Tuesday, February 21, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 6 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 6 Part 1


Ma Rin berjalan menuju rumah,

"Walaupun begitu dia tetap tumbuh dengan sangat baik. Dia juga mewujudkan impian kedua orang tuanya. Luar biasa sekali." Gumamnya.


Sementara itu So Joon kembali ke rumah Doo Sik karena terbayang soal pertemuannya dengan Doo Sik di masa depan. Ia mengetok pintu dan membunyikan bel tapi tidak ada tanggapan, akhirnya ia menulis surat.

"Aku bertemu denganmu satu tahun dari sekarang, di musim dingin Ahjussi. Aku menghilang. Kita tidak lagi saling berhubungan satu sama lain. Ada yang aneh dengan penampilanmu. 25 Maret, 2019, di hari terakhirku.. Aku tdak tahu apakah Ma Rin dan aku bisa menghindari kecelakaan itu. Diriku di masa depan tidak bisa memberitahuku kalau aku menghilang. Hal pertama yang harus kucari tahu adalah kenapa aku bisa menghilang. Hubungi aku begitu kau membaca ini."



Ma Rin menunggu So Joon di depan rumah. So Joon heran, kenapa Ma Rin tidak masuk. Ma Rin sepertinya aku masih merasa rumah itu adalah So Joon, ia hanya tidak mau masuk ke dalam sendirian.

"Sebaiknya aku meletakkan tulisan, "Rumah Kkot Soon" di depannya." Jawab So Joon.

Ma Rin mengatakan yang sebenarnya kalau ia hanya ingin menunggu So Joon. So Joon tersenyum.


Ma Rin tiba-tiba saja mengajak So Joon melihat berita katanya ada sesuatu yang penting. So Joon heran, apa Ma Rin kenal dengan orang yang ada di berita itu.

"Tidak, aku hanya merasa dia sudah melakukan hal baik. Aku ingin melihatnya denganmu. Omo! Omo! Orang itu bisa tahu kalau seseorang di kantor distrik adalah penyumbangnya. Sepertinya orang ini menutup mulutnya rapat-rapat seperti kerang. Benar-benar luar biasa sekali. Tetap saja, apa kau pikir mereka tidak ingin memberitahu orang lain? Bukankah hal yang alami saat seseorang ingin dipuji karena berbuat kebaikan? Manusia boleh kok mengikuti sifat alaminya."


So Joon tidak paham dengan kode Ma Rin, ia menganggap Ma Rin hanya keasyikan menonton berita saja. Ma Rin mengerti, mungkin karena bukan apa-apa maka penyumbang itu mungkin berpikir dalam hati, "Setidaknya aku sudah memberi sebanyak ini". Benar-benar luar biasa rendah hatinya.

"Kenapa semua ini dan itu kau bilang "luar biasa"? Bicaralah yang benar." Jawab So Joon.

"Jangan mengkritik cara bicaraku. Aku jadi merasa sedang dikendalikan."

"Aku kan hanya mengatakan itu karena apa yang kau katakan dan apa yang didengar bisa jadi berbeda."

"Aku adalah tipe orang yang berpikir dulu sebelum bicara. Aku adalah tipe yang mengatakan semua yang kupikirkan. Itu tidak penting. Aku merasa sangat tersentuh denga berita itu. Melihat orang menolong satu sama lain tanpa diketahui identitasnya. itu..bagaimana ya aku mengatakannya? Aku merasa orang itu seperti Batman. Batman yang menjaga Gotham. Orang-orang itu melindungi negaranya."

So Joon menyela, ia mengajak Ma Rin tidur saja. Ma Rin setuju, ia merasa So Joon pasti sangat lelah.


Ma Rin kembali membicarakan soal Batman, apakah dia harus menyembunyikan identitasnya seperti itu? Setiap orang kan menciptakan jalan hidupnya masing-masing. Kenapa semua orang tidak suka kelelawar? Kalau dilihat dari dekat, kelelawar itu lucu, kok.

"Mereka sembunyi dan hidup di dalam gua. Makanya mereka berpikir kelelawar itu menyeramkan." Lanjut Ma Rin.

"Orang-orang tidak suka karena kelelawar menempel di sana-sini."

"Mereka tidak menempel di sana sini kok. Kelelawar itu punya kepribadian yang bagus. Makanya mereka akrab dengan burung dan tikus. Itu berprasangka namanya. Kau hanya mau mereka punya sayap saja, atau punya kaki saja. Bukankah begitu?"

"Sulit sekali rasanya bagiku untuk memahamimu. Aku tidak tahu kenapa aku harus memahami kelelawar."


"Bukan, aku cuma.. Aku cuma mau bilang apakah Batman harus hidup dalam persembunyian? Dia pasti merasa kesepian dan ingin sekali bicara dengan seseorang. Aku merasa kasihan padanya. Kalau Batman punya istri, dia bisa bilang pada istrinya, "Aku ini Batman". Dia bisa mengungkapkan siapa dirinya dan membicarakan Joker dengan istrinya. Mereka bisa hidup bahagia seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi setidaknya dia kan bisa memberitahu istrinya."

Ma Rin mendengar suara dengkuran So Joon. Eh ternyata So Joon dari tadi tidak mendengarkannya. Setelah memastikan kalau So Joon benar-benar tertidur. Ma Rin berbisik, "Kau bisa mengatakan semuanya padaku. Kau adalah seseorang yang luar biasa."


Doo Sik pulang ke rumah dan ia menemukan surat So Joon saat membuka pintu tapi ia hanya mendiamkannya saja.


So Joon dipaksa Ma Rin pergi pagi-pagi. So Joon tidak mau, ia menyuruh Ma Rin mencari konsep yang lain dan ia yang akan mencarikan model lain hari ini. Ma Rin menjawab tidak usah, ia yakin So Joon akan baik-baik saja.

"Aku bilang aku tidak baik-baik saja. Kenapa kau terus-terusan bilang baik-baik saja? Kau kan tahu aku tidak suka difoto."


Ma Rin ngambek, sebelum menikah So Joon juga bilang membencinya tapi tetap mau menjadi model untuknya. So Joon mengizinkannya mengambil foto. Jadi sekarang So Joon berubah karena mereka sudah menikah?

"Bukan.."

"Aku adalah seekor ikan yang sudah tertangkap, begitu? Apa sekarang kau mau menjadikanku sashimi, begitu?"

"Ah.. bukan. Bukan. Baiklah. Ayo pergi. Ayo lakukan."


Ma Rin ternyata mau mengambil foto saat So Joon belanja. So Joon tidak mau kalau lokasinya supermarket, kan masih ada gunung-gunung, pantai dan Sungai Han. Ma Rin menyuruh So Joon belanja saja dan tidak usah memperdulikan dirinya.

"Kau sengaja melakukan ini, agar aku pergi berbelanja, kan?" Tebak So Joon.

"Ini seperti melakukan dua hal sekaligus." Jawab Ma Rin.

So Joon melarang Ma Rin mengambil foto. Ma Rin merengek, ia hanya akan mengambil sekali saja. So Joon menyerah, ia akhirnya bertanya soal ikan. Tapi ia salah menunjuk ikan kembung sebagai ikan layur.


Ma Rin bersandiwara, "Kau pasti tidak tahu bedanya ikan layur dengan ikan kembung. Astaga! Anak muda ini lucu sekali."

So Joon membalas, "Kau memasukkan daging babi ke dalam sup rumput lautmu."

So Joon jalan lagi dan Ma Rin mengikutinya sambil terus memotret. Ma Rin mengingatkan kalau So Joon tidak bisa membedakan kacang dengan kurma, sekarang tidak bisa membedakan ikan.

"Sudah kubilang kan aku tidak jago soal nama-nama hasil bumi." Jawab So Joon.


So Joon menemukan tipenya, ramyeon. Ia bergaya dan menyuruh Ma Rin untuk segera mengambil foto. So Joon merasa sudah cukup tapi Ma Rin masih saja mengambil foto membuatnya malu, rasanya canggung sekali.

"Apa yang kau lakukan, Ma Rin?"

"Hanya.. sedang melihat bagaimana rupamu. Melihat pria seperti apa yang sudah kutitipi hidupku."

"Ini jadi semakin canggung. Kumohon hentikanlah. Hentikan, ya? Ayolah. Hentikan ini, oke?"


Ma Rin bercerita, dulu ia pernah mengatakan sesuatu pada seorang fotografer yang meremehkannya. Kalau ia ingin mengambil foto karena apa yang mereka lihat dengan mata itu bukan segalanya.

"Apa yang kau lihat itu tidak selamanya benar. Setiap orang punya sesuatu dalam diri mereka yang tidak ditunjukkan pada orang lain. Aku ingin menunjukkan yang sebenarnya melalui fotoku. Aku ingin terus mengambil fotomu." Lanjut Ma Rin.


So Joon tersenyum, jadi Ma Rin sangat ingin mengambil fotonya ya. So Joon memonyongkan bibir sebagai syaratnya. Ma Rin sudah maju tapi So Joon malah menjauhkan wajahnya.

"Apa kau memang wanita yang segampang itu? Mana bisa aku membiarkannya. Pastikan kau dapat izin untuk semua foto yang kau ambil hari ini."

"Kau ini kenapa? Kau sedang jual mahal?"


Se Young tidak setuju, siapa yang akan menjadikan foto suaminya sebagai bahan portofolio? Memangnya ini SNS?

Manager Cheon mengerti, jadi itu toh suami Ma Rin. Lalu Manager Cheon menununjukkan lagi foto-foto yang lain, ada foto teman-teman juga dan foto orang lain. Ia merasa hangat dan sepertinya cocok juga dengan mereka.

"Ya, kan? Sudah kubilang. Jangan melihat yang jelek-jeleknya." Ujar Tuan Shin.

Se Young mendesah. Tuan Shin lalu memperlihatkan juga foto-foto yang lain dan ia berkomentar kalau yang lain itu bagus-bagus juga.


"Lupakan saja. Kita tidak perlu melihat ini. Anda melakukan hal yang tak berguna. Anda harusnya menolaknya karena konsepnya tidak cocok dengan kita. Manajer Chang terlalu baik untuk menolaknya. Aku bisa mengambil gambar yang lebih bagus dengan ponselku." Kata Se Young dan Ma Rin ternyata mendengarnya dari luar.


Ma Rin masuk menghentikan Se Young. Se Young sendiri heran melihat Ma Rin datang kesana. Tuan Shin mengatakan kalau dirinya yang memanggil Ma Rin untuk rapat bersama.

"Sudah lama, ya tidak jumpa." Ujar Se Young.

"Ya." Jawab Ma Rin singkat, lalu ia mengenalkan diri pada Manager Cheon Min Joon.

Se Young sangat terkejut melihat portofolio Ma Rin yang berisi banyak foto personal. Ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, Ma Rin sudah datang sejauh ini, tapi maaf..

"Di website Happiness, tertulis.. "Banyak keluarga tidak bisa saling berbagi makanan karena mereka tidak punya rumah". "Banyak keluarga tidak punya pilihan kecuali harus hidup terpisah satu sama lain". Happiness adalah sebuah organisasi yang ada untuk orang-orang semacam itu." Sela Ma Rin.

Se Young tidak mengerti maksud Ma Rin. Ma Rin menjelaskan, berbekal hal itu ia memfokuskan fotonya pada orang-orang dan ia memasukkan foto seseorang yang ia cintai. Kalau ia adalah orang yang bertugas mencari foto, ia tidak akan mengambil foto rumah-rumah. Temanya adalah keluarga bahagia yang bisa hidup bersam-sama. Bukan tentang rumahnya, tapi tentang orang-orangnya.


"Aku benar-benar mengerti apa yang menjadi tujuanmu." Jawab Manager Cheon.

"Aku tidak mengerti." Jawab Se Young sambil cemberut.

Ma Rin melihat Se Young menggerakkan kakinya naik turun. Ma Rin melarangnya, katanya Se Young bisa kehilangan rezeki.


Setelah rapat Ma Rin menelfon So Joon dengan nada bahagia. Ia menanyakan dimana So Joon dan So Joon berbohong sedang di kantor padahal ia naik subway. Ma Rin akan ke kantor kalau begitu karena ada yang ingin ia bicarakan, ia punya kabar bagus.</i>

"Aku harus rapat sebentar lagi."

"Kau bahkan tidak punya waktu beberapa menitpun?"

"Tidak. Sekarang aku tidak bisa."

"Aku akan mendonasikan keahlian fotografiku. Aku akan menjadi fotografer untuk Happiness."

"Apa? Happiness?"

Tapi karena kereta sudah mencapai terowongan, So Joon cepat-cepat memutus telfon sambil berkata "Pyoong", lalu ia menghilang.


Ma Rin heran, apa itu "Pyoong", sungguh kekanakan sekali. Ma Rin tidak menyangka So Joon bereaksi begitu mendengar ia akan bekerja untuk Happiness.


Tuan Shin mendekati Ma Rin, ia menduga kalau Ma Rin sudah berbicara dengan So Joon dan Ma Rin membenarkan. Tuan Shin lalu mengajak Ma Rin bicara sambil nge-teh. Ma Rin setuju.


Tuan Shin kepikiran karena sepertinya ia mengungkit sesuatu yang tidak seharusnya. So Joon tidak mengatakan pada Ma Rin soal Happiness tapi ia mengtakannya duluan, ia takut Ma Rin akan sakit hati.

"Aku merasa sedikit terkejut. Sejujurnya, pertama kalinya Saya mendengar tentang orang tua So Joon adalah dari Anda."

Tuan Shin tidak menyangka hal itu. Ma Rin merasa bingung kenapa So Joon mau menyembunyikan itu darinya. Ia merasa So Joon kesulitan membicarakan soal dirinya pada orang lain. Orang-orang mungkin tidak akan paham, tapi ia mengerti.

"Saya juga korban selamat dari kecelakaan Namyeong. Saya sudah mengatakannya dalam sebuah artikel baru-baru ini, tapi Anda sepertinya tidak tahu."

Tuan Shin memang tidak tahu. Ma Rin lega karena So Joon sudah mengatasi segalanya dan hidup dengan baik sekarang. Dan ia ingin membantunya sedikit kalau bisa.

Tuan Shin setuju, lalu ia mengajak Ma Rin berjabat tangan. Tuan Shin bersyukur bisa bekerja sama dengan Ma Rin. Ia juga sangat menyukai foto-foto Ma Rin.


"Omong-omong, apa hanya Anda saja yang tahu rahasia So Joon?"

"Oh, itu?"

"Se Young dan Ki Doong tidak tahu juga, kan?"

Tuan Shin belum menjawab tapi Ma Rin sudah ngomong lagi. Ma Rin mengerti pasti So Joon juga tidak mengatakannya. Rahasia yang bahkan tidak bisa So Joon katakan padanya pasti juga tidak dikatakan pada teman-temannya. Tuan Shin mengiyakan saja sambil tersenyum.


So Joon pergi ke masa depan. Ia menuju rumah Ki Doong tapi rumahnya masih kosong dan buku jurnalnya tidak ada di langit-langit. So Joon kesal, ia sangat tidak mengerti hal ini.


So Joon menelfon Ki Doong tap tidak dijawab. Ia kemudian mengirim pesan,

"Ki Doong, ini adalah So Joon dari masa lalu. Aku harus menanyakan sesuatu padamu. Hubungi aku."

So Joon menunggu lama tapi Ki Doong tetap tidak menghubunginya. Akhirnya ia kembali ke stasiun.


So Joon mengenang masa lalunya saat masih membiasakan diri sebagai penjelajah waktu.

"Butuh 3 tahun. Menyingkirkan rasa sakit dan tidak nyaman dari melakukan perjalanan waktu sampai ke titik di mana aku merasa mulai menikmatinya. Belajar bagaimana pergi ke masa yang kuinginkan... butuh waktu 3 tahun. Aku merasa sangat lelah dengan apa yang kujalani waktu itu. Aku tidak pernah naik kereta lebih dari dua kali dalam sehari."

Tapi hari ini, ia merasa tidak punya pilihan. So Joon terus datang ke waktu-waktu yang berbeda untuk mencari tahu kapan tepatnya ia menghilang dan kenapa ia bisa menghilang. Ia harus memeriksa waktu lagi dan lagi. Iaharus menemukan jejak dari dirinya.

So Joon akhirnya menemukan waktu yang tepat, ia menemukan buku jurnalnya di langit-langit. Disana tertulis,

"Identitas Ahjussi? Kenapa dia mengajariku tentang perjalanan waktu? Kenapa dia mendekatiku? Direktur Kim Young Jin."

So Joon tidak mengerti apa maksudnya itu. Tapi ia menekankan, "Direktur Kim Young Jin."


Sek. Hwang mengerti, ia akan memarkir mobil lalu meletakkan kuncinya di konter. Setelah Young Jin masuk, Sek Hwang bertanya-tanya, siapa yang ditemui Young Jin diam-diam?


Doo Sik lah orangnya. Sejujurnya Young Jin kaget mendengar dari Doo Sik bahwa Doo Sik adalah investor-nya So Joon. Young Jin juga ingat melihat Doo SIk beberapa hari lalu datang ke kantor menemui So Joon.

"Bisakah aku bicara informal denganmu? Sepertinya kita bisa jadi rekan." Ajak Doo Sik.


Ki Doong bicara di telfon, "Ibu, aku tahu itu. Tidak, jangan meminta maaf padaku. Menyekolahkan Ki Young saja sudah susah. Kuliah dan mengirimkannya ke luar negeri, kau meminta terlalu banyak dariku. Kau tidak perlu minta maaf karena aku tidak akan memberikannya lagi."

Waktu itu So Joon masuk dan mendengarnya. Ki Doong cepat-cepat menutup telfonnya dan So Joon tidak membahasnya.

So Joon bertanya, kenapa Ki Doong tidak menjawab telfonnya. Ki Doong heran, memangnya So Joon menelfon, kapan?

"Aku menelpon beberapa kali dan kau mengabaikanku. Di dunia yang lain, sih."

"Astaga, kau menelponku juga di dunia yang lain? Jangan telepon aku. Hidupku akan jadi kacau. Aku hanya menginginkan hidup yang normal, yang biasa saja."

So Joon mengerti, itu juga adalah pertama kali ia melakukannya karena keadaannya sangat mendesak.


So Joon berbaring, ia meminta obar sakit kepala pada Ki Doong tapi Ki Doong tidak punya. So Joon menjelaskan kalau kepalanya sakit gara-gara terlalu banyak naik kereta, rasanya melelahkan sekali. Tapi So Joon melarang Ki Doong cemas, lanjutkan kerja saja. Ia hanya akan istirahat sebentar kemudian pergi.

"Hei, soal Ma Rin.. Berapa lama kau kira kau bisa menyembunyikan semua dari dia? Apa kau merasa tak nyaman? Haruskah kau menyembunyikan itu darinya? Ma Rin mungkin saja menyukainya."

"Ini bukan masalah mudah."

"Ini bisa jadi mudah."


So Joon mendesah, jika Ma Rin tahu ia bisa ke masa depan, Ma Rin akan sangat penasaran tentang masa depan mereka. Ki Doong menyuruh So Joon mengatakan yang baik-baik saja.

"Bicara soal itu.. Untuk mengatakan padanya yang baik-baik saja.. tapi kami berdua.. tidak punya masa depan yang bagus, Ki Doong."


So Joon berpikir di dalam mobil sebelum masuk ke rumah,

"Hari di mana aku menghilang sepertinya adalah tanggal 31 Desember. Kenapa aku meninggalkan Ma Rin dan menghilang?"

"31 Desember. Hanya ada 3 bulan yang tersisa." Gumam So Joon lalu ia mendesah.


So Joon pulang dan disambut oleh ma Rin dengan pertanyaan kenapa tadi ia menghilang setalah mengatakan "Pyoong". So Joon menjawab kalau ia sedang rapat tadi.

So Joon akan melangkah tapi ada sesuatu menubruk kakinya membuatnya kaget. Itu adalah robot pembersih yang Ma Rin temukan di gudang. So Joon saja sampai lupa punya robot itu. Ma Rin menunjukkan keahlian robot itu yang bisa memakan sampah seperti anjing mengejar daging.


Ma Rin dan So Joon sikat gigi bersama tapi saat berkumur Ma Rin malah balik badan. Ia merasa aneh kalau meludah jika So Joon melihatnya. So Joon mengalah, ia yang balik badan dan menyuruh Ma Rin untuk berkumur duluan.

"Ini tidak begitu romantis seperti dalam film." Ujar Ma Rin.

"Lihat. Kita tidak perlu menggosok gigi bersama-sama."

Ma Rin selesai berkumur, ia heran bagaimana bisa So Joon tidak mengatakan apapun padanya soal pekerjaannya di Happiness. So Joon balik bertanya, bukannya Ma Rin hanya membantu sekali. Ma Rin membenarkan.

"Lakukan dengan baik dan jangan membuat masalah." Pinta So Joon.


Saat So Joon berkumur, Ma Rin mengatakan kalau ia ingin terus bekerja dengan Happiness. Ia sangat suka pada presdirnya.

"Ayahnya Se Young?" Tanya So Joon.

"Ya, aku benar-benar menyukainya."

"Dia tidak mengatakan sesuatu yang lain?"

"Seperti apa misalnya?"

"Tidak ada. Aku hanya tanya."

Ma Rin bertanya, apa So Joon tidak mau mengatakan apa-apa padanya. So Joon bertanya, apa yang akan ma Rin lakukan jika ia mendadak menghilang suatu pagi.

"Apa lagi? Ya menunggumu. Kenapa kau tanya?"

"Bukan apa-apa. Aku hanya mendadak merasa penasaran."


So Joon menghadap Ma Rin, ia meminta Ma Rin untuk hidup bersama untuk waktu yang lama. Walaupun saling marah, kecewa dan bosan satu sama lain, mereka harus tetap bersama seperti dua orang yang tidak pernah terpisah sejak lahir.

"Tetaplah di sisiku." Tutup So Joon.

"Baiklah. Kau sangat menyukaiku, ya?"

"Kalau kau menghilang dari sisiku.. aku mungkin akan gila."

So Joon keluar duluan. Ma Rin tersenyum, ia bergumam kalau So Joon sudah gila, kok. So Joon sudah jatuh cinta teramat dalam pada Bap Soon. Ma Rin tersadar dan ia menepuk mulutnya karena memanggil diri sendiri Bap Soon.


Gun Sook mengajak tema-teman bertemu, sayangnya Ma Rin tidak datang karena sedang sibuk. Gun Sook kesal, kalau begitu harusnya So Ri memberitahunya tadi, ia bahkan membatalkan janji ke salon.

So Ri heran, belakangan ini sepertinya Gun Sook ingin sekali bertemu dengan Ma Rin. Teman yang lain menyahut kalau Gun Sook sedang melakukan tugasnya sebagai istri yang baik.

"Apa? Memangnya kau tidak?"

"Suaminya Ma Rin adalah CEO dari perusahaan suaminya." Jawab teman itu.

Yang satu lagi meledek, hidup seseorang bisa berubah drastis dalam sekejap. Gun Sook membantahnya, mereka akan tetap bertemu, ia hanya mau mereka tetap berhubungan baik.


"Dan, kalian seharusnya berpikir kalau kalian punya otak. Kalau CEO Yoo itu adalah pria normal, dengan semua kekayaan, ketampanan di usia semuda itu dia tidak akan mengencani Bap Soon, apalagi menikahinya."

"Kumat lagi deh kau." Jawab So Ri.

"Sudah banyak rumor tentang betapa misteriusnya dia. Tidak ada yang tahu latar belakang keluarganya."

"Hei. Dia pasti dibesarkan di luar negeri." Sahut teman lain.

"Tidak, yang itu juga bukan. Dia muncul entah dari mana, kemudian mendadak jadi kaya. Dari mana dia mendapatkan semua itu? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu asal mulanya. Bukankah itu aneh?"


Manager Cheon memberikan daftar bahan perencanaan untuk sebuah brosur pada Ma Rin jadi Ma Rin bisa dapat konsepnya kali ini. Manager Cheon bertanya, apa Ma Rin pernah melakukan pekerjaan semacam
itu sebelumnya?

"Aku pernah melakukannya di sebuah majalah finance sebelumnya. Sepertinya aku paham maksudmu."

"Kau ternyata punya banyak pengalaman. Sepertinya bagus sekali kalau bisa memakai konsep yang kau sebutkan sebelumnya. Tentang orang-orang. Seniman Song."

Ma Rin terus tersenyum, ia belum pernah dipanggil seniman sebelumnya jadi senangnya bukan main. Ma Rin berjanji akan bekerja keras. Manager Cheol juga, ia akan melakukan yang terbaik untuk membantu Ma Rin.


Se Young menegur Ma Rin. Ma Rin berkata kalau ia sedang bicara dengan orang jadi nanti saja kalau ada perlu. Se Young kesal dengan jawaban Ma Rin itu,

"Kau mau minum malam ini?" Ajak Se Young.


Se Young dan Ma Rin duduk berhadapan di sebuah bar. Se Young merasa sepertinya mereka saling salah paham, tapi ia memang tidak gampang akrab dengan orang baru. Ma Rin menyela, ia juga tidak ramah pada orang baru jadi Ma Rin pasti merasa tidak nyaman.

"Aku tidak merasa canggung dengamu." Aku Se Young.

"Kau tidak perlu canggung."

Se Young mendesah, ia meminta ma rin bicara jujur, pasti ma Rin punya masalah dengannya, kan. Ma Rin dengan tegas mengatakan kalau Se Young membencinya, Se Young bahkan menamainya Bap Soon di kontak ponselmu, ia tidak sengaja melihatnya.

"Walaupun begitu, tak usah terlalu kasarlah. Apa kau mau mengajakku bertengkar?" Balas Se Young.

"Bukannya kau yang mau bicara jujur? Kalau kau merasa kaget, kita tak perlu melakukannya. Seumur hidupku, aku sudah membaca banyak komentar negatif. Aku tidak sakit hati lagi kalau ada seseorang yang mengatakan dia membenciku."

"Memang benar aku tidak begitu menyukaimu."

"Aku?"

"Tapi apa kau tidak penasaran kenapa aku tidak menyukaimu?"

"Tidak sama sekali. Aku tidak pernah tertarik pada orang yang tidak menyukaiku."


Ma Rin minum duluan. Se Young kembali mendesah. Ia lalu mengajak Ma Rin bersulang dan mereka harus minum bersama.


Waktu berlalu, So Joon datang kesana dan hanya ada Se Young yang kesal dengan Ma Rin. So Joon memanggil-manggi Se Young sambil menggoyang-goyang tubuhnya. Se Young pun memandang So Joon dan mengenalinya.

"Berapa banyak wine yang dia minum? Hei, apa kau baik-baik saja? Ke mana Ma Rin? Apa dia ke toilet?" Tanya So Joon.

Se Young menyuruh So Joon membawa Ma Rin, singkirkan Ma Rin dari pandangannya. So Joon menyuruh Se Young sadar dan mengatakan kemana Ma Rin pergi. Se Young menebak, apa Ma Rin sudah pulang. So Joon juga merasa hal yang sama, ia akan mencarinya.

"Jangan minum terlalu banyak. Kenapa kau mabuk sekali? Apa kau baik-baik saja?" Tegur So Joon sambil memegang Se Young yang tidak bisa duduk dengan benar.

Se Young menyingkirkan tangan So Joon. Ia melarang So Joon melarangnya karena So Joon sudah menikah. Ki Doong yang baru datang membenarkan Se Young.


Kebetulan ada Ki Doong jadi So Joon bisa memsrahkan Se Young sementara ia akan pulang mencari Ma Rin. Ki Doong setuju, ia pun mengurus Se Young.


Se Young terjatuh saat baru keluar dari bar, Ki Doong tidak bisa memeganginya karena ia membuka dan menutup pintu. Se Young bergumam,

"Dia menumpahkan semuanya padaku. Dia mengatakan semuanya. Kau tahu, kan. Itu loh yang selalu membuat orang merasa marah. Astaga. Dia memang bukan gadis biasa."

Ki Doong mengalah, ia mengiyakan saja apa kata Se Young sambil ia berusaha membopong Se Young.


"Ya, lagi pula aku sudah kalah dengannya." Lanjut Se Young.

Ki Doong tidak mengerti maksud Se Young. Se Young memanggil Ki Doong dengan So Joon, ia bertanya, kenapa So Joon memilih untuk menikahi Bap Soon. Itu benar-benar aneh. Wanita itu membuatnya merinding. Ia tidak menyukainya.

"Aku terlihat mirip Yoo So Joon di matamu, ya. Terima kasih untuk itu, tapi kau bukan So Joon, oke?"

"Seleramu soal wanita benar-benar.. Hei, lihat aku. Bukankah aku lebih cantik darinya? Lihat aku?"

"Ya, Se Young tentu saja yang terbaik. Tapi kau harus berhenti minum. Kau selalu minum akhir-akhir ini. Itu tidak baik. Setidaknya kau bisa mengenaliku aku."

"Jadi kenapa? Apa kau merasa bahagia bersamanya? Apa kau akan segera mati karena bahagia? Yoo So Joon, kau memang berengs*k."



Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon