Saturday, February 25, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 7 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 7 Part 2


Young Jin menyuruh Sek. Hwang untuk membawakan data Kota Jangho. Sek. Hwang mengatakan proyek itu dibatalkan. Young Jin mengoreksi, siapa bilang dibatalkan, Young Jin menyuruh Sek Hwang untuk menyiapkan pendaftaran lahan dan informasi lengkapnya.

"Presdir berkeras membatalkan proyek itu." Jelas Sek. Hwang.

"Siapa yang berhak memutuskan proyek itu dibatalkan? Aku yang berhak! Bawa kemari. Cepat! Aku sibuk."


Malamnya, Young Jin membawa sketsa atas rencana itu pada Doo Sik. Doo Sik membolak-baliknya, ia tidak habis pikir meski berkali-kali melihatnya, ia hanya dengar Jangho bisa menghasilkan banyak uang.

"Perusahaan induk Grup LE dibangun di Jangho, hal itu tentu menimbulkan asumsi menguntungkan bagi orang sepertiku. Aku stres sekali. Presdir Yoo bersikukuh menolaknya. Aku tidak tahu alasannya. Kalau tidak berinvestasi, jelas kebodohan. Jadi, Presdir..." Jelas Young Jin.

Doo Sik tidak mau disebut presdir, Guru saja. Young Jin pun mengubah panggilannya, dengan menggebu Young Jin menjelaskan jika Doo Sik ingin menghasilkan banyak uang, ia bahkan bersedia mempertaruhan nama mendiang ibunya atas proyek ini. Tidak, tidak! ia akan pertaruhkan leherku di sini. Ia benar-benar merekomendasikan proyek ini.

"Kenapa mempertaruhkan lehermu segala? Santai saja, oke?"

"Saat ini diumumkan... aku jamin bisa menghasilkan keuntungan dua kali lipat. Jelas aku tahu kemampuan Presdir Yoo dalam bidang ini. Namun, kali ini Yoo So Joon 100% salah."

"Yoo So Joon sudah kehilangan kemampuan. Dia tidak mau berinvestasi di Jangho. Itu aneh sekali."


Doo Sik lalu mengatakan intinya, Jika ia berinvestasi Young Jin harus meninggalkan Myreits. Apa Young Jin siap memulai bisnis sendiri?

Young Jin berencana tetap di Myreits. Ia akan melakukan proyek dibelakang So Joon. Doo Sik agak terkejut, kalau soal uang yang jadi masalah, ia bisa mencukupinya, kok. Sayangnya bukan itu masalah utama Young Jin, da beberapa hal yang membuatnya harus tetap di perusahaan.

"Tetap saja, bukankah bahaya melakukannya diam-diam?" Tanya Doo Sik.

"Tidak bahaya, kok. Aku ingin membuat semua investor mengucurkan dana ke Kota Jangho. Setelahnya, baru aku akan mulai membangun perusahaanku sendiri. Pelan-pelan. Saat aku sudah mendapatkan kontrak tanahnya."

"Jadi, kau ingin mengambil alih semua klien Meyrits?"

"Guru, aku yakin kau sudah cukup tahu, tapi percayalah padaku. Pertimbangkan dengan pikiran positif."

Doo Sik tidak senang dengan tujuan Young Jin itu. Tapi ia berkata akan memikirkan tawaran Young Jin. (Ini Ahjussi baik hati ternyata, apa benar dia ayahnya Ma Rin?).


So Joon kelelahan karena bekerja terlalu keras sampai tidak bisa memakai sumpit. Ki Doong dan Se Young tersenyum karena tahu So Joon hanya pura-pura. Tapi tidak dengan Ma Rin, ia kelihatan khawatir.

"Kau sangat sakit?" Tanya Ma Rin.

"Berkat seseorang (Ma Rin)." Jawab So Joon.


Topik berganti, Ki Doong bertanya pada Ma Rin, apa So Joon cukup baik? Karena ia tahu So Joon sangat kekanakan jadi pasti berat hidup bersamanya. Ma Rin tidak menjawabnya, malah pergi untuk mengambil air.


Ma Rin selesai mengambil air. Ia bertanya pada pemilik restoran, punya koyo untuk nyeri otot tidak. Si pemilik punya lalu mengambilkannya untuk Ma Rin.


Se Young menceritakan apa yang ia dengar  dari ayahnya. Katanya Ma Rin tidak tahu apa pun soal So Joon dan Happiness. So Joon menjawab kalau Ma Rin sudah tahu dari Tuan Shin, jadi tidak perlu kuatir.

"Tapi, dia mengira hanya dia dan ayahku yang tahu soal itu.. Dia tidak tahu kalau Ki Doong dan aku juga tahu, jadi kita harus hati-hati bicara." Lanjut Se Young.

Saat itu Ma Rin kembali dan mendengar percakapan mereka. Se Young yakin Ma Rin mengira mereka juga tidak tahu karena Ma Rin saja tidak tahu.

"Astaga, kenapa wanita rumit sekali? Kenapa begitu penting siapa yang tahu apa atau tidak? Apa mereka baru puas kalau sudah tahu segalanya satu sama lain?" Kesal So Joon.

"Hei, kalian itu sudah menikah!" Jawab Ki Doong.

"Aku bukannya memihak Ma Rin. Tapi aku juga benci kalau kalian berdua mulai berbisik-bisik. Seolah menyimpan rahasia dariku. Hei, bagaimana bisa kami lebih tahu soal kau daripada isterimu?" Tanya Se Young.

"Bukankah wajar? Aku juga belum terlalu lama mengenal dia."

"Lalu bagaimana bisa kalian memutuskan menikah? Apa kau mencintai dia?"

"Pertanyaan macam apa itu? Hentikan." Larang Ki Doong.


Ma Rin mendekat, ia memberikan air dan koyo pada So Joon, setelahnya ia pergi dengan membawa tasnya. Mereka sadar kalau Ma Rin mendengar semuanya. Ki Doong lalu menyuruh So Joon untuk menyusul Ma Rin, cepat!


So Joon menghentikan Ma Rin, ia bertanya ada apa, kenapa Ma Rin bersikap seperti itu. Ma Rin menjawab kalau ia hanya ingin pulang dan ia menepis tangan So Joon.

"Katakan kenapa kau seperti ini? Seperti yang Se Young katakan, kau kecewa karena teman-temanku lebih tahu banyak tentangku? Sudah kujelaskan semua, kau tahu segalanya."

Ma Rin sendiri tidak tahu mengapa iabegitu marah dan terluka. ia hanya ingin pulang ke rumah, jadi biarkan ia sendirian. So Joon kembali menghentikan Ma Rin, kali ini dengan kata-kata.


"Sejujurnya, apa kau sungguh merasa terluka?"

"Apa?"

"Berapa lama kita saling mengenal? Bukankah memang perlu waktu untuk saling tahu lebih jauh? Harus seberapa keras aku mencoba untuk menyeimbangimu? Aku sudah jauh-jauh kemari untuk membuatmu merasa lebih baik."

"Terima kasih sudah mencoba. Kau tidak perlu memaksakan diri."

"Dengarkan aku sampai selesai.. Aku bahkan tidak pernah terlibat langsung dalam Happiness, sama sekali. Tahu seberapa sulit buatku datang kemari?"

"Kau tidak mengatakannya padaku, bagaimana aku bisa tahu? Aku penasaran, tapi kau tidak ingin membicarakannya."

"Apa yang sudah kau lakukan selain marah-marah? Kau bahkan tidak menghargai upayaku. Kau hanya mencoba mengubahku seperti yang kau inginkan. Kau tidak melihat sisi baik dariku? Katakan, memang pernikahan ini membuatmu rugi? Tidak! Aku..."


Ma Rin tidak pernah menghitung untung rugi. Se Joon melembut, maksudnya bukan begitu. Ma Rin menebak, apa maksud So Joon dirinya untung dan So Joon yang rugi. So Joon menjawab bukan.

"Aku hanya ingin menjadi orang terdekat buatmu. Aku tidak menginginkan hal lain. Hanya kau. Kalau itu saja terlalu serakah, lalu cinta itu artinya apa?"

"Jangan pergi."

"Lepaskan."

"Bagaimana kau akan ke Seoul selarut ini?"

"Jangan menyentuhku."


Ma Rin pulang ke Seoul dengan bis, ia menangis. So Joon juga bersedih. Perkataan So Joon pada Doo Sik diperdengarkan,

So Joon: Kau bilang, takdirku akan berubah setelah menikah. Kau bilang masa depanku akan berubah, 'kan?

Doo Sik: Benar.

So Joon: Aku rasa, hidupku jadi lebih tidak terduga dan rumit dibanding sebelumnya.


Se Young merasa So Joon benar-benar aneh. Ki Doong melarangnya bersedih, nikmati saja udaranya.

"Tapi, dia jauh-jauh kemari. Itu pasti karena dia sangat menyukai Ma Rin. Saat aku menyinggung soal donasinya, dia tidak mendengarkan dan berkata 'ya' saja. Dia bahkan tidak mendengar kata 'H' dari 'Happiness'. Dia pasti begitu menyukai Ma Rin." Lanjut Se Young.


Bis sampai di terminal dan Ma Rin ketiduran hingga pak supir membangunkannya. Ma Rin berjalan turun tapi mendadak ia pingsan.


So Joon sampai di rumah, ia membuka kamar tamu dan tidak menemukan Ma Rin.


So Ri buru-buru ke rumah sakit. Sebelumnya Ma Rin berpesan agar So Ri tidak memberitahu So Joon, ia hanya meminta So Ri menemaninya.

So Ri bertanya pada perawat, apa Ma Rin tidak sebaiknya dia ke rumah sakit yang lebih besar Perawat menjelaskan kalau Ma Rin terkena infeksi limpa, kebanyakan pasien boleh pulang setelah 2-3 hari. Suhu Badan Ma Rin tadi sampai 40 derajat disa tinggi lagi saat tidur, jadi perawat meminta So Ri untuk mengawasinya.

"Jangan menelepon dia. Tidak So Joon, maupun ibuku." Ujar Ma Rin dengan mata tertutup.

"Kau tidak tidur? Apa yang terjadi?"

"Maafkan aku."

"Kenapa kau minta maaf? Kenapa aku tidak boleh menelepon So Joon? Aku akan meneleponnya sekarang."

"Jangan menelepon dia."

Ma Rin kedinginan, ia lalu meringkuk dengan selimut menutupi kepalanya. 


So Joon keluar untuk menunggu Ma Rin dan saat tidak ada tanda-tanda kepulangan Ma Rin, So Joon pun kembali masuk. So Joon jadi teringat kata-kata Ki Doong di masa depan.

"Segala sesuatu tidak berjalan baik sejak kalian menikah. Maaf karena mengatakan ini padamu. Kau harus kembali sekarang dan berpisah dengan Ma Rin. Ini demi kebaikanmu maupun Ma Rin. Hanya ini yang bisa kukatakan padamu."


Hari berganti. So Joon menelfon Ibu mertuanya dari kantor untuk memeriksa apakah Ma Rin pulang ke rumah ibunya. So Joon bertanya, dimana ibu mertuanya? apa sedang sendirian?

"Aku sedang di salon dengan teman-temanku."

Artinya Ma Rin tidak kesana. So Joon lalu memutus telfon dan berjanji akan mengunjungi ibu mertuanya secepatnya.


"Dia tidak ke rumah ibunya?" Tanya Ki Doong.

"Aku juga tidak ingin mencarinya, kok. Dia boleh pergi sesuka hatinya. Aku tidak akan mencemaskan dia."

Ki Doong lalu mengingatkan So Joon untuk menghadiri rapat.


So Joon menghadiri rapt tapi ia sibuk dengan ponselnya. Direktur Wang mempresentasikan prediksinya di Annam-dong dan Bansan-dong yang kemarin sudah resmi dijadikan distrik khusus. Young Jin mendebatnya dengan tegas.

So Joon mencari kata kunci "ISTERI KABUR" di mesin telusur internet. Lalu pesan So Ri masuk yang mengabarkan kalau Ma Rin ada di rumah sakit. Tanpa bilang apa-apa pada yang lain, So Joon langsung berlari keluar.


So Joon sampai di kamar rawat Ma Rin dengan ngos-ngosan. So Ri memberi mereka waktu untuk bicara berdua. So Joon sangat khawatir,

"Kau... Apa yang terjadi padamu? Seberapa parah kondisimu?"

"Mereka bilang aku boleh pulang setelah 2-3 hari."

Soo Joon agak lega karena kondisi Ma Rin tidak terlalu parah. So Joon marah, kenapa Ma Rin membuatnya khawatir, kan harusnya menelfon kalau sakit. Ma Rin mengingatkan kalau So Joon kan biasa menginap di luar, Kenapa So Joon boleh sedangkan aku tidak?

"Hei, mana bisa sama?"


"Aku... tidak merasa kau keluargaku. Aku merasa seolah harus menyembunyikan hal berat darimu. Karena kau pun seperti itu. Setiap waktu, kau terlihat seperti orang yang berbeda. Kupikir aku tahu segalanya tentangmu. Rupanya, tidak sama sekali. Rasanya, kau bukan milikku."

"Jadi, kau... tidak merasa dapat mengandalkan aku."

"Itu maksudmu. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kulakukan. Mungkin kita terlalu buru-buru menikah. Aku memercayakan seluruh hidupku padamu. Apakah aku membuat sebuah kesalahan? Aku selalu ketakutan dan cemas."

So Joon menghapus airmatanya, "Mungkin bukan kau yang salah. Aku yang bersikap tidak wajar. Aku yang salah. Maafkan aku."

Ma Rin ingin sendirian, ia menyuruh So Joon pergi.


Ki Doong menelfon So Joon karena tadi pergi begitu saja saat rapat berlangsung. So Joon berkata kalau ia ada di Stasiun Namyeong sekarang, ia harus mencari tahu sesuatu.

"Apa?"

"Entahlah. Aku tidak tahu. Tentang kapan aku bisa menyelesaikan masalah dengan Ma Rin. Ki Doong, apa sekarang aku sangat menyedihkan?"

"Kau juga tahu jawabannya."

"Oke. Sampai jumpa."


So Ri membawakan makanan untuk Ma Rin. Ia mengatakan pada Ma Rin kalau So Joon seperti kehilangan semangat hidup. "Aku penyebab Ma Rin stres", So Joon bilang begitu lalu pergi. Ia merasa sangat sedih.

"Dia hanya mencoba menjadi korban."

"Kau benar-benar, ya. Ada apa, sih? Kau harus katakan sebabnya padaku, agar aku bisa memberi solusi."

"Tidak perlu. Aku mau makan daging dan mengumpulkan energi. Aku tidak ingin jadi lemah dan depresi."


Tepat saat Ma Rin memasukkan suapan pertamanya So Joon membuka pintu. Ma Rin terkejut hingga membuatnya tersedak. So Joon tidak tahu kalau Ma Rin sedang makan, ia menyuruh Ma Rin menikmati makanannya dan akan menunggu di luar.


Tidak beberapa lama kemudian Ma Rik keluar, ia mengatakan pada SO Joon kalau tadi itu makanan pertamanya, Kenapa So Joon masuk tepat saat seperti itu, sih?

"Ya, kelihatannya begitu. Wajahmu kelihatan sangat kurus." Jawab So Joon.

"Aku makan agar tetap hidup. Aku merasa sekarat."

"Kau melakukannya dengan baik."

Ma Rin melarang So Joon datang kesana lagi. So Joon bertanya, apa ada sesuatu lagi yang ingin Ma Rin makan. Ma Rin menjawab sedang tidak berselera. So Joon memaksa, pasti ada sesuatu yang ingin Ma Rin makan. Katakan saja, akan ia belikan.


"Apa saja?" Ma Rin memastikan.

"Ya."

"Bawakan buah beri gunung."

"Oke."

Ma Rin tersenyum, So Joon memang tidak tahu apa-apa soal tanaman. Ia mengingatkan kalau buah itu tidak bisa didapatkan di musim gugur. Lagian situasi mereka tidak bisa membaik hanya dengan makanan, jadi jangan coba menyelesaikan dengan makanan. Pulang saja!

So Joon mendekati Ma Rin, ia memastikan bahwa dirinya bisa membelikannya untuk Ma Rin. Sementara ia pergi, ia menyuruh Ma Rin masuk ke dalam. 


So Joon berhasil membelikan beri gunung untuk Ma Rin. Ma Rin heran, dimana So Joon membelinya. So Joon mengatakan kalau ia habis pergi dari tempat yang sangat jauh. So Joon bertanya lagi, apa yang Ma Rin ingin makan lagi.

"Aku tahu tidak bisa menyelesaikan ini dengan makanan. Tapi, kau harus makan dengan baik." Tegas Ma Rin.

Ma Rin meminta Sup mugwort dengan ikan segar yang baru ditangkap. So Joon menyanggupi. Ma Rin mengingatkan kalau So Joon tidak akan bisa mendapatkannya, karena ikan itu hanya tersedia di musim semi.

Tapi beberapa jam kemudian So Joon membawakan sup ikan segar itu membuat Ma Rin terkejut. Sementara So Joon hanya tersenyum lebar.

Ma Rin meminta bunga yang hanya tumbuh di musim semi dan So Joon bisa mendapatkannya.

"Tidak ada yang tak bisa kudapatkan untukmu." Kata So Joon.


So Joon berhenti di tugu/tiang kenangan para korban Kereta Namyeong. Di rumah sakit, Ma Rin menatap bunga pemberian So Joon, lalu telfonnya berdering dari So Joon.

"Apakah sup itu tidak keterlaluan tengah malam begini? Aku bahkan tidak tahu sup itu ada atau tidak di dunia ini." Tanya So Joon.

"Aku pun tidak tahu. Aku mendapatkannya di dunia maya. Mereka bilang, tidak mungkin dapat di musim gugur."

"Sekalian saja kau minta bintang di langit padaku."

"Aku sempat memikirkannya juga."


So Joon membahas soal pertemuan pertama mereka di Stasiun Namyeong lalu terjadi insiden itu. So Joon bicara jujur kalau ia sedang ikut orang tuanya saat itu. Mereka memaksanya ikut ke suatu tempat. Amal makanan.

"Oh. Kudengar, mereka mengelola Happiness saat masih hidup.

"Bukan mengelola, sih. Toh anggotanya hanya segelintir orang. Bagaimanapun, aku dipaksa ikut sekali-dua kali sebulan. Hari itu, Ayahku memintaku membantu bersih-bersih setelah acara. Lalu, secara tidak sengaja bertemu denganmu. Aku mengikutimu turun karena tidak ingin membantu. Mereka memanggilku, tapi aku tidak peduli."

"Itu bukan kesalahanmu."

"Tentu saja, tapi... dari sudut pandang orang tuaku..."

"Tidak. So Joon, jangan teruskan. Tidak apa-apa."

"Dari sudut pandang orang tuaku... saat terakhir mereka melihatku... Aku melarikan diri seperti anak kecil. Mereka meninggal.... dengan rasa kecewa terhadapku. Aku masih tidak suka harus memikirkan tentang hari itu. Aku tidak suka membicarakannya. Setelah hari itu... banyak hal terjadi padaku."



So Joon meminta, tidak bisakah mereka bertemu sekarang? Bolehkah... aku menemui Ma Rin sekarang? Ma Rin menangguk, ia menyuruh So Joon cepat datang. So Joon bertanya, apa yang harus ia bawa?

"Tidak usah. Cepatlah datang saja."

"Aku... Aku mungkin tidak bisa mengucapkannya langsung di depanmu, jadi kukatakan saja sekarang. Saat itu... ketika kau mengatakan bahwa kau bahagia selamat bersamaku. Kau berterima kasih padaku karena selamat bersamamu. Aku bersyukur mendengarnya."


So Joon berlari menuju rumah sakit dan Ma Rin mencuci wajahnya untuk menyambut So Joon.


Ma Rin turun ke lobi. So Joon sampai dan memanggilnya. Ma Rin menoleh menghadap So Joon. So Joon mendekati Ma Rin, mereka saling memandang beberapa saat barulah So Joon melangkah semakin dekat lalu memeluknya. Ma Rin pun balas memeluk So Joon.


2 komentar

Aku jadi makin Yakin kalo doo sik itu ayah nya ma rin. Makin seru... Semangat ya chingu nulis sinopsisnya

Iya, soalnya Doo Sik kesannya melindungi Ma Rin lewat So Joon dan ia ingin menyingkirkan musuh So Joon.. Semangat!!

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon