Wednesday, January 25, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 9 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Dolomon's Perjury Episode 9 Part 1


-- 11 Tahun Lalu --

Pak Han adalah seorang jaksa. Ia datang ke kantor polisi menemui detektif untuk bertemu dengan saksi. Dalam perjalanan ke ruang interogasi Detektif menjelaskan bahwa pelaku tampak jelas sudah membunuh dalam kondisi mabuk. Tapi pelaku menyangkalnya.


"Anak itu melihat ibunya meninggal tepat di hadapannya. Tapi, dia tidak meneteskan air mata sama sekali, juga tidak berkata apa-apa. Tanpa kesaksian, si pembunuh akan bebas!"
"Berapa usianya?"

"Tujuh tahun. Namanya adalah Yang Ji Hoon."


Pak Han kemudian masuk ruang interogasi. Ia menyapa Ji Hoon ramah. Pertama ia mengenalkan diri. Ia bahkan memakaikan mantelnya untuk Ji Hoon yang hanya memakai kaos.

Pak Han melihat luka di tangan Ji Hoon. ia bertanya, apa Ji Hoon luka saat main. Ia akan memeriksanya tapi Ji Hoon menarik tangannya, tidak nanti ia bisa dapat masalah.

"Oleh siapa? Apakah ayahmu... melakukannya padamu?"

Ji Hoon hanya diam saja. Pak Han terus bicara dengannya menggunakan bahasa halus. Ia tahu pasti Ji Hoon tidak ingin terus disana karena Orang dewasa berwajah seram terus masuk dan menanyainya ini dan itu. Juga sangat sempit disana.


"Ayo kita taruhan. Kalau kau bisa menatap Ahjussi selama 10 detik, kau boleh pulang. Bagaimana? Mau mencobanya?"

Ji Hoon menatap mata Pak Han dan Pak Han mulai menghitung 10... 9... 8... 7... 6... Ji Hoon membuka mulutnya, ia tidak ingin pergi.

"Tolong jangan mengantarku pulang. Aku tidak mau pulang."

"Itukah sebabnya kau tidak mau mengatakan apa-apa? Karena kau tidak ingin dipulangkan setelahnya?"

Pak Han memberi penjelasan kalau ayah Ji Hoon tidak di rumah. Polisi sudah membawanya. Ji Hoon membantah, ayahnya pasti kembali, selalu seperti itu. Pak Han berjanji, kali ini ayahnya tidak akan kembali, ayahnya tidak akan menyakiti Ji Hoon lagi.

"Jadi... ceritakan yang kau lihat kemarin. Tidak akan ada lagi yang melukaimu."

"Ayahku... Ayahku... melakukannya."


Detektif senang karena mendapatkan pernyataan saksi. Sementara Pak Han iba melihat Ji Hoon menangis setelah mengatakannya. Bahkan berbalik menatap Ji Hoon lagi saat akan keluar.


Setelah di tahan, Ayah Ji Hoon melakukan bunuh diri di tahanan. Pak Han lalu ke panti asuhan Ji Hoon. Ji Hoon tersenyum melihat Pak Han.


Pak Han mengajak Ji Hoon ke rumahnya. Pak Han mebgatakan kalau Ji Hoon bisa sekolah lagi, ia sudah berbicara pada gurunya. Ji Hoon senang mendengarnya.

"Apa yang ingin kau lakukan? Katakan saja kalau ada yang kau ingin lakukan atau perlukan. Akan kupenuhi."


Pak Han membelikan pakaian untuk Ji Hoon. Ia juga menemani Ji Hoon nonton film. Juga menemani Ji Hoon bermain di taman bermain.

Saat belanja, Ji Hoon melihat gitar. Pak Han mengerti jika Ji Hoon tertarik dengan itu, ia pun membelikannya untuk Ji Hoon.


Saat tidur, Ji Hoon memeluk gitar barunya. Pak Han akan menyelimutinya jadi ia menurunkan gitarnya tapi Ji Hoon terbangun.


"Ahjussi tidak tidur?"

"Entahlah... Ahjussi juga tidak mengerti. Tidak bisa tidur saja."

Ji Hoon berterimakasih, ia tidak pernah pergi tidur sebahagia ini. Pak Han mengatakan ini baru permulaan, mulai sekarang akan selalu seperti ini.

"Mungkin tidak."

Pak Han menawari, apa Ji Hoon ingin dirinya memintakan ijin ke panti asuhan agar Ji Hoon bisa menginap lebih lama? Ia janji bisa melakukan apa pun yang Ji Hoon mau, juga akan membelikan apa pun yang Ji Hoon inginkan.

"Keluarga. Itulah yang aku inginkan... Keluarga."

Dan begitulan merekamenjadi keluarga.

***


Ji Hoon memakai bajunya lagi dibantu Joon Young. Ia sama seperti Woo Hyuk, ia berpikir tidak bisa melakukan apa-apa. Iatidak bisa memikirkan solusi maupun melarikan diri. Kemudian... akhirnya ia kehilangan sesuatu yang berharga.  menyesalinya seumur hidup.

"Malam itu... kenapa aku tidak kabur saja dengan ibuku? Kenapa aku tidak melaporkan ayahku lebih awal? Kenapa... hanya aku yang bertahan hidup? Aku begitu menyesali diriku pada usia tujuh tahun, bahkan sampai membenci diri sendiri. Tapi kau... masih memiliki kesempatan."

Woo Hyuk merasa tersentuh tapi ia malah pergi dari sana.


Detektif Ko selesai menerima pernyataan kesaksian dari Ibunya Woo Hyuk.

Detektif Oh dan satu detektif lagi mendekat. Detektif Oh penasaran, apa yang sikatakan ibunya Woo Hyuk. Ibunya Woo Hyuk ternyata mengatakan segalanya, menceritakan hubungan Tuan Choi dengan pelaku pembakaran itu.


"Meskipun akan memberatkan Tuan Choi?" Tanya Detektif Oh dan Detektif Ko membenarkan.

Detektif yang berkacamata memahaminya. Ibunya Woo Hyuk menyalahkan suaminya karena perusahaan itu sudah kolaps. Menakutkan sekali. Keluarga macam apa itu!

"Bukan hanya itu masalahnya. Tuan Choi juga melakukan kekerasan terhadap isterinya, juga Woo Hyuk. Dia sudah tidak sanggup lagi. Pengakuannya sangat membantu, tapi hal itu... bukan sesuatu yang patut disyukuri."

Detektif Ko penasaran, darimana Ji Hoon mengetahui perihal situasi keluarga Choi dan meyakinkan Ibunya Woo Hyuk itu mengungkapkan soal pelaku pembakaran. Ji Hoon mengatakan itu cara untuk membuktikan Woo Hyuk tidak bersalah, serta menghentikan tindak kekerasan Tuan Choi.

"Ji Hoon? Kalau begitu, saat dia mendatangi kita dan  membicarakan soal pelaku pembakaran..." Sela Detektif Oh.

"Itu bukan untuk mengonfirmasi, melainkan memberi kita informasi. Agar kita dapat menahan Tuan Choi."

"Siapa dia sebenarnya?"


Woo Hyuk diajak ibunya pergi malam-malam. Mereka naik taksi menuju bandara. Walaupun Woo Hyuk memprotesnya tapi ibunya tidak peduli.


Joon Young terus berjalan di belakang Ji Hoon tidak mengatakan apa-apa. Ji Hoon menanyainya, apa Joon Young akan terus melakukan itu? Joon Young malah jadi salah tingkah.

"Kau tidak perlu merasa iba padaku karena masa lalu itu. Aku tetap orang yang sama, kemain, hari ini, maupun besok. Bersikaplah biasa saja. Kau bisa bicara dan bercanda denganku."


Joon Young minta maaf, ia hanya tidak tahu harus bilang apa. Ji Hoon memberi saran karena Joon Young pernah datang ke rumahnya. Bagaimana kalau tanya, "Bagaimana rasanya diadopsi keluarga kaya?" "Kau tetap akan mewarisi kekayaan mereka meski hanya anak adopsi?"

"Hm?" Joon Young terkejut tapi kemudian Ji Hoon tersenyum. Ji Hoon menegaskan kalau ia baik-baik saja, ayahnya sangat menyayangonya sehingga ia bisa menikmati banyak hal dalam hidup. Ia ini beruntung.

"Jadi... apa kau bahagia?"

Ji Hoon hanya diam saja. Joon Young minta maaf karena menanyakan hal aneh begitu. Ia hanya tidak yakin Ji Hoon sepenuhnya baik-baik saja setelah mengalami hal semacam itu.

"Keadaan akan membaik. Pasti. Percayalah padaku." Jawab Ji Hoon.

Mereka melanjutkan jalan. Ji Hoon bertanya, Woo Hyuk tidak akan melarikan diri lagi, kan. Joon Young menjawab kalau Woo Hyuk benar-benar kurang ajar jika melakukannya.


Berita soal ayah Woo Hyuk disiarakan. Ayah Woo Hyuk sengaja membakar rumah untuk mendapatkan uang asuransi.


Komentar bertebaran di akun Jeong Pa dan Ji Hoon membaca semuanya.

"Apa yang masuk berita itu Ayah Woo Hyuk?"
"Sinting! Dia membakar rumahnya sendiri demi uang."
"Keluarga gila! Ayah dan anak sama saja."
"Choi Woo Hyuk harus dikeluarkan dari sekolah."
"Ayo kita tanda tangani petisi pengeluaran dia!"


Sesampainya di kelas, Seo Yeon ditanyai teman-teman soal ayah Woo Hyuk. Kan Seo Yeon putri seorang detektif jadi mereka ingin tahu apa Seo Yeon tahu soal kasus itu. Joon Young yang bersamanya menghadapi teman-teman, ia meminta teman-teman berhenti.


Soo Hee dan Yoo Jin buru-buru masuk kelas, mereka ingin mengatakan sesuatu pada Seo Yeon tapi Seo Yeon bilang nanti saja usai kelas.


Pak Han, Pengacara Kim dan satu anggota komite lain menemui Kepsek di sekolah. Kepsek curhat kalau wali murid datang dan membuat keributan besar. Ia bertanya-tanya, ia ini Kepala Sekolah  atau hanya pihak yang perlu disalahkan, sih?

Kepsek akhirnya menyarankan pada Pak Han untuk menyerah akan Woo Hyuk, ada batas untuk melindungi Woo Hyuk.


"Ini bukan hanya soal Choi Woo Hyuk. Kau tahu siapa ayahnya. Dia sudah ditahan sekarang, jika tidak hati-hati, dia mungkin akan mengicaukan sesuatu yang tidak seharusnya." Ujar Pak Han.

Pengacara Kim membenarkan, sekolah akan tercemar juga jika diketahui memperlakukan istimewa murid VIP. Donatur juga sudah berkurang separuh. Anggota komite yang lain mengatakan, Mantan Kepsek mencoba menghubungi murid yang terlibat dalam olah perkara. Kepsek terkejut, apa mantan kepsek akan bersaksi?

"Kami masih mencari tahu." Jawab Anggota itu.


Pak Han bertanya soal peraturan baru. Kepsek membenarkan, kalau peraturan sudah diperbaruhi. Pak Han menyuruh Kepsek membubarkan klub olah perkara setelah sidang kali ini selesai. Jika mereka protes, selesaikan menurut peraturan sekolah yang baru.

"Sungguh? Tidak masalah mengeluarkan mereka?" Tanya Kepsek.


Mereka semua berkumpul di ruang klub. Seung Hyun sudah tahu ini akan terjadi. Ia memprotes jaksa, sekalipun kau ingin menghukum seseorang, harusnya melakukannya sefleksibel mungkin, dengan kata lain... yang manusiawi!

"Choi Woo Hyuk kabur karena terlalu tertekan! Dia tidak bisa mengatasinya."

"Memang itu salah kami? Itu salah ayahnya!" Bantah Soo Hee.

Guru Kim mengetuk pintu, mengajak semuanya makan bersama.


Mereka semua bercanda dulu sebelum Guru Kim bicara ke Intinya. Guru Kim mengatakan kalau siswa itu tetap lapar sebanyak apa pun yang sudah dimakan, juga masih mengantuk meski tidur sedemikian lama. Banyak tertawa, tapi juga banyak menangis.


Tapi bukan itu intinya, ia menyarankan untuk mengundurpersidangannya sebentar. Bukan mengakhirinya, hanya menunda karena situasi saat ini cukup serius.

"Sejak awal memang tidak pernah bagus." Bantah Seo Yeon.

"Kali ini, agak berbeda. Setelah insiden keluarga Woo Hyuk terungkap, keseimbangan peradilan pun kacau. Kejaksaan jadi memiliki kekuatan besar, dan tidak ada yang akan memercayai pihak pembela. Dalam proses seperti itu, Woo Hyuk akan sangat terluka. Ibu tahu, dia bukan teman yang baik untuk kalian. Ibu tahu, dia sudah melakukan banyak hal buruk. Tapi... bagi Ibu, dia tetaplah murid Ibu."

Ji Hoon menjelaskan, bukan perlindungan yang saat ini Woo Hyuk butuhkan. Dia membutuhkan pengalaman dibela, sekaligus dilawan di saat bersamaan. Fakta bahwa masih ada yang membelanya, seseorang yang berusaha untuk memenangkan dia, itulah yang harus dia rasakan dan dengarkan langsung. Itu sebabnya, Ji Hoon percaya persidangan harus lekas diselesaikan, Terlebih, dalam situasi seperti ini.

Guru Kim mengangguk mengerti. Seo Yeon menengahi kalau mereka akan mendiskusikannya dengan yang lain.


Detektif Oh kepikiran soal Ji Hoon yang ada hubungannya dengan So Woo, ia meminta rekannya untuk mengambilkan catatan kasus So Woo.

Detektif Oh lalu mengunjungi dokter di rumah sakit. Setelah itu ia menelfon Reporter Park.


Reporter Park datang ke tempat janjian. Ia sudah menduga suatu saat Detektif Oh pasti akan menghubunginya.

"Kau merindukan aku, kan? Memikirkan aku setiap malam?" Canda Reporter Park.

"Bisa-bisanya kau tertawa? Kau tahu jelas yang terjadi di SMA Jeong-guk saat ini." kesal Detektif Oh.

Reporter Park mengatakan hasilnya tidak terlalu buruk. Awalnya, ia pikir akan ada seseorang yang marah lalu membakar rumahnya setelah menonton siarannya. Tapi, tidak sama sekali.

Detektif Oh menatapnya tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Reporter Park mengatakan, Detektif Oh itu tidak cocok jadi reporter, maupun lingkungan. Manusia itu, semakin dikenal, kepribadiannya kian buruk dan banyak tingkah. Jurnalis tidak bisa memuaskan semua orang. Tapi publik menjadi emosional atas sebuah kasus, sedangkan jurnalis harus tetap berpikiran dingin. Sama halnya dengan detektif Oh, kan?

"Jadi! Apa yang kita lakukan hari ini? Aku akan senang kalau kau ingin mengajakku minum, tapi kelihatannya sih bukan."

Detektif Oh menerka, pati Reporter Park sudah tahu kan soal So Woo yang pernah menjalani terapi psikologis karena depresinya. Nah.. Detektif Oh menduga, Teman So Woo yang bersembunyi itu...

"Aku menduga kalau mereka berkenalan di tempat yang tidak lazim, mengingat orang tua maupun teman-teman tidak ada yang mengetahuinya. Jadi, aku memeriksa catatan rumah sakit. Rupanya, ada anak yang sempat dirawat bersama So Woo."

"Siapa itu?"

"Han Ji Hoon."

Reporter Park tidak habis pikir, ia mengerti soal So Woo, tapi kenapa Ji Hoon dirawat di sana? Kenapa perlu menerima terapi psikologis?

Kalau itu, Detektif Oh juga tidak tahu. Tidak mudah juga menanyakannya. Reporter Park kemudian menyimpulkan, benar kalau Ji Hoon itu Jeong Pa.

"Teman misterius Lee So Woo, menyembunyikan identitasnya sebagai Jeong Pa. Sempurna!"

Tapi Detektif Oh masih menemukan kejanggalan, aneh jatohnya karena Ji Hoon bertidak sebagai Pengacara Choi Woo Hyuk. Normalnya, jika seorang teman mati secara misterius dan ada pihak yang dituduh, dia semestinya memihak So Woo dan melakukan segalanya untuk mengungkap kebenaran kasus tersebut. Tapi! Kenapa dia justru jadi Pengacara? Dan mengklaim Woo Hyuk tidak bersalah, serta So Woo memang bunuh diri?

Reporter Park mengerti, ia berterimakasih atas infonya dan akan mencari tahu. Detektif Oh melarangnya, ia tidak percaya pada Reporter Park, ia akan menemui Ji Hoon sendiri.


Seo Yeon mengatakan pada yang lain kalau kata-kata Guru Kim masuk akal. ia hanya mengejar kebenaran atas surat tuduhan itu, tanpa mempertimbangkan perasaan Woo Hyuk. Benar ia sudah timpang. Ia tidak bijaksana.


Min Suk membantahnya, Seo yeon kan tidak mengarang sesuatu atau berusaha memperburuk keadaan. Dari sudut pandang hakim, Seo Yeon tidak melakukan kesalahan. Joon Young juga setuju dengan Min Seok, ia minta Seo Yeon jangan menyalahkan diri sendiri. Seung Hyun juga menggut-manggut setuju.

"Itu bukan rasa bersalah. Aku mempertanyakan tujuanku sendiri. Awalnya, aku mengira olah perkara akan memberi kita jawaban. Seperti kutub berlawanan, jika jaksa dan pembela terus bersikukuh akan pihak masing-masing, akhirnya dapat bertemu di tengah, dimana kebenaran itu berada. Tapi, kita tidak lagi fokus seperti itu, insidennya merembet pada keluarga Choi Woo Hyuk."


Ji Hoon menjelaskan, kalau soal itu Woo Hyuk sudah menduganya, kok. Ia sudah mengatakan pada Woo Hyuk sehari sebelum persidangan pertama. Ia katakan pada Woo Hyu, kalau dia tidak datang, seiring waktu orang akan melupakan insiden itu. Tapi kebenaran hanya akan terungkap di persidangan. Ia mengatakan pada Woo Hyuk, jalan yang dia tempuh lebih sulit.

"Lalu?" tanya Yoo Jin.

"Dia masih ingin lanjut. Dia bilang, merasa lebih tertekan karena tidak ada yang memercayai dia."

"Semua orang bisa mengklaim ketidak-bersalahan mereka berdasar emosi. Meskipun berhasil untuk kalian, tapi tidak dengan kami. Tidak ada bukti yang membuat kami dapat memercayai dia. Alibinya juga palsu." Bantah Seo Yeon.

"Hanya karena tidak mengatakan alibinya, bukan berarti dia memang melakukan tindak kriminal. Kalian juga menyalahkan dia atas dasar emosi. Kalian belum punya bukti kuat."

Seo Yeon mengingatkan soal catatan panggilan So Woo malam itu. Saksi memang tidak menunjuk Choi Woo Hyuk. Tapi itu mungkin karena beliau tidak bisa ingat, lagi pula sudah lewat beberapa bulan. Choi Woo Hyuk bisa saja si penelepon itu. Hanya teori, sih. Tapi, itu bisa menjelaskan alasan dia menangis.

Ji Hoon menyangkal, Choi Woo Hyuk tidak seperhitungan dan melankolis begitu. Seo Yeon bertanya, lalu cowok itu siapa? Jika Lee So Woo benar-benar bunuh diri, dan Choi Woo Hyuk tidak terlibat, sebagaimana klaim-Ji Hoon, siapa murid yang menelepon So Woo sambil menangis itu? "Beritahukan pendapatmu."

"Kita akan mengetahuinya. Di persidangan." Jawab Ji Hoon.


Ji Hoon duduk di depan komputernya membuka akun Jeong Pa. Ia bisa mengakses folder rahasia tapi tidak tahu sandinya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu saat menatap lukisan yang menjadi foto sampul.


Ji Hoon dan So Woo melihat lukisan itu. So Woo bertanya,  menurut Ji Hoon siapa yang paling tidak bahagia di lukisan itu. Ji Hoon tak yakin, ia menunjuk oendajah yang ditahan.

So Woo punya pemikiran lain, ia mengarahkan jari Ji Hoon menunjuk burung yang diatas kayu.


Ji Hoon lalu mengetik sesuatu dan itu adalah kata sandinya, ia berhasil membuka folder rahasia. Ternyata itu adalah foto anggota VIP yang diambil So Woo di ruang Pak Han.


Seo Yeon pulang bersama Joon Young seperti biasa, ia tidak yakin sih, tapi ada sesuatu tentang Ji Hoon yang membuatnya terganggu. Ia berbalik pada Ji Hoon, apa Ji Hoon tahu sesuatu, SMA Seni Jeong-guk, tahun kedua, jurusan Cello. Selain itu?

Joon Young meggeleng, Tidak, ia tidak tahu banyak. Kenapa?

"Hanya saja... Kadang kala, aku merasa dia sangat asing dan menjaga jarak."


Seo Yeon kedinginan, hari ini dingin sekali. Ia memegang dahinya, apa panas. Joon Young panik dan mengajukan diri untuk mengecek. Ia memegang dahi Seo Yeon tapi malah salah tingakah, ia cepet-cepat menjauhkan tangannya.

"Oh... aku... tidak yakin..."

Seo Yeon menjawab kalau tangan Joon Young terlalu panas. Seperti pemanas listrik saja! Joon Young diam saja. Seo yeon melanjutkan kalau itu artinya bagus. Sirkulasi darah Joon Young berjalan lancar. Joon Young kemudian meminta Seo Yeon tidur lebih awal malam ini.

"Jangan kuatir. Seseorang tidak bisa jadi juara kelas hanya dengan otak. Perlu ketangguhan fisik juga."

Seo Yeon pun mulai berlari dan Joon Young senang melihatnya.


Ayah dan Ibu memasak di dapur. Mereka heran, kenapa Seo yeon belum keluar juga dan saat ibu memanggil pun Seo Yeon tidak menyahut. Ibu lalu masuk kamar Seo Yeon.

Saat itu Seo Yeon sudah tak sadarjan diri dan badannya panas sekali. Ibu langsung memanggil ayah dan ayah menggendongnya ke rumah sakit.


Guru Park (Wali kelas) mengatakan pada yang lain kalau Seo yeon masuk rumah sakit. Yang lain jelas syok. Guru Kim menasehati, Jangan terlalu memforsir diri antara belajar dan olah perkara, beristirahatlah yang cukup.

Guru Kim keluar memerintahkan untuk mempersiapkan kelas berikutnya tapi Joon Young malah membereskan bukunya dan keluar kelas dengan membawa tas.


Soo Hee membangunkan Seung Hyun yang malah merebahkan diri di bangku. Ia menjelaskan, jika sampai Seo Yeon dirawat, artinya dia benar-benar sakit serius. Seung Hyun malah balik tidur lagi, Soo Hee cepat-cepat menariknya.


Yoo Jin yang mengatasi Min Suk, Ia tidak mengerti apa yang Min Suk lakukan, bukannya mereka di tim yang sama?

"Kita bukan dokter, apa untungnya datang ke sana? Bagaimana kalau kita ketularan sakit?"

Yoo Jin menyuruhnya diam lalu menarik tanagnnya memaksanya ikut. Cepat!


Seo Yeon masih tidur, ia membetulkan selimutnya sambil menggerutu. Olah perkara menciptakan banyak masalah. Terang saja Seo Yeon jatuh sakit, Seo yeon berusaha pagi sampai malam demi olah perkara itu.

Ibu bertanya, apa Ayah tidak kerja. Ayah mengambil cuti, lalu menanyakan bubur yang disukai Seo Yeon. Ibu menjawab Seo Yeon suka bubur abalone dengan banyak makanan pendamping, seperti kimchi lobak. Ayah mengerti dan akan membelinya.


Ayah keluar UGD bertepatan saat teman-teman keluar dari lift. Ayah bingung karena mereka datang gerombolan. Yoo Jin menjelaskan, mereka mendengar dari wali kelas kalau Seo Yeon masuk rumah sakit jadi mereka datang walau harus bolos sekolah.

Soo Hee bertanya, apa Seo Yeon baik-baik saja. Ayah menjawab kalau Seo Yeon baru saja tidur tapi mengijinkan mereka masuk. Joon Young yang paling bergegas masuk ke dalam.


Ji Hoon tertinggal di belakang. Detektif Ko bertanya, bagaimana Ji Hoon bisa datang, kan mereka tidak satu sekolah.

"Mereka bilang akan mengeluarkan aku jika tidak kemari." Jawab Ji Hoon sambil tersenyum.

Ji Hoon akan masuk tapi Detektif Ko memanggilnya dengan "pengacara". kali ini adalah gilirannya untuk membantu.


Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...