Monday, January 30, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 11 Part 1



Solomon’s Perjury : 1-1 / 1-2 / 2-1 / 2-2 / 3-1 / 3-2 / 4-1 / 4-2 / 5-1 / 5-2 / 6-1 / 6-2 / 7-1 / 7-2 / 8-1 / 8-2 / 9-1 / 9-2 / 10-1 / 10-2



-- 24 Desember 2016, H-1 Sebelum Natal --

Pak Han mengajak Ji Hoon makan malam di luar. Karena makanan disana enak dan suasananya juga nyaman, Pak Han menyarankan agar Ji Hoon membawa kekasihnya kesana, kalau perlu akan ia berikan kartu kredit.

"Appa... Tahun depan aku sudah tingkat akhir, sibuk mempersiapkan kuliah."

"Hei! Bukan berarti kau tidak bisa berkencan karenanya, kan?"


Ji Hoon mendapat pesan, iklan kursus Bhs. Inggris. Pak Han bertanya, apa Ji Hoon sedang menunggu seseorang.

"Oh... So Woo. Kurasa, belakangan ini dia ada masalah. Dia tidak masuk sekolah dan aku juga tidak bisa menghubungi dia. Kelihatannya, dia depresi lagi. Tapi, aku tidak tahu cara membantu dia."

Pak Han yakin So Woo akan segera pulih, toh ini juga sudah cukup sering juga terjadi, jadi  jangan terlalu memikirkannya. Ji Hoon merasa kali ini agak berbeda. Soo Woo terus saja mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti. Seolah So Woo benar-benar orang yang berbeda.

Ji Hoon melihat ayahnya juga belakangan ini kelihatan lelah. Ia menyarankan untuk pergi berlibur jika libur sekolah nanti. Pak Han setuju.



Setelah itu Pak Han menemui So Woo di sungai Han lagi. Pak Han menyampaikan kalau Ji Hoon mencemaskannya. Ji Hoon bilang So Woo kelihatan sedang kesulitan. Kapan So Woo akan masuk sekolah lagi.

"Aku penasaran... Bagaimana ekspresi Ahjussi saat mendengarnya. Aku sudah dengar dari Ji Joon. Kisah pembunuhan ayahnya pada ibunya, dan bagaimana Ahjussi kemudian merebut hatinya. Bagaimana Ahjussi menjadikannya keluarga, dan seperti apa... menjaga dia. Bahkan sampai berhenti menjadi Jaksa, karena takut Ji Hoon akan terus mengingat insiden itu?

Aku terkejut. Tidak bisa dipercaya, ada orang sebaik itu di dunia ini. Seorang penolong tanpa pamrih di belakang. Tapi Ahjussi... aku takut suatu saat akan berakhir menjadi orang dewasa sepertimu. Tidak perlu mencemaskan aku. Pikirkan saja soal Ji Hoon."


Pak Han menanyakan maksud perkataan So Woo itu, Apa... Ji Hoon tahu soal ini? So Woo balik bertanya, kenapa? Merasa malu?

So Woo berencana memberitahunya. Ji Hoon harus tahu. Ji Hoon harus tahu orang seperti apa ayahnya ini. Pak Han mengatakan kalau Ji Hoon sekarang baik-baik saja, jangan mengacaukan kondisinya!

"Aku harus menutup mulutku karena ini kebenaran yang menyakitkan? Aku tidak mau. Ji Hoon berbeda dari anak-anak VIP itu. Dia temanku."

"Kalau teman... berarti kau harus lebih melindungi dia. Kenapa juga Ji Hoon harus mengetahuinya?"

"Karena ironis. Kau tidak kasihan padanya? Dia begitu percaya Ayahnya ini adalah penyelamat hidupnya. Dia mencintai dan begitu menghormatinya. Ironis sekali. Diri Ahjussi yang sebenarnya jauh berbeda. Kecewa dan terluka karena Ahjussi adalah... beban yang harus dia tanggung. Itu bukan kesalahanku."


So Woo sudah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Ia keluar, lalu Pak Han juga ikut keluar, mengejarnya dan menamparnya.

"Beraninya kau bicara soal Ji Hoon begitu? Jeong Pa. Jangan menganggap dirimu luar biasa, kau hanyalah pura-pura jadi pahlawan dunia maya. Tidak akan ada yang menerimamu di dunia nyata. Kau tidak bisa bergaul dengan orang lain, berpikirkan negatif, selalu saja protes soal sistem, menyebarkan hal-hal buruk layaknya penyakit! Tidak hanya selama sekolah, tapi... seumur hidup kau akan terus bersembunyi di balik layar, lalu mati sendirian! Tapi Ji Hoon... berbeda darimu, dia bisa bersosialisasi. Jangan pernah menemui Ji Hoon lagi!"


Setelah mengatakan itu Pak Han pergi dan menyendiri di lokasi lain.

***


Ji Hoon mengunjungi Pak Guru seni. Pak Guru berbasa basi kalau Ji Hoon sedikit lebih tinggi dari pertemuan terakhir mereka. Rasanya agak aneh karena sebelumnya mereka tidak pernah bertemu berdua saja tanpa So Woo.

"Bagaimana kabar Anda?"

"Ya, begitu saja. Kau? Semestinya tidak perlu kutanya. Kau pasti tidak baik-baik saja."

Tapi Ji Hoon membantahnya, ia baik-baik saja kok. Pak guru mengatakan kalau Ji Hoon tidak perlu menyembunyikan apapun darinya, benarkah... Ji Hoon baik-baik saja?

"Tidak."

"Lalu, kenapa? Kenapa kau menekan dirimu sendiri seperti itu?"

"Hanya ingin tahu saja. Ada jawaban yang harus ditemukan."


"Dari siapa? Ji Hoon. Saat aku mendengar soal olah perkara... aku tidak habis pikir kenapa kau bertindak sejauh itu. Setiap orang juga memiliki hak melupakan. Membicarakan soal So Woo yang sudah dilupakan orang-orang lalu mendiskusikan insidennya secara terbuka dan detail, rasanya pasti tidak nyaman. Aku juga tidak merasa itu berguna. Tapi... aku terus mengikuti perkembangannya, dan menyadari niat baikmu. Jadi, aku pun memutuskan terlibat. Aku menjadi saksi pihak Jaksa."

Guru Lee akan bicara soal sekolah karena Woo Hyuk sudah terbukti tidak bersalah. Ia rasa, sekarang gilirannya bicara. Ji Hoon merasa itu hal bagus. Tapi Pak guru bertanya, berapa banyak yang harus ia katakan?

Ji Hoon menjawab semuanya, termasuk dirinya. Pak Guru meyakinkan, apa Ji Hoon bisa mengatasinya. Ji Hoon yakin bisa karena sudah bersiap sebelum olah perkara dimulai. Ia bukan lagi pihak pembela di persidangan.

Ji Hoon melihat lagi lukisan itu.


Min Suk datang ke ruang klub karena dipanngil tapi ia protes, semestinya tidak boleh memanggil Hakim ke rapat Jaksa begini! Yoo Jin tidak punya pilihan lain, So Hee tidak ada di sini dan ia tidak bisa membantu Seo Yeon. Min Suk lah satu-satunya yang bergegas datang saat ia ajak bertemu.

"Tapi kau tidak bilang untuk rapat!"

"Memang kau pikir ada hal lain yang perlu kita bicarakan berdua?"

"Ya... Tidak..."


Mengalihkan pembicaraan Min Suk menyuruh Seo Yeon cepat mengatakannya saja, ia tadi menunda kelas untuk datnag ke sana. Tidak banyak sih, tapi Seo Yeon merasa perlu memberitahu Min Suk materi pemeriksaan kali ini. Ia memberikan daftarnya.

Pertama, soal riwayat telfon, Min Suk menjawab kalau ia sudah mengetahuinya. Kedua, Lee Jung Woo (Pak guru seni), Seo Yeon menjelaskan kalau Guru Lee itu dekat dengan So Woo. Ada yang ingin beliau katakan soal sekolah.

Ketiga wakil kepala sekolah lagi. Min Suk heran, bukannya sudah pernah memberi kesaksian dan beliau marah besar waktu itu. Seo Yeon tahu hal itu, tapi beliau ingin bicara dari sudut pandang berbeda sekarang. Beliau bilang, kali ini akan memberikan kesaksian yang jujur. Beliau akan mengungkap alasan sekolah berusaha menutupi insiden So Woo.

"Bukankah artinya beliau jadi pengkhianat setelah dipecat? Hal itu juga akan membuat marah banyak orang."

"Aku tahu. Aku akan berhati-hati." Jawab Seo Yeon.

Untuk saksi terakhir Min Suk belum pernah mendengarnya. Seo Yeon mengatakan kalau saksi itu akan disebutkan di persidangan.

"Oke. Tapi kau juga tahu kalau saksi serta bukti pihakmu tidak obyektif, kan? Para saksi adalah mantan staf sekolah, dan bukti-bukti milikmu sebatas asumsi akan insiden itu. Tidak ada yang pasti dari sesi Jaksa kali ini. Kita hanya punya waktu tiga hari sebelum dikeluarkan dari sekolah." Peringatan Min Suk.

"Hanya satu hal yang menurutku tidak obyektif. Perasaan bahwa aku bisa mengungkap identitas murid laki-laki pada insiden malam itu. Sebab itu, aku akan melakukan pemeriksaan psikologis, aku ingin mencobanya."

"Sejak kapan kau pesimis begitu? Hal itu tidak lebih dari paradoks saja."


Seo Yeon membenarkan sambil ketawa. Yoo Jin tanya, bicara apa sih, kok selalu ia tidak mengerti. Min Suk menjawab, Yoo Jin tidak perlu tahu. Tiba-tiba lampu mati.


Dari luar Soo Hee, Seung Hyun dan Joon Young menyanyikan lagu ulang tahun untuk Seo Yeon serta membawa kue ulangtahun.

"Apaan ini? Kita kan sudah sepakat tidak merayakan ulang tahunku kali ini."

"Sesibuk apa pun, ulang tahun tidak boleh dilewatkan. Kau mungkin hanya bisa merayakan 80 kali ulang tahun seumur hidup." Jawab Soo Hee.

Dan pesta berlanjut mereka menyanyikan kembali lagu ulang tahun setelah itu Seo Yeon meniup ilin.


Lampu kembali dinyalakan, terus saling coret muka dengan krim kue.


Ye Na di rumah kesal, ia benci kakaknya yang tidak mau merayakan ulangtahun. Ia kan sudah menunggu lama! Ibu membujuknya, mereka akan makan diluar kalau atah pulang.

"Bukan itu! Aku hanya suka suasana ulang tahun saja! Topi ulang tahun, lilin..."

"Dewasalah! Sebesar ini, kau masih suka pesta ulang tahun?" tegur Ye Ji.


Ayah pulang membawa kue. Ibu menceritakan kejadiannya, ayah mengerti dan memberikan kue itu, ia meminta Ye na dan Ye Ji memakannya bersama.


Ayah bertanya, apa ibu tahu sesuatu soal persidangan besok?

"Dia bahkan tidak mau keluar kamar. Tiap hari dia hanya bilang, "Aku berangkat...", lalu "Aku pulang..." Hanya itu yang dia katakan."


Di kamarnya, Seo Yeon memikirkan kata-kata Wakepsek, Ji Hoon dan Pak Han.

Ji Hoon memandang kembali lokasi So Woo jatuh.

-- Hari Sidang Ke-empat --


Semuanya mempersiapkan ruang sidang. Serta memasang kamera, tapi kali ini hanya menggunakan kamera ponsel.


Ji Hoon membawa berkas-berkasnya ke ruang klub. Disana ada Seo Yeon, ia meminya Seo Yeon mengatakan saja kalau ada yang mengganjal, tidak perlu menahannya.

"Tidak ada, kok. Apa karena ada yang kau rahasiakan sampai kau merasa begitu?"

Ji Hoon hanya diam saja. Seo Yeon lalu memberikan daftar saksi untuk persidangan kali ini. Ia menanyakan dari pihak pembela. Ji Hoon tidak mengadakan saksi,  Seo Yeon bilang sendiri, memintanya melakukan pemeriksaan pada saksi dan buktinya saja, untuk membuktikan insiden itu memang bunuh diri. Ia akan melakukannya.


Seo Yeon kemudian keluar, Ji Hoon memperhatikannya sampai pintu ditutup.


Detektif Oh menghadiri sidang tapi disana kosong tidak seperti biasanya. Reporter Park yang datang duluan melambai padanya. Tapi Detektif Oh malah duduk menjauh. Reporter Park lalu indah disamping Detektif Oh.


"Kau belum dengar? Mereka diancam akan dikeluarkan, tinggal menunggu hari saja."

"Dikeluarkan?"

"Hal itu tidak sulit bagi mereka! Murid lain juga dikunci di dalam ruang kelas."

"Mereka bertindak terlalu jauh."

"Sekolah ini sudah gila."

Reporter Park bertanya lagi, tidakkah Detektif Oh melihat kalau target Han Ji Hoon adalah pihak sekolah.


Seperti biasa, Min Suk membuka persidangan kali ini dengan berterimakasih pada para hadirin. Sebelum sidang dimulai, Seo Yeon menatap Ji Hoon.


Saksi pertama dihadirkan, Guru Lee. Seo Yeon yang memulai pemeriksaannya. Ia bertanya, apa Guru Lee dan So Woo memiliki hubungan pribadi atau sekedar percakapan guru dengan murid, karena Guru Lee mengatakan sering mengobrol dengan So Woo.

"Saya yakin kami dekat seperti teman, meskipun jarak usia terpaut antara Guru dan murid. Kami sering bertemu juga di luar sekolah."

"Apakah ada kondisi tertentu yang membuat kalian dekat?"

"Dia suka menggambar. Kami merasa terhubung dengan perasaan bahwa kami sama-sama asing di SMU Jeong-guk."

"Asing?"

"Ya. Kami bergurau akan hal itu. Dia seorang murid yang tidak terlalu peduli akan nilainya di sekolah. Sedangkan aku hanya Guru Seni berstatus kontrak, tidak ada yang peduli pada kami. tulah yang kami sebut "Asing"."

"Maksud Anda, So Woo merasa tidak ada yang peduli akan dirinya?"

"Tapi, dia tidak benar-benar kesepian, sih. So Woo bilang, dia merasa lebih nyaman bicara dengan orang-orang di dunia maya."

Seo Yeon terkejut, So Woo berkomunikasi di dunia maya? Guru Lee membenarkan, So Woo adalah pengelola akun Jeong Pa. Semua orang langsung memandang Guru Lee setelah mendengarnya.


Di kelas, SOo Hee diam-diam menonton siaran langsung lewat ponselnya. Ia mencoba memberitahu Seung Hyun kalau Soo Woo adalah Jeong Pa tapi karena Seung Hyun tidak paham dengan gerakanbibirnya ia jadi bicara keras. Itu terdengar oleh Ibu kesiswaan yang sedang menulis di papan. Ia memberi peringatan agar mereka diam.

Seluruh kelas ternyata mendengar Soo Hee, mereka lalu mencari informasi lewat medsos.


Seo Yeon kurang percaya dengan pengakuan Guru Lee karena akun Jeong Pa masih aktif sampai saat ini. Guru Lee yakin teman So Woo lah yang mengambil alih. Seo Yeon bertanya, apa teman itu bersal dari sekolah mereka.

Guru Lee diam sejenak. Ji Hoon melihatnya. Guru Lee lalu menjawab, soal itu ia tidak yakin. Seo Yeon menanyakan alasannya, Kenapa So Woo menyembunyikan fakta dia adalah Jeong Pa?

"Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia juga takut, orang-orang akan merasa kecewa jika mengetahui identitas asli Jeong Pa. Dia bilang, lebih baik tetap menjadi teman khayalan saja."

Seo Yeon bengong sampai Min Suk harus memanggilnya dua kali. Seo Yeon minta maaf lalu melanjutkan pertanyaannya, apa Guru Lee tahu awal mula So Woo aktif sebagai Jeong Pa?

"Dia... ingin berkomunikasi dengan murid lain. Dia penasaran dengan pemikiran murid lain. Dia bilang, semua teman sekolahnya tidak jujur, pura-pura menjadi orang lain."

"Jadi... Dia ingin tahu yang disembunyikan murid lain dalam hati mereka?"

"Jadi terdengar seperti niat buruk. Tapi, bukan seperti itu. Maksud So Woo adalah menjadi wadah pelepasan bagi para murid, agar mereka bisa terus bernafas."


Kilas balik...

Yoo Jin bertanya pada Jeong Pa soal Ji Hoon. Jeong Pa pun menjawab kalau Ji Hoon tidak punya pacar, sekolah SD dan SMP Jeong-guk, tinggal di Monte Visa Penthouse.


Jeong Pa juga membantu Yoo Jin menemukan dompetnya. Jeong Pa memposting mengenai Yoo Jin yang kehilangan dompetm bagi siapapun yang menemukannya, ia memintanya untuk menghubunginya.


Jeong Pa juga membersihkan nama Ahn Yoo Min kelas 2-1 dari tuduhan mata-mata yang melaporkan segalanya pada  para pengajar.


Dan masih banyak lagi aksi-aksi heroik Jeong Pa yang lain. Mereka semua memuji-muji Jeong Pa.

Kilas balik selesai...


Guru Lee melanjutkan. Seperti yang diketahui,  orang-orang di dunia maya begitu menyukai Jeong Pa. anyak yang menginginkan dia sebagai konselor (penasehat), banyak juga yang melapor dan mengungkap sesuatu padanya.

"Mengungkap sesuatu? Contohnya? Apakah sesuatu perihal sekolah?" tanya Seo Yeon.

"Saya tidak bisa langsung menyebutnya begitu. Tapi, So Woo mengatakan hal itu memang berhubungan dengan sekolah. Bisa tampilkan halaman utama akun Jeong Pa?"

Yoo Jin segera menampilkannya. Lukisan itu, Guru Lee menjelaskan kalau So Woo sangat menyukai lukisan itu, itu adalah lukisan favoritnya. Menurut pandangan So Woo, seperti itulah sekolah adanya. Seo Yeon memintanya untuk menjelaskan lebih detail.

"Lukisan itu berjudul "the Magpie on the Gallows" oleh Bruegel. Kelihatannya seperti lukisan tentang petani biasa. Tapi, lihatlah di tengah. Terdapat tiang gantungan, juga seseorang dipaksa ke tiang gantung tersebut oleh orang lain. Lukisan ini dibuat di Belanda pada abad ke-16. Saat dimana perburuan penyihir sangat populer. Meskipun bukti-buktinya benar-benar tidak masuk akal."


Min Suk menyahut, Tudingan tidak berdasar. Guru Lee membenarkan, Seseorang hanya perlu mengatakan, "Oh, dia penyihir!" Lalu, nyawa pun melayang dengan mudah. Dalam era sekarang ini, orang-orang itu sungguh jahat. Tapi sebenarnya, itu hanya upaya mereka melindungi diri sendiri. Cara untuk  bertahan hidup menurut mereka.

"Lalu bagaimana bisa So Woo... menghubungkan lukisan ini dengan SMU Jeong-guk?" Tanya Seo Yeon.

"Ada rumor buruk yang menyebar soal salah satu murid sekolah ini. Masalahnya cukup besar."


Yoo Jin menyahut, Ahn Yoo Mi. Guru Lee membenarkan, Yoo Mi memberitahukan pada pengajar soal salah satu murid yang melanggar peraturan sekolah, hingga nilai murid itu dikurangi. Si pelaku, kemudian menyebarkan rumor buruk tentang Yoo Mi. So Woo berhasil menenangkan para murid, namun Yoo Mi terlanjur terluka.

"Bukankah itu hanya masalah antar murid saja?" tanya Yoo Jin.

"Tidak bagi So Woo."

Kilas balik...


Soo Woo berkata pada Guru Lee sambil memandangi lukisan itu. Ia berkata, Orang-orang tidak berubah. Mereka menciptakan sistem untuk dipatuhi, atau memaksakannya. Lalu menjadikan seseorang kambing hitam dari kelelahan mereka sendiri akibat sistem tersebut.

Kilas balik selesai...


Guru Lee malanjutkan, So Woo tidak mengerti mengapa dunia masih saja tidak berubah. So Woo bertanya, "Bukankah salah sekolah menciptakan sistem dimana para murid harus saling melaporkan untuk mendapat nilai lebih?" Tapi Guru Lee tidak bisa menjawab pertanyaannya.

"Anda mengatakan bahwa So Woo merasa tidak nyaman dengan sekolah. Apakah itu disebabkan keinginannya untuk memberontak seperti ini?" Tany Seo Yeon.

"Itu bukan soal insting pemberontakannya. Dia mengatakan dipaksa keluar sekolah akibat mengunggah sesuatu di akun Jeong Pa."


Yoo Jin menulis postingan kalau sekolah  So Woo keluar dari sekolah.

Seo Yeon bertanya, memangnya apa yang So Woo unggah. Guru Lee tidak tahu soal itu. Seo Yeon bertanya lagi, apa itu penyebab So Woo tidak masuk sekolah? Bukan karena perkelahian di lab sains?

"Lama sebelum perkelahian itu dia sudah diminta keluar dari sekolah. Dalam periode Jeong Pa tidak mengunggah apa pun berbulan-bulan."

"Ya. Sekitar bulan Oktober."

"Ya, benar. Saat itulah sekolah meminta So Woo keluar untuk alasan berbeda."

Anak-anak mengomentari postingan Yoo Jin, kebanyakan dari mereka meminta waktu istirahat. Yoo Jin kemudian mengajukan keberatan. Min Suk heran, kan Yoo Jin anggota Seo Yeon.

"Bukan begitu saya minta waktu istirahat. Saya minta waktu istirahat 30 menit."

Min Suk memberikannya.


Kepsek menonton persidangan bersama Pak Han. Ia takut karena masalah itu diungkit di persidangan!


Yoo Jin menjelaskan kenapa ia minta waktu istirahat, ia menunjukkan komentar anak-anak di postinganya. Mereka ribut ingin melihat persidangan.

Seung Hyun dan Soo Hee berlari menuju mereka. Seung Hyun menanyakan pada Joon Young apa benar So Woo itu Jeong Pa. Seo Yeon menanyakan soal kelas mereka.

"Masa bodoh soal itu! Murid-murid lain juga akan datang, kok! Apa yang terjadi? Ceritakan secara detail padaku." Pinta Soo Hee.

Min Suk akan menjelaskannya nanti, ia meminta mereka berdua untuk mengatur anak-anak. Seung Hyun protes, kan ia bukan lagi anggota pengacara tapi Soo hee mendorongnya.


Min Suk mengajak Seo Yeon bicara berdua. Min Suk bertanya, apa Seo Yeon bisa merasakannya. Seo Yeon sudah bisa menebak arahnya jadi mereka harus mendengar lebih detail dari saksi selanjutnya.

"Kau yakin?"

Seo Yeon mengangguk. Setelah Min Suk pergi ia mengingat So Woo. Bagaimana So Woo memandangnya saat perkelahian itu dan juga saat mereka bertemu di ruang guru setelah Seo Yeon setuju menjadi saksi.

Kilas balik..


Seo Yeon di kelas sedang bercanda dengan Soo Hee dan Yoo Jin. Jeong Pa negiriminya pesan, apa Seo Yeon menikmati film yang ia sarankan.

"Bagus sekali. Apa rekomendasi selanjutnya?" Jawab Seo Yeon.

So Woo tersenyum melihat So Yeon setelah membaca balasannya itu. (So Woo naksir Seo Yeon?)

Kilas balik selesai...


Ruang persidangan penuh dengan para hadirin. Seo Yeon melanjutkan pemeriksaannya dengan saksi kedua, Wakil Kepala Sekolah. Seo Yeon menanyakan kedudukan Wakepsek.

"Mantan Wakil Kepala Sekolah, sekaligus mantan Kepala Sekolah sementara." Jawab Wakepsek.

"Sekarang Anda bukan siapa-siapa?"

"Ya."

"Apa Anda meninggalkan jabatan secara sukarela?"

"Tidak seperti itu. Saya sangat terikat dengan sekolah ini. Saya datang untuk melindungi olah perkara ini dari tekanan sekolah."

"Tekanan sekolah?"

"Ya. Dari Yayasan Jeong-guk."


Seo Yeon menanyakan lebih detailnya. Wakepsek menjelaskan, sebelumnya ia dipaksa untuk membubarkan klub olah perkara dan jika tidak berhasil, mereka ingin ia mengeluarkan semua murid yang terlibat dengan begitu kejam. Seo Yeon menyimpulkan, jadi Wakepsek dipecat karena tidak mematuhi pihak yayasan.

Wakepsek membenarkan, seperti anggota persidangan, ia dihukum karena tidak patuh jadi mereka berada di kapal yang sama. Seo Yeon menjelaskan katerangan Guru Lee soal So Woo adalah Jeong Pa, Apa Wakepsek juga tahu hal itu.

Wakepsek tahu. Guru Lee juga mengatakan soal So Woo ditekan akibat unggahannya di akun itu, So Woo dipaksa keluar dari sekolah, apa Wakepsek juga tahu hal itu. Wakepsek juga tahu hal itu. Seo Yeon menanyakan apa yang diunggah So Woo sampai sekolah bersikap begitu,

"Itu soal dokumen... perlakuan khusus SMA Jeong-guk."


Pak Han dan Kepala Sekolah yang melihat sidang otu tegang. Apa lagi Kepala sekolah sampai komat kamit.

"Perlakuan khusus? Para murid yang mendapat perlakuan istimewa di SMA Jeong-guk?" Tanya Seo Yeon.

Kepsek membenarkan, ada beberapa. Semua hadiri mulai kasak kusuk. Seo Yeon menyimpulkan, maksud Wakepsek Lee So Woo mengunggah dokumen tentang perlakuan istimewa di sekolah, kemudian dia dipaksa keluar dari sekolah?

"Sebenarnya, bukan dokumennya yang diunggah, hanya sampulnya saja. Bukan sekolah yang menindaknya, tapi yayasan."

"Apakah foto itu masih..."

"Sudah dihapus. Saya yakin, atasan di yayasan yang menekan dia."

"Anda bisa membuktikan hal tersebut?"

"Tidak."

alu Seo Yeon bertanya pada hadirin, apakah ada yang mengingat unggahan itu. Semuanya tidak ada yang ingat.

Min Suk angkat bicara, ia mengingatnya, sampul dokumen berjudul "VIP". Wakepsek membenarkan, itu adalah dokumen murid dengan perlakuan khusus. Seo Yeon meminta Wakepsek memberitahukan mengenai perlakuan khusus tersebut.


"Karena saat itu Saya hanya Wakil Kepala Sekolah, Saya hanya diberitahu akan keberadaan daftar itu. Kepala Sekolah dan pihak yayasan yang tahu lebih detail. Komite Anti Kekerasan Sekolah juga bukan atas inisiatif orang tua Woo Hyuk. Kebetulan saja saat dia dalam masalah dokumen itu, dia terlibat dalam perkelahian juga. Yayasan pun memanfaatkan situasi tersebut. Itu sebabnya, Komite bertindak sangat cepat, dan bersikukuh Lee So Woo sebagai pelaku. Sudah jelas kalau Lee So Woo harus dikeluarkan."


Ji Hoon bertanya, siapa yang berinisiatif? Siapa yang menekan Lee So Woo keluar dari sekolah? Dan siapa yang mengumpulkan Komite untuk hal itu?

"Sungguh ingin disebutkan namanya? Han Kyung Hoon, Ketua Yayasan Jeong-guk." Jawab Wakepsek.

Min Suk mengur Ji Hoon agar menunggu sampai jaksa selesai melakukan pemeriksaan. Seo Yeon menjawab kalau ia sudah selesai dan mempersilahkan Ji Hoon untuk melakukan pemeriksaan silang.


7 komentar

Lanjut part 2 nya

Semoga sehat selalu
Aamiin

♥ cept min gk sbar nunggu kelanjutannya

Ditunggu part 2nya ya kak.Semangat !!!
Oia,kalau mau streaming solomon's perjury ini ada rekomendasi link ga ?
Makasih^^

Mbak aku prnh liat lewat dramalove.tv jrg adsnya
Skrg aku lbh baca sinopsisnya aj dsni

Mksh mbak sinopsisnya, blkgn ngikutin ni drama karena penasaran wkwk
Dtggu part 2 nyaaa..

Lanjut.. ditunggu part 2 nya.. semangat kaka.. dramanya keren tp syang jarang yg ngebahas..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon