Friday, November 11, 2016

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 2 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari SBS

Sinopsis Romantic Doctor, Kim Sabu Episode 2 Part 1


Dong Joo menghubungi Seo Jung tapi nomornya tidak aktif.


Dokter Bu mengobati Seo Jung. Saat Seo Jung sadar, Dokter Bu menjelaskan keadaannya. Dokter Bu meng-gips kaki kanan Seo Jung karena retak, akan membaik dalam 2-3 bulan.

Yang jadi masalah adalah pergelangan tanga Seo Jung. Retak telapak tangan kanan Seo Jung cukup buruk. Ia sudah pasangkan pin secara operasi. Tapi kesembuhannya tidak bisa lebih dari 70%.

"Apakah angulasinya buruk?" tanya Seo Jung.

"Kau pekerja medis?"

"Aku residen tahun ke 4 di ruang UGD."

Dokter Bu mendesah, ia mengelus rambutnya, berpikir. Kesembuhan Seo Jung bisa bervariasi... tapi kasus terburuknya, Seo Jung tidak akan bisa kembali bekerja.



Dong Joo mendatangi warung mandoo milik ibunya, ia minta 2 porsi. Ibunya tanya, kenapa tidak pulang dan makan nasi saja. Dong Joo beralasan kalau ia sedang ingin makan mandoo.

"Apa rumah sakit tidak memberimu makan? Kenapa kau terlihat seperti kurang gizi?"

Dong Joo makan dengan baik. Hanya saja jadwal pekerjaannya di UGD tidak konvensional. Ibunya mengeluh, lalu kenapa Dong Joo ngotot ingin jadi dokter? Ayahnya yang sudah meninggal tidak akan bangkit lagi karena itu. Dan dari semua tempat lain, kenapa Dong Joo memilih kerja di rumah sakit tempat ayahnya meninggal dulu?

"Aku tahu kau putraku, tapi kau ini aneh. Jalani saja hidupmu seperti yang kau inginkan. Bertemu dengan teman dan pacaran. Hmm?"

Dong Joo tidak menjawabnya membuat ibunya frustasi.


-= Oktober 2016 =-

Kepala departemen bedah mengumumkan ada 2 dokter yang bergabung dalam departemen bedah rumah sakit merela, dokter Kang Dong Joo dan dokter Do In Bum.

"Dokter Kang, secara khusus mendapat skor tertinggi dalam ujian spesialis bedah di negara ini. Aku berharap banyak pada kalian berdua. Berusahalah."

Dong Joo mengucapkan terimakasih, ia membungkuk hormat berjanji akan berusaha keras. Dong Joo menghampiri satu per satu semua dokter bedah yang hadir tapi mereka malah mengerumuni dokter Do karena Dokter Do adalah putra direktur rumah sakit. 



-= SEBUAH ERA DISKRIMINASI =-

Direktur Rumah sakit (Yang di episode 1 aku sebut dokter kepala)mengenalkan dokter Go (putranya) kepada pasien VIP. Dong Joo melihat mereka dari jauh.

-= Era dimana hubungan keluarga menentukan posisimu di masyarakat melebihi kemampuanmu. Bahkan rumah sakit, dimana orang harusnya menghargai nyawa manusia dan saling membantu mengatasi kesulitan. Bahkan di abad 21, terdapat hirarki monarki. =-


Dong Joo sekarang akur dengan senior (namanya In Soo). In Soo menjelaskan kalau hanya ada dua cara, lahir kembali menjadi putra Direktur. Atau, menyelamatkan pasien super VIP dari kematian.

"Tidak mungkin mereka memberikan aku pasien VIP." Keluh Dong Joo.

In Soo membenarkan, Tidak akan mungkin. Itu sebabnya tidak ada yang akan berubah disana. Dong Joo pamit karena ada operasi 30 menit lagi.

"Lagi? Yaa, apa kau tidak bekerja terlalu keras?"

Dong Joo tidak menjawabnya, ia bangkit hendak bersiap tapi kemudian seorang mengabari kalau ia dipanggil direktur sekarang.


Dong Joo ada di ruang direktur Do tapi yang menjelaskan bukan direktur Go sendiri melainkan dokter kepala departemen bedah. Mereka baru saja menjadwalkan Dong Joo untuk mengoperasi pasien VIP.  anggota parlemen Go Man Suk, mantan juru bicara dalam Dewan Nasional.

Tanpa pikir panjang Dong Joo menolak dengan alasan kalau ia ada jadwal operasi hari ini. Kepala Dep. tidak enak dengan direktur, kan Dong Joo bisa mengatur ulang jadwal operasinya! Apa Dong Joo tahu artinya diberi pasien VIP?

"Pasti kasus pasien istimewa. Anda mungkin butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam jika ada masalah. Dan aku adalah target termudah. Bukan begitu?"

Kepala Dep. Membentaknya, Dong Joo tetep bersikeras untuk mengoperasi pasiennya semula karena bisa bahaya jika operasinya ditunda.


Dong Joo pamit pergi tapi Direktur menanyainya, kenapa Dong Joo menjadi dokter? Dong Joo belajar seperti orang gila, artinya Dong Joo ingin jadi orang sukses. Kalau begitu ambil kesempatan ini.

"Waktu itu, anak yang mengamuk di ruang IGD... itu kau bukan?"

Dong Joo terkejut karena Direktur Do masih mengingatnya. Direktur Do membenarkan Kasus pasien ini memang sulit seperti kata Dong Joo. HCC Rupture [Pecah karsinoma hepatoseluler/sejenis kanker hati]

"Ia hanya punya 30% kemungkinan selamat dalam operasi.  Tapi, kau perlu mengambil resiko jika ingin punya kesempatan. Apakah kau datang kemari menantangku tanpa ingin mengambil resiko sedikitpun? Hmm?"

Dong Joo teringat kata-kata Dokter Bu "Jika ingin balas dendam, jadilah lebih baik daripada mereka."


Dong Joo memilih untuk melakukan operasi pada pasien VIP dan menunda operasi pasiennya sendiri. Wali pasien bertanya, apa ada masalah?

"Bagaimanapun, aku harus buktikan kemampuanku." Batin Dong Joo.

Dong Joo beralasan akan memantau perkembangan pasien dalam beberapa hari dan menjadwalkan ulang operasinya. Maaf.

"Dokter! Ayahku tidak apa-apa, bukan?"

"Ya tidak apa-apa."

"Aku pasti, akan lebih baik dibandingkan orang-orang itu. Akan aku buktikan."


Dong Joo mulai membedah pasien VIP dan ada masalah. Sesaat setelah Dong Joo membedah peryt pasien terjadi pendarahan hebat. Dong Joo melakukan yang terbaik tapi nyawa pasien tetap tidak terselamatkan.

"30 persen kesuksesan apanya? Setelah aku membedahnya, kemungkinannya hanya 5% kemungkinan. Aku sudah berusaha, tapi... Aku gagal."

Sialnya, operasinya disaksikan oleh semua petinggi rumah sakit. Setelah dokter mengumumkan waktu kematian pasien, para petinggi meninggalkan ruang operasi.


Kematian Mantan Juru Bicara Dewan Nasional Anggota Parlemen Go Man Suk disiarkan di berita TV. Dong Joo mendapat pemberitahuan pemindahan dari kepala Dep.

-= PERINTAH PEMINDAHAN: RUMAH SAKIT  DOLDAM, GANGWON-DO, JUNGSUN, BEDAH UMUM =-

Dong Joo baru mendengar nama rumah sakit itu. Kepala Dep. menjelaskan kalau itu rumah sakit kecil di daerah Jungsun. Ia akan menelpon Dong Joo saat masalah ini mereda. Jadi jangan bertindak konyol dan diam saja disana. Anggap sajasebagai liburan.

"Dengan kata lain, habislah aku."


Dong Joo menuju rumah sakit baru-nya. Melewati gunung dengan jalan berkelok, Ia bertanya-tanya tempat apa itu?


Akhirnya ia sampai. Dari dalam mobil ia melihat gedung rumah sakit yang keadaannya parah sekali, susananya horor kalau menurutku. 

Dari dalam seseorang melihat keluar, ia melihat mobil Dong Joo berhenti di depan rumah sakit mereka.


Ibu Dong Joo menelfon tapi DOng Joo sengaja mengabaikannya. Dong Joo memundurkan mobilnya mau putar balik tapi malah menabrak sesuatu. Ia hanya memerisanya dengan menurunkan kaca mobil, setelah melihat kalau yang ditabraknya tidak penting ia menjalankan mobilnya agar bisa cepat-cepat pergi dari sana.


Seorang dokter (suaranya seperti Dokter Yoon Seo jung) menghampiri orang yang melihat Dong Joo dari dalam, ia bertanya sedang apa orang iru.

"Aku pikir ada tamu, ternyata pergi. Mungkin dia salah belok?" Jawab Orang itu lalu pergi.

Dokter tadi menuju posisi yang ditinggalkan orang itu, ia menyibak tirai untuk melihat keluar. Yep, dokter itu adalah Seo Jung.


Dong Joo terus menjalankan mobilnya, ia sampai di pusat kota itu, disana banyak kasino-kasino besar.

Ibu Dong Joo mengiriminya pesan,

"Dong Joo, bagaimana? Apa Jungsan tidak ada masalah? Aku yakin kau sibuk beradaptasi di tempat baru tapi jangan lupa menelponku kalau sudah tidak sibuk lagi. Ibu penasaran. Jangan lupa makan 3x sehari."

Dong Joo mampir di salah satu-nya, ia minum-minum disana. Dong Joo mengeluarkan surat pemindahannya, ia membacanya dengan kesal lalu menulis surat pengunduran diri di baliknya.

Dong Joo menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkannya.


Dokter Bu mengamati semua pengunjung, termasuk Dong Joo dan seorang pengunjung gemuk yang sedang sibuk makan di samping Dong Joo.

Dong Joo melanjutkan menulis surat pengunduran dirimua dengan tangisan,

"Aku, Ahli Bedah Kang Dong Joo Mulai hari ini mengundurkan diri... "


Pengunjung gemuk tadi tersedak, ia hendak minta bantuan Dong Joo tapi tak bisa meraih Dong Joo hingga kahirnya terjatuh tak sadarkan diri. Pengunjung yang lain datang berkerumun.

Dong Joo meminta seorang bartender untuk menghubungi ambulance dan ia menolong pengunjung itu, lalu pekerja kafe datang. Dong Joo mita diambilkan alat otomatis pacu jantung dan kebetulan mereka memilikinya.

Sembari menunggu pekerja itu kembali, Dong Joo melakukan CPR untuk pengunjung itu. 


Dokter Bu mendekat, ia mengambil surat pengunduran diri Dong Joo yang belum selesai, ia membalik kertas itu dan membacanya lalu memasukkannya ke dalam kantong.


Pekerja itu kembali dengan membawa alat yang diminta Dong Joo. Dong Joo menyuruhnya melakukan CPR tapi si pekerja lupa caranya, Dong Joo mengajarinya.

Dong Joo akan menyalakan alat itu tapi Dokter Bu menendang alat itu. Dong Joo marah,

"Apa yang kau lakukan? Tidak lihat aku sedang berusaha menolong orang?!"

Dong Joo mengambil kembali alat itu tapi Dokter Bu malah menginjaknya.

"Orang ini gila? Singkirkan kakimu! Kalau orang ini mati bagaimana?!"

"Kau mau membunuh orang ini? Berhenti melakukan hal sia-sia, cepat berdirikan dia."

Dong Joo melarang si pekerja berhenti melakukan CPR. Dokter Bu membentak pekerja itu untuk melaksanakan perintahnya.


Dong Joo berdiri, ia menunjukkan name tag identitasnya bahwa ia dokter di rumah sakit Geosan. Jika berhenti melakukan CPR maka pengunjung itu akan mati. Dokter Bu merebut name tag Dong Joo,

"Kalau mau jadi dokter jangan minum-minum. Kalau kau mabuk, jangan tawarkan pertolongan. Ini sebabnya kau dipindahkan kerumah sakit di dusun."

Setelah mengatakannya Dokter Bu membuang name tag Dong Joo, ia menyuruh si pekerja untuk mendirikan pengunjung itu jika tidak ingin membawa keluar mayat dari sana.

Dong Joo geram, ia menghalagi Dokter Bu yang akan bertindak. Ia mempertanyakan tanggung jawab Dokter Bu jika sampai ada apa-apa dengan pengunjung itu.

"Kalau dia selamat bagaimana?" Tantang Dokter Bu.

"Itu tidak mungkin, aku pertaruhkan nyawaku."

"Oke. Setuju."

Kemudian Dokter Bu meendorong Dong Joo menjauh hingga menabrak kursi. Lalu menyuruh pekerja untuk melakukan perintahnya.


"Berdirikan yang benar."

Dokter Bu menekan perut pengunjung itu sambil mengatakan apa yang dilakukannya saat ini, "Ini adalah xiphoid process (segmen ketiga dan terakhir tulang dada). Tarik bagian itu kebawah perlahan dan pelan-pelan tekan. Kemudian..."

Pengunjung itu menembakkan potongan sosis dari dalam mulutnya lalu ia batuk-batuk. Dokter Kim menepuk-nepuk punggung orang itu, makanya kalau makan kunyah baik-baik!

"Terima kasih! Terima..." Ucap pengunjung itu di sela batuknya.


Dokter Bu lalu membawa Dong Joo ke dapur. Ia meletakkan tatakan di meja dapur restaurant. Mengeluarkan pena dan melingkari pergelangan tangan kanan Dong Joo.

Dong Joo berdecak, Sedang apa? Pertanyaan yang sama juga diajukan oleh kepala koki.

"Pinjamkan aku pisau. Anak-anak, tolong pegangkan ini?" Jawab Dokter Bu.


Dengan patuh para koki memegangi Dong Joo dan meletakkan tangan kanan Dong Joo di tatakan. Koki itu tubuhnya gede-gede macam gengster gitu.

Dokter Bu lalu memilih pisau, ia menjelaskan kalau Dong Joo mempertaruhkan nyawanya, tapi kalah.

"Hei, sepertinya candaanmu sudah keterlaluan." Ujar Dong Joo.

Dokter Bu menetapkan pilihannya pada satu pisau. Ia menegaskan kalau ia sungguh-sungguh dan Dong Joo harus membayar taruhannya.

Dokter Bu mengecek ketajaman pisau itu tapi menurutnya tidak sesuai. Kepala koki menjawab kalau ia lebih suka menggunakan tenaga daripada mengasah pisau.

"Pantas saja pisaumu menjadi tumpul."

Lalu Dokter Bu mengasah pisau itu. Ia harus menggunakan pisau yang tajam untuk mendapatkan potongan bagus. 

"Pastikan jangan terlalu banyak cipratan darah. Kau tahu sulit sekali membersihkan perbuatanmu hari itu?"


Mendengar itu, Dong Joo panik. Dokter Bu selesai mengasah pisau. Dong Joo memastikan sekali lagi, apa benar Dokter Kim akan memotong tangannya.

"Lelaki harusnya menepati perkataannya.  Itu baru namanya laki-laki." Jawab Dokter Bu.

Dokter Bu lalu meletakkan punggung pisau di atas lengan Dong Joo. Dong Joo makin panik, ia bertanya, siapa dokter Bu sebenarnya?! Preman kah?!

"Yeah, Aku ahli dalam menggunakan pisau."

Dong Joo menronta minta dilepaskan. Dokter Bu menyuruhnya rileks, mungkin sedikit sakit tapi sebentar lagi selesai.

Dokter Bu mengangkat pisaunya, kalau ini ia menghadapkan mata pisau ke arah lengan Dong Joo. Dong Joo mengumpulkan tenanganya untuk melepaskan diri dan ia berhasil, maka ia pun berlari sekencang-kencangnya dari dapur.

Dokter Bu memerintah para koki untuk mengejar Dong Joo. 


Dong Joo kembali ke tempatnya tadi, ia mengambil tas lalu meminta bartender untuk menghubungi polisi. Para koki menemukan Dong Joo. Dong Joo memukul mereka dengan tasnya lalu melarikan diri.

Dong Joo tidak menemukan kunci mobilnya di seluruh sakunya hingga ia harus menumpahkan seluruh isi tasnya dan saat kuncinta terjatuh, ia malah tak sengaja menendangnya ke bawah mobil.

Dong Joo berusaha mengambilnya namun tidak bisa. Ia khawatir para koki akan kembali mengejarnya. Ada taksi lewat dan ia langsung mencegarnya.

Para koki keluar saat ia naik taksi, untung saja waktunya tepat. Para koki tertawa melihat kepanikan Dong Joo. Mereka kemudian tos kemenangan.


Dong Joo kembali ke rumah sakit Doldam.


Dong Joo membuka pintu dan masuk di dalam, di balik meja informasi ada seorang pria. Pria itu berkata kalau mereka sudah tidak menerima pasien lagi.

"Aku bukan datang sebagai pasien."

Kemudian pria itu menyuruh Dong Joo bergeser ke jendela 2 tapi yang melayani dirinya juga. Dong Joo menjelaskan kalau ia adalah dokter Ahli bedah  dari rumah sakit universitas Geosan, Hari ini ia seharusnya mulai kerja di rumah sakit Doldam.

"Apakah kau punya surat kerja? Bisa ditunjukan?"

"Ah, soal itu... hari ini ada masalah, jadi aku menghilangkannya. Jika kau menelpon rumah sakit Geosan... "

Pria itu tidak bisa melakukannya. Sekarang jam 8 malam. Tidak ada yang akan mengangkat telponnya. Untuk memastikannya, Dong Joo harus menunggu besok pagi.

"Ah kalau begitu... Aku buru-buru kemari, jadi belum punya tempat menginap. Apakah, kau bisa membantu soal itu?"

"Maaf, kami hanya menawarkan kebutuhan pada pegawai kami. Aku tidak bisa memberimu tempat menginap tanpa memastikan identitasnya."


Dong Joo terpaksamenginap di sana. Perawat Oh Myung Sim (orang yang melihatnya saat pertama datang) memperhatikannya yang terbaring dibangku.

Dokter Bu membawa mobilDong Joo ke rumah sakit. Ia melewati Dong Joo yang tertidur tapi kemudian kembali lagi dan memotret lengan kanan Dong Joo yang masih ada tandanya.

Cekrik!!!


Dong Joo terbangun di ruang yang tak dikenalinya, setelah memperhatikan sekitar itu ternyata ruang operasi, kemudian petugas administrasi dan dokter Bu datang, mereka tersenyum.

"Tangan kananmu, ada padaku." Ujar Dokter Bu sambil menunjukkan tangan kanan Dong Joo.

"Tiiidaaaaakkk!" Setelah melihat tangan kanannya hilang.


Dong Joo terbangun. Huft! Untung cuma mimpi, ia lega melihat tangan kanannya masih utuh. Seseorang menepuk pundaknya membuatnya kaget.

Dia adalah petugas administrasi, mengabarkan kalau ia sudah bicara dengan rumah sakit, lalu meminta Dong Joo mengikutinya.


"Beliau adalah Kepala Rumah Sakit Doldam." Ucap petugas administrasi memperkenalkan Dong Joo dengan Direktur Yeo Woon Young.

"Kalau mereka mengirim orang, kenapa bukan spesialis penyakit dalam?" Gumam Direktur Yeo karena mendengar penjelasan Dong Jo bahwa ia adalah ahli bedah.

Direktur Yeo menjelaskan, bukannya ada masalah khusus pada Dong Joo. Tapi mereka sudah punya kepala bedah. Ada ahli bedah spesialis juga.

Petugas administrasi menjelaskan kalau rumah sakit mereka menangani segalanya terlepas dari penampilan luarnya. Ada departemen penyakit dalam, departemen bedah, dokter keluarga, bahkan ruang uGD tersendiri.

"Betapa banyak pasien kami, pasti akan membuatmu terkejut." Jelas petugas administrasi dengan lebay.

Tapi sebenarnya rumah sakit itu kosong mlompong, hanya satu-dua pasien yang datang setiap hari. bahkan para pekerja disana malah sibuk googling karena tidak ada kerjaan.

Ada perawat senior Oh Myung Sim dan si unyu perawat Park Eun Tak.


Kemudian petugas admininstrasi memberikan kartu namanya pada Dong Joo, ia kepala Administrasi, Jang Gi Tae. (panggil kepala Jang aja ya!)

Dong Joo menolak kartu itu, ia melarang Direktur Yeo memusingkan dirinya. Ia juga tidak berniat tinggal lama-lama disana. Ia berniat pergi dalam sebulan atau paling lama 2 bulan.

"Kalau aku tidak bisa kembali ke rumah sakit Geosan aku akan mencari rumah sakit lebih besar di Seoul. Menurutku anda sebaiknya tahu soal ini lebih awal."

Direktur Yeo hanya tersnyum. Ia menjawab kalau ia mengerti.


Mendengar cerita Kepala Jang, Perawat Oh heran, apa Dong Joo tidak menganggap rumah sakit mereka?

"Ia tidak akan bertahan seminggu disini. Taruhan 50,000 won."

"Dia tampan, aku lumayan suka padanya." Ujar Perawat Oh.

"3 hari! Dalam 3 hari hal ini akan selesai. Aku taruhan 100,000 won."


Seo Jung datang, ia mengucapkan selamat pagi yang cerah pada semuanya. Hanya perawat Oh yang menanggapinya.

"Kalau tidak cerah, bukan masalah." Ujar Seo Jung karena ia tak ditanggapi oleh kepala Jang. 

Kepala Jang bertanya, waktu Seo Jung di sana tidak lama lagi kan. Perawat Oh menegur, Berhenti usil dengan urusan orang lain.


"Jadi, bagaimana dengan dokter tampan itu? Dia sekarang dimana?"

Kepala Jang mengatakan kalau Dong Joo mau ganti baju, maka ia antarkan ke ruang staf. Mereka baru sadar kalau Seo Jung juga menuju ruang staf saat ini.


Seo Jung akan membuka pintu dengan tangan kanannya tapi tidak jadi, ia memilih menggunakan tangan kirinya.

Dong Joo terkejut melihat Seo Jung ada di depannya.

"Sunbae.."

Begitu pula Seo Jung yang tak kalah terkejutnya melihat Dong Joo.

1 komentar so far

Sepertinya cerita dokter2n ini agak berbeda dr jalan ceritanya.. mdh2n ceritanya menarik n tidak klise seperti drama dokter2n yg lain..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...