Sunday, February 5, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 2 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 2 Part 2


So Joon ke rumah Doo Sik. Ia menggedor pintu dan memanggil-manggil Ahjusshi itu tapi tidak ada jawaban padahal Doo Sik ada di dalam.


Ada yang menarik di dinding rumah Doo Sik. Beberapa tanggal di kalendar ditandai spidol merah. Juga ada foto-foto mengenai kecelakaan 3 tahun kedepan.

So Joon kesal karena tidak ada jawaban, ia akhirnya menulis pesan yang ia selipkan di pintu. Ia minta Doo Sik segera menghubunginya jika membaca pesan itu.


Doo Sik mengambilnya dan membacanya, tapi ia membuangnya. Kemudian ia merekam omongannya sendiri,

"13 Juni 2016 Jam 9 malam. Yoo So Joon datang ke tempatku."



So Joon mengemudikan mobilnya. Ada yang menelfon tapi ia tidak kunjung mengangkatnya padahal sudah berdering berkali-kali.

Ma Rin mabuk, ia berjalan dengan membopong sekresek Kurma. Seseorang tidak sengaja menabraknya membuat kurmanya jatuh berserakan di jalan. Orang itu minta maaf dan akan membantunya memunguti kurma itu tapi ia melarang. Tidak ada yang boleh menyentuh kurmanya. Orang itu pun pergi.


Ma Rin memungutinya sendirian, dan saat itu So Joon tiba. Ia kesal, kenapa Ma Rin makan kacang sambil berkeliaran kemana-mana. Ma Rin mengoreksi, yang dimakannyakurma bukan kacang.

"Begitu, ya. Aku adalah pria kota, jadi tidak begitu paham dengan hasil bumi. Sayur, buah dan ikan."

"Kau sama sekali tidak punya pengetahuan dasar. Apa kau ada pria yang tidak punya pengetahuan dasar?"

"Apa makan kurma di jalan adalah bagian dari pengetahuan dasar?"

"Dan siapa coba yang mengikutiku ke mana-mana? Kau mengikutiku juga."

So Joon mengingatkan kalau Ma Rin lah yang menelfonnya dan bilang tidak bisa menemukan jalan pulang. Ma Rin bilang butuh bantuannya untuk pulang kerumah. "Apa kau tidak berpikir kau sendiri lah yang membuat dirimu jadi terlihat buruk? Karena inilah orang memandang rendah dirimu sebagai Bap Soon."

Ma Rin malah jongkok. So Joon menariknya kesal. Tapi setelah berdiri Ma Rin tetap diam saja. So Joon takut, apa ada yang salah dari yang ia lakukan?


"Kau tahu studio waktu itu. Bosnya bilang, dia tidak akan mempekerjakanku kalau aku tidak berhasil membawamu. Jadi, aku minta bertemu supaya bisa memohon padamu. Sejujurnya, aku tahu kok jalan pulang. Aku berpikir akan mencoba menanyaimu. Memintamu untuk jadi model. Aku benar-benar malu sekarang. Mereka bilang kalau aku hidup seperti ini aku juga akan mati seperti ini. "Bap Soon benar-benar punya hidup yang menyedihkan". Aku akan jadi bahan tertawaan meski setelah aku mati."

Ma Rin mulai menangis.

"Astaga. Hei, pikirkan sajalah tentang sebuah kehidupan yang baik. Mencemaskan kematian.. apa untungnya?"


So Joon pun mengantar Ma Rin pulang. Ma Rin bercerita kalau ia punya tabungan selama lima tahun. Ia akan terus menabung seperti orang gila selama 5 tahun. Lalu akan pindah ke tempat yang sedikit orang Korea-nya.

So Joon menasehati, tidak usah repot menabung, habiskan saja semua. Ma Rin kan tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 5 tahun.

"Memangnya aku capung? Kenapa juga aku hanya bisa memikirkan hidup satu hari."

