Sunday, March 19, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 14 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 14 Part 1


So Joon panik karena Young Jin memeganginya saat kereka memasuki lorong, ia minta dilepaskan tapi Young Jin tidak bersedia. Young Jin memiliki satu pertanyaan untuk So Joon.


Tapi tiba-tiba So Joon menghilang begitu saja. Young Jin ketakutan karena mendapati tangannya kosong. Ia melihat sekeliling tapi So Joon tetap tidak ada.


So Joon tiba di masa depan. Ia kesal sih karena Young Jin tahu soal dirinya yang ini.

Young Jin keluar dari kereta dengan lesu, "Apa yang terjadi di sana? Bagaimana bisa seseorang menghilang begitu saja? Siapa kau sebenarnya, Yoo So Joon?"



Dengan arahan Gun Sook dan bantuannya, Ma Rin akhirnya berhasil melepas memory card itu dari black box mobil Young Jin.


Ma Rin akan menghubungi Gun Sook begitu datanya sudah dikembalikan. Jadi jangan memikirkan hal lain dulu sekarang. Kalau Gun Sook memberitahu Young Jin, maka mereka berdua akan berada dalam masalah.

"Bagaimana bisa aku memberitahu dia? Hei, kau harus memberikannya padaku begitu datanya dikembalikan. Sebaiknya jangan melihatnya lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang mungkin terekam di sana."

"Jangan cemas. Mari kita berharap semoga  kita tidak menemukan apa-apa di sana."

"Baiklah."

"Aku akan menghubungimu segera."


Ma Rin pulang dengan memory carddi tangan. Ia ters meyakinkan dirinya kalau kecurigaannya itu tidak mungkin. Dan ternyata Young Jin sudah menunggu di depan rumah. Ma Rin terkejut dan langsung menyembunyikan memory card itu.


Young Jin mendekati Ma Rin, ia mengaku kesana untuk menemui So Joon tapi sepertinya So Joon tidak sedang di rumah, So Joon juga tidak mengangkat telponnya.

"Mungkin dia sedang bekerja." Jawab Ma Rin.

"Aku sedang ada urusan penting. Bisa 'kan aku menunggu di dalam?"

"Aku tidak tahu sih apa urusan pentingmu dengannya. Tapi begitu So Joon sampai, aku akan segera memberitahunya."

"Tidak, aku 'kan sudah di sini. Aku akan menunggunya dengan tenang di sini. Ya, begitu saja."


Ma Rin pun mengijinkan Young Jin masuk dan menyajikan minuman juga. Ma Rin menanyakan hubungan Young Jin dengan Gun Sook, baik-baik saja kan. Young Jin menjawab kalau mereka sama saja dari dulu. 

"Jadi, ada masalah apa? Sepertinya sangat mendesak."


"Ada sesuatu yang harus kutanyakan pada Presdir. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di dalam kereta hari ini. Bagaimana ya aku menjelaskannya. Mendadak dia hilang begitu saja. Tidak ada."

Ma Rin berusaha bersikap senatural mungkin, "Apa? Hahaha Kau ini bicara apa?"

"Makanya. Dia hilang, musnah seperti asap."

Ma Rin sedikit tegang dan Young Jin menyadari itu, lalu Young Jin berkata kalau itu semua tidak masuk akal seperti kata Ma Rin. Tapi masalahnya  melihat semuanya di depan matanya sendiri, ia bahkan memegang lengan So Joon. Ma Rin tersenyum, pasti Young Jin sedang menceritakan mimpinya kan?

"Suamimu tidak normal, 'kan?"

"Tentu saja dia tidak normal. Dia sangat spesial bagiku. Aku tidak paham apa yang sedang kau bicarakan. Bagaimana bisa manusia menghilang dengan cara itu? Aneh sekali. hahaha.."

"Sepertinya kau tahu semuanya, Ma Rin."

Ma Rin kembali tegang, lalu ia mencari alasan agar Young Jin mau pergi. Ibunya harusnya akan berkunjung hari ini, jadi ia akan beritahu So Joon kalau Young Jin ke rumah.

"Ya, baiklah kalau begitu. Maaf karena kekurang ajaranku hari ini. Karena kedatanganku yang mendadak ini."


So Joon buru-buru pulang. Ma Rin bercerita kalau Young Jin kesana tadi dan bilang melihat So Joon menghilang di kereta.

"Jadi, si kunyuk itu datang ke rumah kita? Wow! Dia benar-benar psiko."

"Katanya ada yang mau dia tanyakan padamu. Dia ngotot ingin bertemu denganmu."

"Kenapa kau sembarangan memasukkan orang ke dalam rumah tanpa rasa takut sedikitpun?"

"Oh, apa yang harus kita lakukan?"


Kabar buruknya, Young Jin menaruh alat penyadap di bawah meja ruang tamu dan sekarang ia mendengarkan percakapan mereka di mobil.

So Joon: Apa yang akan dia lakukan kalau dia melihatku? Kalau dia mengatakan semuanya pada orang lain, apakah orang akan percaya? Hei, jangan cemas.

Ma Rin: Dia tidak akan tahu kalau kau ini seorang penjelajah waktu. Dia tidak akan tahu soal itu, 'kan? Pasti dia tidak akan tahu. Siapa yang akan menyangka ada seseorang yang bisa melakukan perjalanan waktu dengan sebuah kereta, ya 'kan?

Young Jin terkejut mendengar hal itu, melakukan apa di kereta? Ke mana? Masa depan?

So Joon menenangkan Ma Rin agar tidak perlu cemas. Young Jin membuat masalah dan dipecat, jadi sekarang Young Jin sedang tidak waras karena itu sekarang dan apa yang sedang dia kerjakan sekarang juga kacau.

Ma Rin terkejut mendengarnya, ia pun mengikuti So Joon yang akan ganti baju. Ma Rin bilang kalau Gun Sook tidak mengatakan apa-apa soal pemecatan Young Jin. So Joon menjawab kalau perusahaan juga punya alasan sendiri.


"Jadi karena itu mendadat Gun Sook menyebut-nyebut Vietnam?"

So Joon tidak begitu mendengarkan omongan Ma Rin itu karena sibuk meminta Ma Rin keluar karena ia akan ganti baju. Ma Rin mengulangi lagi, Gun Sook bilang dia akan pindah ke Vietnam. Dia benar-benar tidak mau ke sana tapi Kim Yong Jin yang memaksanya pergi. Dia juga tidak tahu apa alasannya.


So Joon kembali membuka pintu, "Vietnam?"

"Ya. Tapi, pasti ada alasan lain. Kenapa mereka harus meninggalkan Korea."

"Apa?"

"Aku masih belum bisa memastikannya. Bukan apa-apa. Bukan apa-apa. Mandi sajalah sana."

Ma Rin menutup pintunya kembali dan sekali lagi ia membantah kecurigaannya itu. 

Di dalam mobil, Young Jin kesal karena ia sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi.


Ma Rin tahu, pasti So Joon sangat kaget karena tertangkap basah. So Joon membantahnya, kalau ia ngotot bilang ia tidak menghilang, Young Jin bisa apa? Dan juga, kalau dia tahu memangnya kenapa?Memangnya ia berbuat kejahatan?

"Kau tidak perlu bersikap sok kuat di depanku. Kau sedikit ketakutan, 'kan?"

"Sedikit sih." Akhirnya So Joon mengaku.

Ma Rin terbangun, tidak ada hal buruk yang akan terjadi kan. So Joon membaringkan Ma Rin kembali, dibilangin tidak perluk hawatir kok.


Ma Rin kembali bangun, Bagaimana kalau So Joon sampai diseret-seret ke Amerika? Bagaimana kalau mereka membawa So Joon kemudian mengurungnya?

"Kenapa kau juga ikut-ikutan memperlakukanku seperti alien? Kau mengatakan hal yang sama persis dengan Ki Doong. Dan lagian, kenapa juga aku harus dibawa ke Amerika."

"Yang selalu melakukan hal semacam itu kan orang Amerika. Kalau kau mengungkapkan dirimu adalah seorang penjelalah waktu, Amerika akan geger. Mereka kira semua pahlawan dan manusia super berasal dari Amerika. Tunjukkan sajalah pada mereka. Haruskah kita ungkapkan saja pada semua orang? Haruskah kita mengokohkan kehormatan negara kita?"


So Joon semakin tidak paham apa yang sedang Ma Rin katakan. Ia kembali membaringkan Ma Rin dan memeluknya, memintanya tidur. Ma Rin cemas, makanya ia bicara omong kosong. Semuanya meledak begitu saja.

"Tidur sajalah. Tidur." Ujar So Joon sambil membungkam mulut Ma Rin agar berhenti bicara.


So Joon membayangkan bagaimana terkejutnya Young Jin saat ia menghilang di kereta tadi.


Setelah Ma Rin tertidur, So Joon keluar untuk menelfon Young Jin menanyakan perihal kedatangan Young Jin ke rumah. Young Jin mengaku kalau ia merasa sangat terkejut dan itu sangat membuatnya bingung.

"Apakaha kita ada dalam hubungan di mana kau bisa datang ke rumahku begitu saja?"

"Tentang hari ini.. kau sulit menjelaskannya, 'kan?"

"Sepertinya kau tidak seharusnya mencemaskan tentang hidupku sekarang. Cemaskan saja hidupmu sendiri."

"Dasar kunyuk kau! Kau masih saja pamer. Hei, kau kira aku ini masih salah satu dari karyawanmu? HUH!"


"Kau mau mengajakku berkelahi?"

"Oh.. seram sekali. Kau.. Kau ini tidak normal, Presdir Yoo. Bagaimana bisa aku berkelahi denganmu?"

"Kukira kau juga tidak normal, Direktur Kim."

"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Dunia ini benar-benar.. tidak adil. Benar-benar sialan dan tidak adil. Aku harus menerima itu begitu saja 'kan? Seperti yang kau bilang, aku punya banyak hal yang harus kucemaskan.

"Yaa! Jangan mendekat padaku, atau mendekat ke rumahku. Jangan berkeliaran di sekitarku."

Setelah mengatakannya So Joon memutus telfon membuat Young Jin naik darah.


Pagi-pagi saat baru datang kekantor, So Joon langsung memastikan Ki Doong belum menemukan informasi apapun mengenai Young Jin kan. Ki Doong membenarkan, tim audit internal masih belum menemukan apapun kecuali penggelapan keuangan. Ia sedang mencari tahu soal gedung yang sekarang dikelola oleh Kim Yong Jin. Tidak ada hal lain yang belum mereka tahu.

So Joon mengatakan kalau Young Jin sedang mempertimbangkan untuk pindah ke Vietnam. Ia tidak tahu dia mau beremigrasi atau mau melarikan diri.

"Wow, dia berniat mau kabur begitu saja. Kita harus mengumpulkan semua bukti tentang penggelapan yang dia lakukan. Kemudian serahkan pada polisi. Setelah surat dakwaan diajukan hari ini, mereka akan melakukan investigasi di sana sini. Mereka akan melakukannya selama dua atau tiga hari."

"Baiklah. Awasi terus gedungnya."

"Baiklah."


So Joon puya firasat buruk soal Young Jin, ia meninggalkan tugas untuk mengurus Young Jin pada Ki Doong dan ia mengambil tas hendak pergi.

Ki Doong menanyakan tujuan So Joon. So Joon merasa waktunya terlalu berharga hanya untuk mengurusi kunyuk macam Young. Ki Doong mengingatkan kalau mengurusi Young Jin juga bagian dari kerja.

"Makanya. Mengerjakan hal semacam itu hanya akan membuang waktuku."

"Bagaimana denganku? Bagaimana dengan waktuku? Hei, kau.."

So Joon tidak peduli dan tetap melangkah pergi.


Gun Sook sedang memotong kuku. Ia bicara pada seseorang, ia tidak menganggil orang itu karena kukunya, hanya saja orang itu datang kebetulan saat ia sedang mengurus kukunya. Ternyata orang itu adalah Sekretaris Hwang.

"Semuanya jadi semakin sulit bagiku sekarang. Semua yang kulihat tidak seperti kenyataannya." Aku Gun Sook.


Sekretaris Hwang memberitahu kalau Gun Sook benar-benar tidak bisa memanggilnya seenaknya lagi sekarang. Gun Sook memberitahu kalau Young Jin membelikannya tiket dan menyuruhnya pergi duluan tapi tentunya ia tidak mau.

"Apa Young Jin punya tanah atau apa di sana? Sepertinya dia punya banyak tanah di sana."

"Tanah?"

"Dia bilang dia punya banyak tanah dan dia sedang menjualnya dengan harga murah. Setelah semua selesai, dia bilang mau menyusulku. Itulah yang dia katakan padaku. Dia pasti punya banyak aset yang tidak kuketahui, ya 'kan?"

"Anda.. mungkin sedang membicarakan soal Kota Jangho."

"Apa? Di mana?"

Sekretaris Hwang mendesah, ia tidak tahu apa-apa. Jadi mohon berhentilah menanyainya. Kenapa semua orang menyiksanya begini sih?


Sekretaris Hwang menegaskan kalau Gun Sook tidak bisa terus-terusan menelponnya karena ia juga punya pekerjaan.

"Sekretaris Hwang, aku hanya..."

"Maaf, Saya harus pergi."


Tepat saat itu seorang wanita datang mencari Young Jin karena setiap ia telfon Young Jin selalu menghindarinya. Wanita itu memerintahkan orang-orang yang dibawanya untuk mengambil semua barang berharga di rumah itu. 

"Nyonya, kumohon jangan lakukan ini. Kumohon tenanglah. Mereka masih belum mengumumkan secara resmi soal proyek di Jangho." Bujuk Sekretaris Hwang sambil melindungi Gun Sook.

"Aku akan memenjarakannya dengan tuduhan penipuan. Tidak, suruh saja Kim Yong Jin membawakan uangku. Aku tidak bisa memenjarakan dia sampai dia mengembalikan uangku."

Gun Sook terduduk lemas mencerna apa yang terjadi saat ini, sementara Sekretaris Hwang masih mencoba melerai Wanita itu.


Ki Doong menemui orang-orang, bertanya apa mereka mendengar soal beberapa gedung yang dijual atau melihat ada orang yang mau melihat-lihat gedungnya?

"Tidak sama sekali."

"Apa Direktur Kim Yong Jin sama sekali tidak pernah ke sini?"

"Pria itu! Direktur Kim adalah orang yang selalu menelpon dan membicarakan soal uang."

"Ya. Aku mengerti. Terima kasih untuk hari ini."

"Ya, sampai jumpa."

"Terima kasih."


Ki Doong mengeluh, kan ia bukan detektif. Jadi hanya itu saja yang bisa ia lakukan hari ini. Ia penasaran, Se Young-nya sedang apa, lalu ia menelfon.


Ki Doong berkata kalau ia ada di dekat kantor Se Young karena urusan pekerjaan, apa Se Young punya teh atau kopi. Se Young tidak tahu karena ia sedang sibuk, padahal ia ada di jalan.

"Keluar sajalah. Aku ada di sekitar sini. Apa kau sedang bekerja sekarang?"

"Ha? Tentu saja aku sedang kerja. Kau tidak dengar suara kantornya?"

"Memangnya kantor bisa bersuara? Kau ini bicara apa?"

"Baiklah, kau tunggu saja aku di kafe biasanya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku jadi aku tidak bisa segera menemuimu."

"Baiklah, tidak apa. Santai saja."

"Baiklah, sampai jumpa."


Se Young sebenarnya berada jauh dari kantor, ia tidak mau ketahuan jadi cepat-cepat berlari ke sana. Ki Doong juga bohong, dari tempatnya sekarang buth waktu 30 menit untuk sampai ke kantornya Se Young. Ia pun bergegas untuk berlari.


Sampai di kafe keduanya sama-sama ngos-ngosan. Ki Doong heran, kenapa Se Young ngos-ngosan.Se Young berbohong kalau ia harus memindahkan beberapa barang dan barangnya berat-berat. Lalu Se Young bertanya, kenapa Ki Doong berkeringat.

"Aku sedang tidak enak badan akhir-akhir ini."

"Kenapa kau memindahkan barang-barang? Kau kan tidak kuat."

"Setidaknya aku tidak berkeringat dingin seperti kau. Pesanlah kopi. Beli sesuatu yang segar. Aku haus."


Ki Doong segera berdiri patuh dan itu membuat Se Young tersenyum. Tapi Ki Doong ternyata belum jauh dan melihat Se Young tersenyum, Ki Doong pun kembali dan menanyainya.

"Memangnya aku senyum, ya? Tidak kok. Aku tidak senyum." Elak Se Young.


"Kau tidak ada di kantor, 'kan tadi?"

"Kenapa sih dengan ekspresimu itu? Bagaimana denganmu? Sepertinya kau tidak benar-benar ada di sekitar kantorku tadi. Apa kau lari dari suatu tempat yang jauh?"

"Bagaimana kau bisa tahu? Seperti kau melakukan hal yang sama saja."

"Yang benar saja, kau pasti sedang ingin mati, ya."

Seperti biasa Se Young menendang kaki Ki Doong tapi Ki Doong tidak menyerah.


Ki Doong mendesak Se Young untuk mengaku, tadi Se Young tidak sedang bekerja kan. Se Young masih bersikeras tapi karena Ki Doong kekeh akhirnya ia mengau juga sambil tersenyum.

Ki Doong lalu menyentuhkan tangan Se Young ke dadanya, ia tadi lari sampai mengira jantungnya akan meledak tapi ia benar-benar senang sekarang.

"Apa sih yang membuatmu senang?" Balas Se Young sambil mendorong Ki Doong.


"Benar deh.. Kau lari ke sini untuk bertemu denganku. Aku benar-benar senang sekali." Aku Ki Doong.


Ma Rin pergi ke tempat restorasi memori, petugas menjelaskan kalau data kotak hitam lebih susah dikembalikan ketimbang data yang lain, jadi ia tidak bisa menjamin apa-apa.

"Aku hanya ingin melihat file tanggal 27 Oktober saja." Pinta Ma Rin.

"Aku bisa saja menggunakan cara yang lebih mungkin akan berhasil. Tapi biayanya lebih mahal."

"Itu bukan masalah. Berapa lama waktu yang kau butuhkan?"

"Kalau datanya bisa dikembalikan, mungkin akan selesai akhir bulan ini."

Ma Rin menulis di buku jurnalnya, tanggal 30 November. Ia mohon agar petugas melakukannya dengan baik.


Ma Rin belum bisa memastikan apapun jadi untuk sekarang ia akan menunggu dulu sampai ada kepastian baru memberitahu So Joon.


Pengacara So Joon mengajak Ma Rin bertemu untuk membicarakan divisi aset. Ma Rin menanyakan apa maksud dengan istilah itu. Pengacara menjelaskan kalau setengah dari aset So Joon akan diberikan kepada Ma Rin.

"Aku tidak pernah dengar soal itu sama sekali." Aku Ma Rin.

"Ah... Dia bahkan tidak pamer soal itu. Dia pasti sudah jatuh cinta teramat dalam padamu. Sepertinya sih begitu. Sejujurnya, kalian ini 'kan masih pengantin baru. Dia membagi asetnya denganmu. Ini sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Seperti dia sudah tahu saja kapan dia akan mati."


Pengacara mengubah posisi duduknya dan mulai bicara serius. "Ya... Saya membutuhkan beberapa hal dari Anda. Saya butuh fotokopi identitas Anda, dan juga
stempel Anda. Dan, kalau Anda menyewaku sebagai pengacara Anda..

"Maaf, tapi... Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan So Joon lebih dulu."


Di tempat lain, So Joon menemui ibu dan membicarakan soal Ayah Ma Rin. So Joon rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mencarinya. Ia menanyakan pendapat ibu.

"Kenapa mendadak bawa-bawa ayahnya?"

"Sepertinya Ma Rin penasaran soal ayahnya. Apa Ibu tidak penasaran?"

"Aku sudah lelah dengan semua itu. Aku tidak mau terlibat soal itu lagi."

Tapi ibu penasaran, apa Ma Rin yang mau mencarinya. So Joon jujur, Ma Rin tidak bilang sih tapi ia yakin Ma Rin pasti ingin mencari ayahnya. Apa pekerjaan ayahnya, orang seperti apa ayahnya itu? Ia yakin Ma Rin pasti penasaran.

"Kalau begitu, tanya pada Ma Rin dulu. Kalau dia memang mau mencari ayahnya, aku tidak akan menghentikannya."

"Jadi, apa ibu punya informasi soal ayahnya Ma Rin? Mungkin nomor KTP-nya atau.. foto? Kalau Ibu punya, Saya bisa langsung mencarinya. Saya mungkin bisa menemukan dia dalam satu atau dua hari."

"Tanya Ma Rin dulu. Kalau dia tahu kau melakukan ini di belakangnya dia pasti akan mengamuk."

"Ya, dia pasti akan mengamuk."

"Kau tahu juga istilah 'mengamuk' itu?"

"Dia selalu saja mengamuk padaku."

Dan itu berhasil membuat ibu ketawa lepas.


So Joon bertanya, apa ibu menikmati makanannya tadi. Ibu sangat menikmatinya dan saking nikmatnya, ia kepingin membawanya pulang. So Joon senang mendengarnya.

So Joon akan mengantar ibu tapi ibu menolaknya toh rumahnya dekat. So Joon tidak apa-apa, ia tetap memaksa.

"Tunggu, Nak. Aku merasa malu. Aku tidak pernah melakukan apa-apa sebagai mertuamu. Aku sangat bodoh sampai bergulingan di tanah waktu itu."


"Omma."

"Ya?"

"Tidak masalah (Bahasa Banmal/nonformal). Ibu bilang aku ini anakmu. Ibu hanya memanggilku, "Anakku, anakku". Aku juga punya banyak kekesalan."

Ibu sangat bahagia mendnegar itu dan langsung meluapkannya dengan memeluk So Joon. So Joon juga sangat senang dengan sikap ibu itu.


So Joon pulang dengan berbunga-bunga dan ia memanggil-manggil Ma Rin tapi Ma Rin-nya tidak mengahut. Ia mencari di kamar juga tidak ada. Ternyata Ma Rin ada di lantai atas sedang melamu, bahkan tidak sadar kalau ia datang sampai harus dipanggil berkali-kali.

So Joon heran, apa yang dilakukan ma Rin disana sampai tidak sadar ia pulang. Ma Rin minta maaf, ia sedang memikirkan soal sesuatu.

"Soal apa?"


Mareka kemudian turun, Ma Rin mengambil air minum di kulkas. So Joon bertanya lagi, apa ada hal buruk yang terjadi karena sepertinya Ma Rin sedang tidak baik. Ma Rin mengelaknya, ia lalu memberikan gingseng merah untuk So Joon karena ia dengar So Joon sudah makan malam.

So Joon membukanya tapi memberikannya pada Ma Rin karena kesehatan Ma Rin juga penting.

"Kau bahkan kelihatan sangat imut saat sedang minum obat."

"Kenapa kau merayuku? Apa kau punya permintaan?"

"Permintaan apa?"


"Hm.. haruskah aku mencari ayahmu untukmu? Ayahmu. Bukan, suami ibumu. Dia akan jadi ayah mertuaku. Haruskah aku memanggilnya 'ayah'? Aku berencana akan mencarinya, dan aku penasaran bagaimana pendapatmu."

Ma Rin terkejut, Kenapa? Kenapa mendadak So Joon ingin mencari ayahnya? So Joon menjawab kalau Ma Rin kan tidak bisa selamanya tidak mencarinya.

Ma Rin malah menghindar, So Joon mengikutinya, mengatakan kalau Ma Rin tidak perlu merasa terlalu sensitif soal ini.


Ma Rin malah menghindar, So Joon mengikutinya, mengatakan kalau Ma Rin tidak perlu merasa terlalu sensitif soal ini.

"Kenapa kau mendadak begini? Apa kau mau pergi?"

So Joon mengelaknya, ia menggunakan alasan soal pertengkaran Ma Rin dengan ibunya baru-baru ini karena ayah Ma Rin. 

"Yoo So Joon-Ssi. Aku ini istrimu. Aku sepertinya sudah paham sekarang meski hanya dengan melihat matamu. Apa ada sesuatu lagi di antara kita?"

"Apa yang bisa terjadi di antara kita?"

"Aku bertemu dengan pengacaramu hari ini. Dia bicara soal hal aneh semacam pembagian aset."

"Bukankah harusnya kau merasa senang? Aku membagikan semua milikku denganmu."

"Kenapa mendadak? Kenapa kau mendadak memindahkan asetmu atas namaku? Kau bersikap terlalu baik padaku akhir-akhir ini. Sekarang, kau bahkan ingin mencari ayahku."

"Tidak boleh, ya aku baik padamu?"

"Tapi, kenapa kau mendadak jadi baik?"

"Karena aku merasa selama ini belum menjadi suami yang baik bagimu. "Aku bertemu dengan seorang pria luar biasa". Aku ingin kau jatuh cinta sedalam-dalamnya padaku. Supaya aku bisa merasa bangga karenanya."

"Benar tidak ada masalah?"

"Tentu saja tidak ada."

"Kau bersikap aneh. Seolah-olah kau akan segera pergi jauh."

"Aku mau ke mana memangnya? Ini kan rumah kita."

"Jadi, benar tidak ada yang salah?"

"Tidak."


Ma Rin mendesah lega sambil berjalan ke kursi. Tai malah So Joon yang berubah sedih. Ma Rin beberapa hari ini sangat takut karena sikap So Joon tidak seperti diri So Joon dan itu membuatnya takut. So Joon kembali menunjukkan senyum manisnya,

"Jadi begini rasanya dimaki-maki bahkan setelah melakukan kebaikan pada orang lain?"


Ma Rin melarang So Joon terlalu baik padanya, melarang So Joon memberikan aset padanya juga melarang So Joon memberinya hadiah.

"Jadi haruskah aku hanya bernapas saja di sampingmu?"

"Kau terlalu baik untukku. Aku tergila-gila padamu setiap hari. Jadi.. mari kita bangun bersama setiap pagi. Kirimi aku SMS saat kau sedang bekerja. Ayo makan malam bersama dan menonton film bersama. Ayo kita tertidur bersama setiap hari. Itu saja sudah cukup bagiku. Jangan membuatku takut dengan melakukan hal-hal aneh. Sejujurnya, dengan semua kemewahan ini aku merasa seperti sedang membawamu di pundakku. Kau mengerti 'kan maksudku?"

"Bagaimana caranya kau bisa hidup tanpaku?"

"Bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Jangan mengatakan yang aneh-aneh deh."


Ki Doong menemui orang lagi, kali ini kayaknya penjaga keamanan gedung deh. Orang itu mengatakan bahwa Young Jin sering datang akhir-akhir ini. Dia bertemu dengan Bos Sungjin Produce yang berkantor di gedung ini.

"Oh, Presdir Choi. Apa kau bertemu dengannya hari ini? Apa menurutmu aku bisa bertemu dengannya?" tanya Ki Doong sambil merogoh ponselnya.

"Dia sudah meninggal. Kau tidak tahu?"

"Kapan dia meninggal?"

"Dia pergi memancing di malam hari, sendirian, kemudian mengalami kecelakaan. Sepertinya dia mabuk dan tercebur ke dalam sungai."


Ki Doong langsung memberitahu So Joon soal ini. Ki Doong menelaah waktunya dan benar-benar tidak masuk akal. Apalagi, Kim Young Jin katanya sering berkunjung ke sana, itu membuat segalanya jadi semakin aneh. Presdir Choi sudah mengatakan pada orang-orang kalau dia akan membeli gedungnya meskipun banyak orang bilang dia hanya bersikap lebai.

"Kalau Kim Yong Jin membuat penipuan dengan kontraknya.. bisa saja kasus Presdir Choi itu memang juga ulahnya. Ya."

"Tapi, dia sudah meninggal."


So Joon mengingat kata-kata Tuan Shin, soal presdir Sungjin Produce yang katanya mau membeli gedung milik perusahaan So Joon.

"Kau bilang Sungjin Produce, ya barusan?" So Joon memastikan.

"Kenapa? Apa kau tahu sesuatu?"

So Joon langsung menyuruh Ki Doong menelfon polisi untuk meminta mereka agar segera mengirimkan somasi pada Young Jin.

Ki Doong pun menelfon polisi saat itu juga.


So Joon akan pergi tapi Ki Doong menghentikannya, ia bilang kalau Young Jin sudah melarikan diri.

"Penagih utang datang karena proyek Jangho. Dia sudah mengurus semuanya dan sekarang dia sedang sembunyi."

"Baiklah, aku akan mencari tahu. Kau juga cari tahulah. Mari kita bahas lagi nanti."

5 komentar

Makin seru ceritanya Kim young Jin jd jahat bgt utk menutupi kejahatannya. Di tunggu part 2 nya chingu..semangat nulisnya..

Deg2an diepisode ini... semoga pasangan ini endingnya g dipisahin

Trims sinopsisnya mbak... semangat menulis

Ahhhhh gumawo chingue buat sinopmyaa.. Aku suka bgt nih sama drama ini, imo it's better than do bong soon haha really complicated, cant wait for part 2 hehe

Seru bgt mudah2an happy ending, makasih sinopsis y.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...