Friday, March 10, 2017

Sinopsis Defendant Episode 13 Part 1

Tags

Sumber Gambar dan Konten dari SBS

Sinopsis Defendant Episode 13 Part 1


Kepala Sipir kembali ke rutan, ia bernyanyi sambi jalan menuju ruangannya tapi langsung berhenti tatkala sampai di ruangannya. Pintu ruangannya rusak, ia berteriak memanggilpetugas jaga.


Petugas (Kepala Keamanan) menyadari ada tahanan yang kabur, ia akan menembak mereka tapi Tae Soo menghalangi. Jung Woo dan yang lain melihat hal itu juga, tapi Jung Woo tetap memutuskan untuk lari.



Sirine berbunyi, teman-teman di sel kembali terbangun. Woo Ruk paling heboh. Mil Yang yakin mereka tidak tertangkap karena sirine-nya mendadak mati. Woo Ruk ragu mereka bisa sampai stasiun. Sementara Bang Jang yakin Jung Soo akan melakukannya dengan baik.


Kepala Sipir membawa ajudannya menuju sel Jung Woo. Woo Ruk, Bang Jang dan Mil Yang pura-pura tidur. Kepala Sipir berteriak menyuruh mereka bangun, sementara petugas yang lain menggeledah dan menemukan denah rutan yang digambar Jung Woo.

"Apa mereka kabur?" Tanya Woo Ruk pura-pura bodoh.


Kepala Sipir langsung menerjunkan tim-nya untuk menemukan Jung Woo dan yang lain. Sementara itu di menara, Kepala Keamanan memarahi Tae Soo, apa Tae Soo ingin melihatnya terbunuh, HAH!


Kepala Keamanan sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk marah. Ia melepas tali yang mereka gunakan untuk kabur karena mereka berdua akan tamat jika Kepala Sipir tahu Jung Woo dkk kabur dari menara itu. 
Kepala Keamanan turun, ia meminta Tae Soo mengikutinya. Tepat saat ia keluar dari menara Kepala Sipir memanggilnya lewat walkie-talkie, menyuruhnya untuk menemukan tahanan yang kabur.

Setelah itu ia memastikan agar Tae Soo tutup mulut perihal Jung Woo yang kabur lewat menara kemanan tiga. Ia memberikan tali itu pada Tae Soo untuk dimusnahkan, lalu berlari menjalankan tugas. 

"Hyeong. Berhati-hatilah."


Moong Chi kehabisan nafas, ia tidak sanggup berlari lagi. Cheol Sik menariknya untuk cepat karena mereka bisa tertangkap nanti. Jung Woo yang lari paling depan kembali, ia mengajak mereka berpencar karena jika sama-sama terus mereka semua akan tertangkap.

"Kalian berdua, jalanlah duluan. Nanti aku susul."

"Park Jung Woo." Cheol Sik tidak setuju.

"Itu ide bagus." Jawab Moong Chi.

Cheol Sik kesal tapi ia setuju dengan ide Jung Woo. Ia menanyakan dimana mereka akan bertemu. Jung Woo menjelaskan kalau ke stasiun sudah terlambat jadi bertemu di Pabrik Woljeong saja, ia tahu ada truk yang meninggalkan pabrik dini hari.


Jung Woo terus berlari melewati hutan hingga ladang pertania. Sementara petugas menyebar di daerah itu.


Jung Woo kira sudah aman jadi ia berhenti tapi ternyata ia malah melihat ada mobil polisi sedang patroli dan mendadak petugas polisi muncul, menodongnya dengan pistol. Polisi itu kayaknya masih baru karena masih gemetar saat memegang pistol. Jung Woo menenangkan, ini bukan masalah besar.

"Tenanglah. Aku mendengar suara sirine." Jawab Polisi.

"Tidak masalah. Semua akan baik-baik saja." Ucap Jung Woo sambil perlahan-lahan mendekat.


Moong Chi dan Cheol Sik sampai di sekolah yang dimaksud Jung Woo. Mereka berjalan masuk perlahan-lahan, tapi tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Mereka berdua berbalik dan melotot kaget. Tanpa pikir panjang, keduanya mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung sekolah.

Petugas juga mendengar bunyi itu, mereka bergegas menuju sumber bunyi berasal.


Jung Woo tumbang membuat polisi panik, apa Jung Woo pingsan. Polisi lalu mengantongi pistolnya. Ia akan memeriksa keadaan Jung Woo, jadi kewaspadaannya mengendor. Jung Woo menggunakan kesempatan itu untuk melumpuhkannya, ia memborgol polisi. Jung Woo minta maaf, lalu kabur.


Polisi satu lagi muncul dari balik semak-semak. Ia terkejut mendapati temannya diborgol, lalu ia pun melepaskan borgol itu segera. Petugas rutan tiba, menanyakan kemana perginya Jung Woo.

"Ada masalah apa ini?" Tanya Polisi itu.

"Kami melakukan latihan simulasi. Ke mana dia pergi?" Jawab Petugas.

Polisi muda tadi menunjukkan arah Jung Woo berlari.


Moong Chi dan Cheol Sik sudah berada di dalam gedung sekolah.

"Apa menurutmu Tahanan 3866 sudah kena tembak?" Tanya Moong Chi.

"Kenapa juga dia harus kena tembak?" Kesal Cheol Sik.

"Aku dengar suara tembakan tadi. Kalau dia tidak mati dengan satu tembakan, nmereka pasti akan menembakinya terus."

"Sialan kau, bikin aku jantungan saja. Berhentilah menggunakan otak bodohmu itu.. dan ganti sajalah pakaianmu. Jangan mengatakan yang tidak-tidak."


Mereka sudah menemukan kardus pakaian. Tapi tiba-tiba Cheol Sik mendengar sesuatu.

Mobil petugas rutan yang dipimpin Kepala Keamanan sampai di halaman sekolah tanpa menyalakan lampu mobil. Kepala Keamanan mengomando anak buahnya untuk mencari dengan tenang.


Kepala Keamanan menemukan sepatu yang digunakan para tahanan. Tapi anehnya dia malah mengajak anak buahnya pergi dari sana karena sudah selesai melakukan pemeriksaan. 


Moong Chi melihat mobil mereka pergi. Ia pun menyuruh Cheol Sik untuk bergegas.


Belum jauh meninggalkan sekolah, Kepala Keamanan menyuruh supir untuk menghentikan mobil, mengatakan kalau mereka masih ada di dalam. Jadi rencananya, mereka akan turun perlahan-lahan dan menangkap mereka sekaligus.

Gerombolan petugas kembali masuk gedung sekolah diam-diam. Cheol Sik dan Moong Chi jalan santai menyusuri lorong karena mengira mereka sudah pargi tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang menginjak kaleng. Kepala Keamanan menegur anak buahnya yang tidak hati-hati.


"Apa itu? Kau bilang mereka sudah pergi." Tanya Cheol Sik.

"Mereka memang sudah pergi, kok." Jawab Moong Chi.

Lalu terlihatlah cahaya senter petugas, mereka cepat-cepat bersembunyi saat petugas sampai pada lorong yang mereka lalui. Niatnya sih, mereka ingin membuka sebuah pintu tapi karena terkunci mereka memutuskan untuk berlari ke arah berlawanan dengan petugas.

Moong Chi lagi-lagi membuat kesalahan, ia menendang kaleng sehingga menimbulkan suara ribut. Kepala Keamanan dan yang lain mendengarnya, maka mereka semua berbalik arah menuju asal suara itu.

Cheol Sik dan Moong Chi berhasil keluar gedung, tapi di halaman,petugas menantinya dengan senjata laras panjang. Mereka menyadari hal itu terlebih dahulu dan menggunakan kesempatan itu untuk bersembunyi.


Kepala Keamanan mendapat kabar dari walkie-talkie kalau Jung Woo sudah ditemukan dan sedang menuju stasiun kereta. 20 Menit lagi kereta pertama tiba, Kepala Keamanan mengomand anak buahnya untuk bergerak ke stasiun segera. Sebelum pergi ia memeriksa sekali lagi, untunglah tidak melihat apa-apa.


"Lihat? Jeong Woo tidak kena tembak." Ucap Cheol Sik.

"Kau benar. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kita harus menuju ke titik pertemuan. Jung Woo akan datang.. tidak peduli bagaimanapun caranya."

Mereka ternyata bersembunyi di sebuah lubang.


Jung Woo dikejar-kejar petugas. Dia hebat lho, petugas segitu banyak tidak ada satupun yang bisa menyusulnya. Petugas memerintahkan untuk menghalangi semua titik yang biasa dijadikan rute pelarian.

"Ha Yeon. Ayah akan segera datang." Yakin Jung Woo.


Kepala Sipir masih di rutan, ia mengumpulkan ajudannya guna mendapat labar dari petugas di lapangan. Ia memerintahkan untuk fokus menangkap Jung Woo saja karena yang lain nanti akan menyusul.

Petugas menggelar peta di meja. Kepala Sipir melihat ada sebuah pabrik sebleum rute ke stasiun. Ia bertanya, siapa yang sikirim ke Pabrik itu.


Moong Chi dan Cheol Sik sampai di pabrik. Jung Woo belum juga datang padahal 20 menit sudah berlalu. Moong Chi mengajak Cheol Sik pergi kalau Jung Woo tetap belum datang.

"Kau ini benar-benar tidak setia kawan."

"Aku memenangkan lotere, kunyuk."

"Karena itulah aku hidup sebagai orang jahat. Bahkan ketika orang sepertimu memenangkan lotere. Kau jadi lebih busuk dari sampah makanan."

"Kau juga."


Perdebatan mereka terhenti saat ponsel yang dipegang Moong Chi berbunyi. Mereka berdua sam-asama tidak mau menerima telfon itu sampai Cheol Sik tidak sengaja menggeser layar membuat telfon terangkat.

"Halo?" Tanya Mereka bersamaan.


Kepala Sipir memutuskan untuk pergi ke Pabrik sendiri. Ia membentak Ajudannya untuk menginjak pedal gas mobil kuat-kuat.


Jung Woo sampai di belokan menuju pabrik, di belakang mobil petugas semakin mendekat. Jung Woo bisa tersenyum, semuanya akan baik-baik saja. Tapi tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti tepat di depannya. Itu adalah mobil Eun Hye, Cheol Sik dan Moong Chi sudah ada di dalam mobil, mereka semua menyuruh Jung Woo untuk segera masuk. Setelah itu mereka segera meninggalkan pabrik.


Kepala Sipir sampai di pabrik tak lama kemudian. Petugas sudah melakukan pemeriksaan tapi Jung Woo dkk tidak ada di sana. kepala Sipir kesal karena di stasiun juga tidak ada siapa-siapa.

"Haruskah kita minta bantuan polisi?" Saran petugas.

"Kau mau dipecat?"

"Tapi, Kepala. Kalau kita kehilangan mereka.."

"Minta bantuan polisi."


Jung Woo heran, padahal ia sudah mengatakan akan mengontak Eun Hye jika ia sampai di Seoul. Eun Hye mengingatkan kalau Jung Woo melarangnya percaya pada klien.

Moong Chi dan Cheol Sik menggodai Eun Hye. Moong Chi mengaku kalau ia memenangkan lotere, jika Eun Hye punya keinginan katakan saja. Eun Hye hanya tersenyum.


Kepala Jaksa meminta bantuan Jaksa kepercayaannya untuk memimpin unit khusus. Tujuan mereka adalah untuk menjatuhkan Chamyung Group dan mereka semua sudah mulai bekerja keras. 

"Omong-omong, Chamyung Grup mungkin saja akan sadar soal ini, 'kan?" Tanya Kepala Jaksa.

"Bahkan jika kita mencoba untuk menyembunyikannya, mereka memiliki mata di mana-mana di sini. Mereka mungkin akan mencari jalan keluar."

"Karena aku ada di Unit Pembunuhan, hanya kaulah yang bisa kumintai bantuan."

"Jangan cemas. Aku akan segera membawa kabar baik."

"Aku harus mempercayai Unit Khusus."

"Omong-omong, bagaimana bisa kau memberikan informasi sebanyak ini?"

"Saat aku menginvestigasi Chamyung Grup, aku bertemu dengan seseorang."


Jaksa Chamyung Group menerima informasi bahwa tidak ada celah dalam kasus ini, jaksa lain juga tidak ada yang mau membantu karena bukti yang unit khusus miliki sangat menentukan.

"Apa kau sudah tahu siapa yang menyerahkan semua dokumennya?"

"Belum. Tapi saya sedang mencari tahu."

Disana juga ada sekretaris Seon Ho. CEO Cha menanyakan keberadaan Min Ho, Sekretaris mengatakan kalau Min Ho ada di rumah dan masih belum tahu apa-apa soal kasus ini.

"Kalau Presdir Cha bisa bertanggung jawab untuk ini.. Saya tahu ini tidak akan mudah bagi Anda, tapi itulah yang bisa saya sarankan." Keputusan Jaksa.

"Seon Ho... tidak akan menerimanya dengan mudah."

"Baik dia menerimanya atau tidak.. pada akhirnya dialah yang harus bertanggung jawab penuh.. karena hukum tidak bisa dielakkan."

"Hubungi Kejaksaan."


Setelah sendirian di ruangannya, CEO Cha bergumam, "Min Ho. Kau harus membayar semuanya.. karena kau sudah berani mengambil posisi kakakmu, Seon Ho."


Saat sarapan bersama, CEO Cha mendadak mengatakan kalau ia akan mewakilkan satu demi satu Chamyung Group pada Min Ho.

"Aku akan berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan." Jawab Min Ho.

"Chamyung Grup akan menjadi milikmu sekarang. Jagalah ini dengan baik.. agar kau bisa mewariskannya pada Eun Soo nanti."

Kok Yeon Hee kelihatan tidak senang ya?


Saat mengantar Min Ho yang akan berangkat kerja, Yeon Hee membahas mengenai kedatangan CEO Cha. Min Ho menjawab mungkin ayahnya merindukan Eeun Soo.

"Yeon Hee. Apa maksudnya itu? Dokumen perusahaan yang dibuat Seon Ho? Apa Ayah tahu soal itu?"

"Aku memberitahumu hanya karena aku mencemaskanmu."

"Jangan cemas. Semuanya sudah berakhir. Aku berangkat kerja dulu."

Kilas Balik...


Yeon Hee lah informan Kepala Jaksa, ia memberikan dokumen-dokumen tersebut pada Kepala Jaksa. Yeon Hee memberikan itu karena mendengar, Kepala Jaksa sedang melakukan investigasi pada Chamyung Grup. Kepala Jaksa tidak menyangka akan mendapatkan itu dari menantu Chamyung  Grup.

"Ini karena ayahmu, Ketua Na Jin Wook yang sudah meninggal, 'kan?" Tebak Kepala Jaksa.

"Aku harap ini bisa membantu investigasimu."

"Apa kau yakin soal ini? Ini mungkin akan menyakiti suamimu."

"Kalau seseorang harus terluka, tentu saja aku harus menerimanya."

Kilas Balik Selesai...



Yeon Hee pergi melayat ayahnya, "Ayah. Di sana dingin sekali, 'kan? Tunggu.. sebentar lagi."


Sekretaris terus melirik Min Ho saat menyetir dan itu membuat Min Ho tidak nyaman. Saat itu Sek menelfon, mengatakan kalau ia sepertinya akan menangkap Seong Kyu sebentar lagi. Min Ho tersenyum lalu menutup telfon.

Min Ho membahas soal Sekretaris Kim yang sedari tadi meliriknya, apa ada masalah. Sekretaris Kim cepat-cepat menjawab tidak ada.


Sampai di kantor, Min Ho sudah ditunggu banyak wartawan yang ingin mengonfirmasi soal kasus penipuan/pendanaan ilegal yang dituduhkan pada Min Ho. Min Ho menjawab dengan tenang kalu semuanya sudah  tuntas.

Tiba-tiba mobil jaksa datang, dengan menunjukkan surat perintah penahanan. Jaksa menangkap Min Ho karena penipuan keuangan, penggelapan dan membuat penggalangan dana ilegal.

"Apa yang kau katakan?" Tanya Min Ho.

"Mohon ikut dengan kami. Wartawan ramai di sini."

Min Ho pun setuju.


Sementara itu, CEO Cha memperhatikan penangkapan Min Ho itu dari dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari sana.


Kepala Sipir mencoba meminta bantuan agar posisinya tetap aman. Ia meminta Kepala Polisi untuk tutup mulut atas kaburnya Jung Woo (karena yang terlihat oleh polisi hanya Jung Woo). Ia minta waktu beberapa hari, pasti akan menangkap Jung Woo.


Kepala Keamanan mengetuk pintu saat Kepala Sipir menyudahi telfonnya. Kepala Sipir bisa paham kenapa Jung Woo (terpidana mati) dan Cheol Sik (terpidana seumur hidup) melarikan diri. Tapi tidak mengarti kenapa Moong Chi yang masa hukumannya tinggal beberapa hari juga ikut-ikutan.

"Saya tidak tahu juga, Pak." Jawab Kepala Keamanan.

"Kirimkan orang ke rumah dan kampung halaman mereka. Kau harus menangkap mereka. Kalau tidak, kita semua akan kena pecat." Perintah Kepala Sipir.

"Baik, Pak." Jawab Kepala Keamanan lalu keluar.


Kepala Sipir semakin kesal karena disaat seperti ini,  Min Ho malah buat masalah. Ini bagus atau tidak sebenarnya, sih?

Seoul:


Eun Hye menghentikan mobilnya di auatu jalan. Dari tadi mereka mendengarkan berita dan tidak ada berita soal pelarian Jung Woo dkk. Jung Woo menebak kalau pihak rutan menyembunyikannya karena mereka semua pasti dimintai pertanggungjawaban jika petinggi tahu ada 3 narapidana yang melarikan diri.

"Aku tidak yakin sampai kapan mereka akan menyembunyikan ini. Untuk sementara ini akan membuat kita jadi mudah bergerak."

"Kita harus segera menemukan Ha Yeon. Aku harus segera menuju ke RS Maria."

"Dia pasti masih di sana, 'kan?"

"Harusnya iya."


Tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Jung Woo pun membangunkan mereka berdua yang dibelakang. Woo Ruk ingin mereka berhati-hati, jangan sampai tertangkap sebelum ia berhasil mendapatkan uang loterenya. Sementara itu, Cheol Sik akan tetap mengikuti Jung Woo karena ia tidak punya tempat tujuan.

"Anak buahku akan membunuhku begitu mereka melihatku." Lanjut Cheol Sik.


Sebelum turun, Moong Chi mendoakan agar Cheol Sik beruntung dan Jung Woo bisa menemukan Ha Yeon. Untuk Eun Hye, ia pinjam uang soalnya ia tidak bawa uang sama sekali. Eun Hye mengingatkan, apa Moong Chi bawa KTP.

"KTP-ku! Benar. Terima kasih. Jangan lupa untuk mengatakan apa yang kau inginkan dariku nanti, ya!"


Seong Kyu mengajak Ha Yeon makan sandwich di luar. Ha Yeon rindu neneknya, ia tahu alamat rumah neneknya dan meminta Seong Kyu untuk mengantarkannya ke sana.

"Ha Yeon, bagaimana kalau ayahmu datang saat kau ke rumah nenekmu? Kau tidak akan bisa bertemu dengannya. Ayahmu akan segera tiba. Kita akan ke rumah nenekmu bersama-sama kalau ayahmu sudah datang. Setelah makan sandwich, ayo pulang dan menonton kartun." Bujuk Seong Kyu dan Ha Yeon mengangguk mengerti.


Seok membuka kamar Seong Kyu dan Ha Yeon. Disana selimutnya masih berantakan dana ada beberapa sampah juga. Seok yakin mereka tidak pergi jauh, lalu memerintahkan anak buahnya untuk mencari mereka.


Untunglah Seong Kyu melihat mereka saat berpencar di luar rumah. Ia langsung menarik Ha Yeon untuk bersembunyi, ia mengajak Ha Yeon untuk melihat kucing. 

"Bagaimana kalau ayah datang saat aku sedang melihat kucing? Aku akan melihat kucing bersama ayah."

"Baiklah.. Paman akan menelpon ayahmu.. dan mengatakan padanya kalau kita pergi melihat kucing."

Ha Yeon mengangguk mengerti dan Seong Kyu bergegas berlari bersama Ha Yeon. Seok melihat mereka dan mengikuti mereka.


Seong Kyu mengajak Ha Yeon bersembunyi di sebuah bangunan kosong, Seok menyisir bangunan itu tapi ia tidak melihat mereka.  


Seong Kyu langsung membawa Ha Yeon ke mobil saat Seok lengah. Seok kehilangan mereka tapi ia tetap tersenyum. OMG.. di mobil Seong Kyu dipasangi alat pelacak.


Eun Hye masuk ke RS Maria mencari Ha Yeon, sayangnya Ha Yeon sudah keluar dari rumah sakit tapi pihak rumah sakit memberikan alamat Ha Yeon. Cheol Sik lega, semua akan beres saat mereka menemukan Ha Yeon.

Jung Woo melihat sekilas mobil yang lewat di depan mereka. Ia mengenali Seok sebagai anak buahnya Min Ho. Ia lalu membagi tugas, menyuruh Cheol Sik pergi ke alamat Ha Yeon, sementara ia dan Eun Hye akan mengikuti mobil Seok.

"Telpon aku ke nomor yang tadi kupakai menelponmu." kata Eun Hye.

Mereka pun bergerak sesuai tugas masing-masing.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...