"Kau harus hidup seperti seekor capung. Lakukan yang kau mau, dan makan yang kau mau. Berkencanlah dengan banyak pria. Untuk apa hidup dengan penuh perhitungan? Mereka bilang, hidup ini lebih singkat dari dugaanmu."


Ibu Ma Rin sudah menunggu di luar dan memergoki Ma Rin pulang diantar pria dalam keadaan mabuk. Ma Rin mengatakan bahwa So Joon hanyalah temannya saat ibunya bertanya. So Joon pun memberi salam hormat dan minta maaf karena pulang terlalu malam. 

"Lihat dirimu, mabuk-mabukan sampai malam. Bagus sekali." Sindir Ibu.

Dan ibu malah memarahi So Joon karena membiarkan Ma Rin minum banyak. So Joon terkejut mendengarnya. Ma Rin cepat-cepat mengajakibunya masuk sebelum bikin malu lebih banyak lagi.

So Joon di luar bingung, "Kenapa harus aku? (yang kena marah)"


Ibu mengur Ma Rin yang terus-terusan minum sepanjang siang dan malam. Ia juga membahas soal So Joon, dari wajahnya yang tampan, ia bisa tahu dia adalah kabar buruk untuk Ma Rin. Dewasalah!

Ma Rin mengalihkan pembicaraan, kenapa ibunya datang. Ibu membaca artikel baru tentang Ma Rin dan Ma Rin tidak menjawab telfonnya.

"Astaga. Kau bahkan tidak mencuci pakaianmu. Aku datang karena kesal."

"Apa kau selalu kesal? Kenapa kau bersikap seolah ini adalah pertama kalinya itu terjadi?"

"Astaga... yang benar saja.."

Ibu mau Ma Rin mengatur tanggalnya. Ia sudah memilihkan yang baik untuk Ma Rin. Dia adalah reporter dari Harian Daeseon. Ma Rin heran, kenapa juga seorang reporter dari Harian Daeseon mau menemuinya? Lagian, ia takut pada wartawan.

Ibu memukul Ma Rin, jangan berlagak seolah-olah orang penting. Ma Rin harus menurut pada apa yang ia katakan. Ia akan mengurus Ma Rin. Aigo.. Ma Rin semakin tua sekarang, dan semakin banyak gosip jelek di luar sana. Mereka terus menulis komentar jelek tentang Ma Rin.

"Kau tahu seberapa malunya aku di klub hiking hari ini? Harga diriku terluka."

"Aku minta maaf karena kau punya anak yang memalukan. Ibulah yang membawaku ke stasiun waktu usiaku 6 tahun. Mereka bilang itu tidak akan berhasil dan aku juga bilang tidak mau. Ibulah yang menyeretku agar aku bisa dapat peran pembantu waktu itu. Itu adalah keserakahan ibu. Aku bahkan sudah tidak ingat lagi kenapa aku bisa jadi seperti ini. Tapi baiklah. Aku minta maaf karena aku tidak tumbuh besar sesuai ambisimu selama ini."

"Jadi, aku yang membuatmu jadi begini?"

Ma Rin menyuruh ibunya pergi.


So Joon masih ada di luar rumah Ma Rin dan ia mendengar pertengkaran anak-ibu itu. Ibu Ma Rin menyuruh Ma Rin mengurus dirinya sendiri, ia tidak akan ikut campur lagi.

So Joon pergi begitu pula ibunya. Ma Rin sendirian menangis meratapi hidupnya.


So Joon bisa menebak kalau hadiahnya yang ternyata sepatu itu tidak muat. Se Young kesa; karena So Joon tidak ingat ukuran kakinya. So Joon menjawab  kalau semua pria seperti itu. Se Young masih menanyakan dimana So Joon membelinya, ia akan menukarnya.

"Kau tidak bisa menukarnya, simpan saja dan jadikan pajangan. Sepatu kan bukan hanya bagus kalau dipakai."

"Kenapa aku tidak bisa menukarnya? Kalau ini asli harusnya kan bisa."

"Aku tidak ingat di mana membelinya."


Kalau begitu, Se Young minta hadiah ulang tahun lain, Donasi untuk Konstruksi Happiness. So Joon setuju. Se Young menjelaskan, Kota sudah mengalami banyak kerusakan, karena kebakaran di gunung. Ada 80 orang di luar sana yang harus tinggal di jalanan. Dukungan pemerintah tidak cukup. Proyeknya besar dan tidak ada yang peduli."

"Tulis dan kirimkan saja. Biar aku yang urus."

"Apa ada yang salah denganmu?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku minta maaf, tapi ayo pergi. Aku harus ke suatu tempat."

"Kau mau pergi lagi sekarang? Kenapa kau sok sibuk sekali akhir-akhir ini. Menyakitkan sekali melihatnya."


Ma Rin ditelfon Bit Na, ia senang bukan main  dan langsung berlari menuju studio. Sampai di studio ia dipuji jago oleh Bit Na karena berhasil membawa Deobbang.


Bos juga senang karena Ma Rin lebih sungguh-sungguh dari yang kukira. Ia suka sifat Ma Rin yang itu. Soal pekerjaan, Ma Rin tentu harus ambius. Bos lalu menyuruh semuanya bersiap.


So Joon keluar dari ruang gantu. Ia  tidak punya waktu jadi meminta Ma Rin menyeelesaikan dengan cepat. Ma Rin berterimakasih tapi kenapa So Joon tidak berkata apapun padanya.

"Aku merasa aneh, jadi lakukan saja dengan cepat. Jadi.. apa yang harus kulakukan?" Jawab So Joon.


Ma Rin memintanya menunggu sebentar. Ia akan bersiap dan melihat Ma Rin sangat antusias begitu, So Joon tersenyum.


Karena ini kali pertama jadi So Joon masih kaku. Ma Rin mengarahkannya dengan lembut sehingga So Joon bisa lebih santai dan hasil foto jadi lebih bagus.


Selesai pemotretan, Ma Rin memuji keahlian So Joon yang sudah sangat bagus sebagai model amatir. Ia asal saja masuk mobil So Joon tanpa diminta.

"Aku tidak bilang mau mengantarmu. Bisakah kau turun?"

Ma Rin pun turun, karena malu ia membicarakan soal cuaca yang cerah hari ini.


Ma Rin pun turun, karena malu ia membicarakan soal cuaca yang cerah hari ini.

Ma Rin berterimakasih sekali lagi, ia tidak menyangka So Joon bisa melakukan semua ini. Ia merasa tersentuh. So Joon akhirnya jujur, ia tidak pernah menyukai Ma Rin selama ini.

"Kalau kau menyangka aku menyukaimu, kau salah paham. Aku mencoba jujur dan mengatakan semua padamu. Tapi kau selalu saja salah paham. Aku merasa sebaiknya aku jujur saja."

Senyum langsung hilang di wajah Ma Rin, ia menjawab kalau ia juga hanya bercanda selama ini. Ia juga tak menyangka So Joon percaya begitu. Ia hanya merasa lucu melihat So Joon cemas sendirian. Ma Rin terus mengatakan kalau ia hanya bercanda tapi So Joon tahu kalau Ma Rin berbohong.

"Aku ingin kita tidak usah saling berhubungan lagi. Atau berpapasan lagi. Akhiri saja semua di sini."

Ma Rin akhirnya menyuruh So Joon pergi duluan. Dan saat So Joon akan naik mobil, ia bertanya,


"Ini bukan karena aku salah paham. Aku hanya penasaran. Aku bisa mengerti semuanya. Tapi, kenapa kau datang hari ini?  Kenapa kau menolongku?"

"Kau kan bersikap seolah kau itu menyedihkan. Makanya aku mau menolongmu untuk yang terakhir kalinya."

"Tunggu. Siapa namamu? Setelah kupikir-pikir aku tidak pernah menanyakan namamu. Untuk hubungan kita yang baik-baik saja, perpisahan ini rasanya terlalu menyedihkan. Kau lebai juga."


Dan So Joon benar-benar pergi. Ma Rin jalan sendirian dengan lesu.


So Joon berkata pada Doo Sik, ia tidak akan bertemu Song Ma Rin lagi, ia bisa mengubah masa depannya. Doo Sik menjawab kalau meninggal di waktu yang sama itu bukan sebuah takdir yang normal.  So Joon harus melihat siapa Ma Rin di masa depan. So Joon yakin kalau ia terus bertemu dengannya, sepertinya takdir malah akan jadi berantakan.

"Kenapa kau cepat sekali menilai sesuatu?"

"Kita bisa berhenti membicarakan itu. Ahjussi, kau lihatlah kecelakaanku dengan lebih jelas. Kau tahu aku punya masalah di hari terakhirku. Aku tidak mau melihatnya dengan mataku sendiri."

Doo Sik tidak bisa melakukan apa-apa kalau sudah berhubungan dengan hidup atau mati. Ia membentak So Joon yang selalu saja minta tolong padanya. Apa ia ayah So Joon? Itu kan hidup So Joon, bukan hidupnya. So Joon bahkan tidak pernah mendengarkannya. Apa ia ini pesuruh?


"Kalau begitu kenapa kau beritahu aku? Bagaimana aku hidup atau mati, kau harusnya tidak memberitahuku."

"Ya. Kau benar."

"Astaga, panas sekali."

"Ya, kenapa kau pakai sweater? Ini sedang pertengahan musim panas. Pakai yang merah pula, seperti iblis saja."

"Aku sudah ke sana sekali."

"Kau ini memang anak yang rajin."

So Joon lalu mengajaknya makan mi dingin.


Ma Rin menjalani hidupnya seperti biasa, dengan memotret dan terus memotret. Sudah satu bulan berlalu begitu saja. Selama itu ia tidak pernah mendegar kabar So Joon barang sekalipun.


Ma Rin bertemu dengan reporter seperti permintaan ibunya. Saat pertemuan pertama mereka, reporter menanyakaan rasanya belajar fotografi di Nin Bordeaux?

"Ibuku bilang begitu? Kalau aku belajar di Bordeaux?"

"Ya."

"Aku tidak belajar di sana kok. Aku hanya memotret untuk keperluan pusat perbelanjaan. Aku melakukan pekerjaan impianku. Aku minta maaf. Ibuku pasti sudah bohong padamu. Aku minta maaf karena kau jadi berharap lebih. Haruskah kita pergi? Aku minta maaf. Biar aku yang bayar."

"Aku yang harusnya membayar makanannya. Kukira kau akan menolak karena aku wartawan. Kau pasti benci wartawan karena mereka selalu mencari-cari kesalahanmu."

Ma Rin hanya tersenyum.


Ki Dong memaksa So Joon memakai setelan yang ia bawa. So Joon menolaknya, ia sudah bilang tidak akan pergi. Ia sudah memberikannya banyak uang sebagai hadiah pernikahan. Haruskah aku pergi ke pernikahan Direktur Kim di hari Minggu-nya yang berharga ini?

"Kau bilang setiap hari adalah hari Minggu, jadi kau sudah bosan dengan har Minggu yang sebenarnya. Apa kau sudah pernah pergi ke acara makan malam perusahaan atau acara kantor? Apa yang akan orang katakan kalau kau tidak mau menghadiri undangan dari pegawaimu?"

"Kenapa kau jadi sok realistis sepagi ini? Menyebalkan sekali."Makanya kau harus pakai ini. Direktur Kim adalah pegawai yang penting. Berbaik hatilah sedikit."

"Hei, ada orang yang tidak mau kutemui di sana."

"Siapa? Apa aku kenal? Siapa orang yang tak kukenal di hidupmu?"

So Joon bahkan memuji Ki Dong keren agar berhenti membujuknya tapi Ki Dong sudah kebal, mereka akhirnya kejar-kejaran.


Gun Sook terus menangis di ruang pengantin wanita. So Ri membujuknya untuk berhenti, karena mereka sudah memperbaiki riasannya berulang kali.

"Aku harus selesai menangis sebelum masuk. Kalau aku menangis di hall pernikahan, orang akan berpikir ada sesuatu yang salah."

Ma Rin heran, ada apa dengan Sun Sook, padahal kemarin masih baik-baik saja. Gun Soo mengaku kalau ia punya banyak hal yang kusembunyikan agar bisa sukses seperti ini, ia sedang berpikir tentang masa-masa sulit yang ia hadapi karenanya. Ia.. ia hanya merasa terharu. Ia merasa sangat terharu.


Ma Rin bercanda, haruskah ia panggil ambulan dan teman-teman yang lain setuju. Ma Rin lalu memberinya kopi agar Gun Sook tenang.

"Kau sudah berharap bisa menikah dengan orang sukses. Kau sudah bekerja keras selama 30 tahun untuk itu dan aku mengakuinya. Aku bangga padamu. Akhirnya, kau berhasil juga."

"Terima kasih atas ucapan selamatmu."

"Ya. Selamat."

Gun Sook meminum kopinya dan ia tersedak hingga kopinya tumpah mengenai gaun pengantinnya. Semua panik. Gun Sook menyalahkan Ma Rin yang memberinya kopi bukan air. Ma Rin lalu menyuruhnya membuka gaun itu untuk dicucinya.

"Apa kau tahu berapa mahal harga gaun ini? Aku tidak bisa membasahinya."

Ma Rin tidak peduli, ia malah meminta yang lain untuk membantu Gun Sook melepasnya.


Ma Rin dan So Ri berlari keluar membawa gaun untuk dicuci. Tapi di kerumunan tamu yang datang, Ma Rin jatuh. Ki Dong yang kebetulan ada di sana membantu, saat itu Ma Rin melihat So Joon. Ki Dong merasa tidak asing dengan Ma Rin. Tapi kemudian ia tidak membahasnya lebih jauh.


Young Jin menyapa So Joon hormat dengan menyebut jabatan So Joon sebagai presdir. Bahkan ia mengenalkan SO Joon sebagai presdir My Rich saat tamu-tamu tang lain datang.

Ma Rin diam terpukau. So Ri menebak pasti So Joon bos dari perusahaannya mempelai pria. Ia dengar perusahaannya besar. Bagaimana bisa bos-nya semuda itu?

Ma Rin memandang ke arah lain karena So Joon juga tidak memandangnya. So Joon melewati Ma Rin dengan Ki Dong, ia kesal karena Ki Dong ramah pada Ma Rin.


Ki Dong terus mengingat dimana ia bertemu Ma Rin dan akhirnya ia ingat kalau Ma Rin itu adalah Bap Soon.

"Kau tahu wanita yang jatuh tadi? Aku tahu dia kelihatan tidak asing. Sepertinya dia terus-terusan melihatmu, ya."

So Joon hanya diam saja, malah meninggalkan Ki Dong masuk ke dalam.


Acara pemberkatan pernikahan berjalan lancar tapi So Joon dan Ma Rin malah menunjukkan wajah sedih.


Usai pemberkatan, Ma Rin dan So Joon keluar melalui jalan berbeda. So Joon menuju stasiun bawah tanah dan ma Rin akan menyebrang. Tapi keduanya tidak kunjung bergerak. Padahal kereta So Joon sudah datang dan lampu penyebrangan sudah berubah hijau. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ma Rin bertemu kembali dengan reporter itu. Reporter khawatir karena Ma Rin tampak tidak fit. Ma Rin menjawab, ia berlarian ke sana kemari hari ini sambil membawa tas-tas. Ah.. Reporter itu mengerti.

Ma Rin bertanya, apa reporter tahu soal perusahaan investasi My Rich. Tentu saja Reporter tahu. Itu kan terkenal.

"Oh, besar, ya."

"Itu adalah perusahaan paling berpengaruh di Korea. Kenapa? Kau tertarik berinvestasi?"

"Tidak. Kita bicara hal lain saja."


Reporter menyarankan agar Ma Rin melakukan wawancara. Ia mau membuat artikel tentang Ma Rin, bukan artikela soal Bap Soon yang aneh dan lucu, tapi tentang Song Ma Rin yang sebenarnya.

"Sepertinya itu akan membantumu, Ma Rin."

"Tak usah. Aku kan bukan seleb atau apa. Memangnya akan ada yang tertarik padaku?"

"Aku yang akan akan memutuskan soal itu. Kau bisa bicara tetang hidupmu sejauh ini. Lebih baik kalau ada bumbu-bumbu dramatisnya."

"Terima kasih untuk itu. Aku, melakukan wawancara?"


Se Joon melakukan perjalanan waktu lagi tapi tidak tahu menuju tahun berapa, pokoknya di luar bersalju.

"Mengembalikan semuanya jadi normal?" Gumamnya.


So Joon lalu membuka internet. Ia mengetikkan nama Song Ma Rin. Ia membaca artikel mengenai wawancara Ma Rin hari ini dengan Reporter itu.

Ma Rin bercerita soal ledakan di Stasiun Namyeong dan ia adalah korban selamat. Itu adalah saat-saat yang paling dramatis dalam hidupnya. Ia bertengkar dengan seorang pria di atas kereta. Kebetulan, mereka turun lebih dulu. Setelah mereka turun, mendadak kecelakaan terjadi. Dengan sebuah keajaiban, ia selamat.

So Joon terkejut, "Stasiun Namyeong? Kau? Kau adalah wanita yang menyelamatkan hidupku?"

So Joon kembali mengingat kejadian itu, ia pun kembali ke masa kini.

"Dengan sebuah keajaiban kau dan aku selamat di hari yang sama. Kau mati di hari yang sama denganku. pa ini? Kau dan aku... apa hubungan kita sebenarnya?"


Reporter mengantar Ma Rin pulang, ia tidak percaya hidupnya akan berubah dengan terbitnya artikel itu, ia sampai menanyakannya berkali-kali.

"apakah orang akan mulai memandangku dengan cara yang berbeda sekarang?"

"Kau tahu, kau sudah menanyakan itu lima kali? Sejak kita makan."

"Begitukah? Aku tidak butuh yang lain. Aku hanya ingin mereka menganggapku sama dengan manusia yang lain. Aku ingin mereka memandangku sebagai orang normal. Aku menginginkan itu."

"Kau tidak perlu memikirkan orang lain dengan begitu serius."

"Kalau bicara saja memang mudah. Ah.. Sebentar lagi musim gugur akan tiba. Aku tidak tahu kenapa waktu rasanya cepat sekali berlalu."

"Kau harusnya berkencan. Waktu itu sangat berharga. Mau menonton film minggu depan?"


Ma Rin belum menjawabnya karena So Joon tiba-tiba datang dan menariknya paksa. Ma Rin mengatakan pada reporter kalau ia akan menghubunginya nanti.


Ma Rin tidak mengerti, kenapa So Joon mendadak muncul dan melakukan ini padanya. So Joon baru saja bersikal seolah kau tidak mengenalnya. So Joon bilang mereka tidak usah berhubungan dan tidak usah saling berpapasan.


So Joon mengingat saat Ma Rin menanyakan namanya di depan studio satu bulan lalu. Ia lalu mengatakan namanya saat ini,

"Namaku.."

"Kenapa? Kau mendadak merasa bersalah? Tidak perlu. Kita kan tidak pacaran.

"Namaku adalah.. Aku adalah Yoo So Joon. Tapi... siapa kau?"


3 komentar

Tetap semangat menulis ya mbk..di tunggu eps berikutnya ;)

Sukaaaa semangat ya bikin sinopsisnya ^_^

Semangat....ditunggu sinopsis episode berikutnya....

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon