Saturday, March 11, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 11 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 11 Part 1


So Joon menuntut detektif untuk melakukan pemeriksaan dengan benar, jangan hanya asal menyimpulkan bahwa kecelakaan yang menimpa Tuan Shin itu cuma kecelakaan. Polisi kesal, So Joon bahkan bukan keluarga korban tapi malah ribut-ribut disana.

"Tenang, So Joon. Kita bisa mendiskusikannya baik-baik." Bujuk Ki Doong.

So Joon tetap bicara dengan nada tinggi, Apa detektif sudah memeriksa semua CCTV di area itu? Bagaimana dengan ponsel Tuan Shin? Yakin sudah menginvestigasinya dengan benar? 100% yakin itu kecelakaan? Jelaskanlah agar ia mengerti!

"Aish, berisik! Bereskan sana, Detektif Kim!" Ujar Detektif lain yang terganggu dengan So Joon.

Detektif Kim menjelaskan, kecelaan itu terjadi di area yang tidak terjangkau, jadi tidak mungkin ada CCTV, tidak ada yang aneh juga dalam riwayat ponselnya. So Joon masih belum puas, bagaimana dengan rekaman black box (kotak hitam) mobil yang ada di sana?

"Di atas semua itu, hasil pemeriksaan dokter menyatakan cedera atas kecelakaan itu sangat alami. Kalian juga sudah diberitahukan!" Sela Detektif Kim.

"Tidak ada kemungkinan seseorang memanipulasinya seolah kecelakaan?" Tanya Ki Doong.

"Kalau pembunuhan, korban pasti akan dicekik atau ditikam. Entah di kepala atau tulang rusuk, semestinya ada cedera serius. Jika benar pasti ada jejak semacam itu. Namun Shin Sung Kyu-Ssi tidak mengalaminya. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan."

"Pada hari itu, dia tidak punya alasan pergi ke lokasi tersebut. Dia semestinya berangkat ke Jepang. Dia bahkan mengatakan pada putrinya akan menyusul ke bandara." Desak So Joon.

Itu sebabnya kamipun menyelidiki secara mendalam." Bentak Detektif Kim.

"Tidak masuk akal tiba-tiba dia pergi ke lokasi konstruksi." So Joon ikutan membentak.

"Aku juga tidak habis pikir soal itu." Imbuh Ki Doong.

"Lalu, maksudmu seseorang membawanya ke sana? Kami sudah memeriksa riwayat ponselnya. Di hari itu, semula dia pergi ke rumah komunitas di Sangjin-dong. Lalu dia ke TKP di Hwakyung-dong."



So Joon terkejut mendengar Tuan Shin juga pergi ke rumah komunitas. Detektif Kim menjelaskan mereka mendapat kesaksian dia (Tuan Shin) sering menginspeksi lokasi konstruksi. Jadi, mereka menyimpulkan kedatangannya ke TKP sebelumnya tidak direncanakan. So Joon pun tidak bisa membantah lagi.


So Joon menyampaikan keheranannya pada Ki Doong. Jika memang Tuan Shin pergi juga ke rumah komunitas, semestinya Ki Doong dan Ma Rin melihatnya. Ki Doong membenarkan, tapi ia tidak lihat. So Joon menyimpulkan, bererti Tuan Shin hanya melewati tempat dimana Ki Doong dan Ma Rin berada, lalu dia pergi ke TKP.

Ki Doong mengingat-ingat dan ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Ki Doong pun setuju dengan detektid, mungkin kebetulan saja ke lokasi itu untuk inspeksi.

"Hei, menurutmu itu masuk akal? Ahjussi tidak suka Se Young pergi ke Jepang."

"Mungkin dia hanya sekedar janji palsu akan menyusul Se Young."


Tapi sejujurnya Ki Doong juga tidak habis pikir. Tapi lebih tidak masuk akal lagi kalau Tuan Shin dibunuh. Siapa juga yang berniat buruk pada orang sepertinya.

"Hei, kita sudah tahu soal insiden itu dan coba menghentikannya. Tapi, TKP-nya justru berubah, namun kejadiannya tidak berbeda. Seolah seseorang merencanakannya agar terjadi. Kau pikir sesuatu yang serupa dapat terjadi pada hari yang sama secara kebetulan?"

"Semua ini sulit dipercaya, tapi aku pun kesulitan menerima keadaan. Tapi kita bukan polisi. Kau menjadi sangat emosional akibat rasa bersalah."


Ma Rin mendekat dan menghentikan perdebatan mereka. So Joon menatap Ki Doong penuh tanya. Ki Doong mengakui kalau ia yang menelfon Ma Rin. Ki Doong senang Ma Rin datang, ia meminta Ma Rin untuk membawa pulang So Joon.

Ma Rin membereskan rambut So Joon yang berantakan. So Joon minta maaf, tapi ia harus pergi ke suatu tempat. Kemana, tanya Ma Rin. So Joon tidak menjawab, malah beralih ke Ki Doong, berkata kalau ia sangat kesal pada Ki Doong hari ini.

"Kau mau kemana?" Ulang Ma Rin sambil menahan tangan So Joon.

"Aku harus mencaritahu sesuatu."

"Setahun mendatang? Atau dua tahun mendatang? Seperti kata Ki Doong, kau bukan polisi. Mengertilah aku kemari untukmu, jadi ayo pulang bersamaku."

"Maafkan aku. Hati-hati pulangnya."

Dan So Joon tetap pergi.


Ma Rin juga terkejut mendengar bahwa Tuan Shin mampir di tempat mereka berada. Ki Doong bertanya, apa Ma Rin tidak melihat sebuah mobil mencurigakan. Ma Rin tidak yakin, ia sempat berpapasan dengan mobil sih.

"Oh, tidak, kok. Aku tidak mengerti kenapa ikut seperti ini." Jawab Ki Doong.

Ma Rin paham alasan So Joon bersikukuh pasti ada pelakunya dan tidak memercayai sesuatu yang meragukan seperti halnya 'takdir'... So Joon pasti ingin menyalahkan seseorang karenanya. Ki Doong mengangguk, ia juga paham hal itu. Tapi sejujurnya, ia sendiri tidak mengerti yang sedang terjadi.

"Aku juga merasa begitu." Tanggapan Ma Rin.


Ma Rin mengingat pertanyaan Ki Doong sembari jalan. Ia kembali mengingat mobil yang berpapasan dengannya. Ada kecurigaan sih tapi ia segera menepis hal itu dari benaknya.


So Joon minum-minum dengan Doo Si. Doo Sik tahu So Joon tidak ingin menerimanya, tapi sungguh itu hanya kecelakaan. Omong-omomh So Joon bukankah mestinya minta maaf sudah memperlakukanmya layaknya kriminal? So Joon bahkan memborgolnya.

So Joon sudah mabuk, kelihatan dari nada bicaranya. Ia meminta Doo Sik melihatnya, ia yakin betul Doo Sik mengetahui sesuatu. Tindakan Doo Sik tidak masuk akal jika memang tidak tahu apa-apa. Ia menuntur Doo Sik untuk mengatakan apa yang disembunyikannya.


"So Joon-ah. Aku yakin kau tahu... masa depanmu tidak terlalu bagus."

So Joon memotong, ia tahu sebentar lagi akan menghilang tanpa jejak. Lalu ia akan mati dua tahun kemudian. Doo Sik menambahi dengan serius kalau itu bisa lebih buruk dari yang So Joon ketahui. So Joon hanya menanggapi dengan desahan.

"Aku hanya bisa mengatakannya lagi dan lagi. Jika kau coba menghentikan sesuatu yang akan terjadi, hasilnya justru akan lebih buruk. Itu sebabnya, aku tidak ingin kau mengetahui masa depan."

"Lalu kenapa Ahjussi juga melakukan perjalanan waktu? Ahjussi mestinya juga hidup tanpa mengetahui masa depan."

"Soal itu... kau akan mengetahui semua ketika saatnya tiba."

"Ahjussi merasa jadi Dewa karena mengetahui masa depan lebih banyak dariku? Tidak bisa dipercaya. Ini alasan aku mencurigaimu, Ahjussi."

"Lalu kau? Bahkan kau lebih buruk. Memang kau Dewa? Kau pikir bisa menyelesaikan semua permasalahan? Keterlaluan. Ish..."

"Lalu apa? Apa yang bisa kulakukan selain membeli ramyeon dari dunia lain? Aku tahu yang akan terjadi. Tapi kau bilang aku tidak bisa melakukan apa-apa? Aku harus membiarkannya meski mengetahuinya? Aishhh.... Betapa menjengkelkannya hal itu?" So Joon mulai menangis saat mengatakan hal itu.


So Joon dan Doo Sik selesai minum. Keduanya sama-sama seleyoran saat jalan. So Joon kesal, kenapa Doo Sil menjelajah waktu dan ikut campur dalam hidupnya?!

"Baiklah, baiklah." Jawab Doo Sik. So Joon sedikit mendorongnya, tapi Doo Sik tersungkur.

"Jangan bersikap seolah kau lebih tahu soal hidupku
daripada diriku sendiri, oke? Itu membuatku merasa seperti pecundang."

"Dasar kunyuk! Beraninya kau mendorong orang tua! Kunyuk! Kau tahu siapa aku? Hei, Nak. Aku ini..."


So Joon meminta Doo SIk berhenti sok tahu soal hidupnya. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa bisa ada hal yang tidak dapat ia lakukan? Ia akan naik subway sampai mati. Kenapa? karena ia harus menyelamatkan Ma Rin-nya.

"Kau ingin aku membiarkan hal buruk terjadi lagi seperti ini, huh? Dia satu-satunya keluarga tersisa yang kumiliki. Dia satu-satunya isteriku, wanitaku. Aku... aku harus melindunginya sampai akhir. Jika tidak... aku akan sangat menyesal." So Joon terbata karena ia menangis.

Doo Sik mengerti kesedihan So Joon, ia pun memeluk So Joon sayang.


Ma Rin menegur ibunya karena makan di meja ruang tamu. Ibu tidak mau disalahkan karena ia sudah menyuruh Ma Rin untuk ikutan makan.

"Ibu sedang menyiksaku, ya? Oh, aku lapar sekali."

"Siapa suruh? Cepat makan! Bagaimana bertahan hidup? Dengan makan."

"Aku bahkan tidak tahu So Joon sudah makan belum. Bagaimana aku bisa makan?"

"Jadi, kau kelaparan demi dia?"

"Aku akan kelaparan bersama dia. Itu disebut berbagi luka."

"Aigoo, aku akan menelepon Walikota dan minta kau dianugerahi isteri paling setia."


So Joon akhirnya pulang dalam keadaan mabuk berat. So Joon tidak menyadari kehadiran Ibu, ia santai aja manja-manja dengan Ma Rin. Ma Rin mengingatkan kalau ibu ada disana, ibu juga memanggil So Joon tapi So Joon-nya masih tetao tidak sadar.

"Isteriku yang cantik. Song Ma Rin-ku yang malang."

Ibu kembali mengatakan kalau dirinya ada disana. Ma Rin membujuk So Joon untuk masuk, tapi So Joon malah mencium Ma Rin. Ibu malu dan cepat-cepat balik badan.


Baru setelah itu So Joon melihat Ibu. Ia memanggilnya dan memeluknya, bahkan akan mencium ibu kalau saja Ma Rin tidak menghalanginya.


Ma Rin cepat-cepat membawa So Joon ke kamar. Padahal ia khawatir So Joon belum makan tapi kelihatannya perut So Joon sudah terisi.

"Kau baik-baik " Tanya Ma Rin sambil melepas kaus kaki So Joon.

"Tidak. Sakit."

Ma Rin membangunkan So Joon untuk melepas mantelnya. Setelah itu Ma Rin menyuruh So Joon tidur agar bisa baikan.


So Joon berkata kalau ia akan  melupakan segalanya. Ayah Se Young sudah meninggal, ia tidak bisa hidup serampangan dan tidak bersyukur, ia ingin melupakan semuanya. Ia ingin mereka berdua hidup bahagia, ia hanya kuatir tentang masa depan mereka. Apa pun yang terjadi, ia akan melindungimu.

"Oke. Tidak mungkin untuk melupakannya dengan cepat. Namun, bagus kau sudah memutuskan."

"Percayalah padaku. Setidaknya, aku bisa membahagiakanmu."

"Aku memercayaimu."


Ki Doong menemui Se Young dengan membawakan banyak barang. Se Young sudah kelihatan ceria lagi. Ki Doong menawari, apa perlu ia bawakan barang-barang itu ke rumah. Se Young mengingatkan jalan juga tidak sampai lima menit, Memang ia sakit, huh?

"Bagaimanapun, terima kasih. Katakan pada So Joon dan Ma Rin, terima kasih sudah banyak membantu."

"Apa? Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku kan pesuruhmu."


Se Young memecat Ki Doong dari posisi itu. Ki Doong bercanda, apa ia perlu mencari pekerjaan lain ya? Di mata Se Young, ia berpengalaman, 'kan?

"Kang Ki Doong adalah pesuruh Shin Se Young. Jadi, kau bisa minta apa pun padaku." Tutup Ki Doong.

Se Young mengangguk mengerti, ia akan kembali ke rumah membawa barang-barang itu yang kayaknya cukup untuk persediaan makan sebulan. Ia berterimakasih pada Ki Doong.

Ki Doong bertanya, Se Young akan pergi ke Jepang lagi kan. Se Young bingung harus bagaimana, sekarang ibunya sendirian. Ki Doong tersenyum, kalau begitu tidak bisakah Se Young tetap di Korea?

Se Young murung lagi. Ki Doong menyesal sudah mengatakan hal itu. Ia melarang Se Young memikirkan apapun, pulanglah dan istirahatlah, oke?


Gun Sook pergi clubbing dengan teman-temannya, So Ri juga ikut. Mereka semua mengajak Gun Sook pulang karena badan sudah pegal-pegal, lagian disana isinya cuma anak muda tok.

"Apa maksudmu? Tidak seorangpun boleh pergi sampai mengidap arthritis." Jawab Gun Sook.


Gun Sook melihat cowok keren sedang nge-dance. Ia berkata pada teman-temannya akan menjadi ratu malam ini, ia pun menghampiri pria itu yang ternyata adalah Sekretaris Hwang. Keduanya sama-sama terkejut saat melihat wajah masing-masing.


Mereka berdua lalu mampir ke mini market. Gun Sook menyuruh Sek. Hwang merahasiakan soal hal ini dari Young Jin. Sek. Hwang mengerti hal ini akan menjadi rahasia mereka hingga ia meninggal.

"Rasanya aneh. Padahal tidak terjadi apa-apa." Ujar Gun Sook.


Gun Sook membicarakan mengenai Young Jin yang mendadak bersikap aneh, apa sesuatu yang buruk di kantor terjadi pada Young Jin-nya?

"Tidurnya tidak nyenyak seolah sedang dikejar. Dia tertawa lalu berteriak sendirian. Dia kelihatan seperti orang yang berbeda. Aku hampir gila. Dia bahkan menyebut soal Vietnam..." Lanjut Gun Sook.

"Beliau bilang Anda mirip gadis Vietnam? Anda tidak kelihatan begitu."

"Bicara apa, sih? Tidak, bagaimanapun beritahu aku kalau kau tahu sesuatu. Apa dia habis dipecat?"

Sejujurnya, Sek. Hwang juga kurang tahu. Posisi Young Jin sedang tersudut belakangan, jadi sulit juga untuknya. Itu sebannya ia ke klub untuk melepaskan penat. Gun Sook juga memiliki tujuan yang sama, ini pertama kalinya ia ke sana setelah menikah, ia terlalu stres.

"Saya mengerti."

"Kau banyak menderita di kantor, Sekretaris Hwang."

"Anda banyak menderita di rumah, Nyonya."


Ma Rin dandan cantik pagi-pagi, ia memuji penampilannya sendiri yang tampak sangat karismatik.


So Joon baru bangun dan masih menderita karena mabuknya kemarin, ia heran melihat Ma Rin sudah dandan pagi-pagi, mau pergi?

"Iya. Mengantarmu ke kantor. Kalau aku membiarkanmu, kau akan jadi pecundang. Aku akan mendisiplinkanmu. Aku akan bersikap layaknya ibu Han Seok Bong."

So Joon kira ia salah dengar. Ma Rin mengulangi lagi kalau ia akan mengantar So Joon ke kantor. So Joon tidak mau, perutnya masih sakit sekali. So Joon mencari penangkal mabuk tapi Ma Rin malah memberinya Gingseng merah.

"Kau ingat yang kau katakan padaku kemarin?" Tanya Ma Rin.

"Memang apa?"

"Menjengkelkan sekali. Jadi hampa rasanya."

"Apa yang sudah kulakukan? Kebiasaan mabukku tidak buruk, kok."

"Orang bilang, saat mabuk mereka bahkan tidak mengenali orang tua sendiri. Seperti itulah kau."

"Memang sih aku tidak ingat. Tapi kau tidak berhak mengatakan apa pun (karena kebiasaan mabukmu lebih buruk)."

Ma Rin tidak ingin membahasnya, ia menyuruh So Joon minum saja Gingseng merahnya, So Joon lemah makanya gampang mabuk. So Joon masih penasaran soal apa yang ia katakan semalam.


" "Aku bukan manusia kalau tidak pergi kerja". "Aku akan jadi orang yang rajin". "Aku akan menuruti perkataan Song Ma Rin". Semacam itulah." Jawab Ma Rin sambil membawa So Joon ke kamar mandi.

So Joon merengek, ia lagi tidak enak badan nih, ia minta Ma Rin membuatkannya ramyeon. Ma Rin tidak peduli, ia tetap memasukkan paksa So Joon ke kamar mandi.


Ma Rin bahkan mengemudi untuk So Joon, tapi tatapannya lurus kedepan sampai ia jarang berkedip. So Joon menggerutu, kenapa juga Ma Rin sampai repot-repot mengantarnya ke kantor, sih? Memang ia anak kecil?

"Kenapa? Kau gugup?"

"Ya."

"Oh, ya. Itu yang kuinginkan. Aku coba membuatmu sadar."

"Tapi tidak berhasil padaku. Aku tidak sadar sama sekali."

"Baiklah."

Navigasi mengatakan untuk belok kiri. Ma Rin hendak menyalakan lampu sign tapi malah wipernya yang menyala. Ma Rin panik dong, ia bertanya dimana tombol lampu sign-nya. So Joon mengatakan yang disebelah kiri. Ma Rin berhasil menyalakannya tapi ia terlambat karena belokannya sudah lewat.

"Kita jalan-jalan sebentar." Ajak Ma Rin.

Ma Rin heran, bagaimana bisa tidak ada belokan kanan, soalnya ia paling jago soal belok kanan.

"Hei, di sini. Belok kanan." Kata So Joon tapi Ma Rin kembali menyalakan wiper bukan lampu sign. So Joon kesal tapi ia malah ketawa.


Young Jin sedang jalan di kantor. Ia tidak sengaja mendengar 2 Direktur menggosipkannya, ia pun berhenti di balik tembok untuk mendengarkan mereka.

"Belakangan, aku dengar banyak rumor soal Direktur Kim Yong Jin." Kata Direktur 1.

"Ah, maksudmu soal Kota Jangho? Oh, kau juga dengar? Setiap orang membicarakannya, 'kan?"

"Direktur Wang, Anda yang memulai rumornya."

"Astaga. Aku?"

"Saya dengar Anda yang memulai rumor tersebut."

"Kunyuk! Kau pasti mengira aku ini temanmu, ya? Apa maumu? Kau terus saja begitu."

"Baiklah, baiklah. Baiklah, baiklah. Saya mengerti."


Ahhirnya mereka sampa di kantor. Ma Rin mengeluh kalau mengemudi itu sangat sulit. So Joon juga mengeluh, apa kantornya itu di Busan, sampai butuh waktu 4 jam kesana?

"Lebih baik terlambat daripada tidak hadir. Itu yang biasa dikatakan ibuku. Saat aku sakit parah, Ibuku bilang kalau perlu aku mati saat di sekolah."

"Sebab itu, aku pergi kerja hari ini."

Ma Rin langsung memberi So Joon jempol sambil senyum manis.


So Joon memastikan dirinya baik-baik saja jadi Ma Rin tidak perlu berlebihan. Tapi di mata Ma Rin So Joon tidak begitu baik, terlihat agak sakit.

"Itu akibat duduk di mobil selama 4 jam."

"Mau kutuntun ke ruanganmu? Aku bahkan sudah berdandan untuk jaga-jaga."

"Pergilah, aku masuk dulu."

"Yoo So Joon. Jangan pergi dan menghilang lagi. Jangan pergi ke dunia lain. Sekarang itu dilarang. Sebaiknya jangan pergi. Mati kau kalau melakukannya."

So Joon menutup pintu mobil sambil berpesan agar Ma Rin hati-hati mengemudinya, ia tidak menganggapi larangan Ma Rin. Ma Ri kembali menegaskan kalau ia melarang So Joon ke masa depan.

Ma Rin menjalankan mobilnya tapi baru beberapa senti ia sudah mengerem mendadak membuat So Joon melotot khawatir. Ia bahkan sampai menawari untuk menelfon supir pengganti. Tapi Ma Rin tidak menanggapinya dan tetap mengemudikan mobil.


Young Jin menyapa Direktur Wang, apa sudah makan siang. Direktur Wang menganggapinya dengan sinis, belum karena nanti ada janji makan malam, kenapa, mau mengajak makan bersama?

"Kurasa kita bisa makan sambil mengobrol bersama. Soal proyek Sami yang sedang kau kerjakan, masih dipertimbangkan, iya?"

"Ya, gara-gara kau."

"Kau ingin mempercepatnya, 'kan? Mau kubantu?"

"Terakhir kali kau bilang, "Kau gila? Tidak waras, ya?" Kau salah makan? Kenapa tiba-tiba baik?"

"Direktur Wang dikenal di industri ini bukan tanpa alasan. Tentu karena aku memercayaimu."

"Kau mau apa sebenarnya?"

"Tidak ada. Hanya ingin memercayaimu dan bekerja. Sungguh."

"Baiklah, aku senang kalau kau membantuku, Yong Jin."

"Aku tahu betapa talentanya kau, hanya tidak pernah bilang saja."


Obrolan mereka terhenti saat melihat So Joon. Direktur Wang menyapanya ramah, ia bahkan perhatian dengan So Joon yang nampak kurang sehat. So Joon menjawab karena ia duduk di mobil terlalu lama.

"Saya sudah dengar dan sempat ingin ke pemakaman. Tapi Manajer Kang bilang tidak perlu." Ucap Young Jin.

"Pegawaiku tidak perlu ke sana."

"Anda pasti sangat sedih. Saya tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan turut berdukacita." Ucap Direktur Wang.

"Terima kasih untuk itu." Jawab So Joon lalu pamit.


Direktur Wang melihat wajah So Joon kelihatan kusut, Ki Doong juga beberapa hari ini juga kelihatan sedih. Ia dengar yang meninggal bukan anggota keluarga, lalu siapa?

"Ada sebuah organisasi bernama Happiness. Dia direktur di organisasi itu." Jelas Young Jin.

"Sungguh? Kau tahu darimana?"

"Entahlah. Aku tidak sengaja dengar." Jawab Young Jin asal.


Ma Rin menghentikan mobil di lampu merah. Ia malu sekali, padahal ia hanya mencoba jadi isteri berguna. Ia iri melihat mobil disebelahnya bisa putar arah dengan mulus.


Gun Sook tiba-tiba menelfon, Ma Rin menyuruhnya bicara secepat mungkin sebelum lampu berubah hijau atau telfon lagi nanti. 

"Ayo kita ketemuan. Aku perlu bicara padamu. Kenapa langsung membahas soal lampu lalu lintas saat menjawab telepon? Keseluruhan hidupku sedang berada di lampu merah (terhenti). Aku akan meng-SMS lokasinya."

Usai menutup telfon, Gun Sook kembali membuka buku, ia belajar dasar-dasar bahasa Vietnam.

1 komentar so far

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...