Wednesday, March 1, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 12 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 12 Part 2


Hwan Gi tiba-tiba menugaskan Gyo Ri dan Se Jong sebagai penanggung-jawab proyek promosi perhiasan. Mereka sih setuju saja tapi tidak mengerti bagaimana caranya. Hwan Gi lalu menugaskan Yoo Hee dan Sun Bong untuk membantu mereka.


Hwan Gi lalu keluar dan Ro Woon mengikutinya,

"Apa itu? Kau cupid (malaikat cinta), ya?" Tanya Ro Woon.

"Aku hanya membantu sinyal mereka saling menangkap."

Yi Soo melihat mereka berdua. Baju yang dipakai Ro Woon adalah baju yang dipilihnya tadi. Jadi ia sudah menemukan wanita yang berhasil menggempur dinding baja kakaknya.


Ro Woon tidak mengikuti Hwan Gi terus, ia berbalik da melihat Yi Soo, ia pun menghampirinya. Ro Woon menunjuk ke arah perginya Hwan Gi, kalau Yi Soo mau bertemu Hwan Gi. 

"Tidak, aku datang menemui Woo Il Oppa. Aku kemari untuk memastikan ukuran cincin pernikahan kami. Kalau ada waktu, kau mau datang ke pernikahan kami?"

"Kalau diundang, aku pasti datang dengan senang hati."


Gyo Ri memprotes Se Jong yang tidak melakukan papun malah melipat kertas. Se Jong menjelaskan, ide tidak muncul dari membaca data. Ide muncul dari intuisi dan di saat seseorang memang mengharapkannya.

"Jadi, kira-kira kapan idemu muncul?"

"Astaga. Aku terkurung di ruangan sempit ini, jadi aku tidak akan bisa berpikir dengan benar."

Se Jong pergi dan meminta Gyo Ri menunggu sebentar.


Gyo Ri mengeluh, "Kenapa Bos...maksudku Hwan Gi memberiku tugas begini?"

Sun Bong melihat Gyo Ri dan mendengar keluhannya, ia akan mendekat tapi keduluan Se Jong.

Se Jong mengajak Gyo Ri keluar untuk bertemu orang banyak. Siapa tahu dapat inspirasi. Gyo Ri tidak merasa ini waktunya untuk keluar tapi Se Jong memaksa dan menariknya. Sun Bong kecewa deh..


Se Jong dan Gyo Ri nongkrong di kafe sambil memperhatikan setiap orang yang lewat. Mereka mengomentari satu per satu. Tapi pendapat Se Jong selalu berlawanan dengan Gyo Ri, saat Gyo Ri bilang bagus Se Jong malah merasa sebaliknya.

"Se Jong, kau tidak tahu apa-apa, ya?" Kesimpulan Gyo Ri.


Mereka pindah ke penjaja perhiasan kaki lima. Mereka mencoba banyak perhiasan yang dijajakan.


Se Jong kemudian mengajak Gyo Ri ke taman. Ia dulunya tinggal di dekat sana dan ia menjelaskan apa saja yang ada di sana.

"Tapi, apa kita tidak terlalu banyak main-main? Sebaiknya kita lekas bekerja." Tanya Gyo Ri.

"Tidak apa. Kita kan kemari untuk merasakan gejolak darah muda. Saat mendapatkannya, kita bisa memiliki ide-ide yang segar."


Se Jong mendadak menyalakan musik keras-keras lewat ponselnya dan berjoget ria mengikuti alunan musik. Gyo Ri malu, ia menyuruh Se Jong berhenti tapi Se Jong tidak mau, akhirnya ia membawa lari ponsel Se Jong.


Mereka mengakhiri jalan-jalan dengan makan Ttoppokki dan Ohmuk di pinggir jalan. Se Jong mekan dengan sangat lahap membuat Gyo Ri bercanda kalau Se Jong tidak kelihatan seperti cucu presdir Kwon.

"Aku kelihatan miskin, ya?"

"Bukan itu maksudku."

"Ini rahasia, ya. Tapi banyak yang bilang begitu, sih."

Gyo Ri pun ketawa tapi sejujurnya ia juga mengakui itu. Se Jong kesal dan menyuruh Gyo Ri membayar makanannya.


Se Jong mengatakan idenya pada yang lain, Kolaborasi seni. Sun Bong mencibir kalau ide itu pasaran sekali. Se Jong ternyata belum selesai,

"Kita gabungkan antara bakat seniman baru dalam produk perhiasaan dari perusahaan tersebut. Pasti akan menghasilkan inovasi segar atas produknya. Kita buat edisi terbatas, jadi harganya akan melambung."

Yoo Hee tidak yakin akan hal itu, lagi pula, sulit bekerja sama dengan seniman. Se Jong lalu menanyakan pendapat Hwan Gi. Hwan Gi malah melemparnya pada Gyo Ri.

"Ide Se Jong kedengaran brilian, jadi aku sepakat..."

Hwan Gi pun setuju dan menyuruh mereka untuk segera menulis proposalnya. Se Jong senang dan mengajak Gyo Ri tos.


Ro Woon pulang dan ayahnya mencukur pelanggan seperti biasa. Ia lega karena ayahnya baik-baik saja. Ro Woon masuk ke kamarnya dan semua bunganya hilang berserta foto-fotonya. Di ruang keluarga foto kakak dan ibunya pun tdak ada.


Ro Woon keluar dengan membawa koper. Ia menanyakan pada ayah dimana foto kakaknya dan ibu. Ayah melarang Ro Woon mencarinya, lupakan saja semuanya.

"Aku sudah hidup sebagaimana Ayah inginkan. Saat pulang ke rumah, aku berdiam diri. Seolah kita sudah mati semua. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin bersama dia..."


Plak! Ayah menampar Ro Woon, walaupun setelahnya ia menyesali itu. Ro Woon tidak gentar, ia mengatakan kalau Hwan Gi akan kerumah, Hwan Giakan katakan kebenarannya.

"Chae Ro Woon!"

"Ayah sering bertemu dia, pasti Ayah juga tahu. Dia bukan orang jahat."


Ayah merenungkat kata-kata Ro Woon dan sepertinya ia setuju. Ayah mengingat saat Hwan Gi menangis dulu.


Ro Woon datang ke Hwan Gi dan menumpahkan tangaisnya dipelukan Hwan Gi. Hwan Gi tidak berkata apa-apa, hanya membalas pelukan Ro Woon sampai Ro Woon sampai merasa tenang.


Setelah Ro Woon berhenti menangis, Hwan Gi memberinya teh. Hwan Gi lagi-lagi menyuruh Ro Woon pulang. Ro Woon kembali mewek.

"Meskipun kau menangis, tidak akan mempan. Pulang sana."

"Astaga, dasar kejam."


Yoo Jung datang untuk mengajak Hwan Gi minum, ia terkejut melihat Ro Woon juga ada disana. Ro Woon mengerti sekarang jadi maksud Hwan Gi menyuruhnya pulang adalah karena Yoon Jung.

"Yoon Jung, kau tidak bilang akan datang..." Ujar Hwan Gi.

"Aku tidak tahu kau sedang bersama wanita lain. Ditambah, kau membuatnya menangis. Apa yang terjadi? Ro Woon-ssi, kau habis dicampakkan olehnya? Kalau begitu, aku tunggu di luar."

Ro Woon tertawa garing. Hwan Gi menjelaskan kalau ia tidak membuat Ro Woon menangis. Yoo Jung lalu mengajak keduanya untuk minum bersama.

"Kita bertiga?" Ulang Hwan Gi.

"Tidak bisa?" Tanya Yoon Jung.

"Chae Ro Woon harus pulang. Sudah larut."

"Begitukah? Aku sangat senang kalau begitu."

Ro Woon mengelaknya, belum terlalu malam kok dan ia bersedia minum bersama.


Hwan Gi membuat peraturan, masing-masing hanya boleh segelas setelah itu bubar. Hwan Gi memilih duduk disamping Yoon Jung dan itu membuat Ro Woon tidak senang. Yoon Jung mengompori Ro Woon dengan merangkul lengan Hwan Gi.

Ro Woon kesal, ia ingin segera minum, ia akan membuka tutu wine-nya dan Hwan Gi merebutnya.

"Bukankah Hwan Gi sangat bijaksana? Dia bijaksana,sopan, tampan, dan atletis." Ujar Yoon Jung.

"Apaan itu? Aku sedang di sini. Hentikan."

"Dia pria yang irit bicara, jadi kadang membuatku bingung. Tapi, aku rasa itu seksi."

"Seksi? Hentikan."


Yoon Jung menjelaskan kalau ia dan Ro Woon sepakat untuk memperebutkannya. Hwan Gi menganggap itu lelucon dan menyuruh Yoon Jung segera menghentikannya.

Yoon Jung serius, ia meminta Ro Woon mengakui kalau ia dan Hwan Gi terlihat serasi. Ro Woon kesal, seandainya ia agak lebih tinggi pasti tidak akan terkalahkan. Hwan Gi menahan tawanya mendengar itu.

"Apa jangan-jangan.. cinta pertamanya itu... Kakak?"

Hwan Gi tersedak kaget. Ro Woon mendapat jawabannya, benar memang Yoon Jung lah orangnya yang membuat Hwan Gi memakai hoodie selama ini. Yoon Jung akan mengatakan kebenaran saat kulaih dulu tapi Hwan Gi melarangnya keras.

"Apa itu? Kisah yang hanya kalian berdua ketahui, aku tidak. Aku penasaran sekali!" Tanya Ro Woon.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak ceritakan juga sesuatu yang hanya kalian berdua ketahui? Seberapa jauh hubungan kalian?"

Hwan Gi meminta mereka untuk berhenti, sudah cukup!


Ro Woon tersipu. Yoon Jung hanya terkejut, sejak kapan selera Hwan Gi berubah jadi gadis pendek kekanakan. Ro Woon tentu saja kesal mendengarnya tapi ia punya senjata lebih, ia mengungkapkan bahwa mereka sudah tidur bersama dua malam berturut-turut.

"Kurasa, kalian hanya tidur berdampingan saja." Tebak Yoon Jung dan Hwan Gi langsung mengiyakannya tanpa berpikir.

Yoon Jung terkejut, bagaimana bisa pria dan wanita... hanya tidur bersama tanpa melakukan apa pun? Ditambah, dua hari berturut-turut? Oh astaga, kedengarannya serius.

Ro Woon menenggak habis wine-nya, "Aku tidak akan tidur saja malam ini. Aku tidak akan membiarkan dia tidur malam ini. Kupastikan itu."

Yoon Jung meminta Hwan Gi memilih antara dirinya dan Ro Woon, jika Hwan Gi harus mencium salah satu dari mereka. Hwan Gi tidak menjawabnya, ia hanya terus minum dan minum.


Gara-gara kebanyakan minum Hwan Gi mabuk duluan menyusahkan Yoon Jung dan Ro Woon. Hwan Gi menyuruh Ro Woon dan Yoon Jung saja yang ciuman.


Dalam mabuknya, Hwan Gi mengungkapkan bahwa ia dan Ro Woon pernah berciuman di shower. Hwan Gi masih memaksa keduanya untuk berciuman tapi sebelumnya ia menyuruh mereka untuk menunjukkan gigi masing-masing. Yoon Jung yang tidak ada apa-apa pun menurut tapi Ro Woon yang trauma (sayuran nempel di giginya) menutup mulutnya rapat-rapat.

Hwan Gi semakin ngaco dan mereka berdua sepakat untuk menyuruhnya tidur saja.

"Kau ambil saja dia! Ku pikir aku tidak ingin dia!" Ucap Yoon Jung.


Yoon Jung dan Ro Woon duduk bersama untuk menghabiskan wine. Ro Woon bertanya, bagaimana Yoon Jung bisa tahu semuanya. Sebelumnya Yoon Jung juga tidak tahu banyak termasuk soal Ro Woon.

"Kapan ya aku akan diberitahu semuanya? Keluh Ro Woon.

"Percaya saja padanya, tunggu sebentar lagi. Jangan tidak sabaran."

"Aku merasa takut. Bagaimana jika kebenaran yang dia katakan bukan sesuatu yang dapat kuatasi? Bagaimana jika... aku tidak bisa memaafkan dia?"

"Alasan dia terus diam... sudah pasti bukan keinginan maupun demi keuntungan pribadinya. Seperti itulah Hwan Gi yang aku kenal. Jangan takut. Kalau kau tidak sanggup, aku bisa kok berada di sisinya."

"Wow, aku tidak boleh mengendurkan kewaspadaan."


Ro Woon mengubah topik, kapan Yoon Jung akan pergi. Yoon Jung menjawab setelah Ro Woon pergi. Ro Woon mengatakan kalau ia akan menginap dan Yoon Jung juga mengikuti Ro Woon kalau begitu.

"Benar-benar." Ujar Ro Woon.

"Saat tidur, dia imut. Iya, 'kan?"

"Dia imut."


Hwan Gi bangun pagi, masih dengan mata mengantuk ia berjalan keluar dan mendapati Ro Woon hanya dalam balutan handuk.

"Apa aku masih kelihatan si pendek kekanakan?" Tanya Ro Woon sambil mengibaskan rambut basahnya.

Hwan Gi melotot, ia pura-pura menanyakan dimana Yoon Jung dan menyibukkan diri dengan bersih-bersih. Ro Woon merasa yang dimaksud Hwan Gi adalah rotokan rambutnya, ia pun minta maaf walau ada usnsur kesal di dalamnya


Lalu dengan posisi seksi Ro Woon menunjukkan dua tiket pameran pemberian Yoon Jung. Ro Woon mengatakan kalau Yoon Jung ingin melihat mereka berkencan di depan matanya.

"Oh ya, apa Bos punya sketsa yang digambar kakakku?"

"Apa? Sketsa apa?"

"Kalau bukan untuk Bos, lalu buat siapa?" Batin Ro Woon dan ia segera mengatakan pada Hwan Gi kalau ia tidak bermaksud apa-apa.


Hwan Gi datang sendirian dan ia kelihatan celingukan. Yoon Jung mendekatinya tapi mata Hwan Gi masih melihat ke mana-mana.

"Aku di sini, nih." Kata Yoon Jung.

"Aku janji bertemu Chae Ro Woon di sini."

"Sekarang, kau mencari wanita lain secara terang-terangan di depanku? Bisa tidak  menjaga perasaan cinta pertamamu ini?"

"Kau yang minta kami datang bersama."


Yoon Jung melihat Woo Il, lalu Hwan Gi juga melihat ke arah yang sama. Woo Il mendekat, ia berkata kalau ia janjian dengan Yi Soo di sana. Yoon Jung merasa ada yang aneh dengan interaksi Hwan Gi dan Woo Il.

"Orkestra yang akan tampil di mini konser galeri ini, batal tampil karena konflik antar anggota." Kata Woo Il pada Yoon Jung.

Hwan Gi menyahut, apa ada masalah. Woo Il menegaskan kalau itu urusan tim-nya dan Hwan Gi dulu yang melemparkan proyek itu padanya. Hwan Gi mengerti, lalu ia menjelaskan pada Yoon Jung kalau Woo Ul pasti bisa mengatasinya.

Woo Il lalu berkata kalau mereka sudah memesan orkestra lain. Hwan Gi membahas soal selebaran yang terasa membosankan, ia menyarankan untukdiubah saja berupa tulisan tangan untuk pengunjung. Woo Il menatapnya tajam, Hwan Gi menyadari itu dan ia pun berhenti.

"Bisa tinggalkan kami?" Pinta Woo Il.


Yoon Jung mendengar kalau Hwan Gi dan Woo Il sama-sama menjadi Presdir. Ia pikir mereka akan bekerja sama dengan rukun. Woo Il membenarkannya. Yoon Jung bertenya, apa sekarang tidak?

"Sekarang, dia sudah bisa mengurus proyeknya sendiri. Kuharap, orang lain akan menyadari juga betapa pintar dan sebaik apa dia. Bukan hanya aku. Tapi saat itu terjadi... Aku mulai merasa tidak dibutuhkan. Aku sangat picik, 'kan?"

"Ya, lumayan. Tapi, sejak dulu aku tahu kau menginginkan pengakuan. Kau selalu berusaha keras untuk dibutuhkan."

"Aku mengira dia tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa aku. Sepertinya, itu berasal dari harga diriku yang culas."

"Kau, 'kan?"

"Aku apa?"

"Sejak Christmast Eve tiga tahun lalu... kau yang coba dilindungi oleh Hwan Gi. Ekspresimu sudah mengonfirmasinya. Sebenarnya, aku sudah menduga kau orangnya saat aku mendengar yang terjadi. Siapa lagi memangnya begitu berharga untuknya? Seperti katamu, Hwan Gi tidak membutuhkanmu. Tapi, dia tetap melindungimu. Dia bersamamu bukan karena membutuhkanmu. Namun dia juga tidak mencampakkanmu meski tidak membutuhkanmu. Kurasa, jauh di dasar hati pun kau menyadarinya."


Woo Il langsung menemui Hwan Gi untuk mengkonfirmasi kenapa Yoon Jung tahu semuanya. Ia menuduh Hwan Gi yang memberitahu Woo Il dan Hwan Gi tidak membantahnya.

"Ayah menyuruh kita untuk tetap tutup mulut." Ujar Woo Il.

"Kau tidak suka Ayah memperalatmu."

"Benar. Sebab itu aku coba melepaskan semuanya. Tapi... kau menghentikanku demi Yi Soo. Aku juga kesulitan, Hwan Gi-ah. Tapi, aku juga tidak bisa membuang semua yang sudah kubangun dari nol. Saat aku pikir dapat mengakhirinya... Saat aku berpikir tidak akan bisa lagi melihatmu atau tempat kerjaku... Aku mungkin..."

"Mengungkapkan kebenaran tidak akan menghancurkan apa pun."

"Aku akan di sisi Yi Soo. Aku akan menikahi dia seperti maumu. Bukankah sudah cukup?"

"Woo Il-ah."

"Kalau Yi Soo tahu, betapa terlukanya..."

"Dia tahu segalanya."

"Apa?"

"Aku tidak memintamu melepaskan semuanya dengan mengungkapkan kebenaran. Aku juga mungkin akan kehilangan orang yang kucintai. Aku juga kesulitan dan takut sepertimu."

"Apa maksudmu?"

"Yi Soo... Yi Soo..."


Yi Soo memanggil Hwan Gi untuk menghentikannya. Iamendengar semuanya tapi pura-pura tidak dengar. Ia mendekat dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan seserius itu. Yi Soo melihat tatapan Woo Il, ia langsung lemas (apa cuma pura-pura ya?).

Hwan Gi menghampiri adiknya dan memeganginya. Yi Soo berkata kalau ia pusing, ia membatalkan kencannya dengan Woo Il dan meminta Hwan Gi untuk membantunya.


Woo Il tidak mengatakan apa-apa, mungkin ia sangat terkejut karena Yi Soo sudah tahu semuanya tapi tetap menyembunyikannya. Hwan Gi merangkul Yi Soo keluar dari galeri.


Hwan Gi membawa Yi Soo ke mobilnya. Hwan Gi menghidupkan mesin mobil tapi Yi Soo mematikannya lagi. Apa Hwan Gi benar-benar ingin ia mati!

"Eun Yi Soo."

"Aku mohon. Aku akan baik-baik saja selama memiliki Kang Woo Il. Tanpa dia, aku mungkin akan benar-benar mati. Kau tahu aku serius!"

"Woo Il bisa terus dihantui rasa bersalah. Sedangkan kau terus pura-pura tidak tahu. Itu kau sebut kehidupan? Huh?"

"Apa pun itu, orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali. Sudah 3 tahun berlalu. Kenapa meributkan sesuatu yang sudah usai?"

"Belum usai. Banyak yang masih kesulitan karenanya. Mereka lebih terluka dibanding kita. Keluarga mendiang Sekretaris Chae..."

"Kita tidak kenal mereka. Kita bisa pura-pura..."

"Aku tidak bisa. Tidak lagi."


Ro Woon melihat Hwan Gi ada di mobil dan ia menyapanya. Yi Soo fokus melihat kalung yang dipakai Ro Woon dan Hwan Gi menyadarinya.

Kilas balik...


Malam itu, Ji Hye bicara pada Yi Soo, Ji Hye jujur kalau ia tidak tahu Woo Il dan Yi Soo akan menikah. Yi Soo bertanya, bagaimana cara Ji Hye membuat Woo Il jatuh cinta.

"Saya tidak melakukannya dengan sengaja."

"Aku tidak berusaha menyerangmu. Aku hanya ingin tahu. Sebab aku tidak bisa melakukannya."

"Maafkan saya. Saya tidak tahu yang sudah saya lakukan. Seandainya saya bisa memutar waktu dan menghapus segalanya..."

"Dia memberikan kalung itu sebagai hadiah untukmu?"


Ji Hye awalnya tidak paham tapi setelah melihat kalung yang dipakai Yi Soo ia mengerti. Ji Hye lalu mengeluarkan kotak kalung yang dibawanya, ia sebenarnya sudah akan mengembalikan kalung itu. Yi Soo menampik kotak itu dengan kasar menyebabkan kotaknya jatuh dan tutupnya terbuka.

"Dua wanita memakai kalung serupa... aku rasa sudah sering menonton kejadian seperti ini. Tapi kali ini, kualami sendiri. Aku memilih kalung itu. Aku memilihnya bukan untuk diriku, tapi Kang Woo Il. Tapi Kang Woo Il... malah memberikannya untukmu."

Yi Soo menjatuhkan tasnya sampai isinya berhamburan. Ji Hye mengatakan kalau Woo Il melakukan kesalahan dan seperti yang Woo Il katakan, kesalahan itu tidak berarti.


Yi Soo menggeleng, itu bukan kesalahan. Ia lalu mengambil pencukur alis dan menggenggamnya erat. Ji Hye panik, apa yang akan Yi Soo lakukan. Yi Soo menatap genggamannya tajam, ia selalu berpikir bisa mati kalau tidak memiliki Woo Il.

"Tolong... jangan lakukan ini. Itu hanya kesalahan." Bujuk Ji Hye.

"Kang Woo Il! Dia tidak akan melakukan sesuatu tanpa sengaja. Kalau bukan kesalahan, berarti.... Berarti..."


Yi Soo menggores tangannya dan darah menetes di lantai. Ji Hye berteriak terkejut. Ia akan mendekat untuk membantu tapi Yi Soo membentaknya untuk tidak mendekat. Ji Hye lalu mengulurkan sapu tangan untuk membalut luka Yi Soo, Yi Soo mengambilnya dengan kasar.

"Aku membencimu. Aku tidak bisa membenci Kang Woo Il. Apa pun yang dia lakukan, aku tidak bisa melepaskan dia! Jika kau sungguh merasa bersalah... berhentilah pura-pura baik dan menghilang. Kumohon... menghilanglah!"

Yi Soo menutupi lukanya dengan sapu tangan Ji Hye dan pergi dari sana meninggalkan Ji Hye yang syok berat. Ji Hye bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.

Kilas balik selesai...


Ro Woon menyapa Yi Soo dan Hwan Gi ceria tapi Yi Soo menatapnya penuh keterkejutan. Hwan Gi menyadari hal itu.


Suami Yoo Hee muncul (cameo Jin Sang - Another Oh Hae Young). Anak-anaknya sangat menyukai Hwan Gi dan tampaknya ia tidak suka, maka ia membalas dengan menjabat tangan Hwan Gi sangat erat.


Satu keluarga mengecat bersama. Yoo Hee sangat senang bisa bersama-anak, ia bertanya, apa  seharusnya ia berhenti kerja?

"Tidak, saat kau bekerja kelihatan seksi." Jawab Jin Sang.

"Sungguh?"

Jin Sang hanya tersenyum, di dalam hati ia berkata kalau sebenarnya ia mencicil mobil baru. WKWKWK (benar-benar Jin Sang nih orang / pembuat masalah).

2 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...