Wednesday, December 28, 2016

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 2 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury episode 2 Part 2

Joo Ri ditelfon oleh seseorang. Cho Rong keluar rumahnya dengan terburu-buru, ia pamit pada orangtuanya dan berjanji akan segera kembali.

Seo Yeon menelfon Cho Rong tapi tidak ada jawaban, ia lalu mengirim pesan supaya Cho Rong segera menghubunginya setelah melihat pesannya.

Cho Rong pergi menemui Joo Ri, ia menganis. Ia ingin memastikan, benar kan, Joo Ri melihat Woo Hyuk mendorong So Woo?

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu? Aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu kalau aku melihatnya."

"Benar, kan? Kita melakukan hal yang benar, kan?"

"Ya, itu benar. Kau sudah puas sekarang?"

Kalu begitu, Cho Rong mengajak Joo Ri ke kantor polisi dan memberitahu segalanya pada petugas. Fakta bahwa... mereka menulis surat itu dan memberi kesaksian dengan benar.

"Kenapa begitu?"

"Kau sudah melihatnya di TV, kan? Lihat yang terjadi gara-gara surat yang kita tulis! Internet menggila membahasnya. Dan ibuku bilang... Kepala Sekolah dan Detektif penanggung-jawab akan dipecat karenanya. Itu tidak baik!"

Joo Ri membentak, meminta Cho Rong untuk mendengar dengan baik, semua ini bukan karena mereka tapi karena Choi Woo Hyuk membunuh So Woo! Kalau mereka memang melakukan kesalahan, ya mereka layak dipecat. Kenapa juga malah saksi yang harus bertanggung-jawab?

"Tidak... Kali ini kau salah. Kita bersikap seperti pengecut karena kita takut. Sekarang, akibat ulah kita, ada banyak yang menjadi korban. Jadi, ayo kita pergi saja ke kantor polisi sekarang. Kita ceritakan yang sudah terjadi. Oke?"

"Oke. Kita kita ke kantor polisi dan memberi kesaksian.Tunggu, bukan begitu. Kita menulis surat bersama, tapi hanya aku yang menyaksikan insiden itu. Lalu menurutmu bagaimana? Kau pikir Choi Woo Hyuk akan melepaskan aku setelah mengetahuinya? Dia juga akan membunuhku, sama seperti dia membunuh Lee So Woo!"

Cho Rong menenangkan, Joo Ri itu berbeda dengan So Woo, ia yakin polisi akan melindungi saksi penting seperti Joo Ri. Setelah peradilan selesai, ia yakin Woo Hyuk akan dipenjara. Tidak akan ada yang menyakiti Joo Ri!

Joo Ri kembali membentak, Woo Hyuk tidak bakalan dipenjara, Woo Hyuk pasti bisa meloloskan diri dari situasi ini, kemudian membalas dendam padanya!

"Kalau begitu, aku yang akan melindungimu. Ayo kita ke kantor polisi! Aku akan melakukannya, aku akan ke kantor polisi!"
Joo Ri kembali membentak menghentikan Cho Rong, Tidak, bodoh! Cho Rong pikir di dunia macam apa Cho Rong hidup saat ini? Cho Rong kira dunia itu tempat yang begitu baik, sebaik dirinya pada Cho Rong meski Cho Rong bodoh dan gendut? Cho Rong pikir semua orang sangat baik dan polos?

"Dengar baik-baik, Park Cho-rong. Kau tahu berapa banyak orang yang menertawakanmu? Semua cowok tertawa saat kau lari-lari. Mereka melihat perut gendutmu dan menyebutmu "Si Pegulat". Setiap kali kau memakai baju pink yang kau sukai itu, orang-orang menyebutmu "Si babi pink". Begitulah orang-orang yang sebenarnya. Mereka tersenyum di depan, tapi menusuk dari belakang. Mereka suka menghujat, berkata kasar, dan meremehkan siapa pun yang tidak sepadan dengan mereka! Kau pikir bisa melindungiku di dunia seperti ini? Siapa? Kau? Melindungiku? Kau pikir kau siapa?!"

"Aku... aku temanmu, itu sebabnya aku ingin melindungimu."

"Memang kau tahu apa? Aku tidak pernah menganggap seorang idiot sepertimu sebagai temanku. Tidak pernah meski kau mati tepat di hadapanku, sekarang juga. Aku bahkan tidak akan meneteskan air mata sama sekali."

Cho Rong mendorong Joo Ri lalu lari sambil menangis keras, ia mengabaikan Joo Ri yang terus memanggilnya.
Cho Rong terus berlari sambil menangis, saat ia menyebrang, ia tak melihat sehingga sebuah truk menabraknya. Ia pun jatuh tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah.

Joo Ri terkejut melihatnya namun ia malah kabur bukannya melihat keadaan Cho Rong.
Semua orang disekolah membicarakan Woo Hyuk, saat Woo Hyuk berjalan di koridor teman-temannya memotretnya diam-diam namun Woo Hyuk mendengar suara jepretan kamera dan ia marah-marah meminta mereka untuk segera menghapus fotonya.

Teman-teman tidak ada yang mengaku, Woo Hyuk kesal lalu Sung Min menyeretnya menjauh dari teman-teman sambil menyuruhnya untuk tenang.

Detektif Oh kembali ke sekolah, ia menuju ke atap sekolah, dimana So Woo terjatuh dari sana.
Pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk membahas masalah siaran itu. Wakepsek yang menjadi pembicara, ia membantah soal sekolah yang melindungi Woo Hyuk, sekolah hanya ingin melindungi murid-murid, tidak ada hubungannya sekolah sengan kasus Woo Hyuk.

"Bagaimana kami bisa memercayai sekolah ini? Kepala Sekolah sendiri merobek surat dari saksi insiden itu!" tanya salah satu wali murid

"Anda bahkan tidak mempertimbangkan bahwa mendiang murid itu juga bagian dari sekolah ini?" Imbuh yang lain

"Dan, dimana Kepala Sekolah? Kenapa dia tidak menunjukkan batang hidungnya?"
Detektif Ko memperkenalkan diri sebagai seorang detektif juga salah satu orangtua murid,

"Saya sangat memahami kecemasan Anda sekalian. Di sisi lain, saya pun bertanggung-jawab sebagai polisi yang bertugas. Saya berdiri di sini dengan penuh ketulusan. Silahkan ajukan pertanyaan apa pun yang kalian ingin ketahui."

Seorang bertanya mengenai iaran berita mengatakan bahwa polisi menentukan kasus tersebut sebagai bunuh diri hanya dalam waktu sehari. Apa Detektif Ko sungguh menganggapnya kasus bunuh diri dan berkomplot dengan pihak sekolah?

Detektif Oh yang menjawab, semua itu merupakan kesimpulan yang ia ambli selaku detektif penanggung-jawab kasus. Hal itu didasarkan pada bukti-bukti yang ada.

"Penyebab dari kematiannya adalah pendarahan otak,  dan tulangnya juga patah."

"Tapi itu tidak menjamin dia melompat sendiri dari atap! Bisa saja dia didorong jatuh oleh seseorang!"

Detektif Oh menjelaskan kalau Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari jasadnya dan tidak ada bukti keberadaan si pembunuh di atap.

"Kau tidak memeriksanya dengan benar, kan? Mana kami tahu kalau kau mungkin ada hubungan dengan pelaku?" Tuduh salah satu wali murid.

Para orang tua yang lain menyimpulkan kalau tuduhan wali murid itu benar.

Detektif Ko mengambil alih, itu tidak ditayangkan di TV, tapi... surat tuduhan itu tidak hanya dikirim pada Kepala Sekolah. Polisi juga menerima surat itu, dan mereka pun memulai investigasi kembali bersama pihak sekolah. Mereka hanya tidak dapat melakukannya secara terbuka karena berusaha untuk berhati-hati. Mereka tidak mengabaikan atau diam saja atas kesaksian tersebut. Hal ini tertulis dengan jelas dalam catatan investigasi.

"Saya berjanji baha kami akan melakukan investigasi ulang tanpa keraguan apa pun. Jadi, saya minta Anda sekalian berhenti bersikap agresif akibat pengakuan tanpa bukti tersebut."
Yoo Jin dan Soo Hee mendapat kabar soal Cho Rong, mereka langsung memberitahu Seo Yeon kalau semalam Cho Rong kecelakaan dan sekarang koma.

"Kejadiannya saat dia mau menemui  Joo Ri. Bagaimana nasib Cho Rong selanjutnya?" Sedih Yoo Jin.

Seo Yeon bertanya, dimana Joo Ri.
Seo yeon ke UKS untuk menemui Joo Ri, tanpa basa basi ia langsung meminta pengakuan Joo Ri bahwa Joo Ri lah yang menulis surat itu.

"Bukan aku, tapi Cho Rong! Dia yang menulisnya. Dia menulis lalu mengirimnya. Dia melakukannya sendirian. Aku tidak tahu apa-apa soal itu. Jadi, jangan ganggu aku!" Elak Joo Ri.

Seo Yeon menasehati, Joo Ri tidak bisa terus jadi pengecut dengan menyalahkan teman yang sedang koma!

"Kau sendiri? Kau senang karena sekarang semuanya disiarkan di TV? Kenapa sebelumnya kau diam saja? Kau tahu betapa ketakutan Cho Rong saat kau mengabaikan surat itu?"

"Apa maksudmu?"

"Polisi, Pihak sekolah, tidak seorangpun yang memihak dia. Bahkan teman yang dia percaya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hipokrat sialan! Dia pasti sangat ketakutan! Itulah sebabnya! Dia sampai meloncat ke depan truk!"

"Jangan bohong."

"Kau itu hipokrat. Itu yang dikatakan Cho Rong. Dia menyebutmu... hipokrat."

Setelah membuat Seo Yeon ketakutan seperti itu, Joo Ri tertawa terbahak. Seo Yeon pun pergu sambil menangis, ia berjalan keluar sekolah.
Joo Young berpapasan dengannya, ia minta maaf karena tadi telat bangun. Seo Yeon melarangnya untuk mengikutinya. Joon Young tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia tetap mengikuti Seo Yeon.

diperlihatkan kilasan-kilasan. Cho Rong koma di rumah sakit. Proses pertemuan dengan wali murid. Dan Joo Ri yang mendorong Cho Rong ke jalan (sampai tertabrak truk). Lalu Joo Ri tertawa ngakak.

Joon Young yang akan bunuh diri dan malam dimana Woo Hyuk mendorong So Woo hingga jatuh, serta Seo Yeon dan Joon Yong yang menemukan jenazah So Woo pagi itu.
Seo Yeon tak sanggup jalan lagi, ia jongkok dan menangis tersedu mengundang perhatian semua orang. Joon Young khawatir,apa gerangan yang terjadi pada Seo yeon.

"Kubilang jangan mengikutiku, pergi sana! Tinggalkan aku sendirian! Atau tutupi aku."

Joon Young memilih untuk menutupi Seo yeon dengan mantelnya.
Di kelas, anak-anak pada meributkan kata-kata Joo Ri bahwa Cho Rong yang menulis surat pengakuan itu dan Joo Ri tidak tahu apa-apa. Tapi mereka tak percaya, pasti Joo Ri mengetahuinya juga.

Min Suk sedang menulis di papan, lalu tiba-tiba ada suara ponsel, ia kesal dan meminta temannya itu untuk menggunakan mode diam selagi di sekolah.

Tepat setelah ia bicara begitu, ponselnya juga berbunyi dan itu membuat teman-temannya menertawainya.
Tak berapa lama kemudian ponsel teman-teman satu kelas berbunyi semua, itu karena Penjaga Jeong-guk memposting sesuatu.

"Sebuah kertas biru yang tertutupi debu tetaplah berwarna biru. Tidak peduli seberapa banyak debu tidak akan bisa mengubah warnanya."

Iya, Ji Hoon yang memposting itu dan teman-teman mengenalnya sebagai "penjaga Jeong-guk" tapi tak ada satupun dari mereka yang tahu kalau itu dirinya.
Joon Young yang menemani Seo Yeong juga melihat postingan itu.

"Penjaga SMA Jeong-guk. Dia kembali." Ujar Joon Young.
Yoo Jin hebaoh, apa arti dari postingan "penjaga Jeong-guk" itu, Bukannya kertas itu akan berubah jadi abu-abu?

Seung Hyun menyahut, berdasarkan sensitifitas seninya itu pengakuan dari seseorang yang kehilangan kepolosan masa remajanya.

"Pikirkan soal warna biru. Bukankah maksudnya, "Kepolosan," kan? Tapi masih ada debu di sana? Itu berarti hatinya telah ternoda. Aku rasa si Penjaga Jeong-guk memiliki kekasih!"

"Aku tidak ingin mengakuinya, sih. Tapi cukup masuk akal! Mungkin dia sedang mengungkapkan cinta pada seseorang!" Tanggap Soo Hee.

"Romantis sekali! Dia membandingkan cinta dengan debu di hatinya!" Imbuh Yoo Jin.

Min Suk menjelaskan kalau itu karya Gi Hyeong Do. Baris terakhir dari puisinya, "Kertas Biru Tertutup Debu."

"Apa gunanya kalian belajar membaca? Cobalah untuk membaca buku sekali-kali."

Yoo Jin menjawab kalau itu tidak penting, artinyalah yang lebih penting! Min Suk kesal, ia mengatakan itu karena penjelasannya sepenuhnya salah,

"Kalian pasti tidak punya sensitifitas soal literatur! Arti sebenarnya itu, "keaslian sesuatu tidak akan berubah hanya berdasarkan situasi". Sikap sok tahumu benar-benar menjengkelkan, sampai kau memercayai arti kekanakan begitu!"

"Kau tidak kehabisan nafas, huh?" Sindir Soo Hee karena Min Suk bicaranya cepat sekali.
Yoo Jin lalu menyinggung soal Seo Yeon yang belum kembali dari UKS sejak tadi. Joon Young mengatakan kalau Seo Yeon pulang lebih awal hari ini karena kurang enak badan.

"Seo Yeon? Pulang ke rumah lebih awal?" Kata Soo Hee dan Yoo Jin tak percaya.
Sepulang sekolah, Soo Hee dan Yoo Jin mampir ke rumah Seo Yeon, mereka khawatir dengan keadaan Seo Yeon tapi Seo Yeon tarnyata baik-baik saja.

Seo Yeon bertanya, apa mereka juga membaca postingan dari penjaga Jeong-guk? Yoo Jin mengiyakan, ia dengar itu kutipan dari sebuah puisi Kalau tidak salah, "Keaslian sesuatu tidak akan berubah mengikuti keadaan."

"Kedengaran seperti dia, kan? Dia benar-benar kembali!"

Soo Hee membenarkan "penjaga Jeong-guk" selalu memposting sesuatu yang membingungkan. Tidak pernah memberi menjabarkan dengan jelas!

"Tidak, si Penjaga itu sangat baik! Dia membantu menemukan dompetku, dia mengoreksi rumor buruk tentang seseorang. Dia juga membantu mendamaikan mereka yang berselisih, juga mengekspos insiden kecurangan itu. Dan... Bagaimanapun juga, dia melakukan banyak hal yang luar biasa!" Elak Yoo Jin.

Seo Yeon menanyakan tanggapan anak-anak mengenai kembalinya "penjaga Jeong-guk" itu. Soo Hee menjelaskan tanggapan Seung Hyun, "Akhirnya sudah kelihatan, Si Penjaga akan membawa kedamaian, Si Penjaga akan menyelesaikan semuanya!". Sementara Penggemar si Penjaga itu menyambut dia kembali dengan euforia. Sekitar 80% respon seperti itu.

"Sisa respon sih mirip si sinis Kim Min Suk. "Dia hanya seorang murid, sama seperti kita, Dia tidak bisa melakukan apa-apa, Dia hanya pintar omong saja." Lanjut Yoo Jin.

Tapi satu yang membuat Soo Hee bertanya, bagaimana mereka bisa yakin "penjaga Jeong-guk" itu sesama murid atau bukan? Tidak ada yang pernah tahu siapa sebenarnya dia!

"Tapi, sekalipun kita tidak tahu apa pun tentang dia... bukankah kalian merasa bersyukur akan keberadaannya? Hanya memikirkan bahwa seseorang seperti dia ada di sekolah kita."

Yoo Jin dan Soo Hee menyorakinya, mereka menuduh Seo Yeon jatuh cinta pada si "penjaga Jeong-guk". Seo Yeon mengelaknya tapi mereka tetap tak percaya dan terus menggodainya.
Bos Reporter Park memanggilnya, dimana disana sudah ada Pak Han. Pak Han mengenalkan dirinya tapi reporter Park menjawab kalau ia sudah mengenal Pak Han.

Tidak mendapat sambutan hangat dari reporter Park Bos menyuruhnya duduk dan mengatakan siapa yang bertanggung-jawab atas surat itu.

"Bos, mana mungkin aku menyerahkan informan penting? Bos akan bertanggung-jawab kalau informan itu menuntut kita?" Tanya Reporter Park sedikit tertawa.

Bos balik bertanya, apa reporter Park mau tanggung jawab kalau stasiun TV mereka dituntut? Reporter Park langsung berubah serius.

Pak Han menjelaskan kalau mereka tidak memiliki niat jahat. Mereka harus mengetahui kebenarannya untuk dapat mendisplinkan staf yang lalai dalam pekerjaan mereka. Mereka membutuhkan informasi itu untuk menindak orang yang tepat.

"Aku meminta bantuanmu, Reporter Park."

Reporter Park mengatakan kalau Pak Han sudah melakukan kesalahan. Ia tidak senaif itu untuk memercayai kata-kata Pak Han. Ia akan menentang siapa pun yang berusaha ikut campur dalam investigasi dengan memanfaatkan dirinya.

"Mereka yang mencoba menekan jurnalis, tidak lebih dari sampah."

Bos mencoba menghentikan reporter Park tapi reporter Park malah pamit keluar. Saat sudah menghadap pintu, Pak Han mengingatkan kalau Reporter Park mungkin akan mendapat masalah. Reporter Park lalu berbalik menatap Pak Han.
Joo Ri mengunjungi Cho Rong, Ia menangis meminta maaf, sungguh minta maaf. Tapi... ia meminta Cho Rong untuk tidak usah bangun,

"Tetaplah... seperti ini dan menanggung beban itu. Kau harus mati agar aku bisa bertahan hidup. Kau akan membiarkan aku hidup, kan? Selamatkan aku, Cho Rong!"
Teman-teman di sekolah membully Joo Ri, mereka tidak mempercayai kata-kata Joo Ri bahwa Cho Rong yang menulis surat itu, bahkan mereka menuduh Joo Ri sebagai penyebab Cho Rong kecelakaan. Mereka terus memojokkan Joo Ri hingga akhirnya Joo Ri syok dan kesakitan.

Seo Yeon melihat Joo Ri kesakitan dan ia mendekatinya.
Di kelas, Seo Yeon menatap bangku kosong Joo Ri dan Cho Rong.

Ibu kesiswaan menjadi wali kelas sementara untuk kelas Seo Yeon karena guru mereka sedang sakit. Ibu kesiswaan menasehati kalau ujian tinggal sebulan lagi jadi sebaiknya mereka fokus.

Seo Yeon bertanya, dimana Joo Ri. Ibu kesiswaan menjelaskan kalau Joo Ri ijin sakit beberapa hari. Itu saja yang perlu mereka ketahui.
Teman-teman Seo Yeon menggunakan situasi ini sebagai candaan seperti game hidup dan mati di SMA Jeong-guk, Para murid menghilang satu demi satu!

"Aku tahu! Bagaimana kalau hanya salah satu dari kita yang bisa bertahan sampai akhir?"

"Pastikan kau memeriksa mejaku saat aku menghilang."

Seo Yeon mendengar itu dan dengan sengaja menutup lokernya keras-keras agar mereka berhenti.
Saat ia berbalik, Joon Young menyodorkan susu pisang untuknya. Lalu mereka bicara di taman. Seo Yeon tak menyangka kalau Joon Young ingat minuman kesukaannya, tapi baguslah, ia selalu menunggu saat untuk bicara dengan Joon Young.

"Lupakan saja saat aku menangis di depanmu. Hal itu tidak pernah terjadi, oke?"

"Kenapa?"

"Apa maksudmu kenapa? Kau harus menerima permintaan seseorang saat menanyakannya langsung padamu!"

"Kau yang menerima surat itu, kan?"
Seo Yeon langsung diam. Joon Young berjanji tidak akan  memberitahu siapa pun. Seo Yeon bertanya, bagaimana Joon Young bisa tahu.

"Di hari kau menangis, aku merasa itu aneh. Kemudian ayahku memberitahu aku setelah rapat wali murid. Ayahku bilang ada murid lain yang menerima surat itu. Aku langsung mengetahuinya. "Pasti Ko Seo Yeon. Pasti itu sebabnya dia kesulitan..."

Seo Yeon membantah, ia tidak pernah merasa kesulitan, kok. Apa ia terlihat lemah di mata Joon Young?

Bukan begitu. Hanya saja... aku merasa... ia memahami Seo Yeon. Seo Yeon tidak melakukan kesalahan apa pun, Seo Yeon hanya diam. Tapi rasanya seolah segala sesuatu di sekitar Seo Yeon hancur lebur, sedangkan Seo Yeon baik-baik saja.

"Aku pikir... kau mungkin merasa seperti itu."

"Bukankah itu berarti kita ini tidak memiliki cukup kesadaran?"
Seo Yeon berjalan sambil menggunakan earphone. Reporter Park memanggilnya tapi tak ada tanggapan hingga reporter Park menepuk pundaknya.

Selanjutnya mereka bicara di bangku. Reporter park tak menyangka kalau Seo Yeon akan langsung menerima permintaannya untuk wawancara.

"Tolong, langsung saja ke intinya."

Reporter Park menjelaskan kalau ia bersiap melakukan investigasi terbuka pada Jeong-guk. Seo Yeon agak tidak setuju, kenapa dengannya? Apa Reporter parl tahu tahu yang terjadi setelah kasus itu disiarkan?

"Tentu saja. Salah satu dari murid yang mengirim surat itu koma, dan yang satunya tidak bisa lagi bicara akibat trauma."

"Anda tidak merasa bersalah sama sekali?"

"Hal itu menyedihkan, tapi kenapa juga aku harus merasa bersalah? Kau pikir aku yang menyebabkan semua ini?"

Seo Yeon menuntuk tanggung jawab reporter Park atas apa yang terjadi pada Cho Rong. Reporter Park meminta Seo Yeon menjelaskan, dari sisi mana ia harus bertanggung jawab.

"Begini yang anak-anak katakan, kan? "Cho Rong melompat ke depan truk karena ketakutan setelah menonton siaran TV. Atau Lee Joo Ri yang mendorong dia? Ayah Choi Woo Hyuk menyewa orang untuk membunuhnya." Tapi... kau tidak perlu memercayai rumor itu. Hal itu dapat menyebabkanmu melewatkan faktor penting dalam realita yang ada."

"Faktor penting apa maksudmu?"

"Kenapa Lee So Woo mati? Itu yang kukatakan selama siaran 60 menit lamanya di TV. Tapi lihat sikap anak-anak di sekolahmu! Mereka tidak peduli tentang sebab kematian So Woo, mereka hanya peduli siapa yang menulis surat itu,  atau kemungkinan Woo Hyuk balas dendam pada saksi. Kau pikir kau punya hal untuk memintaku bertanggung-jawab, padahal aku hanya mencoba mengungkap kebenaran?"
Seo Yeon permisi karena harus belajar. Reporter Park menghentikannya dengan menyebut "Penjaga Jeing-guk", Katanya Penjaga Jeing-guk adalah fokus utama dalam investigasi terbuka ini. Bagaimana?

Seo Yeon berbalik menatap Reporter Park. Reporter Park melanjutkan kalau itu Sebuah kisah yang menarik. Di sekolah ini, dipenuhi dengan anak-anak orang kaya. Ada seorang anonim di SNS yang mengungkapkan hipokrasi dan kekejaman demi melindungi keadilan!

"Tidak menarik sama sekali! Jangan tertarik akan hal itu, dan jangan menginvestigasinya!" Jawab Seo Yeon.

"Seo Yeon. Kenapa kau begitu emosional? Aku ada di pihakmu. Kau memiliki..."

"Jangan pernah berada di pihak ku!"

"Kalau begitu... kau pikir polisi atau pihak sekolah akan memihakmu?"

"Tidak. Sekolah, polisi, juga media! Mereka semua hanya melakukan sesuatu demi keuntungan mereka sendiri. Upacara pemakamanan, konseling, wawancara... tidak satupun dari itu yang dilakukan demi kami!"

"Tentu saja! Begitulah adanya manusia! Melakukan hanya yang menguntungkan mereka!"

"Lalu kenapa? Kenapa kami disuruh tetap diam?"

"Karena itu demi keuntunganmu! Murid SMA. Bukankah di usia kalian masih membutuhkan perlindungan dan bantuan orang dewasa? Apa yang bisa kau lakukan tanpa bantuan orang dewasa?"

"Di kelasku... saat ini ada empat bangku kosong. Apakah itu yang kau sebut perlindungan dan bantuan dari orang dewasa? Kalau begitu, aku akan menolaknya. Aku tidak membutuhkannya."

Reporter Park tahu. Ia juga merasa tahu dan bisa melakukan segalanya saat seusia Seo Yeon dulu. Tapi, itu benar-benar kesalahan. Ya, seperti kata Seo Yeon, sekolah, polisi, dan media...  Mereka semua melakukan yang menguntungkan bagi mereka. Itulah bagaimana semua kebohongan, kesalahpahaman, dan spekulasi ini... semua hal kotor ini menutupi kebenaran, seperti debu di atas kertas biru. Ia tahu betapa memusingkannya semua ini sekarang. Tapi itu tidak berarti Seo Yeon bisa menilai orang dewasa semuanya idiot.

"Kau hanya tahu cara belajar, bicara di belakang orang lain, menekan tombol "suka" di SNS. Hanya itu yang kau tahu?"

"Kenapa... Kenapa kau pikir hanya itu yang aku tahu? Kami juga bisa melakukan hal yang sama. Remaja pun bisa melakukan yang dilakukan orang dewasa!"

"Contohnya?"

"Kau bilang akan menemukan kebenarannya, kan? Kami juga bisa melakukannya. Alasan Lee So Woon meninggal... Kami bisa menemukannya!"


Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...