Thursday, January 26, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 4 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 4 Part 2

Ro Woon dan Se Jong datang bersamaan, keduanya terlambat. Saat akan naik lift, disana ada Sun Bong yang juga datang terlambat. Sun Bong datang terlambat karena ada wawancara pagi ini.

"Lagi pula, berangkat pagi pun tidak melakukan tugas apa pun." Lanjut Sun Bong.

"Sudah kubilang." Tanggapan Se Jong.

"Itu benar. Bidding Yong Ramyeon besok. Semua orang sibuk menyelesaikan presentasi, kecuali kita." Tanggapan Ro Woon.

"Sudah kubilang."

"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Dia tidak mau berbagi apa pun dengan kita."

"Sudah kubilang."
Pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam dan saat akan menutupnya Yoo Hee berteriak minta di tunggu. Di dalam lift, Yoo Hee membagikan roti.

"Aku tidak terlambat hari ini? Atau semua orang terlambat?" Dendang Yoo Hee.
Hwan Gi selesai dengan ppt-nya. Ia melihat jam dan sudah waktunya jam kantor tapi tidak satupun karyawannya datang.

Kalimat teralhirnya adalah adalah "Produksi ramyeon Korea saat ini berbeda dengan masa lalu".
Mereka berempat sampai di depan pintu dan ternyata Gyo Ri baru keluar dari toilet.

"Kram perut lagi? Oh, tidak. Kau baik-baik saja?" Tanya Ro Woon.

Gyo Ri tak enak karena ada Se Jong disana, ia kayaknya naksir Se Jong. Maka ia mengalihkan pembicaraan.

Yoo Hee baru sadar, jadi mereka berlima semuanya terlambat.
Awalnya Yoo Hee membuka pintu pelan-pelan tapi Sun Bong tidak sadar, ia lengsung membuka pintunya lebar-lebar dan masuk seperti biasa.

"Lihat, kan? Dia bahkan tidak peduli." Ujar Sun Bong.

"Sekalian saja kita baru datang setelah makan siang." Imbuh Se Jong.

Hwan Gi punya instruksi untuk mereka, mempersiapakan presentasi. Semuanya terkejut, Ro Woon bertanya, siapa yang lebih tepatnya.

Hwan Gi mengedarkan telunjuknya dan berakhir pada Yoo Hee. Yoo Hee terkejut, "Saya?"
Yoo Hee lalu membawa rotinya ke meja Hwan Gi mencoba membujuk Hwan Gi untuk membatalkan niatnya. Yoo Hee beralasan belum mempersiapkan materinya. Hwan Gi menyuruhnya membuka e-mail. 

"Tetap saja kalau besok... Saya sudah lama tidka melakukan presentasi. Sebelumnya, saya cukup lama tidak bekerja, dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Saya belum pernah presentasi lagi sejak..."

"Coba saja dulu."

Yoo Hee membujuk dengan memberikan roti yang masih hangat, tapi Hwan Gi menolaknya. Yoo Hee menyarankan agar Hwan Gi saja yang melakukan presentasi, kan Hwan Gi yang mempersiapkan semuanya jadi pasti pasti lebih tahu fokusnya. Hwan Gi memandangnya tajam.
Yoo Hee lalu akan memijit punggung Hwan Gi karena Hwan Gi pasti kelelahan mempersiapkannya sendirian tapi Hwan Gi malah menepis tangannya.

"Aku membutuhkan pegawai. ukan sosok Ibu." Ujar Hwan Gi.
Ro Woon emosi saat membahas soal Hwan Gi. Katanya Hwan Gi sudah menyalahgunakan kekuasaan. Sampai kemarin, dia tidak bilang apa-apa. Tapi, sekarang ingin mereka bersiap untuk presentasi?

Yoo Hee pasrah, ia lebih baik menurut saja. Ro Woon menjelaskan kata-kata Woo Il kalau ini proyek Silent Monster, tidak mengenal hirarki.

"Dia tidak mau berkomunikasi dengan kita. Dia itu diktator yang bertindak semaunya."
Sun Bong menyela, kalau ia jadi Yoo Hee maka ia akan pergi. Sudah jelas Hwan Gi mengatakan butuh pegawai bukan sosok ibu.

Yoo Hee tidak tersindir, ia malah menyarankan Sun Bong untuk menggantikannya. Selama ini ibunya selalu menjaga anak-anaknya tapi besok ibunya berencana berlibur.

"Sayangnya, besok aku cuti. Aku ada wawancara kerja. Perusahaan besar." Jawab Sun Bong.

Ro Woon mengajukan diri. Se Jong protes, apa Ro Woon pernah presentasi sebelumnya. Ro Woon menjawab kalau semua orang pernah, di sokolah. Gyo Ri melarangnya takut terjadi kesalahan.

"Kita kan harus mematuhi dia?" Lanjut Gyo Ri.

Yoo Hee membenarkan, ia bahkan sudah diberi peringatan. Saat Hwan Gi berkata kita tidak boleh menemui siapa pun, ia rasa itu ditujukan padanya. Hwan Gi menyuruhnya fokus kerja daripada sibuk dengan keluarganya. Ia akan coba melakukannya sendiri.

Kalau begitu, Ro Woon menawarkan diri membantu, katakan saja jika membutuhkannya. Gyo Ri juga.
Saat pulang kantor, Yoo Hee membawa banyak barang, ia menelfon juga jadi kesulitan. Yoo Hee berusaha membujuk ibunya agar membatalkan rencana liburannya.

"Maafkan aku, Bu. Aku benar-benar minta maaf. Ya. Bu, aku akan... memberikan banyak uang untuk Ibu."

Pada akhirnya Yoo Hee menjatuhkan semua barangnya dan Ro Woon melihatnya iba.
Ro Woon menatap tajam Hwan Gi di ruangan. Ia teringat kata-kata hwan Gi, "Daripada menguntit orang lain, kerjakan tugasmu."

"Apa dia pikir cukup dengan mengerjakan tugasnya sendiri? Omong kosong." Batin Ro Woon.

-- 3 Tahun Lalu --
Pengacara perusahaan datang ke pemakaman Ji Hye menemui ayah dan ibu. Pengacara mewakili perusahaan mengucapkan bela sungkawa. Ia memberikan amplop pada mereka.

Ro Woo kesal, sudah ia duga akan seperti ini. Perusahaan mencoba menyuap mereka dengan uang. Jelas terjadi sesuatu di tempat kerjanya, kan?
Pengacara menjelaskan pada ayah ibu kalau perusahaan sudah mencari tahu tapi tidak terjadi apa pun...

"Itu sebabnya lebih mencurigakan! Seseorang meninggal, tanpa alasan. Semestinya ada penjelasan! Dia bunuh diri di kantor, tapi tidak muncul satupun artikel berita. Setelah itu, kalian hanya berkata, itu akibat dia depresi. Omong kosong apa itu?" Sela Ro Woon menggebu.

Ayah memintanya berhenti. Ayah menyuruh pengacara pergi juga membawa kembali uangnya. Ro Woon berkata lagi, mereka tidak bisa diam saja.

"Tidak seorangpun rekan kerjanya datang, lalu bosnya pun tidak menemui kita. Perwakilan mereka akhirnya kemari. Kenapa kita membiarkan dia pergi?"

Ayah menyuruh pengacara untuk cepat pergi. Pengacara mengerti, ia mengambil kembali uangnya dan pergi.
Ro Woon tidak mengerti dengan sikap ayahnya yang tetap diam. Ayah menjelaskan, kehidupan sosial memang berat untuk semua orang. Semua orang juga kesulitan, kekuatan mereka yang menentukan akhirnya. Ji Hye seharusnya berjuang.

"Ayah... Jika Ayah tidak mau, biar aku yang lakukan. Aku akan ke sana, meski hanya untuk mengambil sepatunya."

"Jangan bikin kacau dan duduklah."

"Aku tidak bisa melakukannya! Dadaku rasanya akan meledak!"
Ro Woon terbangun karena mimpi buruk itu, ia lalu memandangi bunga dari Mr. Smith dan suratnya.

Hwan Gi pulang ke rumahnya.

Yi Soo berlari menuju ibunya mengabarkan kalau Oppa datang. Nyonya Eun sangat senang mendengarnya, ia langsung bangkit dari tidurnya.

Tapi yang dimaksud Yi Soo bukan Hwan Gi Oppa tapi Woo Il Oppa. Walaupun begitu Nyonya Eun tetap senang. Woo Il juga sangat ramah.

Nyonya Eun menyuruh Yi Soo untuk mengubah nama panggilannya pada Woo Il. Yi Soo santai soalnya mereka belum menikah.

"Meskipun belum menikah, kalian sudah tinggal serumah." Ujar Nyonya Eun.
Woo Il berkata kalau ia akan tetap memanggil Nyonya Eun "Eommoni" setelah menikah nanti. Nyonya Eun tertawa, itu akan membingungkan, apa lagi kalau mereka punya anak nanti, akan lebih kompleks lagi.

"Supaya tidak sakit kepala, aku membawakan ini."

Woo Il memberikan obat untuk Nyonya Eun membuat Nyonya Eun sangat senang sampai memberi jempol untuknya.

"Sedari tadi Eomma mengomel. Sekarang sudah tertawa." kata Yi Soo.

Nyonya Eun menjawab kalau semua itu gara-gara Woo Il.
Hwan Gi terlambat, ia hanya mengintip dari jauh. Apa lagi sekarang Woo Il memijit pundak Nyonya Eun dan Nyonya Eun sangat menikmatinya. Ia pun berbalik, terlebih Nyonya Eun mengatakan alasannya tidak makan karena hwan Gi belum pulang selama berhari-hari.

Hwan Gi sepertinya cemburu karena ibunya lebih dekat pada Woo Il dari pada dengannya.
Saat presentasi.

Gyo Ri mengabarkan berita buruk. Yoo Hee masih di rumah karena bangun kesiangan. Ro Woon menawarkan diri untuk menelfon Yoo Hee.
Di rumah Yoo Hee berusaha keras memakai celana tapi resletingnya tidak mau naik ke atas, kesempitan. Ro Woon menelfonnya. Ro Woon tersenyum, ini kesempatan tidak terduga untuk balas dendam.

Ia lalu memberikan ponselnya pada Hwan Gi, sebelumnya ia mengatakan kalau Yoo Hee tidak bisa sampai tepat waktu.

"Aku baru saja memberikan anakku obat. Yaa!"

Bukan hanya Hwan Gi yang terkejut dengan teriakan Yoo Hee itu tapi semuanya. Di rumah Yoo Hee berteriak karena putranya memuntahkan obat. Yoo Hee menahan hidung anaknya agar menelan obatnya tapi malah muntah di bajunya.

Hwan Gi mengembalikan ponselnya pada Ro Woon, ia mendesah dan berjalan pergi. Ro Woon menahannya, mau kemama? Ia lalu menyuruh Hwan Gi untuk menggantikan Yoo Hee malakukan presentasi.
"Aku?"

"Lalu.. kami? Kau satu-satunya yang bisa melakukannya."

Panitia sudah memanggil Silent Monster untuk masuk. Hwan Gi beralasan kalau pakaiannya tidak pantas. Se Jong mengatakan itu tidak masalah, Gaya Hwan Gi justru kelihatan keren. Sempurna.
"Kaisar yang bersembunyi di balik tudung. Debut spektakuler dari si misterius Eun Hwan Gi. Ini kesempatan sempurna untuk mengukuhkan namamu." Paksa Ro Woon dan Se Jong mendorongnya masuk ke dalam.

Hwan Gi berdiri di depan orang banyak, ia syok. Ro Woo lalu memberinya mic dan menyemangatinya. Se Jong duduk di depan laptop untuk mem[ersiapkan ppt-nya.

MC mempersilahkan Hwan Gi untuk segera memulai presentasinya. Ro Woon khawatir, bagaimana kalau Hwan Gi berhasil melakukannya?
Hwan Gi masih mengatur nafasnya, semua orang mulai menekannya untuk segera mulai, termasuk Tuan Jin juga. Akhirnya Hwan Gi mendekatkan mic ke mulutnya.

"Eum... Saya... Saya... Silent..." Ujar Hwan Gi gagap.
MC menyuruhnya cepat karena mereka tidak punya banyak waktu. Hwan Gi menghela nafas berat lalu memulai lagi,

"Um, saya... Saya..."

Kilas balik...
Tuan Eun membentak Hwan Gi kecil untuk bicara saat rambutnya akan di potong. Tuan Gi menyuruh Hwan Gi bicara mau model rambut seperti apa. Tuan Eun bahkan sampai harus menggoyang tubuh Hwan Gi agar Hwan Gi mau bicara.

"Silakan lakukan apa saja." Ucap Hwan Gi setelah sekian lama.

Tuan Eun mendesah, "Hanya itu yang bisa kau katakan? Kenapa kau membiarkan orang lain menentukan gaya rambutmu? Kau tidak bisa mengekspresikan pendapatmu dengan benar! Kenapa kau pemalu sekali, sih? Baiklah. Jika kau tidak mau bicara, biar aku!"
Besoknya, Hwan Gi jadi ejekan teman-temannya karena rambutnya keriting.

Kilas balik selesai...
MC mengingatkan lagi agar Hwan Gi cepat memulai karena waktu penilaiannya sangat berharga.

"Saya... Saya..."

"Ketakutan seseorang selalu memiliki alasan." Batin Hwan Gi.

Kilas Balik...
Hwan Gi mengikuti paduan suara dan ia berdiri di tengah. Ayah, ibu dan adiknya menonton dibarisan paling depan.

"Tapi Ayah menginginkan aku menjadi pemimpin. Pemimpin besar. Dia tidak mengijinkan aku memiliki sedikit saja rasa takut. Dia bahkan berusaha keras sampai menyuap guruku... agar aku bisa menjadi pusat perhatian."

Saatnya Hwan Gi menyanyi solo tapi ia tidak kunjung memulainya, dikepalanya dipenuhi ke khawatiran, "Bagaimana kalau aku tidak mengikuti ritmenya? Bagaimana kalau aku lupa liriknya? Tak apa. Aku sudah berlatih, kok. Bagaimana kalau suaraku jadi mengerikan? Aku semestinya tidak diberi bagian solo. Aku diberi bagian solo bukan karena suaraku bagus. Itu karena pada hari pemilihan bagian solo, Yeong Sik, penyanyi terbaik di kelas, terbentur meja dan menangis keras. Aku kasihan padanya."
Hwan Gi akhirnya mulai menyanyi tapi suaranya kecil banget sampai membuat para penonton tertawa. ALhasil keluarganya malu dan ia juga.

Kilas balik selesai...

Hwan Gi berkunang-kunang menatap para hadirin, ia berkali-kali menghembuskan nafas berat. Nafsnya tidak teratur dan keringatnya bercucuran. Pada akhirnya Hwan Gi tidak sanggup dan itu membuat Tuan Jin tersenyum. Hwan Gi menjatuhkan mic-nya

"Aku setidaknya... sudah memuaskan seseorang." Batin Hwan Gi sambilmenatap Ro Woo. Hwan Gi tahu tujuan Ro Woon memaksanya.
Hwan Gi meninggalkan ruangan. Ro Woon jadi bingung, apa balas dendamnya berhasil? Tapi, kenapa rasanya tidak menyenangkan? Bukan ini yang ia inginkan.

Hwan Gi menyendiri di ruangannya, ia menatap hujan di luar.

Di luar ruangan semua karyawannya berkumpul tanpa Sun Bong dan ada Woo Il. Woo Il menggedor-gedor pintu memanggil-manggil Hwan Gi tapi tidak ada tanggapan.
"Kurasa... kita perlu memberinya waktu sendirian. Akan ada kesempatan lain, jangan terlalu kecewa. Kerja bagus, semuanya." Ujar Woo Il dengan menyentuh pundak Ro Woon.

Woo Il mengijinkan semuanya untuk pulang lebih awal.
Yoo Hee terlihat lesu. Mereka bertiga mendekatinya. Ro Woon menanyakan keadaan anak-anak Yoo Hee. Yoo Hee mengatakan kalau mereka baik, ayah mereka cuti jadi bisa menemani mereka.

Se Jong menyarankan untuk pergi minum bersama menghibur diri dan semuanya setuju.
Hwan Gi galau di ruangannya. Rasanya ia tidak bisa menepati kata-katanya untuk melindungi pegawainya. Ia memakai kembali hodie-nya.
Semua sudah mabuk. Gyo Ri berkata kalau presentasi Hwan Gi membuat matanya terbuka lebar. Orang yang sangat ia takuti rupanya seorang penakut. Mengecewakan sekali.

Gyo Ri akan minum lagi tapi Ro Woon menahannya, yakin Gyo Ri bisa minum lagi? Gyo Ri mengiyakan setelah melihat Se Jong.
Sun Bong mengeluh, ia ini pegawai Brain atau bukan sih. Ro Woon menduga, jangan-jangan wawancara Sun Bong gagal. Sun Bong menangis, karena secara teknis ia bekerja dalam tim Silent Monster, tidak ada perusahaan yang meliriknya. Se Jong memeluknya.

Yoo Hee minta maaf, ini semua salahnya karena tidak melakukan presentasinya. Ro Woo menggeleng, bukan salah Yoo Hee, ia lah yang paling salah karena memaksa hwan Gi untuk presentasi sendiri.

"Tapi, dia bahkan menuliskan naskah presentasi untukku. Padahal aku hanya perlu mengingatnya kemudian melakukan presentasi. Terlebih, temanya sangat istimewa." Jelas Yoo Hee.
Yoo Hee menghafalkan sambil menjaga anak-anaknya yang sakit,

"Untuk merayakan ulang tahun ke-30 Yong Ramyeon, Silent Monster menyiapkan sebuah kontes foto di SNS. "Ramyeon Tidak Pernah Berubah". Yong Ramyeon sudah menemani kita selama 30 tahun. Bagikan momen bersama Yong Ramyeon... pada kami."
Anaknya memanggilnya karena mereka merasa sakit lagi. Yoo Hee sengan sabar meladeni anaknya sambil tetap menghafal.

"Foto dapat diunggah dari koleksi foto lama. Atau bisa juga mengulang lagi pose dari foto lama tersebut."
Dijelaskan maksud Hwan Gi menunjuk Yoo Hee untuk melakukan presentasi. Kehangatan keluarga. Ramyoen lembut ditujukan untuk anak-anak. Setiap kali membelikan makanan untuk rekannya, Yoo Hee membeli roti konvensional yang menemani mereka dalam masa-masa tumbuh dahulu.

"Dia orang yang sempurna untuk mengekspresikan kenangan lama atas proyek ini."
Yoo Hee sudah lama sekali tidak sungguh-sungguh bekerja. Ini mengingatkannya pada masa lajang, dan ia bahagia. Belakangan ini, ia hanya menjadi sosok ibu untuk rekan kerjanya.

"Tidak, semestinya aku tidak menyebut diriku Ibu. Aku bahkan tidak memberi anak-anakku obat flu tepat waktu dan aku meneriaki mereka yang mengeluh kesakitan. Aku bukan pegawai yang baik... bukan pula seorang Ibu. Aku ini apa?"

Ro Woon memeluknya memberi semangat.
Ponsel Hwan Gi berbunyi dari Woo Il tapi ia mengabaikannya. Lalu berdering lagi dari Ro Woon. Total semua panggilan yang tak terjawab saat ini adalah 11 panggilan dan masih bertambah terus.

Ia teringat kata-kata Woo Il,

"Kau benar-benar ingin melindungi stafmu? Atau kau hanya mencoba melindungi harga dirimu?"
Akhirnya Hwan Gi mengangkat panggilan Ro Woon. Tapi yang bicara bukan Ro Woon melainkan seorang pria.

"Apa kau... bosnya? Anggota karyawanmu semuanya di sini. Cepat bayar tagihannya."
Hwan Gi datang ke tempat para karyawannya dan mereka semua sudah tidak sadarkan diri. Pemilik bar mendekatinya. Menyuruhnya membayar 100 ribu won tunai karena mesin kartunya rusak.

Hwan Gi kemudian mengantar satu per satu karyawannya ke taksi. Pertama adalah Sun Bong, ia meminta pak supir mengantar Sun Bong ke Heukseok-dong. Areum Villa, Unit 203.

Kedua adalah Yoo Hee. Yoo Hee sampai menganggap Hwan Gi anaknya, dan ia heran kenapa anaknya cepat sekali besar.

Ketuga, Gyo Ri. Ia meminta Pak supir mengantarnya ke Unit 907, Apartemen Jinsang, Myeonmok-dong. Gyo Ri bahkan masih membawa botol minuman dan gelasnya.

 
Terakhir adalah Se Jong. Ia mendorongnya dengan papan sakeboard kesayangan Se Jong. Lalu menyuruh Pak supir mengantarnya ke Hannam-dong.
Setiap taksi yang ditumpangi para karyawannya. Hwan Gi memotret plat nomor dan karyawannya yang sudah duduk di dalam.

Hwan Gi kembali lagi ke bar. Disana ada Ro Woon yang duduk di luar.

"Kau bilang bukan tipe pengertian. Lalu, kenapa kau datang kemari? Kau juga tahu alamat semua pegawaimu. Sedari tadi kau menonton kami? Kenapa? Kenapa kau diam-diam mengobservasi orang lain? Kenapa kau tidak mau berhadapan dengan mereka? Tidak bisa?"

Ro Woon berdiri dan mendekat pada Hwan Gi. Awalnya, ia pikir Hwan Gi meremehkan orang lain. Ia bertanya, apa Hwan Gi... takut pada orang lain?

"Saat ada yang menatapmu, kau jadi melakukan kesalahan? Aku sangat memahami orang sepertimu. Kau bersembunyi di mana tak ada orang sama sekali. Kau mematung di tempatmu. Salah seorang anggota keluargaku juga begitu. Tidak. Kecuali aku, semua anggota keluargaku seperti itu."
Ia menghitung anggota keluarganya, Ayah, Ibu, Juga Kakaknya. Menyendiri di tengah ribuan orang, tidak disadari keberadaannya.

"Jika kau terus diam di situ, tidak akan ada yang berubah."
"Hanya dengan menonton, kau tidak akan bisa melindungi siapa-siapa."

Ro Woon tidak sadarkan diri, ia jatuh ke pelukan hwan Gi. Hwan Gi memegang tubuhnya erat.


3 komentar

seruuuuuu...
hwan gi sifatnya aku banget waktu sekolah..pemalu berat

Lanjutin yah!!!!puthakhamnida......
Fighting!!!

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...