Wednesday, January 25, 2017

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 9 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc

Sinopsis Solomon's Perjury Episode 9 Part 2


Seo Yeon dipaksa minum jamu-jamuan. Soo Hee mengancam, mereka tidak akan pergi sebelum Seo Yeon menghabiskan semuanya.


Setelah itu Ji Hoon baru datang. Saat mereka bertanya dari mana. Ji Hoon menjawab dari toilet. Ia bertanya, apa Seo Yeon baik-baik saja.

"Ya. Mereka menginfusku dan aku cukup tidur. Aku sudah jauh lebih baik. Aku mungkin bisa terbang ke persidangan besok."

Soo Hee kesal, persidangan apapan, Seo Yeon kan sedang sakit. Yoo Jin menambahi, Seo Yeon benar-benar parah sampai dirawat begini. Seo Yeon mengepalkan tangannya, itu sebabnya juga agar ia pulih, kekuatan perawatan medis modern! Ia benar-benar merasa baik.

Seung Hyun tidak mengerti, kenapa Seo Yeon selalu saja bekerja keras dalam segala hal? Pasti Seo Yeon tidak suka tidur atau main game, ya?


Seo Yeon terkejut Seung Hyun menganggapnya luar biasa. Ia akan bertanggung-jawab atas hal ini, mana bisa ia tidak berusaha keras?


Min Suk mendesah karena semuanya mengangkat bahu tidak mengerti. Ia meminta Seo Yeon mengerti, jangan berharap mereka memahaminya. Hanya ia yang bisa mengerti, kompetitor Seo Yeon di kelas.

"Kompetitor apaan. Kau belum pernah mengalahkan aku." Bantah Seo Yeon.

"Tes Matematika September tahun lalu, aku dapat nilai 96,"

"Dan aku dapat nilai 100."

Dan itu membuat semuanya ketawa ngakak. Min Suk ngambek, Seung Hyun dan Joon Young mengikutinya keluar.

 
Yoo Jin bicara pada Seo Yeon soalnya kemarin tidak bisa karena waktunya tidak teoat. Masih ada Ji Hon disana jadi ia membisiki Seo Yeon. Seo Yeon akan mengatakan apa yang harusnya dilakukan tapi tidak jadi karena ada Ji Hoon.

Seo Yeon memandang Ji Hoon. Ji Hoon mengerti dan keluar dari sana.


Rekasi Soo Hee waw, saat mendengar cerita Yoo Jin, ia terkejut, agaimana beliau bisa mengenal ayah Yoo Jin?

"Itu sih aku tidak yakin. Beliau minta nomorku agar bisa bersaksi. Aku menyimpan nomornya, sih. Tapi, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Yoo Jin.

"Katakan kita akan menemui beliau besok. Pagi hari." Jawab Seo Yeon.


Ji Hoon menelfon seseorang tapi nomornya tidak aktif. Ia ke rumah Woo Hyuk tapi tidak ada tanggapan saat ia menggedor pintu. ia menghubungi Woo Hyuk lagi tapi masih tidak aktif.

Ia cuma mengirim pesan agar Woo Hyuk datang ke persidangan besok untuk membukatikan bahwa dirinya tidak bersalah.

-- Hari Sidang Ketiga --


Min Suk masuk ke ruang klub, niatnya mau meminta daftar saksi jaksa tapi ruangannya kosong padahal ia sudah bicara banyak. Ia pun cuma bisa garuk-garuk kepala, salahnya juga sih gak lihat saat masuk malah sibuk baca.


Seo Yeon dan yang lain menemui orang yang mereka bicarakan di rumah sakit. beliau adalah mantan Kepala sekolah (Ex-Kepsek). Seo Yeon meminta Ex-Kepsek mengatakan apa yang ingin dikatakan.

"Lebih baik, aku katakan saja di persidangan." jawab Ex-Kepsek.

Seo Yeon menjelaskan, meteka harus tahu dulu agar bisa menyiapkan pemeriksaan saksi. Ex-Kepsek akhirnya berkata, ini soal hubungan sekolah dengan Lee So Woo.


Setelah keluar dari kafe. Yoo Jin dan Soo Hee senang karena mendapatkan informan bagus. Tapi lain dengan Seo Yeon, ia senang beliau mau bersaksi tapi tujuan beliau tidaklah murni, beliau ingin mengungkap rahasia besar itu.

"Kapan sih kau bakalan berhenti curiga begitu? Kau memang Jaksa sejati, sih." Ujar Soo Hee.

"Ayo cepat, kita telat!" Ajak Yoo Jin.


Setelah mereka pergi, Pak Han duduk di depan Ex-Kepsek. Ex-Kepsek terkejut melihatnya. Pak Han menanyakan kabar Ex-Kepsek.


Rapat bersama sebelum persidangan. Baik pihak pembela maupun jaksa merahasiakan saksi mereka. Soo Hee sombong, ia menyuruh pihak pembela untuk menyiapkan diri.

Seo Yeon bertanya, soal Woo Hyuk. Joon Young menjelaskan kalau Woo Hyuk tidak hadir jadi mereka harus melanjutkan persidangan tanpa dia. Semua mengangguk kecuali Soo Hee, Yoo Jin dan Seung Hyun, mereka tidak mengerti, apa artinya.


Min Suk angkat bicara. Sebuah persidangan tanpa kehadiran terdakwa disebutnya penghukuman!

"Kita selalu seperti ini. Tanpa juri pada hari pertama, pertengkaran besar pada hari kedua, dan hari ketiga mungkin tanpa terdakwa." Ujar Seo Yeon tapi terlepas dari itu semua ia mengajak teman-temannya melakukan yang terbaik untuk persidangan kali ini. dan seperti biasa mereka tos bersama.


Tim pembela masuk ruang sidang dan ada kopi di meja mereka. Seung Hyun menduga kalau itu dari fans mereka. Tapi Ji Hoon tidak, ia keluar lagi.


Ji Hoon masukke ruangan pembela dan disana ada Woo Hyuk sedang tiduran di sofa.

"Choi Woo Hyuk."

"Tidak perlu berlebihan. Aku kembali bukan karena kau."

Walaupun begitu, Ji Hoon tetap berterimakasih. Dan... Jangan pernah lupa! Ia berada di pihak Woo Hyuk. Woo Hyuk tidak peduli, tapi aku yakin tidak begitu dalam hatinya.


Hakim datang, ia akan mengatakan kalau sidang kali ini tanpa kehadiran terdakwa tapi tim Pembela memberinya kode kalau Woo Hyuk datang. Hakim pun meralat ucapannya.

"Koreksi. Terdakwa, silakan masuk."


Saat Woo Hyuk berjalan masuk, anak-anak berkasak kusuk, mengatakan Woo Hyuk tidak tahu malu hingga berabi datang ke persidangan.
 

Hakim bertindak, ia membentak semuanya agar diam. Lalu sidang pun dimulai. Hakim meminta saksi dari jaksa masuk tapi tidak ada siapaun. Yoo Jin keluar untuk memastikan dan tidak ada siapaun juga di luar. ia menelfon Ex-Kepsek tapi tidak bisa.

Yoo Jin pun kembali masuk mengatakan kalau Ex-Kepsek ponselnya mati. Seo Yeon akhirnya memutuskan untuk melewatkan saksinya. Maka Hakim meminta saksi pembela untuk masuk.


Ternyata Ayah Seo Yeon, Detektif Ko yang menjadi saksi. Ji Hoon berterimakasih karena Detektif Ko sudah bersedia datang, ia meminta Detektif Ko membacakan sumpahnya sebelum mulai.

Detektif Ko akan berdiri tapi Seo Yeon memanggilnya, "Ayah! kenapa Ayah bersaksi?" Seo Yeon mengajukan keberatan karena saksi tidak ada hubungannya dengan kasus So Woo.

Ji Hoon membantah, saksi berhubungan dengan alibi terdakwa. Seo Yeon kembali bertanya, Apakah itu benar? Tapi ayahnya tidak menjawab. Beliau mulai membaca sumpah.


Ji Hoon akan memastikan beberapa hal sebelum memulai pemeriksaan. Pertama menanyakan identitas Detektif Ko. Ko Sang-joon, Kepala Detektif Tim Penyelidik Keuangan di Kepolisian Sektor Selatan.

"Saya akan menegaskan posisi saya juga di sini. Saya bukanlah sosok yang diminta hadir oleh pembela untuk bersaksi. Namun, saya mendengar kesaksian tersebut, dan bermaksud menyampaikannya."

Seo Yeon menyela kalau itu bukti tidak langsung. Ji Hoon membalas, memang bukti tidak langsung dinyatakan tidak valid?

Detektif Ko menjelaskan, ia akan memberikan kesaksian dengan jujur, baik dari pihak Pengacara maupun Jaksa. Semacam penasihat hukum. Tapi, mungkin ada beberapa pertanyaan yang tidak akan ia jawab, sebab kasusnya masih belum disidangkan resmi. Tolong pertimbangkan bahwa ia tetap menghargai persidangan sekolah ini.


Pak Han menonton persidangan di ruang Kepsek. Saat itu Ji Hoon bertanya, apa Detektif Ko bisa mengatakan ia datang mewakili siapa. Detektif Ko menjawab Tidak, ia tidak bisa menyebut nama atau segala sesuatu yang berhubungan dengan saksi bersangkutan.

"Lalu, bagaimana kami harus menyebur orang itu dalam persidangan ini?"



"Kita sebut saja "Pelaku Pembakaran", sebagaimana harusnya."


Ji Hoon mengerti. Lalu, apa alasan Pelaku Pembakaran itu tidak dapat datang hari ini. Detektif Ko mengatakan dia sedang ditahan setelah melakukan tindak kriminal. Ji Hoon bertanya lagi, tindakan apa yang telah dia lakukan?

"Pembakaran, di gedung yang mana ada orang di dalamnya. Dia sengaja membakar gedung tersebut."

"Kapan dan dimana dia membakar gedung itu?"

"24 Januari, dini hari. Rumah terdakwa."


Sampai disini hadirin mulai kasak kusuk. Ji Hoon bertanya, kenapa pelaku membakar rumah tersebut. Detektif Ko menjawab dia dipekerjakan. tapi ia tidak bisa menjawab siapa yang memperkerjakan dia. Siapa, kapan, dan bagaimana dia diperintahkan berkaitan dengan kasus kriminal yang masih diproses.

"Tapi, media pun sudah memberitakannya." Bantah Ji Hoon.

Tetap saja. Tolong ingat bahwa Detektif Ko adalah petugas polisi juga. Ji Hoon mengerti, Ia kemudian bertanya, apa Detektif Ko pernah mendengar istilah perencanaan pembakaran?

"Ya. Itulah pekerjaan utama pelaku. Dia membakar sebuah gedung dengan sengaja untuk mendapatkan uang asuransi. Beberapa media melaporkan kebakaran tersebut dengan tujuan jahat... menerima uang asuransi. Tapi, itu tidak benar. Tuan Choi, yang seharusnya menerima uang asuransi, langsung menutup rekeningnya sesaat setelah insiden, juga menolak... menerima ganti rugi. Dia tidak mau menerima uang duka atas kematian ibunya juga. Tujuan sebenarnya dari pembakaran itu... bukanlah uang asuransi, melainkan tanah. Mereka menginginkan sebidang tanah."


Ji Hoon meminta Detektif Ko untuk menjelaskan lebih detail. Detektif Ko mengatakan, Tuan Choi mempekerjakan pelaku bertujuan untuk menghilangkan rumahnya sendiri, agar dapat membangun gedung pencakar langit sebagai gantinya. Tapi, Ibu Tuan Choi selaku pemilik tanah, menolak ide tersebut. Mereka tidak mencapai kesepakatan, sampai kondisi bisnis Tuan Choi memburuk. Saat itulah, Tuan Choi membuat keputusan memilih kebakaran?

Jika rumahnya sudah lenyap, mereka jelas harus membangun gedung baru. Itulah kebenarannya. Tapi... merancang kebakaran sebuah rumah, memiliki resiko besar bahwa api akan menyebar sehingga melukai seseorang. Itu sebabnya, Tuan Choi berusaha mempekerjakan pelaku pembakaran profesional.

Bukan asal membakar saja, dia memiliki metode sendiri. Dia ahli dalam bidang ini. Dia bahkan merancangkan rute penyelamatan untuk penghuni. Tapi, dia juga merancang agar api menyebar dan tidak dapat dihentikan oleh petugas pemadam kebakaran. Itu sebabnya, dia disebut ahli.

"Namun, dia gagal dalam proyek kediaman terdakwa." Kata Ji Hoon.

"Dia bilang, itu kecelakaan. Padahal, dia sudah mendatangi rumah Tuan Choi sebanyak tiga kali untuk memastikan tidak jatuh korban. Dia merencanakan dengan teliti."


Ji Hoon meminta Detektif Ko memberitahukan tanggal kedatangannya. 15 November, 4 Desember, dan 25 Desember, tahun lalu.

"Natal, 25 Desember tahun lalu. Apa yang dilakukan pelaku di rumah terdakwa?"

"Mendiskusikan rencana akhir dengan Tuan Choi. Dan, dia berkeliling rumah untuk terakhir kali."

Dan sekitar tengah malam, dia melihat Choi Woo Hyuk. Ji Hoon meminta Detektif Ko untuk membuktikan. Detektif Ko tidak bisa menyebutkan namanya. Tapi, ada saksi yang mengatakan mereka memang bertemu. Dan, kepolisian juga memiliki kesaksian langsung pelaku, salinannya bisa diberikan.

"Singkatnya, sekitar tengah malam pada hari insiden Lee So Woo terjadi, Hari Natal, terdakwa berada di rumah, bukan TKP. Berarti, mustahil terdakwa membunuh Lee So Woo saat kejadian."


Para hadirin kembali ribut menulis di SNS kalau Woo Hyuk tidak bersalah, alibinya terkonfirmasi. Hae Rin dan pihak [embela dapat tersenyum.


Ji Hoon berterimakasih, ia sudah menyelesaikan pemeriksaannya. Hakim menawari Jaksa untuk melakukan pemeriksaan silang. Seo Yeon diam saja, hakim akhirnya mengumumkan istirahat tapi Seo Yeon menolaknya, ia akan melakukan pemeriksaan silang.


Seo Yeon menanyai saksi, karena saksi menggantikan posisi pelaku pembakaran, apakah itu berarti saksi menyampaikan kesaksian pelaku dan apakah itu berarti saksi menyampaikan kesaksian pelaku, dan berbicara mewakili dia?

Detektif Ko membenarkan. Seo Yeon mengingatkan, pelaku merupakan kriminal yang membakar demi uang. Bukankah mungkin saja dia menerima uang dari Tuan Choi untuk bersaksi menguatkan terdakwa?

"Mereka tidak sempat berkonfrontasi setelah kasus diusut."

"Pelaku kebakaran telah menewaskan seseorang juga. Bagaimana bisa kesaksian seseorang seperti itu dapat dipercaya?"

Kalau itu Detektif Ko tidak bisa menjawab. Seo Yeon menanyakan alasannya, Bukan karena Detektif Ko pribadi tidak memercayai kesaksian pelaku?

Detektif Ko bertanya pada hakim, ia tidak yakin akan membatu persidangan, apa boleh mengatakannya. Hakim mempersilahkan.

Berdasarkah hukum, pelaku disebut sebagai pembunuh, jika dia mengakhiri hidup seseorang dengan sengaja, dengan niat untuk membunuh orang tersebut dalam sebuah insiden. Ada dua macam pembunuh. Satu, yang jelas ingin membunuh korbannya. Kriminal akan merencanakan cara pembunuhan, senjata, apa pun yang dapat melancarkan aksinya. Kedua,


"pembunuhan yang tidak disengaja." Sela Ji Hoon. *Ini clue kayaknya*

Detektif Ko membenarkan. Saat dia melakukan aksi yang jelas dia ketahui dapat melukai atau membunuh seseorang. Jika hal paling fatal yang terjadi, barulah dia dapat disebut pembunuh.

Pelaku pembakaran masuk dalam kategori pembunuh. yang tidak disengaja. Sebab, pelaku tidak memiliki niatan membunuh. Inilah kunci argumen dalam kasus ini. Tidak ada salahnya memercayai kesaksian pelaku. Dan Detektif Ko tidak dapat juga mengatakan... pelaku sengaja membunuh.

"Anda mengerti?"

Seo Yeon diam saja. Tapi ia mengakhiri pemeriksaan silangnya.


Saat ia duduk kembali, ia menatap ayahnya yang juga menatapnya. Seo Yeon pada akhirnya tersenyum.


Di rumah sakit, Cho Rong mulai bisa menggerakkan tangannya.


Ji Hoon mengajukan terdakwa untuk bersaksi. Hakim menerimanya setelah bertanya kalau Jaksa tidak keberatan.


Ji Hoon menyuruh Woo Hyuk untuk duduk di kursi saksi tapi Woo Hyuk tidak mau, Apa ini? Kenapa? Ji Hoon tetap menyuruhnya duduk dan Woo Hyuk tidak punya pilihan lain.

"Alibi Anda sudah dikonfirmasi oleh kesaksian saksi sebelumnya. Menurut Anda, apa artinya ini?"

"Apa lagi? Berarti aku tidak bersalah."

"Katakan dengan tegas."

"Aku tidak bersalah. Aku tidak membunuh Lee So Woo."


Ji Hoon membenarkan, terdakwa tidak membunuh  Lee So Woo. Lalu kenapa kau sampai dicurigai begitu? Woo Hyuk kesal, Buat apa tanya? Sudah jelas, kan? Ji Hoon tetap menyuruhnya menjawab.

"Karena surat tuduhan itu, aku telah salah dituduh."

"Menurut Anda, kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Dengan kata lain, apa Anda mengerti sebab surat tuduhan itu ditulis? Kenapa seseorang sengaja menulisnya untuk menjatuhkan Anda?"

Woo Hyuk tidak tahu, ia menyuruh Ji Hoon bertanya saja pada Lee Joo Ri. Ji Hoon menegaskan, ia menanyakan pendapat Woo Hyuk. Apa Woo Hyuk tidak pernah ingin tahu mengapa sampai dituduh begitu?

Woo Hyuk diam saja, hanya menatap Ji Hoon. Ji Hoon melihat kearah juri, ia meminta juri mencatat bahwa Woo Hyuk tidak menjawab pertanyaan sebelumnya. Ha itu membuat Hakim menegurnya, akhirnya Ji Hoon melanjutkan.

Ia memberitahu terdakwa kalau dia hanya boleh menjawab "iya" atau "tidak". Saat itu Joo Ri masuk ke dalam ruang sidang. Woo Hyuk memprotes Ji Hoon tapi Ji Hoon tidak mengindahkannya.

"Akhir Maret, pakah Anda menyobek seragam olahraga murid kelas 1-5?"

"Apa-apaan..."

"Ya atau Tidak? Anda menyobek seragam olahraga murid kelas 1-5 pada akhir Maret?"


"Tidak ada jawaban. Pertanyaan selanjutnya... Akhir April, Anda menendang seorang murid perempuan saat pulang sekolah, lalu membuang tasnya di jalan."

"Ji Hoon!"


"Akhir Juni, Anda dengan sengaja menghentikan motor di depan murid, dan mengarahkan knalpot motor ke wajahnya. Anda memotret dan mengunggang fotonya di SNS."

"Itu tidak ada hubungannya dengan persidangan ini."


"Akhir Juni, Anda membayar orang untuk meminum air toilet?"

"Tidak."


"Akhir September, Anda melempar batu ke wajah seorang murid perempuan dan membuatnya luka?"

"Tidak."


"Akan saya lanjutkan. Akhir Oktober, Anda menjambak rambut seorang murid perempuan? Dan saat dia protes, Anda mengambil ponselnya, lalu mengunci dia di kamar mandi? Anda tahu, dia ditemukan keesokan harinya oleh penjaga sekolah?"


Kilas balik..

Woo Hyuk mengguyur Joo Ri di kamar mandi, katanya untuk membersihkan diri lalu ia mengunci Joo Ri disana walaupun Joo Ri berteriak minta dibukakan sambil menangis.

Kilas balik selesai...


"Terdakwa. Berapa kali Anda melakukan tindak kekerasan di sekolah? Anda boleh menebak-nebak, berapa kali? Baik memukul, memendang, menjegal, atau melempari, tidak hanya kekerasan fisik semacam itu, tapi juga kekerasan verbal, contohnya "Mati sana!", "Aku akan membunuhmu!", "Aku akan menendangmu keluar dari sekolah!" kekerasan verbal semacam itu. Menurut Anda, berapa kali?"

Woo Hyuk menggeleng. Ji Hoon menyebutkan nominal, 100? 200? Woo Hyuk menjawab kalau ia tidak tahu. Ji Hoon terus menyebutkan nominal, 300? 500?

"Kubilang tidak tahu!" Akhirnya Woo Hyuk  membentak.

"Terlalu banyak untuk dihitung?"

Woo Hyuk mengakui kalau niatnya hanya bercanda, hanya sebatas itu. Ji Hoon bertanya, saat Woo Hyuk menganggapnya gurauan, ingat bagaimana reaksi para korban? Ingat wajah dan kata-kata mereka? Apa mereka juga menikmatinya sepertinya? Mereka juga tertawa sepertinya? Apa mereka berteriak kesakitan? Memohonnya untuk berhenti? Mereka tidak protes sambil menangis?


Woo Hyuk terdiam sadar. Ji Hoon menyimpulkan, benar bahwa Woo Hyuk dijatuhi tuduhan palsu. Hanya satu surat tuduhan, tapi Woo Hyuk hancur berkat kekuatan media. Lalu! Kenapa itu terjadi?

Bukankah karena kebencian para murid yang lebih memilih berbohong untuk menendang Woo Hyuk dari sekolah ini? Woo Hyuk terus melakukan tindak kekerasan verbal maupun fisik! Hasil dari tindakan buruknya itu sendiri, yang menyeretmu sampai di sini. mengerti?

Woo Hyuk meminta Ji Hoon berhenti dengan nada lemah. Ji Hoon bertanya lagi, apa sekali saja Woo Hyuk pernah mencoba memahami para korban? Woo Hyuk menginjak-injak harga diri dan hak asasi orang lain. Berlindung di balik kekayaan keluarganya. Tidak mengerti perasaan senang mereka melihatnya dalam posisi ini?

"Kubilang hentikan!"

Ji Hoon berjalan mendekat para hadirin, Siapa, kenapa, dan bagaimana surat tuduhan itu ditulis bukanlah masalah utamanya. Siapa pun bisa melakukannya untuk menjebak terdakwa. Itu kebohongan serius. Tapi, surat tuduhan itu juga ditulis sebagai upaya perlindungan diri. Sekian.


Woo Hyuk sedih, ia mengingat kelakuannya pada teman-temannya selama ini. Ia memandang satu per satu korban yang pernah dijahilinya.

Merobek baju olah raga. Mencoret wajah. memaksa minum air toilet. Melempari dengan batu. Menyiram dan mengunci Joo Ri di toilet.


Akhirnya Woo Hyuk berkata, maaf... Maafkan aku. Dengan airmata bercucuran.


Joo Ri emosi, ia teringat bagaimana ia bermalam di toilet waktu itu hingga petugas menemukannya saat pagi. Joo Ri langsung berlari ke atap dan berdiri di tepi, ia sudah sangat putus asa.


Joo Ri maju ke depat. Tidak bisa menerima ini, Tidak, tidak, tidak! Siapa bilang surat itu bohong? Ia melihatnya, Ia melihatnya!

"Aku melihat Choi Woo Hyuk memaki Lee So Woo, kemudian menjatuhkannya dari atap. Ada buktinya. Suara itu. Suara pijakan itu, aku mendengar karena aku ada di sana! Kalau tidak, bagaimana bisa aku mendengarnya?"

"Itu karena kau pernah berdiri di sana,  bukan Lee So Woo." Jawab Ji Hoon.


Joo Ri masih mengelaknya dan bersikeras kalau ia melihatnya. Ia meneriaki Woo Hyuk, melarang Woo Hyuk  memohon kasihan begitu! Woo Hyuk pantas mati!

"Orang sepertimu layak mati! Tidak pantas dimaafkan!"





3 komentar

d tunggu episode slnjutnya mbak,,semangat

d tunggu episode slnjutnya mbak,,semangat

kereeennn,, SEMANGAT nulisnya mbak,,
aku punya pemikiran kalo kematian lee so woo ada hubungannya sama daftar siswa VIP tuch,,

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon