Saturday, March 4, 2017

Sinopsis Tomorrow With You Episode 9 Part 1

Sumbar Gambar dan Konten dari tvN

Sinopsis Tomorrow With You Episode 9 Part 1


So Joon bangun duluan, ia mengagumi wajah Ma Rin yang sedang tidur, kok Ma Rin bisa manis sekali ya? kata So Joon. So Joon pamit pergi kerja lalu mengecup bibir Ma Rin manis.

So Joon mencari-cari sesuatu miliknya. Ia menyibak selimut untuk menemukannya, tapi kemudian ini berkata "Dia di sini" sambil menunjuk Ma Rin. So Joon lalu mengecup kening Ma Rin.

So Joon sudah jalan sampai di depan pintu, ia mengulangi kata-katanya tadi, dimana miliknya pergi? Ma Rin bangun dan menjawab "disini" sambil berpose manis. So Joon malu karenanya.



Ma Rin lalu merentangkan kedua tangannya minta dipeluk. So Joon mengatakan kalau ia akan pergi kerja sekarang. Ma Rin memaksa, akhirnya So Joon menghampirinya.

"Aku di sini. Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya So Joon.

"Aku menyukaimu."

"Aku lebih menyukaimu."

"Aku suka pagi hari."

"Aku berharap pagi tidak pernah terganti."

"Tapi, aku juga menyukai malam hari."

Dan mereka berpelukan erat.


Ma Rin penasaran akan sesuatu. Kapan So Joon sampai pada keputusan untuk menikahinya. So Joon juga tidak tahu pasti, ia jatuh cinta pada Ma Rin begitu saja. Ma Rin bertanya lagi, kenapa So Joon langsung memutuskan menikahinya. So Joon menyuruh Ma Rin tanya yang lain saja karena itu pertanyaan yang sama.

"Aku selalu ingin tahu." Jawab Ma Rin.

"Aku akan bangun kalau kau tidak punya pertanyaan lain."


Ma Rin mengerti, Ia ingin mendengar jawaban pertanyaannya tadi pada ultah pernikahan pertama mereka. Lalu Ma Rin membahas soal semalam, apa jika ia tidak memaksa So Joon berencana untuk tidur terpisah selamanya? Berencana untuk tidak menyentuhnya sama sekali?

"Aku tidak memahami perasaanmu. Bahkan jika kita tinggal bersama selamanya, aku mungkin tidak akan selalu memahami perasaanmu."

"Kau bijaksana, aku sungguh menyukainya. Kau harus menambahkan sisi liarmu. Kalau kau tambahkan sedikit saja, kurasa jadi sangat hebat."


"Apa maksudmu 'jadi sangat hebat'? Kalau sisi liarku muncul, kau mungkin tidak akan bisa mengatasinya. Aku ini hewan buas, tahu." Aku So Joon yang membuat keduanya sama-sama malu.


Ma Rin merasa perlu untuk terus mengonfirmasi bahwa So Joon tidak akan lelah terhadapnya, bahwa ia masih menarik untuk So Joon. So Joon hanya ingin Ma Rin tidak berubah, maka ia berjanji akan akan selalu dan lebih menyukai Ma Rin.

"Aku tidak akan berubah. Seperti itulah kepribadianku." Janji Ma Rin.


Ibu bangun dari tidur lelapnya dan langsung memakai kaos kaki tapi saat ia mencari kaos kaki yang sebelah lagi, ia menemukan foto keluarganya jatuh, ia panik apalagi saat Ma Rin tiba-tiba masuk.


Ibu jadi pura-pura tidur di lantai untuk menutupi foto ibu. Ma Rin menduga ibunya pasti mengguling sampai jatuh ke lantai. Ma Rin akan membantu ibu untuk bangun karena So Joon sudah membuat sarapan.

"Sebentar. Tulang belakangku rasanya belum ikut bangun. Aku harus membangunkannya dulu. Turunlah saja. Jangan biarkan So Joon melakukannya sendiri. Turunlah." Alasan Ibu, Ma Rin mengerti dan buru-buru turun.


Setelah Ma Rin turun, ibu buru-buru memasukkan fto itu kembali ke dompet. Barulah ia bisa bernafas lega.


Ma Rin mengantar Ibu sampai ke halte mungkin. Ibu membahas kalau So Joon semakin kelihatan baiknya. Ma Rin menyarankan agar ibunya menikah lagi dengan pria seperti So Joon. Ibu menolaknya, buatnya pria itu hanya untuk senang-senang.


Mendadak Ibu bertanya, apa Ma Rin ingat wajah ayahnya. Ma Rin balik bertanya, kenapa ibu mendadak bertanya begitu, kan ibu sendiri yang menyingkirkan dan menghapus semua jejak ayahnya. Ibu menjelaskan kalau ia takut Ma Rin akan merindukan Ayahnya dan sakit hati.

"Ibu melakukan hal benar. Aku tidak mengingat dia. Juga tidak penasaran."

"Apa kita cari dia? Kita temukan dia?"

"Kenapa? Ibu masih mencintai dia?"

"Tidak! Kau sudah hidup dengan baik. Aku hanya ingin tahu perlu tidak mencari dia."

"Dia meninggalkan beban hutang, juga tidak pernah menghubungi kita. Itu berarti dia tidak ingin tahu lagi tentang kita. Dia juga tidak merindukan kita."

"Oke."

"Kadang, aku merasa Ibu terlalu naif."

"Lupakan saja. Ibu sudah banyak menderita karena dia."

"Baiklah. Baiklah, maafkan aku."


Direktur Wang bisa maklum kalau So Joon jarang hadir dalam rapat. Tapi kenapa Direktur Kim Yong Jin juga tidak ada hari ini! Ini bukan sekali dua kali! Apa alasannya?

"Sudah saya bilang. Direktur ada rapat dengan investor." Jawab Sek. Hwang.

"Kenapa dia menggelar pertemuan di hari presentasiku? Dia meremehkan aku?"


Ki Doong menengahi, ia mengajak semuanya untuk mulai saja. Ia sudah memeriksa proyeknya. Soal Sami, kelihatannya lebih menguntungkan bisnis penyewaan dibanding tanah.


Direktur Wang mulai merasa kalau Young Jin aneh belakangan ini dan ia menanyakan apa Ki Doong juga merasakan hal itu. Ki Doong hanya menyadari kalau Young Jin terlihat sangat sibuk.

"Aku tidak yakin perlu mengatakannya tidak. Ada rumor, dia mencuri investor perusahaan demi proyek pribadi. Ada rumor dia masih memperjuangkan proyek Jangho." Ujar Direktur Wang.

"Kita kan sudah putuskan menolak proyek Jangho."

"Itu sebabnya kubilang aneh. Dia pasti mengerjakan sesuatu diam-diam."

"Aku tidak yakin. Dia bisa kena masalah hukum (kalau melakukannya). Siapa yang punya nyali melakukannya?"

"Iya, ya?"

"Itu hanya rumor tidak berdasar."


So Joon menonton rekaman CCTV yang sudah diambilnya dari masa depan. Awalnya ia semangat tapi baru sebentar ia sudah menguap. Tiba-tiba ia penasaran dengan apa yang dilakukan Ma Rin, ia pun mengirim pesan.


Ma Rin ada di lokasi konstruksi sedang memotret Pak Mandor. Ma Rin ingin bergaya natural tapi Pak Mandor malah bergaya seperti model. Manager Chae yang ada di sana sampai ngakak dibuatnya, ia rasa Pak Mandor ingin kelihatan bagus di foto.

"Masalahnya, kamera itu ada di sana. Aku coba menganggapnya tidak ada, tapi gagal." Jelas Pak Mandor.

"Saya paham. Sejujurnya, Saya tidak bisa sukses di peran selain Bap Soon akibat ketakutannya pada kamera. Mana bisa pura-pura kameranya tidak ada? Mereka terasa mengawasimu."

"Benar, kan? Mata kita otomatis tertuju pada kameranya."


Ma Rin lalu memijat bahu Pak Mandor supaya tidak tegang. Pak Mandor senang dan ia ketawa. Tepat saat itu So Joon melihat Ma Rin. Ia keligatan kesal dan langsung berteriak memanggil Ma Rin.


So Joon mengingatkan kalau tugas Ma Rin hanya memotret tapi kenapa memijat bahu pria segala. Ma Rin tidak melihat Pak Mandor sebagai pria hanya Ahjussi saja. So Joon dengan kesal menjawab walupun kakek-kakek juga tetap pria. So Joon memperhatikan Pak Mandor yang kelihatan kuat dan buas.

"Dunia itu tempat yang menakutkan! Kebaikanmu bisa disalahartikan sebagai rayuan. Orang lain bisa salah paham." Lanjut So Joon dengan mata melotot.

"Semua orang di sini sukarelawan. Kau merendahkan mereka?"

"Aku kan donaturnya? Aku mendanai hampir keseluruhan proyek ini."

"Jangan pamer. Bukankah kau merasa terluka kalau dekat-dekat dengan Happiness? Kau bisa datang dengan santai sekarang."

"Aku masih trauma. Aku masih merasa terluka. Sakit di sini (menunjuk dada sendiri)."

Ma Rin ketawa, ia rasa trauma So Joon sudah sembuh berkat isterinya yang cantik. So Joon ngambek, apa boleh mengolok rasa sakitnya begitu hanya karena Ma Rin cantik?

Ma Rin minta maaf, ia hanya merasa harus lebih ramah dengan sukarelawan. Ia harus membuka hati dan harus berinteraksi dengan mereka.


Ma Rin pun kembali pada mereka, ia malah meminta So Joon yang memotret mereka bertiga. So Joon melakukannya sih tapi sembari mengeluh.


Ma Rin membantu mengurus makanan untuk para sukarelawan dan So Joon mengekorinya. Semua orang memuji ketampanan So Joon. So Joon tidak suka saat Ma Rin menerima perintah mereka begitu, apa Ma Rin Bap Soon apa?

Ma Rin memelototo So Joon tidak suka. So Joon langsung menunduk karena merasa bersalah. Tapi saat ada orang lain yang memanggilnya Bap Soon, Ma Rin baik-baik saja dan tetap ramah melayani mereka.


So Joon menarik Ma Rin keluar. Ia melarang Ma Rin untuk tersenyum pada semua orang dan bicara semanis tadi. Ma Rin malah ngikik. So Joon tidak mengerti dengan reaksi Ma Rin itu.

"Yoo So Joon. Kau sedang menempeliku atau cemburu?"

"Keduanya."

Ma Rin malah semakin berbunga-bunga, ia coba tidak menunjukkannya, tapi wajahnya terlanjur memerah karena terlalu menyukainya. Ma Rin ingin So Joon terus bersikap begitu.


"Kenapa kau terus begitu? Berhentilah main-main." Kata So Joon.

Ma Rin meraih lengan So Joon. Ia mengaku membenci hubungan yang dingin dan terlalu dewasa. Ia suka So Joon melekat padanya dan kekanakan begitu. Asal tahu saja, hatinya itu selembut bayi.


"Aku mau pergi. Kau wanita aneh." Kata So Joon sambil menepis tangan Ma Rin tapi Ma Rin malah memeluknya dari belakang. Ma Rin ingin So Joon tetap bersamanya.

"Hei, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"

"Ini 'give and take' (memberi dan menerima), tahu. Aku akan menempel padamu layaknya permen karet. Tempel, tempel, tempel."

"Ini menjengkelkan. Kau permen karet yang menjengkelkan. Oh, ayolah, hentikan."

"Aku menyukainya."


Tuan Shin datang membuyarkan mereka. Tuan Shin mengerti dengan sikap mereka itu, tapi beliau mengatakannya tanpa senyum. Ma Rin menawarinya makan jika belum makan siang.

"Aku sedang tidak berselera." Jawab Tuan Shin lalu melanjutkan jalannya.

So Joon khawatir, apa Tuan Shin sakit. Tuan Shin membantahnya, ia kesal pada So Joon karena tidak menghentikan Se Young untuk ke Jepang. So Joon hanya bisa minta maaf. Tuan Shin mendesah lalu pergi.


Ki Doong baru sampai di lobi kantor dan Se Young menelfon untuk mengajaknya bertemu. Ia berbohong kalau ia sudah sampai rumah dan terlalu lelah untuk kembali ke kantor.

"Benarkah? Kau pulang lebih awal rupanya." Se Young kecewa dan saat ia menoleh ke belakang, ia melihat Ki Doong baru saja keluar dari pintu depan.

"Ki Doong-ah."

"Ya?"

"Istirahatlah dengan baik."

Ki Doong menutup telfon, lalu Se Young berjalan ke arah berlawanan.


So Joon punya rencana pergi jalan-jalan akhir pekan ini. Ma Rin langsung tersenyum lebar, kemana? So Joon mengeluarkan ponsel untuk bertanya pada teman-teman. Ma Rin kecewa tapi So Joon tidak menangkapnya. So Joon malah menanyakan mau kemana Ma Rin, suka gunung atau laut?

"Kalau dipikir lagi, aku belum tahu tempat kesukaanmu."

"Kita kan tidak pergi berdua saja. Ke tempat dekat sini buat pesta BBQ saja." Jawab Ma Rin.


So Joon sudah mengetik pesan tapi teman-temannya tidak ada yang mau. Ma Rin pura-pura menyayangkan tapi sebenarnya ia girang.

"Deobbang-ah, kau suka gunung atau laut? 1, 2, 3..."

"Laut." Jawab mereka berdua bersamaan.

Mereka berdua senang karena itu tandanya mereka berjodoh. Mereka merayakannya dengan menyatukan jari telunjuk.


Ma Rin menyarankan untuk pergi ke pulau terpencil. So Joon tetap mau mengajak Se Young dan Ki Doong, ia memilih pergi ke pantai dan akan berbohong pada mereka kalau ia sudah memesan semuanya, jadi mereka pasti datang.

Ma Rin merampas Ponsel So Joon, "Yoo So Joon. Tidak dengar aku mengatakan 'pulau terpencil'? Aku mengatakannya karena ingin kita berdua saja. Kau tidak peka atau bagaimana? Kau memang terlahir tidak peka, atau waktu yang membuat kepekaanmu menghilang? Kalau memang sejak lahir, aku perlu menganggapnya masalah serius."

So Joon langsung duduk dengan tegang. Ma Rin khawatir, bagaimana kalau anak mereka juga tidak peka seperti So Joon, Bagaimana anak mereka harus tumbuh di dunia yang rumit ini? Terlebih jika dia tidak peka begitu.


So Joon membenarkan, ia sebenarnya juga ingin mereka pergi berdua saja. Tapi, Se Young akan segera pergi ke Jepang, akan bagus kalau mereka semua menghabiskan waktu bersama.

"Kita tahan dulu keinginan berduaan, untuk perjalanan selanjutnya. Oke?" Rayu So Joon.

"Tahan sampai kapan?"

"Tahan untuk sebentar. Sebentar saja."

Ma Rin pun tidak marah lagi karena So Joon mengatakannya dengan aegyo (manis).


Ma Rin sangat menyukai tempatnya, untung ia putuskan untuk ikut. Ki Doong heran, jadi Ma Rin sempat tidak ingin ikut?

"Aku sempat berpikir akan mengganggu, karena ini acara antar teman." Jawab Ma Rin

"Kau sangat bijaksana. Kau bisa menjadi teman kami mulai sekarang." Ujar So Joon.


Ma Rin bercanda pada Ki Doong, jadi Ki Doong pastilah namjachingu-nya (teman pria tapi lebih ke pacar). Ki Doong menanggapi candaan Ma Rin, kalau begitu Ma Rin adalah yeojachingu-nya (teman wanita tapi lebih ke pacar). So Joon tidak suka, ia langsung menyuruh mereka berhenti.

So Joon membagi tugas, para pria akan menyiapkan BBQ dan meminta para gadis untuk mencoba berteman. Ia dan Ki Doong lalu meninggalkan Ma Rin dan Se Young.


Ma Rin membuka pembicaraan, ia mengajak Se Young untuk mencoba akrab dan melupakan semua perasaan buruk antara mereka. Ma Rin tahu Se Young tidak menyukainya. Tapi, ia juga merasa aneh setiap kali memandang Se Young. Ma Rin mengulurkan tangan duluan, ia minta maaf kalau pernah melakukan kesalahan.

"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Lagi pula, kita juga tidak akan sering bertemu lagi. Kau tidak perlu mencemaskan aku, Unnie (kakak)." Ucap Se Young sambil menjabat tangan Ma Rin.

Ma Rin kira salah dengar. "Unnie?"

Se Young menjelaskan kalau Ma Rin memang lebih tua darinya dan ia memang agak sulit dekat dengan orang yang lebih tua. Jadi, bukan karena ia tidak menyukai Ma Rin, Jangan salah paham.


Ma Rin menggerutu setelah Se Young meninggalkannya, "Kita kan hanya beda setahun. Kenapa dia mengungkit soal usia? Memang penting, ya?"


So Joon kembali melakukan aegyo, "Manajer Kang, cepat nyalakan apinya."

Ki Doong menepuk So Joon agar diam. Se Young datang, ia menyuruh So Joon pergi karena ia perlu bicara dengan Ki Doong dan ia yang akan menyiapkan semuanya bersama Ki Doong.

"Sungguh? Ada sesuatu yang tidak kutahu, ya?" Tanya So Joon.

"Pergilah. Kupanggil kalau sudah siap." Jawab Ki Doong.

"Oke. Terima kasih."


Ki Doong menanyakan apa yang ingin Se Young katakan. Se Young sebenarnya hanya merasa lebih baik bersama Ki Doong dibanding Ma Rin. Ia kesal karena Ma Rin ikut bersama mereka.

"Koot Soon-ah!" Teriak So Joon mencari-cari Ma Rin.

Se Young mengira itu nama anjing, ia langsung memeluk piring karena ia takut anjing. Ki Doong menjelaskan kalau itu bukan nama anjing tapi julukan So Joon untuk Ma Rin. 


So Joon terus berjalan mencari Ma Rin sampai ia menemukan Kotak surat yang ditujukan untuk menyimpan kenangan. So Joon tertarik karena disana tertulis kalau mereka akan mengirimkan surat di hari yang pelanggan pilih, meski itu 50 tahun mendatang.


So Joon duduk untuk menulis tapi ia bingung mau menulis apa soalnya ia tidak pernah menulis sesuatu yang panjang. Saat ia berpikir, Ma Rin mengiriminya foto selca.

"Dia sangat cantik." Ujar So Joon dan ia mulaimenulis,

Untuk Song Ma Rin di masa depan. Saat ini Oktober tahun 2016. Kita berlibur sebelum Se Young berangkat ke Jepang.


Ma Rin mengirim pesan, "Kenapa kau tidak merespon? Jarimu gemetaran karena dadamu berdebar-debar?"
"Aku sedang menulis responku, nih." Jawab So Joon dan ia melanjutkan kembali menulis suratnya.

Barusan, kau mengirimiku fotomu yang cantik.


Ma Rin bingung karena So Joon tidak merespon, apa ia harus mengirim apa saja. Tapi kemudian ia tidak ambil pusing dan mulai menikmati keindahan laut saja.

Kau belum tahu kalau aku memang penjelajah waktu. Kita sangat bahagia belakangan ini. Aku berharap tidak memiliki kemampuan menjelajah waktu lagi. Sebagai gantinya, aku ingin kemampuan menghentikan waktu. Kuharap, saat kau menerima surat ini, kau tidak akan membenciku.

Ki Doong tahu kalau Se Young memutuskan pergi karena So Joon dan Se Young membenarkannya. Se Young tiba-tiba merasa aneh berada di dekat Ki Doong.

"Kenapa jadi seperti ini? Aku ingin tahu sebabnya." Tanya Se Young.

Ki Doong tidak tahu. Hanya saja... kadang ia merasa kalau ia ini bodoh dan pemaksa. Ia bersikap menyesuaikan suasana hatinya Se Young. Ia selalu membiarkan Se Young menang. Ia melakukan ini dan itu (Ma Rin tiba di belakang mereka). Tapi Tetap saja, Se Young tidak puas dan memperlakukannya dengan buruk. Se Young menghubunginya semau sendiri, lalu menumpahkan amarah padanya.

"Benar. Bagimu, aku hanya orang bodoh." Tutup Ki Doong.


"Aku... mulai bekerja di Happiness karena So Joon. Sebenarnya, saat itu aku sudah dapat pekerjaan yang kuinginkan. Tapi So Joon memintaku membantunya. Dia menang saat kami adu minum. Aku tidak pergi karena pria itu. Lalu mengerjakan sesuatu juga karena dia. Sekarang, aku menyerah. Tapi, kenapa kau juga jadi dingin begini? Kau ingin menegaskan bahwa aku ini melarikan diri? Kau pikir itu membuatku baikan? Memang aku masih punya harga diri tersisa?"

Ma Rin merasa sudah cukup mendengarnya dan pergi dari sana.


Ki Doong tiba-tiba menyanyi untuk Se Young dengan suara merdunya.

Ikatan ini bukan hanya cinta.
Namun, lebih dari sekedar persahabatan.
Rasa yang kumiliki untukmu lebih menyakitkan untuk dipendam.
Dibanding diriku sendiri...
Dibanding siapa pun di dunia ini, aku peduli padamu.


"Hei! Kau gila, ya?" Rekasi Se Young sambil memukul Ki Doong.


Young Jin mengaku pada Doo Sik kalau ia belum meninggalkan Myreits. Alasannya, jika meninggalkan Myreits, para investor hanya menganggapnya sebagai manajer proyek So Joon. Jadi sulit memulai bisnis besar dengan imej semacam itu. Anggota dewan, kejaksaan, pejabat pemerintah, dan sebagainya. Ia harus menunjukkan dulu kalau dirinya juga berharga. Saat itu, baru mereka akan ikut dengannya. Koneksi semacam itu harus menganggapnya sebagai teman dan keluarga!

"Baru mereka ikut dengan saya. Begitulah keyakinan saya. Saya yakin begitu, Guru."

"Bagaimana kalau proyek Jangho gagal? Seluruh rencanamu bisa sia-sia."

"Kenapa Anda bilang begitu? Tidak mungkin terjadi. Bukankah itu alasannya Anda mau berinvestasi?"

"Astaga. Kau pria menyedihkan."


Doo Sik bertanya, apa Young Jin percaya takdir. Ia sudah memberi Young Jin kesempatan untuk keluar. Ada orang-orang yang takdirnya memang tidak dapat diubah.

"Baik kalau begitu. Aku mengerti maksudmu. Aku mundur, lakukan semaumu."


Young Jin tidak mengerti, lalu bagaimana dengan uang depositnya. Doo Sik membentak, ia sudah melepaskan itu.

"Anda sungguh-sungguh? Anda baru saja melepaskan satu milyar won."

"Beli makanan lezat untukmu. Astaga, aku sudah kehilangan banyak uang. Lebih baik aku minum saja lalu mati."

"Tunggu. Anda menyerah akan uangnya? Kenapa Anda mendramatisasinya? Tidak, Guru. Saya akan mempertimbangkan pendapat Anda lagi. Biar saya pertimbangkan lagi, kita bisa mengambil keputusan bersama."

"Bagaimana aku bisa memercayai orang yang sudah menipuku? Kau tahu betapa berbahaya... pertaruhan ini buatku? Kau tidak akan mengerti. Kim Yong Jin, Kau akan menjalani takdir yang sudah digariskan. Aku yakin seperti itu."

"Kalau begitu, saya akan mengkaji ulang dan meninggalkan Myreits."

"Sudah kubilang aku tidak percaya padamu. Aku tidak memercayaimu. Kau tidak mengerti alasanku melakukannya, 'kan? Aku... Aku harus mencegah sesuatu terjadi. Kau bukan satu-satunya yang perlu kuurus untuk mencegahnya."

"Ya, saya tidak terlalu paham yang Anda katakan."

"Bahkan meski kau seorang penipu, mestinya kau tidak membahayakan seseorang."

"Tolong jelaskan agar saya mengerti."

"Segalanya tidak akan berjalan sesuai keinginanmu. Aku akan... Kau tahu apa? Pergi sana."

Young Jin sampai berlutut untuk mengubah pemikiran Doo Sik tapi Doo Sik malah semakin gencar menyuruhnya keluar.


Doo Sik berhasil menyeret Young Jin keluar tapi Young Jin masih saja bicara.

"Saya akan menelepon Anda, Guru. Saya akan melakukannya dengan baik. Maafkan saya."

1 komentar so far

Terima kasih chingu atas sinopsisnya. Ditunggu part 2 nya... Semangat nulisnya ya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...