Tuesday, March 14, 2017

Sinopsis Introverted Boss Episode 15 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Introverted Boss Episode 15 Part 2


Sun Bong melihat Gyo Ri sedang sendirian di dapur. Ia clingak-clinguk mematikan tidak ada orang setelah itu ia mendekati Gyo Ri.

"Aigoo... Kau sakit lagi? Kau harus menjaga kesehatan untuk bisa bertahan."

Gyo Ri membantahnya, yang ia minum tadi untuk diet kok. Sun Bong mencibir, kali ini Gyo Ri mau menyenangkan siapa lagi. Gyo Ri kesal, bukan begitu kok. Ia ingin berubah, ia akan lebih menghargai dan memperlakukan dirinya sendiri dengan baik.

"Nanti malam kau ada acara?" Tanya Sun Bong.

"Aku..."

Belum sempat Gyo Ri menjawabnya, Sun Bong sudah menyela dan yakin kalau Gyo Ri pasti tidak punya rencana apa pun soalnya saat pasangan kekasih saling menautkan lengan, Gyo Ri malah membaca kisah roman di ponselmu. Sun Bong memberi Gyo Ri dua tiket konser yang dipromosikan "Brain". Dengan keren ia menyuruh Gyo Ri pergi dan ia bisa menemaninya.

"Aku menghargai kebaikanmu, tapi aku sudah ada janji."

"Dengan siapa?"

"Diriku sendiri."

Sun Bong tidak mengerti. Gyo Ri ternyata ingin menghadiri seminar PR (Public Relation) malam ini. Sesuai yang ia katakan, ia akan menghargai dan memperlakukan dirinya sendiri lebih baik. Gyo Ri pun mengembalikan tiket itu, perginya lain kali saja ya!



Gy Ri pergi meninggalkan Sun Bong yang menekuk mukanya. Yoo Hee tiba0tiba saja muncul dari bawah meja dapur mengagetkan. Su Bong berteriak terkejut lalu beruah kesal.

Yoo Hee merasakan sesuatu jadi ia menasehati SUn Bong agar baik-baik pada Gyo Ri. Gyo Ri itu lemah lembut jadi pasti menyukai pria baik.

"Ngomong apa, sih?"

"Jangan bilang padaku kau percaya pria sejati itu harus sok dingin di depan wanita!? Menyedihkan, tahu!"

"Kau salah paham."

Sun Bong membantik tiket dengan kasar ke meja. "Nikmati Konsernya!" Ia langsung pergi dengan kesal. Yoo Hee senang, ia akan pergi dengan suaminya.


Saat pulang Kantor, Sun Bong melihat Se Jong bicara dengan Gyo Ri. Se Jong ingin ikut Gyo Ri ke seminar, Gyo Ri sih oke-oke aja. Se Jong akan mentraktir makan malam sebagai gantinya dan Gyo Ri setuju.


Yoo Hee tiba-tiba muncul lagi saat Se Jong dan Gyo Ri pergi.

"Sudah kubilang padamu, 'kan? Dasar bodoh!"

"Kenapa kau seperti ini padaku?"

Yoo Hee lalau menjejalkan coklat ke mulut Sun Bong. Ia ingin Sun Bong makan makanan manis dan menyadarkan diri.


Se Jong berterimakasih, berkat Gyo Ri ia bisa menyadari tugas pegawai PR. Gyo Ri mengingatkan kalau Se Jong sudah mengatakan itu beberapa kali. Se Jong jadi sungkan, anggota lain terlihat berprogres ke arah lebih baik, sedangkan ia hanya bikin masalah.

"Kau bilang punya mimpi berbeda. Kau kan ingin jadi selebriti." Hibur Gyo Ri. 

"Tetap saja. Aku merasa cukup tertinggal dari orang lain. Belakangan, kau terasa lebih dewasa daripada aku."

"Saat akhirnya menentukan impian, seseorang pasti berubah."

"Apaan? Kau ingin aku pergi? Kau tidak membutuhkan aku lagi?"

"Jangan berkata begitu. Aku menyukaimu. "

"Jadi..." Se Jong asal saja, tapi setelah ia sadar apa yang didengarnya barusan, ia pun melotot terkejut. Gyo Ri mendadak mengajak Se Jong ke rumahnya. Se Jong terkejut, Apa? Sekarang? Pasti ada orang tua Gyo Ri. Gyo Ri hanya tersenyum.


Gyo Ri tinggal di rumah atap. Se Jong menunggu di luar sambi lihat-lihat. Tak lama kemudian Gyo Ri keluar sambil membawa tas belanjaan. Gyo Ri sudah menduganya, setelah melihat tempat tinggalnya, Se Jong merasa kasihan padanya, 'kan?

"Aku? Tidak sama sekali. Kau tinggal di atap, simbol dari impian. Anak muda yang tidak punya apa pun selain mimpi dan semangat tinggal di bawah tanah atau atap. Aku selalu ingin mencobanya." Aku Se Jong tapi Gyo Ri tahu itu tidak serius.


Sebab itulah Gyo Ri tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Se Jong minta maaf karena ia tidak tahu. Gyo Ri melarangnya, ia yang seharusnya minta maaf. Saat Se Jong memintanya pura-pura berkencan, semestinya ia menghentikan perasaannya terhadap Se Jong.

Ia mengembalikan pakaian yang Se Jong belikan untuknya, semua ada di tas belanjaan yang dibawa keluar tadi. Se Jong tidak mengerti, kenapa memangnya. Gyo Ri memaksa Se Jong untuk menerimanya saja.

"Sekarang benar-benar berakhir." Gyo Ri lega.

"Kau bahkan tidak ingin mencobanya?" Gumam Se Jong lirih.

"Meskipun hubungan cinta kita palsu, terima kasih untuk segalanya."

Gyo Ri maju beberapa langkah memeluk Se Jong. Beberapa detik kemudian, Gyo Ri meleoaskan pelukannya. Sekarang ia sudah mengaku jadi idak ada lagi perasaan yang mengganjal.


Gyo Ri mengucapkan sampai jumpa lalu masuk ke dalam rumahnya. Se Jong barulah bisa bernafas. Ia memegangi jantungnya yang berdebar kencang, melonggarkan kerah bajunya agar bisa bernafas lebih bebas. Mungkin ia baru menyadari perasaannya.


Giliran Yi Soo yang datang membantu pekerjaan laundry baju anak-anak panti. Yi Soo memastikan kalau ia datang bukan karena Woo Il jadi jangan kuatir, ia jadi sukarelawan.

"Gara-gara seseorang perasaanku kacau." Kata Yi Soo sambil mengibaskan pakaian dan airnya mengenai Woo Il.

"Maaf, ada orang rupanya?" Gurau Yi Soo.

Woo Il curhat kalau ia mencemaskan Hwan Gi. Yi Soo yakin Hwan Gi akan baik-baik saja karena sekarang ada seseorang disisi Hwan Gi, yang akan terus mengetuk pintu lalu menyeretnya keluar.

"Sayangnya, tidak semudah itu lagi." Jawab Woo Il.


Setelah mendengar semua cerita dari Woo Il, Yi Soo menyadari bahwa mereka semua bodoh, tidak seorang pun yang dapat mengungkapkan perasaannya dengan benar. Woo Il setuju akan hal itu.


"Tapi malang sekali buat Kang Woo Il."

"Kang Woo Il? Apa maksudmu?"

"Coba pikir. Tiga tahun lalu, Ji Hye menyukai orang lain, yang membuatmu salah paham dan membuang waktu."

"Ayolah."

"Aku tidak yakin boleh mengatakannya, tapi kau pantas menerima itu."

"Kau kejam sekali padaku. Kau jadi menakutkan."

"Benar. Kau semestinya tidak mengatakan apa pun padaku. Hwan Gi Oppa pasti merasa hal yang sama. Pintu yang sudah terbuka tidak mudah ditutup kembali."

Yi Soo terus mengatai Woo Il bodoh. Tapi itu membuat suasana diantara mereka lebih hidup.


Sekretaris Tuan Eun sudah menemukan identitas reporter yang selalu menekan Tuan Eun (Reporter Woo). Ia mengatakan pada Tuan Eun kalau Reporter Woo adalah  teman baik mendiang sekretaris 3 tahun lalu.

"Juga, saya menemukan ini saat menyelidiki dia. Adik mendiang sekretaris itu saat ini bekerja di "Brain". Pasti dia yang memberikan informasi pada Reporter Woo perihal skandal penyalahgunaan kekuasaan Tuan Muda Eun."


Hwan Gi datang ke rumah Ro Woon dengan membawa dua pot bunga cantik, ia meletakkannya begitu saja di depan jendela.


Ro Woon keluar rumah dan terkejut mendapati ada dua pot bunga disana. Ia celingukan mencari siapa yang menaruhnya tapi hasilnya nihil. 


Hwan Gi setiap hari teruske rumah Ro Woon sampai bunganya hampir penuh. Ro Woon merawat bunga-bunga itu.


Suatu hari, Ro Woon memergoki Hwan Gi meletakkan bunga baru tapi ia malah memalingkan wajahnya.


Tapi Hwan Gi tidak berhenti, setiap hari ia terus membawa bunga sampai tidak ada tempat lagi. Ayah keluar saat itu, ia meminta Hwan Gi berhenti, sudah cukup, sudah tidak adatempat lagi.

"Meski kau melakukannya, Ro Woon tidak akan berubah pikiran."


Ayah merasa harus memberitahu Hwan Gi untuk tidak perlu datang lagi kemari. Ia akan segera menutup potong rambut ini. Hwan Gi terkejut, kenapa tiba-tiba sekali.

Ajussi menjelaskan, pemilik gedung berubah dan mereka menaikkan biaya sewa sangat tinggi. Ayah juga tidak punya banyak pelanggan lagi. Ahjussi juga kesal mengingat ayah sudah tinggal selama 30 tahun tapi bisa-bisanya pemilik gedung tega begitu.


"Aku tidak tahu alasan Ro Woon mengunci diri, tapi aku tidak yakin kalian berdua ditakdirkan bersama. Kau sebaiknya menyerah akan dia." Nasehat Ayah.

Hwan Gi menurunkan lesu tangannya yang memegang bunga.


Hwan Gi keluar rumah Ro Woon dengan langkah berat. Baru beberapa inci dari pintu ia menengok kembali, seakan tidak tega pergi dari rumah itu. 


Tuan Eun mengerti penyebabnya sekarang, Hwan Gi telah dibutakan oleh wanita. Dia menyuruh Hwan Gi mengusir Woo Il atas insiden kakaknya 3 tahun lalu?

Hwan Gi membantah, Ro Woon tidak meminta apa pun darinya. Tuan Eun berdecak, mengatakan kalau Hwan Gi sok bijaksana sekali.

"Apa Ayah... yang membeli "Potong Rambut New York"?"

Dugaan Hwan Gi benar karena Tuan Eun tidak menjawabnya, ia menanyakan alasan Tuan Eun melakukan itu. Apa Tuan Eun ingin membuat mereka tidak punya apa-apa, begitu? Tuan Eun kan juga lihat betapa hancurnya Yi Soo.

Tuan Eun mengiyakan, ia akhirnya sadar setelah yang terjadi pada Yi Soo bahwa aku harus memilihkan sendiri calon pasangan Hwan Gi.


Yoon Jung datang setelah Tuan Eun mengatakan itu. Hwan Gi terkejut melihat Yoon Jung ada disana. Yoon Jung memperkenalkan diri dengan manis pada Tuan Eun. Tuan Eun mengucapkan terimakasih karena Yoon Jung sudah mau meluangkan waktunya yang sibuk, ia jujur kalau ia sangat tidak sabaran dan ingin secepatnya bertemu dengan Yoon Jung. Tuan Eun lalu mempersilahkan Yoon Jung duduk.

"Kenapa kau kemari?" Tanya Hwan Gi.

"Kau tidak tahu aku akan datang?"


Tuan Eun agak kesal karena Hwan Gi tidak bilang kalau mengenal orang seperti Yoon Jung sampai ia harus terlibat segala. Yoon Jung maklum karena hwan gi pemalu jadi Tuan Eun sampai harus menghubunginya duluan.

Tuan Eun tertawa, lalu memastikan apakah mereka teman kuliah. Hwan Gi mengelaknya, hubungan mereka bukan seperti itu tapi Yoon Jung membenarkannya, Sejak saat itu Yoon Jung menunggu untuk jadi satu-satunya di hidup Hwan Gi, ia sangat menyukai dia.

Tuan Eun sangat suka dengan kejujuran Yoon Jung, ia akan senang jika sekarang juga Yoon Jung menjadi menantunya. Tuan Eun langsung menawari Yoon Jung untuk menikahi puteranya.

"Menikahi Hwan Gi?" Ulang Yoon Jung sambil menatap Hwan Gi. Muka Hwan Gi sudah mulai tegang, apalagi saat Yoon Jung berkata kalau ia bahagia walau hanya memikirkannya saja.

"Um, itu..." Hwan Gi mencoba masuk pembicaraan.


Yoon Jung menyela, ia sungguh minta maaf. Ia dengan senyum mengatakan kalau Tuan Eun bukan tipe mertua yang ia sukai. Tuan Eun terkejut mendengarnya.

"Saya menyukai betapa polos Hwan Gi. Kadang dia lamban, tapi sangat bijaksana dan perhatian. Tapi, Anda agak berbeda. Anda bergerak cepat, tidak sabaran, dan mengontrol. Karakter saya juga begitu, jadi saya tidak cocok dengan orang seperti itu. Terima kasih sudah mempertimbangkan saya hingga merancang pertemuan ini, tapi semestinya Anda membiarkan Hwan Gi memilih. Dilihat betapa Anda mendesak saya, rasanya saya sudah terintimidasi."

"Um, itu..."

"Karena saya sudah di sini, saya akan terbuka dan jujur pada Anda. Tidak masalah bagi Anda kalau kami hidup sesuka kami? Kami hanya akan mengunjungi Anda saat ada pertemuan keluarga besar." Lanjut Yoon Jung, lalu ia bertanya pada Hwan Gi, "Apa keluargamu menggelar upacara peringatan leluhur secara rutin? Aku tidak bisa bikin pancake."

"Aku menembakkan pelurunya terlalu cepat." Ujar Tuan Eun lalu pergi dengan kesal.


Yoon Jung tahu ia sudah keterlaluan, soalnya ia merasa ini tidak benar. Hwan Gi minta maaf karena membuat Yoon Jungdalam posisi sulit.

"Orang tuamu tidak mungkin menerimaku sekarang. Apa itu awal dari cinta yang sedih?" Canda Yoon Jung.


Ayah mengamati potong rambutnya lekat-lekat sebelum meninggalkannya. Ro Woon pulang dengan membawa pamflet promosi Potong Rambut New York ayahnya.

"Apa itu?" Tanya Ayah.

"Mencoba mempertahankan bisnis Ayah. Aku punya sedikit pengalaman bidang PR dan pemasaran, kok."

"Sudah saatnya kita meninggalkan tempat kecil ini. Aku yakin kau sendiri frustasi."

"Ayah sudah menghabiskan hidup di sini. Kita juga perlu melindungi kenangan tentang Ibu dan Ji Hye."


Ro Woon memasang gerbang balon di depan pintu Potong Rambut New York, ia menyapa setiap orang yang lewat dan membagikan pamfletnya. Ia mengundang semua orang untuk datang.


Tiba-tiba di bawah ribut-ribut. ternyata ada panda berjalan menuju Ro Woon. Ro Woon refleks, "Bos?" Lalu ia bertanya-tanya, kenapa Hwan Gi mendadak muncul dengan kostum panda?


Hwan Gi sampai di depan Ro Woon tapi Ro Woon menyuruhnya pergi. Hwan Gi tidak mau, ia menggerak-gerakkan tubuhnya imut, Ro Woon melarangnya. Hwan Gi lalu menyenggol-nyenggol lengan Ro Woon.

"Bos, kumohon."

Hwan Gi mengelaknya dengan gerakan tangan. Ro Woon terkejut, "Apa kau bilang? Kau bukan Bos? Kau Se Jong?"


Hwan Gi mengangguk tapi Ro Woon tidak percaya, ia akan membuka kepala pandanya tapi Hwan Gi cepat-cepat menjauh. Ia berjoget menghibur orang-orang seperti yang ia lakukan di panti asuhan. Ro Woon mulai ragu kalau itu Hwan Gi karena tampak seperti Se Jong si pembuat onar.

"Ya, hari ini aku Yang Se Jong. Asalkan bisa bersama dia, aku bisa menjadi siapa pun juga." Batin Hwan Gi.

"Imutnya." Puji Ro Woon sambil tersenyum lebar.


Hwan Gi kelelahan, ia pun istirahat. Ia bisa total, tapi usianya tidak bisa bohong. Ro Woon datang mendekat membawakan minum, "Ini. Minumlah (informal)."

" "Minumlah"? " Batin Hwan Gi.

"Kau bilang kau Se Jong. Apa masalahnya bicara informal padamu?"

Hwan Gi menolak minuman itu. Ro Woon tahu kalau ia itu Hwan Gi dan memintanya berhenti. Ia memaksa untuk membuka kepala pandanya tapi Hwan Gi melawan. Akhirnya Hwan Gi memeluk Ro Woon erat.


Ro Woon minta dilepaskan tapi Hwan Gi tidak mau. Hwan Gi minta maaf, tapi bisakah Ro Woon pura-pura bahwa dirinya ini orang lain?

"Sekali saja... aku ingin melihat wajahmu. Kau sudah di sini. Biarkan aku melihat wajahmu. Aku sangat merindukanmu."


Seorang anak berjalan bersama ayah dan ibunya. Ia melihat Hwan Gi dan Ro Woon berpelukan, lalu ia bertanya pada ibunya.

"Bu. Kalau seorang manusia jatuh cinta pada Panda, apa akan lahir superhero?"

Ro Woon malu, ia menutupi wajahnya dengan rambut. Lalu ayah si anak menggendongnya segera pergi dari sana.


Ro Woon dan Hwan Gi ke tempat yang lebih santai dan Hwan Gi akhirnya membuka kepala pandanya. Ro Woon memberi Hwan Gi susu, hitung-hitung sebagai dana promosinya.

"Kau bilang merindukanku." Ujar Hwan Gi.

"Itu soal berbeda. Ada yang tidak dapat diselesaikan."

Ro Woon berterimakasih karena Hwan Gi sudah membantunya. Hwan Gi melarangnya, ia menjelaskan kalau penyebab bisnis ayah Ro Woon di ujung tanduk adalah ayahnya.

"Apa? Bagaimana..." Heran Ro Woon.

"Maafkan aku. Sekarang, ada alasan lain lagi kita tidak bisa bersama. Tapi aku tetap datang. Kau bilang tidak bisa diselesaikan, tapi aku memutuskan membantu (menyelesaikannya)."

"Tapi ini tidak akan mengubah apa pun."


Sampai saat ini, Ro Woon melarikan diri darinya. Ro Woon sempat memercayainya tanpa tahu yang sudah ia perbuat. Setelah tahu, Ro Woon langsung memaafkannya. Namun sekarang... Ro Woon boleh mengunci diri seperti yang ia lakukan dulu, ia akan mengetuk pintu (hati Ro Woon), memasukinya dan coba membawa Ro Woon keluar. Mulai sekarang akan ia lakukan semua itu.

"Aku tidak akan sanggup menemui kakakku. Tidak boleh."

"Biar aku (yang menemui dia). Aku akan memohon maaf dengan muka tembok karena menginginkan seseorang yang semestinya tidak boleh untukku. Biar aku."

"Tetap saja, aku tidak bisa."

"Menjadikan hal mustahil menjadi mungkin adalah semangat tentara khusus. Tentara khusus? Ijinkan aku membantu ayahmu. Karena itu ulah ayahku. Oke? Ijinkan aku."

"Entahlah."

"Kumohon."


Ro Woon mengambili pamflet yang berserakan di tangga. kejadian itu sama seperti 3 tahun lalu saat ia menuntut kasus kakaknya diselidiki.

"Seperti 3 tahun lalu, aku mengutarakan perasaanku, tapi tidak ada yang mendengar."

Hwan Gi mengoreksi, satu hal sudah berubah. Ro Woon bertanya, apa itu. Kau tidak lagi sendirian, jawab Hwan Gi.

"Oh... dasar gombal! Kau ingin satu alasan lagi bahwa kita tidak bisa bersama?"

"Bukan aku (yang kumaksudkan)." Ia menunjuk ke bawah.


Tim Silent Monster menunjukkan diri mereka. Ro Woon tersenyum lebar. Mereka berjalan mendekati Ro Woon dan Hwan Gi sambil mengambil pamflet.

"Aigoo... aigoo... Aigoo... Sudah kuduga kau akan memakai metode kuno begini. Jangan katakan pada siapa pun kau pegawai "Silent Monster"." Bentak Sun Bong.

"Dia benar. Masih banyak yang perlu kau pelajari. Beraninya keluar begitu saja?" Kata Yoo Hee.

"Mestinya kau bilang pada kami." Ujar Se Jong.

"Kami datang untuk membantumu, Ro Woon." Tutup Gyo Ri.

Ro Woon terharu, ia sangat berterimakasih pada semuanya.


Proyek baru mereka pun dimulai. Pertama yang dilakukan adalah survey Potong Rambut milik ayahnya Ro Woon. Se Jong dan Hwan Gi yang jadi modelnya.

Penjelasan Hwan Gi, "Sebagaimana yang sudah diketahui, pasar sekarang didominasi oleh salon rambut (beda dengan potong rambut biasa). Jika hanya memohon pada pelanggan untuk datang ke potong rambut yang sudah terlupakan, cuma akan tampak menyedihkan."

"Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Ro Woon.

"Jangan salahkan dunia yang tidak pernah berubah. Lebih cepat dan efektif dengan mengubah diri sendiri." Jawab Sun Bong.


Yoo Hee dan Gyo Ri berkeliling di salon-salon dan meminta elanggan disana untuk mengisi kuisoner mereka.

"Untuk berinovasi, cobalah melakukan riset pasar dulu." Ujar Yoo Hee.


Ayah didandani Se Jong dan Sun Bong. Ayah bahkan terkejut menatap dirinya di cermin setelah di make over.


Semua berkumpul di kantor. Hwan Gi memasangkan celemek Ayah. Ro Woon sampai panging dengan penampilan baru ayahnya itu. Semua juga memuji Ayah.

Se Jong dan Sun Bong menyarankan untuk mengubah handuk, interior dan pajangannya juga. Yoo Hee lalu menunjukkan desain lantai, dinding, dan jendela yag baru.

"Aigoo... Aku tidak tahu cara membayar usaha keras kalian. Tetap saja, semua ini terasa aneh dan tidak nyaman untukku."

"Ayah perlu berubah agar dicintai."

"Kalau aku mengubah semuanya, buat apa menetap di tempat itu? Kalian semua sudah bekerja keras. Maafkan aku."

Semuanya mengerti dengan keinginan Ayah tapi Hwan Gi hanya diam. Ro Woon sepertinya tidak setuju dengan keputusan ayahnya tapi Hwan Gi mengkodenya untuk diam.


Ro Woon dan Hwan Gi mengantar ayah keluar. Hwan Gi membungkuk hormat mengantar kepulangan ayah.


Ro Woon mengeluh karena ayahnya tidak pernah mau keluar dari zona nyaman. Hwan Gi menjelaska, mereka tidak boleh memaksa untuk mengubah keinginannya.  harus menemukan cara Ayah agar bisa bertahan dengan gayanya.

"Mana mungkin?" Ro Woon ragu.

"Seseorang pernah berkata begitu padaku."

Ro Woon teringat kalau itu adalah kata-katanya yang meminta Hwan Gi tidak berubah. Hwan Gi berjanji pasti akan menemukan caranya jadi Ro Woon jangan terlalu cemas. pulanglah saja sekarang.

"Kalau begitu aku pulang."

"Sampai jumpa."


Hwan Gi meminta bantuan Yoon Jung untuk merekrut Han Seok Jun. Sambil melihat-lihat proposal yang diberikan Hwan Gi, Yoon Jung menjelaskan kalau Seok Jun sangat sangat populer sebagai pembawa acara, jadi ia tidak bisa menjanjikan apa pun.


Hwan Gi tahu itu dan ia berterima kasih, ia hanya meminta Yoon Jung untuk memberikan proposal itu saja dan pastikan Seok Jun membacanya. Yoon Jung punya permintaan juga sebagai balasannya. Ia ingin Hwan Gi berpura-pura sebagai kekasihnya sekali saja.

"Kau tahu dia cinta pertamaku, 'kan? Dulu, aku gadis yang tidak menarik. Aku ingin tunjukkan padanya kalau aku sudah berubah."

"Tapi, kenapa aku?"

"Aku juga pura-pura jadi wanitamu di depan ayahmu. Tidak bisakah kau lakukan ini untukku?"

"Tetap saja, aku..."

"Tidak mau, ya?"

Yoon Jung mengembalikan proposal itu. Hwan Gi pun tidak punya pilihan lain selain setuju dengan syarat yang Yoon Jung ajukan itu.


Seok Jun tiba duluan di tempat janjian. Yoon Jung dan Hwan Gi juga sudah tiba tapi mereka tidak kunjung masuk. Hwan Gi bertanya, bisakah ia hanya hanya menyapa dia lalu pergi?

"Ya, cium aku juga."

"Oke. Apa?"

"Kisahku dengannya menyedihkan. Saat dia menggantung statusku, dia mencium teman baikku. Bantu aku melepaskan trauma itu."

"Tetap saja, aku tidak bisa menciummu."

"Hanya kecupan. Apa susahnya?"

"Aku tidak bisa."

"Kalau begitu, aku juga tidak bisa."

Hwan Gi kembali tidak punya pilihan. Ia mau tapi di pipi saja. Yoon Jung setuju setelah perdebatan sengit.


Yoon Jung mengenalkan Hwan Gi sebagai presdir Silent Monster juga sebagai kekasihnya. Seok Jun pun menyapanya dengan formal.

"Dia memang ingin bertemu denganmu." Ucap Yoon Jung.


Yoon Jung lalu menyuruh Hwan Gi pergi. Ia menyodorkan pipinya tapi saat Hwan Gi mendekat, ia merubah arah mukanya jadinya ciuman itu terjadi di bibir.

Hwan Gi terkejut karenanya dan Seok Jun canggung sekali melihat mereka.

"Terima kasih. Sampai jumpa." Ucap Yoon Jung sambil melambai manis, Hwan Gi pun cepat-cepat pergi dari sana.


Yoon Jung berhasil membujuk Seok Jun. Ia menata rambutnya di Potong Rambut Ayah sambil membawa reporter.

"Kudengar, orang-orang bergosip baha penata gayaku pasti membenciku karena rambutku ditata dengan gaya yang tidak cocok denganku. Namun, Potong Rambut New York ini berhasil bertahan selama 30 tahun bukan tanpa alasan. Mereka memiliki selera yang bagus." Kata Seok Jun di depan kamera.


Ro Woon sangat berterimakasih pada Yoon Jung. Yoon Jung menyuruh Ro Woon berterimakasih pada Hwan Gi, soalnya ia hanya mengenalkan mereka saja. Juga, Potong Rambut New York ini memang sudah bagus, Produser acara itu pasti menyadari nilainya.

"Aku kembali ke Amerika malam ini."

"Apa? Amerika?"

"Kali ini akan cukup lama (tinggal di sana). Jangan terlalu senang."

"Kenapa mendadak?"

"Agar orang itu merindukan aku. Aku belum bilang pada Hwan Gi (soal kepergianku). Kuharap, dia akan frustasi karena merindukan aku."

"Tetap saja kau harus memberitahu dia."

"Aku akan memberitahunya."


Yoon Jung mengulurkan tangannya, meminta Ro Woon untuk menjaga Hwan Gi. Ro Woon tidak bisa menjabat tangan Yoon Jung. Yoon Jung langsung memeluknya, ia tahu tapi tetap saja, tolong jaga Hwan Gi.

"Jaga dirimu."

"Kunjugi aku, ya?"


Potong Rambut New York sangat ramai. Tapi ayah tidak sendiri, dibantu dua AHjusshi tetangga dan Ro Woon.


Ro Woon menghitung penghasilan mereka hari ini dan ia sangat puas. Biaya sewa bukan jadi masalah lagi, ia bahkan yakin ayahnya bisa membeli rumah itu.

"Itu hanya sementara. Jangan takabur. Kita harus konsisten."

"Auh... oke... oke."


Tiba-tiba Yoo Hee menelfon. Dari senang wajah Ro Woon berubah terkejut.


Reporter Woo kembali mengudarakan berita soal Hwan Gi dan ayahnya.

"Tahun lalu, korupsi di balik proyek konstruksi besar terungkap. Saat bersamaan, sebuah skandal artis papan atas terungkap. Mereka yang bertanggungjawab mengatasi skandal tersebut adalah Silent Monster. Penyalahguna kekuasaan, Eun Hwan Gi, membantu penyalahguna lain memulihkan imej baiknya.
Tuan Park dari Rose Airlines. Burung pemakan bangkai bertautan tangan."

Tuan Eun dan Hwan Gi mendengarkan siaran radio Reporter Woo itu. Bukan hanya mereka ding tapi semuanya.

"Ada yang lebih besar lagi. Di pihak Anggota Kongres Eun yang mengikuti pemilihan walikota, ada sosok kuat mertua Tuan Park. Anggota Dewan Eun memiliki koneksi luar biasa di kalangan media dan politik. Dia hebat dalam meredakan skandal. Seseorang bunuh diri di perusahaannya, tapi dia menutupi hal itu dan tidak satupun artikel dirilis.

Saat pembicaraan mengenai skandal penyalahgunaan kekuasaan muncul, mereka berhasil mengatasi dan bebas dari hal itu. Mereka mengubur fakta yang menghalangi mereka. Ketua Dewan Eun akan terus mendapat sorotan positif. Dan mereka yang bertanggung-jawab atas hal itu adalah "Brain". Juga... "Silent Monster".


Ro Woon memprotes tindakan reporter Woo itu karena tidak mendiskusikannya dahulu dengan dirinya. 

"Kau tahu Anggota Dewan Eun mencoba mengusir ayahmu?"

"Aku tahu itu. Tapi kau salah akan sesuatu. Bos dan Silent Monster..."

"Kebenaran itu relatif. Maafkan aku."

"Tapi..."


Ro Woon langsung menyambar mantelnya tapi ia berhenti saat melihat sepatu kakaknya yang ia letakkan di depan pintu. Ayah bertanya, kenapa Ro Woon diam di situ, Sebenarnya ada apa, sih?

"Unnie... menyukai orang itu juga."

"Apa?"

"Itu sebabnya Unnie frustasi. Karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Lalu... mana mungkin aku... menerima dia?".

Ayah mengepalkan tangannya erat mendengar pengakuan Ro Woon itu.


Tuan Eun menemukan jalan keluar, bilang saja penyebab insiden itu adalah Woo Il yang tidak setia. Hwan Gi menetangnya. Tuan Eun tidak peduli, toh Woo Il juga sudah keluar, mereka bisa bilang baru mengetahui dan kemudian memecat dia.

"Tolong hentikan!" Bentak Hwan Gi sampai menggetarkan tubuh ayahnya.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...