauh ini. Kau harus tutupi luka bakar. Jangan lupa mengukur daerah luka bakar di bagian belakang."

Dong Joo mengerti.


Dokter Nam dan Perawat Oh mengangani pasien yang lain.

Ada satu pasien yang kondisinya memburuk, Dr. Nam akan melakukan intubasi tapi Kim Sabu tiba dan ia mengambil alih tugasitu.

Kim Sabu datang dengan wajah babak belur, semua heran, kenapa dengan wajah Kim Sabu itu, tapi Kim Sabu tidak menjawabnya, sambil melakukan intubasi ia menyuruh perawat untuk menutup luka nakar pasien.

Kim Sabu menanyakan pasien dengan luka bakar tingkat 3. Perawat Oh menjelaskan kalau pasien itu ada di ruang Hybrid sedang ditangani oleh Dong Joo.


"Dia harus dirawat, setidaknya 4 minggu. Dia habis dipikuli dimana?"Tanya Dr. Nampada perawat Oh.

"Entahlah."

Kim Sabu menuju ruang Hybrid dan ia melihat Seo Jung mengendalikan Dong Joo lewat telfon. Dr. Nam dan Perawat Oh was-was.


Perawat Park menemukan ada yang aneh, setelah Dong Joo mengeceknya ternyata sirkulasi darah pasien tidak baik, menyebabkan tangan pasien membiru.

"Kontraktur telah dimulai. Lakukan escharotomy segera." Ujar Seo Jung.

"Escharotomy?"

"Bedah kulitnya."


Tapi kemudian seluruh mata di ruang Hy brid tertuju pada satu arah. Seo Jung panik, apa yang coba merak lakukan saat ini?

"Bila tidak, kulitnya akan menyusut dan memblokir sirkulasi darah. Bisa terjadi necrosis." Peringatan Seo Jung.

Kemudian iamengikuti pandangan mereka dan melihat Kim Sabu tepat berdiri di hadapannya.

"Dokter.."

-= Jumat malam kita... masih belum berakhir. =-


1 komentar so far

gumawo sinopsisnya..Ditunggu eps selanjutnya min.. Fighting💪

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...