Tuesday, February 21, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 6 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 6 Part 2


Ma Rin sudah sampai rumah. Ia memanggil So Joon yang dikiranya sedang main petak umpet. Ia membuka pintu-pintu kamar untuk mencari So Joon tapi tidak ada.

Ma Rin lalu melihat robot pembersih, ia memanggilnya "Guk Guk". Ma Rin mengangkat Guk Guk lalu memeluknya, ia berkata kalau Guk Guk juga bagian dari keluarga juga. Ma Rin kemudian menurunkan Guk Guk dan memintanya menunggu sementara ia akan menyiapkan koin tapi Guk Guk malah berjalan ke kolong kursi.



Ma Rin mengejarnya, ia menerogoh kolong kursi tapi malah menemukan sesuatu. Sebuah majalah yang membuat matanya terbuka lebar.

"Pria ini akan jadi presiden? Bagaimana bisa ada pemilu padahal aku tidak dengar beritanya? Ini namanya konspirasi." Gumam Ma Rin.


So Joon pulang, ia bertanya kenapa Ma Rin tidak mengangkat telfonnya. Ma Rin mengatakan soal majalah yang ia temukan, ada hal aneh yang terjadi.

"Apa ada kudeta di negara kita? Apa presiden kita sudah diganti?" tanya Ma Rin.

So Joon lalu merebut majalah itu. Astaga! itu adalah majalah dari masa depan. So Joon membohongi Ma Rin, dimajalah itu tertulis "akan terpilih" dengan tanda
tanya di ujungnya. Ma Rin salah melihatnya karena terlalu mabuk.

Ma Rin melihat majalah itu sekali lagi dan mencari-cari tanda tanya tapi tidak ada, tulisannya "presiden terpilih!". So Joon kembali merebut majalah itu. Ia melarang ma Rin memikirkannya karena Ma Rin sangat mabuk.

"Kalau kau mabuk dan melihat yang tidak-tidak, kau tahu betapa menakutkannya itu? Kenapa kau selalu begini?"

"Apa kau takut padaku? Aku takut pada negara ini." Jawab Ma Rin.


So Joon langsung menggendong Ma Rin menuju kamar untuk menghentikan perdebatan. Katanya Ma Rin kelihatan paling cantik kalau sedang tidur.


Ma Rin terbangun tengah malam, di luar hujan petir. Ma Rin turun dari tempat tidur, ia mengengok So Joon dengan tatapan misterius,

"Kenapa dia berbohong? Apa itu pemilihan presiden barusan?"


Ma Rin lalu duduk di sofa depan. Ia tidak bisa mamahaminya, apakah ia masih mabuk? Tapi Ma Rin menggeleng, ia tidak pernah tidak sadar kalau mabuk. Aneh sekali!

Lalu Ma Rin teringat soal kata-kata So Joon yang selalu menjadi kenyataan. Pertama saat So Joon memberinya payung karena akan hujan dan kedua saat pernikahan mereka yang juga turun hujan sesuai perkiraan So Joon. Lalu soal Ohri Remyeon, soalsepatu dan Guk Guk.

"Tidak. Itu dari temannya yang seorang periset." Sangkal Ma Rin.


Ma Rin teringat saat di Bar, Se Young mengatakan kalau So Joon tidak punya teman yang pekerjaannya melakukan riset. Ma Rin memejamkan mata. Tidak, ia harus berpikir dengan benar.


So Joon tiba-tiba mengagetkannya, "Apa yang kau lakukan di sana?"

"Apa?" Jawab Ma Rin dengan bahasa formal.

"Kenapa kau di di sana? Apa petirnya membuatmu takut?"

"Tidak."

"Kenapa mendadak bicara formal? Masuklah. Tidur di dalam."


Ma Rin menceritakannya pada So Ri. Ia yakin sekali majalah yang dilihatnya itu adalah majalah yang terbit musim dingin tahun ini. So Ri jelas tidak percaya, apa maksud Ma Rin Deokbang mengendarai mesin waktu ke mana-mana? Dia membawa majalah itu dari masa depan?

"Aku serius." Kata Ma Rin.

"Maaf."

Ma Rin tidak curiga soal teman periset itu karena So Joon bekerja di bidang bisnis, mereka bisa saja klien So Joon. Ia mencoba berpikir pasti ada alasan dan ia jadi berlebihan. Tapi kalau ia tidak berpikir begitu, tidak akan ada jawabannya.  tidak mau mengatakannya terang-terangan. Tapi, sepertinya So Joon memang menyembunyikan sesuatu. Ia merasa So Joon punya banyak sekali rahasia. Ia kira tadinya dia So Joon Batman. Tapi sekarang So Joon sepertinya Hong Gil Dong.

"Kalau dia menghasilkan uang dengan cara jahat demi kebaikan itu akan jadi masalah." Lanjut Ma Rin.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Oh! Aku tidak tahu lagi. Deokbang punya cara untuk membuatku merasa aneh dan bingung."

So Ri menjawab kalau Ma Rin lah yang selalu aneh.


Tapi karena Ma Rin sedang membahasnya, So Ri mau memberitahu soal Gun Sook yang mengatakan sesuatu. Di antara rekan bisnisnya, suami Ma Rin terkenal dengan sifat misteriusnya.

"Belum puas menghinaku, sekarang dia bahkan menjelek-jelekkan Deokbang?"

"Dia bilang merasa aneh karena So Joon mendadak menikahimu. Kau tidak perlu mencemaskan apa yang dikatakan Gun Sook. Apa kau merasa marah?"

"Tidak. Aku merasa itu juga aneh."

"Banyak sekali yang kau kira aneh di dunia ini. Tanya saja langsung padanya kalau kau penasaran. Apa yang mau disembunyikan kalau kalian sudah menikah?"

"Aku bisa tanya padanya, kan?"


Ma Rin mengirim pesan pada So Joon,

"Siapa yang akan kau selamatkan duluan kalau Batman dan Hong Gil Dong tenggelam bersamaan? Aku tanya siapa di antara mereka yang lebih kau sukai."
So Joon tidak menanggapi pesan itu, ditambah ada Direktur Wang yang menyapanya.


Direktur Wang berkata kalau ia akan makan nasi (Bap). Astaga! Direktur Wang lupa kalau kata "Bap" dilarang di perusahaan. Ia minta maaf karena lupa.

"Anda seharusnya punya kesadaran dan berpikirlah dengan bijak.

"Ya."

Direktur Wang membicarakan soal perencanaan pembangunan lahan yang dibuat oleh Kementrian Infrastuktur, apa So Joon melihatnya? Mereka akan melakukan hal besar di sana.

"Aku juga sudah membuat janji untuk melakukan kunjungan ke sana."

"Wow, soal pekerjaan Anda memang yang terbaik."


Ki Doong melewati mereka. Ia mengajak So Joon bicara lalu berjalan kembali tanpa menyapa Direktur Wang.


So Joon tidak mengerti dengan ekspresi Ki Doong, apa Ki Doong marah padanya atau apa sih? Apa ia membuat Ki Doong kesal?

"Kenapa kau melakukan hal semacam itu? Kau kira aku akan mengucapkan terima kasih?"

"Ah itu.."

"Jadi, kenapa kau mengirimkan uang ke rumahku tanpa memberitahuku?"

"Aku dengar Ki Young akan segera lulus sekolah.Aku mendengar pembicaraanmu di telpon."

"Apa aku memintanya padamu? Apa aku minta uang padamu? Apa? Apa kau merasa bangga dan keren karena kau memberi keluargaku uang diam-diam? Aku akan mengembalikannya, jadi jangan lakukan itu lagi."

"Aku menumpang tinggal di rumahmu. Anggap saja itu uang sewa."

"Mudah sekali kau bicara. Aku yakin memberikan uang sekolah untuk Ki Young juga adalah hal mudah untukmu. Tapi sangat sulit bagi keluargaku, meski mudah untukmu. Tapi.. uang yag kau buang dengan mudahnya padaku itu.. Aku berterima kasih, tapi itu menyebalkan."


So Joon malah tersenyum. Lucu saja melihat Ki Doong sangat berapi-api. So Joon melarang Ki Doong bersikap begitu karena diantara mereka tidak perlu ada hal semacam itu. Ki Doong malah semakin marah.

"Ini adalah masalah yang sulit untuk dibicarakan. Tapi, apa kau kira aku merasa bangga karena melakukannya? Aku tahu kau akan merasa tidak nyaman makanya aku berhati-hati soal itu. Jadi, bukankah lebih baik pura-pura tidak tahu saja? Itu kan bukan apa-apa. Itu uang sekolahnya Ki Young."

"Kau benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku benar-benar membencimu. Sungguh."

"Ayolah, Ki Doong. Jangan marah, Ki Doong."


So Joon meminta sesuatu dari Ki Doong. Ia mengajak Ki Doong bertemu di rumahnya, 3 Desember tahun ini. Ki Doong bertanya untuk apa.

"Aku akan menceritakan semua padamu di hari itu. Tapi aku juga tidak mau membuat hidupmu susah. Aku punya satu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Kau harus ada di rumah hari itu. Tidak peduli bagaimanapun caranya. Aku akan menjelaskan semua padamu hari itu."


Ibu kembali datang ke rumah. Ma Rin heran karena ibunya mendadak semakin dekat dengannya kahir-akhir ini. Ibu bertanya, So Joon belum pulang?

"Ibu akan makan malam di sini. Lain kali kalau mau datang, telpon aku dulu. Aku sih tidak masalah, karena Ibu adalah ibuku. Tapi kalau Ibu terus-terusan datang seperti ini, So Joon akan kesal."

"Oh, ya? Jadi haruskah Ibu pindah saja supaya kita semua bisa lebih akrab?"

"What?"

"Ibu sih inginnya hidup sendiri dengan bebas. Tapi, kalian punya banyak kamar di sini. Kalau bukan Ibu yang pakai siapa lagi?"

"Ibu kira kenapa aku dulu pindah dari rumah di usia 20 tahun tanpa uang sama sekali?"

"Oh, itu karena kau kekanakan."

"Tidak."

"Karena kau mau mencari uang sendiri?"

"Ibu tidak kelihatan bodoh. Kenapa pura-pura tidak tahu? Jangan bicara omong kosong dan pulanglah ke rumah secepatnya. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengan So Joon."


Ki Doong menandai kalendernya, tanggal 3 Desember 2016. Hari ia akan bertemu dengan So Joon.


-- 3 DESEMBER 2016, MASA DEPAN --

So Joon benar-benar datang untuk menemui Ki Doong. Ki Doong tidak menyangka So Joon akan benar-benar datang. So Joon merasa aneh sekali bertemu seperti ini dengan Ki Doong.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya So Joon dan Ki Doong mengiyakan.


"Aku menghilang, Ki Doong."

"Aku tahu kau akan datang seperti ini."

So Joon lalu menanyakan sesuatu yang terjadi padanya. Ki Doong menengakan, itu bukan kecelakaan kok. So Joon lega, tapi kenapa?

"Kau... pergi ke luar negeri. Kau berpisah dengan Ma Rin."

"Apa?"

"Sejak kalian menikah, segalanya tidak berjalan lancar."

"Apa itu masuk akal? Kami baru saja menikah. Hei. Kau seharusnya tidak bercanda pada temanmu yang sudah susah payah datang dari jauh."

"Aku minta maaf."

"Karena sudah menjadi seorang penjelajah waktu. Apa Ma Rin tahu soal itu?"


Ki Doong tidak tahu soal hubungan Ma Rin dan So Joon. Yang ia tahu, So Joon mendadak pergi ke luar negeri setelah berpisah dengan Ma Rin. So Joon dan Ma Rin tidak pernah mendaftarkan pernikahan mereka.

"Ke mana aku pergi?"

"Aku tidak tahu. Aku juga jarang berhubungan denganmu."

"Tunggu. Kau yakin kau tidak salah? Kau tidak sedang membodohiku, kan? Aku tidak mungkin melakukannya. Tidak peduli seberapa buruk hubunganku dengan Ma Rin.. aku tidak akan pernah melarikan diri seperti itu. Ada alasan kenapa aku tidak akan pernah melakukannya."

"Aku.. minta maaf karena mengatakan ini padamu. Kau harus kembali sekarang, da berpisahlah dengan Ma Rin. Demi kau, dan demi kebaikan Ma Rin. Hanya ini yang bisa kukatakan padamu."

"Jangan katakan omong kosong itu padaku."


Ma Rin sedang membersihkan kameranya sambil mengawasi ponsel. So Joon pulang telat tapi belum memberinya kabar.

Ibu mendekat dan bertanya, apa So Joon akan menginap di luar malam ini. Ma Rin balik bertanya, apa ibu juga berencana menginap di? Ma Rin berbohong kalau So Joon menelfon dan katanya pergi untuk survei lahan tadi.

Ibu lalu minta piyama. Ia akan menginap.


So Joon berlari ke stasiun tapi sudah tutup, keretanya sudah berangkat semua.

So Joon berjalan di keramaian kota. Ia melihat ponselnya tapi memasukkannya lagi.

"Kenapa aku melihat ponsel? Toh tidak akan ada yang akan menelponku." Batinnya.


So Joon berjalan menuju ke rumah dan ia melhat Ma Rin juga. Ia membuntuti Ma Rin dengan jarak yang agak jauh. Ma Rin hampir ditabrak oleh motor dan ia terjatuh.

Pengemudi motor mendekati Ma Rin, bertanya apa Ma Rin baik-baik saja, ia membantu Ma Rin berdiri. Ma Rin mengatakan kalau ia baik-baik saja dan ia berterimakasih.


Orang itu merasa mengenali Ma Rin. Ma Rin tidak peduli, ia tetap berjalan ke rumah. Barulah orang itu sadar kalau ma Rin adalah Bap Soon.

So Joon mendekati orang itu, "Pergi sajalah sana."


So Joon memandang Ma Rin yang masuk ke rumah.

Di masa kini, Ma Rin juga keluar rumah, ia mengirim pesan untuk So Joon,

"Di mana kau? Apa ada masalah?"


So Joon di masa depan menunggu di luar rumah. Ma Rin di masa kini kembali mengirim pesan,

"Aku masih menunggumu. Pulanglah segera."

Sebenarnya mereka ada di tempat yang sama juga jam yang sama cuma beda masa.


Ma Rin kesal karena So Joon tidak pulang dan tidak menelfon sama sekali.


Ma Rin akan pergi olah raga sambil mengantar Ibu keluar. Ibu teringat masa mudanya dulu saat melihat Ma Rin. Katanya Ma Rin sangat mirip dengannya.

"Aku sudah lihat semua foto Ibu? Kapan yang Ibu maksud?"

"Kalau kau melihat lebih dalam, kau itu ada dalam diriku. Kau ada dalam diriku."


Ibu akan pergi dan ia melihat So Joon. Ibu langsung berlari menghampiri,  tapi Ma Rin malah putar balik.

"Kau tidak bisa pulang karena harus bekerja keras. Ibu sangat menghormatimu, anakku."

"Terima kasih. Aku akan menemui Ma Rin dulu, Bu."

"Omong-omong, Nak.. Kau harus menjaga kesehatanmu dan tidurlah di rumah. Ibu mencemaskanmu, kau mengerti?"

"Baiklah. Sampai jumpa."


So Joon menghentikan Ma Rin. Ma Rin menjawab So Joon pendek, "Oh, halo. Lama tak jumpa."

So Joon mengatakan ada masalah kemarin. Ma Rin menjawab tidak masalah, kalau So Joon tidak mau pulang maka tidak usah pulang, semua terserah So Joon.

"Aku tidak sengaja."

"Memangnya aku bilang apa? Toh tidak ada aturannya kalau kau sudah menikah berarti kau tidak boleh tidur di luar. Aku tidak mau merusuhi kehidupan pribadimu. Senang sekali bisa melakukan olahraga seperti ini."

So Joon tidak merasa aneh, ia lega dan kembali ke rumah.


Tapi mendadak Ma Rin ingin pisah kamar. So Joon menahannya karena Ma Rin bilang tidak apa-apa tadi.

"Kenapa? Senang kan bisa mendapat kebebasan dan santai saja soal itu."

"Aku minum di rumah Ki Doong dan tertidur. Saat aku bangun, ternyata sudah pagi."

"Jangan bilang padaku. Aku sedang berusaha untuk tidak merasa penasaran. Mau pulang atau tidak.. aku tidak akan buang waktu untuk mengomeli dan mencampuri hidupmu. Jadi, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Oh, haruskah kita tunda saja pendaftaran pernikahan kita? Semua orang mendaftarkan pernikahan setelah satu atau dua tahun."


So Joon teringat perkataan Ki Doong di masa depan. Lalu ia mencoba mengubah pikiran Ma Rin, apa Ma Rin harus bertindak sejauh itu? itu kan hanya satu kesalahan.

Ma Rin berkata kalau ia bekerja untuk Happiness. Ia akan mulai mengambil gambar minggu depan. Dan So Joon hanya diam saja. Ma Rin mengulangi lagi, ia bekerja untuk Happiness.

"Yoo So Joon. Kau sungguh tidak mau mengatakan apa-apa padaku? Aku dengar kaulah yang membuka organisasi itu pertama kali."

"Aku pikir aku tidak perlu memberitahumu. Kalau aku ingin menyembunyikan itu, aku pasti tidak akan membiarkanmu bekerja di sana."

"Tetap saja, aku ingin kau memberitahuku. Kukira aku seberarti itu bagimu."


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Ma Rin ketahui dari So Joon. Tapi ia bahkan tidak bisa menanyakannya pada So Joon. Ia merasa So Joon selalu menyembunyikan banyak hal. Ia merasa takut untuk bertanya.

"Apa hanya sebatas ini arti diriku bagimu?" Tanya Ma Rin.

"Kalau aku benar menyembunyikan sesuatu.. itu berarti karena aku tidak mau menyakitimu. Dan kalau kau tahu soal itu tidak akan ada baiknya untukmu."

"Jadi, memang ada sesuatu?"

"Memangnya apa? Tidak ada yang namanya 100 persen kejujuran. Apa menurutmu aku bisa tahu segalanya tentangmu? Aku tidak bisa tahu soal segalanya. Itu makanya. Yang terpenting adalah.. satu hal yang ada di kepalaku adalah.. kau dan aku di masa depan akan hidup bersama dalam waktu yang lama. Yang aku cemaskan hanyalah masa depan kita."

"Kenapa kau semarah ini? Aku hanya tidak suka kau merahasiakan apapun, itu menyakiti perasaanku. Itulah yang bisa kukatakan, dan aku tidak tahu kenaa kau membicarakan soal hal lain. Kau sedang bekerja keras di luar sana agar kita bisa hidup dengan baik. Jadi aku tidak boleh menanyaimu yang macam-macam supaya kau tidak stress. Itu maksudmu?"

"Kau tahu kan maksudku bukan itu."

"Intinya, itulah yang kau maksud. Kau memperlakukanku seperti Bap Soon."


Ma Rin masuk ke kamar lain dengan kesal. Di kamar utama So Joon juga bingung, lalu pesan Ma Rin dari semalam masuk ke ponselnya bersamaan,

"Di mana kau?"
"Aku akan menunggumu. Apa ada masalah?"
"Ini sudah jam 2 dini hari. Cepatlah pulang."
"Kalau kau sibuk, kabari aku selalu."
"Baiklah. Lakukan apa saja yang kau mau."
"Aku mau tidur. Jangan menelpon."
"Aku tidak bisa tidur sedikitpun."
"Kau keterlaluan. Hapus semua pesanku."
"Aku tidak akan peduli padamu lagi."


So Joon frustasi setelahnya. Ia bergumam kalau ia pulang semalam dan ia harus menunggu di luar sangat lama di cuaca yang sangat dingin.


Mendadak Gun Sook mengajak Young Jin untukpindah ke luar negeri. Ia tidak peduli dimanapun yang penting negara yang tidak ada kecoaknya. Ia bisa hidup dengan baik. Sungguh.

"Lee Gun Sook, mana ada negara yang tidak ada kecoanya."


Young Jin bisa menebak kalau ini karena Bap Soon lagi. Apa lagi sekarang? Apa harga diri Gun Sook terluka dan Gun Sook tidak sanggup menanggungnya? Gun Sook tidak sanggup hidup di Korea lagi karena merasa malu?

"Tidak. Bukan hanya itu. Aku merasa kesal melihat kau bekerja untuk seorang anak muda seperti Yoo So Joon."

"Lee Gun Sook, lihat aku. Sudah kubilang, kan? Aku akan membuatmu dipanggil Nyonya CEO, mengerti? Lihat aku. Apa aku terlihat gampangan di matamu? Apa kau tidak terlalu meremehkanku?"

"Apa memangnya? Kau mau memulai bisnismu sendiri?"

"Bagaimanapun.. kau harus tahu kalau sebentar lagi kau akan jadi istri seorang CEO. Jangan coba bicara tentang pindah ke luar negeri lagi."

Kilas balik...


Doo Sik bisa investasi sampai 10 miliar won pada Young Jin. Young Jin heran, kenapa Doo Sik memilihnya bukan So Joon.

"Kudengar kau lebih jago darinya. Apa lagi alasan yang kupunya? Aku tentu saja mau uang."

Kilas Balik selesai...

Young Jin mengatakan pada dirinya sendiri kalau ia sudah melakukan yang terbaik. Sekarang hanya tinggal bertahan.


So Joon melihat Ma Rin duduk di ayunan. Ia lalu mengirim pesan

"Maaf. T.T (Wajah menangis)"

"Wajah menangis? Apa kau sedang pura-pura menangis? Apa kau bercanda?"

"Bukan itu maksudku. Maksudku, aku benar-benar minta maaf, ^^;; (Senyum)."

"Kau senyum? Kau pasti merasa tenang."

Bukan itu juga maksud So Joon. Ia akan mengetik balasan tapi keduluan Ma Rin, "Aku tidak tahu apa masalah ini bisa diselesaikan dengan SMS permintaan maaf."


Saat mereka berpapasan di dalam. So Joon mengatakan maaf secara langsung dengan wajah sedih tapi Ma Rin melarangnya bicara. So Joon lalu berjalan menuju pintu.


"Kau mau ke mana"

"Apa? Aku cuma..."

"Kau mau ke mana!? Tidak ada debu di sana. Kenapa kau tidak mendengarkanku!? Hei! Kubilang mau ke mana kau!?" Ma Rin pura-pura bicara sama Guk Guk tapi So Joon paham kalau itu ditujukan untuknya.

"Aku mau keluar 5 menit."

Setelah So Joon keluar Ma Rin bertanya-tanya, kenapa So Joon memasang wajah sedih begitu?


So Joon stress, rasanya ia mau merok*k. Lalu So Joon melihat Doo Sik mengamati rumahnya. Sementara itu di rumah, Ma Rin penasaran untuk apa So Joon keluar.


So Joon mendekati Doo Sik. So Joon bertanya, apa yang dilakukan Doo Sik, apa Doo Sik mata-mata. Doo Sik menjawab kalau ia ke sana untuk memeriksa apakah So Joon baik-baik saja.

"Kau harusnya menelpon. Kau tidak baca catatanku?"

"Ya. Aku baca."


Ma Rin menyusul keluar dan melihat So Joon bersama Doo Sik. Ia bertanya-tanya, siapa Doo Sik itu.

"Kau melihatnya dan tidak menelponku? Ahjussi. Kau bilang hidupku akan di set ulang kalau aku menikah. Kau bilang masa depanku akan berubah, kan?"

"Ya."

"Sepertinya masa depanku malah jadi lebih kacau dan lebih rumit dari sebelumnya."



Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...