Wednesday, January 18, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 1 Part 3

Episode sebelumnya : 1-1 / 1-2


Hwan Gi minum sendirian, ia berkutat pada pemikirannya. Apa Ro Woon mengikutinya karena tahu siapa dirinya? Apa Ro Woon juga merencanakan kecelakaan itu?

"Picik sekali aku. Akulah yang menubruk mobilnya. Seharusnya, aku tidak mencoba menganalisa ulang begitu. Semua hanya kebetulan. Tidak terprediksi. Hanya kecelakaan kecil. Tidak mungkin dia akan muncul lagi di kantorku."


Ro Woon menyapa ramah setiap karyawan pagi ini. Ia lalu mendekati seseorang. Ia memberi orang itu kopi, buat sogokan karena ia ingin tanya-tanya soal Hwan Gi. Orang itu mengatakan kalau Hwan Gi sering menginap di ruangannya.


"Maaf? Apa itu artinya Anda bahkan tidak pernah bertemu dia?"

"Kadang dia mendapat paket, jadi aku mengantarkan ke kantornya."

"Begitu. Bagaimana dengan isi paketnya?"

"Dibungkus rapi dan rapat, jadi aku tidak tahu isinya. Tapi... "

Ro Woon penasaran tapi orang itu ragu boleh mengatakannya atau tidak. Ro Woonmembujuk sambil mensorong orang itu untuk meminum kembali kopinya, ia bahkan memanggil orang itu Abonim.



Orang itu masih ragu, ia seharusnya tidak mengatakannya pada siapapun. Ro Woon memastikan, ia tidak akan bilang siapapun jadi ia bisa dipercaya. Ro Woon mulai menyalakan rekaman ponselnya.


Waktu itu malam hari, hujan turun dengan deras. Ada seorang yang mengantar paket untuk Hwan Gi. Orang itu yang menerimanya dan isinya tak sengaja terjatuh. Itu adalah pisau.

Orang itu sangat kegt apalagi Hwan Gi juga muncul tiba-tiba.

"Pisau?"kaget Ro Woon.


Ro Woo membantu Ahjumma tukang bersih-bersih sambil tanya-tanya. Jadi Ahjumma tidak pernah membersihkan ruangan Hwan Gi karena tidak diijinkan ke sana.

"Tapi kan seseorang tetap harus membersihkannya. Apa dia tidak peduli akan kebersihan." paksa Ro Woon.

Malah kebalikannya ternyata. Hwan Gi gila sekali akan kebersihan. Tidak peduli bagaimanapun sudah dibersihkan, Hwan Gi akan mengulang dan menata semuanya sendiri.

Ro Woon sedari tadi menyalakan rekamannya, ia mendapat satu fakta lagi mengenai Hwan Gi. Dia itu pengidap OCD [Obsessive-Compulsive Disoreder : Penyakit terobsesi akan sesuatu].


Ro Woon kembali ke lantai atas. Gyo Ri terkejut, ngapain kesana. Tenang, Ro Woon cuma mau ngobrol saja sebentar. Gyo Ri menunjuk sepatu hak Ro Woon yang berbunyi. Ro Woon mengerti dan menenteng sepatunya.

"Astaga. Mau apa kau? Aku kan sudha bilang jangan pernah kemari lagi." Ujar Gyo Ri.

Ro Woon membawa teh herbal untuk Gyo Ri serta memperkenalkan dirinya bahwa ia pegawai baru. Ia menunjukkan kartu pegawainya agar Gyo Ri percaya.



Ro Woon menuang tehnya untuk Gyo Ri katanya itu bagus untuk meredakan stress. Gyo Ri meminuumnya. Sejujurnya, setiap kali di sana, ia merasa seperti berdiri di tepi jurang.

"Kenapa kau takut sekali?"

"Karena aku tidak bisa menebak apa saja yang terjadi dalam ruangan itu. Jadi, hal itu membuatku gelisah."

Ro Woon menyalakan perekam di ponselnya. Gyo Ri bercerita, pagi ini ia melihat Hwan Gi membawa sesuatu kedalam.


Hwan Gi membawa sesuatu yang berat sekarung. Gyo Ri tidak tahu isinya. Kadang, Hwan Gi membawa karung. Kadang juga peti, juga membeli pakaian yang terlalu besar untuknya.

"Kau tahu yang lebih mengerikan? Segala sesuatu yang dibawa masuk tidak pernah dikeluarkan lagi."


"Jadi, dia itu manusia anti-sosial, semacam itulah ditambah paling gila. Dan pisau itu. Apa dia... seorang psikopat?" Batin Ro Woon.


Hwan Gi membuka pintu sebuah almari dan disana cuma ada pisau berbagai ukuran. Hwan Gi mengambil yang paling besar.

Ia menuang seluruh isi karung ke dalam bak berisi air lalu mengayunkan pisau besarnya ke dalam bak air itu. Ia sangat bengis.


Hwan Gi memutar sebuah piringan lagu dan memasang jam pasi. Kali ini ia menggunakan pisau dengan ukuran lebih kecil untuk memotong sesuatu di meja sampai terbang semuanya.

Hwan Gi teringat kata-kata Gyo Ri bahwa dirinya tidak bisa bernafas selama ini. Gyo Ri ingin hidup.


Astaga.. ternyata Hwan Gi cuma sedang masa doang. Ia memotong lobak.


Hwan Gi mengintip keluar. Ia melarang Gyo Ri makan siang dulu, tunggu sebentar.

"Tentu, tidak masalah."

Tapi setelah Hwan Gi menutup pintunya ia mengeluh, bahkan sekarang ia tidak bisa ikut makan siang.


Hwan Gi masak untuk Gyo Ri, ia detail sekali dalam segala hal, bahkan cangkir minum pun diatur letaknya. Lalu ia berlari menuju pintu tapi ia berhanti setelah memegang gagang pintu.


Ia berpikir, apa Gyo Ri akan menyukai sayuran? Biasanya seusia dia pasti lebih menyukai pasta dibanding nasi. Ia sampai jauh-jauh ke Dangjin pagi tadi untuk membeli sayuran organik.

"Dia sangat menyukai rasa yang manis, segar, dan tekstur renyah. Jangan kuatir."

Hwan Gi mengintip keluar dan Gyo Ri sedang memakai lipstik. Hwan Gi menutup kembali pintunya. Ia kembali berpikir, Tapi, makanan memuaskan atau tidak, bukan ditentukan oleh menunya sendiri, melainkan dengan siapa memakannya.


"Jika aku makan bersama dia, pasti dia akan merasa tidak nyaman. Ya, dia pasti tidak mampu mencerna makanannya. Dia akan menyesal makan bersamaku sampai sakit perutnya pergi yang mungkin lebih dari sehari."
 

Gyo Ri kelaparan, ia akan makan permen tapi gagal karena Hwan Gi membuka pintu. Hwan Gi memastikan, Gyo Ri belum makan siang, kan?

"Ya. Saya sedang tidak selera makan. Perut saya agak tidak enak."

"Oh, benarkah?"

"Ya. Saya benar-benar tidak ingin makan."


Baiklah kalau begitu. Hwan Gi menutup kembali pintunya dan ia makan sendirian. Ia mengatakan lagi kalau ia sampai jauh-jauh ke Dangjin membeli sayuran organik pagi tadi.


Gyo Ri kembali ngobrol dengan Ro Woon, sambil memijit kakinya, Gyo Ri mengatakan kalau Hwan Gi membuatnya kelaparan tanpa alasan yang jelas agar ia tetap menjaga pintu.

"Kau sudah tahu juga kalau kemarin seseorang menerobos masuk. Dia ingin aku lengket dengan mejaku." Gyo Ri mengingatkan.


"Tapi, memang ada apa sih di ruangannya?"

"Dia juga tidak mengijinkan aku menatap wajahnya."

"Apa? Kau bilang dia melarangmu menatap wajahnya??"

Hwan Gi tidak suka orang lain memandanginya. Saat bersama dia, mereka harus menatap lantai. Asataga, Ro Woon menyebut Hwan Gi sebagai bos yang menjengkelkan.

"Aku juga tidak sudi menatapnya meski disuruh. Aku tidak akan tahan. Dia memiliki mata yang menyeramkan. Tiga tahun lalu... Oh, benar. Aku tidak bisa mengatakan pada siapa pun."

Ro Woon penasaran, tiga tahun lalu, apakah terjadi sesuatu. Mantan sekretarisnya... Gyo Ri berhenti lagi, ia memegangi perutnya yang sakit.

"Katakan padaku, ayolah."


Gyo Ri kesakitan membuat Ro Woon khawatir. Gyo Ri menengkan nanti juga cepat hilang, kok. Tapi rasa sakit itu semakin tajam hingga membuat Gyo Ri jatuh dari duduknya.


Ro Woon panik, ia akan menelfon ambulance tapi ponselnya malah mati. Ia punya cara, ia mengetuk pintu Hwan Gi agar menelfonambulance.

Gyo Ri memaksakan diri bangkit untuk mencegah Ro Woon mengetuk pintu itu. Sambil menahan sakit, Gyo Ri menarik Ro Woon agar tidak melakukannya tapi Ro Woon tetap mengetuk dan berteriak.


Hwan Gi sedang ada di rumah orang tuanya, ia tidak ada di ruangannya. Ibu sangat senang Ro Woon pulang ke rumah karena ini sudah dua bulan.

Ibu menyuruh Hwan Gi duduk, jangan bersikap seolah orang asing begitu. Ayah merasa lebih mudah bicara dengan orang asing. Hwan Gi sudah berusia 30 tahun sekarang, tapi masih begitu kaku pada orang tua sendiri.

"Bagaimana nasib karyawanmu? Itu sebabnya tiga tahun lalu terjadi..."


Ibu menyela, berhenti membicarakan hal itu. Ayah meminta Hwan Gi balajar dari insiden itu, jadi orang-orang tidak bergosip. Hidup dengan tenang, menjauh dari masalah.

"Kau tidak perlu mengingatkan dia. Itu kan memang spesialisasinya." Ujar Ibu.

Ayah mengingatkan kalau Pilkada Seoul sudah dekat. Jadi, jangan bikin masalah. Mengerti? Hwan Gi mengangguk.

"Astaga, kau membuat aku malu saja. Tidak bisa dipercaya dia itu puteraku." Ujar Ayah.

"Kalau begitu, aku pasti berselingkuh lalu mengandung dia." Bantah Ibu.

"Dengarkan. Aku adalah pendiri perusahaan humas pertama di Korea..."

"Kemudian, kau membuat perusahaan menduduki posisi puncak dan menikmati kesuksesan karirmu selama 30 tahun. Kesuksesanmu mustahil diraih tanpa koneksimu. Kami tahu, kau pasti bisa meraih hal besar dan bagus menggunakan koneksi hebat yang kau miliki. Kami sudah tahu itu." sela Ibu.

"Aku hanya ingin mengatakan yang mungkin orang pikirkan..."

"Orang-orang mungkin akan mengira Kang Woo Il-lah puteramu sebenarnya." Ibu kembali menyela.


Eun Yi Soo langsung merangkul lengan kakaknya, ia tahu kakaknya pasti pulang dan ia sudah menunggu itu.


Yi Soo memotong rambut kakaknya. Ia heran, kenapa Hwan Gi benci ke salon, kan disana banyak gadis muda dan cantik. mereka bicara dan menanyai, "Apakah ini bagus?" Pada dasarnya, di sana itu surga.

"Tapi kurasa, justru Neraka untukmu." Senyum Yi Soo.

Hwan Gi minta maaf sudah merepotkan, ia rasa sudah cukup tapi Yi Soo belum dan mendudukkannya kembali. Yi Soo bertanya, apa belakangan ini Hwan Gi tertarik pada sesuatu?

"Tidak juga."


"Kau lebih sering berkonsultasi dengan psikiater belakangan ini. Bukankah kau kabur agar tidak mendapat konseling saat Ayah yang menyuruh? Apa yang mengubah pikiranmu? Seorang gadis, kan?"

"Tidak, bukan."

"Siapa dia? Apa dia cantik?"

"Tidak ada."


Ponsel Hwan Gi berbunyi. Yi Soo menebak pasti itu gadisnya tapi bukan. Itu panggilan dari Woo Il yang mengabarkan kalau Gyo Ri masuk rumah sakit.

"Aku akan mengurus semuanya. Jadi, jangan kuatir."


Ro Woon tidak mendekat ke ruang perawatan, ia hanya melihatnya dari jauh. Matanya berkaca-kaca dan berujung menjadi airmata.

Kilas balik...


Ro Woon menangisi jasad seseorang di rumah sakit 3 tahun lalu. Dia adalah kakaknya yang melompat di awal episode.

Saat pemakaman, Ro Woon mengkonfrontasi. Kakaknya sudah meninggal. Dia melompat dari atap. Bagaimana bisa tidak ada satupun artikel tentang itu?

"Mereka bilang, Unnie mengalami depresi. Apa itu masuk akal?!"

Ro Woon sudah bertekad, jika ayahnya tidak mau ia yang akan melakukannya. Ia akan pergi kesana dan melakukan sesuatu, meski hanya mengambil sepatunya.

Karena saat melompat, Kakak Ro Woon meninggalkan sepatunya.

Kilas balik selesai...


Ro Woon minum-minum dengan Reporter Woo, ia menggebu-gebu saat bercerita tentang keadaan Gyo Ri yang kena gangguan lambung kronis akibat asam lambung yang meningkat dan kejang perut.

"Hidup begitu mudah bagi mereka yang punya banyak uang. Dia menyerahkan segala sesuatu pada sekretarisnya. Kurasa, hal serupa juga terjadi tiga tahun lalu."

Reporter Woo menyuruhnya minum saja. Ro Woo tidak bisa menunggu lagi, ia meminta Reporter Woo untuk mengekspos hal ini segera.

"Kau sungguh harus melakukannya?"

"Kan kau yang memberitahuku soal rumor di sana."

"Aku mengatakannya padamu agar kau bangkit."

Ro Woon menunjukkan bukti kalau itu bukan sekedar rumor tapi fakta. Ia memutar rekaman yang ia rekam secara sembunyi-sembunyi. Jadi selama ia bicara dengan Gyo Ri pasti direkamnya.

Reporter Woo mematikan rekaman itu. Bagaimanapun juga, Ro Woo tidak boleh sembarangan soal itu, perhatikan dulu kelanjutannya dan...

"Jika kita tidak melakukan apa pun, akan jatuh lebih banyak korban. Aku sudah memeriksanya, dia bukan hanya cowok kaya yang rumit. Dia lebih berbahaya dari perkiraan kita. Seseorang pingsan tepat di depan ruangannya, tapi dia sama sekali tidak peduli."


Ro Woon teringat kakaknya kembali, ia berkata dengan mata menyala bahwa Hwan Gi membunuh kakaknya.


Hwan Gi merenung di ruangannya, ia membuka laci paling bawah dan disana ada sepatu kakaknya Ro Woon.


Waktu itu, ia buru-buru masuk ruangannya tapi ia terlambat. Jendela terbuka dan hanya ada sepatu tertinggal disana.


"Aku terus diingat sebagai penggemar tak bernama. Memang keegoisanku... sehingga berusaha menjaga jarak."

Hwan Gi menutup kembali laci itu.


Dalam mabuknya, Ro Woon menelfon Se Gong menanyakan soal Mr. Smith, dia pasti tidak tahu kalau ia sudah keluar dan masih mengirim bunga.

"Pastikan kau menyimpan bunga itu." Pinta Ro Woon.


Hwan Gi memutuskan untuk mengaku pada Ro Woon hari ini juga, ia tempat pertunjukkan membawa bunga,

"Saat mencoba untuk menghiburnya, justru aku yang menjadi terhibur."


Ro Woon belum selesai menelfon, ia merasa Mr. Smith akan syok, pasti mencemaskannya. Bagaimana kalau dia merasa terluka? Dia akan berpikir ia meninggalkan dia.

"Tidak benar. Itu tidak baik. Tidak boleh terjadi. Ini terakhir kalinya."

Ro Woon memanggil taksi, ia menyuruh Reporter Woo untuk pergi duluan, ada yang harus ia temui.


Hwan Gi mendekati aktris yang bertopeng, ini terakhir kalinya. Untuk terakhir kali... Untuk terakhir kali, ia akan mengantarnya... sendiri.

hwan Gi membuka topinya dan memberikan bunganya pada aktris bertopeng. Aktris bertopeng membuka topengnya tapi dia bukan Ro Woo.

"Dimana Chae Ro Woon?" tanyanya.


"Dia sudah keluar. Dia dapat pekerjaan lain. Katakan pada cowok yang mengirim bunga itu acara menguntit cabulnya sudah berakhir sekarang." Jawab Se Gong.

Hwan Gi merebut kembali bunganya dan keluar dari sana dengan kecewa. Saking gugupnya ia sampai menabrak alat rias para aktris.


Saat berjalan di lobi, ia berselisih jalan dengan Ro Woon.

"Aku semestinya memberanikan diriku lebih awal. Aku terlalu lama bimbang dan akhirnya kehilangan kesempatan. Dimana dia sekarang? Kenapa dia tiba-tiba keluar?"


Ro Woon langsung masuk ke ruang ganti, ia bertanya pada Se Jong tentang Mr. Smith. Se Jong tak menjawabnya, ia malah balik bertanya, kenapa Ro Woon kesana? sudah dipecat?

"Mr. Smith kemari atau tidak?" Sergah Ro Woon.

"Barusan dia pergi. Tidak ketemu?"


Ro Woon langsung berlari kembali ke luar. Hwan Gi akan membuang bunganya, Ro Woon menahannya. 

"Apa kau Mr. Smith?"

Hwan Gi panik, ia langsung menutupi mukanya dengan bunga itu. Ro Woon mengenalkan dirinya kalau ia Chae Ro Woon.



Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon