Wednesday, December 28, 2016

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 2 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury episode 2 Part 1

Pagi-pagi, Cho Rong dan Joo Ri naik bis. Cho Rong ingin memastikan, mereka melakukan hal yang benar, kan?

Joo Ri mengangguk dan itu membuat Cho Rong yakin.

Pagi-pagi, Cho Rong dan Joo Ri naik bis. Cho Rong ingin memastikan, mereka melakukan hal yang benar, kan?

Joo Ri mengangguk dan itu membuat Cho Rong yakin.
Mereka sampai di depan gerbang rumah Seo Yeon, memencet bel lalu melarikan diri. Ibu Seo Yeon memberi peringatan kalau disana adalah rumah polisi.

Ibu kemudian menyuruh Seo Yeon untuk kembali tidur. Seo Yeon tidak langsung kembali ke kamar karena bel kembali berbunyi dan ia keluar untuk mengecek.
Seo Yeon tak menemukan siapapun hanya surat pengakuan yang ditinggal di gerbang. Seo Yeon celingukan mencari orang yang meninggalkan itu tapi tidak ketemu.

Tak lama kemudian ibunya keluar, Seo Yeon menunjukkan surat itu dan ibunya kemudian membopongnya masuk ke dalam.
Cho Rong dan Joo Ri bisa bernafas lega.

Ibu dan Seo Yeon membicarakan ini dengan ayah.

"Tadinya, aku kira hanya lelucon saja. Tapi bagaimana jika seseorang tahu bahwa kau adalah polisi dan meninggalkannya di sini karena merasa depresi?" Ibu menghawatirkan Seo Yeon.

Seo Yeon hanya mencoba untuk melogiskan semua ini. lalu ia bertanya pada ayahnya, Ayah akan menginvestigasinya, kan? Apa Ayah akan memberitahu pihak sekolah?

"Apa yang harus aku lakukan?"

Ayah melarang Seo Yeon melakukan apapun, ia yang akan mengurusnya. Ibu setuju, mereka tidak perlu terlalu memikirkannya. Seo Yeon tidak bisa karena barang bukti dialamatkan padanya. Lee So Woo dan Choi Woo Hyuk adalah teman sekelasnya!

Ibu membujuk Seo Yeon untuk tidur saja, belakangan ini Seo Yeon kurang tidur. Seo yeon tidak mengindahkan, ia menjelaskan pada ayah kalau tulisan itu pernah diunggah di halaman sekolah.

"Mungkin kita bisa melacak IP-nya."

"Seo Yeon!"

"Atau... Mungkin aku melewatkan sesuatu saat menemukan jasadnya."

Ayah kembali menegur Seo Yeon, tak usah memikirkan hal ini lagi. Ibu kembali membenarkan dan meminta Seo Yeon percaya saja pada Ibu dan Ayah. Barulah Seo Yeon mengerti dan mau ke kamar.
Dikamar, Seo Yeon kembali membaca komentar anonim itu dan menghubungkannya dengan surat pengakuan yang diterimanya pagi tadi.

"Kenapa surat ini dikirimkan padaku?" tanya Seo Yeon.
Ayah Seo Yeon datang kesekolah, beliau menunjukkan surat yang dikirim untuk Seo Yeon pada pak Kepsek. Juga mengatakan kalau tulisan itu juga diunggah di internet.

"Ya. Sejujurnya, kami sudah bersiap bahwa rumor semacam itu akan menyebar ke luar sekolah melalui SNS." Jawab Pak kepsek.

Pak Wakepsek menambahi, "Tapi... Anak-anak jaman sekarang memang suka melakukan hal yang aneh. Mayoritas dari mereka melepaskan stres dengan mengunggah sesuatu di internet. Sebab itu, kami mengira postingan sebelumnya diunggah para murid akibat merasa kehilangan teman mereka saja."

Kemudian Pak Kepsek minta maaf karena Seo Yeon pasti syok menerima surat itu, kejadian ini diakibatkan karena ia kurang hati-hati.
Ayah Seo Yeon menyimpulkan, jadi Pak Kepsek ikut andil membiarkan semua ini menyebar.Pak Kepsek dan Wakepsek saling berpandangan, kemudian Detektif Oh datang. Setelah dipersilahkan duduk, Detektif Oh mengatakan kalau ia dan Ayah Seo Yeon berencana untuk menginvestigasi lebih dalam dengan dugaan kasus ini merupakan pembunuhan.

Ibu Kesiswaan menyela tak suka, menurutnya para detektif terlalu jauh menanggapi permainan anak-anak.

Ayah Seo Yeon menegaskan, Meskipun begitu, di surat itu tertulis bahwa orang itu menyaksikan sendiri adegan pembunuhannya. Jadi mereka tidak bisa menyepelekannya begitu saja.

"Karena informasi baru sudah diterima, polisi bertanggung-jawab untuk menginvestigasi kasus lebih dalam."

Pak Kepsek mengerti posisi Ayah Seo Yeon tapi pihak sekolah juga memiliki tanggung jawab atas keamanan
murid-murid! Jika polisi membuat pergerakan akibat surat itu, hal itu dapat membawa dampak buruk bagi murid-murid yang disebutkan dalam surat ini. Jadi...

"Kalau begitu, alasan untuk menemukan penulis surat ini jadi lebih besar. Awalnya, ini ditulis melalui komentar di internet. Tapi sekarang, sebuah surat dikirim secara pribadi pada salah satu murid yang orang tuanya merupakan detektif penanggung-jawab kasus. Artinya, hal semacam ini akan terus berlanjut sampai adanya respon yang nyata." Potong Detektif Oh.

Ayah Seo Yeon menambahi, Jika itu terjadi, sulit bagi mereka untuk mengendalikan situasi.

Pak Kepsek akhirnya mendesah dan bertanya baiknya yang harus mereka lakukan.
Saat ayahnya pulang, beliau mengatakan akan diadakan konseling psikologis Untuk kelasnya. Seo Yeon bertanya, Apakah itu konseling psikologis sungguhan? Atau Ayah hanya mencoba mendapatkan informasi dari para murid?

"Lihat saja nanti." Jawab Ayah,

Ibu merasa aneh, tidak biasanya Seo Yeon bersikap seperti ini saat ayah sedang bekerja. Apa lebih baik ibu meminta ayah untuk melepaskan saja kasusnya?

"Tidak. Aku rasa, mereka akan memulai lagi investigasinya."

Lalu Seo Yeon bertanya pada Ayah, tidak ada orang lain yang mendapatkan surat itu? Apa hanya dirinya?

"Sejauh ini, iya."

"Polisi? Sekolah? Murid lain?"

Ayah mengangguk. Seo Yeon bertanya-tanya, kenapa surat itu dikirim padanya. Ayah menebak kalau yang mengirim tahu jika ayah Seo Yeon seorang detektif.

"Berapa orang yang mengetahui hal itu di kelasmu?"

Seo Yeon hanya mengatakannya pada teman-teman dekatnya. Tapi... Sehari setelah rapat wali murid rumor menyebar bahwa ia adalah puteri seorang petugas polisi! (sambil melirik ibu).

Ibu mencari-cari alasan untuk bisa kabur dari sana.
Setelah hanya berdua, Ayah bertanya, Apakah ada yang Seo Yeon curigai? Mungkin seseorang yang tidak akur dengan Choi Woo Hyuk.

"Kalau itu, ada banyak. Julukan si Woo Hyuk adalah "Tiran" (diktator). Di sekolah, tidak ada yang menyukai dia sama sekali. Tapi kenapa? Ayah mengira seseorang yang tidak menyukai dia mengirim surat itu?"

"Tidak ada komentar. Ayah harus istirahat. Kau belajar sana!"

Seo Yeon menghentikan ayah yang hendak masuk kamar, surat itu ditujukan hanya untuknya, bukakah itu artinya... siapapun saksi itu, memercayai dan meminta bantuannya? Untuk mengungkapkan kebenarannya?

Ayah mendekat dan memegang pundak Seo Yeon. Ia menyuruh Seo Yeon untuk membiarkan orang dewasa saja yang mengurusnya, Polisi yang akan melakukannya.

Seo Yeon mengangguk mengerti.
Reporter Park sedang mengetik sesuatu saat juniornya membawa surat kaleng yang situjukan ke tim mereka. Itu adalah surat saksi yang dikirim ke Seo Yeon serta surat yang ditulis tangan.

Reporter Park tampak tertarik dengan surat itu.
Seo Yeon akan berangkat, tak disangkanya ternyata Joon Young menunggunya di depan gerbang rumahnya. Tapi Joon Young gengsi, ia mengaku kalau tadi hanya lewat saja trus mampir. 

Seo Yeon menyinggung gaya rambut Joon Young yang berbeda, Joon Young lalu merusak gaya rambut barunya dan mengembalikannya kesemula.

"Aku rasa, ini kelihatan lebih baik." Lanjut Seo Yeon sambil tersenyum tapi Bagaimanapun juga, ia berterima kasih karena Joon Young sudah datang. Ia senang karena tidak akan bosan selama perjalanan ke sekolah.
"Aku kan bukan orang yang menyenangkan." Balas Joon Young.

"Tidak masalah, aku juga sama. Orang-orang hanya merasa aku menarik karena aku cantik."

Joon Young tak membalasnya malah mendahului jalan dan mengajak bergegas. Seo Yeon panik, ia menegaskan kalau ia hanya bercanda dan menghentikan Joon Young.

Saat Joon Young berhenti, Seo Yeon malah jalan mendahuluinya. Joon Young lalu memanggilnya untuk jalan bersama.
Sesi konseling psikologis pun dimulai, para siswa dipanggil satu persatu untuk masuk ruang konseing. Saat giliran Cho Rong, Joo Ri memastikan agar Cho Rong melakukan yang terbaik.

Cho Rong mengangguk mengerti tapi Joo Ri masih kelihatan cemas.
Joon Young selesai konseling psikologis. Yoo Jin heboh memberondongnya dengan banyak pertanyaan, Bagaimana? Apakah menakutkan?  Kau gugup? Bagaimana tampangnya? Apa dia tampan? Kelihatan pintar? Dia mirip seseorang? Salah satu aktor terkenal?

Yoo Jin langsung kecewa saat Joon Young bilang kalau Konselornya itu wanita.

Soo Hee merasa ada yang aneh, kenapa mereka butuh konseling psikologis segala. Terlebih, sekolah mengumpulkan mereka di tengah liburan begini!

"Sudah diberitahukan, itu untuk mengatasi trauma yang mungkin timbul akibat kasus itu." jawab Yoo Jin.
Soo Hee menebak kalau semua itu cuma alasan saja. Ia rasa, detektif mencoba menggali informasi dari mereka. Joo Ri semakin gelisah mendengarnya, lalu Seung Hyun bergabung dan malah bicara ngaco,

"Aku, aku! Kurasa aku tahu. Mungkin, salah satu dari kita adalah pelaku kejahatan! Pasti... Aku orangnya, Choi Seung-hyun! Kejahatan karena membuat hati para gadis terbakar! Apa kau akan menangkapku?"

Soo Hee bertanya, apa salah satu anggota keluarga atau kerabat Seung Hyun bekerja di bidang hukum? Seung Hyun balik bertanya, kenapa Soo Hee tiba-tiba tanya itu padanya?

"Karena hari ini aku akan menghajarmu!" Kesal Soo Hee dengan suara agak keras dan Yoo Jin juga ikut-ikutan.
Seo Yeon hanya tersenyum melihat kelakuan teman-temannya itu. Sementara Min Suk memotresnya karena membiarkan kelas menjadi ribut.

"Dia itu selalu saja bikin keributan." Lanjut Min Suk.

"Nilaimu lebih rendah dari nilaiku,  kau juga banyak bicara, tahu!" Balas Seo Yeon.

Seung Hyun bertepuk tangan dengan reaksi Seo Yeon itu, ia puas karena Min Suk akhirnya kalah telak. Soo Hee makin kesal dan mencubit lengan Seung Hyun.
Seo Yeon menatap bangku kosong Cho Rong tapi tak lama. Joo Ri menyadari Seo Yeon menatap bangku itu, ia menatap balik tapi Seo Yeon sudah mengalihkan pandangannya.

Detektif Oh menyuguhkan kue pada Cho Rong. Cho Rong langsung tersenyum lebar karena itu kue kesukaannya yang di jual di pinggir jalan.

Detektif Oh melanjutkan obrolan tentang makanan karena tampaknya Cho Rong sangat menyukainya. Sampai akhirnya Cho Rong minta maaf karena ia jadi kemana-mana.

"Tidak masalah, kok! Aku selalu suka membicarakan tentang tempat makanan lezat! Tapi, dengan siapa kau biasanya pergi makan? Pacar?"

Cho Rong mengelaknya, ia ke sana bersama Joo Ri teman sekelasnya. Joo Ri adalah temannya, tapi dia di level berbeda. Joo Ri sangat tegar, jadi Joo Ri bisa bertahan dalam situasi apa pun. Joo Ri juga sangat sensitif.

Detektif Oh menebak pasti Cho Rong bersahabat dekat dengan Joo Ri, melihat Cho Rong begitu menghargai Joo Ri. Cho Rong menggeleng, Joo Ri lebih baik lagi padanya.

Detektif Oh mencatat semua itu, Sekarang, ia akan menanyakan beberapa pertanyaan formal yang tidak biasa. Cho Rong mengangguk mengerti.
Joo Ri menunggu kembalinya Cho Rong di tangga. Saat Cho Rong terlihat, Joo Ri buru-buru menghampirinya,

"Apa yang kau katakan padanya? Tidak ada kesalahan, kan? Katakan padaku semua yang kau ingat!"

Cho Rong tersenyum, Joo Ri tak perlu khawatir karena detektif sangat baik. Joo Ri terkejut mendengar kata detektif.

"Apa dia detektif penanggung-jawab kasus Lee So Woo? Yang datang saat mayatnya ditemukan?" tanya Joo Ri.

"Aku tidak yakin. Aku kurang pintar mengingat wajah orang."

Joo Ri kesal "Jadi, apa sebenarnya yang bisa kau lakukan?"

Kemudian Joo Ri dipanggil ibu guru karena saatnya ia masuk.
Joo Ri mengaku pada detektif Oh kalau ia banyak memikirkan tentang Lee So Woo. Mungkin karena insiden itu tidak wajar. Ia mengalami masa sulit karena terus memikirkan hal itu meski ia juga tidak menginginkannya. Makanya, ia merasa lega saat mendengar bahwa konseling psikologis akan diberikan.

"Insiden tidak wajar? Dari segi apa?" Pancing Direktur Oh.

"Aku tidak tahu juga. Hanya saja aku merasa seperti itu. Aku tidak terlalu dekat dengan dia, tapi dia terlihat seperti orang yang baik dan peduli. Kudengar, dia tidak meninggalkan surat perpisahan? Tidak masuk akal seseorang seperti So Woo akan bunuh diri tanpa alasan, tanpa pesan apa pun. Benar, kan?"

"Memang harus bagaimana supaya insiden itu dianggap wajar? Dia kepeleset, begitu? Atau... seseorang mendorong dia sampai jatuh?"

"Entahlah. Aku tidak berpikir sejauh itu, sih. Bagaimana menurutmu, Detektif?"

Detektif Oh menjelaskan kalau ia di sana sebagai konselor, bukan polisi. Tugasnya di sana hanya mendengarkan mereka. Kalau memang begitu, Joo Ri bertanya, kenapa Detektif Oh datang sendirian? Kan Sekolah juga merekrut konselor, Konseling bukanlah tugas polisi.

Detektif Oh tidak menjawab karena alaram berbunyi tanda kalau waktu konseling mereka sudah habis. Joo Ri pamit pergi tapi Detektif Oh menanahannya karena lupa menanyakan sesuatu.

"Apakah ada hal lain yang kau ingat soal So Woo? Siapa yang dekat dengan So Woo, atau yang tidak akur dengan dia?"

"Aku tidak tahu apa-apa! Karena aku tidak terlalu peduli pada murid lain." Jawab Joo Ri terkesan buru-buru.

Detektif Oh mengerti dan mengijinkan Joo Ri keluar.
Sepulang dari konseling, Cho Rong mengajak Joo Ri mampir ke rumahnya makan sesuatu yang lezat dan Joo Ri setuju.

Mereka berbelok menuju arah rumah Cho Rong tapi malah melihat Woo Hyuk CS sedang malakin siswa lain. Cho Rong dan Joo Ri bergerak cepat dengan balik arah tapi terlambat karena Woo Hyuk sudah melihat mereka.
Woo Hyuk CS meninggalkan mangsanya dan mendekati Cho Rong - Joo Ri. Mereka menyindir, apa tidak capek selalu bersama.

Joo Ri kesal dan berbalik menatap Woo Hyuk tajam. Cho Rong mengajak Joo Ri pergi saja tapi Joo Ri tidak beranjak.

Woo Hyuk kesal karena Joo Ri terus menatapnya, ia mendekat dan merampas tas Joo Ri lalu menumpahkan semua isinya ke tanah. Bukan hanya itu, Woo Hyuk juga melemparkan tas kosong Joo Ri ke wajah Joo Ri hingga menimbulkan luka. Cho Rong khawatir karena takut luka itu meninggalkan bekas.

"Sedikit bekas luka tidak masalah. Toh kau selalu kelihatan kotor." Ujar Woo Hyuk sambil memandang Joo Ri lekat-lekat.

Woo Hyuk lalu meludah dan mengajak teman-temannya pergi karena disana bau katanya.
Joo Ri masih terpukau ditempatnya. Cho Rong yang mengambil semua barang-barang Joo Ri dan memasukkannya kembali kedalam tas. ia mengusap airmatanya sambil menggerutui Woo Hyuk yang sangat jahat.

Tiba-tiba seseorang mengulurkan saputangan untuk Joo Ri. Joo Ri mengambilnya. Orang itu jongkok dan membantu Cho Rong mengambili barang Joo Ri, orang itu adalah reporter Park.

Cho Rong berterimakasih atas bantuan reporter Park. Reporter Park mengenali mereka sebagai murid SMA Jeong-guk.

"Tapi... siapa Anda?" tanya Cho Rong.

Reporter Park mengeluarkan kartu namanya dan diterima Joo Ri.
Seo Yeon masuk ruang konsultasi dengan membawa kopi, disana kosong, ia tak sengaja melihat catatan Detektif Oh di meja,

"Lee Joo Ri, Park Cho Rong -> Harus bertemu mereka lagi,  kemungkinannya tinggi"

Detektif Oh masuk, ia mengatakan kalau murid dilarang masuk kesana. Seo Yeon menyodorkan kopi yang ia bawa, menjelaskan kalau gurunya menyuruhnya membawa itu.

Detektif Oh berterimakasih, lalu ia duduk di kursinya. Sebelum Seo Yeon pergi, ia bertanya, Seo yeon tidak melihat catatan dibukunya, kan?

"Tidaklah!" Jawab Seo Yeon bohong.
Setelah keluar ruangan, Seo Yeon bertanya-tanya, Lee Joo Ri? Park Cho Rong? Lalu Seo Yeon menelfon Cho Rong mengajaknya bertemu.

Seo Yeon menunjukkan buku yang dikiranya punya Cho Rong tapi Cho Rong tidak pernah melihat buku itu sebelumnya.

"Benarkah? Ini ada di mejamu. Kurasa milik orang lain, maaf." Jawab Seo Yeon.

Joo Ri sudah merasa curiga mendengarnya. Seo Yeon menyinggung kalau ini kali pertama mereka jalan bertiga, dan ia mengajak keduanya ngobrol.

Dimulai dari Cho Rong, topiknya adalah makanan, dimana Seo Yeon sudah mendatangi restaurant yang Cho Rong rekomendasikan tapi kembali pulang karena antriannya sampai 3 jam.

"Salah juga sih aku ke sana waktu Natal." Lanjut Seo Yeon.

Kemudian Seo Yeon bertanya, apa yang dilakukan Cho Rong saat natal. Cho Rong dengan sangat antusias menjawab kalau ia di rumah bersama keluarganya makan ayam dari layanan pesan antar. Dan juga daging babi! Tradisi Natal di keluarganya adalah makan apa pun yang mereka inginkan! Itu membuatnya sangat bahagia!

"Kedengarannya menyenangkan. Bagaimana denganmu, Joo Ri? Apa yang kau lakukan saat natal?"
Joo Ri malah kesal, apa Seo Yeon pikir cukup dengan dengannya hingga bisa menginterogasinya? Seo Yeon menjawab kalau mereka hanya ngobrol.

"Tapi biasanya kita tidak pernah melakukannya. Lalu kenapa kau tiba-tiba penasaran dengan yang kulakukan  saat Natal?"

"Aku tidak tahu kalau itu topik yang sensitif buatmu. Aku yang salah."

"Kau adalah murid paling pintar di sekolah! Dan kau bilang itu kesalahan?"

"Maaf karena mengajak kalian bertemu tiba-tiba begini. Sampai jumpa di sekolah."

"Di situlah memang tempatmu. Tempat dimana kau selalu merasa begitu hebat karena semua murid dan guru memujimu. Kau bukan apa-apa saat di luar sekolah. Lihat dirimu! Kau melarikan diri hanya karena aku mengucapkan beberapa kalimat!"

"Lee Joo Ri. Kalau yang kau maksud soal insiden itu..."

Joo Ri tiba-tiba membentak agar Seo Yeon diam. Ia langsung berdiri dan memaksa Cho Rong untuk pergi.
Cho Rong mengikuti Joo Ri, menurutnya ia tidak mengatakan sesuatu yang salah jadi ia meminta Joo Ri tenang.

Joo Ri memutuskan untuk menelfon Reporten Park, ia akan mengatakan semuanya. Ia tidak tidak tahu yang Seo Yeon ketahui, tapi Ko Seo Yeon mencurigai mereka.

"Aku yakin, dia akan memberitahu semua orang soal itu! Maka, aku harus mengambil langkah lebih dulu."

"Tapi belum ada yang pasti di sini, mungkin kita bisa..."

"Diam!"

Joo Ri menghubungi Reporter Park dan bersedia melakukan wawancara itu dengan syarat suara dan wajahnya disamarkan. 

Reporter Park senang mendengarnya dan menutup telfon dengan senyum.
Reporter Park menunggu Ketua Choi untuk meminta pendapat Ketua Choi mengenai kecurigaan yang mengarah pada Woo Hyuk (Putra Ketua Choi).

"Pak Choi! Orang-orang mencurigai Choi Woo Hyuk sebagai pembunuh! Bagaimana pendapat Anda?"

Ketua Choi tak menanggapi awalnya. Tapi setelah mobil berjalan sekitar satu meter, Ketua Choi menghentikan mobil dan keluar.

"Apaan kau ini, sudah tidak waras? Inilah yang kupikirkan, memang kenapa?" Marah Ketua Choi sambil menarik kerah Reporter Park.

Ketua Choi melarang Reporter Park muncul lagi di hadapannya karena lain kali mungkin akan berakhir dengan baik.

Ketua Choi bahkan membanting Reporter Park barulah melanjutkan perjalanannya. Setelah ketua Choi pergi, kameramen muncul, ternyata kejadian tadi direkam secara diam-diam.
Pak Han menerima telfon dari seseorang yang membuatnya kesal karena baru melapor padanya.

"Kau pikir kau bisa menyelesaikannya sendiri secara internal?"

Pak Han kemudian menyuruh si penelfon untuk menerima tawaran wawancara karena Orang-orang akan terus menyebar gosip dan rumor jika si penelfon terus menghindar begini.

"Dan laporkan padaku setiap prosesnya."

Setelah menutup telfon, Pak Han menghubungi salah satu kenalannya dan mengajaknya betemu jika ada waktu.
Seo Yeon makan bersama Soo Hee dan Yoo Jin. Di tengah-tengah pembicaraan, Seo Yeon menanyakan pendapat teman-temannya mengenai Joo Ri dan Cho Rong, mereka berdua kelihatan biasa-biasa saja kan belakangan ini?

Soo Hee menjawab kalau mereka ya selalu sama, Joo Ri mengira dirinya Ratu Lebah, dan Cho Rong sangat baik, mau berteman dengan Joo Ri.

"Jangan begitu, aku kasihan pada Joo Ri." Ujar Yoo Jin.

Seo Yeon heran, kenapa dengan Joo Ri. Yoo Jin menjelaskak kalau Choi Woo Hyuk menjambak rambut Joo Ri, sampai Joo Ri lari sambil menangis dan Choi Woo Hyuk memposting hal-hal buruk tentang Joo
Ri, sampai Joo Ri berhenti menggunakan SNS.

"Aku tidak tahu kalau seburuk itu." Gumam Soo Hee.

"Itu karena kau selalu sibuk belajar di kelas tambahan, berkosentrasi pada soal-soal dan materi pelajaran." Jawab Soo Hee.
Yoo Jin jadikehilangan selera makan gara-gara membicarakan Woo Hyuk. Ia harus menyegarkan pikirannya dengan memandangi wajah Ji Hoon, kemudian ia melihat foto Ji Hoon di ponselnya.

Soo Hee heran, kenapa Yoo Jin terus saja memberi julukan Ji Hoon "cowok paling imut di sekolah"?

"Dia suami masa depanku! Namanya Han Ji Hoon. Keahlian : Menjadi imut. Belum diketahui pernah pacaran. Aku mencoba memeriksa profilnya di SNS, tapi dia mengatur privasinya karena terlalu banyak para gadis yang memburunya. Itu sebabnya, aku juga gagal menemukan informasi lebih dalam tentang dia. Dia dari SMP Jeong-guk, dan sekarang juga di SMA Jeong-guk, dia seumuran dengan kita. Saat ini tinggal di Apartemen Monte Vista Apartment, di penthouse-nya." Jelas Yoo Jin.

"Kau menguntit dia, ya?" Tuduh Soo Hee.

"Apa salahnya. Aku kan ensiklopedia hidup dalam hal para cowok imut, itu alasan aku hidup!"

"Wow, kehidupan yang aneh! Bagaimana bisa kau tidak ingat apa pun soal pelajaran,  tapi tahu banyak soal cowok? Pastikan kau mendonasikan otakmu saat kau mati nanti. Bisa jadi bahan penelitian yang luar biasa, tuh!"
Reporter Park datang kesekolah. Pak Kepsek menyambutnya dengan ramah, ia membebaskan Reporter Park untuk bertanya apapun padanya,  juga bisa mendokumentasikan seluruh sudut sekolah, serta boleh mewawancarai semua murid. Ia bisa menunjukkan pada Reporter Park dokumen mengenai Choi Woo Hyuk atau dokumen lain yang Reporter Park inginkan.

"Kedengarannya seolah Anda sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini." Jawab Reporter Park dengan nada menyindir. Muka Kepsek jadi masam, lalu Reporter Park tertawa, mengatakan kalau ia hanya bercanda dan akan mulai mewawancarai Kepsek.

"Tidak masalah, tapi aku kan sudah mengatakan semua yang kuketahui. Mungkin tidak akan banyak membantu."

Reporter Park membantah, ia yakin akan sangat membantu. Reporter Park mengajukan satu pertanyaan penting, kenapa Kepsek merobek dan membuang surat tuduhan itu?
Ibu kesiswaan terkejut, apa maksud Reporter Park dengan menyebut Kepsek merobek dan membuang surat tuduhan?

Reporter Park kemudian menunjukkan surat tuduhan yang datang padanya serta menjelaskan kronologisnya. Pertama, Kepala Sekolah yang menerimanya, tapi membuangnya. Lalu seseorang menemukan dan memberikannya padanya.

Wakepsek dan ibu kesiswaan mengambil surat dengan tulisan tangan, Kepsek mengambil yang diketik, ia terkejut kenapa surat itu... (ada pada Reporter Park).

"Seorang murid membunuh teman sekelasnya, pihak sekolah membungkam para saksi, dan polisi pun mengubur kasus tersebut. Bukankah ini terlalu sempurna? Berkat Anda, ini jadi semakin menarik buatku."

"Ini bohong! tidak tidak pernah menerima surat apa pun!"

"Wow, Anda sungguh mudah diprediksi. Tidak bisakah kau memberi alasan lain saja? Seperti kau sedang mabuk atau lelah karena kasus ini?"

"Tidak, aku sungguh tidak pernah menerimanya, ini bukan alasan!"

"Jadi, Saya minta Anda memikirkannya lagi. Apa mungkin Anda melakukannya saat setengah tidur? Atau jangan-jangan Anda mengidap demensia sampai melupakannya?"

"Reporter Park!"

Reporter Park bertanya, apa sebenarnya yang terjadi pada Lee So Woo?
Ji Hoon menagis dalam hujan melihat lokasi dimana jenazah Soo Woo ditemukan.

Seo Yeon juga menatap lokasi yang sama namun dari tempat yang berbeda.
Seo Yeon membuka ponselnya, ia membaca kembali pesan-pesannya untuk "Penjaga Jeong-guk".

"Penjaga Jeong-guk... berapa lama lagi kau akan diam?"

"Tunjukkan lagi dirimu!"

"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?"

"Aku berhasil meraih nilai lebih tinggi pada ujian kemarin."

"Hari ini, ucapkan selamat padaku!"

"Aku menonton film yang kau rekomendasikan. Apa arti ending-nya?"


Lalu Seo Yeon menulis satu pesan lagi...
Ji Hoon yang menerimanya, pesan itu berisi, "Kenapa Lee So Woo mati?"

Ji Hoon menjawabnya dalam hati kalau itu juga yang ingin ia ketahui.
Detektif Oh menegur Detektif Ko yang pulang lebih awal hari ini. Ia juga mau pulang soalnya ia diberitahu boleh pulang awal hari ini.

"Siarannya jam 11 malam, kan?" Tanya Detektif Ko.

Detektif Oh membenarkan, ia tidak mengira bahwa ada surat lain yang dikirimkan. Ia seharusnya tidak memikirkan soal ini lagi, sih.

"Apa kata pihak sekolah?"

Detektif Oh menjelaskan kalau pihak Yayasan berusaha menghentikannya, tapi reporter itu terkenal akan sifatnya yang keras kepala. Kasus ini juga sangat sensitif.

"Kontennya soal apa?"

Detektif Oh tidak tahu, ia jadi semakin gugup karena ia tidak tahu akan seberapa besar dampaknya nanti.

"Apapun yang terjadi, tetaplah kuat."

"Ya, aku siap."
Ji Hoon pulang ke rumah, ayahnya menyambutnya dengan hangat dan menawari untuk jalan-jalan bersama di luar. Ji Hoon mengatakan kalau di luar sedang hujan deras. Lalu ayahnya mengajak makan di luar saja.

"Aku sudah makan dengan temanku. Maaf, Ayah. Aku mau masuk ke kamar."

Saat ia sudah melangkah ayahnya memanggil, Ji Hoon menengok tapi ayahnya bilang tidak apa-apa dengan menyuguhkan senyum ia menyuruh Ji Hoon untuk istirahat saja.

"Ya, aku akan tidur lebih awal. Selamat malam."
Ji Hoon masuk kamarnya, ia langsung menyalakan TV dan menonton acara Reporter Park.

"Dia suka membaca dan menonton film. Tapi pada tanggal 26 Desember 2016 dia ditemukan telah menjadi mayat, di sekolah tempatnya menimba ilmu. Dia baru berusia 18 tahun, belum cukup mendapatkan pengalaman yang seharusnya ia dapatkan. Apa yang sebenarnya terjadi pada murid SMA ini?"
Seo Yeon dan ayah-Ibunya juga menonton acara yang sama,

"Polisi terlalu cepat menyimpulkan kasus ini sebagai bunuh diri. Pihak sekolah mengumpulkan semua murid dan menggelar upacara pemakaman besar-besaran. Murid yang meninggal itu seolah sudah terlupakan. Tapi, kasus berlanjut di luar dugaan. Sebuah surat berisi pengakuan saksi mata muncul. Surat ini sudah dalam keadaan tersobek-sobek saat dikirim ke stasiun TV kami. Surat ini berisi pengakuan saksi bahwa murid yang meninggal itu sebenarnya dibunuh."

Langsung deh, kolom komentar halaman FB SMA Jeong-guk ramai dengan komentar anak-anak dan Seo Yeon membaca semua itu.
Woo Hyuk sedang main bilyard bersama Dong Hyun dan Sung Min. Kedua temannya memperlihatkan wajah yang aneh, Woo Hyuk heran, kenapa?

Lalu di TV muncullah cerita Reporter Park.

"Tersangka merupakan teman sekelas dari mendiang murid berinisal “Lee” tersebut. Tersangka, “Pelajar Choi,” berkali-kali terlibat kasus kekerasan terhadap murid lain. Beberapa minggu sebelumnya, “Pelajar Choi” terlibat perkelahian hebat dengan “Pelajar Lee”. Sampai kemudian dia meninggal."

Ada juga komentar dari beberapa murid, yang paling mencolok adalah komentar dari Joo Ri dengan suara dan wajah disamarkan,

"Choi sudah terkenal sering memukuli teman sekelasnya. Rumornya, Lee tidak masuk sekolah lagi setelah insiden itu karena ketakutan. Choi tidak akan pernah melepaskan siapa pun yang sudah menjadi targetnya. Tapi pihak sekolah selalu saja melindungi dia. Aku rasa, Choi semakin menjadi-jadi karena itu. Dia itu Iblis."

Woo Hyuk langsung melemparpar tongkat bilyard-nya dan pergi dari sana.
Kepsek pun menonton acara itu, ia kesal saat disebut merobek surat pengakuan yang dikirim padanya, lalu membuangnya ke tempat sampah.

"Dia bahkan mencoba membungkam para saksi."
Sementara itu Joo Ri sangat senang menonton acara itu, ia bahkan hafal isi surat yang ditulisnya dan mengucapkannya bersamaan dengan Reporter Park membaca suratnya.

"Lee So Woo, murid kelas 2 dari SMA Jeong-guk, tidak melakukan bunuh diri. Pada 25 Desember 2016, Choi Woo Hyuk, Lee Sung Min, dan Kim Dong Hyun... membunuh Lee So Woo di atap sekolah. Choi Woo Hyuk mendorong Lee So Woo dari atap. Aku melihatnya dengan jelas. Aku saksi dari insiden ini. Lee So Woo tidak bunuh diri. Lee So Woo, telah dibunuh... oleh Choi Woo Hyuk."





Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon