Tuesday, January 10, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 6 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 6 Part 1

Dong Hyun melanjutkan pernyataannya bahwa alibi Woo Hyuk palsu. ia sedang tidak bersama Woo Hyuk tapi Woo Hyuk memaksanya berkata begitu.

"Dia menyuruhku tutup mulut dan mematuhi kata-katanya. Aku tidak tahu yang mereka lakukan, hanya tahu keduanya mabuk."

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Hari itu, kita sedang bersama. Katakan bahwa hari itu kita sedang bersama." Paksa Woo Hyuk dengan mata menyala.

"Tidak, kita tidak sedang bersama pada hari itu."

"Kita bersama!"

"Tidak, kita tidak bersama!"
Woo Hyuk kesal, ia maju ingin menerjang Dong Hyun tapi yang lain sigap menahannya. Dong Hyun memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur.

Hakim memberi waktu istirahan 5 menit. Memerintahkan tim pengacara untuk menenangkan terdakwa.
Soo Hee sudah merasa aneh kunyuk itu tidak bertingkah dari tadi. Lebih mudah percaya Anjing bisa berhenti buang air sembarangan (daripada memercayai Choi Woo Hyeok bisa mengendalikan diri).
Seung Hyun mengkritik Woo Hyuk yang sudah kelewat batas tadi di ruang sidang dan disaksikan semua orang. Woo Hyuk membentak Seung Hyun untuk diam.

Woo Hyuk memprotes Ji Hoon, katanya akan membuktikan dirinya tidak bersalah, bagaimanapun caranya.

"Lalu apa ini, berengs*k? Segalanya akan terungkap."
Ji Hoon dengan tenang meminta Woo Hyuk menunggu, ia belum mengatakan apa-apa. Woo Hyuk menantang, memang apa bedanya jika Ji Hoon bicara?

"Aku menyuruhmu untuk menunggu. Kalau kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian, maka tunggulah. Sampai pemeriksaanku selesai."

"Sialan!!!"
Woo Hyuk pergi dari sana. Joon Young melihat Ji Hoon curiga.

Persidangan dilanjutkan tanpa Woo Hyuk dan Dong Hyun. Hakim meminta Jaksa untuk menyelesaikan pemeriksaannya.

Demi memiliki alibi palsu, terdakwa memaksa temannya untuk berbohong. Ini menunjukkan bahwa Terdakwa berusaha menyembunyikan sesuatu atas hari itu. Sebagai tambahan, Kejaksaan memiliki saksi yang melihat terdakwa di TKP, serta sebuah surat tuduhan.
Karena Terdakwa tidak muncul, maka hakim akan lewatkan pemeriksaan silang dari Pengacara. Tapi pengacara menolaknya, ia memiliki pertanyaan untuk Jaksa.

"Jaksa Go Seo Yeon. Apa alasan terbesar Anda menuding Terdakwa sebagai pembunuh Lee So Woo?"

"Surat tuduhan itu."

"Bisa jelaskan isinya secara detail?"
Hakim menegur pengacara. Ji Hoon memastikan kalau ia hanya membutuhkan sedikit waktu. Ji Hoon meminta Seo Yeon mengatakan apa saja yang tertulis dalam surat tuduhan itu.

"Sebuah pernyataan bahwa saksis melihat terdakwa membunuh  Lee So Woo."

Ji Hoon minta lebih jelas lagi. Soo Hee berbisik agar Ji Hoon menyuruh Seo Yeon membacakan surat itu saja. Ji Hoon mengangguk lalu memberikan salinan surat tuduhan itu agar Seo Yeon membacanya. 
"Murid SMA Jeongguk Kelas 2-1, Lee So Woo, tidak melakukan bunuh diri. Pada tanggal 25 Desember 2016, Choi Woo Hyeok, Lee Seong Min, Kim Dong Hyun..."

"tolong lanjutkan. Kalimat selanjutnya adalah : Pada tanggal 25 Desember 2016, Choi Woo Hyeok, Lee Seong Min, Kim Dong Hyun, ketiganya membunuh Lee So Woo di atap sekolah. Benar, kan?"

"Ya."

"Lalu, apakah pada saat insiden itu terjadi, ada yang bisa membuktikan Kim Dong Hyun berada di tempat lain seperti pengakuannya? Ataukah dia turut membunuh Lee So Woo di atap sekolah sebagaimana yang tertulis dalam surat tuduhan itu?"
Seung Hyun tersenyum menang, sementara Joon Young menatap sedih Seo Yeon. Reporter Park melihat kalau ini semakin menarik, ia terkesima dengan pernyataan Ji Hoon. Joo Ri yang melihat itu juga semakin resah.

Ji Hoon melanjutkan dengan menghadap para penonton, Keduanya begitu bertolak belakang dan TIDAK bisa diterima. Jika Jaksa menerima pernyataan Kim Dong Hyun bahwa alibi terdakwa itu palsu, maka pernyataan di dalam surat tuduhan ini menjadi tidak benar.

Ji Hoon akan bertanya lagi.

"Jaksa, menurut Anda, dimanakan keberadaan Kim Dong Hyun malam itu?"
Seo Yeon lama menjawab, sampai para hadirin menantikannya. Seo Yeon memandang Joo Ri. Seo Yeon mengajukan keberatan karena Pengacara Han Ji Hoon mencoba menyidik jaksa. Sebab itu, ia tidak akan memberi tanggapan.

"Dan... Kejaksaan... membatalkan seluruh kesaksian Kim Dong Hyun. Pertanyaan yang saya ajukan selama pemeriksaan saksi tadi, serta argumen Kejaksaan mengenai alibi palsu terdakwa... Kami menarik semua itu. Saya memohon maaf."

Hakim mengerti dan itu menjadikan semuanya mulai berkasak kusuk baik para hadirin maupun juri. Seo Yeon memandang Joo Ri sekali lagi dan Joo Ri memutuskan untuk keluar dari ruang persidangan. 
Para siswa merasa Persidangan itu lebih menarik daripada ekspektasi dan surat tuduhan itu menjadi epik yang luar biasa.

Mereka merasa kalau Dong Hyun akan mendapat masalah setelah ini. Tapi ada juga yang tidak mempercayai Dong Hyun dan Han Ji Hoon sangat keren!
Setelah membereskan ruang sidang, tim jaksa kembali ke ruang klub menikmati camilan. Yoo Jin bingung antara Dong Hyun atau Joo Ri yang harus mereka percayai.

"Seo Yeon memilih surat tuduhan itu. Sudah jelas, kan? Kita akan fokus pada kata-kata Lee Joo Ri." Jawab Soo Hee.
Seo Yeon ragu, haruskah? Soo Hee akan mengeluarkan pemikirannya karena Seo Yeon menyinggungnya.

"Aku sih tidak percaya kata-kata Lee Joo Ri. Kalian memercayai dia? Kalian sungguh berpikir Choi Woo Hyeok membunuh Lee So Woo?"

Sejujurnya... Yoo Jin hanya mengikuti langkah Seo Yeon yang memutuskan menjadi Jaksa. Ia juga tidak benar-benar memercayai surat itu. Tidak, ia tidak bisa!
Seo Yeon belum sempat mengatakan pemikirannya karena Min Suk mengetuk pintu dan masuk, menanyakan kapan sebaiknya melakukan rapat bersama lagi.

Tapi Min Suk malah mendapat tatapan tajam dari semuanya. Soo Hee meminta Min Suk pengertian. Beri mereka istirahat! ISTIRAHAT!

"Kami baru saja bisa bernafas lega beberapa menit di sini. Kami baru waras lagi. Rapat apa? Rapat? Kau berusaha membuat kami sinting, ya? Dasar bocah tidak berperikemanusiaan!"
Min Suk tak mengerti, kenapa Soo Hee jadi mengamuk padanya! Seung Hyun masuk memperkerus suasana, dengan nada mengejek ia meminta tim jaksa untuk makan bersama merayakan sidang pertama mereka.

Yoo Jin dan Soo Hee melemparinya dengan camilan. Soo hee menuntutnya untuk keluar cepat.

"Kenapa kau seperti ini? Kelaparan, ya?"

Yoo Jin dan Soo Hee tambah kesal, merekamelempari Seung Hyun dengan camilah serta bungkusnya agar Seung Hyun segera keluar. Seung Hyun dan Min SUk pun keluar.

Soo Hee masih kesal, ia stres luar biasa, tapi Seung Hyun malah melawak.

Pintu di ketuk lagi, Soo Hee mengira kalau Seung Hyun lagi tapi ternyata Joo Ri.
Seo Yeon merasa lega karena suara Joo Ri sudah kembali dan bertanya apa Joo Ri akan segera kembali masuk sekolah?

"Kau pasti bosan karena tidak ada bahan gosip sepertiku." Jawab Joo Ri.

Seo Yeon senang mendengarkan karena bebrarti Joo Ri baik-baik saja. Soo Hee menyela kalau mereka sedang sibuk jadi sebaiknya Joo Ri langsung ke intinya saja.

"Aku mencoba mengingat semua yang Cho Rong katakan padaku dan menuliskannya secara detail. Ini adalah pengakuan saksi. Aku... akan memberi kesaksian."
Joo Ri memberikan surat pernyataan secara detail. Tapi Joo Ri memiliki syarat. Sampai persidangan selanjutnya, rahasiakan bahwa ia memberi kesaksian. Ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang tidak berguna. Juga, jangan pertemukan ia dengan Choi Woo Hyuk. Kalau ia hadir, kirim Woo Hyuk keluar.

Seo Yeon mengerti, tapi Joo Ri memiliki satu syarat lagi..

"Percayalah padaku. Apa pun yang dikatakan pihak terdakwa mengenai surat tuduhan itu, sekalipun kau ragu, cobalah tetap percaya padaku."

Seo Yeon menjelaskan kalau itu merupakan kecurigaan yang rasional. Joo Ri kesal, apa Seo Yeon masih bersikap sok di situasi seperti ini?

"Tidak juga. Jika aku tidak memercayai surat tuduhan itu, jelas bukan karena hubungan pribadi kita yang buruk."

"Kau baru saja mengatakan tidak memercayai isi surat tuduhan itu."

"Mau kuberitahu alasannya?"

Joo Ri juga menonton persidangannya. Kim Dong Hyun mengatakan, pada tanggal 25 Desember sedang berada bersama temannya yang lain. Di ruang sidang, mereka memang tidak memiliki pilihan selain membatalkan kesaksian Kim Dong Hyun. Tapi, semua orang pasti merasakannya bahwa surat tuduhan itu memang meragukan.

Joo Ri mengatakan kalau Cho Rong bilang, terlalu gelap untuk melihat dengan jelas, tapi Cho Rong bilang Choi Woo Hyuk bersama beberapa cowok lain. Wajar jika Cho Rong berpikir mereka adalah Seong Min dan Dong Hyun.
"Kau mau kami percaya kata-katamu sekarang? Bukankah kesaksian Dong Hyun sudah menggoyahkan isi dari surat tuduhan itu?" Tanya Soo Hee.

Joo Ri membentaknya untuk diam! Soo Hee lah salah salu orang tidak berguna yang tidak ingin ia ajak bicara.
Tapi Seo Yeon membenarkan Soo Hee. Kenapa dalam surat tuduhan tidak dijelaskan perihal situasi tersebut? Sebelum surat tuduhan itu dibuat, bukankah seharusnya dikonfirmasi dengan pasti dulu orang-orang yang memang berada di TKP?

"Bagaimana cara untuk mengonfirmasinya? Bertanya langsung pada mereka apakah membunuh Lee So Woo atau tidak?"

Seo Yeon jadi ragu, Apakah Cho Rong benar-benar melihatnya? Bukan Joo Ri, tapi Park Cho Rong? Joo Ri membenarkan, Park Cho Rong melihatnya sendirian. Park Cho Rong ingin menulis sendiri surat tuduhan itu, tapi ia berusaha membantu.

"Kau bilang, Park Cho Rong yang ingin menulis surat tuduhan itu?"

"Ya, itu yang kubilang."

"Lee Joo Ri, jika aku memercayaimu, kau juga harus begitu. Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun, jadi katakan padaku. Apakah Cho Rong benar-benar..."
"Ya! Aku melihatnya! Aku yang melihatnya!" Teriak Joo Ri. "Jika seperti ini jadinya, apa bedanya dirimu dengan orang lain? Apa hakmu menjadi Jaksa jika kau bahkan tidak memercayai aku sebagai saksi?"

Soo Hee ikut meninngikan suaranya, Joo Ri lah yang bohong! Kenapa menyalahkan orang lain!?
Joo Ri mengiyakan, ia berdiri dengan kesal. Ya, itu semua salahnya. Ia si gila yang hanya tahu berbohong!

Joo Ri lalu menyobek surat yang ia berikan tadi dan pergi dari sana dengan kesal. Seo Yeon mengejarnya tapi ia kehilangan Joo Ri.
Seteah beberapa saat Joon Young muncul.

Presdir Choi mendapat informasi dari kepsek kalau Woo Hyuk datang ke persidangan sekolah. Ia kesal lalu meminta supir untuk ke sekolah Woo Hyuk.

Kepsek mengatakan pada Pak Han kalau Presdir Choi akan mengurus Woo Hyuk. Tapi Kepsek tidak habis pikir, kenapa Pak Han malah membiarkan puteranya berpartisipasi dalam olah perkara itu?

"Ya, saya yakin Anda sudah berusaha semampu Anda menghentikannya, Pak Han. Saya hanya ingin menunjukkan kekecewaan saya karena Anda tidak mengatakan apa pun sebelumnya pada saya."

Pak Han hanya bisa minta maaf. Kepsek menyarankan untuk Menelfon Ketua yayasan, untuk memberitahukan agar tidak perlu khawatir. Di hari pertama sidang saja kredibilitas surat tuduhan itu saja sudah runtuh.
"Rumor perihal Komite Anti Kekerasan di Sekolah tersebar. Orang-orang menganggap kejadian ini akibat tindakan ketidakadilan. Anda harus memberi penjelasan atas hal itu dengan benar."

Kepsek merasa itu tidak sulit. lagi pula, ini bukan kali pertama rumor mengenai hal itu beredar. Apakah tidak berlebihan kalau harus merespon satu persatu rumor yang beredar tentang sekolah?

"Tapi itu bukan sekedar rumor, melainkan fakta." Jawab Pak Han. Dan Pak Han mengatakan kalau ia yang akan menelfon ketua Yayasan, Kepsek tak perlu khawatir.
Joon Young memberi minuman hangat untuk Seo Yeon. Joon Yong bertanya, apa Seo Yeon berdebat dengan Lee Joo Ri. Seo Yeon Bukan berdebat, tapi ia terpojok. Joo Ri punya alasan.

"Aku benar-benar minta maaf, tapi sebentar saja... lima menit pun cukup, bukan sebagai Pengacara, dengarkan aku sebagai seorang temanku Bae Joon Young. Lalu setelahnya, kau cukup melupakannya. Bisakah kau melakukannya untukku?"

"Tentu saja."

Seo Yeon tidak memercayai surat tuduhan itu. Bukan karena peristiwa hari ini, bahkan dari awal. ia tidak benar-benar 100% percaya. Dilihat secara obyektif, terlalu banyak celah.

"Bukankah kau Jaksa?"
Ya, memang Seo Yeon Jaksa. Sisi sial yang harus membuktikan Choi Woo Hyuk bersalah, padahal polisi saja tidak bisa melakukannya. Dengan kata lain, jelas sisi yang kalah.

"Lalu kenapa kau menggelar olah perkara ini padahal sudah tahu kau akan kalah?

Karena mereka harus mengungkap kebenaran. Entah surat tuduhan itu benar atau tidak, ada sesuatu yang harus mereka ketahui perihal kematian Lee So Woo. Ia jadi marah dan frustasi karena semua orang pura-pura tidak tahu dan berusaha menutupinya sebagai tindakan bunuh diri. Itu sebabnya ia menggelar olah perkara ini. Sebab, meski kalah, ia yakin akan menemukan sesuatu.

Ia bisa mendengarkan pengakuan orang-orang yang terlibat, mengungkap kebenarannya, baru ia dapat menutup kasus ini dengan lega. Meski satu tindakan saja, ia merasa perlu untuk dilakukan. Delusi itu melelahkan.
"Delusi?"

Tentang yang ia lakukan dalam olah perkara ini. Lee So Woo terseret. Lee Joo Ri pun terseret, gara-gara mulutnya. Tanpa mengenal Lee So Woo dengan baik, ia bersikukuh bahwa So Woo adalah korban. Tanpa memercayai Lee Joo Ri, ia berkeras bahwa Joo Ri mengatakan kebenaran.

Apa Joon Young tahu... bahwa ia adalah orang selicik ini? Ia bahkan ragu bahwa ia memiliki hak menjadi Jaksa. Sejak persidangan pertama, ia sudah diserang dengan bukti-bukti kuat.
"Kalau itu karena Han Ji Hoon memang mempersiapkan sangat dalam."

Ia pun begitu. Amat sangat. Namun, Ji Hoon memang Pengacara sungguhan. Tangguh. Ia harus menanganinya.
Ji Hoon masuk ke ruang klub tai disana ada Hae Rin yang sedang memakai kutex. Hae Rin memuji Ji Hoon yang pandai bicara pasti pintar merayu perempuan.

Ji Hoon meminta Hae Ri keluar karena ia harus rapat dengan Choi Woo Hyuk. Hae Ri tersenyum, Tunggu saja semalaman di sini, lihat Woo Hyuk bakalan datang atau tidak.

"Apa maksudmu?"

Hae Ri hanya tersenyum.
Woo Hyuk meluapkan kekesalannya dengan menendangi tong sampah di luar sekolah. Sung Min dengan setia menemaninya.

"Sudah kubilang tidak perlu cemas. Pernyataan Kim Dong Hyun tidak ada gunanya."

Woo Hyuk memerintahkan Sung Min untuk mengumumkan pada anak-anak. Suruh semua orang langsung menghubunginya kalau mereka melihat Kim Dong Hyun. Ia tidak akan tinggal diam.

"Tahan saja untuk kali ini. Kau sedang menjadi pusat kecurigaan, masa mau bikin masalah lain lagi?"

"Olah perkara atau apa pun itu. Kau ingin aku menahan diri padahal sudah ditusuk dari belakang seperti ini?"
Presdir Choi datang dan langsung menarik Woo Hyuk kerana hadir dalam persidangan tanpa seijinnya. Woo Hyukmenepis ayahnya karena ia malu.

Ayah kesal dan langsung menggampar Woo Hyuk. Sung Min mencoba menahan pesdir Choi. Memang Presdir Choi berhenti tapi ia menyerat Woo Hyuk pulang

"Pulang ke rumah! Kita lihat akhir semua ini. Aku tidak akan bersikap lunak padamu."
Ji Hoon melihat semua itu, saat Sung Min berbalik dan melihat Ji Hoon ia pergi begitu saja.

Seo Yeon membaca komentar anak-anak tentang persidangan pertama.

"Bukankah persidangannya seru?"
"Iya, benar. Sebenarnya aku ke sana untuk melihat Han Ji Hoon, tapi ternyata seru."
"Menyenangkan sekali melihat Choi Woo Hyeok terpojok begitu!"
"Apa Kim Dong Hyun bakalan baik-baik saja?"
"Pasti ada sesuatu. Kalau tidak, kenapa juga dia bohong soal alibinya?"
"Benar, mencurigakan sekali.”
"Tapi, surat tuduhan itu juga tidak kalah mencurigakan."
Seo Yeon dikamarnya merenungkan kata-kata Ji Hooon di akhir persidangan dan kata-kata Joo Ri. Seo yeon terlalu larut dalam pemikirannya sampai ia tidak sadar ibunya masuk.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Ibu

"Apakah memang posisi Jaksa sesulit ini?"

Tapi kemudian Seo Yeon sadar, ia menegur ibunya yang berusaha menangkap basah dirinya yang sedang gelisah. Ibu mengelak, ia kan tidak melakukan apa-apa. Seo Yeon sendiri yang langsung bicara.

"Bagaimana? Perlu bantuan Ibu?"

Seo Yeon akan sangat senang menerimanya, tapi sayang tidak bisa untuk saat ini. Ia harus melakukannya sendiri agar bisa diakui itu merupakan hasil usahanya. Ibu mengerti dan menyuruh Seo Yeon cepat keluar untuk makan agar bisa berpikir dengan jernih.
Ayah pulang dengan bicara di telfon, ia menyebut-nyebut presdir Choi.

Saat makan ibu menebak pasti ayah sedang ada kasus serius sampai meninggalkan persidangan. Ayah menjawab kalau itu baru tahap penyelidikan.

"Apakah kau menyelesaikan persidangan dengan baik, Nona Jaksa?" tanya Ayah.

Seo Yeon malah senang karena ayahnya tidak melihat karena ia melakukan tindakan gila di akhir sidang. Ibu menambahi kalau si pengacara kelihatan sangat pintar.

"Sepertinya begitu." Jawab Ayah, tapi kemudian ia melihat wajah masam pada Seo Yeon, ayah buru-buru mengoreksi ucapannya, "Tapi, tidak lebih pintar dari Seo Yeon. Kau yang terbaik."

Seo Yeon bertanya, kenapa ayahnya menyinggung soal keluarga Choi Woo Hyuk, apa karena insiden kebakaran itu? Tapi ayahnya kan di tim penyidik keuangan. Sedangkan kebakaran termasuk bidang tim tindak kriminal kekerasan.

"Belakangan ini mereka sangat sibuk, makanya Ayah membantu." Jawab ayah.
Ibu menasehati agar Seo Yeon tidak mengungkit kebakaran itu dalam persidangan. memang Lee So Woo memang teman sekolah Seo Yeon, tapi kasus kebakaran itu memakan korban lain juga. Jadi Seo Yeon harus berhati-hati untuk tidak menyangkut-pautkan keduanya.

"Benar. Hal itu bisa menimbulkan luka pada orang lain. Satu kasus kriminal saja sudah lebih dari cukup." Pembenaran ayah.

"Memang sih sidangnya tidak akan menjatuhkan hukuman apa pun, tapi sidang tetaplah sidang. Jika hal itu memang berhubungan dengan Lee So Woo, maka harus diungkap. Bukan tergantung aku ingin atau tidak."

"Hal itu tidak ada hubungannya dengan kasus Lee So Woo."

"Kalau begitu, Ayah tahu sesuatu."
Ibu mengalihkan topik dengan membungkuskan nasi untuk Seo Yeon agar Seo Yeon tidak bertanya lebih jauh.

Reporter Park melihat kembali rekaman sidang, bagian Ji Hoon yang yakin kalau Woo Hyuk tidak membunuh So Woo dan ia siap membuktikan hal tersebut.

Reporter Park menjelaskan pada bawahannya kalau Ji Hoon adalah murid yang berperan sebagai Pengacara dalam olah perkara SMA Jeongguk. Ia menanyakan bagaimana pendapat bawahannya itu.
"Dia lumayan ganteng. Kenapa? Mau mewawancarai dia, ya?"

"Bukan, tahu! Perhatikan caranya bicara! Jelas dia tidak sedang berspekulasi. Dia bicara dengan tenang dan natural. Dia juga mengatakan bisa membuktikannya."

Bawahan maklum, mereka dalam usia Ji Hoon memang suka sok hebat. Reporter Park membantah, Ji Hoon ini berbeda, ia bisa merasakannya. Bagaimana dengan yang ia minta?

Bawahan menunjukkan berkas. Ia melacak alamat IP Penjaga Jeongguk. Akses poinnya berubah. Sampai akhir Desember kemarin, pusatnya di sini dan sini. Tapi...

"ini SMA Jeongguk. Dan ini... Huh?" Sepertinya reporter Park menemukan sesuatu tapi ia tidak mengatakannya pada bawahannya itu. Ia malah langsung keluar.
Reporter Park menemukan Detektif Oh setelah berkeliling di seluruh tempat makan di sekitar Kantor Polisi Nambu. Detektif Oh akan pergi kalau Reporter Park terus ngaco begitu.

"Kenapa kau begitu? Padahal aku punya berita penting. Setidaknya, kau harus menyambutku dengan ramah."

Detektif Oh melanjutkan makannya dan bertanya apa itu. Reporter Park menyebutkan soal penjaga (Jeong Pa) SMA Jeongguk.

"Kenapa? Ada postingan terbaru?" Tanya Detektif Oh.

"Aku mengetahui identitasnya. Kurasa, Lee So Woo adalah Jeong Pa".

Detektif Oh sampai batuk-batuk karena kaget. Reporter Park menjelaskan kalau ia melacak IP-nya dan alamat yang ditemukan adalah alamat So Woo. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mengecek siapa pemilik rumah itu. Detektif Oh tak percaya karena Jeong Pa tetap aktif setelah Lee So Woo meninggal.

"Tepat saat itulah, akses poinnya berubah. Seseorang mengambil alih. Lee So Woo adalah si Jeong Pa asli. Namun sekarang, ada penerusnya. Tapi yang lebih penting, orang kedua ini adalah bocah pintar yang penuh perhitungan. Lee So Woo... tidak akan memberikan peran Jeong Pa pada sembarang orang. Pikirkan berapa banyak rahasia dan kebenaran yang diketahui si pemilik akun. Bahasa kerennya, WikiLeaks (situs pengunggap rahasia tingkat tinggi) di kalangan siswa."

"Kalau begitu, pasti seseorang yang dekat dengan So Woo atau terpercaya."

"Tepat sekali. Selayaknya teman."
Detektif Oh sudah menemui orang-orang terdekat Lee So Woo saat investigasi. Tapi, tidak ada teman dekat yang seperti itu. Reporter Park menunjukkan kalau itulah titik anehnya,

"Jika orang-orang seperti kita yang bisa menginvestigasi kehidupan orang lain tidak bisa menemukan mereka, itu berarti mereka memang sengaja menyembunyikan diri. Oke. Teman dekat Lee So Woo itu pandai sekali bersembunyi, sampai tidak bisa diendus oleh sekolah, media, maupun polisi. Dan selalu ada alasan di balik penyembunyian diri itu. Menurutmu, apa alasannya?"

Reporter Park menunjukkan akun SNS Jeong Pa.
Woo Hyuk kabur dari rumah dalam keadaan babak belur. an diluar ia disambut oleh Ji Hoon.

"Kenapa kau kemari?"

"Apakah ayahmu selalu seperti ini?"
Ji Hoon keluar membeli obat untuk Woo Hyuk. Tapi Woo Hyuk menegurnya karena bersikap berlebihan, Bukan hal aneh kalau seorang anak dimarahi oleh ayahnya.

"Lihat wajahmu. Kau anggap itu hanya memarahi?"

"Berhentilah ikut campur urusan orang lain, katakan saja tujuanmu datang."

Ji Hoon mengulurkan obarnya tapi Woo Hyuk menampiknya dengan kesal, ia menyuruh Ji Hoon jangan ikut campur!

Ji Hoon datang untuk menanyakan alibi Woo Hyuk sekali lagi. Apa yang sebenarnya Woo Hyuk lakukan malam itu? Bukan alibi palsu untuk persidangan, tapi alibi Woo Hyuk yang sebenarnya.

"Katakan padaku. Aku harus tahu cara untuk melindungimu. Choi Woo Hyeok!"

Woo Hyuk akhirnya jujur, Dong Hyun memang tidak di sana. Hanya ia dan Sung Min, mereka berdua. Ia mabuk berat, makanya Sung Min mengantarnya pulang ke rumah. kemudian Sung Min pulang ke rumahnya sendiri. Itu saja!

"Benar hanya itu saja?"

Woo Hyuk tidakmenjawabnya, Ji Hoon pergi setelah meletakkan obat di pangkuan Woo Hyuk. Sepertinya Woo Hyuk tersentuh, lalu ia memanggil Ji Hoon yang sudah berjalan.
"Aku rasa, malam itu, aku melihat seseorang di rumahku." Tapi Woo Hyuk tidak tahu. Tadinya, ia pikir hanya halusinasi akibat mabuk, atau mimpi belaka. Ia tidak yakin.

"Kau sudah tanya pada keluargamu?"

"Aku tanya, tapi malah dimarahi ayahku yang bilang kalau itu tidak masuk akal. Aku mengatakannya padamu karena aku rasa kau perlu tahu. Karena kau Pengacaraku. Abaikan saja kalau tidak penting. Aku pergi."
Joo Ri kembali mengunjungi Cho Rong yang koma, ia menangis,

"Tidak seorang pun memercayaiku."






1 komentar so far

Ditunggu part selnjutnya mb

Semoga sehat selalu

Amiinnn

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon