Wednesday, January 11, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 6 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 6 Part 2


Dong Hyun di ruang klub, ia kesal pada Seo Yeon karena bilang sebentar ternyata lama sekali. Seo Yeon minya maaf, Sebentar lagi. Ia lalu menelfon Yoo Jin untuk menanyakan apa yang terjadi.

"Apa lagi? Soo Hee bikin masalah."

Soo Hee mohon-mohon pada petugas bar untuk menunjukkan rekaman CCTV pada tengah malam saat Natal, katanya ia harus menangkap basah perselingkuhan kekasihnya. Petugas kekeh mengatakan kalau mereka tidak bisa.

"Arggh!! Aku bisa gila, nih. Dia itu kekasih pertamaku. Choi Seung Hyun! Dasar berengsek kau! Beraninya kau selingkuh di belakangku? Kumohon!Ahjussi, tunjukkan padaku, sekali saja!" Sandiwara SOo Hee sambil nangis-nagis.


Yoo Jin merasa bakalan malu sekali kalau harus datang lagi kemari. Seo Yeon mengerti dan meminta Yoo Jin memberitahunya kalau ada perkembangan.


Seo Yeon meminta Dong Hyun untuk duduk sebentar, hanya pengacara kok yang tahu kalau Dong Hyun ada disana. Dong Hyun tak mau, tidak ada jaminan Woo Hyuk tidak bakal tahu hanya karena Seo Yeon tidak bilang karena geng mereka punya cara sendiri.

"Dia sudah menyuruh semua murid menghubungi dia kalau ada yang melihat aku."

"Ruangan ini lumayan terpencil, tidak akan ada yang tahu."

"Dasar murid teladan. Naif sekali pandanganmu pada dunia. Tempat ini justru lebih berbahaya. Anak-anak seperti kami, menyukai tempat seperti ini."



Seo Yeon tak menjawab, ia menyimpulkan alibi Dong Hyun, jadi pada pukul 5 sore tanggal 25 Desember, Dong Hyun minum di rumah Lee Sung Min bersama Choi Woo Hyuk. Sekitar pukul 11 malam, Dong Hyun menemui temanmu yang lain di bar. Sekitar pukul 2 dini hari, Dong Hyun pulang ke rumah.

Dong Hyun membenarkan. Seo Yeon mengatakan bahwa mereka membutuhkan sesuatu untuk membuktikannya. Bukti bahwa saat insiden terjadi, Dong Hyun berada di tempat lain. Satu bukti saja.

Dong Hyun menyarankan teman-temannya yang bersamanya saat itu. Seo Yeon menjelaskan, kesaksian teman, kredibilitasnya diragukan. Apa tidak ada orang lain yang melihat selain teman-teman?

"Kim Soo Hee dan Lee Yoo Jin ada di sana sekarang. Suruh saja mereka tanya pada pelayan di sana. Dia melihatku kok hari itu."

"Dia bilang, dia tidak ingat padamu. Kau mengertilah. Itu karena... kalau mereka ketahuan menjual alkohol pada anak di bawah umur, mereka harus menutup bisnis mereka.

"Tetap saja, sih, bisa-bisanya dia begitu pada pelanggannya?"


Seo Yeon merasa akan sulit mendapatkan rekaman CCTV-nya. Dong Hyun menyesalkan, ada banyak orang di sana hari itu, tapi tidak ada sama sekali yang bisa jadi saksi. Seo Yeon tertarik, Ada banyak orang? 

"Kau tahu "J One Po Cha (nama bar)"? Di sana selalu penuh pelanggan."

"Jadi, hari itu saat Natal."


Setelah Soo Hee dan Yoo Jin kembali, mereka bersama Seo Yeon mencari foto yang diuanggah di SNS selama malam natal, mencari kalau-kalau ada foto Dong Hyun menyelip.

Soo Hee kesal karena banyaknya foto. Yoo Jin menjelaskan kalau tempat itu belakangan populer jadi berfoto saat sedang mengantri jadi kewajiban. Soo Hee mengkonfrontasi Dong Hyun, kenapa tidak berfoto sekali saja sih. kalau begitu kan, mereka tidak perlu kerja keras begini.

"Apa? Kau mendramatisasi hal yang tidak penting." Protes Dong Hyun.

"Cari dengan kata kunci "J One Po Cha", di semua situs SNS. Cari gambar-gambar yang diambil saat Natal, periksa waktunya! Kau bilang yang begini dramatisasi? Kami jadi seperti agen intelejen, tahu!"


Seo Yeon menemukan foto yang ada Dong Hyun-nya. Dia memakai jaket yang sama dengan yang dipakainya saat ini. Yoo Jin langsung meminta nama akun yang mengunggah foto itu, ia akan menghubunginya secara pribadi dan tanya apakah dia punya foto-foto lain.

Dong Hyun agak tidak percaya, apa memang tampangnya kek gitu ya kalau dari jauh. Soo Hee dan Yoo Jin mengangguk. Seo Yeon menjelaskan kalau yang terpenting adalah alibi Woo Hyuk tidak benar.

"Jika kau mau bersaksi sekali lagi..."


"Saksi?"

"Terakhir kali, kita belum selesai."

"Kau pikir aku sudah gila mau ke tempat itu lagi? Aku lari karena aku takut bakalan dipukul."

Dong Hyun membantu karena mereka bilang akan menjatuhkan Choi Woo Hyuk. Ia tidak akan melakukan lebih dari ini. Sekarang, semua terserah mereka.


Dong Hyun harus menghindari anak-anak saat akan meninggalkan sekolah tapi Sung Min malah melihatnya.

"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya pada Woo Hyuk?"


Yoo Jin berhasil mendapatkan foto-foto Dong Hyun, agak kabur sih tapi tapi cukuplah. Soo Hee lega, semuanya selesai, Jelas itu Kim Dong Hyun, meski dari 100 meter jauhnya.

"Bukti kedua kita. Bahkan meski Kim Dong Hyun tidak mau jadi saksi, kita ajukan saja ini sebagai bukti." Ujar Seo Yeon.


Dong Hyun balik bertanya, apa Woo Hyuk yang menyuruh Sung Min melakukan ini, untuk melenyapkannya. Sung Min ingin tahu alasan Dong Hyun yang mendadak berubah.

Dong Hyun hanya mengatakan kebenarannya. ia tidak berubah sama sekali. Sung Min kesal, karena itu berbeda dari kesepakatan mereka.

"Kalau begitu, seharusnya sejak awal kau jangan berbohong. Tidak cukup hanya kalian berdua. Sekarang, kalian membuat orang-orang ikut mencurigaiku."


"Memang kenapa kalau dicurigai? Kau tahu situasi Woo Hyuk belakangan ini. Apa kau merasa harus mengkhianati temanmu dalam situasinya itu?"

Pengkhianatan? Pengkhianatan apa? Toh, sedari awal mereka memang bukan teman. Choi Woo Hyuk menganggapnya sebagai suruhan, dan Ung Min bersikap seolah ia ini abstrak. Mereka meremehkan dan memanfaatkannya, bahkan sampai sekarang. Jadi, itu yang namanya teman?  Teman macam apa itu?

"Rupanya, kau punya masalah rendah diri. Dasar sampah."


Dong Hyun tak terima, ia menendang Sung Min hingga tersungkur. Menjadi sampah lebih baik daripada seorang pembunuh. Sung Min berdiri marah.

Dong Hyun malah memprofokasinya, Kenapa? Marah? Kalau begitu, bunuh ia juga. Seperti Lee So Woo.


Sung Min sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, ia mulai menghajar Dong Hyun dan Dong Hyun juga tidak mau kalah, mereka saling menyakiti dan akhirnya, Sung Min menendang Dong Hyun hingga terjatuh di tangga, Sung Min mengulurkan tangannya untuk membantu tapi ia terlambat.


Ibu dan pak guru berlarian menuju jatuhnya Dong Hyun. Seo Yeon, Soo Hee dan Yoo Jin juga mengikuti mereka. Dong Hyun berteriak kesakitan. 

Ibu guru panik, hanya meminta Dong Hyun agar tidak bergerak dan tenang agar tidak terlalu parah cideranya.


Sementara itu Sung Min malah merarikan diri, ia sangat sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya tadi, ia bahkan gemetar sambil menangis.


Kepsek marah-marah pada Guru Kim dan Ibu wali kelas, Bagaimana bisa seseorang sampai mendorongnya dari tangga? Semua kekacauan ini gara-gara olah perkara itu!

"Aku menyuruhmu untuk bersiaga dan hati-hati agar tidak timbul masalah lain!"

Guru Kim hanya bisa minta maaf. Kepsek bertanya, bagaimana ia harus menjelaskan ini pada para wali murid? Penjelasan macam apa atas kegilaan ini? Oh... benar-benar!


Di kelas Seo Yeon heboh, karena bukan Woo Hyuk yang mencelakai Dong Hyun melainkan Sung Min. Mereka menyalahkan olah perkara Seo Yeon.

"Hei, bukan begitu, tahu! Mereka berdua memang tidak akur, kok. Meski bukan karena kami, hal itu tetap akan terjadi." Pembelaan Soo Hee.

Seperti biasa, Yoo Jin menenangkan Soo Hee.


Rapat bersama kembali digelar. Seung Hyun ragu bisa atau tidaknya mereka melanjutkan olah perkara. Yoo Jin merasa bisa kalau memang mau, tapi mungkin tidak akan ada yang mau jadi saksi.

Sejujurnya, Soo Hee merasamereka tidak layak diperlakukan begini. Toh, mereka tidak bersorak di atas perkelahian mereka. Mereka kan berkelahi atas kehendak sendiri, lalu kenapa orang-orang bilang gara-gara olah perkara?

"Mungkin, memang sudah ada konflik di antara mereka, tapi baru pecah kendali saat olah perkara digelar. Kita terima sajalah." Kesimpulan Min Suk.

Ji Hoon menanyakan keadaan Dong Hyun. Yoo Jin mengatakan Kakinya patah, lengannya juga kelihatan sama. Lainnya masih diperiksa lebih jauh.


"Dia didorong dari tangga. Sekalipun cedera ringan, tetap saja akan berakhir jadi masalah besar. Tapi, kalau Sung Min melakukannya didasari dendam akibat pernyataan itu, kurasa kita tidak boleh melanjutkan olah perkaranya." Ujar Seo Yeon.

Soo Hee tidak percaya dengan omongan Seo Yeon, Kenapa juga mereka harus melakukannya? Seo Yeon mengingatkan kalau sudah jatuh korban sekarang, Apakah tepat untuk menjadikan seseorang saksi padahal itu membahayakan mereka? Apakah tidak masalah membuat orang lain dalam kesulitan demi diri mereka?

Joon Young setuju dengan Seo Yeon yang mendapat protes dari Seung Hyun.


Ji Hoon angkat bicara, ittu bukan karena olah perkaranya, tapi dirinya. Sedari awal, ia tahu alibi Choi Woo Hyuk palsu. Ia juga sudah tahu Kim Dong Hyun memang tidak bersama dia. Tapi ia membiarkan Choi Woo Hyuk berbohong.

(Sebentar... bukannya Ji Hoon tahunya baru kemarin malam ya, setelah menemui Woo Hyuk yang habis dipukuli ayahnya, tapi meskipun begitu ia tetap bisa membela Woo Hyuk dalam persidangan. Tapi kenapa ia bohong?)

"Kau pura-pura tidak tahu?" Seo Yeon memastikan.

Ji Hoon membenarkan, ia juga sudah memperkirakan akan terjadi sesuatu pada Kim Dong Hyun. Kemungkinan akan berakhirnya pertemanan mereka.


Seo Yeon mulai kesal, Ji Hoon kan sudah memperkirakan, kenapa tidak mencegah. Ji Hoon beralasan kalau ia tidak tahu kalau Lee Sung min yang akan bertindak, ia telah melakukan kesalahan.

"Tidak. Malah kelihatannya kau sengaja merancang semuanya. Kau membuat Kim Dong Hyun merasa bersalah, agar dia mau buka mulut. Kau memanfaatkan kesaksiannya untuk menjungkalkan surat tuduhan itu. Kau tidak peduli pada perasaan orang lain atau cedera yang mungkin mereka dapatkan? Apakah tidak masalah memanfaatkan mereka hanya karena kau butuh? Olah perkara ini sekedar permainan buatmu? Begitu pentingnya untuk menang?"

Ji Hoon menjawab, dalam olah perkara ini, tidak seorangpun akan menang. Seo Yeon melarang Ji Hoon bersikap seolah tahu segalanya.

"Kau tidak ada bedanya dengan kami. Kita baru menyelesaikan persidangan pertama, dan belum ada yang pasti."


Ji Hoon sudah memastikan satu hal, Choi Woo Hyuk tidak bersalah. Seo Yeon berdiri, begitukah? kalu begitu ia sama, Choi Woo Hyuk bersalah.

Seo Yeon langsung pergi diikuti Soo Hee dan Yoo Jin.


Soo Hee tidak bisa percaya. Meskipun Ji Hoon Pengacara, bagaimana bisa membiarkan Choi Woo Hyuk berbohong? Tim pengacara hanya main-main, sedangkan tim jaksa sungguh-sungguh.

"Tidak. Han Ji Hoon yang sungguh-sungguh, akulah yang bermain. Han Ji Hoon adalah Pengacara sungguhan. Sebab dia memercayai Choi Woo Hyuk. Dia yakin atas ketidakbersalahan Woo Hyuk, dan dia berusaha membuktikannya. Sedangkan aku tidak pernah memercayai Lee Joo Ri, tidak sama sekali." Jawab Seo Yeon.


Seo Yeon minta surat kesaksian yang dirobek Joo Ri waktu itu. Yoo Jin mengeluarkannya dari tas, ia sudah menyatukan kembali surat itu.

Seo Yeon menatap surat itu yang dianggapnya bisa menjadikannya jaksa yang sesungguhnya. Yoo Jin dan Soo Hee hanya saling pandang tidak mengerti dengan maksud Seo Yeon.


Ji Hoon sudah tidak ada di ruang klub. Seung Hyun tadinya berpikir Ji Hoon itu pintar tapi rupanya idiot, kenapa juga Ji Hoon sampai berkata begitu? minta dimaki, ya? Bahkan dirinya, si tukang omong besar, berusaha mengunci mulut.

"Duniamu memang aneh sekali. Kau tidak paham maksud Han Ji Hoon?" Tanya Min Suk.

"Apalagi? Jelas misi bom bunuh diri. Kebakaran dahsyat."


Min Suk menjelaskan, Itu syok terapi (salah satu metode dalam masalah psikologi). Syok terapi agar So Yeon kembali waras. Ji Hoon sengaja melakukannya So  Yeon goyah dan berusaha menghentikan olah perkara ini. Sebab itu, Ji Hoon memprovokasi So Yeon.

"Benarkah? Jadi, dia berusaha agar olah perkara ini tetap dilanjutkan. Tapi kenapa sebegitunya?" Tanya Seung Hyun.


Ji Hoon saat ini sedang berjalan menaiki tangga lalu berhenti di sebuah jendela memandang taman lokasi mayat So Woo ditemukan.


Ia teringat malam setelah So Woo berkelahi dengan Woo Hyuk. Saat itu ia menemui So Woo di sebuah taman, ia terkejut melihat wajah So Woo, apa yang terjadi? siapa yang melakukannya pada So Woo?

"Kau…" Jawab So Woo.

Ji Hoon berkaca-kaca mengingatnya, ia sampai mendesah.


Seo Yeon, Soo Hee dan Yoo Jin meminta Guru Kim untuk membukakan pintu atap kerena penjaga sekolah menolak. bukan hanya bilang "tidak", tapi "tidak akan pernah".

Guru Kim melarang mereka kesal pada penjaga sekolah karena semua orang sedang mencoba berhati-hati setelah semua yang terjadi dan murid sebenarnya memang dilarang ke atap.

"Kelihatannya, kuncinya elektronik (menggunakan password), kok. Tidak bisakah Ibu membisikkan kodenya pada kami?" Pinta Yoo Jin.

"Tidak bisa. Ibu memihak kalian, tapi bukan berarti berkompromi jika itu soal keamanan."

Jelas semua murung tapi kemudian Guru Kim menemukan ide, ia bisa menemani mereka ke atap.


Guru Kim tidak sendirian, ia bersama wali kelas. Guru Kim memang tidak terlalu tahu apa yang terpenting saat menginvestigasi TKP, tapi ia minta mereka tidak menyentuh sembarangan dan karena berbahaya, jadi selesaikan dengan cepat. Mereka mengerti.


Seo Yeon memimpin pemeriksaan TKP ini. Soo Hee memegang kamera dan Yoo Jin memegang dafatr penyataan saksi, sementara Seo Yeon bertugas mengecek pernyataan saksi.

Pertama, menurut saksi mata, di atap dideskripsikan memiliki ventilasi dan banyak alat. Dan itu sama persis jadi cocok. Seo Yeon memerintah Yoo Jin untuk menyentang pernyataan pertama.

Kedua, saksi melihat kejadian melalui pintu yang sedikit terbuka memungkinkan. Cocok.

Ketiga, Choi Woo Hyuk serta Lee So Woo di atas pipa ventilasi. Choi Woo Hyeok menarik Lee So Woo yang memegang tongkat. Lee So Woo memberontak. Kali ini Seo Yeon dan Yoo Jin naik ke pipa ventilasi.

Keempat, Choi Woo Hyeok menyuruh Lee So Woo turun. Tidak punya pilihan, Lee So Woo naik ke pinggiran atap. Di saat itu, ada bunyi "cling". Kali ini mereka bertanya-tanya, darimana kira-kira bunyi itu?

"Notifikasi ponsel seseorang?" Tebak Soo Hee.

Tapi Seo Yeon mengelaknya, Kedengarannya bukan itu. Yoo Jin biasanya mendengar suara itu saat koin berbenturan.

"Kalau begitu sih benturan benda besi." Ujar Seo Yeon.

Yoo Jin menginjak pipa ventilasi tapi suaranya beda. Seo Yeon mengatakan ada pra-kondisi penting. Sebuah kondisi dimana seseorang harus bertaruh sebelum sesuatu terjadi. Sebuah kondisi yang membuat Lee So Woo tidak memiliki pilhan selain naik ke pinggiran atap. Pada saat itulah, suara "cling" itu muncul. Suara naik ke tepian atap.

Yoo Jin bertanya, Bagaimana cara membuktikannya?


Seo Yeon nekat naik ke pinggiran atap. Semuanya panik meminta Seo Yeon segera turun, BAHAYA!

"Sebentar saja. Meskipun nanti harus dihukum, aku akan menerimanya. Tolong diam, sebentar saja."

Seo Yeon melangkah perlahan dan suara itu timbul saat ia menginjak piringan seng yang pakunya terlepas. Yoo Jin senang mereka menemukannya, tapi kemudian ia menjadi murung, Jika Lee Joo Ri tahu suara itu...


Seo Yeon turun, barulah Yoo Jin melanjutkan ucapannya. Jika Joo Ri mengetahuinya, artinya Joo Ri menyaksikan kejadian langsung kejadian itu. Berarti, Lee Joo Ri mengatakan yang sebenarnya? Kalau begitu, Choi Woo Hyuk memang...

"Seo Yeon, Soo Hee. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Yoo Jin bingung.


"Tidak. Jangan pikirkan hal itu. Pokoknya kita membuktikan Lee Joo Ri benar. Kita hanya perlu memercayai Lee Joo Ri. Lupakan soal lainnya. Kita tidak boleh terperangkap dalam pikiran buruk dan sedih. Kita... Kita adalah Tim Kejaksaan. Mengerti?" Jawab Seo Yeon.


Ji Hoon, Min SUk, Joon Young dan Seung Min jalan bersama tapi kemudian Ji Hoon ada telfon jadi dia menyuruh yang lain untuk berjalan duluan.


Itu adalah telfon dari kepsek dan saat ini Ji Hoon ada di ruang kepsek. Jika saja Kepsek tahu Ji Hoon putera pak Han, ia akan meminta bertemu lebih awal. Ji Hoon merasa tidak nyaman, kan?

Tidak, Ji Hoon mempersilahkan Kepsek untuk bicara saja. Kepsek senang Ji Hoon tertarik dengan yang terjadi dengan sekolahnya. Juga, ia bersyukur Ji Hoon memihak para murid yang terlibat. Tapi, cukup sampai di sini saja, kan? Hentikan saja olah perkaranya sekarang.

"Bukan masalah besar meski kau keluar sekarang, kan? Kau bisa pergi tanpa beban apa pun. Aku menjamin tidak akan muncul rumor buruk mengenai dirimu. Jika kau mirip ayahmu, kau pasti cepat tanggap akan suatu hal, kan? Sekolah jadi kacau akibat olah perkara itu. Bukan hanya sekolah, tapi juga yayasan. Tapi yayasan? Putera Pak Han justru terlibat di dalamnya. Jika sampai ketahuan kau terlibat di dalamnya, bayangkan betapa tidak nyaman ayahmu kemudian?"

"Karena Go Seo Yeon mengatakan hal itu tidak adil. Dalam persidangan, kami dapat melakukan pemeriksaan untuk membuktikan segala sesuatu. Ada kesempatan kedua belah pihak meluruskan segalanya. Saya percaya, keseimbangan semacam itu akan didapatkan dalam ruang sidang. Harus di dalam sana. Tidak dengan pertemuan pribadi seperti ini."

Ji Hoon ada permohonan untuk Kepsek. Ia ingin Kepsek hadir sebagai saksi Kejaksaan dalam persidangan.


Ji Hoon pulang dan menyapa ayahnya di ruang kerja. Ayah menyinggung mengenai Ji Hoon yang meminta Kepsek sebagai saksi.

"Dia tidak ada hubungan dengan kasus Lee So Woo. Lalu untuk apa?"

"Karena kurasa, penting supaya ada perwakilan pihak sekolah yang memberi kesaksian dalam persidangan."

"Apakah hanya itu yang kau inginkan dari Kepala Sekolah?"

"Ya. Hanya formalitas saja. Aku mungkin akan mengantuk saat mendengarkannya."

Pak Han mengerti dan menyuruh Ji Hoon istirahat.


Seo Yeon masih memikirkan soal kebenaran kesaksian Joo Ri. Ia membayangkan bagaimana hal itu terjadi lalu ia mengirim pesan pada Jeong Pa,


"Sekarang, aku memercayai surat tuduhan itu. Tapi, aku masih merasa ganjil akan isinya. Terasa ada yang aneh dengan isinya. Keadaan jadi memburuk."

Jeong Pa membalas, "Itu perasaan yang timbul karena akhirnya kau menjadi Jaksa sungguhan."

Seo Yeon mengucapkannnya, "Jaksa yang sesungguhnya. Jaksa Go Seo Yoon." dan meresapi kalimat itu.


Seo Yeon ke rumah Joo Ri, Ibu Joo Ri yang membukakan gerbang. Seo Yeon datang karena Joo Ri tak bisa dihubungi. Apakah Joo Ri di rumah?

"Ada ataupun tidak, aku tidak akan mengijinkan kau bertemu dia."

"Sebentar saja."

"Kubilang pergi!"

Seo Yeon minta nomor telfon Joo Ri kalau begitu. Ibu Joo Ri mengatakan kalau mereka akan pindah.

"Gara-gara kalian, keadaan menjadi sulit dan kami terpaksa pindah sejauh mungkin. Kau senang? Jadi, jangan datang lagi. Joo Ri mengubah nomor ponselnya dan tidak ada hubungan lagi dengan kalian."

"Satu hal saja. Tolong katakan pada Joo Ri bahwa saya memercayai dia."

"Anak ini..."

Ibu menutup pintu gerbang dengan kesal.


Joo Ri melihat Seo Yeon dari jendela kamarnya, ia akan menyibak tirai tapi tidak jadi.

-- Persidangan Hari Kedua --


Seo Yeon mengatakan pada Soo Hee dan Yoo Jin kalau Joo Ri pindah. Oh ya.. ada Seung Hyun juga sedang tiduran di ruang klub. Seo Yeon sudah memastikan pada wali kelas, kata beliau ibu Joo Ri datang untuk memindahkan sekolah Joo Ri.


Seung Hyun tidak yakin harus merasa bagaimana. Mendengar Joo Ri pindah sekolah... membuatnya merasa kasihan padanya. Tapi sebagai Pengacara, ia senang saksi tim jaksa melarikan diri.

"Lalu kenapa kau di sini? Kau kan Tim Pengacara!" Kesal Soo Hee.

"Lalu, Lee Joo Ri sudah pasti tidak ikut persidangan?" Tanya Seung Hyun.

"Kelihatannya begitu. Tidak mungkin kan kita membawa kembali orang yang sudah pindah." Jawab Yoo Jin.

Min Suk masuk meminta Seo Yeon mengikutinya.


Min Suk mempertemukan Ji Hoon, Seo yeon dengan Guru Kim. Min SUk ingin klarifikasi mengenai Tim Jaksa dan Tim pengacara yang mencoba merahasiakan saksi dan bukti masing-masing.

"Itu bagian strategi." Jawab Ji Hoon.

"Sama halnya dengan kami." Jawab Seo Yeon.

"Sekalipun ini bukan sidang sungguhan dan segalanya bisa berkompromi, ini agak kelewatan. Contohnya, pemeriksaan silang. Bagaimana kalian akan menyiapkannya tanpa ada informasi mengenai saksi sama sekali? Tanya saja pada langit, itu tidak bisa disebut pemeriksaan!" Ujar Min Suk.

Guru Kim setuju dengan Min Suk, bagus memang mereka mencoba mengukuhkan posisi sebagai Jaksa dan Pengacara, tapi tidak perlu saling menyudutkan. Pertahankan batas. Mereka semua ini di sisi yang sama. Mengerti?

Ji Hoon minta maaf. Guru Kim tersenyum, tidak sampai harus begitu dan beliau menyuruh mereka untuk segera menyelesaikan persiapan sidang.


Min Suk dan Guru Kim pergi duluan. Seo Yeon melarang Ji Hoon berbohong lagi karena ia hanya akan membiarkannya sekali saja. Tapi mulai hari ini, ia tidak akan menoleransinya.

"Kau pikir, hanya sekali itu aku berbohong?"

"Apa?"

Ji Hoon tersenyum, "Ayo kita lakukan yang terbaik hari ini."

-- Saat persidangan --


Min Suk membuka persidangan kedua, pertama ia memperkenalkan diri lalu berterima kasih pada semua hadirin.


Joo Ri hadir dalam persidangan, kali ini ia menggunakan sragam tanpa menyembunyikan diri.  Seo yeon melihatnya dan Joo Ri juga menatap Seo Yeon.

***

Menurutku Ji Hoon ini menyembunyikan banyak hal, setuju dengan pertanyaan Seung Hyun, kenapa Ji Hoon sebegitu inginnya sidang dilanjutkan? Apa yang ingin ia ungkap? Ia sangat pintar untuk seusianya. Kali ini sasarannya adalah Kepala Sekolah, kira-kir apa tujuannya? Hmmmm,,,,

Lee So Woo misterius banget, ia pendiam tapi pintar dalam memprofokasi orang. Penjelasan kakaknya dibuktikan dengan apa yang terjadi sebelum perkelahiannya di lab sains itu. Terus kenapa kuga ia menjawab “kau...” saat Ji Hoon bertanya siapa yang memukulinya. 



Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon