Tuesday, March 7, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 13 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 13 Part 1


Yi Soo pucat pasi melihat Ro Woon memakai kalung itu. Ia menyadari sesuatu. Ro Woon menyinggung soal wajah Yi Soo yang kelihatan pucat. Hwan Gi lalu minta maaf pada Ro Woon karena tidak bisa menemani Ro Woon melihat pameran. Ro Woon mengerti.

Ro Woon berpapasan dengan Woo Il saat masuk ke galeri. Ia mengatakan kalau Hwan Gi membawa Yi Soo ke Dokter.

"Oh, ya. Yi Soo mengundangku ke pernikahan kalian. Aku harus melakukan sesuatu..."

Woo Il yang sedari tadi bengong meninggalkan Ro Woon tanpa menanggapi perkataannya. Ro Woon bertanya-tanya, apa Woo Il merasa malu ya?


Yoon Jung melihat itu dan ia menghampiri Ro Woon setelah Woo Il pergi. Ro Woon balik menyapa Yoon Jung, ia mengaku harus melihat pameran Yoon Jung seorang diri.

"Jadi, Hwan Gi tadi kemari untuk menemuiku?" Goda Yoon Jung.

"Tidak, dong! Tidak mungkin begitu."

"Dia akan terus menggantungmu karena aku. Nikmati pamerannya dan semangatlah. Lukisan bisa menenangkanmu. Aku akan menemanimu berkeliling."

Ro Woon tersenyum dengan candaan Yoon Jung itu.


Yi Soo tidak tenang selama perjalanan. Ia bertanya, apa yang dimaksud Hwan Gi saat bicara soal keluarga Ji Hye itu adalah Chae Ro Woon. Hwan Gi membenarkannya, Ro Woon adalah adik Ji Hye. Yi Soo langsung meminta kakaknya untuk menghentikan mobil.


Yi Soo keluar seketika setelah mobil berhenti, ia langsung menuju pagar jalan. Hwan Gi menarik tangannya, apa Yi Soo baik-baik saja. Yi Soo langsung menampik tangan Hwan Gi.

"Chae Ro Woon. Oppa tidak sadar dia sempat menyukai Woo Il Oppa? Mengerti kenapa aku pura-pura tidak tahu? Sebab aku sangat takut kehilangan Woo Il Oppa. Aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan bahwa aku tahu. Aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi. Dan dia adik orang itu? Kebetulan yang aneh. Apa dia mengetahuinya? Jangan-jangan dia sengaja mencoba merebut Woo Il Oppa dariku?"

Hwan Gi menjelaskan kalau Ro Woon tidak tahu apa-apa. Woo Il hanya goyah sebentar olehnya. Yi Soo terkejut karena ternyata kakaknya juga tahuh hal itu. Yi Soo marah, kalau Hwan Gi sudah tahu lalu kenapa Hwan Gi harus...

"Apa artinya Ro Woon untuk Oppa? Apa? Kenapa sampai mendorongku seperti ini? Katakan! Oppa mencintainya?"


Hwan Gi terdiam membenarkan. Yi Soo mengingatkan, Hwan Gi bodoh ya? Bagaimanapun juga mereka berdua tidak akan bisa bersama. Hwan Gi mungkin ingin mengungkap segalanya demi Ro Woon tapi saat segalanya terungkap, kemungkinan untuk Hwan Gi bersama Ro Woon pun lenyap.

"Jadi, menyerahlah. Maafkan aku, tapi menyerahlah." Pinta Yi Soo.


Ro Woon kesal menunggu Hwan Gi. Tadi yang seharusnya menjadi kencan pertama mereka ia ditinggal sendirian, sekarang Hwan Gi belum pulang dan tidak ada kabar. Ro Woon tidak akan membiarkan Hwan Gi menang, ia tidak akan menelepon sebelum dia melakukannya duluan. Ia mencoba tidur, tapi beberapa kali masih mengecek ponsel.


Hwan Gi menunggui Yi Soo, oesan masuk dari Ro Woon, "Kau dimana? Terjadi sesuatu? Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya merasa takut di sini sendirian."

Yi Soo bertanya, kenapa kakaknya belum pergi. Hwan Gi tidak bisa meninggalkan i Soo sebelum ibunya pulang. 

"Takut aku akan melakukan sesuatu kalau meninggalkan aku sendirian?"


Hwan Gi pulang dan Ro Woon sudah tertidur sambil memegang ponsel. Hwan Gi membenarkan selimut Ro Woon dan meletakkan ponselnya di meja. Ia teringat kata-kata Yi Soo kalau mereka tidak akan bisa bersama.


Hwan Gi menyibak helaian rambut Ro Woon yang jatuh ke wajahnya sayang.



-= Episode 13 - Pengakuan =-



Gyo Ri bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ro Woon sambil membuat kopi menanyakan alasannya, soalnya Gyo Ri sudah mendapatkan seniman yang biasanya sulit diraih, klien juga sudah menyetujuinya.

"Iya. Semua baik-baik saja sampai saat itu. Masalah justru datang setelahnya."

Ro Woon menyarankan Gyo Ri untuk minum kopi dulu, mau Latte atau Americano. Awalnya Gyo Ri memilih Latte tapi ia bimbang dan memilih Americano, Latte lagi dan Americano lagi.

"Ah... Beginilah situasiku saat ini. Terjebak di antara dua pilihan, tidak tahu harus bagaimana?"

 Kilas Balik..



Se Jong memeriksa karya seniman, ia mengomentari kalau karyanya cukup rumit, jadi akan muncul kekuatiran akan sulit diterima oleh publik.

"Jangan kuatir. Aku sudah beberapa kali bekerja sama untuk proyek kolaborasi. Lagi pula, bukankah tujuan dari proyek ini untuk memadukan seni bersama?"

"Tujuan perusahaan kami adalah menjual produk klien. Dari sana uang didapat. Benarkan, Gyo Ri?"

"Um... Bukan begitu..." Gyo Ri bingung.


Klien tidak suka karena karyanya terlalu rumit. Ia meminta dibuat yang lebih cantik. Se Jong meminta klien menjelaskan lebih detail maksud dari lebih cantik itu seperti apa tapi klien hanya mengatakan lebih cantik saja. Se Jong sampai menirukan nada bicara klien membuat klien jengkel.

Kilas Balik selesai...


Gyo Ri bisa memahami kedua belah pihak, tapi itu membuatnya merasa lebih stres. Ia tidak bisa memilih. Ro Woon mengerti, ia menyuruh Gyo Ri minum saja kedua kopi itu dan ia akan buat lagi untuk dirinya. Gyo Ri tersentuh dan berterimakasih.


Yoo Hee dan Sun Bong mendekat, lihat sendiri kan sekarang, sudah dibilangi semua itu tidak akan mudah. Sun Bong mendesah menanyakan dimana si pembuat ide. Se Jong pun mendekati mereka. Ro Woon yakin Se Jong masih bisa bicara dengan santai di depan orang lain.

"Masalahnya, aku sudah terlalu santai dalam mengutarakan pendapatku. Kedua belah pihak sekarang membenciku." Aku Se Jong.

"Itu sebabnya, aku harus menemui kedua pihak sendirian sekarang. Aku takut proyek ini akan dibatalkan." Keluh Gyo Ri.

Yoo Hee menenagkan, itu tidak akan pernah terjadi, ia akan menemui kedua belah pihak dan memediasi. Gyo Ri sangat senang mendengarnya, ia sangat berterimakasih.


Hwan Gi datang, ia melarang Yoo Hee melakukannya. Ia ingin Se Jong dan Gyo Ri mempertanggungjawabkan yang sudah mereka mulai. Yoo Hee mengingatkan kalau keduanya belum cukup berpengalaman.

"Kalau begitu, ini kesempatan bagus untuk hal tersebut." Jawab Hwan Gi.

"Ya, Bos. Maksudku, Hwan Gi-nim." Tanggap Go Ri lesu.


Gyo Ri menemui klien dan klien tetap kesal karena tidak ada yang dirubah. Menururutnya, itu tidak hanya akan menurunkan citra produk perusahaannya karena karyanya terlalu rumit.

"Lihatlah. Memang kau mau membeli ini? Kau mau memakainya meski kekasihmu yang membelikan?"

"Jelas itu cukup unik." Jawab Gyo Ri pelan.

Gelas klien kosong dan Gyo Ri langsung tanggap untuk membelikan kopi baru.


Mereka berdua keluar bersama seusai meeting. Klien memuji Gyo Ri yang lebih bisa diajak bicara tidak seperti rekan Se Jong. Gyo Ri tentu saja lega mendengarnya.

Hujan tiba-tiba turun. Gyo Ri meminta Klien menunggu dan ia akan membelikan payung.


Gyo Ri melangkah tapi tiba-tiba ada yang memayungi mereka. Hwan Gi lah orangnya, ia dengar sekitar sana akan diguyur hujan. Klien bertanya pada Gyo Ri siapa Hwan Gi.

"Beliau..." Gyo Ri akan menjelaskan tapi dipotong Hwan Gi.

"Di perusahaan, kami tidak terbagi gelar. Saat ini, saya berperan sebagai supir."

Hwan Gi kemudian mengajak mereka ke mobilnya dan membukakan pintu belakang. Klien tersentuh tapi ternyata Hwan Gi melakukan itu untuk Gyo Ri. Sedangkan untuk klien hanya diberikan payung.


"Anda hanya mamberiku payung?"

"Apa Anda butuh bantuan dipanggilkan taksi?"

"Tidak, kantor kami dekat."

Hwan Gi pun permisi dan menyuruh Ro Woon segera masuk.

Klien terdiam setelah mobil pergi, ia bergumam, "Apa-apaan ini? Rasanya aneh."


Gyo Ri tidak bisa tenang, apa tidak masalah meninggalkan Klien begitu? Bukankah harus melayani klien mereka?

"Kukira rapatmu sudah selesai."

"Iya sih, tapi... Saya tidak merasa layak diperlakukan begini."

"Kau rapat bersama dia mewakili Silent Monster. Kau memerankan posisi sebagai Presdir, jadi layak menerima hal ini."

"Tidak sama sekali. Ini membuat saya merasa tidak nyaman. Apa bisa menepi sebentar agar saya bisa pindah ke kursi depan?"

"Um, itu... aku yang merasa tidak nyaman."

Gyo Ri tersenyum mengerti. Ia heran, kenapa ya dulu ia mengira hwan Gi orang yang keras, padahal sebenarnya Hwan Gi sangat manis. Ia mengakui kalau ia terlalu sensitif.


Hwan Gi tersenyum, itu karena Gyo Ri bisa merasakan lebih banyak hal dibanding orang lain. Itu sebabnya Gyo Ri merasa gugup dan sedih. Mungkin bagi Gyo Ri sulit, tapi dapat merasakan yang orang lain tidak bisa adalah kekuatan terbesar.

Gyo Ri tersentuh, selama ini tidak seorangpun pernah berkata begitu padanya. Orang-orang selalu mengatakan kalau dirinya itu lemah.

"Untuk merasakan yang kebanyakan orang lain tidak sadari... kau satu-satunya yang mampu melakukannya."

"Bos... Maksudku, Hwan Gi-nim. Anda lebih baik dalam hal itu dibanding saya."

"Tapi, berapa lama lagi... kau akan memanggilku begitu?"

"Apa? Akan kuperjelas mulai sekarang, Hwan Gi-nim."

"Bagus."


Gyo Ri menemui seniman. Seniman mempertegas, kalau tujuannya menonjolkan sisi iklan, Gyo Ri memilih orang yang salah. Seperti katanya sebelumnya, bukankah tujuan mereka adalah memadukan seni?

"Tentu. Seni. Desain Anda sudah memiliki nilai seni tinggi. Tapi masalahnya..."


Setelahnya Gyo Ri menemui klien dan lagi-lagi tidak ada yang dirubah, kalau terus seperti itu, ia akan memotong dananya.

"Saya setuju. Tujuan utama perusahaan adalah menjual produk. Tapi masalahnya... desain unik sangat populer belakangan ini. Setiap orang berhasrat memiliki sesuatu yang tidak ada duanya. Apakah Anda tidak ingin... memberikan hadiah yang unik sekaligus cantik?"

"Sedikit."

"Nah, 'kan?"


Gyo Ri kembali ke kantor. Se Jong langsung menghampirinya karena mendengar Gyo Ri sudah berhasil membujuk kedua belah pihak, ia penasaran bagaimana caranya.  Apa yang Gyo Ri katakan pada mereka?

"Tidak banyak. Sebenarnya, aku hanya mendengarkan."

Ro Woon ikutan nimbrung, Gyo Ri sebelumnya bilang kesulitan menemukan titik tengah. Ia kagum dengan kehebatan Gyo Ri.

"Oh, aku tidak melakukannya sendiri. Aku berhutang pada Hwan Gi-nim." Aku Gyo Ri.

Lagi-lagi Hwan Gi melakukan sesuatu yang besar untuk mendukung orang-orang disekitarnya.


Usai jam kantor, Hwan Gi berpakaian rapi hendak keluar. Ro Woon mencegatnya, menuntut Hwan Gi mengatakan tujuannya.

"Kudengar semalam kau mengantar Gyo Ri. Malam ini kau akan menghabiskan waktu bersama siapa? Aku merasa seolah kekasihku sedang berselingkuh."

"Aku sudah menyuruhmu pulang."

"Apa kau akan menemui Yoon Jung?"

Hwan Gi tidak menjawabnya ma;ah terus jalan. Ro Woon sedih karena tebakannya benar.


Hwan Gi menunggu di bar. Yoon Jung datang dan langsung merangkulnya mengajak berfoto. Hwan Gi heran, kenapa Yoon Jung mendadak begitu. Yoon Jung akan mengirim foto itu pada Ro Woon untuk menggodanya.

"Berhentilah main-main."

"Aku tidak main-main, hanya pura-pura. Kau bisa pingsan di lantai kalau aku ikut menempel dan membebanimu."


Yoon Jung menyuruh Hwan Gi menemui saja dirinya kalau Hwan Gi ingin melepas stres. Hwan Gi akan mengatakan sesuatu tapi Yoon Jung menyela. Ia menyesal kenapa juga mereka harus sempat salah paham. Sejujurnya, ia pun merasa sedih, tapi... iapikir memang takdirnya harus begini. Takdirnya adalah menjadi pendengar Hwan Gi. Ia senang kok.

"Aku harus berterima kasih padamu. Kau mendengarkan hal-hal yang tidak dapat kukatakan pada orang lain." Tulus Hwan Gi.

"Jika saat muda dulu kita jadi berkencan lalu berakhir saling menyakiti karena ketidakcocokan, mustahil bagi kita untuk bisa mengobrol seperti ini sekarang. Bukankah begitu?"

"Ya. Mari kita tetap berteman.."

"Maksudku adalah... tidak perlu membuat batas antara kita karena kita tidak tahu yang terjadi nanti. Aku akan pergi jika memang sudah tidak ada harapan. Seperti itulah taktik yang kujalankan. Sama halnya dengan Ro Woon. Kau mungkin tidak punya cukup waktu bersama dia. Tetaplah bersama dia selagi memungkinkan. Lakukan segalanya untuk dia."


Ro Woon menghabiskan waktu dengan bermain gitar. Pesan masuk dari Yoon Jung, foto-rotonya bersama Hwan Gi. Yoon Jung menambahkan pesan tertulis, "Aku berkencan dengan Hwan Gi. Kelihatannya, hari ini aku mengalahkanmu."

"Augh... benar-benar! Dia ini musuh atau temanku, sih? Aku tidak bisa menebaknya."


Ro Woon meletakkan ponselnya kesal, ia pun lanjut main gitar sambil menyanyi. Saat itu Hwan Gi datang dan terdiam mendengarkan nyanyian Ro Woon.

Hari saat butiran salju menjadi kebahagiaan...
Hari saat butiran salju menjadi kesedihan...
Butiran salju turun layaknya kelopak bunga...
Dan memberkati cinta kita...



Ro Woon berhenti saat melihat Hwan Gi. Ia memperlihatkan kekesalannya, ia mengira Hwan Gi benar-benar lugu dan tidak berpengalaman soal kencan. Ia sangat terkejut.

"Kau masih di sini?" Tanya Hwan Gi.

"Cih.. Tidak, kutarik kembali. Kurasa kau memang lugu. Kau minum bersama wanita keren seperti Yun Jung Unnie tapi pulang sendirian."


Hwan Gi meminta gitar Ro Woon, ia akan memainkan sebuah lagu. Awalnya udah keren tuh. Eh ternyata Hwan Gi menyanyi lagu anak-anak.

Anak babi gemuk lucu ingin minum susu, oink, oink, oink...
Ibu Babi berkata... Apa Mereka ingin susu, oink, oink, oink.

Ro Woon ngakak dibuatnya. Hwan Gi ternyata khusus menyiapkan lagu itu untuk Ro Woon. Ro Woon menebak, apa maksudnya ia itu anak babi. Hwan Gi mengiyakan dengansenyum.

Ro Woon mengelaknya, ia lalu meminta fitarnya kembali. Hwan Gi kembali bercanda dengan mengatai jari Ro Woon gemuk.

"Tidak, kok." Bantah Ro Woon.

"Maaf."


Ro Woon mulai memainkan sebuah lagu. Liriknya sangat menyentuh sekali..

Aku ingin bibirku menyentuh bibirmu.
Dengan begitu cintaku dapat tersampaikan pada hatimu.
Jika kau masih belum mengerti perasaanku terhadapmu dibanding siapa pun di dunia ini.
Aku akan mencintaimu.
Aku akan selalu mencintaimu...
Aku akan mencintaimu...
Sebagaimana aku mencintaimu saat ini...
Dibandingkan siapa pun di dunia ini...
Aku akan mencintaimu.

(Hyo Rin : I Will Always Love You)


Di tengah Ro Woon bernyanyi, Woo Il datang tapi mereka berdua tidak menyadari kedatangan Woo Il. Ro Woon baru sadar setelah ia selesai bernyanyi.

"Anda semestinya tidak menonton ini, Daepyonim. Sebenarnya, aku sedang latihan untuk menyanyi di pernikahanmu."

Hwan Gi terkejut mendengarnya. Woo Il langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Hwan Gi segera mengikutinya.

"Bos jadi sangat populer. Sebelumnya dia anti sosial dan menyendiri. Aneh sekali." Gumam Ro Woon melihat Hwan Gi mau keluar lagi.


Woo Il menyentuh dokumen strategi pencitraan untuk pemilihan walikota yang berserakan di mejanya. Tak lama kemudian Hwan Gi datang.


"Jika aku memilih... Ji Hye dibanding Yi Soo tiga tahun lalu, kau tidak akan pernah membutuhkanku, 'kan? Salah satu alasan aku tidak bisa memilih Ji Hye adalah kau. Dan kau lebih memilih Ro Woon daripada aku?"

"Kau tidak perlu memikul tanggung-jawab seorang diri. Seperti kataku, kita lakukan bersama. Apa pun hasilnya, aku tetap bersamamu. Selama kau tulus meluruskan segalanya."

"Berapa banyak... yang Yi Soo ketahui?"

"Segalanya. Yi Soo... juga menyembunyikan sesuatu darimu."

"Apa itu?"

"Tanya sendiri pada Yi Soo. Aku sudah menutupi segalanya untukmu, sekarang giliranmu membuka diri. Baik kau dan Yi Soo harus melakukannya."

"Kau menyuruhku mengakui yang sudah kulakukan?"

"Apa pun itu, aku tidak akan lagi memintamu tetap bersama Yi Soo. Aku tidak berhak melakukannya. Aku salah berpikir dapat melindungi kau dan Yi Soo bersamaan. Maafkan aku. Kau tidak perlu lagi merasa bersalah karena tetap bersama Yi Soo."

Woo Il merasa tidak layak untuk Yi Soo. Ia tidak tahu yang Yi Soo sembunyikan darinya, tapi ia yakin tidak seburuk rahasianya. Yi Soo tahu ia sudah mengkhianatinya. Yi Soo bahkan tahu Hwan Gi melindunginya. Tapi tetap saja, Yi Soo terus tersenyum di depannya. Begitulah Yi Soo.

"Kau sudah cukup menderita. Tidak bisakah kita lepaskan segalanya?" Ujar Hwan Gi sambil memegang lengan Woo Il.


Seperginya Hwan Gi. Woo Il menatap gambar Ji Hye dengan sedih.

1 komentar so far

Terima kasih sinopsisnya chingu. Di tunggu part 2 nya. Semangat ya nulisnya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon