Friday, December 30, 2016

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 4 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury episode 4 Part 1


Soo Hee, Yoo Jin, Seung Hyun dan Joon Young menunggu di luar.

Ji Hoon berbohong kalau ia tidak mengenal So Woo. Seo Yeon percaya, dan ia menanyakan motif Ji Hoon mengikuti olah perkara ini, apa coba untung yang didapatkan Ji Hoon? Bukankah aneh untuk orang asing seperti Ji Hoon?

"Mari kita caritahu sendiri, kebenaran di balik kematian Lee So Woo."

"Apa?"

"Kau yang berkata begitu. Semua hal ini berawal dari Lee So Woo. Kita harus menemukan sendiri kebenaran di balik semua ini. Jadi, mari kita caritahu bersama. Itulah alasannya. Kata-kata dan ketulusanmu telah membuatku tersentuh."

****


Seung Hyun langsung menjauh dari pintu saat Seo Yeon keluar dari sana. Yoo Jin menggandeng Seo Yeon, tapi Seo Yeon masih marah. Yoo Jin menjelaskan kalau ia dan Soo Hee berkeliling sepanjang sore untuk memberi kejutan buat Seo Yeon.

"Tapi kan tidak perlu memblokir akun-ku segala! Tidak tahu betapa takutnya aku?"

"Itu karena kau mungkin akan bikin masalah kalau sampai melihat poster konsernya." Alasan Soo Hee.

"Tetap saja..."

Seung Hyun penasaran, jadi apa Ji Hoon ikut atau tidak?


Ji Hoon keluar, ia menjawab sendiri kalau ia ikutan. Yoo Jin langsung menoncat kepelukan Soo Hee saking senangnya.

Ji Hoon lalu maju untuk menjabat tangan Joon Young, ia mengenalkan dirinya pada Joon Young.


Ibu Joo Ri melakukan rekaman dimana Joo Ri juga ada disampingnya.

"Puteriku... mencoba membantu salah satu temannya yang menyaksikan sebuah pembunuhan. Tapi... orang tua si pembunuh malah menuntut puteriku. Polisi datang ke rumah kami dan menekan seorang remaja berusia 19 tahun. Teman sekelasnya pun menyerang dia secara berkelompok. Bukan hanya itu, mereka bahkan menginginkan dia terlibat dalam olah perkara terbuka.

Sedangkan puteriku tidak dapat berbicara lagi akibat syok berat. Dia tidak bisa masuk sekolah, dan harus menjalani terapi psikologis. Di sisi lain, murid bernama "Choi", yang membunuh teman sekelasnya itu, tidak tersentuh sama sekali."


Mereka berlima memberikan surat persetujuan kepada Kepsek, Totalnya 525 tanda tangan. Mereka juga mengunduh formulir pendaftaran klub dan meminta kepsek untuk menandatanganinya sekalian.

Ibu kesiswaan masuk ke ruangan para guru setelah dari ruangan kepsek. Ia mengumumkan kalau klub olah perkara membutuhkan guru penanggung jawab.

seluruh guru tidak bersedia karena waktunya liburan juga sebentar lagi ujian. Tapi mengejutkannya ada satu guru yang mau, Guru Kim.



Mereka bercanda saat jalan bersama guru Kim. Guru Kim melarang mereka antusias berlebihan. Bagus memang klubnya diresmikan, tapi perjuangan yang sebenarnya baru dimulai.

"Kalian sebaiknya bersiap!"

"Tapi, perjuangan itu juga kami yang menginginkannya." Jawab Seo Yeon.

"Aku menghargai keberanianmu."


Dan akhirnya mereka sampai di ruang klub. yang ternyata adalah gudang. Mereka awalnya mengeluh

Tapi kemudian bekerja sama membersihkannya. Mereka sangat antusias dan tertawa bersama saat mereka selesai.


Ji Hoon berlari untuk menemui So Woo dan saat ia membuka kamar So Woo. So Woo menobek semua buku, pokonya kamarnya berserakan dengan sobekan buku.

Ji Hoon khawatir, apa yang terjadi dengan So Woo. Ji Hoon mengguncang-guncang So Woo tapi So Woo tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan menakutkan.


Ji Hoon terbangun, itu tadi adalah mimpinya. Ji Hoon lalu minum untuk menormalkan detak jantungnya.

Ji Hoon membuka ponselnya, ada sms dari Seo Yeon yang memberitahu kalau rapat pertama klub olah perkara SMA Jeong-guk diadakan besok jam 1 siang.

Ji Hoon masuk ke ruang kerja ayahnya. Ayahnya memintanya untuk berdiri saja di depan pintu. Ia teringat Ji Hoon yang selalu masuk ke ruang kerjanya saat bermimpi buruk dan sekarang Ji Hoon sudah sangat besar.

"Ada apa? Mimpi buruk lagi?"


Ji Hoon membantah. Pak Han tahu pasti ada sesuatu. Ji Hoon mendekat, ia mengatakan kalau ia akan ikut dalam olah perkara terbuka. Ia ingin memberitahu langsung pada ayahnya, sebelum ayahnya mendengarnya dari orang lain.

"Ji Hoon ~ a, So Woo... dia bunuh diri. Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ayah tahu itu berat, tapi... kau harus menerima kenyataan."

Bukan itu alasan Ji Hoon, ia tidak suka orang-orang terus membicarakan So Woo.

Saat Ji Hoon akan kembali ke kamarnya, Pak Han bertanya, apa kemungkinan So Woo mengatakan sesuatu. Tapi tanpa menunggu jawaban Ji Hoon ia membatalkan pertanyaan itu.

Seperginya Ji Hoon, pak Han menelfon seseorang.


Pak Han menemui kepsek. Kepsek minta maaf karena semua terjadi di luar perkiraan. Sekarang, nereka ditekan oleh video seorang guru menampar murid, juga setumpuk persetujuan--lebih dari yang disyaratkan.

"Mereka mendatangi saya dan meminta ijin meresmikan klub olah perkara ini. Saya terpaksa! Pak Han. Berkali-kali saya pikirkan, kita tidak memiliki alasan yang kuat untuk menghentikan klub mereka."


Pak Han menunjukkan buku peraturan sekolah yang tadi diambilnya.

"Kau bisa menemukan suatu alasan. Kalau perlu, ubah peraturan sekolah untuk hal itu. Atau buat peraturan baru."

Kepsek menjelaskan kalau hal itu bisa menyebabkan amarah murid lebih besar. Pak Han membantah, ini lebih penting. Insiden Lee So Woo... para murid tidak boleh tahu terlalu jauh mengenainya.

"Hentikan di saat yang tepat, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. Mengerti?"

Pak kepsek mengerti.


Rapat pertama dimulai, tapi mereka semua sudah pesimis. Lalu Ji Hoon datang. Seo Yeon menjelaskan bahwa sekolah memberikan kita deadline. Mereka harus menyelesaikan olah perkaranya sebelum bulan Maret, saat semester baru dimulai.

"Jadi, kami mencoba mengatur jadwal, dengan peran yang sudah disepakati. Aku menjadi Jaksa, dan kau pengacara terdakwa. Sisanya terbagi menjadi tim Jaksa dan Pengacara (Joon Young dan Seung Hyun di tim pengacara, sementara Yoo Jin dan Soo Hee di tim jaksa)."


Ji Hoon memperhatikan jadwal yang disusun mereka. Ji Hoon memajukan hari pertama olah perkara di gelar menjadi seminggu lebih cepat dari jadwal.

"Kita tidak perlu buru-buru hanya karena diberi batas waktu. Kita harus mendapatkan persetujuan resmi dulu untuk olah perkara ini." Bantah Seo Yeon.

"Sekolah tidak akan menyetujuinya. Sejak awal kau memulainya maupun sampai sekarang, sekolah tidak akan pernah menyetujuinya."

Yoo Jin menjelaskan kalau mereka belum mendapat ide bagaimana harus melakukannya. mungkin hanya akan mempermalukan diri sendiri kalau memajukannya menjadi hari Kamis.

Soo Hee membenarkan. Ada banyak sekali yang menunggu mereka melakukan kesalahan fatal. Mereka harus melakukan yang terbaik untuk membuktikan pada sekolah! Ia takut mereka bahkan tidak akan memiliki kesempatan sama sekali.


"Sekolah tidak memberi respon apa pun sampai kemarin, namun tiba-tiba memberi kalian tenggat waktu. Mereka pasti melakukan diskusi internal. Hari ini, mereka memang berhenti memberi tekanan pada kita. Tapi, kita tidak tahu yang bisa mereka lakukan nanti. Waktu persiapan kita untuk menggelar olah perkara, merupakan waktu bagi mereka untuk mencari alasan membatalkannya.

Jadi, kita tidak boleh memberi banyak waktu pada mereka. Mari bergegas menggelar olah perkara pertama. Kita harus menggelar olah perkaranya serealistis mungkin. Dengan begitu, kita bisa mengamankan kesempatan untuk menemukan kebenaran dan membuktikannya."

Ji Hoon mengusulkan pemikiran yang sederhana, Singkirkan peraturan, prosedur... Semuanya. Setelahnya, hanya ada tiga hal yang perlu dipikirkan. Pertama, ada tidaknya alibi Choi Woo Hyuk pada malam insiden itu terjadi. Kedua, ada tidaknya motivasi Choi Woo Hyuk membunuh Lee So Woo. Ketiga, apakah isi surat tuduhan itu benar? Atau hanya kebohongan?

Cukup fokus saja pada ketiga hal ini. Maka mereka akan memiliki kesempatan untuk pertarungan selanjutnya.


Seo Yeon sepertinya setuju lalu ia mengatu ulang jadwal. Jadi sidang pertama hari kamis dan mereka harus menghadirkan Woo Hyuk pada hari itu.

"Lee Sung Min dan Kim Dong Hyun juga. Nama mereka tertera di surat itu." Usul Yoo Jin.


Joon Young mengatakan kalau mereka hanya membutuhkan Choi Woo Hyuk. karna dia yang mendorong jatuh So Woo. Ji Hoon tersenyum membenarkan,  Menurut surat itu,  pelakunya adalah Choi Woo Hyuk. Jika hanya Choi Woo Hyuk yang datang, itu justru menguntungkan mereka.

"Masalahnya, dia itu seperti bos mafia. Tidak mudah membuatnya datang. Kita kan juga tidak mungkin memborgol lalu menyeret dia ke persidangan." Jelas Seung Hyun.

"Masih untung kalau dia tidak sampai menghajar kita!" Tambah Soo Hee.

Ji Hoon berjanji akan membawa Woo Hyuk karena ia adalah pengacaranya.


Seo Yeon mengambil tanggung jawab sebagai Jaksa, ia juga akan membawa Lee Joo Ri sebagai saksi kunci.

"Kalau tidak ada yang lain lagi, mari lekas bergerak. Ada yang harus dilakukan dari pihak pengacara." Ajak Ji Hoon.

Yoo Jin sedih, mereka bahkan belum menentukan hakimnya! Soo Hee sudah memikirkan seseorang.


Selanjutnya, Soo Hee dan Seo Yeon mendorong Yoo Jin untuk membujuk Min Suk agar mau menjadi hakim.

"Kau yakin Kim Min Suk mau menjadi Hakim? Mereka berdua bahkan saling tidak menyukai."

"Pikirkanlah. Dua remaja saling memanggil nama masing-masing setiap kali bertemu. Pernah mendengar yang seperti itu?"

"Oh, dari kelas Literatur!"

"Bukan materi pelajaran, tahu!"

"Kalau begitu, aku tidak tahu."

"Di paruh pertama film komedi romantis, tahu! Mereka selalu mengingkari bahwa mereka saling jatuh cinta! Kau tahu, mereka bertengkar karena saling menyukai."

"Tidak mungkin! Yoo Jin dan Kim Min Suk?"


Tak lama kemudian Min SUk keluar dengan memegangi kedua pipinya. Yoo Jin berhasil membujuk Min Suk dengan aegyo-nya.

Seung Hyun mengomando Joon Young dan Ji Hoon untuk menyembunyikan uang mereka, Jarak sampai 500meter dari Choi Woo Hyuk adalah zona berbahaya. Sementara itu ia menyembunyikan uangnya dalam kaos kaki.

Bis sudah datang tapi Ji Hoon malah tidak naik, ia menyerahkan tugas memata-matai Woo Hyuk pada Joon Young dan Seung Hyun.

Woo Hyuk main bilyar bersama Dong Hyun dan Sung Min. Dong Hyun membahas mengenai olah perkara yang akan digelar. Woo Hyuk sih santai, abaikan saja.

"Kenapa kau? Takut?"

Dong Hyun mengelaknya dengan tegas, ia lalu mencoba untuk membicarakan mengenai malam itu tapi Woo Hyuk mules dan buru-buru ke toilet.


Tepat saat itu, Joon Young dan Seung Hyun masuk, mereka sebisa mungkin menutupi wajah mereka. Mereka berdiri tak jauh dari Dong Hyun dan Sung Min.

Dong Hyun akan bermain tapi Sung Min sengaja menjauhkan bolanya.

"Kau mencurigai kami? Aku hanya merasa saja."

Sung Min mengungkit soal Dong Hyun yang keluar belakangan waktu di bar, "Apa yang sudah kau katakan pada detektif itu?"

Dong Hyun menjawab kalau ia tidak mengatakan apa-apa tapi Sung Min tak percaya dan terus memaksanya untuk jujur.

"Hei. Aku punya alasan untuk hal itu. Kalian berdua menghilang tanpa aku pada malam itu! Lalu, kalian mengatakan tidak ingat apa-apa. Dan Lee So Woo mati pada jam tersebut! Seseorang mengatakan dia melihatmu!"


Seung Hyun dan Joon Young saling berpandangan mendengar omongan Dong Hyun.

Sung Min kembali menegaskan kalau mereka berdua terlalu mabuk malam itu jadi tidak ingat apapun.

"Itu kan menurutmu. Sejujurnya, memang aku bisa memastikan apa yang kalian berdua lakukan?"

Sung Min emosi dan menarik kerah Dong Hyun, mereka hampir berkelahi jika Woo Hyuk tidak muncul.


Seung Hyun menulis di group club kalau ia mengawasi Woo Hyuk di bilyar dan Woo Hyuk ada di dekatnya.

Ji Hoon membaca pesan-pesan itu sambil menunggu Detektif Oh, dan ia langsung menghentikannya saat Detektif Oh datang.

Detektif Oh terkejut mendengar Ji Hoon, si pangeran dari yayasan Jeong-guk ikut dalam olah perkara bersama Seo Yeon. Detektif lalu menanyakan pendapat ayahnya Ji Hoon.

Ji Hoon meminta Detektif Oh untuk merahasiakan siapa ayahnya. Detektif Oh heran, memangnya kenapa, bukankah hal itu justru akan mempermudah mereka jika pihak sekolah tahu kalau Ji Hoon adalah putera dari Ketua Yayasan Jeong-guk?

"Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian karena hal itu." Jawab Ji Hoon.

Detektif Oh pun mengerti. Sekarangpun Ji Hoon sudah menjadi pusat perhatian, ia banyak mendengar tentang Ji Hoon dan sudah menunggu untuk bertemu langsung seperti ini.

"Terima kasih sudah meminta bertemu denganku!" Ujar Detektif Oh.

Ji Hoon balik berterimakasih. Lalu Detektif Oh menanyakan tujuan Ji Hoon, apa untuk menjadi saksi di olah perkara terbuka?

Ji Hoon menjawab kalau ada yang lebih penting dari itu yaitu Lee Joo Ri. Ia merasa, Joo Ri akan segera membuat pergerakan.

"Apa maksudmu dia akan segera membuat pergerakan?"

"Dia berusaha untuk melepas tanggung-jawab. Dia sudah dituntut, lalu olah perkara terbuka membutuhkan dia sebagai saksi atas autentikasi surat tuduhan itu."

"Aku mengerti dia merasa stres karena dituntut, tapi dia menulis dan mengirim sendiri surat itu pada polisi. Kau pikir olah perkara itu akan bisa menggoyahkan dia?"

"Bagi remaja 18 tahun... sekolah adalah kehidupannya. Dia hanya mengenal orang-orang di sekolah. Lebih dari apa pun, dia merasa takut. Jadi, kau berpikir dia mungkin akan melakukan sesuatu? Aku yakin, dia akan mencoba menggunakan media. Dia mungkin akan membumbui ceritanya, agar orang-orang merasa tertarik. Tapi, metodenya akan sama. Baik internet maupun TV dia akan mencoba memanfaatkan keduanya."

"Lalu, kenapa kau mengatakannya padaku? Kedengarannya, tidak ada yang bisa kubantu atas hal itu."

"Detektif Oh, Anda... bisa melindungi dia."

Ji Hoon meminta detektif Oh agar melindungi Joo Ri dari Choi Woo Hyuk. Woo Hyuk tidak bisa masuk sekolah, olah perkara terbuka akan menjadi isu yang serius, dan dia juga tidak memiliki alibi yang kuat. Woo Hyuk akan meledak kalau Lee Joo Ri memprovokasinya dalam situasi seperti itu.

Detektif Oh bertanya, bagaimana Ji Hoon bisa tahu soal alibinya? Ji Hoon menjawab kalau ia memiliki telinga, di sini dan di sana.


Seo Yeon akan ke suatu tempat tapi ia dihalangi kedua adiknya yang sedang bertengkar karena satu boneka.

Saat kedua adiknya kembali ke kamar mereka, Seo Yeon menyalahkan ibunya yang hanya membelikan satu boneka untuk mereka. Ibunya sudah melarang ayah untuk pulang sebelum menemukan boneka yang persis hari ini.


Seo Yeon akan menemui Joo Ri, ibunya berpesan,

"Kau sudah cukup lama tidak bertemu dengan Joo Ri, kan? Semoga berjalan lancar, pastikan tidak ada kesalahpahaman."

"Iya. Aku akan lekas pulang."


Seo Yeon kesana tidak sendirian, ia bersama Soo Hee dan Yoo Jin. Sebelum kesana mereka mengirim oesan tapi tidak dibaca oleh Joo Ri, sosmed mereka juga diblokir oleh Joo Ri.

Yoo Jin protes, apa mereka harus tetap menemui Joo Ri. Seo Yeon menjelaskan kalau alasan untuk menemui Joo Rijustru lebih besar, hanya utu satu-satunya cara agar mereka bisa bicara dengan Joo Ri.

"Tidak enak kalau menemui dia, tapi juga tidak enak kalau tidak melakukannya. Kelakuan gila macam apa lagi yang akan dia tunjukkan hari ini?" Tanya Soo Hee.

Yoo Jin mewanti-wanti Soo Hee agar menegndalikan emosi selagi dirumah Joo Ri nanti.


Seo Yeon mengingat saat-saat ia masih dekat dengan Joo Ri, dulu mereka adalah teman dekat dan suka bercanda bersama.

Mereka bertiga memencet bel dan menunjukkan wajah mereka di intercom. Ibu Joo Ri mengenali mereka sebagai anak-anak yang akan menggelar olah perkara dan Joo Ri mengangguk membenarkan. 


"Keterlaluan! Beraninya mereka datang kemari? Kau tunggu saja di sini, ibu akan mengusir mereka!"

Tapi Joo Ri menghalangi, ia malah menyuruh ibunya untuk membuka pintu.


Karena tidak ada respon, Seo Yeon dkk mau balik tapi tiba-tiba pintu gerbang terbuka, jadi mereka pun masuk.

Mereka bertiga langsung menuju kamar Joo Ri. Seo Yeon kelihatan prihatin dengan keadaan Joo Ri yang masih belum bisa bicara.

"Jangan pura-pura peduli padaku, menjengkelkan." Tulis Joo Ri dalam tablet-nya.

Soo Hee emosi dengan tanggapan Joo Ri itu, Yoo Jin sigap mengingatkannya. Seo Yeon minta kedua temannya untuk keluar, membiarkannya bicara berdua dengan Joo Ri.


Seo Yeon mengutarakan tebakannya. Joo Ri tahu kalau ia tidak akan tinggal diam dengan surat pengakuan itu, Joo Ri  memercayainya. Itu sebabnya Joo Ri mengirim surat itu padanya, kan?

Joo Ri menyuruh Seo Yeon berhenti bicara omong kosong, ia tahu Seo Yeon datang karena olah perkara terbuka. Seo Yeon membenarkan, ia datang untuk meminta Joo Ri datang sebagai saksi. Tapi sekarang setelah melihat Joo Ri, tidak usah saja.

"Kurasa tidak perlu. Aku tidak tahu yang menurutmu benar dan tidak. Bukan hanya aku, tapi semua orang. Tapi, kenapa kondisimu jadi seperti ini? Kau disalahkan oleh semua orang.... karena kau menyuarakan pendapatmu. Itu tidak adil. Kau semestinya tidak bersembunyi seperti ini dan tidak bisa melakukan apa pun. Jika aku bertindak sepertimu, maka aku akan lebih frustasi."

"Lalu? Kau ingin aku berhenti sembunyi dan muncul di olah perkara terbuka, agar aku bisa mendapat lebih banyak cercaan?"

Seo Yeon merasa mungkin itu lebih baik. Disalahkan, ditunjuk oleh orang-orang. Tapi, Joo Ri tidak akan sendirian. Mereka akan bersama Joo Ri.

Setelah berpikir, Joo Ri setuju untuk hadir jika Seo Yeon tidak ambil bagian dalam olah perkara itu. Seo Yeon menyetujuinya asalkan Joo Ri beneran hadir.



Soo Hee nyelonong masuk mendengar jawaban Seo Yeon itu, Joo Ri pikir siapa dirinya hingga berhak menyuruh Seo Yeon mundur. Seo Yeon mencoba menjelaskan tapi Soo Hee sudah terlanjur emosi.

"Kepribadianmu buruk, tapi kami mencoba datang baik-baik dan memintamu menjadi saksi. Dia membodohi kita dengan tablet bodoh ini (merampas tablet Joo Ri dan membuangnya ke ranjang)! Kenapa? Apa kata-kataku salah? Kau selalu membodohi Seo Yeon, dan hari ini pasti menjadi hari dimana kau bisa mengalahkan dia, kan? Kau benci karena aku menggagalkannya?

Hanya karena sebelumnya kau pernah dekat dengan dia, itu bukan apa-apa! Dia tidak menganggapmu teman! Itu semua karena kasihan saja! Kau tidak punya teman sama sekali!"

Seo Yeon menghentikanSoo Hee dan Yoo Jin segera menyeret Soo Hee keluar walaupun Soo Hee memberontak.


Sebelum keluar Seo Yeon menetap Joo Ri iba. Dan setelah Seo Yeon pergi, Joo Ri menangis.

Soo Hee sudah tenang setelah minum, ia berterimakasih pada kesua temannya, karena kalau bukan karena mereka, ia pasti ditangkap polisi.

"Kau sedang melawak, ya? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita dan Joo Ri sudah berakhir." Keluh Yoo Jin, lalu ia memeriksa internet untuk mencaritahu kemungkinan Joo Ri menulis hal buruk tentang mereka.


Soo Hee sungguh minta maaf pada Seo Yeon tapi ia benar-benar tidak merasa bersalah pada Joo Ri. Ia benci setiap kali Joo Ri memperlakukan Seo Yeon seperti itu! Memangnya Joo Ri itu siapa?

"Tapi... apa kau sungguh-sungguh? Soal akan mundur dari olah perkara?"

Seo Yeon mengiyakan, Joo Ri lebih dibutuhkan dalam olah perkara ini, dibandingkan dirinya. Olah perkaranya membutuhkan Joo Ri, bukan dirinya.


Yoo Jin menemukan sesuatu menghebohkan di internet. Joo Ri sudah mengunggah video yang direkamnya dengan sang ibu di internet.

Detektif Oh juga menonton video itu dengan rekannya. Dan ia langsung mendapat teguran dari atasan. yang marah-marah karena Detektif Oh masih terlibat dengan kasusu So Woo padahal investigasi ulang sudah selesai.

Reporter Park dan Tim-nya juga menonton video itu. Video itu menjadi viral, dalam 2 jam saja sudah ada 8,000 penonton!

anggota tim-nya (cowok) mengusulkan untuk mewawancarai Joo Ri. Yang cewek dua akan menghubungi polisi dan pihak sekolah. Tapi Reporter Park malah menyuruh mereka berhenti. Iamenyuruh si cowok untuk membawa kamera dan mengikutinya.




Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon