Sunday, November 20, 2016

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 4 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari SBS

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 4 Part 2


Kim Sabu bertanya, untuk apa Ketua Shin datang.

"Aku pikir kau menyuruhku datang sendiri kalau mau bertemu? Aku yang sedang putus asa saat ini. Datang untuk bertemu denganmu."

Kim Sabu tetap dengan perkataannya kemarin jika Ketua Shin menginginkannya menjadi dokter ketua Shin.

Ketua Shin lalu menunjukkan bekas operasinya, dalam jantungnya ditanam sebuah alat. Sudah 2 tahun sejak operasi itu, dari yang Ketua Shin lihat, ada masalah dengan beterai dalam tubuhnya. Rasanya tidak nyaman melakukan apapun. Tapi ia harus tetap bertahan sampai ada donor jantung. Tapi, siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?

"Anda hidup dengan baik dengan semua uangmu. Bukankah sudah waktunya memberi pada orang lain? Lakukan kebaikan demi perubahan. Siapa tahu? Dengan hidup begitu, langit akan tersentuh dan memberi Anda jantung yang bagus."


Meskipun ketua Shin punya jantung yang bagus, masalahnya ia tidak punya dokter yang bagus. Kim Sabu heran, bagaimana dengan dokter yang mengoperasi ketua Shin dulu?

"Dia mati. Serangan jantung. Dia akan mengoperasi seseorang dan menyelamatkannya, tapi terkena serangan jantung lalu meninggal. Lucu kan?"

Tapi menurut Kim Sabu itu menyedihkan. Ketua Shin bertanya, apa Kim Sabu mau mengoperasinya, dari yang ia dengan Kim Sabu dahulunya Ahli bedah kardiotoraks (Bedah Jantung & Paru-paru).

Kim Sabu balik bertanya, kenapa harus dirinya, kan ada dokter bagus diluar. Ketua Shin tahu halitu, tapi tidak ada yang asli.

"Menurut Anda aku ini asli?"

"Menurutmu bagaimana aku membuat uang sebanyak ini? Ini semua karena aku bisa melihat orang. Aku tahu yang mana yang asli."

"Jika begitu, sepertinya mata ketua sudah mulai uzur."

"Kenapa? Kau tidak mau? Memberiku operasi? Karena aku sampah?"


Kepala Jang datang mengganggu, ia membawakan semua minuman yang ada di rumah sakit Doldam untuk menjamu VIP. Ia menjelaskan semuanya lalu meminta Ketua SHin untuk memilih.


Seo Jung di ruang staf sedang membaca buku sambil mendengarkan musik lewat earphone. Dong Joo datang, Seo Jung mendengarnya tapi pura-pura tidak dengar padahal Dong Joo dengan sengaja melakukan apapun dengan suara keras.

Lalu Dong Joo membuka pintu dan menutupnya kembali. Seo Jung pikir, Dong Joo sudah keluar lalu ia menengok ke pintu, eh.. Dong Joo masih ada di sana.


Seo Jung salah tingkah dan pura-pura kembali sibuk dengan buku dan musiknya. Dong Joo mendekati Seo Jung,

"Pernahkah... memikirkan aku? Pernah rindu padaku?"

Seo Jung tidak merespon lalu Dong Joo menjauhkan bukunya dan menarik earphonnya. Ia bertanya,  Tidak dengar aku?

Seo Jung balik bertanya, kenapa? bilang apa memangnya?

"Apa kau pernah rindu aku? Selama 5 tahun pernahkah, memikirkan aku sekali saja?"

Seo Jung bercerita kalau ia tersesat di gunung, ia terpeleset di bukit dan tangannya cidera. Selama itu ia hanya fokus melakukan rehabilitasi selama 3 tahun. Syukurlah, pergelangan tangannya membaik 90%. Makanya ia bisa jadi staff UGD. Setelah itu, ia ingin mendapat sertifikat ahli bedah kardiotoraks. Banyak pasien ruang UGD yang sakit jantung dan paru-paru...

"Kedengarannya kau sama sekali tidak punya waktu memikirkan aku. Begitu? Baiklah. Aku mengerti. Aku sudah dengar."


Dong Joo lalu menuju pintu. Barulah Seo Jung menjawab kalau ia juga merindukan Dong Joo, ia tidak tahu kenapa, terkadang ia memikirkan Dong Joo.

"Kau bilang begitu karena aku mau pergi? Kau mengasihani aku?"

"Terdengar seperti itu? Jika begitu, mau bagaimana lagi?"

Kim Sabu menelfon Seo Jung, lalu Seo Jung pamit pergi menemui Kim Sabu tapi ia kembali lagi sebelum membuka pintu.

"Kesuksesan dan pencapaian. Semua itu bagus. Tapi, Kang Dong Joo, Kita adalah dokter. Kita memang cuma dokter, tapi kita tetaplah dokter. Jangan lupakan itu selama hidup."

Barulah Seo Jung benar-benar membuka pintu.


Dong Joo sudah sampai di lobi, ia mengedarkan pandangannya mengitari isi rumah sakit. Perawat Oh melihatnyadari UGD, tapi kemudian ia memutuskan untuk tetap pergi.

Saat ia berbalik, Perawat Oh sudah di depannya. Apa Dong Joo sudah pamit pada Direktur?

Dong Joo merasa kalau surat pengunduran dirinya tadi sudah sama dengan pamitan. Perawat Oh minta maaf, tapi saat ini ada pasien laserasi tangan di UGD. Bisakah Dong Joo memeriksanya?

"Aku mohon."


Dong Joo lalu meletakkan tas dan mantelnya di meja informasi UGD dan perawat Oh membantunya memakai jas dokter. Perawat Oh menjelaskan kalau pasiennya ada di ruang hybrid.

Saat Dong Joo menuju ruang hybrid, perawat Oh lalu melemparkan tas dan mantel Dong Joo kepada Perawat Park, ia mengkode perawat Park agar menyembunyikan tas dan mantel itu.


Seo Jung menghadap Kim Sabu, ia sudah siap mendengarnya, ia akan patuh selama ia tidak dipecat. Kim Sabu malah meminta tangan Seo Jung, bukan apa-apa ia hanya ingin melihat keadaan tangan Seo Jung. 

Kim Sabu melihat kalau keadaan tangan Seo Jung sudah membaik.


Perawat Oh mendampingi Dong Joo dalam menangani pasien, ia memuji Dong Joo yang bisa jadi dokter bedah plastik yang bagus.

"Anda bicara begitu karena aku lamban?"

Tidak, perawat Oh memuji ketelitian Dong Joo. Lalu ia bertanya, kenapa Dong Joo benci sekali pada rumah sakit Doldam?


Sementara itu, Kim Sabu meminta Seo Jung mengatakan tiga alasan yang menyebabkan Seo Jung ingin tinggal di Rumah Sakit Dodam.

Dong Joo menjawab perawat Oh, Pertama, ia tidak suka orang bernama Kim Sabu. Seo Jung juga menjawab Kim Sabu, pertama, ia ingin belajar pada Kim Sabu.

Kedua, Dong joo menjawab kalau ia tidak suka rumah sakit ini. Seo Jung menjawab, ia ingin belajar pada Kim Sabu.

Ketiga, Dong Joo menjawab Rumah sakit ini, tidak memberinya masa depan. Seo Jung menjawab, ia ingin belajar pada Kim Sabu, Suatu hari ia ingin melakukan operasi bersama Kim Sabu, Itu harapannya.

Sementara itu, Dong Joo ingin menjadi dokter terhebat, bukan dokter yang baik. Jadi RS Doldam bukan tempatnya.


Mendengar hal itu, Perawat Oh ingin bertanya, Menurut Dong Joo, Kim Sabu adalah dokter yang baik atau dokter terhebat?


Kim Sabu masuk ke ruang operasi, ia melihat peralatan disana yang bisa dibilang "mengenaskan".

Perawat Oh mengulangi lagi, apa Kim Sabu dokter baik atau dokter terhebat.


Sementara itu, Direktur Do mengunjungi ketua Shin dengan membawa daftar dokterterhebat dari rumah sakitnya.

Ketua Shin mengatakan kalau direktur Do sia-sia datang kesana karena ia sudah menemukan dokter yang akan mengoperasinya. Dia dokter berbakat.

"Boleh saya tahu siapa nama dokter itu?"


manager Jo menyela karena ada telfon dari Kim Sabu untuk Ketua Shin. Ketua Shin pun menjawab telfon Kim Sabu.

Pertama, Kim Sabu perlu mesin USG model paling baru. Ketua Shin mengerti, jadi KIm Sabu tidak minta biaya operasi tapi cuma mesin USG?

Tidak, itu merupakan uang ganti rugi karena ia dipukuli kemarin. Ia cidera dan butuh 2-3 minggu pengobatan.

"Baik, baik. Akan aku belikan peralatan terkini. Lalu, operasiku bagaimana?"

Lalu Kim Sabu menjelaskan, untuk mengganti baterai jantung, RS Doldam butuh mesin USG baru, meja operasi terbaru, mesin anestesi dan mesin paru-paru. Jika di masa depan Ketua Shin ingin melakukan transplantasi jantung., mereka juga perlu ruang bersih untuk terapi imunosupresi, tapi... Wah. Bagaimana ia mengatakannya? Ia takut harganya akan sangat mahal.

Berapapun tidak masalah! Katakan saja. Berapapun harganya, Ketua Shin akan beli seluruh peralatan terkini. Asalkan Kim Sabu mau mengoperasinya.

"Begitu semua peralatan siap, aku akan atur jadwal operasi." Jawab Kim Sabu lalu mematikan telfon.

Ketua Shin sangat senang mendengarnya begitu pula manager Jo.


"Ketua. Apakah saya... pernah menyinggung perasaan Anda?"

Ketua Shin tidak mengerti, kan Direktu Do sudah bekerja dengan baik menjalankan rumah sakit Geodae. Pertanyaan Direktur Do adalah, kenapa ketua Shin menolak semua dokter rekomendasinya dan menunjuk dokter tidak dikenal?


Lalu ketua Shin meminta Manager Jo untuk menunjukkan dokter pilihannya pada Direktur Do. Itu adalah CCTV dari dapur kasino saat terjadi kebakaran.


Ketua Shin bertanya, apa yang bisa dilihat Direktur Do. Sepertinya pegawai dapur terluka parah, jawab Direktur Do. Ketua Shin membenarkan, lalu apa lagi?

"Orang ini... "

"Benar. Orang itu. Orang itu melompati api demi menyelamatkan orang."

Direktur Di kurang mengerti. Ketua Shin menjelaskan, Dokter pada umumnya hanya merawat orang yang terluka. Tapi orang itu (baca: Kim Sabu) berusaha membantu agar orang tidak terluka parah. bisa sajakehilangan nyawanya, tapi tetap melompat ke api.

"Perbedaan ini... bisa kau pahami?"

Direktur Do masih tidak mengerti.

"Orang ini adalah Kim Sabu. Nyawaku bisa kupercayakan pada dokter yang sesungguhnya."

Direktur Do memperhatikan layar baik-baik dan akhirnya ia bisa melihat wajah Kim Sabu.

"Benar. Dia orang itu." Jawab Ketua Shin saat Direktur Do menatapnya penuh tanya.


Ada pasien kontraksi jantung di UGD. Dong Joo segera melakukan CPR, ia memerintahkan para perawat untuk memindahkan pasien itu ke ruang hybrid dan bawakan alat kejut jantung segera.


Seo Jung menuju ruang UGD dengan lesu. Perawat Oh bertanya, sudah ketemu Kim Sabu? Seo Jung tidak mendengarnya, ia tidak fokus.

"Kim Sabu bilang apa? Dia mengijinkanmu tetap disini?" Ulang Perawat Oh.

"Itu..."

Kilas balik...


Kim Sabu mengijaikan Seo Jung tetap di RS Doldam selama yang Seo Jung inginkan. Seo Jung sumringah mendengarnya, ia berjanji tidak akan melupakan kesempatan kedua yang Kim Sabu berikan untuknya.

Tapi, Kim Sabu belum selesai, ia belum bisa mengijinkan Seo Jung merawat pasien. Jadi tugas Seo Jung apa?

"Sebagai Orderly (Petugas RS yang bekerja dibawah arahan seorang perawat)."

Kim Sabu perlu memastikan apakah Seo Jung layak mengurus pasien atau tidak. Sampai Seo Jung bisa mengendalikan diri sendiri tanpa minum obat.

"Aku minta waktu untuk mempertimbangkan."

Kilas balik selesai...


Perawat Oh membentak, seharusnya Seo Jung langsung menolaknya saja. 

"Begitu ya? Kerja sebagai orderly... "

Tapi tiba-tiba Kim Sabu muncul, kenapa? Seo Jung Tidak mau? Tidak apa-apa, Seo Jung bisa pergi dari RS Doldam kalau begitu.

"Aku tidak bilang tidak mau." Jawab Seo Jung dengan senyum.

Perawat Oh protes, bagaimanapun mempekerjakan Seo Jung sebagai orderly itu keterlaluan.

"Ini adalah penawaran terbaikku pada dokter Yoon, Perawat Oh. Begitu saja!"

Perawat Oh sudah tidak bisa membantu Seo Jung lagi, ia lalu mengikuti Kim Sabu menuju ruang hybrid.


Dong Joo berusaha sekuat tenaga memancing kembali detak jantung pasien. Saat ituperawat Oh dan Kim Sabu datang. Kim Sabu bertanya pada Perawat Oh, kenapa pasien itu?

"Hemopneumothorax (akumulasi darah dan udara dalam rongga pleura) Sisi kanan dan pinggul kanannya terkilir. Saat di dehidrasi Ia mengalami ventricular fibrillasi (Kontraksi bawah jantung)."

3 menit berlalu dan akhirnya, Dong Joo berhasil, detak jantung pasien itu kembali. Barulah Kim Sabu mendekat, katanya Dong Joo mau keluar, Kenapa masih disana?

"Aku menganggapnya sebagai pasien terakhirku di rumah sakit Doldam." Jawab Dong Joo. 

Kim Sabu bertanya pada Dong Joo hasil CT-scan. DOng Joo menjawab kalau ada dislokasi pinggung. Kim Sabu balik bertanya, apa Dong Joo pernah mengatasi dislokasi pinggul?

"Tidak.  Tapi aku tahu caranya. Mau aku lakukan?"


Kim Sabu lalu meminta Perawat Park untuk membawakan seprai. Ia menggunakan itu untuk mengembalikan dislokasi pinggul pasien dan ia berhasil membuat Dong Joo keheranan.

Dong Joo bertanya, Kim Sabu itu yang mana, dokter yang baik atau yang terbaik?


Semua orang menatap Dong Joo termasuk Kim Sabu.


Seo Jung frustasi, ia jongkok di dekat meja UGD dan melihat tas dan mantel terselip di sana. Ia mengambilnya, ia ingin menanyakan milik siapa itu tapi kemudian name-tag Dong Joo terjatuh besertabuku catatannya.

Seo Jung melihatnya dan ada foto terselip di buku itu, Seo Jung pun mengambilnya. 


Dong Joo hanya ingin mendengar langsung dari Kim Sabu, Kim Sabu adalah dokter baik, atau dokter terbaik?

"Jika pasien yang berbaring ini memilih, menurutmu dia memilih yang mana?" Kim Sabu balik bertanya.

"Dokter terbaik/hebat."

"Salah! Dia mau dokter yang bisa menyembuhkan. Yang paling dibutuhkan pasien ini adalah ahli bedah ortopedi yang dapat mengobati patah tulang. Jadi aku akan lakukan apapun agar bisa melakukan yang terbaik buat dia. Apa itu sudah cukup?"


Kim Sabumelanjutkan, Dong Joo bisa menyalahkan sistem dunia ini.  bisa salahkan semua orang yang merusak dunia ini. Tak masalah! Tapi tidak ada yang akan berubah jika Dong Joo berusaha keras menyalahkan segalanya. Jika begitu... tidak ada orang yang akan mengingat nama Dong Joo.

"Kalau kau mau menang, jadilah dokter yang mau melayani. Berhenti menyalahkan mereka dan balas mereka dengan kemampuanmu. Selama kau tidak berubah, tidak ada yang akan berubah. Mengerti?"

Dong Joo teringat kata dokter Bu yang dulu merawatnya setelah ia mengamuk di UGD.

"Selama kau tidak berubah, tidak ada yang akan berubah."

matanya berkaca-kaca menatap Kim Sabu. Kim Sabu pergi, ia akan biarkan DOng Joo mengatasi pasien terakhirnya di RS Doldam.


Dong Joo menatap Kim Sabu yang menyibak tirai dan ia teringat Dokter Bu yang juga melakukan cara yang sama dahulu.

-= Jangan-jangan... Dia orangnya? =-

Dong Joo lalu berlari mengikuti Kim Sabu. Perawat Park akan menyusulnya tapi Perawat Oh menghalangi, ia yakin Dong Joo akan kembali.


Ternyata di balik foto itu (foto Dong Joo, ayah dan ibunya) tertulis sesauatu.

"Kepada Dokter Bu Yong Joo, Aku Kang Dong Joo,"


Dong Joo memanggil Kim Sabu.   

"Benarkan? Yang waktu itu. Benarkan? Dokter Bu Yong Joo."


Direktur Do langsung mengonfirmasi identitas Kim Sabu pada Direktur Yeo, apa benar dia itu Bu Yong Joo. 

"Entahlah... Aku tidak tahu nama asli Kim Sabu. Aku tidak punya cara memastikannya."

"Yaa sialan kau Woon Young! Jawab pertanyaanku!!"

Direktur Yeo minta maaf tapi ia tidak bisa berkata apapun. Dan langsung menutup telfon.

Direktur Do mengamuk karena Direktur Yeo mengkhianatinya.


"Jawab saya. Dr. Bu Yong Joo. Benar bukan? Iyakan?"

Kim Sabu menegaskan lagi kalau namanua adalah Kim Sabu, tidak punya nama lain.


Dong Joo remaja menulis surat untuk Dr. Bu Yong Joo

"Kepada Dokter Bu Yong Joo. Namaku Kang Dong Joo. Aku, saat besar nanti, ingin menjadi seperti dokter."

Lalu Dong Joo kembali ke RS Geodae untuk menemui Dr. Bu tapi ternyata Dr. Bu sudah pindah dan mereka tidak tahu Dr. Bu pindah kemana.


Lanjutan surat Dong Joo, "Maka... tidak ada orang lain yang akan diperlakukan tidak adil seperti ayahku lagi." 
 

-= Aku yakin. Dokter Bu Yong Joo. Dia orangnya. =-


Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...