Monday, January 9, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 5 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 5 Part 2

-- Persidangan Hari Pertama --

Semua bersama-sama menyiapkan auditorium sesuai dengan denah.
Sebelum sidang dimulai, mereka berkumpul di ruang klub. Soo Hee dan Yoo Jin mengatakan, juri yang sudah diseleksi mendadak tidak mau berpartisipasi dalam sidang gara-gara korespondensi kemarin.

Yang mundur sebanyak 5 orang. Yoo Jin mengusulkan untuk menggantikan mereka. Seo Yeon menjelaskan kalau Jurinya salah satu faktor utama. Saat berkaitan dengan juri, tidak bisa mengganti posisi mereka dengan sembarang orang.

"Apa kita tunda saja persidangannya sampai besok dan memilih juri lain?" Usul Soo Hee.

Seung Hyun pesimis, karena sekolah mengirim korespondensi pada ortu, siapa coba yang mau jadi juri? Mereka sudah tamat sekarang.
Ji Hoon mengatakan untuk melakukan sesuai rencana saja. Tidak peduli sekeras apa pun sekolah berusaha menghalangi, mereka tidak boleh mundur. Sekali saja mereka mundur, sekolah akan mencoba kedua, ketiga, dan seterusnya.

"Jika begitu, seluruh rencana akan hancur."

Seo Yeon membenarkan, sejak semula, mereka melakukannya tanpa dukungan sekolah. Jadi fokus saja pada persidangan hari ini.

Soo Hee menambahi. maju terus seperti banteng! Dan mengajak yang lain Tos. Min Suk juga ikut, yey~
Kursi penonton penuh ada beberapa murid, guru, orang tua murid, detektif dan reporter Park. Tim Jaksa dan tim pengacara memasuki ruangan.

Soo Hee terkejut dengan banyaknya yang datang, ia jadi takut.
Selanjutnya adalah hakim dan Juri, semua hadirin diminta berdiri.

Min Suk masuk dengan percaya diri membawa palu. Ia duduk di tempatnya memperkenalkan diri.

"Halo, saya Kim Min Seok yang berperan sebagai Hakim dalam persidangan dari kelas 2-1 ini. Silakan duduk."

Setelah semuanya duduk, Min Suk menjelaskan informasi dasar perihal persidangan sebelum persidangannya dimulai.

Persidangan ini merupakan sidang tiruan yang digelar sebagai aktifitas klub. Tentu saja, akan ada perbedaan dari sidang sesungguhnya, dan mungkin akan ada tambahan atau pengurangan prosedur.

Tujuan dari persidangan ini adalah untuk mengungkap kebenaran, bukan menjatuhkan hukuman. Tidak akan ada tindakan hukum atas hasil akhirnya.
Seorang Ahjumma wali murid mengacungkan tangan, sekalipun sidang ini hanya tiruan, apa tidak terlalu berlebihan? Apa mereka semua melakukan ini atas ijin orang tua?

Hakin menjawab kalau hadirin tidak memiliki hak untuk bicara. Ahjumma membatah, ia bukan hadirin melainkan salah satu wali murid di sekolah ini.

"Lagi pula, kenapa kalian sibuk melakukan ini dan bukannya belajar?"
Si anak juga hadir disana, ia berbisik meminta ibunya untuk diam karena membuatnya malu. Ahjusshi menyuruh Ahjumma itu untuk pergi kalau tidak ingin menonton!

"Siapa bilang aku tidak akan menonton? Aku kan hanya mencemaskan para murid. Dan, bukankah kalian semestinya mulai mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas yang akan datang? Kenapa malah main-main begini?"

"Tolong diam." Perintah Hakim.

Ada satu ahjumma lagi yang berdiri, ia mengajak Ahjumma pertama untuk ke ruangan kepsek saja meminta penjelasan dari pada ribut disana. Satu Ahjumma lagi berdiri dan membenarkan ahjumma kedua.

"Astaga, sekolah bilang mereka tidak punya pilihan selain menginjinkannya. Itu sebabnya kita, para orang tua murid, harus menghentikannya." Kata Ahjumma pertama.
Hae Rin berdiri dari kursi juri. Ia teriak, siapa Ahjumma pertama hingga mencoba menghentikan mereka? Mereka bilang akan melakukannya!

"Tata krama macam apa itu?"

"Apa salahnya dengan sikapku?"

"Omo, lihat gadis tidak sopan itu!"

Hae Rin bertanya, jika ia mengetakan kebenaran, apakah masih dianggap tidak sopan? Hae Rin juga mengkritik Ahjumma2 yang dianggapnya tidak punya tata krama.
Hakim terpaksa mengetuk palu agar semuanya diam. Guru Kim menyuruh Hae Rin untuk berhenti dan kembali duduk. Hae Rin mematuhiperintah Guru Kim.

Tapi para Ahjumma tadi belum berhenti, mereka mencari-cari kepsek yang tidak ada disana. Menyuruh para siswa berhenti bermain-main, mestinya pada belajar!

Ahjusshi tadi berbicara lagi menyuruh Ahjumma pertama untuk diam. Memalukan tahu di depan para murid. Ahjumma tak terima, ia melarang AHjussi ikut campur dan itu malah menyebabkan mereka adu mulut, rame!

Ketukan palu Hakim sudah tidak mempan lagi. Min Suk akhirnya menundukkan microphone-nya dan menimbulkan suara “nginggggggg...” Otomatis semuanya berhenti.

"Mulai sekarang, siapa pun yang berusaha mengintervensi sidang akan dikeluarkan." Tegas Min Suk.
Ahjumma yang tadinya berdiri langsung duduk diam. Tapi seorang Ahjumma lain malah berdiri,menyuruh Min Suk untuk berhenti. Yoo Jin berbisik pada Soo Hee kalau Ahjumma itu adalah ibunya Min SUk.

Min Suk meminta ibunya untuk diam. Ibunya tak mengerti, bukannya ia sudah meminta Min SUk untuk berhenti? tapi kenapa Min Suk malah membuat keadaan semakin buruk? Hentikan sekarang juga!

Min Suk sudah mengingatkan soal dikeluarkan dari sini. Ibu meninggikan suaranya, Min Suk berdiri tegas,
"Jika aku tetap diam, lalu siapa yang akan membantu? Salah satu teman sekelas kami meninggal. Dia memakai seragam, belajar di kelas, dan makan siang bersama kami. Dia meninggal. Di saat seperti ini, membutuhkan ijin atau tidak, akhirnya bisa kuliah atau tidak, apakah itu benar-benar penting?"

"Min Suk, apa yang sedang kau pikirkan?"

Min Suk memerintahkan pihak keamanan untuk membawa ibunya keluar. Ibunya protes tapi Min Suk tetap kekeh, akhirnya ibunya memilih untuk keluar sendiri.
Min Suk kembali duduk dan memasang microphon-nya, ia akan menegaskan sekali lagi. Siapa pun hadirin yang berbicara tanpa ijin dari Hakim, akan dikeluarkan.

"Terdakwa Choi Woo Hyuk, silakan masuk."

Woo Hyuk berjalan masuk dan anak-anak sibuk mengambil gambarnya saat ia duduk di kursi terdakwa.

Anak-anak yang diluar auditorium mendapat kabar kalau Woo Hyuk datang jadi mereka memutuskan untuk melihat persidangan.
Ibu kesiswaan memberitahu Kepsek dan Pak Han kalau Woo Hyuk datang. Kepsek khawatir mendengarnya. Pak Han meminta Ibu kesiswaan untuk mentransmisikan kamera yang merekam persidangan ke ruang kepsek. Ibu kesiswaan akan mengaturnya.

Kepsek curhat seperginya Ibu kesiswaan, pikirannya sudah kacau. Ia tidak mengira hasil korespondensi berlawanan dari harapan. Bahkan memberikan daya tarik yang lebih besar atas persidangan.
Hakim meminta jaksa untuk membacakan dakwaan. Maka Seo Yeon pun maju ke tengah dengan membawa berkas dakwaan. Sebelumnya ia memperkenalkan diri dahulu.

"Selama beberapa waktu terakhir, kematian Lee So Woo diketahui sebagai tindakan bunuh diri. Hal itu disebabkan dia tidak masuk sekolah selama dua minggu, dan kondisi mentalnya pun tidak stabil. Namun, murid SMU Jeongguk mengetahui kebenarannya."
Alasan dibalik ketidakhadiran Lee So Woo di sekolah. Beberapa hari sebelumnya, Lee So Woo terlibat perkelahian sengit dengan Choi Woo Hyuk. Lebih tepatnya, dia dihajar habis-habisan.

Woo Hyuk menyela penjelasan Seo Yeon. Seo Yeon menjawab kalau ia menyaksikannya sendiri. Bukan hanya ia yang menyaksikan. Beberapa murid lain pun mungkin juga menyaksikannya.

"Terdakwa memukuli korban dengan tinjunya, menendang, bahkan mencekiknya."

"Itu karena dia duluan yang mulai." Tegas Woo Hyuk.
Ji Hoon memegang Woo Hyuk supaya tenang.

Seo Yeon melanjutkan penjelasannya. Namun, Lee So Woo justru dijadikan pelaku penyerangan oleh pihak sekolah. Ini akibat tidak seorangpun, termasuk dirinya, tidak ada sama sekali, yang mau membuat pernyataan sebenarnya atas peristiwa di lab sains tersebut.
Pada hari So Woo dipanggil oleh Komite Anti Kekerasan Sekolah, dia mengosongkan lokernya. Dia masih berusia 18 tahun, hanya itu satu-satunya pilihan yang dia miliki dalam menghadapi keputusan tidak adil tersebut. Itulah maksud ketidakhadiran dia di sekolah, bukan karena ingin menyiapkan tindakan bunuh diri.

Hakim menyela, meminta jaksa untuk tidak mengutarakan opini pribadi, cukup fakta-fakta saja. Jaksa mengerti.

"Dua minggu setelah itu, pada tanggal 26 Desember 2016, sekitar pukul 6 pagi, saya akan persingkat. Surat tuduhan ini merupakan pengakuan saksi mata atas kejadian tersebut. Program News Adventure pun menyiarkan perihal surat tuduhan ini. Karena itulah saya, berdasarkan bukti-bukti yang ada dan siaran tersebut, mendakwa Choi Woo Hyuk sebagai pembunuh Lee So Woo."
Hakim mempersilahkan pengacara untuk membacakan argumennya. Para siwi heboh karena Ji Hoon akan maju. Hakim meminta mereka untuk diam.

Ji Hoon membantah tuduhan jaksa, menurtnya semua itu tidak masuk akal. Jaksa hanya sedang berimajinasi sekarang.
Kepsek berkomentar menyaksikan Ji Hoon yang dari sekolah lain. Bahkan Kepala Sekolah SMU Seni Jeongguk tidak mengatakan apa-apa padanya.

"Dia puteraku." Jawab Pak Han yang mengejutkan Kepsek.
Ji Hoon melanjutkan penjelasannya, Menggunakan fakta bahwa terdakwa memiliki masalah dengan murid sekolah ini sebagai pembenaran bahwa Woo Hyuk melakukan pembunuhan. Itu tidak masuk akal.

Menggunakan surat tuduhan yang tidak jelas dan jurnalis, untuk menjatuhkan tuduhan tidaklah tepat. Choi Woo Hyuk tidak membunuh Lee So Woo. Dia tidak bersalah. Itu fakta yang tidak dapat dibantah siapa pun.

"Kesimpulannya, tuduhan jaksa, bahkan Saya memiliki bukti untuk menguatkannya. Demikian."
Ibu bersisik pada ayah, apa Ji Hoon tidak terlalu tangguh ya, padahal baru awal? Ayah menjawab kalau Ji Hoon mencoba memulai dengan benar.

Saksi pertama dimasukkan, dia adalah Detektif Oh. Sebelum memulai kesaksiaannya detektif Oh bersumpah bahwa dirinya hanya akan mengatakan kebenaran, seluruhnya, hanya kebenaran.

Hakin selanjutnya memberi kesempatan pengacara untuk menanyai Detektif Oh.

"Apakah Anda Detektif Oh dari Kepolisian Nambu yang menangani kasus Lee So Woo?"

"Ya, benar. Saya penanggung-jawab investigasi pertama, juga investigasi ulang setelah siaran itu."
Dari kedua investigasi itu kesimpulannya adalah bunuh diri. Tidak ada cukup bukti yang mengarahkan insiden itu sebagai tindak pembunuhan. Luka yang ditemukan di tubuh Lee So Woo semuanya akibat jatuh dari atap.

Ji Hoon mengerti lalu menunjukkan dokumen hasil otopsi di layar. Ia ingin mengajukan permohonan untuk menggunakan salinan pemeriksaan medis itu sebagai bukti pertama dari pihak pengacara.

Hakim menerimanya.
Ayah Seo Yeon mendapat telfon, lalu kemuar untuk mengangkatnya

"6? Asuransi sebanyak itu? Bagaimana dengan pembayarannya? Oke. Aku akan segera ke sana. Coba hubungi ahli kebakaran."

Ini kasus ayahnya Woo Hyuk yang digali lebih dalam.
Joo Ri datang ke persidangan, setelah memastikan tidak ada yang melihat, ia masuk dan ia berdiri dipaling belakang.

Hakim memberi juga kesempata pada jaksa untuk menanyakan hasil pemeriksaan silangnya pada saksi. Seo Yeon menanyakan, apakah saksi yakin 100% bahwa insiden itu merupakan bunuh diri?

Ji Hoon Keberatan. Menurutnya Jaksa berusaha menggiring saksi untuk memberikan jawaban yang spesifik. Seo Yeon membahtah, yang dilakukannya hanya pemeriksaan dasar terhadap pengakuan saksi.

"Keberatan ditolak. Jaksa lanjutkan!"

Saksi pun menjawab, ia 99% yakin akan kesimpulan tersebut. Kenapa tidak 100%? karena pekerjaan mengharuskannya tidak memercayai segala sesuatu 100%. Sekalipun kecil, selalu ada kemungkinan situasi berbalik.

"Benar. Meski hanya 1%, masih ada kemungkinan situasi berbalik." ujar Seo Yeon.
Lalu Seo Yeon menunjukkan bukti 1% tersebut di layar. Itu adalah tiket film yang dibeli oleh Lee So Woo untuk kakaknya. tanggalnya 26 Desember. Hari dimana saksi menyimpulkan dia bunuh diri.

"Jika dia memang berencana bunuh diri, mengapa dia membeli tiket untuk menonton film pada keesokan hari?"

Semua penonton mulai kasak kusuk dan Woo Hyuk mulai resah. Ji Hoon bertindak, ia mengajukan keberatan dengan bukti tersebut karena tidak disebutkan sebelum persidangan digelar.

"Memberikan bukti dan saksi tanpa memberitahukan sebelum persidangan bukan tidak bisa dianggap, hanya rekomendasi."

"Kredibilitas bukti belum terverivikasi." Bantah Ji Hoon."

"Saya menerimanya langsung dari anggota keluarganya."

Hakim menyela, mengajak jaksa dan pengacara ke belakang panggung untuk rapat darurat. Maka tim jaksa dan tim pengacara mengikuti hakim.
Min Suk bertanya, haruskah ia menerima bukti itu atau tidak. Ji Hoon menjawab tidak dan Seo Yeon menjawab iya.

Ji Hoon bersikeras kalau Bukti menjadi bukti jika bisa membuktikan kebenaran. Tapi benda itu tidak membuktikan apa pun!
Seo Yeon membantah, kenapa tidak? Itu membuktikan Lee So Woo memiliki rencana untuk dilakukan sehari setelah dia ditemukan tewas.

Ji Hoon menjelaskan, Jika menyangkut kematian, seseorang tidak selalu mengikuti rencana sebelumnya. Meski hanya sehari, keputusan mereka bisa langsung berubah. Kasus bunuh diri selalu seperti itu.

"Bukan hanya sehari. Tekanan tidak bisa menghancurkan seseorang secara tiba-tiba." Bantah Joon Young (kayaknya ini berdasarkan pengalaman pribadi).

Seung Hyun heran dengan Joon Young, kan seharusnya ia berada di pihak pengacara.

Seo Yeon menngambil kesimpulan, jika membahas ini sendiri tidak akan bisa selesai, jadi serahkan saja pada Juri, mau menerimanya atau tidak. Ji Hoon masih bersikeras dengan pendiriannya, Itu bukti untuk menggoyahkan saksi, jadi idak dapat dibenarkan.

"Kita membutuhkan saksi langsung. Kakak Lee So Woo."
Seo Yeon lalu meminta persetujuan hakim untuk mengajukan saksi baru, kakanya lee So Woo, Lee Tae Woo.

Kilas balik...
Seo Yeon membuka amplop pemberian Tae Woo,itu adalah tiket film. Tae Woo menjelaskan kalau itu yang diberikan So Woo padanya seminggu sebelum dia meninggal. So Woo bilang, mereka harus nonton bersama tanggal 26 Desember.

"Seperti itu, apa dia punya alasan untuk bunuh diri sehari sebelumnya?"

Seo Yeon meminta Tae Woo untuk mengatakan itu sendiri di persidangan, di hadapan banyak orang.

Kilas balik selesai...
Tae Woo duduk di kursi saksi. Seo Yeon yang pertama menanyainya. Tae Woo mengatakan kalau ia kakak kandung Lee So Woo.

"Apa pendapat Anda mengenai kematian Lee So Woo?"
Tae Woo memandang Woo Hyuk sebelum menjawab, "Pembunuhan. Saya yakin pembunuhan."

Woo Hyuk kelihatan tidak senang dengan jawaban tae Woo itu. Sementara Seo yeon meminta Tae Woo menjelaskan mengapa ia mengklaim kalau insiden itu adalah pembunuhan.

"Tiket film itu... menjadikannya tidak masuk akal. Dia membeli tiket film dan berencana menonton bersamaku. Lalu kenapa justru bunuh diri sehari sebelumnya?"
Barulah Seo Yeon meminta pada hakim dan juri untuk memasukkan tiket film itu sebagai bukti. Korban meninggal sehari sebelum hari janji temu dengan kakaknya, artinya tidak memiliki keinginan bunuh diri.

"Itu kematian yang menjadi misteri untuk semua orang. Demikian dari Kejaksaan."
Hakim menawari pengacara, apa ingin melakukan pemeriksaan silang. Tapi Ji Hoon didam saja, ia bengong tidak fokus. Tapi kemudian ia maju tanpa menjawab hakim.

Ji Hoon bertanya pada saksi, Apa hubungan saksi dengan Lee So Woo. Saksi menjawab kalau ia kakaknya So Woo tapi ternyata bukan hubungan semacam itu yang Ji Hoon tanyakan.
"Seberapa dekat, akrab, dan seringnya kalian mengobrol? Seberapa dalam keterkaitan kalian dalam kehidupan masing-masing? Bukan kakak-adik, melainkan antar sesama manusia. Seperti apa kedekatan kalian?"

Tae Woo mengaku kalau ia tidak terlalu dekat dengan So Woo. Ji Hoon masih belum puas, jadi sebatas mana kedekatan mereka.
"Kami tidak saling menyukai. So Woo membenciku, dan aku membenci dia."

"Jika begitu, berapa kali So Woo mengajak Anda menonton film bersama?"

"Ini pertama kalinya."
Setelah mendapat jawaban itu, Ji Hoon menghadap para penonton. Ia menjelaskan, Bersikap di luar kebiasaan merupakan salah satu sinyal seseorang hendak bunuh diri.

"Keberatan. Itu adalah penilaian, bukan fakta." Ujar Seo Yeon.
Ji Hoon memiliki contoh lain. Perkelahian di lab sains. Lee So Woo seorang murid yang tidak pernah membuat masalah. Dia merupakan pribadi yang pendiam dan introvert, sebab itu tidak dekat dengan murid lain. Lee So Woo, dua minggu sebelum kematiannya, berkelahi di ruang sains... dengan terdakwa, yang ditakuti murid lain dan disebut tirani.

"Ini juga hal yang tidak biasa dilakukan oleh Lee So Woo. Oleh karena itu, berencana menonton film bersama dengan kakak yang tidak akrab dengan dirinya, saya menyimpulkan hal itu merupakan sinyal hendak bunuh diri."
Ji Hoon kembali lagi ke saksi, apakah sudah cukup. Tae Woo diam saja, Ji Hoon akan mengakhirinta tapi Tae Woo kembali bicara, ia membantah deskripsi So Woo yang dikatakan Ji Hoon tadi.

"Perkelahian di lab sains itu... bukanlah sesuatu yang aneh. So Woo adalah seseorang yang mampu melalkukannya, tidak, seperti itulah dia. Dia suka memprovokasi. Dia menikmatinya. Dia selalu seperti itu. Dia selalu mencari cara untuk menyakiti orang lain, sebab itu aku terkadang menganggap dia Iblis. Aku membenci dia. Itu juga sebabnya aku menganggap ini pembunuhan. Sebab dia orang yang mampu membunuh, bukan bunuh diri. Jika dia selemah itu, aku pasti berusaha mati-matian melindungi dia, tapi aku bahkan tidak perlu melakukan apa pun untuknya agar bertahan. Dia anak yang seperti itu. Adikku."

Semua terdiam mendengar penuturan Tae Woo. Woo Hyuk tidak bisa lagi duduk diam disana, ia memutuskan untuk keluar. Seung yun dan Joon Young mengejarnya

Ji Hoon meminta waktu istirahat pada hakim. Hakim memberikan waktu 20 menit.
Ji Hoon berjanji pada Tae Woo, ia akan mengungkapkannya. Kebenaran dibalik apa yang terjadi pada So Woo, Ia pasti akan mengungkapnya.

Detektif Oh keluar dan Reporter Park mengikutinya. Reporter Park pura-pura tidak sengaja bertemu Detektif Oh. Detektif Oh tidak mau berkomentar.

"Ey, kau kejam sekali. Bahkan tidak mau menyapa?"

"Kau anggap kita saling kenal baik, begitu?"

"Kenapa? Kita kan terlibat langsung dalam hal ini. Saksi pengacara (Detektif Oh), saksi kejaksaan (Reporter park)."

Detektif Oh melarang reporter park bicara padanya karena suasana hatinya tidak baik. Reporter park menghentikan detektif Oh, Apakah ada sesuatu yang detektif Oh ketahui tentang Han Ji Hoon?

"Kudengar, dia putera Ketua Yayasan Jeongguk. Kelihatannya, murid lain tidak tahu. Bukankah aneh? Fakta bahwa putera mahkota yayasan justru membelot dan bergabung dengan klub olah perkara. Dia bahkan bukan murid SMU Jeongguk, melainkan murid SMA Seni Jeongguk. Lalu kenapa? Kenapa dia mempertaruhkan karir ayahnya begitu?"
Detektif Oh merasa karena Ji Hoon ingin. Anak-anak memang seperti itu. Reporter park mengelak, ia sudah bertemu Ji Hoon dan kelihatannya Ji Hoon bukan tipe yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Ia yakin Detektif Oh juga pasti setuju.

Detektif Oh tak menjawabnya, ia memilih berjalan menjauh. Reporter park terus mengejar,

"Tapi, bukan itu yang penting dalam hal ini. Sekarang, bukti baru muncul, yang bahkan tidak diketahui para detektif, tolong katakan sesuatu."

"Ay, kau benar-benar..."

"Kenapa? Katakan sesuatu."
Woo Hyuk akan merokok tapi Ji Hoon menghentikannya. Woo Hyuk yang sudah kesal jadi tambah kesal dengan sikap Ji Hoon. seperti di neraka rasanya!

"Choi Woo Hyuk, kau tahu kesulitan terbesar kita dalam persidangan ini?"

"Soal Joo Ri, tidak usah kuatir. Aku akan membereskan dia."

"Tidak. Masalah terbesar dalam persidangan ini adalah orang-orang di laur sana. Prasangka orang-orang. Mereka menudingmu. Itu sebabnya, mereka hadir di sini. Jaga sikapmu."
Woo Hyuk hanya bisa menendang kursi frustasi. Ji Hoon memberikan naskah pada Woo Hyuk karena pemeriksaan terdakwa dilakukan setelah istirahat. Woo Hyuk tidak mau awalnya, kan ia hanya perlu bilang tidak melakukannya!

"Kata-katamu tidaklah penting." jawab Ji Hoon.

Terpaksalah Woo Hyuk membaca naskah  itu dan menjawab Ji Hoon sesuai yang tertulis disana.
Ji Hoon menanyakan alasan perkelahiannya dengan So Woo. Woo Hyuk menjawab kalau So Woo yang mulai.

"Bagaimana dia memulainya?"

"Dia memandangiku dengan tatapan merendahkan."

"Jadi, tidak ada alasan lain? Hanya karena sikap Lee So Woo hari itu, kau merasa tidak nyaman?"

Woo Hyuk mengingat waktu itu...
So Woo memandangnya penuh sindiran, Woo Hyuk tidak terima, apa ada yang mau So WOo katakan?

"Protes hanya dilakukan sesama manusia. Kau bukanlah manusia. Dibandingkan intelektualitas dan rasionalitas, kepalamu dipenuhi dengan sumpah serapah dan amarah. Pengganggu. Sampah dunia?"

Mengingatnya saja membuat Woo Hyuk kesal tapi ia tidak mengatakan yang senenarnya pada Ji Hoon.
"Jadi, aku mengatakan padanya "Kenapa menatapku, ada yang mau kau katakan?" Lalu, kami berkelahi. Bukan masalah serius, setelahnya aku langsung lupa."

Ji Hoon mengerti, ia menyimpulkan pada penonton. Perkelahian di lab sains antara terdakwa dan Lee So Woo, terlalu sepele untuk bisa menjadi motivasi melakukan pembunuhan. Perkelahian semacam itu sering ditemui di sekolah, antar pelajar. Kesimpulannya, terdakwa tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk membunuh Lee So Woo.

Selanjutnya giliran Seo Yeon melakukan pemeriksaan silang. Ia ingin Woo Hyuk mengatakan alibinya.

"Mulai pukul 10 malam tanggal 25 Desember, sampai pukul 5 pagi tanggal 26 Desember. Aku minum bersama temanku, Lee Sung Min dan Kim Dong Yeon. Puas?!"

"Alibi itu dapat dikarang oleh siapa saja. Kedua orang yang disebut juga memiliki kedekatan dengan terdakwa."
Woo Hyuk kesal lalu menyuruh Seo Yeon untuk bertanya saja pada mereka toh mereka juga ada di kursi penonton.

Seo Yeon hanya bertanya pada Dong Hyun, apa bisa membuktikan alibi Woo Hyuk. Pengacara keberatan. Hakim pun demikian, dilarang bertanya pada penonton, memangnya ini konser?

"Maafkan saya. Kalau begitu, saya meminta Kim Dong Hyun diajukan sebagai saksi.”

"Sudah selesai menanyai Terdakwa?"

"Belum."

"Permintaan ditolak. Ajukan setelah selesai melakukan satu pemeriksaan."
"Kalau begitu, jika saya ingin mendengar kesaksian orang itu dan orang ini, saya harus bergantian mengirim dan menyelesaikan pemeriksaan Lee Sung Min, Kim Dong Hyeon, dan Choi Woo Hyuk bergantian?"

Ibu tersenyum dengan keteguhan Seo Yeon. Ditohok seperti itu, hakim pun mempersilahkan Seo Yeon menanyai Dong Hyun.
Seo Yeon meminta Dong Hyun berdiri, memintanya mengatakan kebenaran alibi Woo Hyuk.

"Pada saat kematian Lee So Woo, tanggal 25 Desember malam, apa yang kalian lakukan? Dan apakah ada yang bisa membuktikan? Katakan yang Anda ingat."

Dong Hyun awalnya menjawab tidak tahu. Seo Yeon agak memaksa, bahkan satu kalimat saja tidak masalah. Tolong katakan.

"Aku tidak tahu. Aku tidak bersama dia. Choi Woo Hyuk berbohong. Alibinya palsu!" Teriak Dong Hyun.

"Kim Dong Hyun!" tegas Sung Min.





Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon