Sunday, March 19, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 14 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 14 Part 2


So Joon menemui Doo Sik, ia menanyakan keyakinan Doo Sik soal penggelapan dana sebanyak 9 miliar won yang dilakukan Young Jin dan ia meminta Doo Sik memberitahukan segala yang Doo Sik tahu padanya.

Doo Sik membenarkan, memang Young Jin pelakunya tapi tidak ada bukti, bahkan di masa depan pun tidak ada. Itu berarti Young Jin melarikan diri keluar negeri tanpa meninggalkan bukti.

"Apa Kim Young Jin... juga membunuh seseorang?"

"Apa maksudmu?"

"Seseorang yang selama ini berkomunikasi dengannya, baru-baru ini meninggal. Ada yang aneh dengan semua ini."

"Siapa?"

"Seseorang yang menjalankan bisnisnya di gedung milik kami. Dia adalah teman dari Direktur Happiness yang sudah meninggal. Ayahnya Se Young sempat mengatakan sesuatu yang aneh sebelum meninggal."

Doo Sik memotong, jadi apa yang So Joon sedang kau pikirkan sekarang. So Joon juga tidak tahu.



Doo Sik hanya mencemaskan soal Kim Young Jin yang mengganggu bisnis So Joon. So Joon bertanya, apa Kim Young Jin juga ada hubungannya dengan hilangnya dirinya nanti, Doo Sik sendiri bilang semua akan jadi makin runyam saat ia mencoba mencari tah lebih banyak. Ini ada hubungannya dengan Kim Yong Jin, 'kan?

"Benar. Kau terus-terusan melakukan perjalanan ke masa depan untuk menemukan Kim Yong Jin. Makanya kau menghilang. So Joon-ah, besok tanggal 30 November. Jadi..."

"Ini mungkin ada hubungannya dengan ayahnya Se Young."

"Semua itu hanyalah spekulasimu. Kalaupun kau bisa melakukan sesuatu hari ini, apa yang akan kau temukan hari ini atau besok? Hari ini dan besok. Kau perlu melewati dua hari ini. Tunggulah selama 2 hari."


"Kenapa kau bisa menjadi seperti itu karena ulah Kim Yong Jin? Apa sebenarnya yang ada dalam kotak hitam itu?"


Dalam perjalanan, So Joon mengingat kata-kata Doo Sik,

"Pikirkan hal apa yang paling penting bagimu. Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu apa yang akan terjadi pada orang yang menyandarkan hidupnya padamu? Hanya dua hari, oke? Tenanglah selama dua hari ini."

Ternyata Ibu sudah ada di rumah dan ia senang dengan sesuatu, ia melemparkan sampah ke mesin penghisap debu dan mesin itu memakan sampahnya seperti seekor anjing.

"Ibu, Tidak. Keluarlah. Keluar sajalah."

"Kenapa?"

"Sudah kubilang jangan datang kalau sedang tidak ada siapa-siapa."

"Hei, So Joon bahkan memanggilku "Omma". Dia sama sekali tidak merasa terbebani karena Ibu."


Ma Rin melarang ibunya naik ke lantai atas soalnya itu wilayah rahasia mereka. Tapi siapapun orang semakin dilarang maka semakin penasaran. Ma Rin bergegas pulang, "Ibu, keluar sajalah."


Se Young dan Manager Chae melihat tingkah Ma Rin itu. Se Young merasa Ma Rin terlalu sering bolak-balik. Ma Rin kadang kelihatan normal, tapi kadang aneh juga.

"Kau juga seperti itu, Se Young."

"Apa?"

"Kalau kau sedang baik, kau sangat baik."

"Dan saat aku kurang ajar, aku jadi kurang ajar sekali?"


Manager Chae tidak menjawabnya, hanya mengangkat kedua bahunya dan pergi. Se Young bergumam, ia rasa dirinya itu lumayan bersahabat kok.

Se Young melihat meja Ma Rin dan di laptop Ma Rin ada fotonya dengan Ki Doong, ia pun mendekat.


Ma Rin berlari pulang, sementara ibu naik ke atas karena penasaran.


Ma Rin sampai di rumah dan langsung memanggil-manggil ibunya. Ma Rin menemukan ibunya sedang asyik di lantai atas sambil menikmati keunggulan barang-barang masa depan.

Ma Rin melepas semua itu dari ibunya, ia menjelaskan kalau semua itu sedang dalam tahap pengembangan. Temannya So Joon yang sedang meneliti memberikan ini padanya.

"Semua ini.. Ya.. dia memang punya banyak koneksi." Lanjut Ma Rin.

Ibu juga menemukan koran di masa depan. Ia heran, apa orang kaya bahkan bisa dapat koran lebih dulu dari pada orang biasa? Apa seisi dunia ini sudah direncanakan dan mereka selama ini dibodoh-bodohi?


Ma Rin merebut koran itu, "Ini hanya mainan. Aku sedang mengambil foto dengan konsep masa depan. Jadi, ada seorang istri penjelajah waktu dan mertua dari seorang penjelajah waktu. Aku yang membuatnya seperti ini."

Ibu lega karena dikiranya So Joon itu adalah mata-mata. Ma Rin bergumam, sepertinya ia dan ibunya memang mirip. Ma Rin pun mengajak ibunya turun.


Ibu lega karena dikiranya So Joon itu adalah mata-mata. Ma Rin bergumam, sepertinya ia dan ibunya memang mirip. Ma Rin pun mengajak ibunya turun.

Ibu mengajak Ma Rin bicara, Ibu bilang So Joon datang dan bicara dengannya. Tapi ibu tidak bisa melanjutkannya, rasanya susah sekali.

"Soal mencari ayah?" Sahut Ma Rin.

Ibu membenarkan, So Joon bilang dia bisa menemukan ayah dengan nomor KTP-nya. Bukannya Ibu tidak mau menemukannya. Ibu hanya bertanya-tanya apa itu tidak masalah bagi Ma Rin.

"Dengan nomor KTP saja semua informasi bisa didapatkan, kok." Gerutu Ma Rin.

Ibu mengakui kalau ia masih memiliki satu foto. Ma Rin terkejut, katanya ibu sudah membakar semuanya. Ibu membuka dompetnya dan mengeluarkan foto itu, alasan Ibu membakar semua foto biar Ma Rin kecil cepat melupakan Ayah.

"Ibu berencana akan menunjukkannya padamu saat kau sudah dewasa."

Ma Rin pun menerima foto itu. Ibu bercerita kalau waktu itu ia masih sangat muda bahkan lebih muda dari Ma Rin sekarang.

"Makanya. Seorang wanita yang bahkan lebih muda dariku, memiliki seorang anak. Dia membuang Ibu. Dia meninggalkan Ibu."

"Astaga. Sejujurnya, tanggung jawab saja tidak cukup untuk menyelesaikan urusan antara seorang pria dan wanita."

"Ibu tidak pernah menunjukkannya padaku, kenapa sekarang memperlihatkan itu padaku?"

"Karena kau bilang kau membencinya. Ibu tidak pernah berpikir kalau semua ini akan melukaimu, dan Ibu sudah bersikap kekanakan selama ini. Astaga. Kau menderita karena Ibu yang tidak sempurna seperti Ibu ini."

"Kenapa mengatakan hal-hal semacam itu? Ada apa dengan Ibu?"

"Ibu pasti sudah semakin tua, sampai-sampai mengatakan hal-hal aneh."

"Apa maksudnya Ibu sudah tua? Ibu masih sangat muda. Kenapa Ibu bersikap seperti ibu-ibu yang ada di TV?"


Ibu berlutut di depan Ma Rin, Sebentar lagi Ma Rin akan punya anak dan jadi seorang ibu. Ma Rin sudah dewasa sekarang, jadi temukanlah ayahnya. Ibu sudah membesarkannya dengan baik sendirian selama ini. Ibu juga ingin memamerkan padanya kalau Ibu punya menantu yang keren.

Ibu memeluk Ma Rin, "Kalau Ibu terlahir sebagai ibumu lagi... Ibu janji akan bersikap lebih baik dari hari ini."

Ma Rin menangis dan memeluk balik ibunya.


So Joon terkejut mendapati Ma Rin sedang menangis di ruang tamu. Ma Rin berkata sudah mengingat wajah ayahnya sekarang karena ibu memberinya foto.


So Joon pun duduk di depan Ma Rin, jadi bagaimana perasaan Ma Rin tentang itu? Ma Rin menggeleng, rasanya aneh. Ia kira sudah melupakan semuanya. Sekarang ia melihat fotonya dan perasaan di masa lalu itu kembali.

"Terima kasih." Ucap Ma Rin untuk So Joon.

"Apa kau mau bertemu dengannya? Haruskah kita mencarinya?"

Ma Rin kembali menggeleng, ia masih belum yakin. Bagaimana kalau ia bertemu ayahnya dan malah merasa kecewa? Bagaimana kalau ayahnya sedang ada dalam keadaan yang mengecewakan? Bagaimana kalau Ibu terluka lagi karenanya? Apa ayahnya bahkan akan suka kalau mereka mencarinya?


Ma Rin menawari So Joon untuk melihat foto ayahnya dan ternyata itu adalah orang yang sangat ia kenali, Doo Sik. So Joon berkaca-kaca, apabenar itu adalah ayah Ma Rin. Ma Rin membenarkan.

So Joon mengembalikan foto itu, ia ijin keluar sebentar cari udara segar. Ma Rin ikut, mengajaknya keluar bersama.


Ma Rin mengakui, ia hampir tidak bisa melupakan hari-harinya sebagai Bap Soon, ia merasa seperti sebuah tumpukan masalah. Ia selalu merasa hidupnya adalah sebuah kegagalan. Ia selalu merasa ia ini Bap Soon, tidak peduli apapun yang kulakukan. Sepertinya ia tidak akan bisa keluar dari sana. Tapi setelah bertemu dengan So Joon, ia merasa hidupnya jadi lebih teratur. Ia merasa benar-benar hidup sekarang.

"Ya. Ayo kita hidup dengan baik."

"Kita harus hidup dengan baik. Mari hidup dengan baik."


So Joon mengakui sesuatu pada Ma Rin, sejujurnya.. Ma Rin dan dirinya tidak ditakdirkan bertemu. Ma Rin tidak mengerti hal itu.

"Kau seharusnya tidak ada dalam masa depanku. Bukan hanya kau. Aku bahkan tidak berkencan, dan aku tidak menikah. Kemudian seseorang menyuruhku mencoba berkencan denganmu."

"Siapa?"

"Seorang pria yang kukenal. Kau tahu 'kan kalau ada seseorang yang selalu ada di pihakku?"

"Pria lain yang juga bisa menjelajah waktu? Pria yang berbagi payung denganmu waktu itu?"

"Ya."

"Apa dia kenal aku?"

"Aku tidak tahu. Ayo temui dia, dan kita tanyakan saja padanya. Dia agak sedikit aneh. Tapi aku yakin, kau akan menyukainya juga."

"Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan. Jadi, kita sebenarnya tidak ditakdirkan bersama. Jadi menurutmu kita bertemu karena dia. Begitu?"

"Ya. Setelahnya, semua aku yang memutuskan."

"Kita tidak ditakdirkan bertemu."

"Ya. Kita sudah mengubahnya. Aku tidak tahu apa sebenarnya takdir itu. Tapi bukankah inilah yang namanya takdir?"


So Joon mengajak Ma Rin untuk menemui pria itu besok. Ma Rin setuju tapi ia baru ingat sesuatu. sebelum itu, ia mengajak So Joon mendaftarkan oernikahan mereka dulu.

"Mau berapa lama kita menundanya? Apa kau masih merasa memerlukan masa percobaan?"

"Tidak."

"Kalau begitu, ayo kita daftarkan pernikahan kita besok. Aku ingin benar-benar menikah denganmu. Kau mau menikah denganku?"

"Ya, ayo kita benar-benar menikah."

Ma Rin lalu mengajak So Joon berjanji jari kelingking.


Dan mereka berjalan satu putaran lagi sebelum pulang sambil membicarakan kalau mereka akan benar-benar menikah besok.


Young Jin mengecek kotak hitam mobilnya, ia menyadari kalau memory card-nya tidak ada.


Young Jin menemui Gun Sook di depan apartemen So Ri. Young Jin kesal karena Gun Sook tidak mendengarkan, sudah dibilang kan agar pulang ke rumah orang tuanya.

"Bagaimana kalau ibuku pingsan?"


Young Jin pun tidak bisa mendebat lagi. Gun Sook lalu menanyakan alasan Young Jin menemuinya, bagaimana kalau penagih hutang datang mencarinya?

"Kau menyentuh kotak hitam mobilku, 'kan?"

"Tidak. Kenapa aku harus melakukannya?"

"Jangan main-main dan berikan saja kartu memorinya padaku. Kau sudah mencabutnya. Di mana memorinya sekarang? Berikan padaku."

"Sudah kubilang aku tidak tahu."

"Kenapa kau bisa tidak tahu? 'Kan kau yang mengambilnya." Bentak Young Jin keras.

"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan selama ini. Aku akan menggunakannya sebagai barang bukti. Kau mengerti? Aku tidak akan naik penerbangan itu. Aku mau bercerai."

"Jangan bicara omong kosong."

"Omong kosong?"

"Jangan mengatakan hal-hal ngacho dan berikan saja memorinya! Di mana rumah temanmu?"

Gun Sook menghalangi Young Jin yang akan masuk ke dalam apartemen. Ia menegaskan kalau memory card-nya tidak ada di sana, ia sudah memberikannya pada Ma Rin.


Young Jin langsung menggila mendengar itu, ia sampai mendorong Gun Sook dan tanpa mereka sadari, So Ri melihat mereka dari atas.

"Kau pasti sudah gila. Hei! Kenapa kau melakukannya? Itu 'kan bukan milikmu yang bisa seenaknya kau berikan."

"Hentikan. Hentikan, kumohon."


-- 30 NOVEMBER 2016 --

Ma Rin keluar rumah, saat itu So Ri menelfonnya. So Ri menanyakan apa yang Ma Rin lakukan dengan kotak hitam-nya Gun Sook, Ma Rin sekarang sedang di jalan mau mengambilnya sekarang.

"Sepertinya kau tidak seharusnya ikut campur. Suaminya Gun Sook datang ke sini kemarin. Dia minta agar Gun Sook mengembalikan memori kotak hitamnya. Dia berteriak sekuat tenaga. Aku rasanya mau mati saking takutnya."

"Benarkah?"

"Sepertinya Gun Sook harus segera bercerai dengannya. Dia benar-benar gila. Aku baru saja mau menelpon polisi."

"Jangan katakan apapun pada Gun Sook sementara ini. Aku akan menelponmu lagi sore nanti."

"Apa yang kau rencanakan?"

"Aku akan mengurus semuanya."

Ma Rin menutup telfonnya dan ia berkata kalau dirinya merasa cemas tapi ia tetap melangkah menuju tempat restorasi itu.


So Joon bangun tapi tidak ada Ma Rin di rumah, ia hanya menemukan catatan yang ditinggalkan Ma Rin.

"Aku mau keluar sebentar. Kau tahu 'kan kalau kita harus mendaftarkan pernikahan kita hari ini? Kita akan mendaftarkan pernikahan kita. Kemudian menemui pria yang sudah menolong kita. Aku mencintaimu."

Ponsel So Joon berbunyi, ia mengira itu dari Ma Rin tapi ternyata Doo Sik. Doo Sik ternyata sudah ada di depan rumah.


Doo Sik kelihatan sangat panik, ada sesuatu yang sangat penting yang harus dikatakannya pada So Joon. So Joon minta ia duluan yang bicara.

"Aku sudah tahu kau siapa, Ahjussi."

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau selama ini membantuku. Aku tahu kenapa kau bilang aku ini seperti anak bagimu. Ma Rin benar-benar ingin bertemu dengan ayahnya."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Seberapa berat kau menahan diri dari sikap kurang ajarku padamu selama ini? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?"

Doo Sik sempat berhenti sebentar karena omongan So Joon itu tapi ia kembali lagi dengan tujuan awalnya. Ia meminta So Joon Lupakan saja soal itu sejenak karena ada hal penting yang harus ia katakan pada So Joon.

"Kemarin, aku bertemu Ma Rin."

"Apa?"

"Satu-satunya orang yang tahu rahasia Kim Young Jin.. Satu-satunya orang yang bisa kutanyai adalah Ma Rin."

"Apa maksudmu?"

-- MASA DEPAN --


Doo Sik terpaksa menemui Ma Rin dan Ma Rin juga mengenalinya. Doo Sik minta maaf karena muncul dengan mendadak.

"Ini benar-benar mengejutkan. Aku butuh sedikit waktu untuk berpikir."

"Aku berasal dari masa lalu. Aku datang untuk membantu kalian berdua. Aku datang untuk menyelamatkan So Joon. Aku dari 26 November 2016. Hanya ada satu hari lagi yang tersisa. Hari itu, apa yang terjadi dengan kalian berdua? Aku tidak mau bertanya padamu soal itu. Tapi aku tidak punya cara lain."

Ma Rin pun menyuruh Ayahnya masuk.


Ma Rin menjelaskan, masuk akal kalau tidak ada bukti yang memberatkan Kim Young Jin. Karena So Joon adalah seorang penjelajah waktu, investigasinya dilakukan tertutup. Doo Sik menanyakan apa yang terjadi pada Kim Young Jin.

"Aku tahu dia melarikan diri ke Vietnam. Kudengar dia lari dengan uang puluhan juta won. Aku yakin dia hidup dengan baik."

"Bisa kau beri tahu aku detailnya apa yang terjadi hari itu? Apa yang terjadi?"


Ma Rin menyimpan kartu memori kotak hitam mobilnya Kim Young Jin. Tapi tidak ada yang tahu apa isinya. Karena sebelum sempat memeriksanya, Kim Young Jin mengambilnya darinya.

"Ada bukti tuduhan kejahatan penculikan terhadapku dan penggelapan yang dia lakukan. Kalau tuduhan pembunuhan... kami tidak menemukan apa-apa."

"Dia menculikmu? Kau punya buktinya?"

"Ya."


Doo Sik harus pergi karena stasiun kereta sudah hampir tutup. Ma Rin memohon agar Doo Sik menghentikan kejadian itu. Tahan So Joon agar dia tidak naik kereta dan halangi dirinya agar tidak melakukan hal bodoh.

"Baiklah. Jangan cemas. Aku akan pergi dan menghentikan semuanya. Aku permisi."


"Omong-omong.. orang yang sudah membantu aku dan So Joon agar bertemu.. adalah Ayah, 'kan?"

Doo Sik mengangguk.

"Mohon temui aku saat kau sudah kembali. Sepertinya aku ingin bertemu denganmu."

"Baiklah. Sampai jumpa kalau begitu. Aku pergi. Sebentar lagi stasiun akan tutup." Jawab Doo Sik haru.

-- MASA KINI --



Yang Doo Sik tahu adalah So Joon dilukai Young Ji di dalam kereta. Ia berasumsi So Joon lah yang tahu semua rahasia Kim Young Jin. Makanya aku melarang So Joon terlibat dengan Kim Young Jin. Ia tidak pernah menyangka Ma Rin lah yang akan memiliki barang buktinya.

"Jadi, masuklah ke dalam. Kau hanya perlu memastikan Ma Rin tidak sampai ikut campur soal ini."

"Dia sedang tidak ada di rumah sekarang."

"Apa?"


Ma Rin ke sampai di tempat restorasi itu dan Young Jin mengikutinya.


Data memori kotak hitam itu sudah di kembalikan tapi.. petugas akan mengatakan sesuatu tapi ia mengurungkannya dan bilang bukan apa-apa, ia pun memberikannya pada Ma Rin.


So Joon menelfon Ma Rin dalam perjalanan tapi Ma Rin tidak mengangkatnya membuatnya cemas.


Kejadian yang sebenarnya berdasarkan cerita Doo Sik,, Young Jin mengikuti Ma Rin dan menculiknya. Lalu Young Jin melukai So Joon di kereta. Kayaknya lukanya parah karena So Joon sampai tersungkur jatuh.

"Dia mengambil barang buktinya dari Ma Rin. Dia menggunakan Ma Rin sebagai pemancing agar kau keluar."


So Joon sampai di tempat restorasi tapi ia terlambat, ma Rin sudah pergi dari sana.


Ma Rin berjalan sambil memandangi memori di tangannya. Ia tidak sadar kalau Young Jin menunggunya lalu mengikutinya.


Young Jin sudah siap mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberinya obar bius, ia semakin mendekat dan..


Huft! So Joon datang tepat waktu, ia langsung menarik Ma Rin dalam pelukannya. Young Jin pun kembali bersembunyi dan mereka berdua tidak melihatnya.

Ma Rin terkejut di peluk begitu, So Joon menyuruhnya untuk diam saja. 

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" Tanya Ma Rin.

"Ma Rin, apa kau baik-baik saja?"

"Apa ada masalah?"

"Bagaimana dengan Kim Young Jin? Apa kau bertemu dia?"

"Kim Young Jin? Aku tidak melihatnya."

"Apa kau ke sini karena ini?" Tanya Ma Rin sambil menunjukkan memori itu.

"Kenapa kau melibatkan diri dengan hal-hal semacam ini? Kau bisa beritahu aku lebih dulu. Kenapa kau tidak punya rasa takut sama sekali?"

"Apa ada sesuatu yang terekam di sini? Gun Sook sedang mengalami masa sulit."

Pertama, So Joon menarik Ma Rin untuk pergi dari sana. Penjelasannya nanti saja.

Young Jin kesal karena rencananya gagal. Ia melemparkan sapu tangan itu ke tanah.


So Joon menyetop taksi untuk Ma Rin. Ma Rin tetap menuntut penjelasan, katakan ada apa disana?

"Pulanglah ke rumah. Jangan ke tempat lain, mengerti? Kunci pintu begitu kau masuk ke rumah. Jangan bukakan pintu untuk siapapun."

"Baiklah, aku mengerti."

"Hidupkan ponselmu dan hubungi aku kalau kau sudah sampai rumah."


Setelah mengantar Ma Rin, So Joon kembali ke tempat itu memanggil-manggil Young Jin karena ponselnya mati. Ia mencar-cari Young Jin tapi tidak menemukan apa-apa.

Dimana Young Jin?


Young Jin menunggu Ma Rin di depan rumah dan saat Ma Rin sampai, Young Jin keluar dari mobil menyapa Ma Rin. 

"Bagaimana kabarmu?"

Ma Rin terkejut bukan main.

Preview Episode Selanjutnya:


So Joon menemui Do Sik, masih menggunakan pakaian yang sama.

Doo Sik: Bukankah kau terlambat?


Young Jin berhasil menculik Ma Rin dan menggunakannya untuk mengancam So Joon.

"Istrimu sudah mau mati kedinginan, kunyuk. Dia akan mati!"

"Di mana kau sekarang?" Bentak So Joon.


Kayaknya ini Doo Sik bertemu dengan detektif atau apalah dan ia seolah mendengar berita yang mengejutkan. Ekspresinya itu kelihatan sangat menyesal dan sedih.

So Joon: Kau adalah ayahnya Ma Rin. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


So Joon terlibat perkelahian dengan Young Ji di kereta dan Young Jin menusuknya menggunakan pisau. So Joon kesakitan dan akhirnya Young Jin bisa melarikan diri.


Ma Rin mencari So Joon di kereta, Doo Sik mentakan kalau So Joon tidak akan datang.

Ma Rin menunggu So Joon di stasiun, ia menangis. Ma Rin membentak ayahnya.

Ma Rin: Kukira kau sudah tahu ini akan terjadi. Kenapa kau meninggalkan So Joon sendirian?


Ma Rin: Ingatlah kenangan masa lalu kita... Memimpikan saat-saat kita akan bertemu lagi.. Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu.

#Aduh.. gak sabar nunggu minggu depan...

7 komentar

Omooooo.. Aahh kim young jin, you r to much !! Cant wait for the ending really uuuuhh

Terima Kasih MBA sudah lengkap sama preview nya... Semoga drama ini happy ending...

Ya..semoga happy ending..jngn gntung..maksih recapnya..

Makasih sinopsis y, ga sabar nunggu minggu depan.

Sojoon km kan kaya sewa bodyguard pke lindungin mari n dirimu...trus ms polisi korea ga bs nyari young jin...ms kalah ama polisi india?? Kwkwkw penonton yg ribut...klo gtu ga ada crita...kwkwkw

Entah mengapa aq rasa kakak roowoon mati utk hal yg sangat remeh...tanpa mkirin ortu n adiknya....dsini bagusnya ga ada penjahatnya....critanya ringan n romantis bgt...

Kak diana makasih banyak sinopsisnya..
Smg sojoon dan marin happy ending, ah knp memikirkan masa depan padahal masa kini lah yang lebih penting.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...