Wednesday, December 28, 2016

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 3 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury episode 3 Part 1

-- 1 tahun yang lalu --

Ji Hoon dan angggota band-nya tampil di depan anak-anak yang dirawat di rumah sakit.
Setelah selesai, So Woo menegurnya, berbahaya, Di sana rumah sakit dan jika Ji Hoon terus datang kesana suatu saat mungkin ada yang mengenalinya.

"Haruskah aku mengatakannya lebih keras? Jadi semua temanmu bisa mendengarnya. Mau kukatakan lebih keras? Tentang masa lalumu? Pasti akan menarik. Seorang murid populer dari SMA Jeong-guk, melakukan kegiatan suka rela di rumah sakit dimana ia sempat dirawat karena gangguan psikologis. Bagaimana kalau orang-orang sampai mengetahuinya?"

"Lakukan semaumu! Hidupku tidak akan lebih buruk lagi dibanding sekarang. Jadi, sebarkan saja rumornya, melalui surat kaleng atau apa pun, lakukan."
Setelah ketegangan itu, tiba-tiba mereka saling tersenyum dan saling sapa dengan ramah, layaknya teman lama yang baru bertemu kembali.

Ji Hoon melamunkan kala itu hingga ia tidak mendengar ayahnya yang memanggilnya untuk makan sampai ayahnya harus masuk ke kamarnya.

"So Woo... Dia tidak mungkin bunuh diri." Ujarnya.

****
Seo Yeon melamunkan kejadian yang baru-baru ini terjadi di sekolah, dimulai dari kematian So Woo, surat pengekuan itu sampai yang terjadi pada Cho Rong dan Joo Ri. Dan terakhir janjinya pada Reporter Park kalau mereka akan menemukan kebenaran di balik kematian Lee So Woo, dengan tangan mereka sendiri.

Tapi sepertinya ia menyesali kata-katanya itu. Lalu SMS masuk dari Joon Young, SMS laporan yang mengatakan kalau Joon Young sudah sampai rumah dan bersiap tidur.
Seo Yeon kemudian mengajak Joon Young bertemu jika ada waktu. Joon Young excited dan memakai pakaian terbaiknya, tak lupa ngaca dulu sebelum berangkat tapi setelah tiba di tempat janjian..

Ia kecewa karena disana juga ada Yoo Jin, Soo Hee dan Seung Hyun yang sedang makan ceker.

Yoo Jin bertanya, apa ini hari istimewa atau bagaimana? Semua teman sekelas akan datang?

"Tidak, hanya... teman-teman yang cukup akrab saja denganku." Jawab Seo Yeon.

Seung Hyun tersipu, ia tak menyangka Seo Yeon menganggapnya seberharga itu. Yoo Jin meluruskan, tadi Seung Hyun datang karena mencium bau ceker.

"Dia mengundangku dengan aroma ayam ini, bukan dengan suaranya. Aku kan perasa!" Elak Seung Hyun.
Soo Hee tahu pasti terjadi sesuatu pada Seo Yeon, jadi katakan saja. Seo Yeon mengaku kemungkinan ia akan segera memulai kekacauan besar.

"Kau? Kekacauan? Contohnya?" tanya Yoo Jin.

"Tidak perlu kau buat pun, situasi sekarang ini sudah cukup kacau untuk kita semua." Timpal Soo Hee.

"Tidak bisakah kita melewatkan satu hari saja dalam kedamaian?" Imbuh Seung Hyun.

Seo Yeon mengelak, bukan perkelahian atau semacamnya. Hanya saja, ia sudah memutuskan sesuatu. Tapi sekarang masih rahasia, ia bahkan belum merencanakan secara rinci.

"Jangan kuatir, kalian tidak akan terseret di dalamnya."

Soo Hee merasa kalau Seo Yeon meremehkan kesetiaan mereka. Tapi jangan pernah coba-coba! Tidak peduli masalah apa pun yang Seo Yeon timbulkan, mereka berada di pihaknya! Tidak perlu memberitahukan pada mereka sekarang kalau hanya membuat mereka sakit kepala. Tapi Seo Yeon harus menjelaskannya saat Seo Yeon sudah siap, Mereka pasti membantu.

Lalu Soo Hee mengajak mereka semua berjanji di hadapan ceker ayam.
Detektif Oh mendatangi sebuah bar dan bergabung dengan Woo Hyuk, Sung Min dan Dong Hyun. Mereka minum-minum, lalu Detektif Oh menuang minuman mereka ke gelas baru dan meminum semuanya.

"Apalagi sekarang?" Tanya Woo Hyuk.

Detektif Oh ingin tahu, dimana mereka bertiga saat malam Natal. Woo Hyuk kembali menegaskan kalau ia tidak akan menjawabnya tak peduli berapa kalipun Detektif Oh menanyakannya.

"Sudah kubilang padamu kalau aku tidak mengingat hari itu!"

Woo Hyuk tidak ingat apapun tentang malam itu. Detektif Oh beralih pada Sung Min dan Dong Hyun, apa mereka juga tidak ingat?

"Tidak Sama sekali." Jawab Sung Min, sementara Dong Hyun sepertinya ada yang disembunyikan.

Detektif Oh jujur kalau ia tidak mempercayai mereka. Woo Hyuk mengingatkan kalau itu sudah lama, apa detektif Oh juga mengingat semua kegiatannya?

"Aku bukan bertanya tentang kegiatanmu seminggu kemarin, jam berapa kau bangun... atau apa yang kau makan. Bukan hal remeh seperti itu yang kumaksudkan. Baiklah. Tidak perlu memberitahuku yang kau lakukan hari itu, katakan saja siapa yang bersamamu saat itu. Sebutkan seseorang yang melihat keberadaan atau siapa pun yang bersama kalian, di hari insiden itu terjadi."

"Tidak ada. Kami hanya bertiga saja."
Sung Min membenarkan dan meminta persetujuan Dong Hyun. Dong Hyun tak menjawabnya, ia beralasan kalau perutnya sakit, jadi mau ke toilet.

Woo Hyuk tidak mengijinkannya, ia membentak Sung Min untuk duduk. Detektif Oh menegurnya dengan keras.

"Kau pikir kau bisa bersikap sok begini di tempat umum? Memang kau itu siapa, huh?"

Detektif Oh lalu melepaskan Woo Hyuk, dengan tegas ia bertanya, apa yang begitu Woo Hyuk sampai tidak bisa mengatakan padanya hal yang ia lakukan pada tanggal 25 Desember?

Detektif Oh kembali duduk diikuti Dong Hyun, ia mulai melembut. Ia tidak berpikir terlalu jauh, kok. Jadi, Woo Hyuk cukup beritah yang terjadi sebenarnya.

"Woo Hyuk ~ a. Memang kau tidak kesal karena orang-orang mencurigaimu seperti ini?"

Woo Hyuk masih diam saja hingga Detektif Oh kembali meninggikan suaranya, Apa Woo Hyuk tahu situasi yang sedang dihadapinya? Masalahnya adalah Woo Hyuk tidak memiliki alibi. Mereka membutuhkan informasi keberadaan dan kegiatan Woo Hyuk, serta orang yang dapat membuktikan semua itu di hari kematian Lee So Woo.

"Itu yang kau butuhkan untuk membuktikan dirimu tidak bersalah!"

Woo Hyuk menantang, memang detektif Oh punya bukti kalau ia bersalah?! Detektif Oh diam. Woo Hyuk menyimpulkan kalau detektif Oh tidak memiliki bukti itu, jadi ia mengajak teman-temannya pergi.
Dong Hyun sengaja pergi belakangan, ia berbisik pada detektif Oh kalau ia memiliki alibi, malam itu ia tidak bersama mereka dan ia tidak tahu apa yang mereka lakukan malam itu.

Woo Hyuk memanggilnya dan ia pura-pura ditahan oleh Detektif Oh dan bergegas mengikuti Woo Hyuk.
Detektif Ko prihatin pada Detektif Oh, ia menasehati kalau investigasi ulang selalu berat karena harus memulai semuanya dari awal lagi.

"Tidak apa-apa, kok. Saya hanya merasa jengkel karena atasan kita ingin Saya lekas menutup kasus ini."

"Teriaki saja mereka, aku akan mendukungmu."

Dan itu membuat mereka tertawa bersama.
Seorang Ahjumma teriak-teriak minta bertemu Detektif Oh Joo Hyeon. Detektif Oh yang berada dekat dari sana lalu mendekat.

Ahjumma itu adalah ibu Woo Hyuk, ia tak suka Detektif Oh mendesak putranya seperti itu terlebih putranya itu hanya korban dan kasusunya sudah di tutup.

"Sedang dilakukan investigasi ulang untuk kasusnya. Surat tuduhan yang dikirim itu menjadi barang bukti." Jelas Detektif Oh.

Oh.. Ibu Woo Hyuk (Nyonya Choi) mengerti sekarang, jadi ini semua gara-gara surat itu. Kebetulan pengacaranya datang, ia langsung menyuruh pengacaranya untuk menuntut anak yang menulis surat itu.

Nyonya Choi bahkan tak peduli walau pengacara mengusulkan untuk mendiskusikannya dengan ketua Choi dahulu.
Pak Han kedatangan Kepala sekolah yang mengeluhkan kalau semua ini sangat membuatnya marah, ia harus kehilangan posisinya dan menanggung malu, ia mau menuntut mereka yang bertanggung jawab tapi ia menahan diri demi yayasan.

Kepala sekolah bersumpah tidak pernah menerima surat itu. Pak Han mengerti hal itu. Sebelum pergi Pak Kepsek berharap kalau Pak Han segera mengembalikan posisinya.
Seperginya Kepsek, Pak Han menyuruh pengacara Kim untuk masuk ke ruangannya. Ia memberikan amplop yang berisi surat tuduhan yang dikirimkan pada reporter Park.

"Kau lihat tanda posnya, kan? Apakah menurutmu, kau bisa menemukan pengirimnya?"
Seo Yeon, Soo Hee dan Yoo Jin mengobrol di toilet, mereka membahas guru wali kelas mereka yang kembali masuk meskipun masih kelihatan cukup terguncang.

"Aku kasihan pada Guru. Kontrak kerjanya hampir habis dan dia harus menunjukkan performa bagus, jika tetap ingin bekerja. Tapi, masalah justru muncul bertubi-tubi dari kelas kita!" Ujar Soo Hee

"Semua masalah itu harus diselesaikan." Jawab Seo Yeon.

Dan obrolan mereka terganggu dengan pengumuman yang mengharuskan semua siswa masuk ke kelas.
Siswa dikumpulkan untuk medengarkan pidato Kepsek sementara. Intinya membahas rentetan kejadian tahun lalu.

Soo Hee menguap dan Yoo Jin terus bercermin sambil mendengarkan dan itu membuat Ibu Kesiswaan masuk untuk menegur mereka.
Pidato Kepsek belum selesai, Yoo Jin membuka ponselnya, ia menemukan di SNS kalau Joo Ri situntut oleh Ibunya Woo Hyuk karena surat itu.

"Wow, semua anggota keluarga mereka menjijikkan! Putera mereka kemungkinan sudah membunuh seseorang!" Komentar Soo Hee.

Ibu Kesiswaan kembali masuk, ia mengurangi 1 poin Soo Hee karena  berisik saat harusnya meditasi. Ibu Kesiswaan meminta Soo Hee menyebutkan namanya.

"Waktu meditasinya sudah selesai, Bu." bantah Soo Hee.

"Belum. Kurangi dua poin. Nama?"

"Tapi aku bicara karena Anda bertanya, Bu!"

"Kurangi tiga poin. Nama!"

"Kalau aku menyebutkan namaku, apa poinku akan dikurangi lagi?"

Yoo Jin menyuruhnya untuk berhenti,

"Kurangi empat poin. Kau ingin terus begini?"

Seo Yeon membela temannya, Soo Hee bicara karena Ibu kesiswaan terus bertanya. Ibu kesiswaan menutup bukunya, ia menjelaskan kalau ini bukan karena Soo Hee terus bicara, Sekolah berusaha melakukan apa pun yang diperlukan untuk menormalkan situasi. Tapi bukannya membantu, para siswa malah sibuk bergosip!

"Semua ini karena kalian kekanakan, makanya bencana ini terjadi!"

Setelah berteriak-teriak seperti itu, ibu keala sekolah kembali menayakan nama. Tapi yang kena bukan hanya Soo Hee, Yoo Jin dan Seo yeon juga dan poin mereka dikurangi 5 serta harus menulis surat permohonan maaf di ruang guru setelah ini.
Saat ibu kesiswaan akan pergi, Seo Yeon berdiri, ia tidak mengerti maksud kata-kata Ibu Kesiswaan tadi, Kenapa jadi kesalahan mereka sampai sekolah berada  dalam situasi seperti ini?

Ibu kesiswaan emosi, memang salah siapa kalau bukan mereka? Toh semuanya terjadi di kelas mereka!

"Jawab aku! Siapa lagi yang patut disalahkan jika bukan kalian?"

Seo Yeon menjawab, pihak sekolah. Ibu kesiswaan tambah emosi dan mengajak Seo Yeon untuk bicara di luar. Seo Yeon tidak mau, katakan saja di depan teman-teman.

"KAU!!!!" Bentak Ibu kesiswaan.
Ibu walikelas masuk mendengar teriakan itu dan mencoba melerai tapi Ibu Kesiswaan sudah emosi tingakt tinggi.

"Kau mengonsumsi obat yang salah? Atau malah sudah gila? Kalau kau ingin mendengar kata-kata yang baik dan manis, sana keluar dari sekolah ini!"

Tiba-tiba terdengar suara potretan. Ibu Kesiswaan menoleh dan mendapati semua siswa memotret dirinya. Ibu kesiswaan menyuruh mereka berhenti dalam hitungan kelima tapi hal itu malah seperti menyuruh, anak-anak malah tambah semangat memotretnya.

"Kalian semua meremehkan aku? Kalian pikir ini lelucon? Seisi sekolah kacau, tapi kalian malah membuatnya jadi bahan lelucon di internet?"

Seo Yeon bicara lagi, jadi apa sebenarnya salah mereka?
Ibu kesiswaan berbalik kembali menatap Seo Yeon, ia mengatakan kalau Seo Yeon menerima surat tuduhan itu tapi bersembunyi di belakang pihak sekolah. Berpura-pura tidak ada yang terjadi.

"Sekarang kau bersikap sok tidak bersalah dan menyalahkan sekolah atas semuanya? Kau orang terburuk di sini!

"Itu sebabnya... aku berencana berhenti pura-pura bodoh. Aku tidak akan pura-pura tak tahu apa pun lagi, atau masa bodoh akan masalah ini, apalagi bersembunyi."

Seo Yeon lalu menatap teman-teman satu kelas, " Apakah kalian semua tidak merasa frustasi? Kita hanya duduk diam, mendengarkan perkataan orang dewasa. Semula, kita berharap mereka dapat membantu dan menyelesaikan semua ini. Kita menunggu mereka melakukan sesuatu. Tapi lihat yang terjadi!"

"Tutup mulutmu!" Bentak Ibu kesiswaan, tapi Seo Yeon tidak berhenti.

"Aku menerima surat itu, tapi tidak mengatakan apa pun seperti pengecut. Tapi, harus melihat pada inti masalahnya, bukan fokus pada hal lain! Apakah tidak ada yang lebih penting daripada siapa yang menulis dan menerima surat itu?

"Tutup mulutmu!"

"Apa yang terjadi pada Cho Rong? Kenapa Kepala Sekolah membuang surat itu? Apakah isi surat itu benar atau tidak bahwa Choi Woo Hyuk melakukan sesuatu pada to So Woo? Bukankah itu yang ingin kita ketahui? Jika kalian memikirkannya... Lee So Woo  adalah awal dari semua ini. Kurasa, kita memiliki hak untuk mengetahui segalanya. Tapi jika tidak ada yang memberitahu kita, maka kita harus menemukan jawabannya sendiri. Kita harus mencari tahu apa dan bagaimana semuanya bisa terjadi! Jadi... mari kita caritahu sendiri. Kebenaran di balik kematian Lee So Woo."
Plak! Ibu kesiswaan menempar Seo Yeon, bukan hanya itu ia juga memukul kepala Seo Yeon setelahnya disaksikan teman-temannya.

Joon Young langsung berdiri di depan Seo Yeon untuk melindunginya, ibu kesiswaan malah menggunakan buku yang dipegangnya untuk memukuli Joon Young. Semua kemudian mendekat dan memisahkan mereka. Tapi hal itu malah menjadi tontonan dan banyak yang mengabadikannya.
Pak Guru memberitahu Kepsek apa yang barusa terjadi dan ia kelihatan panik.

Seo Yeon dan Joon Young masuk UKS akibat kejadian tadi. Bel pulang berdering, Joon Young mengajak Seo Yeon pulang.

Seo Yeon mengatakan sebentar lagi, Setelah semua murid pulang. Joon Young mengerti dan menunggu sampai Seo Yeon mau pulang.
Ibu Seo Yeon nyalon bersama ibu-ibu yang lain. Alah satu Ibu mendapat video Seo Yeon ditampar oleh Ibu kesiswaan dan itu membuatnya sangat kesal.

Sampai di rumah, ia langsung menanyakan dimana Seo Yeon yang ternyata sedang tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Seo Yeon. Bangun, lihat Ibu."

Ayah ikut masuk, ia bertanya apa yang terjadi. Ibu membuka selimut Seo Yeon yang ternyata tidak mendengar karena menggunakan earphone.

Ibu menunjukkan video detaile Seo Yeon ditampar. Ibu bertanya, kenapa Seo Yeon tidak mengatakan apa-apa saat hal semacam itu terjadi? Apa Seo Yeon pikir ibu tidak akan mengetahuinya?

Seo Yeon hanya tidak ingin Ibu merasa sedih. Jadi, Seo Yeon berniat menghadapi kesulitan ini sendirian?  ingin menanggung kesedihan itu sendirian?
Ibu beralih pada ayah, Cara apa yang paling cepat untuk menyelesaikan ini? Polisi? Kementrian Pendidikan?

"Ibu..." Bujuk Seo Yeon.

"Kita tidak bisa membiarkannya saja!"

Seo Yeon tidak bermaksud diam saja hanya karena ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia sedang memikirkan yang harus ia lakukan.

"Soal apa?" Tanya Ibu.

"Ibukan sudah lihat videonya. Aku bersungguh-sungguh bahwa aku ingin menemukan kebenaran di balik kematian Lee So Woo."

"Apa?"

"Aku... Aku akan benar-benar menginvestigasi insiden itu sendiri."

"Kenapa kau? Kenapa harus kau?"

"Saat dia berhadapan dengan bahaya yang bukan merupakan kesalahannya, aku diam saja. Aku tidak ingin menjadi pengecut seperti itu lagi. Aku ingin mengatakan kebenaran dan meluruskan yang salah."

Ayah menengahi, ia tahu maksud Seo Yeon, tapi seperti yang ayah bilang, biar orang dewasa yang mengurus hal ini. Seo Yeon tidak perlu terlibat.

Seo Yeon membentak, apa ia harus mematuhi apa yang Ayah katakan! Ibu menegur Seo Yeon.

"Bukankah kata-kataku benar? Aku membuat kesimpulan ini setelah memikirkannya cukup lama. Kenapa tidak ada yang menghargainya? Kami ini tidak boleh berpikir? Juga berpendapat?"

"Kau tidak tahu apa pun tentang dunia, makanya mengatakan hal naif semacam itu!" Bentak Ibu

"Memang dunia macam apa yang hanya diketahui orang dewasa? Tetap diam saat seorang teman meninggal? Hanya menonton, melarikan diri, lalu melupakan?"

Ayah lebih tenang, ia mengatakan kalau Seo Yeon pasti hanya sedang stress saja karena akan naik kelas 3. Seo Yeon membantahnya, ia justru lebih rasional saat ini daripada biasanya!

"Jangan memperlakukan aku seperti orang gila hanya karena pendapatku berbeda dengan para orang dewasa!"

Setelah mengatakannya Seo Yeon mengambil mantelnya dan keluar sambil membanting pintu. Sementara Ibu menangis karena sikap Seo Yeon itu.
Ji Hoon melihat video yang diunggah di internet serta komentar-komentarnya. Ia bahkan mengulang bagian dimana Seo Yeon mengatakan, "Jadi... mari kita caritahu sendiri. Kebenaran di balik kematian Lee So Woo."

Ji Hoon lalu mengirim pesan untuk Seo Yeon menggunakan akun Penjaga SMA Jeong-gu,

"Juara kelas, pemberontakanmu bagus."

"Penjaga! Apa yang kau lakukan dari tadi?" Seo Yeon menulis tapi keduluan pesan masuk Ji Hoon.

Ji Hoon bertanya, apa rencana Seo Yeon. Seo Yeon mendesah karena ia juga tidak tahu. Seperti tahu apa yang dirasakan Seo Yeon, Ji Hoon kembali mengirim pesan,

"Kurasa, aku tahu. Mari kumpulkan bukti-bukti obyektif. Lalu melakukan investigasi yang rasional dan diskusi terbuka. Kita harus berjuang sampai akhir untuk mengungkapkan kebenaran. Metode terakhir agar bisa berhasil."

Mulai hari itu, Seo Yeon dan Ji Hoon semangat untuk membaca buku-buku hukum dan mereka saling bertukar informasi lewat pesan SNS.

Sampai waktunya masuk sekolah, Seo Yeon telat bangun gara-gara begadang semalaman membuat proposal.
Ayah lalu masuk kamar Seo Yeon untuk membangunkannya dan ternyata Seo Yeon ketiduran di meja belajarnya. Ayah tidak membangunkan Seo Yeon tapi ia lebih tertarik dengan kertas di meja Seo Yeon.

Ayah membacanya, ibu yang kebetulan melihat dari luar ikut masuk dan membaca juga.

Alaram ponsel Seo Yeon berdering, Seo Yeon pun bangun. Ibu bertanya, apa Seo Yeon yakin harus sampai berbuat sejauh itu. Seo Yeon mengangguk mantap. 
Ayah memengang pundak Seo Yeon menyemangati sementara ibu mengembalikan kertas Seo Yeon ke mejanya dengan kesal.






2 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon