Wednesday, March 29, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 16 Part 2 "Final"

Sinopsis Tomorrow With You Episode 16 Part 2 "Final"

Sumber Gambar dan Konten dari tvN


Berkat keinginan kuatnya, So Joon mendadak muncul di kereta membuat semua orang terkejut tapi So Joon tersenyum, ia berhasil kembali.


So Joon pun turun di stasiun, ia celingukan mencari Ma Rin di tempat biasa Ma Rin menunggunya tapi Ma Rin tidak ada. Ia terus keluar sampai akhirnya menemukan Ma Rin sedang berdoa di depan tugu para korban. 

"Song Ma Ri!" So Joon memanggil Ma Rin yang sudah selesai berdoa hendak pulang.

Ma Rin menghentikan jalannya dan berbalik.


So Joon langsung memeluk Ma Rin erat, ia mengucapkan maaf. Ma Rin menganggap So Joon berasal dari masa lalu dan menyuruhnya pergi. Dan Ma Rin pergi meninggalkan So Joon tapi So Joon terus mengikutinya,


"Kalaupun aku bisa kembali ke masa lalu, aku tidak akan berpisah denganmu. Walaupun aku mati, aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Kau tahu seberapa menderitanya aku karena kau berbohong demi kebaikanku? Karena aku pikir hubungan kita akan jadi buruk. Kau meminta diriku di masa lalu untuk berpisah denganmu. Kemudian meminta diriku di masa depan untuk kembali lagi. Itulah yang akan kau lakukan, Song Ma Rin."


Ma Rin berhenti dan berbalik, "Siapa kau?"

"Kenapa kau bodoh sekali dan mengirimkan ratusan email? Aku tidak selingkuh dengan siapapun di masa depan. Aku membaca email yang kau kirimkan kemarin, tiga tahun dari sekarang. Kau minta aku agar segera pulang."


Jawaban So Joon sudah terkonfirmasi, Ma Rin langsung memeluk So Joon erat sambil menangis.
"Kenapa lama sekali? Kenapa kau lama sekali?"

"Maafkan aku karena tidak kembali secepatnya."

"Aku menunggumu lama sekali. Aku menunggumu lama sekali."

"Maafkan aku.. maafkan aku. Maafkan aku, Ma Rin."


Sampai di rumah, mereka melepas kerinduan selama dua tahun itu.


Paginya, So Joon mengirim pesan serta foto dirinya pada Ki Doong.

"Aku sudah pulang. Jangan menelpon. Aku akan menghubungimu segera."

Ki Doong hampir menangis membacanya.


Manager Chae heran melihat Se Young lembur terus, apa Ki Doong tidak protes.

"Doong-ku mengirimiku SMS setiap hari karena aku bekerja terlalu keras. Dia juga masak dan membersihkan rumah untukku. Dia bahkan kadang menggendongku ke kamar mandi."

"Doong-ku? Bisakah kau tidak mengatakan itu?"

"Kenapa? Bukankah itu imut?"

"Tidak imut sama sekali."

Manager Chae pun pulang duluan dan ia berpapasan dengan Ki Doong yang baru datang.


Ki Doong mengatakan kalau So Joon kembali. Se Young juga sangat senang mendengarnya.

"Aku baru saja mau menelponnya. Tapi sepertinya dia sedang dengan Ma Rin, aku penasaran tapi tidak mau mengganggunya."

"Kalau mau memberitahu itu kenapa tidak telpon saja? Kenapa kau harus repot-repot ke sini?"

"Sesuatu yang baik seperti ini, tentu saja harus kita lakukan bersama."

"Aku merasa lega. Sangat lega."

"Hei, ya nggak usah pakai nangis segala. Aku cemburu nih."


Ki Doong menunjukkan satu lagi, So Joon memberitahu mereka nomor lotere untuk minggu kedua di bulan Maret 2022 sebagai hadiah pernikahan mereka. Jungkrak-jingkrak deh tuh mereka berdua.


Gun Sook bertemu dengan Sekretaris Hwang setelah sekian lama. Selama ini Gun Sook tinggal di jeju dan membuka kedai kopi, ia ke Seoul hanya karena pameran fotonya Ma Rin.

"Kedengarannya keren."

"Aku mencoba melepaskan semuanya. Aku merasa lukaku disembuhkan oleh alam. Walaupun masih sering ada mimpi buruk yang menghampiri." Jawab Gun Sook.

Giliran Gun Sook menanyakan kabar Sekretrais Hwang. Sek. Hwang baik-baik saja tapi tidak bisa keluar terlalu malam.

"Aku dulu bercita-cita ingin jadi artis. Aku mulai melakukan broadcast di internet sebagai hobi. Lumayan membantu."

"Aku tahu itu."

"Apa?"

"Aku bahkan menyukai dan  merekomendasikannya pada orang."

"Oh, astaga. Benarkah? Kau sudah melihatnya? Kau mau tanda tanganku?"

"Tidak, aku tidak perlu itu. Aku melihat episode Kkot Soon yang kau tayangkan. Apa kau tahu sesuatu yang lain lagi tentangnya? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya."

"Aku hanya kenal dia lewat internet. Kkot Soon akan menjadi misteri abad ini."


Gun Sook merasa masa depanku sepertinya sangat suram. Sek. Hwang menyemangatinya, Gun Sook kan masih muda, Kalau orang melihat Gun Sook, ada sesuatu yang misterius yang menarik dan positif dari Gun Sook. Kayaknya Sek. Hwang baru menyadari kalau Gun Sook punya pesona itu.

"Omong-omong terima kasih. Aku juga minta maaf dan terima kasih atas semua kebaikanmu di masa lalu. Itulah yang kurasakan. Aku sering sekali teringat padamu saat sedang mengalami masa sulit. Sepertinya aku dulu terlalu bergantung padamu."

"Di masa depan pun.. kau tetap bisa menghubungiku kalau kau mengalami kesulitan."

"Bolehkah?"

"Tentu saja."

"Baiklah."

~Ada pasangan baru nih...


Ma Rin terkejut mendengar So Joon koma selama 2 tahun, bagaimana sekarang? Apa So Joon baik-baik saja? So Joon mengiyakannya, ia baik-baik saja.

"Apakah aku pintar merawat orang sakit?" Tanya Ma Rin.

"Tentu saja." So Joon berbohong.

"Kalau begitu.. kau harus berpisah dengan diriku di dunia lain."

"Aku kembali ke tempatku yang semestinya. Aku yakin masa depan pasti juga berubah menjadi lebih baik."

"Aku senang mendengar kau mengatakan "di sini adalah tempatmu yang semestinya". "

"Aku akan menceritakan semua yang terjadi padaku sedikit sedikit. Sekarang ceritakan tentangmu. Apa saja yang kau lalui selama ini?"

"Aku membuka pameran foto pertamaku hari ini. Aku memenangkan penghargaan pendatang baru terbaik dari sebuah koran kecil."

"Benarkah? Keren. Itu bagus sekali."

"Aku baik-baik saja. Tidak sulit, kok. Itu tidak benar sih. Rasanya sulit juga. Mendadak, aku tidak bisa ingat apa-apa. Karena aku merasa sangat bahagia sekarang."

So Joon lalu mengajak Ma Rin pergi.


So Joon mengajak Ma Rin ke Galeri. Melihat banyak terpajang fotonya, So Joon protes. "Apa ini namanya bukan pelanggaran hak cipta terhadap dirinya?"

Ma Rin tidak menyangka akan ketahuan seperti ini. Siapa juga yang menyangka So Joon akan datang hari ini?

"Kau benar-benar istri yang setia. Song Istri yang Setia. Aku tidak akan memanggilku Kkot Soon lagi. Akan kupanggil kau Istri Setia. Istri yang Setia. Bagaimana kau bisa menahannya di saat kau sangat merindukanku? Apakah kau menusuk dirimu sendiri dengan sebuah jarum besar setiap malam?"


Ma Rin ternyata punya cara sendiri. So Joon datang padanya di saat ia merasa mungkin akan melupakan So Joon. So Joon datang dari masa lalu, mengirimkannya video juga, membelikannya pangsit. Dan juga, mereka sering bertemu tanpa sengaja. Dan saat ia sangat merindukan So Joon, oa akan pergi mencarinya.


Aku pergi ke tempat yang sering kau datangi. Di depan rumah.


Di belakang rumahnya Ki Doong. Dan juga, di Stasiun kereta api Seoul yang sering kau naiki.

 

Kalau aku mencarimu. Aku akan cukup beruntung dan bertemu denganmu beberapa saat. Dan saat aku bertemu denganmu, yang bisa kulakukan hanyalah bersikap dingin padamu.


So Joon tahu sekarang, jadi waktu itu Ma Rin juga mencarinya.

"Tentu saja. Ngapain lagi aku di sana kalau bukan karena kau? Ki Doong sudah pindah, dan aku juga tidak tinggal di sana lagi."

So Joon tersenyum lalu memeluk Ma Rin.


-- MARET 2019, HARI TERJADINYA KECELAKAAN --

Ibu Ma Rin dan ayahnya keluar dari toko bunga. Ibu menyadari kalau ia ini memang wanita sejati karena benar-benar menyukai bunga.

"Pria juga suka bunga." Jawab Doo Sik.

"Jadi, bagaimana? Bagaimana rasanya pergi ke pameran foto putrimu?"

"Senanglah."

"Kenapa ekspresimu begitu?"

"Aku hanya sedang senang."

Ibu ingin Doo Sik menggandenglengannya karena mereka pergi berpasangan hari ini tapi Doo Sik tidak mau.

"Benarkah? Aku sedang berusaha membuka hati dan bersikap baik padamu."

"Tidak perlu."

"Sejujurnya, kau ingin kembali padaku, 'kan? Ya kan, ya kan, ya kan." Tebak Ibu sambil terus mendekatkan tubuhnya pada Doo Sik dan bersikap manis.

"Kau belum muak padaku, ya?"

"Kau pasti merasa malu. Aku sedikit lebai, ya. Astaga."

Doo Sik tersenyum membenarkan, menurutnya Ibu memang sangat lebai. Ibu manyun mendengarnya.



Doo Sik menyesal, kalau ia tahu semua akan jadi begini, ia akan bersikap lebih baik dulu. Ia tidak tahu kenapa dulu ia merasa sangat penasaran pada banyak hal. Semua hal di dunia ini terasa menyenangkan baginya.

"Jadi karena itu kau meninggalkan kami?"

"Aku pasti sudah gila. hehe."

Ibu lalu berinisiatif untuk menggandeng Doo Sik tapi Doo Sik malah merangkulnya, membuat ibu malu.


Sampai di galeri, ibu sangat senang melihat So Joon tapi tidak dengan Doo Sik. Lalu Doo Sik mengajak So Joon bicara berdua.


Ibu heran, bagaimana bisa Ayah Ma Rin mengenal So Joon. Ma Rin mengajak ibunya melihat-lihat saja untuk mengalihkan perhatian ibunya.


Doo Sik memprotes keputusan bodoh So Joon itu, ngapain kembali ke masa lalu jika So Joon bisa tetap disana dan hidup.

"Itu sudah cukup. Jangan buang waktu dan tenagamu. Hari ini, Ahjussi.. Ah, Aku harusnya tidak memanggilmu Ahjussi lagi."

"Lupakan saja. Sekali Ahjussi, maka selamanya aku ini adalah Ahjussi. Ish.. Ngomong apa sih aku ini?"


So Joon tahu kalau hari ini juga hari terakhir Doo Sik, ia sudah mendengr semua dari Ma Rin bahwa Doo Sik juga ada di Stasiun Namyeong 10 tahun lalu. Berarti Doo Sik juga akan menghadapi takdir yang sama dengan mereka.

"Tidak, kok. Aku punya waktu 3 hari lagi. Katakan sajalah aku ini akan menderita selama 3 hari lebih lama."

"Kita harusnya berhenti membicarakan ini. Kalau kau pikirkan soal ini, tidak ada orang di dunia ini yang tahu apa yang akan terjadi hari ini. Bahkan sejak aku bisa berjalan ke masa depan. Aku tidak pernah mencemaskan masa depanku. Sekarang hari itu akhirnya datang. Anehnya, aku justru merasa tenang. Bagaimana ya aku mengatakannya? Bukannya aku menyerah. Ini sama sekali tidak masuk akal bagiku. "Sudah cukup". Aku merasa seperti itu. Mungkin sepertinya aku sudah tidak memikirkan banyak hal lagi. Itulah yang kurasakan. Aku benar-benar tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata."


Doo Sik menasehati, meskipun begitu tetap saja So Joon tidak boleh membuang harapannya. So Joon juga tidak akan melakukannya, mereka akan melihat kembang api malam ini dan masih banyak hal lagi yang harus dilakukan.

"Ya. Semuanya akan berakhir begitu kau memutuskan untuk menyerah."

"Aku tidak akan menyerah. Untuk hari ini.. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan penuh kebahagiaan."

"Baiklah, baiklah." Kata Doo Sik sambil mengelus pundak So Joon.


So Joon lalu menanyakan hubungan Doo Sik dengan Ma Rin, apa baik-baik saja?

"Seperti biasanya. Kenapa kau repot-repot menempelinya?"

"Pantas saja kau tidak pernah muncul di depan Ma Rin. Dan selalu saja melindunginya dari belakang."

"Aku bukan ayah yang baik. Sudah cukup dia kehilangan aku sekali. Aku tidak mau dia kehilangan aku untuk kedua kalinya. Kalau kita bisa melalui ini, aku akan jadi ayah yang baik untuknya. Kau ingat apa yang pernah kukatakan? Kalau aku ini punya anak perempuan. Kubilang dia bertemu dengan pria baik, dan hidup dengan penuh cinta."

"Dan kau mengancam aku akan mati kalau tidak menikahi Ma Rin."

"Itu hanyalah harapanku saja sebenarnya. So Joon, kau 'kan bisa melihat masa depan. Dan aku hanya berpikir bagaimana caranya aku bisa menyelamatkan Ma Rin. Aku memanfaatkanmu. Dan juga.. aku tidak menyangka kalian akan cocok satu sama lain. Tidak peduli kau akan hidup setahun atau 10 tahun. Kurasa kau akan lebih bahagia jika hidup bersamanya. Tapi aku tidak tahu, apakah aku sudah melakukan hal yang benar atau tidak."

"Terima kasih karena sudah mempertemukan aku dengan Ma Rin. Kalau aku bertemu denganmu besok, aku akan memanggilmu Ayah."

"Baiklah."

"Semoga beruntung, Ayah."

"Lakukan saja itu besok, Nak. Kenapa kau berubah pikiran hanya dalam waktu sedetik? Mulai saja besok."


Ma Rin datang menyela pembicaraan mereka. Tapi ia mendadak merasa bersalah, haruskah ia beri mereka waktu berdua?

"Tidak, tidak." Jawab So Joon.

"Kami sudah selesai bicara." Sambung Doo Sik.

Ma Rin harus pergi ke suatu tempat dengan So Joon, ia minta ijin untuk membawa So Joon. Doo Sik tentu saja mengijinkannya dan mendorong So Joon untuk pergi.

"Terima kasih karena sudah datang hari ini. Kita harus makan bersama nanti." Ucap Ma Rin.

"Bicaralah lebih sering dengan ayahmu." Bisik So Joon.

"Tidak bisa hari ini."

Ma Rin memastikan bahwa mereka harus makan bersama kapan-kapan. Doo Sik mengangguk setuju. Lalu Ma Rin dan So Joon pun pergi.


Doo Sik tersenyum melihat mereka, "Mereka sangat serasi. Mereka kelihatan cocok satu sama lain."


Ma Rin mengajak So Joon ke kantor pemerintah untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Seharusnya mereka mendaftarkan pernikahan di hari di mana So Joon menghilang.

Ma Rin mengambil dokumen yang disediakan tapi ia mera terganggu karena ada dokumen perceraian di sebelah surat pendaftaran pernikahan. Walaupun ini hanya masalah penyusunan, tapi bukankah ini berarti mereka tidak bijak?

"Haruskah kita protes saja?" Tanya So Joon.

"Jangan. Kita tidak boleh melakukan hal semacam itu di hari baik seperti ini. Mari kita bersikap positif."

Ma Rin akan mengisi miliknya tapi karena ia terlalu gugup ia tidak bisa mengisinya, So Joon pun menggantikannya untuk menulis.


Saat So Joon menyerahkan dokumen itu ke petugas, Ma Rin merekamnya. Jujur So Joon merasa tidak nyaman dengan hal itu karena orang-orang melihat mereka.

"Ini adalah saat bersejarah, tentu aku harus merekamnya."

"Kau memang tipikal fotografer kebanyakan."


So Joon tidak tersenyum dan Ma Rin memprotesnya karena kesannya So Joon menikah karena terpaksa. So Joon pun tertawa lebar.

"Yoo So Joon-ssi? Bagaimana perasaanmu karena mendaftarkan pernikahanmu sekarang?"

"Aku bahagia."

"Kau sepertinya tidak kelihatan bahagia."

"Aku mencintaimu."

"Aku juga."


Setelah resmi menjadi suami istri secara hukum, mereka mampir ke kedai kopi. Ma Rin sangat senang sampai tidak berhenti memandangi surat nikah mereka. Ia merasa benar-benar luar biasa, jadi itu bedanya dengan resepsi pernikahan.

"Jangan dilihatin terus, nanti bisa rusak."

"Jadi kalau aku mendaftarkan anggota keluarga seperti ini..."

"Kedua namanya akan dimasukkan."

"Jadi, sekarang kita adalah keluarga. sekali rasanya."

"Kau ini mudah sekali terpesona pada hal
baru."

"Kita tidak akan bisa berpisah sampai hakim menyetujuinya. Oh, ini benar-benar kesukaanku."

"Astaga, kau ini benar-benar lebai deh." Tapi So Joon tetap snyum bahagia kok.


So Joon menemukan sesuatu yang unik di meja. Judulnya Tamu-Jung Hyun Jong. So Joon membaca itu sambil mengenang pertemuaannya dengan Ma Rin,

Adalah sesuatu hal yang luar biasa, saat seseorang datang.
Orang itu adalah.. Dan masa lalu orang itu.. Masa kini.. dan masa depan orang itu akan datang.
Kemudian kehidupan seseorang itu akan menjadi utuh..


"Seperti kisah kita, ya." Kata Ma Rin.

Mereka mengira itu tulisan tamu dan mereka ingin menulis juga, maka mereka meminta buku tamu pada pemilik kedai.


Pengunjung di depan mereka menjelaskan kalau itu adalah puisi. Puisinya Jung Hyun Jong yang berjudul "Tamu", bukan buku tamu.

So Joon ketawa tanpa suara, sementara Marin malu dan langsung mengajak So Joon pergi


Di jalan mereka meluapkan ketawanya. Mereka sama-sama berpikir kalau tulisan itu ditulis oleh seorang tamu.  kira itu ditulis oleh seorang tamu.

"Kita sepertinya harus membaca buku juga. Apa-apaan ini?" Saran Ma Rin.

So Joon berhenti, menanyakan tujuan mereka selanjutnya. Ma Rin menjawab kalau mereka akan menonton kembang api. So Joon tersenyum dengan berat hati.

Ma Rin mengajak naik bus saja, soalnya ia benci kereta. So Joon setuju-setuju saja. Ma Rin berpikir, dimana ya haltenya. Ia lalu berlari duluan untuk mencari tahu.


Saat itu seseorang menabraknya (seperti dimasa depan). Bedanya Ma Rin tidak jatuh ke jalan raya melainkan masuk ke jalan raya untuk mengambil surat nikah mereka yang terlempar. Ma Rin tidak memikirkan ada mobil yang melintas. Saat ia mengambil surat nikah itu, barulah ia sadar tapi sudah agak terlambat.


So Joon yang tahu apa yang akan terjadi langsung berlari memeluk Ma Rin. Untungnya mobil yang akan menabrak Ma Rin berbelok arah. Pengemudinya adalah Doo Sik.

Doo Sik menggunakan mobilnya sebagai tameng mereka berdua. Kecelakaan beruntun tetap terjadi dan Doo Sik mengorbankan dirinya untuk mereka berdua.

 Narasi So Joon: Aku tidak mau membicarakan ini lebih jauh. Seperti waktu aku bergulat dengan rasa bersalah karena kehilangan orangtuaku di Stasiun Namyeong. Ma Rin dan aku harus menyingkirkan semua rasa sakit ini di masa depan. Atau.. kami bisa melupakannya seiring waktu.


Pagi-pagi Ma Rin sudah teriak-teriak marah. So Joon tidak suka itu, dan saat ia menuju meja makan hanya tersedia roti. Ia bosan, kan sudah dibilangi agar Ma Rin les masak.

"Aku sudah dapat laporan kartu kredit. Kau tahu berapa banyak biaya yang keluar untuk transport? Kau naik kereta lagi, ya akhir-akhir ini?"

"Bajumu, sepatumu, dan tasmu. Semua dari dunia lain."

"Jangan jadikan aku sebagai alasan. Aku tidak hamil-hamil karena kau terus saja ke masa depan."

"Kenapa kau bawa-bawa hamil sekarang?"

"Kau kira spermanya akan normal kalau kau terus-terusan bolak-balik ke sana kemari?"

"Hei, kenapa kau kasar sekali. Ada apa dengan  memangnya?"


Ma Rin mengingatkan, kan So Joon sudah menulis kontrak kalau tidak akan ke masa depan lagi, Apa itu tidak ada artinya bagi So Joon? Ia merasa kecewa setiap kali So Joon ingkar janji.

"Kau menyuruhku pergi setiap kali kau mau aku membelikanmu sesuatu. Kalau soal milikku.. " So Joon membelaa diri

"Milikmu dan milikku? Kenapa kau mengatakan itu?"

"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."

"Tidak ada jawaban untukmu lagi."

"Itu sepertinya sudah basi, deh."

"Kau meremehkanku, ya?"

"Kau selalu bersikap begini setiap pagi. Biarkan aku bekerja dengan suasana hati yang bagus, dong."

"Kerja apa kau memangnya."

"Aku memang kerja, kok. Kau tidak bisa lihat, ya?"

"Kalau aku sudah lihat itu namanya video."

"Jangan mengejekku."

"Kenapa kau teriak?"

"Aku teriak, ya?"


So Joon merasa bersalah apalagi Ma Rin mengungkit soal ia menunggu selama 2 tahun, rasanya tidak adil. So Joon buru-buru pamit pergi kerja,

"Kau membuat kekacauan dan sekarang kau mau pergi?"

"Aku harus kerja supaya kita bisa makan."

"Pergi!" Bentak Ma Rin lalu masuk kamar.

So Joon gagap jadinya, ia menegaskan lagi kalau ia akan pergi kerja bukannya melarikan diri.


Dalam perjalanan SO Joon menggerutu, apa salah sih hingga Ma Rin selalu menceramahinya. Lalu So Joon mendapat e-mail dari Ma Rin yang ditulis di masa lalu. So Joon pun meminggirkan mobilnya untuk membaca.

Narasi So Joon: Sekarang dan nanti.. Aku masih akan menerima email dari masa lalu saat Ma Rin masih menungguku di masa lalu saat dia merasa sangat putus asa.


So Joon lalu menghubungi Ma Rin, ia minta maaf, "Ayo kita kencan. Kkot Soon~aa."

"Kapan?" Tanya Ma Rin.

"Hari ini."

Ma Rin pun tersenyum bahagia.


== T A M A T ==



Terimakasih semua, sampai ketemu di proyek selanjutnya di dramanya Yoo Ah In sama Go Kyung Pyo~^^

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon