Tuesday, January 24, 2017

Sinopsis Naked Fireman Episode 4 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari KBS2

Sinopsis Naked Fireman Episode 4 Part 1


Kilas balik 10 tahun lalu...

Pak Jang saat itu belum menjadi ketua Tim DamKar. Ia dan yang lain sudah keluar dari vila keluarga Jin Ah. Jenazah kedua orang tua Jin Ah sudah dievakuasi.


Cheol Soo berteriak dari kerumunan warga yang menonton, ia menanyakan soal Jin Ah, apa sudah keluar. Pak Jang menyuruhnya mendekat.

"Anak perempuan itu tidak kelihatan. Dia anak SD berusia sekitar 5 atau 6 tahun. Dia sudah keluar?"

Angggota Tim DamKar yang lain mengatakan bahwa ia sudah menyisir semua lantai tapi tidak ada siapapun. Pak Jang bertanya, apa sudah sudah periksa lemari baju anak itu atau dibawah tempat tidur?

"Kami tidak punya waktu melakukannya. Rumahnya akan runtuh."

Cheol Soo berkata kalau ia tahu dimana letak jendela kamarnya.


Pak Jang nekat menerobos kepulan api yang sudah sangat besar. Jin Ah membuka pintu almari minta diselamatkan. Pak Jang melihatnya, tiba-tiba senuah ledakan terjadi.


Di luar, Ketua Tim memanggil-manggil Pak Jang lewat walkie-talkie tapi tak ada jawaban, mereka kelihatan frustasi karena tak kunjung dijawab. Cheol Soo pun juga berbalik, ia merasa bersalah.

Tapi.. beberapa saat kemudian Pak Jang keluar dengan membawa Jin Ah ditangan. Tim yang lain segera membantu, tim medis membawa Jin Ah ke ambulance.


Pak Jang mendekati Cheol Soo, memegang pundaknya "Bagus sekali, bocah."

Kilas balik selesai...

Setelah mendapat nasehat Pak Jang Cheol Soo mengingat sesuatu, ia akan memutus telfon. Sebelumnya ia meminta Pak Jang tidak mati, tunggu sampai ia kembali dengan begitu Pak Jang bisa dioperasi.


Ponsel Cheol Soo mati karena kehabisan baterai. Tiba-tiba pintu terbuka. Jin Ah masuk, 

"Tertangkap. Sebagai pelarian, bukankah kau terlalu mudah ditemukan, Kang Cheol Soo-ssi?"

Cheol Soo tidak bisa berkata apa-apa. Jin Ah berjalan lebih ke dalam. Sebenarnya ia cuma menebak, mungkin saja Cheol Soo disana, eh tarnyata benar.

"Kau membawaku kesini, kau lupa?"

"Jangan-jangan kau kesini... sendirian?"


Song Ja di rumah Sung Jin, ia melihat bideo Cheol Soo yang bertengkar dengan warga. Sung Jin melarangnya untuk menontonnya. Song Ja tidak mengerti, kalau Cheol Soo tidak salah harusnya jangan lari. Ia tidak percaya pada Cheol Soo.

"Makanya. Lalu siapa yang bisa membuktikan kalau dia tidak salah?"

"Bagaimana kalau kau ditangkap? Aku takut sekali."

Sung Jin menjelaskan, Luka dipunggung Cheol Soo... gara-gara dirinya. Waktu masih SMP, hidupnya berantakan. Sampai-sampai ia membakar sekolahnya. Cheol Soo terluka saat menyeretnya dari api.

Sung Jin berjanji, ia hanya akan mengenalkan Cheol Soo pada broker di pelabuhan Incheon. Song Ja luluh, ia menanyakan dimana Cheol Soo sekarang.


Sung Jin dan Song Ja pergi naik mobil. Di luar ada Detektif kwon dan rekannya mengawasi, mereka lalu mengikuti Sung Jin, takutnya Sung Jin akan menemui Cheol Soo.

Song Ja dan Sung Jin melewati gang-gang kecil dan sepi. Detektif kwon terus saja membuntuti mereka.


Detektif kwon membuka sebuah pintu. Cheol Soo terkejut, ia langsung membekap Jin Ah untuk sembunyi.

Ternyata pintu yang dibuka Detektif kwon adalah pintu sebuah restoran dimana Song Ja dan Sung Jin sedang makan bersama. Detektif kwon dan rekannya menutupkembali pintunya. Song Ja berbisik, Sung Jin benar bahwa mereka diikuti.


Sedangkan yang membuka pintu persembunyian Cheol Soo adalah orang-prang yang akan makan di tempat itu tapi tidak tahu kalau sudah tutup. Mereka pun lekas pergi dari sana. Cheol Soo cepat-cepat melepaskan Jin Ah dan mereka menjadi canggung.


Cheol Soo mengatakan yang sebenarnya. Jin Ah tidak percaya kalau semua ini rencana Detektif kwon. Detektif kwon membunuh kedua orang tuanya, tapi ada disisinya.

"Dia membodohi aku, selama 10 tahun?!"

Cheol Soo menjawab kalau Detektif kwon mengawasi Jin Ah. Jin Ah geleng-geleng tidak percaya, buat apa ia mempercayai Cheol Soo? Cheol Soo punya bukti apa?

"Kau menemui aku karena tidak percaya padanya. Kau ingin menemukan kebenaran yang kau curigai, Bukan begitu?"

Jin Ah agak tenangan, jadi apa yang akan Cheol Soo lakukan. Pelarian ini tidak akan menyelesaikan apapun. Mereka harus pergi ke kantor polisi. Cheol Soo tidak bisa kesana tanpa bukti jelas, Bukti yang dapat membalikan kebohongannya Kwon Jeong Nam.

"Itu harus kutemukan. Jadi, tolong beri aku waktu sehari lagi. Jangan berusaha membujukku."


Jin Ah melihat bungkus roti dan air mineral di belakang Cheol Soo, ia bertanya kapan terakhir kalinya?

"Ya? Apa?"

"Makan."


Jin Ah mengajak Cheol Soo makan di restoran bagus. Cheol Soo terkejut tiap kali pelayan mendatangi mereka, reaksinya berlebihan banget. Jin Ah juga tidak bisa makan jadinya, ia berbisik kalau Cheol Soo terlihat mencurigakan sekali.

"Aku gugup. Bagaimana kalau aku dikenali?"

"Disini, di restoran ini, tidak ada yang akan mengira kalau seorang pelarian makan malam dengan perempuan."

Cheol Soo menanyakan alsan Jin Ah mengajaknya makan disana. Karena Jin Ah tidak percaya Cheol Soo, ia rasa Cheol Soo akan melarikan diri saat ia membeli makanan.

"Hanya karena tidak percaya pada detektif Kwon Jeong Nam, bukan berarti aku percaya Cheol Soo ssi."

"Cih..."


Jin Ah lalu menunjukkan denah, ia meminta Cheol Soo melanjutkan penjelasannya tadi. Cheol Soo menjelaskan kronologis ia bertemu Detektif kwon dan rute dia berlari, ia sudah mengejarnya tapi kehilangan.


"Tapi... coba pikirkan. Dari awal Ia membawa pistol. Kenapa Ia melarikan diri dariku? Kita harus temukan alasannya. Saat Ia sembunyi di apartemen atap Seong Jin, Ia mungkin menaruh pisau itu dalam tasku."

"Jika itu benar, perkataan ahjushi kalau Ia ada dirumah adalah bohong? Tapi... ini jalan buntu. Kenapa kau bisa kehilangan dia?"

"Itu... Dia menghilang. Secara mendadak. Tapi, ada mobil di depan rumah ini. Seingatku, aku lihat ada kamera kotak hitam di dasboard mobil itu."

"Disini dimana kredibilitasmu jatuh."

"Cih..."

"Wajahmu kenapa? Aku bilang aku tidak percaya padamu."

"Kalau kau mau curiga, tidak perlu khawatir padaku. Tapi kau khawatir karena aku belum makan. Ini membingungkan. Rasanya kau dipihakku."

"Ini bukan apa-apa. Ini mirip dengan amal. Humanisme."


Cheol Soo mengandai, Kalau ia makan dan jadi kuat untuk melarikan diri bagaimana. Jin Ah malah merasa lega. Ia malah meminta Cheol Soo menghianatinya danmenghilang tanpa jejak. Dengan begitu, ia bisa melupakan rasa percayanya pada Cheol Soo. Dengan begitu, ia tidak jadi korban penipuan dari orang kepercayaannya selama 10 tahun.


Cheol Soo menelfon Sung Jin lewat telfon umum. Ia menanyakan apa bisa ia kesana. Sung Jin merasa pagi bisa, ia akan mengalihkan detektif yang mengikutinya.

"Yaa, tapi kau yakin bisa kesini?"

"Jin Ah bilang dia akan membantuku."

Sung Jin saat ini bersama Sung Ja. Mereka berdua sama-sama terkejut, kenapa Cheol Soo mempercayai Jin Ah. Cheol Soo tidak bisa menjelaskan, ia hanya tahu... Jin Ah bisa dipercaya.


Jin Ah kembali dengan membawa 2 kresek, ia melihat Cheol Soo dicurigai polisi patroli. lalu ia memeluk Cheol Soo di dalam telfon umum. Ia meminta Cheol Soo diam saja karena ada polisi. Rencana Jin Ah berhasil karena polisi melanjutkan patrolinya kembali.


"Ini pertamakalinya... dilindungi oleh seseorang yang semungil ini. Ini akan kuingat... dalam waktu yang lama."

Jin Ah dan Cheol Soo menikmati pelukan itu.


Jin Ah hanya menyewa satu kamar, Cheol Soo protes, tidak bisakah Jin Ah bisa mamakai kamar lain. Jin Ah tidak peduli, ia merebut kartu yang dipegang Cheol Soo dan membuka kamar dengan santai.


Cheol Soo masih canggung saat di dalam. Ia menyuruh Jin Ah tidaur di ranjang dan ia akan tidurdi sofa. Jin Ah tidak mau, karena jika diranjang ia akan ketiduran, maka ia yang di sofa saja.

"Anu, memangnya kenapa kalau tertidur?"

"Saat aku tertidur, bisa saja Kang Cheol Soo mengambil dompetku dan melarikan diri."

"Aku?!"

"Tidurlah. Aku akan memperhatikanmu dari sini."


Cheol Soo membuka jaketnya, membuat botol itu jatuh. Jin Ah memungutnya, mengira itu parfum dan akan mencium aromanya. Cheol Soo heboh, jangan! Jin Ah refleks akan menyemprotkannya pada Cheol Soo.

"Itu buat menjaga diri. Itu semprotan lada." Jelas Cheol Soo.

Jin Ah heran, Cheol Soo membawa benda begituan. Cheol Soo menjelaskan, ia membelinya untuk seorang gadis. 

"Gadis?"

"Adalah... Ada penguntit yang sering mengikutinya, aku khawatir. Apalagi karena dia cantik... aku jadi makin khawatir. Makanya aku membelikannya itu. Setidaknya aku bisa lebih tenang."


Jin Ah merasa modelnya tidak terlalu buruk. Cheol Soo akan mandi, Jin Ah menyuruhnya membawa barang-barang yang dibelinya.

Cheol Soo membukanya di kamar mandi yang ternyata isinya alat pembersih, baju dan ada daleman juga. Cheol Soo tersenyum melihat kebaikan Jin Ah.


Setelah selesai mandi, Cheol Soo melihat Jin Ah sudah tertidur di sofa. Ia menyenggol-nyenggol Jin Ah tapi Jin Ah tidak bergerak. Cheol Soo menyibak rambut Jin Ah barulah Jin Ah menggeliat.

"Cepat sekali tertidur." gerutu Cheol Soo.


Dan Cheol Soo menggendong Jin Ah ke ranjang, tapi saat Cheol Soo menidurkannya, Jin Ah terbangun. Cheol Soo memastikan kalau ia tidak ingin berbuat macam-macam, Jin Ah tadi hanya kelihatan tidak nyaman.

"Seandainya...Kang Cheol Soo ssi... bukan kriminal, kau tidak perlu memaafkan aku. Semuanya dimulai... karena kecurigaanku."

"Tidak. Semuanya dimulai karena Kwon Jeong Nam. Jangan salah mengerti. Tidurlah."

Cheol Soo pun kembali ke sofa dan Jin Ah tidur di ranjang.


Pagi-pagi Jin Ah sudah bangun, ia menulis pesan untukCheol Soo, "aku akan mengambil kotak hitam di dashboard. jika kau bohong, ini kesempatanmu melarikan diri"


Jin Ah melihat Cheol Soo kedinginan, ia lalu menyelimuti Cheol Soo dengan mantel Cheol Soo yang terjatuh. Jin Ah juga sempat memandang wajah Cheol Soo.

Ia kembali lagi ke meja untuk menuli pesan yang baru setelah itu ia membuang pesan yang lama ke dalam sampah dan berjalan keluar.


Saat Jin Ah menyetir, Cheol Soo menelfonnya setelah melihat pesan di meja, tertulis disana "aku akan mengambil kotak hitam di dashboard. tunggu disini."

Jin Ah tak mengira Cheol Soo akan menelfon secepat itu. Cheol Soo memastikan, apa Jin Ah sungguh bisa sendirian. Jin Ah menjelaskan, jika ia dan Cheol Soo bergerak bersama, situasinya akan rumit. Akan lebih mudah jika ia sendirian.

"Kau punya ide bagus? Atau... cerita soal kamera kotak hitam, hanya kebohongan?"

Cheol Soo menegaskan, sejak Jin Ah tahu nama aslinya, ia belum pernah membohonginya lagi, tidak satu kalipun. Kalu begitu Jin Ah memintanya menunggu, ia akan membawakan rekaman itu. 

"Jangan buka pintu pada siapapun."

"Di dunia ini, selain Jin Ah-ssi tidak ada orang lain... yang tahu aku ada disini. Aku akan menunggumu."


Jin Ah memulai pergerakannya dari depan rumah Sung Jin. Tiba-tiba Detektif kwon menghampiri, bertanya kenapa ia ada disana. Jin Ah berbohong kalau ia datang untuk menemui bibinya yang tinggal di rumah Sung Jin. Jin Ah mengalihkan pembicaraan, Apa Detektif kwon sibuk?

"Aku kira mudah menangkap Kang Cheol Soo. Tapi aku tidak tahu dimana dia. Aku malu bertemu denganmu."

"Dia pasti akan tertangkap."

"Makanya itu... Aku ingin minta tolong padamu."


Jin Ah sengaja memancing Song Ja untuk keluar. Song Ja marah, kemana saja Jin Ah semalam, kenapa tidak mengangkat telfonnya. 

"Aku akan bicara terus terang. Kau tahu dimana Kang Cheol Soo?"

"Bicara apa? Kemarin, kau..."

Jin Ah menggeleng, ia menunjuk ke bawah kalau ada polisi disana, Jin Ah hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuaa dan Song Ja paham. Jin Ah lalu bersandiwara lagi, ia melarang Song Ja mengalihkan pembicaraan, katakan saja dimana Cheol Soo. Ia yakin Song Ja pasti tahu.

"Hah?" Song Ja tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Jin Ah mengkodenya untuk diam, sementara ia melanjutkan sandiwaranya. Apa Song Ja tidak tahu kalau menyembunyikan penjahat adalah tindakan kriminal?

"Aku sungguh, tidak tahu apapun." Tegas Song Ja.

"Bibi tahu. Aku yakin itu. Tahu kan? Kau tahu."

"Aku... aku tahu?" Jin Ah mengangguk, Lalu Song Ja bicara lagi, "Aah... Sepertinya aku tahu. Itu... dimana ya? Ah... Di... Gachon. Dia kesana. Dia tinggal di penginapan disana. Aku hanya tahu itu." Jawab Song Ja setelah melihat gerakan bibir Jin Ah.

Jin Ah berterimaksih dan berjalan pergi. Song Ja menanyakan keadaan Jin Ah, apa baik-baik saja. Jin Ah mengiyakan, ia memutuskan harus melakukannya.


Jin Ah menuju Detektif kwon yang tadi sudah mendengar semuanya. Ia meminta Detektif kwon untuk buru-buru kesana. Tapi sebelum menghidupkan mobil, Detektif kwon melihat botol itu di tas Jin Ah. Semprotan lada yang digunakan Cheol Soo menyerangnya.


"Jin Ah kau... Kau pasti percaya padaku sekarang."

"Ya?"

"Kang Cheol Soo adalah... pembunuh yang membunuh orangtuamu."

"Tentu saja. Ada bukti di dalam tasnya. Ahjushi, tolong tangkap dia."

"Baiklah. Aku akan tangkap dengan kedua tanganku. Pasti."

Detektif kwon pun menjankan mobilnya.


Jin Ah menemui keluarga pemilik mobil,katanya orangnya akan sampai 1 jam lagi. Jin Ah lalu menghubungi Cheol Soo soal hal itu.


Jin Ah melihat ada gorong-gorong di depan mobil, ia lalu menutup telfonnya. Jin Ah akan membuka gorong-gorong itu tapi tangannya terluka dan posisinya sama dengan luka di tangan Detektif kwon yang dilihatnya kemarin.


Jin Ah menyadari sesuatu, Detektif kwon berada tepat dibelakangnya. Detektif kwon melihat kesekitar, setelah memastikan tidak ada orang ia mendekati Jin Ah. Jin Ah menggunakan semprotan lada itu.

Pesan masuk di ponsel Cheol Soo dari Jin Ah, mengatakan kalau ia sudah menemukan memori rekamannya. Cheol Soo kelihatan puas. Tapi yang mengirim pesan itu sebenarnya dalah Detektif kwon.


Jin Ah diborgolnya di jok belakang mobil Jin Ah. Detektif kwon melihat usaha Jin Ah melepaskan borgol itu, ia melarang karena tidak akan berhasil. Harusnya Jin Ah menyimpan tenaganya.

"Kenapa? Kenapa membunuh mereka? Orangtuaku."

"Entahlah... itu sudah lama sekali. Aku sudah lupa."

Jin Ah marah dan menendang-nendang  kursi depan. Detektif kwon kesal, ia menghentikan mobilnya. Lalu menodong Jin Ah dengan pistol. Dulu ayah Jin Ah juga membuatnya marah, mirip seperti Jin Ah saat ini.


Detektif kwon membawa Jin Ah pulang. Jin Ah sekarang ada di kamarnya dengan tangan terborgol. Detektif kwon datang kemudian dengan membawa segelas air. Detektif kwon mulai ceritanya.

"Dia bilang lukisan yang kubeli palsu. Aku membayar 300,000 dolar untuk itu. Perkataan ayahmu, mengubah barang 300,00 dolar menjadi barang palsu. Mana bisa aku tinggal diam? Aku harus melakukan sesuatu."

"Hanya karena 300,000 dolar, kau membunuh?"

"Lalu? Butuh berapa untuk bisa membunuh orang? Aku menjawab pertanyaanmu, sekarang giliranmu. Dimana Kang Cheol Soo?"

Jin Ah bernegosiasi, kalau ia katakan, Detektif kwon akan membiarkannya hidup, kan? Ia berjanji kalau ia dibiarkan hidup, ia akan lakukan apapun.

"Apa saja yang diinginkan ahjushi, aku akan tutup mulut dan diam saja. Selamatkan aku."

"Jadi, Kang Cheol Soo ada dimana?"


Cheol Soo mendapat telfon dari Jin Ah yang mengatakan kalau ia akan segera ke sana. Padahal itu Detektif kwon yang mengomando. 

"Aku lupa lokasi gedungnya. Kau ada di ruang 303, The Sun?"

"Ya benar. Kau dimana?"

"Ak-aku akan kesana. Sebentar lagi aku tiba."

Cheol Soo merasa aneh, kenapa dengan suara Jin Ah. Jin Ah beralasan kalau ia lapar, lapar sekali. Jin Ah ingin makan ikan bakar... dari restoran yang Cheol Soo bilang.

Cheol Soo akan bilang kalau tempat itu tutup tapi hanya sampai pada kata "tempat itu" karena Jin Ah segera memotongnya. Jin Ah mengatakan barang yang Cheol Soo cari ada di tong sampah, ia menyuruh Cheol Soo mencarinya di tong sampah.


Detektif kwon menutup telfon. Jin Ah menuntut janji Detektif kwon yang akan membiarkannya hidup. tapi.. dipikir bagaimanapun juga, Detektif kwon tidak punya alasan... membiarkan Jin Ah hidup. Selama 10 tahun, aia berpikir bagaimana seandainya saat itu ia membunuh Jin Ah. Ia sering sekali memikirkan itu.

"Selama ini, aku banyak belajar tentangmu, termasuk aspirin dapat membuat asma-mu kambuh."

Detektif kwon menghancurkan sebutir aspirin dan melarutkannya di air yang dibawanya tadi, ia langsung memaksa Jin Ah untuk meminumnya. Bukan cuma itu, Detektif kwon juga mengambil semua alat pernafasan Jin Ah.



Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...