Friday, November 18, 2016

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 4 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari SBS

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 4 Part 1


Kim Sabu menatap tajam Seo Jung. Sontak Seo Jung menurunkan ponselnya, ia mencoba menjelaskan tapi Kim Sabu lebih fokus pada pasien luka bakar yang sedang ditangani Dong Joo.

Dong Joo mengatakan kalau ia yang minta tolong pada Seo Jung. Ia tidak berpengalaman dengan pasien luka bakar, jadi ia minta bantuan Seo Jung.

Kim Sabu tidak menjawabnya ia lebih fokus untuk menangani pasien serta meminta perawat untuk menghubungi pusat luka bakar dan katanya akan tiba dalam 25 menit.



Geon Soo menghampiri Kim Sabu, ia khawatir dengan para anak-anaknya (yang menjadi korban kebakaran).

Kim Sabu memastikan kalau semua baik-baik saja, ia lalu meminta Perawat Oh untuk merawat luka Geon Soo.

Yang terluka derajad tiga namanya Young Chul. Kim Sabu mengatakan kalau Young Chul kondisinya kurang baik. Geon Soo memohon pada Kim Sabu untuk menyelamatkan Young Chul.

"Kim Sabu. Kau bahkan bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Aku beberapa kali melihatnya! Young Chul, Tolong selamatkan dia."

Kim Sabu dan orang-orang rumah sakit akan berusaha sebaik mungkin. Lalu mereka akan mengirimnya ke pusat luka bakar.


Dong Joo mendengar pembicaraan mereka, ia saat ini sedang menutup luka bakar Young Chul. Ia melihat tato di leher Young Chul, ia teringat kalau salah satu koki di kasino yang memeganginya dulu memiliki tato yang sama.


Seorang wanita datang, ia langsung menemui Kim Sabu untuk menanyakan keadaan semua staf dapur. Kim Sabu menjawab jujur, luka bakar tidak mungkin baik-baik saja. Pasti akan menderita trauma juga.

"Semua biaya medis... akan ditanggung oleh perusahaan."

"Tidak heran."

Wanita itu mengatakan kalau ketua Shin ingin bertemu dengan Kim Sabu lagi. Ia meminta Kim Sabu ikut dengannya jika urusan UGD sudah selesai.

"Seperti yang kau lihat aku sedang sibuk."

"Kalau begitu besok bagaimana?"

"Kalau dia mau bertemu, suruh saja datang kesini."

Dan juga, Kim Sabu menunjuk luka lebab di wajahnya, ia juga akan memasukkan tagihan medis untuk lukanya itu pada tagihan medis mereka.


Dokter Nam berbisik pada Perawat Oh, bukannya wanita itu manager umum di Kasino? Kenapa disana menemui Kim Sabu?

== 3 Jam Lalu ==


-= Waktu adalah uang. Waktu yang membuat uang menjadikanmu bos. Dunia ini penuh dengan orang yang rela melakukan apapun demi uang, dan orang yang yakin dapat melakukan apapun menggunakan uang. =-
 

Kim Sabu ada di kasino, ia mendekati seorang pria paruh baya yang memijit tangannya. Kim Sabu menebak, pasti pria itu sudah lama di sana.

Sudah 2 hari, jawab pria itu. Kim Sabu meminta air putih pada pelayan yang lewat lalu memberikannya pada pria itu. Pria itu menerimanya tapi malah menjatuhkannya.

Kim Sabu meminta pihak keamanan untuk menghubungi ambulance katanya ada pasien stroke. Jarak 5 detik, pria itu pingsan. Kim Sabu lalu memberikan pertolongan pertama sebelum ambulance datang.


Ketua Shin mengamati Kim Sabu dari layar ruang CCTV. Ia bersama manager umum wanita itu.

Ambulance datang, petugas bergegas membawa pria itu ke rumah sakit tapi sebelum itu Kim Sabu nitip catatan agar diberikan pada dokter yang menangani pria itu.


"Kali ini, anda menyelamatkan nyawa orang lagi." Ujar manager umum saat mendekati Kim Sabu.

"Apa bagusnya menyelamatkan nyawa? Tidak ada untungnya buatku. Cuma bagus buat rumah sakit lain."

Manager umum meminta Kim Sabu mengikutinya karena Ketua Shin ingin bertemu. Kim Sabu pun menurut.


Namun saat mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan, ada dua orang yang memukulinya tanpa jeda. Manager umum minta maaf karena itu adalah perintah dari ketua Shin.


Lalu Kim Sabu dibawa masuk paksa dan di paksa berlutut di depan Ketua Shin yang tengah makan steak. Ketua Shin bertanya, apa benar dia itu Kim Sabu.

Kim Sabu membenarkan, jika ingin bertemu tidak perlu memukul orang seperti agar-agar, Kan?

"Dasar sampah. Kudengar kau mencari uang dari orang sakit. Kau sebut dirimu dokter? Kau menipu tamu VIP-ku dan mengambil mereka dari kasinoku?"

Kim Sabu tersenyum, ia berdalih cuma ingin menolong orang sakit. Ketua Shin sudah punya banyak uang dari orang miskin tanpa perlu menggerakkan ujung jari. Jika dilihat dari kasusnya, Ketua Shin lebih buruk dibandingkan dirinya.

"Apa benar... kau dokter berbakat?"

Kim Sabu berdiri, kedua pengawal tadi memegangnya tapi Ketua Shin menyuruh mereka melepaskan Kim Sabu. Kim Sabu kemudian duduk di sofa, memang benar ia lebih banyak menyelamatkan dibanding kehilangan.

"Anu... kudengar kau bisa melakukan apapun pada orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati."

Kim Sabu kembali tersenyum, ia bukan ini bukan Tuhan atau apapun, mana mungkin ia membangkitkan orang mati? Jika orang seharusnya hidup, maka akan selamat. Kalau sudah waktunya mati, akan mati juga.

"Kau, aku mau kau kerja untukku. Berhenti memperhatikan pasien di kasino. Kau jadi dokterku saja. Aku akan bayar berapapun yang kau mau."

"Aigoo, berapa nilai maximum bayarannya?"


Ketua Shin lalu memerintahkan manager umum untuk membawakan steak lebih banyak lagi. Lalu manager umum menelfon dapur.

Geon Soo adalah kepala koki, ia sangat senang menerima orderan dari ruang ketua Shin. Ia menyuruh Young Chul untuk memanaskan wajan.

Young Chul memantikkan korek untuk menyalakan kompor tapi tetap tidak mau menyala setelah beberapa kali ia coba. Young Chul mencoba lagi tapi tiba-tiba terjadi ledakan disertai api yang langsung menyambar dirinya.

"Young Chul!" Teriak Geon Soo.


Kim Sabu menanyakan berapa banyak uang yang dimiliki Ketua Shin, Sekitar 1 miliar dolar? Jika Ketua Shin memberinya semua uang yang dimilikinya, akan ia perimbangkan. Jika bukan itu, jangan coba membelinya.

Ketua Shin hanya melihat pada manager umum. hal itu membuat Kim Sabu tertawa, meski tidak kentara, ia adalah dokter yang cukup mahal.

"Nah, kalau kau sudah selesai, aku undur diri. Ini hari Jumat." Kim Sabu undur diri dengan tawa.

Pihak keamanan menerobos masuk ke ruangan ketua Shin, ia mengabarkan kalau terjadi kebakaran di dapur. Semua orang terkejut.


Kim Sabu dan dua orang pihak keamanan langsung menuju ke dapur. Kim Sabu memerintahkan dua orang itu untuk mencari alat pemadam kebakaran, sementara ia berusaha dengan alat seadanya untuk menyelamatkan staf dapur yang terjebak disana.

Geon Soo. meminta Kim Sabu untuk menyelamatkan Young Chul terlebih dahulu yang terkena ledakan secara langsung.

-= EPISODE 4 -- KONDISI MEMADAI YANG DIPERLUKAN =-


Tim dari rumah sakit pusat sudah tiba dengan helikopter, Kim Sabu meminta Geon Soo untuk pergi beserta korban yang lain. Ia memastikan kalau anak-anak akan baik-baik saja.


Seo Jung memasukkan barang-barangnya dalam tas dengan kesal.


Sabtu pagi, satu per satu pasien meninggalkan rumah sakit karena keadaan mereka sudah lebih baik.


Kim Sabu memberitahu perawat Park kalau ia akan segera memindahkan pasien luka bakar ke rumah sakit pusat dan hingga pihak rumah sakit pusat datang, mereka akan merawat pasien itu dahulu di ruang ICU, lalu perawat Park dibantu perawat yang lain memindahkan pasien itu ke ruang ICU. Dong Joo menatap tajam Kim Sabu.


Lalu Dong Joo mendekati Kim Sabu. Ia ingin membicarakan mengenai Seo Jung. Seperti katanya, itu bukan salah seo Jung. dirinya lah yang minta tolong pada Seo Jung. Ia belum pernah menangani pasien luka bakar. Kim Sabu tidak ingin membahas Yoon Seo Jung dengan Dong Joo, ia menyuruh Dong Joo pergi. Perawat Oh yang tak jauh dari mereka menguping pembicaraan mereka.

"Lalu aku harus bagaimana? Ada pasien darurat luka bakar dan aku tidak tahu bagaimana menanganinya. Haruskah mereka dibiarkan mati? Satu-satunya dokter yang punya kemampuan luas di rumah sakit reyot ini hanya Seo Jung sunbae. Haruskah dia berdiam diri dan tidak membantu pasien seperti kata dokter? Itu tidak benar. Aku harus lakukan segalanya di kondisi darurat begitu."

Kim Sabu malah tersenyum, baginya itu lucu. Sepertinya Dong Joo yakin sekali sudah bersikap heroik dengan membawa bantuan Seo Jung ke ruang UGD. Jangan bercanda. Dong Joo cuma pengecut yang tidak bisa bergerak cepat.

"Mulai lagi. Anda baru saja memanggilku pengecut?"

Dong Joo bekerja sangat keras menjadi juara satu di kelas. Sampai sekarang tidak bisa melepaskan rumah sakit Geodae. Bukankah semua itu karena Dong Joo pengecut? Jika Dong Joo tidak punya semua itu, Dong Joo merasa tidak tenang.

"Sudah selesai bicara?"


Kim Sabu lalu berdiri, mereka saling bertatapan,

"Kenapa? Marah? Kalau begitu jangan berpura-pura di depanku bocah. Sok hebat, sok tahu, Sok jadi dokter hebat. Sok pahlawan setelah melakukan pekerjaanmu."

Dong Joo menegaskan kalau ia tidak pernah bersikap sok begitu.

"Yaa.. Kau membawa Yoon Seo Jung bukan karena pasien. Kau membutuhkan dia untuk dirimu sendiri. Dari awal kau tidak ingin terlihat bodoh saat merawat pasien luka bakar. Di depan staf kau tidak mau terlihat memalukan. Kenapa sekarang kau berlagak seolah perhatian pada Seo Jung. Pura-pura seolah semua demi pasien! Berhenti mengoceh tentang dirimu sendiri. Mengerti?! Dasar bocah bodoh."

Setelah mengatakannya, Kim Sabu pergi begitu saja meninggalkan Dong Joo.


Seo Jung menghentikan Kim Sabu di lobi. Ia berlutut memohon maaf pada Kim Sabu, sementara Perawat Oh dan Dong Joo melihatnya dari UGD.

"Maafkan aku kali ini dokter. Berikan aku kesempatan lagi. Aku janji akan bekerja dengan baik. Sungguh. Aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku janji."

Seo Jung tidak mau berdiri sampai Kim Sabu memaafkannya, ia tidak akan bergerak sedikitpun. Ia akan tetap disana.

Kim Sabu menyilahkan dan [ergi melanggang begitu saja. Dong Joo tak bisa diam saja, ia melangkah ke lobi dan membangunkan Seo Jung, tanpa berkata apa-apa ia menyusul Kim Sabu.


Dong Joo langsung menyerang Kim Sabu karena tidak terima disebut pengecut dan bodoh.


Dong Joo menyerang beberapa kali tapi Kim Sabu terus saja bisa menghindar, malahan Dong Joo yang beberapa kali jatuh.

Seo Jung mencoba menghentikan Dong Joo tapi perawat Oh menghentikannya, ia menyuruh Seo Jung tetap di tempat, janganikut campur.


Dong Joo sudah jengkel karena tujuannya tidak tercapai, ia kemudian hanya bisa meneriaki Kim Sabu. Ia tidak peduli bahkan jika harus memakai bahasa informal.

"Kau tahu apa?! Kau tidak tahu apa-apa soal aku. Jangan sembarangan bicara! ku tahu kau lebih tua dariku, tapi apa kau lebih bijak? Kalau kau lebih tua, apa boleh kau mengabaikan orang muda seperti itu?! Tidak. Kau tidak tahu apapun soal aku! Kalau kau dewasa, seharusnya tidak bicara seperti itu!!

"Tepat! Orang dewasa tidak berkata begitu! Meskipun aku lebih tua, mungkin aku tidak lebih bijak. Aku tidak tahu apapun soal dirimu. Tapi!! Kalau kau sudah seusiaku, kau mulai bisa melihat sesuatu. Kau bisa melihat mana yang tulus dan tidak. Dapat melihat seseorang punya masa depan atau tidak."

"Jadi ... aku tidak tulus? Aku tidak punya masa depan?"

"Soal itu kau yang paling tahu."


Dong Joo menyerang Kim Sabu lagi, tapi kali ini ia dihalangi oleh Perawat Go. Dong Joo meronta minta dilepaskan, Kim Sabu juga meminta perawat Go untuk melepaskan Dong Joo.

Perawat Oh maju, ia meminta semuanya berhenti tapi tidak ada yang menghiraukannya. Akhirnya ia berteriak. HENTIKAAAAAANNNNNN!!!!!!!


Mereka semua refleks menatap Perawat Oh dan menghentikan kegiatan masing-masing. Dokter Nam mengatakan pada Seo Jung kalau perawat Oh mulai lagi. Baginya, perawat Oh terlihat paling seksi disaat begini.


Perawat Oh menegur keduanya, ini rumah sakit dan masih banyak pasien. Kim Sabu membenarkan lalu ia meminta perawat Go untukmembawa Dong Joo keluar.

"Kim Sabu hentikan! Apa kau tahu betapa berat dokter Kang bekerja di UGD hari ini?! Apa kau tahu dia bekerja sekeras apa di tengah suasana yang tidak mendukung dengan peralatan tidak memadai
dan kurangnya kemampuan dia?! Tidak ada orang lain yang bisa sebaik dia. Tapi!! Bukannya kau puji dia, kenapa malah menghinanya?! Saat dia bekerja kau malah kena pukul!"

"Aey, Perawat Oh. Itu benar, tapi..."

"Masalah dokter Yoon juga. Direktur sudah memohon padamu, Dokter Nam memohon padamu. Terlebih lagi! Dokter Yoon sampai berlutut memohon sepenuh hati! Kau juga harus tahu kapan harus mengalah. Kenapa kau keras sekali?! Dokter Yoon sudah berapa lama kerja dengan kita? Apa begini sikap Kim Sabu yang sebenarnya?!

"Aey, entahlah soal itu Perawat Oh..."

"Sudah!! Pertimbangkan keputusanmu mengenai dokter Yoon."

"Hei, perawat Oh."

"Kau tidak bisa menyuruhku begitu.. "

"Aku anggap kau setuju. Kim Sa-Bu!"

Fuih.. Perawat Oh berbalik dengan keren setelah membuat Kim Sabu tidak berkutik.


Dokter Nam mengatakan kalu segalanya sudah berakhir, mungkin Seo Jung akan baik-baik saja.

Kim Sabu lalu menatap Seo Jung, Seo Jung kembali berlutut dengan menunjukkan jari telunjuknya diatas kepala.

"Aigoo benar-benar." Gumam Kim Sabu yang kemudian beralih menatap Dong Joo.


Di rumah sakit Geodae. In Soo melihat ada sua dokter baru yang mengunjungi kepala departemen bedah. Lalu In Soo menanyakannya pada Dr. Do In Bum.

"Mau sampai kapan posisi Kang Dong Joo dikosongkan? Ada banyak jadwal operasi."

In Soo langsung melapor pada Dong Joo saat itu juga, ia rasa posisi Dong Joo akan dicuri orang. Dong Joo saat ini sedang menulis surat pengunduran diri, ia berhanti saat In Soo menelfon tapi setelah In Soo menutup telfonnya ia melanjutkan suratnya.


Dong Joo menuju ruang direktur Yeo dan disana sudah ada Seo Jung yang mondar-mandiri di depan pintu, Dong Joo bertanya, sedang apa Seo Jung disana.

"Menunggu keputusannya. Saat ini kondisiku sedang dibahas."


Kepala Jang menolak tentang pemecatan Seo Jung. Mereka butuh semua dokter yang bisa mereka dapatkan. Tentunya, kondisi Seo Jung sangat disayangkan, tapi ia yakin Seo Jung bisa mengatasinya. Bukan begitu Direktur?

Direktur bertanya pada Kim Sabu, mau bagaimana Kim Sabu sekarang. Kim Sabu menhela nafas, ia tidak menjawab malah menatap Perawat Oh yang saat ini sedang minum.


Dong Joo mengetuk pintu, Seo Jung terkejut, apa Dong Joo sudah tidak waras?

"Lagipula aku sudah selesai dengan tempat ini. Aku ingin terus terang sebelum pergi."

"Kalau mau pergi, pergi saja. Jangan bikin masalah disini."

Direktur Yeo dari dalam menyuruhnya masuk. Dong Joo pun membuka pintu dan masuk ke dalam.


Dong Joo langsung disambut puji-pujian oleh Kepala Jang karena sudah mengatasi hari jumat dengan sempurna dan mereka berkumpul untuk membahas betapa hebarnya Dong Joo.

Dong Joo benar-benar memberikan surat pengunduran dirinya. Kepala Jang heran, kenapa?

"Bagaimanapun aku bukan dokter tepat yang dicari rumah
sakit ini. Kemampuanku tidak cukup."

Kim Sabu senang mendengarnya karena Dong Joo tahu batas kemampuannya. Kepala Jang meminta pengertian Kim Sabu, ia meminta Dong Joo untuk memikirkan sekali lagi, Dong Joo dapat melakukan banyak hal demi rumah sakit ini.

"Aku mengerti sekali kenapa kau marah. Sampai kembali ke Geodae, tinggalah selama mungkin disini."

Dong Joo tidak akan kembalike Geodae, ia akan cari rumah sakit lain. Bagaimanapun ia sudah dihubungi 2 rumah sakit.

"Baguslah. Pergi saja." Ujar Kim Sabu lalu berdiri.

Kepala Jang menghalangi Kim Sabu dan kembali mendudukkan Kim Sabu.

"Anda tidak bisa menahan orang yang ingin pergi. Anak seperti dia tidak ada bagusnya."

Kepala Jang meminta Dong Joo untuk memikirkan kembali, begitu saja!

Tapi Dong Joo sudah membulatkan tekad, Sebelum pergi ia berterimakasih pada Kim Sabu atas semua bantuaannya, ia sudah berhutang banyak.

"Ah lalu... Aku tahu Anda dokter bagus, aku juga tahu kalau Anda hebat. Tapi... Anda yang berpikir Anda punya hak mengomeli orang setelah melakukan pekerjaanmu! Ya, Anda benar. Aku ini, pengecut dan bodoh seperti katamu. Aku belajar keras karena tidak tenang jika tidak punya rumah sakit Geodae untuk kembali. Aku memang menjilat atasanku demi naik tangga sosial! Aku tidak bangga dengan keputusanku seumur hidup! Tapi... Fosil tua sepertimu yang membuat hidupku seperti itu!

Kau membentuk dunia ini agar orang tanpa latar belakang tidak bisa jadi apapun kecuali hidup seperti aku! Lalu kau meremehkan kami dan menyebut kami bodoh dan pengecut!"

Perawat Oh berusaha untuk menghentikan Dong Joo tapi Dong Joo tidak menghiraukannya. Dong Joo tetap melanjutkan kata-katanya.

"Anda tidak tahu cara hidup dengan benar. Jangan berusaha mengajariku cara hidup. Itu membuatku jijik. Sekian."


Dong Joo keluar, sedari tadi Seo Jung menguping. Dong Joo bicara dulu pada Seo Jung.

"Kenapa kau takut seperti orang bodoh? Kau tidak salah apa-apa. Apa hebatnya rumah sakit ini?! Bagiku tempat lain jauh lebih baik dibanding disini. Kau mau aku bantu carikan rumah sakit lain untukmu?"

Kepala Jang ikut keluar, masih berusaha membujuk agar Dong Joo mengubah pikirannya. Dong Joo tidak peduli, ia melanjutkan kata-katanya untuk Seo Jung,

"Katakan kalau kau berubah pikiran. Tidak sulit mencari lowongan lain."

Dong Joo lalu melangkah diikuti Kepala Jang.


Direktur Yeo bertanya pada Kim Sabu, apa rencana Kim Sabu selanjutnya.

"Entahlah... Harus bagaimana?" Kim Sabu malah bertanya balik, sementara Perawat Oh hanya menatapnya tajam sambil minum.


Kepala Jang mengikuti Dong Joo, ia meminta pengertian Dong Joo akan sikap Kim Sabu yang suka menyakiti hati, ia pun juga tidak luput dari sikap Kim Sabu itu.

Dong Joo membentak kalau ia keluar Bukan karena Kim Sabu. Ia benci segalanya tentang rumah sakit Doldam.

"Aku tidak bisa bedakan mana bagian bedah dan UGD. Suster keluar masuk ruang operasi ke ruang UGD. Tidak ada yang teratur disini. Aku tidak tahu siapa penanggung jawab tiap departemen."

"Itu, karena kurangnya tenaga kerja. Tidak ada bagianmu dan bagianku disini. Semuanya bekerja sama-sama."

"Makanya aku ingin rumah sakit dimana spesialisasiku digunakan. Yang besar, bersih. Rumah sakit dengan tekhnologi terkini.

Kepala Jang mengakui rumah sakit Doldam banyak kekurangan dibanding rumah sakit besar di ibukota, tapi...


"Bukan cuma itu. Kami banyak sekali kekurangan. Gedung rumah sakit sudah lama. Sistemnya juga sudah kuno. Peralatannya juga buruk." Ujar Seo Jung yang datang dari lantai dua.

Makanya Dong Joo mengajak Seo Jung berhenti membuang waktu disini dan kerja di rumah sakit lain. Seo Jung tanya, Lalu bagaimana? Hidup seperti Dong Joo? yang lebih menghargai opini atasan dibandingkan pasien. Bagaimanapun yang Dong Joo pikirkan adalah menaiki tangga sosial dengan cepat.

"Pilihannya cuma itu atau terjebak ditempat seperti ini selamanya." Jawab Dong Joo lalu melangkah pergi.

"Memalukan." Balas Seo Jung yang menghentikan langkah Dong Joo. 

Kepala Jang mencoba menghentikan Seo Jung tapi lagi-lagi dia tidak dihiraukan. Dong Joo berbalik menatap Seo Jung.

"Kau hebat ini, kau hebat itu, kau hebat semuanya... kenapa cuma itu yang kau bicarakan?"

"Karena dengan semua kehebatanku di tempat ini aku tidak akan berhasil. Kenapa?!"

"Dengan mentalitas korban, tentu saja tidak akan berhasil."

"Apa katamu?"

Kepala Jang menyela, ia sudah mendengarkan perkataan Dong Joo dengan baik, ia akan diskusikan dengan Direktur Yeo untuk memperbaiki suasana kerja. Dong Joo butuh apa? naik gaji? Rumah tinggal? Atau yang lain?

"Tidak perlu begitu. Dia tidak akan berterimakasih." Jawab Seo Jung.

"Dokter Yoon Seo Jung, kenapa kau begini?"

Dong Joo menolak tawaran Kepala Jang, ia membenarkan ucapan Seo Jung, hal itu tidak mengubah pikirannya. Giliran Dong Joo yang dibentak oleh kepala Jang.

"Lihat? Orang ini memang seperti ini."

"Dokter Yoon Seo Jung."

"Semoga sukses dengan hidup ditempat gembel yang kau sebut rumah sakit ini!

"Pikirkan dirimu sendiri. Tidak perlu mencemaskan aku."


Seo Jung menuju ruang staf sementara Dong Joo akan melangkah keluar tapi Kepala Jang menghalangi dengan memeluknya dari belakang.

Tepat saat itu, ketua Shin datang dengan Manager umum Jo dan dua bodyguard-nya. Kepala Jang mengira kalau Ketua Shin itu adalah ayah Manager Jo.

Manager Jo lalu mengatakan kalau itu adalah ketua Shin. Kepala Jang lalu memberi salam hormat begitu pula Dong Joo.

Ketua Jang kesana untuk menemui Kim Sabu.


Di rumah sakit Geodae, Kepala departemen bedah (Dokter Song) memberikan daftar dokter jantung terbaik pada Direktur Do.

"Ini akan memastikan pemilihanmu untuk ketiga kalinya Direktur."

Direktur Do tidak ingin bersenang diri dulu, Masih ada 2 bulan sebelum rapat dewan.

Direktur Do meminta Dokter Song untuk menghubungi Manager Jo, ia yang akan ke Jongseon secara langsung.


Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...