Tuesday, March 14, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 15 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 15 Part 1


Ro Woon memasak sarapan untuk dirinya dan ayah. Ayah mencicipi masakan Ro Woon, dari ekspresinya sudah ketahuan rasanya bagaimana tapi saat Ro Woon bertanyam Ayah tersenyum mengatakan rasanya enak. Ro Woon pun mencobanya, Auh.. mungkin rasanya hambar karena Ro Woon langsung mengambil garam dan lada lalu menabyrkannya di sup.

"Ayah, tidak bisakah berhenti pura-pura makanannya enak?"

"Sungguh tidak masalah, kok."



Ro Woon harus makan dengan cepat karena dia tidak boleh terlambat. Ayah bertanya, apa Ro Woon akan terus bekerja disana soalnya Ro Woon memulainya dengan niat buruk.

"Unnie yang mengantarkanku ke sana."

Ro Woon mengingat saat ia meminta kalung itu dari Ji Hye. Ro Woon melanjutkan, semua berkat Ji Hye, begitulah keyakinannya.

"Tapi Ji Hye tidak meninggalkan kalung itu untukmu." Bantah Ayah.

"Tetap saja, aku dapat yang lebih bagus." Kata Ro Woon sambil memegang kalung pemberian Hwan Gi.


Hwan Gi datang ke panti asuhan membentu mencuci piring. Ia serius sekali menggosoknya sampi Woo Il bercanda kalau nampan yang dicuci Hwan Gi itu silau sekali bahkan Hwan Gi bisa membuatnya berlubang (karena terus menggosoknya).


Woo Il tahu Hwan Gi datang bukan untuk mencuci piring tapi untuk bicara. Hwan Gi kesulitan mengatakannya. Woo Il memaksanya untuk mengatakan saja kalau Hwan Gin mau menutup mulut terus, itu membuat orang lain tidak nyaman!

"Sungguh?"

"Kau bercanda, ya? Kau pikir aku hanya ingin dipahami saja? Aku juga ingin memahamimu, tahu! Sudah cukup memerhatikan orang lain secara mendalam. Tunjukkan padaku dirimu yang sebenarnya."

"Aku tidak bisa melihat apa pun. Sungguh. Semula, aku pikir dapat melakukannya dengan mudah. Bisa melihat dan membaca pikiran orang lain. Tapi aku salah. Berpikir bahwa kita mengetahui dan memahami segalanya."

"Apa maksudmu?"

"Aku bicara soal Ji Hye. Kurasa... akulah penyebab insiden itu."


Sementara itu, Ro Woon menunggu di kantor. Ia mondar mandir di depan meja. Tapi karena Hwan Gi tidak pulang-pulang, ia mengintip di jendela dan melihat sesuatu yang menarik.


Hwan Gi pulang, Ro Woon kesal karena Hwan Gi tidak menghubunginya, kan sudah ia bilang tidak ada lagi pintu tertutup (menjaga jarak), tidak ada lagi rahasia. Hwan Gi tidak menanggapi itu, ia berjalan lurus kearah Ro Woon dan langsung memeluknya tiba-tiba.

Ro WOon khawatir, apa terjadi sesuatu?

"Kenapa... banyak sekali alasan kita tidak dapat bersama?" Tanya Hwan Gi.


Hwan Gi lalu melepaskan Ro Woon dan menatapnya.

-= Episode 15 : Satu Alasan Lebih Besar Dari 99 Alasan =-


Kita kembali saat Hwan Gi bertemu Reporter Woo setelah mengantar Ro Woon. Ia mengatakan Hwan Gi tidak berhak tersenyum selebar itu di samping Ro Woon karena ada sesuatu yang tidak Hwan Gi ketahui.

"Ji Hye sebenarnya bukan menyukai Kang Woo Il, tapi kau."

"Apa? Apa maksudmu?"

"Tentu saja kau tidak mengetahuinya. Bahkan tidak melirik dia."

"Kurasa kau salah paham."

"Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia terlibat dengan Kang Woo Il. Aku pun terkejut. Namun, semua ini dimulai darimu. Dia ingin tahu tentangmu dari sahabatmu (Kang Woo Il)."

Kilas Balik...

Ji Hye sebenarnya menggambar untuk Hwan Gi karena ia tidak bisa memberikannya langsung pada Hwan Gi, ia pun berniat meminta bantuan Woo Il tapi terjadi kesalah pahaman.


Ji Hye curhat pada Reporter Woo kalau ia gagal memberikan sketsa itu pada Hwan Gi. Gadis yang Hwan Gi sukai adalah kurator profesional yang bekerja sama dengan pelukis terkenal. Sedangkan dirinya... Sketsanya...


Ji Hye akan minum tapi reporter Woo melarangnya soalnya Ji Hye tidak kuat minum. Ji Hye malah tersenyum, ia tidak membenci wanita itu. Karena berkat Yoon Jung, ia bisa pura-pura kencan dengan Hwan Gi. Waktu itu ia gugup sekali. Apalagi saat Hwan Gi memberinya bunga untuk mengucapkan terimakasih.


Reporter Woo mengingatkan, tidak ada gunanya menyukai pria jahat. Ji Hye membantah, Hwan Gi tidak jahat kok tapi manis.

"Saat seorang pria berbuat buruk 9 kali kemudian melakukan kebaikan 1 kali, wanita tersentuh . Sedangkan pria yang melakukan 9 kebaikan, kemudian melakukan 1 kali kesalahan, dia disebut berengsek. Wanita tidak bisa berhitung, ya? Pria yang selalu baik, kalah dengan yang hanya berbuat kebaikan sekali. Jawabannya sudah jelas. Kalian semua bodoh, kan!?"

Ji Hye mngakui, ia memang bodoh kok. Ia sudah tahu mustahil mereka bersama, tapi ia tetap menyukai Hwan Gi. Ia semakin terluka saat menatapnya, tapi tidak bisa menahan diri. Reporter Woo kesal, kalau begitu hampiri saja dia dan katakan menyukai dia.

Ji Hye tidak bisa karena ia tidak akan bisa bertemu dia lagi kalau melakukannya. Ia tidak bisa hidup tanpa melihat dia. Reporter Woo berdecak, itu kan cuma cinta sepihak, Apa sulitnya (mengakhiri), sih?


Tiba-tiba ponsel Ji Hye berbunyi, dari Woo Il yang menyuruhnya datang. Reporter Woo melarangnya pergi tapi Ji Hye tetap pergi dan sebagai rasa terimakasihnya ia yang akan mentraktir.

"Hei. Cha Ji Hye. Jangan pergi."

"Terima kasih sudah mendengarkan aku. Aku beruntung ada yang mendengarkanku. Maafkan aku."


Reporter Woo mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak, ia membukanya dan itu adalah cincin. Reporter Woo hanya bisa minum untuk mengatasi kegalauannya.

Kilas Balik Selesai...


Reporter Woo menyakahkan Hwan Gi yang mestinya menatap Ji Hye. Paling tidak dengarkan Ji Hye sekali saja karena Ji Hye tidak bisa hidup tanpa melihat Hwan Gi.

"Bisa-bisanya kau sekejam itu mengabaikan dia? Dibanding siapa pun, kau yang paling melukai dia. Dibanding siapa pun, kau yang paling bertanggung-jawab. Tapi... sekarang kau mengencani adiknya?"


Hwan Gi menceritakan semua itu pada Ro Woon. Ro Woon memberitahu, Reporter Woo lah yang berusaha paling keras mengungkap kebenaran saat insiden 3 tahun lalu. Tapi atasannya coba menghentikan dia. Kemudian dia dipecat dari surat kabar tempatnya bekerja.

"Tapi dia tidak pernah mengatakan soal perasaan Unnie padaku." Kesal Ro Woon.

"Perasaan itu... dia ingin menghormatinya. Mungkin dia ingin membawanya sampai mati."

"Kalau begitu... Unnie... Kang Daepyonim... bukanlah penyebabnya. Namun karena... kemungkinan tidak bertemu denganmu lagi. Dia tidak sanggup menahannya. Mungkin itulah.. yang membuatnya hancur."

Kilas Balik...


Malam itu Ji Hye menelfon Hwan Gi tapi Hwan Gi sama sekali tidak mengangkatnya. Ji Hye menangis sedih.


Ji Hye pun masuk ruangan Hwan Gi sendirian, ia melihat ke luar melalui jendela.



Hwan Gi tiba-tiba ada di sampingnya. Ia akan menyentuh Hwan Gi tapi ia urungkan. Ia hanya memanggilnya dan Hwan Gi menoleh, tapi mendadak Hwan Gi hilang. Ternyata semua itu hanya bayangan yang diciptakan Ji Hye.

Ji Hye pun nekat mengakhiri hidupnya.

Kilas Balik Selesai...


Ro Woon membuka jendela itu. Ia sekarang tahu kalau sketsa yang digambar kakaknya bukan untuk Woo Il tapi untuk Hwan Gi.

"Kang Daepyonim selalu dikerubungi oleh orang-orang. Semula, kupikir itu alasan dia menggambar gedung dipenuhi orang-orang. Rupanya aku salah."

Kilas Balik...


Ji Hye masuk ke ruangan Hwan Gi. Saat itu Hwan Gi sedang melamun menatap ke luar jendela sambil menikmati kopi. Ji Hye mamanggil namun Hwan Gi tidak menyadarinya, Ji Hye pun tidak menguangi panggilannya, ia menggunakan kesempatan itu untuk menatap Hwan Gi.


Suatu hari Ji Hye masuk ke ruangan Hwan Gi saat Hwan Gi tidak ada. Ia berdiri di tempat Hwan Gi biasa melamun. Ia mengamati gedung yang bisa terlihat dari jendela itu dan mencatatnya di bukunya.


Hwan Gi tiba-tiba datang mengagetkan. Ji Hye pura-pura sedang memeriksa apakah jendelanya berdebu, tapi rasanya tidak, semuanya bersih sekali.

"Aku membersihkannya. Kau tidak perlu menguatirkannya."

Ji Hye minta maaf lalu cepat-cepat pergi dari sana. Hwan Gi menatap ke arah yang Ji Hye tatap tadi tapi ia tidak merasakan keanehan.

Kilas Balik selesai...


Ro Woon mengambil Sketsa kakaknya di laci mejanya lalu memberikannya pada Hwan Gi. Itu adalah yang selalu Hwan Gi lihat di luar jendelanya. Toko bunga dan kue di lantai satu. Kafe di lantai dua dan Salon di lantai tiga. Hwan Gi meneteskan airmata melihat sketsa itu serta penjelasan Ro Woon.

"Kurasa dia... ingin menggambar serealistis mungkin. Kau selalu menyendiri, mungkin dia berharap suatu saat kau dikelilingi orang-orang berhati hangat."

Ro Woon ingin Hwan Gi mengambilnya. Hwan Gi hanya menatap Ro Woon, Ro Woon pun kemudian meletakkannya di meja Hwan Gi. Sketsa itu akhirnya menemukan pemilik sebenarnya.

Ro Woon meninggalkan Hwan Gi dengan langkah berat. Hwan Gi kembali menangis.


Ro Woon berjalan pulang dan Hwan Gi mengikutinya seperti dulu saat pemakaman Ji Hye. Tapi kali ini Ro Woon tahu Hwan Gi mengikutinya tapi ia tidak berbalik  menatap kebelakang. Ro Woon menahan perasaannya.


Woo Il mengajak Yi Soo bertemu di taman bermain dekat rumah Yi Soo. Yi Soo datang dengan penampilan santai, rambut berantakan dan pakaiannya pun tidak rapi. Woo Il menataonya serius, Woo Il selama ini tidak pernah melihat Yi Soo berpenampilan santai di rumah.

"Kecewa, ya? Maaf. Inilah aku yang sebenarnya." Kata Yi Soo sambil duduk di ayunan.

Woo Il tidak kecewa, Yi Soo malah kelihatan nyaman. Yi Soo membenarkan, iaberdiam di rumah sepanjang waktu jadi tidak perlu memakai gaun. Tidak perlu memaksakan diri untuk bicara, Juga tidak harus memasang senyum palsu demi menyenangkan orang lain. Semua itu ia lakukan karena ayah dan ibunya yang menyuruh, mereka pasti malu akan dirinya.

"Apaan, sih? Pasti karena mencemaskanmu." Bantah Woo Il.

"Bagaimanapun, aku mestinya tidak keluar rumah. Aku harus segera pulang. Kenapa Oppa ingin bertemu?"


Woo Il terus terpikir Yi Soo, ia selalu berpikir Yi Soo memiliki segalanya. Ia tidak merasa ada yang dapat ia lakukan untuk Yi Soo. Yi Soo yang selalu mendahulukan dirinya daripada diri sendiri adalah anugerah buatnya. Kadang, ia juga merasa itu membosankan. Ia tidak mengira telah melukai Yi Soo begitu dalam. Ia sedih karenanya.

"Lupakan saja. Bukan salah Oppa."

"Ck, kau mulai lagi. Kata-katamu barusan untuk menghiburku. Padahal katanya kau senang jadi diri sendiri. Sekarang kau terlihat lebih cantik dari biasanya. Jadi, jangan menahan diri. Katakan yang kau inginkan."

Yi Soo pun mengungkapkan isi hatinya, semua salah Kang Woo Il (Bahkan Yi Soo tidak lagi memanggil Oppa). Ia membenci Woo Il.

Woo Il senang Yi Soo bisa begitu tapi rasanya masih terlalu datar. Yi Soo berkaca-kaca dan meninggikan suaranya, ia tidak ingin Woo Il bahagia tanpa dirinya, ia harap Woo Il terus kesulitan.

"Begitukah? Klise sekali. Coba lebih kejam sedikit."


Yi Soo lalu memaki Woo Il sambil memukulinya. Yi Soo menangis, Woo Il membenarkan setidaknya itu yang harus Yi Soo katakan. Woo Il lalu memeluknya.

"Aku kira tidak akan bertemu Oppa lagi. Aku pikir kau akan pergi jauh setelah tahu diriku yang sebenarnya. Kukira semua sudah berakhir." Tangis Yi Soo.

3 komentar

Makin seru az,,,lanjut lg mba part 2

Makin seru az,,,lanjut lg mba part 2

Terimakadih sinopsis y...😊😊

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...