Wednesday, March 8, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 14 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 14 Part 2


Ro Woon pulang dan mendapati ayah minum sendirian lagi. Ro Woon mengambil gelas kosong ayah untuk meminta segelas tapi ayah mengambil gelasnya kembali. Ro Woon akan menuangkannya saja kalau begitu tapi ayah kembali tidak mengijinkan.



"Sudah makan?" Tanya Ayah seperti biasa.

"Belum. Mau makan malam bersama?"

Ayah hanya memandang Ro Woon terkejut. Tanpa menunggu  jawaban Ayah, Ro Woon bilang akan menyiapkan makanannya. Ro Woon masuk dapur, ia memulainya dengan mencuci beras dengan tersenyum.


Seseorang masuk, ternyata Hwan Gi. Saat Ayah melihatnya, Hwan Gi langsung berlutut. Ayah meletakkan gelasnya di meja. Ia menepuk kursi yang tadi diduduki Ro Woon. Hwan Gi mengerti isyarat ayah, ia pun bangkit dan duduk di kursi itu.

Ayah kemudian mengulurkan gelasnya. Hwan Gi mengira ayah memintanya menuangkan minuman tapi ternyata AYah ingin Hwan Gi minum. Hwan Gi menerima gelas itu dan ayah menuangkan minuman.

"Setelah kepergian Ji Hye, kau tahu yang kupikirkan? "Dia pasti memiliki masalah di sana". "Dia seharusnya menyelesaikannya". Itulah yang kupikirkan. Aku tidak tahu kebenarannya. Hanya berpikir dia sudah mengambil keputusan bodoh karena dia buruk dalam pekerjaannya. "Semua orang juga punya masalah. Kenapa kau begitu?" Aku menyalahkan dia. Seolah aku tidak tahu kepribadian putriku sendiri. Dia selalu melakukan yang terbaik."


Ayah rasa, Ji Hye sekarang bisa tenang di atas sana. Selama ini Ji Hye menyimpan semua masalah sendiri. Seandainya saat itu ia menyadari lukanya, Ji Hye tidak akan pergi seperti itu.

"Maafkan saya."

"Tidak. Aku yang bersalah. Setelah melepas kepergian putri sulungku, aku menyuruh putri bungsuku tetap diam dan menahan diri. Aku menyuruhnya begitu. Semua salahku."

Ro Woon menangis mendengarnya. Hwan Gi lalu memberikan gelas untuk Ayah dan menuangkannya minuman. Ayah meminumnya nikmat, ia berterimakasih pada Hwan Gi karena sudah memberitahu kebenarannya.

"Tidak, Pak. Saya sungguh minta maaf." Jawab Hwan Gi.


Hwan Gi rapat dengan Sekretaris Park. Tim Silent Monster melihatnya, Gyo Ri menanyakan masalah apa yang terjadi pada yang lain. Se Jong menjelaskan kalau klien "Brain" menghadapi situasi tidak menguntungkan.

"Bravo Liquors. Perusahaan bir. Botol bir mereka meledak." Lanjut Yoo Hee.

Gyo Ri terkejut, kenapa memangnya. Se Jong kebagian menjelaskan detailnya. Perusahaan itu mendaur ulang botol bir mereka. Seharusnya maksimal daur ulang hanya 5 kali, tapi mereka memakainya 50 kali untuk menekan biaya produksi.

"Kalau nitrogen masuk ke dalam botol semacam itu lalu disegel, kadarnya meluap lalu... BANG!" Jelas Sun Bong dengan penuh penghayatan.

Yoo Hee melanjutkan bahwa seorang pemilik bar terkena di bagian mata dan kehilangan penglihatan.

Sekretaris Park menjelaskan pada Hwan Gi kalau hal seperti itu terus terulang, terjadi satu sampai dua kasus pertahun. Tapi Woo Il bergerak cepat setiap kali kasus muncul, dia memprioritaskan untuk berdamai dengan korban.

"Membayar uang damai sekali-dua kali pertahun lebih murah dibanding mengganti botolnya. Itu sebabnya kau ingin terus menutup mata? Bagaimana pertanggung-jawaban perusahaan?"

Sekretaris Park membuang muka tidak setuju. Hwan Gi tidak melihatnya karena ia menghindari tatapan langsung dan ia terus melanjutkan bicaranya, perusahaan itu perlu minta maaf dengan tulus dan menghadapi kenyataan dengan begitu perusahan mereka juga akan mendapat citra baik.

"Daepyonim. Saya tidak yakin klien akan setuju menanggung pembengkakan biaya."

"Kita harus membujuk mereka."

"Bravo Liquors meminta bertemu Kang Daepyonim yang menandatangani kontrak dengan mereka. Dia tidak di sini lagi. Siapa yang akan..."


Sekretaris Park kembali ke mejanya dengan kesal. Hwan Gi ternyata mengikutinya tapi ia hanya mengawasi dari jauh. AE Lee dan AE Jung berbisik, sebenarnya yang bermasalah itu bukan Bravo Liquors tapi mereka. Mereka berdua berencana untuk pindah perusahaan.


Hwan Gi bingung, ia hanya mondar-mandir di ruangannya membuat anggota tim-nya ikutan berpikir. Karena Hwan Gi kembali memakai hoodie-nya, mereka mengira Hwan Gi banyak pikiran.

"Bukankah mestinya kita membantu dia?" Usul Sun Bong.

"Ya, aku sudah menelepon "penyembuh ajaib". Mestinya dia sudah sampai." Jawan Yoo Hee.

Hwan Gi menurunkan perintah, ia ingin mereka mengunmpulkan semua karyawan di ruang rapat. Mereka pun menurut.


Hwan Gi sendirian disana tapi ia masih tidak bisa tenang. Lalu pesan masuk dari Ro Woon, berisi foto-foto muka kocak Ro Woon dan itu sukses membuat Hwan Gi ngakak sampai mengeluarkan airmata.


Tiba-tiba Ro Woon membuka hoodie-nya. Ro Woon menyuruh Hwan Gi untuk melepas hoodie-nya kecuali Hwan Gi masih berencana jadi rapper pribadi Yoon Jung. Ro Woon sudah mendengar semua kisah manis masa lalu Hwan Gi.

"Um..." Hwan Gi tidak menyangka.

"Dia pamer sekali padaku soal jadi cinta pertama. Setidaknya saat bersamaku, jangan pakai hoodie. Itu membuatku cemburu."

Hwan Gi tersenyum.


Ro Woon kembali ke topik utama. Ia dengar Hwan Gi mengumpulkan semua karyawan, jadi apa yang sedang Hwan Gi pikirkan. Hwan Gi menjelaskan kalau semua orang bingung dan gelisah karena kepergian Woo Il.

"Kau mencoba jadi karismatik seperti Kang Daepyo?"

Hwan Gi mengangguk. Ro Woon mengingatkan pesannya dulu agar Hwan Gi jangan sampai berubah, jangan coba menjadi Woo Il. Bagaimana kalau mencoba untuk berkomunikasi dengan cara Hwan Gi sendiri?

Hwan Gi kembali mengangguk setuju. Ro Woon tersenyum, Hwan Gi juga. Lalu Ro Woon melepas paksa jaket Hwan Gi dan melemparnya ke belakang.

"Tapi, bisakah kita..."

"Kalau urusan kita, bicarakan nanti saja. Urus pegawaimu dulu." Potong Ro Woon.


Hwan Gi menulis e-mail untuk setiap karyawan, ia menyarankan rapat terbuka untuk setiap karyawan. Mereka bisa memilih waktu rapatnya.


Ada yang memilih saat pagi hari dan Hwan Gi memasakkan sup kedelai untuk mereka. 

Rapat bisa dilakukan setelah makan siang. Kita bisa minum sedikit juga.


AE Jung dan AE Lee memilih untuk menggunakan opsi kedua dan mereka minum-minum.


Pegawai yang datang pagi memuju masakan Hwan Gi, mereka tidak menyangka hwan Gi begitu peduli pada mereka karena sebelumnya Hwan Gi menyuruh mereka fokus kerja saja.

"Maksudku waktu itu adalah kalian harus bisa mengontrol diri sendiri. Sepertinya, aku bicara kurang jelas." Jawab Hwan Gi.


Untuk AE Lee dan AE Jung Hwan Gi menjelaskan, daripada mengikuti perintah membabi buta, mereka harus memotivasi diri sendiri agar ide-ide segar mengalir. Ia ingin perusahaan kita seperti itu. Singkatnya, sebuah perusahaan dimana Bos tidaklah diperlukan.

Mereka berdua tidak menyangka Hwan Gi bisa berkata seperti itu, sampai keduanya bengong. Hwan Gi mengajak bersulang sambil berkata bahwa ia membutuhkan bantuan mereka. 


Saat di luar, AE Lee dan AE Jung mereka tersenyum karena menyadari kalau Hwan Gi ternyata enak diajak ngobrol.

"Siapa bilang dia pendiam? Dia banyak bicara. Dia pembicara aktif."


Terakhir, Hwan Gi rapat dengan Sekretaris Park yang membahas soal Hwan Gi yang semakin dekat dengan para pegawai. Hwan Gi tiba-tiba minta maaf, itu membuat Sekretaris Park terkejut.

"Selama ini, aku membuat Kang Daepyo mengontrol semua komunikasi. Aku sangat tidak bertanggung-jawab."

"Um.."

"Seperti Bravo Liquors, aku berusaha menyembunyikan kelemahanku. Tapi tidak berakhir baik. Aku minta maaf atas kesalahanku dulu dan mulai bekerja dengan caraku. Aku rasa aku dulu yang perlu berubah sebelum membujuk klienku."

"Saya... saya mengerti."

"Soal rapat dengan klien kita, Jika kau mau menemaniku, itu akan jadi bantuan besar."

"Kalau begitu... saya akan menemani Anda."

Hwan Gi tersenyum senang.


Hwan Gi merayakannya dengan tim Silent Monster. Yoo Hee senang akhirnya Bravo Liquors sudah memutuskan membuang botol lama mereka, harga saham mereka juga meningkat. Kasus mereka dipuji sebagai teladan penanganan krisis.

"Itu berkat keputusan berani klien kita." Jelas Hwan Gi.

"Jangan merendah. Bagaimanapun, selamat atas kesuksesan proyeknya." Jawab Sun Bong.


Hwan Gi mengatakan kalau Woo Il kembali. Se jong bertanya, bukannya Hwan Gi bilang ingin perusahaan yang tidak memerlukan atasan.

"Bos mau meninggalkan perusahaan?" Lanjut Se Jong.

"Apa?" Hwan Gi terkejut.

"Dia bukan Bos kita. Dia hanya Hwan Gi-nim. Lupa?" Ucap Yoo Hee.

"Dia benar. Diamlah saja! Aku tidak ingin membayangkan Hwan Gi-nim tidak ada di sini." Tambah Gyo Ri.

"Benar! Akan seperti telur tanpa kuningnya." Imbuh Yoo Hee.

"Atau bir tanpa alkohol." Tegas Sun Bong.


Dan mereka mulai melebar ke mana-mana. Ro Woon memanfaatkan hal itu untuk menyelinap keluar. Hwan Gi menyadarinya dan mengikuti Ro Woon.


Hwan Gi bertanya, apa Ro Woon mau pulang dan Ro Woon mengiyakan. Hwan Gi bertanya lagi, apa besok Ro Woon akan datang ke kantor. Ro Woon tersenyum, kenapa tidak? memang ia bilang tidak mau menemui Hwan Gi lagi? Seingatnya sih tidak.

"Oh, iya. Hari itu, kau langsung menjauhkan diri setelah mengatakan yang kau ingin. Aku tidak bisa merespon apa pun. Kenapa kau melakukannya? Sudah 3 tahun kau melakukannya. Terlalu menyakitkan buatmu. Kenapa melakukannya lagi?"

Hwan Gi tidak bisa menjawabnya.


Ro Woon meminta rapat berdua, besok sore bisa. Hwan Gi setuju, kalau begitu sampai jumpa besok. Ro Woon mengingatkan, Hwan Gi tahu kan besok adalah hari Valentine. Hwan Gi tersipu dan Ro Woon berjalan pulang.


Ro Woon mengajak Hwan Gi ke suatu restoran tapi ternyata mereka harus menunggu 2 jam. Akhirnya merekamemutuskan untuk pergi ke tempat lain.


Mereka menemukan tempat, tapi semuanya dihiasi warna pink bahkan pengunjung diberi bandana kerlap-kerlip. Hwan Gi menjelaskan kalau biasanya disana tidak ada hiasan seperti itu. Ia mencopot bandananya dan menyarankan untuk pindah tempat.

"Di sini saja. Kurasa tidak akan bisa mendapatkan tempat lain."

"Kenapa kau ingin bertemu denganku di hari seperti ini?"


Ro Woon juga mencopot bandananya agar bisa lebih nyaman. Ia baru sadar kalau mereka belum pernah sengaja makan bersama. Maksudnya hanya mereka berdua. Mereka juga belum pernah nonton film bersama.

"Pernah." Jawab Hwan Gi.


Hwan Gi mengingat saat mereka mendapat klien pemilik bioskop dulu.


Ro WOon terkejut, jadi Hwan Gi datang waktu itu, tapi kenapa tidak menemuinya dan Hwan Gi duduk dimana. Hwan Gi menjawab kalau ia duduk di dekat Ro Woon.

"Kenapa? Jangan-jangan hanya menatap belakang kepalaku, ya?"

Hwan Gi kelihatan gugup. Ro Woon merasakan hal itu,ia jadi merasa sedang kencan sungguhan. Hwan Gi menyangkalnya, ia hanya tidak yakin, apa tidak masalah bagi mereka melakukan ini.

"Kau bilang... kakakku mungkin menyalahkanmu di saat terakhirnya. Tapi, kurasa tidak seperti itu. Dia meninggalkan sepatu yang kau belikan. Aku tidak merasa dia marah padamu. Dia pasti merasa bersalah. Dia sudah membuat anggota keluargamu terluka. Dia pasti merasa bersalah karenanya. Seperti itulah kakakku. Apa adikmu baik-baik saja?"

"Ya. Dia merasa... sangat bersalah."

"Aku harap dia terus sehat. Aku yakin, kakakku juga ingin demikian. Aku tahu masih banyak hal yang harus kita hadapi. Bisakah kita hadapi bersama? Kita sudah melewati banyak rintangan bersama. Tidak perlulah saling melepaskan. Mulai sekarang, kau dilarang mengawasiku diam-diam. Kita harus berdiskusi apa pun yang terjadi. Tidak ada lagi rahasia. Oke?"

Hwan Gi tersenyum setuju mengikuti Ro Woon.


Ro Woon dan Hwan Gi melotot terkejut. Event akan dimulai dalam hitungan kelima. Ro Woon berubah antusia, apa mereka bisa melakukannya. Hwan Gi minta maaf, ia tidak nyaman melakukannya di sana.

"Aku juga tidak bilang ingin melakukannya di sini. Tidak bisa dipercaya. "

"Kita pergi saja?"

"Ya, ayo pergi."


Sampai hitungan ke lima tiba-tiba lampunya dimatikan, sementara Hwan Gi dan Ro Woon sudah siap-siap pergi.

"Bos, kau dimana?"

"Di sini."

"Di sini?"

"Bukan. Kenapa kau sentuh di situ?"

"Maaf. Aku tidak tahu menyentuh apa, tapi aku tidak sengaja."

"Diam saja, aku akan meraih tanganmu. Ini. Aku menggenggam tanganmu."

"Tangan siapa yang kau genggam? Tanganku di sini."

"Lalu ini tangan siapa?"

"Bos... auh, kau dimana, sih?"


Terdengar suara gedebuk. Lampu dinyalakan kembali, ternyata Hwan Gi memegang tangan pembawa acara sementara Ro Woon jatuh karena tersandung sesuatu. Mereka malu dan cepat-cepat keluar dari sana.


Ro Woon dan Hwan Gi berlari keluar. Hwan Gi bertanya, apa Ro Woon sakit jatuh tadi, bisa jalan? Ro Woon bilang baik-baik saja, bahkan menunjukkan kakinya.


Hwan Gi jongkok, Ro Woon mengira Hwan Gi mau menggendongnya, ia pun langsung naik ke punggung Hwan Gi. Eh.. ternyata Hwan Gi cuma mau menali sepatunya. Ro Woon malu karenanya.


Hwan Gi paham, ia pun menggendong Ro Woon. Ro Woon bilang kalau ia baik-baik saja dan meminta hwan Gi untuk menurunkannya.

"Pura-pura saja kau kesakitan. Meski baik-baik saja, berpura-puralah sakit. Aku tahu kita tidak seharusnya begini. Tapi... aku ingin seperti ini."

Hwan Gi syok saat melihat tangga menuju rumah Ro Woon. Ia sampai menghitung tangganya.


Hwan Gi lalu menurunkan Ro Woon, sebentar saja kok. Ia melemaskan otot-ototnya baru kemudian membungkuk lagi agar Ro Woon kembali naik ke punggungnya. Ro Woon bilang bisa jalan sendiri dan mulai menaiki tangga.

"Biar aku menggendongmu. Aku bisa, kok. Ini tidak sulit." Sombong Hwan Gi.

"Kau terdengar tidak sepenuh hati."

"Kau meremehkanku? Kau mungkin tidak ingat, tapi aku sudah pernah menggendongmu, tahu!"

"Benarkah?"

"Serius."


Sebagai gantinya Ro Woon meminta Hwan Gi untuk menggenggam tangannya. Hwan Gi heran, katanya tadi Ro Woon baik-baik saja. Ro Woon mengingatkan kalau Hwan Gi yang menyuruhnya pura-pura sakit.

"Tapi bergenggaman tangan... aku merasa tidak nyaman."

Ro Woon pun manarik tangannya kembali.

Hwan Gi kemudian menonjolkan lengannya. Ro Woon langsung menautkan lengannya.

"Um... Pegangi lenganku saja. Bukan bertautan lengan."


Ro Woon tidak mengerti, mau Hwan Gi bagaimana? Memegangi lengannya bagaimana? Sampai akhirnya Ro Woon menemukan maksud hwan Gi. Ia memegang lengan Hwan Gi dan mereka kembali berjalan.

Ro Woon mengeluh, "Ini hari valentine, tapi kita tidak bisa menikmati romantisme sama sekali."

"Benar. Aku tidak akan dapat cokelat, ya?"

"Coklat apaan? Kita saja tidak ada manis-manisnya. Aku bahkan tidak bisa menggengam tanganmu atau menautkan lengan. Ditambah apa? Kau sangat pemalu, seolah kita belum pernah ciuman sebelumnya."

"Kau ingin ciuman?"

"Um... bagaimana bisa kau bertanya langsung begitu? Kau akan menciumku kalau aku bilang mau? Kau bahkan tidak bisa melakukannya tadi saat lampu dimatikan dan suasananya mendukung."


Tiba-tiba Hwan Gi berhenti, ia melepaskan tangan Ro Woon lalu menyentuh leher Ro Woon. Tapi, ia hanya memeluknya. Bukan hanya itu ding, Hwan Gi memasangkan kalung ke leher Ro Woon.

Ro Woon kecewa tapi saat menyadari ada sesuatu yang melingkar di lehernya, ia terdiam dan menyentuhnya.

"Itu bukan. hadiah Valentine. Aku... Aku memberinya tanpa alasan tertentu."


Hwan Gi pamit. Tapi setelah menuruni beberapa anak tangga, Ro Woon memanggilnya. Ro Woon mendekati Hwan Gi lalu mengecup bibirnya

"Itu... hadiah Valentine dariku... untukmu."


Ro Woon malu dan cepat-cepat masuk ke rumah. Tapi ia sempat melambai pada hwan Gi.


Hwan Gi baru mulai menuruni tangga lagi, tiba-tiba seseorang menegurnya. Dia adalah Reporter Woo.

"Eun Hwan Gi Daepyonim. Benar, 'kan?"

"Um, iya. Siapa kau?"

"Malang sekali. Kau tersenyum bahagia... di samping Ro Woon. Padahal kau tidak berhak."

"Apa?"

"Ada sesuatu yang tidak kau ketahui."


Sementara itu, Ro Woon melihat kalung hadiah Hwan Gi di cermin dengan senyum bahagia.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...