Tuesday, April 18, 2017

Sinopsis Whisper Episode 5 Part 2

Tags

Sinopsis Whisper Episode 5 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari SBS


Jeong Il melanjutnya, Sederhana adalah yang terbaik jadi ambil pendekatan sederhana saja. Young Joo akan menghukum hakim yang menempatkan ayahnya di penjara dan ayahnya bisa menjalani operasi.

Young Joo menanggapinya dengan senyuman menantang, "Kau akan terlihat bagus dengan borgol. Kau stylish. Aku yakin kau terlihat keren dengan seragam tahanan."

"Jika butuh waktu untuk berpikir, aku akan berikan waktu. Aku punya cukup waktu untuk ini. Tapi aku tidak yakin dengan Shin Chang Ho."

"Gunakan waktumu. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara." Lalu Young Joo pergi dari ruangan Jeong Il.


Sementara itu di ruangannya, Dong Joon mengamati print out 3D sidik jari Soo Yeon yang diberikan oleh Tae Gon.

Lalu Young Joo masuk dan Dong Joon langsung menunjukkan sidik jari itu padanya. Tae Gon bergerak mendekati Dong Joon, ia memegang pundak Dong Joon seraya meminta agar Dong Joon bertahan, karena haya itu cara ia juga bisa bertahan.

"Di mana... brankasnya?" Tanya Dong Joon.

"Diatas hukum." Jawab Tae Gon lalu pergi.

Young Joo bertanya, apa Dong Joon yakin dokumen itu ada di brankas Soo Yeon? Dong Joon menjelaskan kalau disana satu-satunya tempat di mana Soo Yeon menyimpan dokumen pribadi. Dong Joon merasa mereka harus cepat, mereka akan bergeras malam ini setelah Soo Yeon meninggalkan kantor.

"Sudah terlambat. Kau harus memanggilnya sekarang. Aku akan masuk ke ruangannya." Kata Young Joo.

"Jika kulakukan itu, dia akan mencurigaiku. Kita harus menunggu malam."

Tiba-tiba Jeong Il mengumumkan lewat ruang kontrol, memerintahkan semua manager dan pengacara senior untuk berkumpul di ruang pertemuan segera.

Mereka melihat Soo Yeon keluar. Mereka melakukan isyarat mata lalu DOng Joon memberikan sidik jari itu pada Young Joo.

Dalam rapat, Jeong Il menyinggung soal 2 Hakim terkenal yang beralih ke pengacara karena direkrut
oleh dua firma hukum terkemuka tapi saat ini diselidiki karena menerima hiburan mewah. Dong Joon mendongak menghadap Jeong Il karena hal itu juga terjadi pada dirinya.

"Kita harus buat persiapan terlebih dahulu. Tim investigasi akan segera datang." Kata Jeong Il balik menatap Dong Joon.

Sementara itu Soo Yeon hanya tersenyum mendengarnya. Dong Joon menanyakan kembali tujuan utama rapat kali ini yang adalah tentang pengelolaan dana Australia. Jeong Il membenarkan, mereka memang harusmenghasilkan uang tapi sebelum itu, mereka harus menyelamatkan kehormatan Taebaek.

"Taebaek sudah ada sebelum Anda datang, dan akan terus ada setelah Anda pergi." Tegas Jeong Il pada Dong Joon.

Lalu Jeong Il menyuruh Gyeong Ho untuk membawa masuk 'dia'. Gyeong Ho pun keluar, saatitu Young Joo berjalan menuju ruangan Soo Yeon mungkin tapi Gyeong Ho memanggilnya dan menyuruhnya masuk ke ruang rapat, bahkan Gyeong Ho memanggil nama aslinya.

Di dalam, Jeong Il mengungkap siapa Young Joo sebenarnya yang merupakan puteri dari Shin Chang Ho, seorang narapidana pembunuhan. Jeong Il menanyakan alasan Young Joo datang ke Taebaek menggunakan nama palsu, Jo Yeon Hwa. Lalu ia beralih ke Dong Joon yang kemungkinan besar tahu apa alasan Young Joo.

Dong Joon tidak menjawabnya. Jeong Il lalu beralih lagi pada Young Joo untuk menyuruhnya duduk disamping Dong Joon yang kebetulan kursinya kosong.

 

Dong Joon diam-diam mengirim pesan pada Tae Gon untuk menghubunginya segera. Tae Gon pun langsung memencet telfon di ruangannya.


"Pengacara Lee Dong Joon adalah hakim ketua untuk kasus Shin Chang Ho. Dia adalah putri dari terdakwa dan hakim yang bertanggung jawab. Dan... Taebaek. Yeom Sang Gu." Kata Jeong Il sambil menyalakan Layar "1 day 1 frame".

Semua orang pun paham apa maksud Jeong Il dengan menampilkan itu di layar. Mereka tahu siapa yang ada di layar itu.

"Pengacara Lee. Mari kita jaga reputasi Taebaek. Jika Anda mengakui hubungan ini dan mengundurkan diri, saya bisa mengurangi penderitaanmu." Kata Jeong Il.


Dong Joon sudah terpojok tapi saat itu bantuan datang. Seseorang masuk untuk mengabarkan kalau CEO Choi memanggil Dong Joon, kayaknya ini Tae Gon yang nyuruh. Soalnya Dong Joon diam-diam meminta sidik jari itu dari Young Joo.

Setelah itu Dong Joon berdiri dan berjanji akan menjawab pertanyaan Jeong Il setelah ia kembali. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung keluar tapi bukannya menuju ruangan CEO Choi tapi ke ruangannya Seo Yeon.


Dong Joon mencari-cari brankas itu berbekal petunjuk yang dibarikan Tae Gon "diatas hukum". Akhirnya Dong Joon menemukannya, brankas itu ada di atas buku hukum.

Dong Joon mengeluarkan sidik jari itu dan menggunakannya untuk membuka kunci brankas itu. Tapi ternyata keamanannya berlapis, masih ada kode akses, itupun berbatas waktu untuk memasukkannya, hanya 90 menit.


Sementara itu di ruang rapat, Jeong Il memaksa Young Joo untuk mengatakan apa yang terjadi di malam sebelum pernikahan Dong Joon dan Soo Yeon. Young Joo menatap Jeong Il, ia teringat saat Jeong Il menawarinya bantuan mengenai penundaan eksekusi ayahnya.

Kesempatan Dong Joon hilang satu karena ia sibuk berpikir. Ia mencari-cari di meja dan menemukan kalendar, lalu membolak baliknya untuk menemukan tanggal penting. Ada satu tanggal yang ditandai, Ulang tahun Jeong Il. Ia memasukkannya tapi salah. Jadilah sekarang tinggal satu kesempatan lagi.


Young Joo melihat ke arah ruangan Seo Yeon, samar-samar terlihat Dong Joon sedang sibuk. Seo Yeon meningatkan, tim investigasi internal akan tiba hari ini. Jika Young Joo tetap diam, akan dianggap bahwa Young Joo mengakui hubungan mereka.

Young Joo masih tetap diam. Seo Yeon akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ini dan menyerahkannya pada tim penyelidik internal saja.

"Aku akan bicara." Akhirnya Young Joo bicara, "ku akan beritahu apa yang terjadi antara Pengacara Lee dan aku. Ketika sidang diadakan, aku bertemu Pengacara Lee. Itu tepat sebelum sidang pertama."

Jeong Il menyalanya, mereka hanya ingin mendengar intinya saja. Cukup beritahu apa yang terjadi diantara mereka berdua. Young Joo menjawab kalau mereka hanya minum teh bersama.

"Ketika kami pertama kali bertemu, dia mengatakan akan membantu jika aku membawa bukti nyata."

Dong Joon semakin kehabisan waktu sampai ia teringat Soo Yeon pernah mengatakan isi Bab 10 Ayat 19 dalam kitab. Dong Joon mencoba memasukkan angkanya 1019, dan berhasil. Ia pun bisa bernafas lega, ia lalu mengambil dokumen yang ada disana. Ada beberapa judul:

"Kontrak Perwakilan Hukum"
"Profil Baek Sang Gu"
"Sertifikat dokter - Shin Chang Ho, kanker paru-paru stadium 3"

Tapi yang menarik perhatian Dong Joon adalah dokumen dengan judul "Laporan Akuntansi". Sebenarnya ia agakkecewa karena Dokumen tentang rompi peluru tidak ada.

Young Joo akhirnya mengaku, ia memang bertemu Dong Joon dimalam sebelum pernikahan. Tapi sebelum melanjutkan, ia melihat Dong Joon berhasil keluar dari ruangan Soo Yeon dengan membawa dokumen.

"Malam itu... Kami minum teh malam itu juga. Aku meminta pekerjaan." Lanjut Young Joo.

Jeong Il kesal sampai membentak Young Joo. Young Joo melanjutkan, ia pikir, akan sulit baginya untuk mendapat pekerjaan dengan status seorang puteri pembunuh, jadi ia meminjam identitas temannya. Young Joo lalu ijin keluar.

"Tim investigasi internal akan datang. Segera, wajah itu akan terungkap." Kesal Jeong Il.

"Bahkan sebelum itu, warna sejati... orang-orang... akan terungkap." Jawab Young Joo santai sambil bergantian menatap Jeong Il dan Soo Yeon.

Dong Joon sudah berada di dalam mobil. Ia menghubungi Ketua MA untuk mengajak bertemu, kalau ketua MA tidak bersedia maka terpaksa Ketua MA harus bmenghadapinya di pengadilan tentang sidang kedua menatunya.

Usai rapat, Soo Yeon kembali ke ruangan diikuti Jeong Il. Ia berkata akan menyerahkan dokumen tentang Young Joo saat tim audit internal tiba. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat brankasnya kosong.

Dong Joon menunjukkan laporan akuntansi itu pada Ketua MA. Ia membebaskan ketua MA untuk memilih tindakan selanjutnya,

"Dunia di mana setiap kebenaran terungkap. Dunia karena rahasia semua orang jadi diam. Apa pun itu." Kata Dong Joon

Lalu Soo Yeon menelfon Dong Joon. Dong Joon hanya menatap layar ponselnya. Dong Joon menegaskan pada Ketua MA, jika hendak memasukkannya ke penjara artinya Ketua MA harus menghianati menantunya dan menyerah akan puterinya.

Dong Joon kemudian memberikan ponselnya pada Ketua MA agar ketua MA yang menagkat telfon dari Soo Yeon.

"Ini aku. Lingkaran peradilan sedang terguncang. Bangsa kita dalam kekacauan. Kita harus menjaga keseimbangan. Aku akan... menghentikan penyelidikan internal." Kata Ketua MA pada Soo Yeon.

Ketua MA langsung menatikan telfon setelah mengatakannya dan mengembalikannya pada Dong Joon. Dong Joon berdiri, sebelum pergi ia berkata akan menjemput Ketua MA di hari terakhirnya.

"Anda memenuhi syarat untuk bekerja di Firma Hukum Taebaek." Tutup Dong Joon lalu memberi hormat dan pergi.

Soo Yeon sampai pada keputusan akhirnya. Ia menyuruh Jeong Il untuk menyingkirkan Dong Joon. Jeong Il hanya manggut-manggut saja.

Dong Joon meminta CEO Choi untuk menangguhkan eksekusi Ayahnya Young Joo karena beliau akan dioperasi di rumah sakit Hangang.

CEO Choi menunjukkan berkas, pembatalan kontak Young Joo karena bekerja menggunakan nama orang lain. Dong Joon mencoba bernegosiasi, Ayah Young Joo menderita kanker paru-paru stadium 3, jadi butuh operasi segera.

"Dia melemparkan dirinya untuk menyelamatkan ayahnya. Dia di sisimu saat ini, tapi suatu hari, dia akan jadi bahaya untukmu. Singkirkan dia." Tegas CEO Choi.


Gyeong Ho meberikan daftar aggota hari ini. Semua hakim dan jaksa baru sudah pergi ke tim Dong Joon. Ketua MA memberi semua petugas istimewa untuk menantunya.

"Jo Yeon Hwa." Gumam Jeong Il saat melihat dokumen pemberhentian Young Joo.


Young Joo menyerahkan dokumen hasil penyelidikan ayahnya soal rompi anti peluru dan dokumen yang berkaian dengan Firma Hukum Taebaek, serta data kasus pembunuhan di tempat memancing. Young Joo meminta Dong Joon untuk memberikan semua itu pada Ketua MA. DOng Joon melotot menentangnya.

"Kau sudah 'mengikat' dia. Dia akan gunakan tim investigasi internal untuk menyelidiki ini. Jika dia percaya bukti ini, Taebaek akan hancur juga." Jelas Young Joo.

"Ini terlalu berbahaya."

"Kau yang akan dalam bahaya."

Dong Joon menyodorkan amplop dari Firma Hukum (pemberitahuan pemberhentian Young Joo). Young Joo belum membukanya karena ia terlebih dahulu menerima pesan mengenai pemberhentiannya dan selang beberapa detik kemudian Jeong Il menelfonnya.

Dong Joon menyodorkan amplop dari Firma Hukum (pemberitahuan pemberhentian Young Joo). Young Joo belum membukanya karena ia terlebih dahulu menerima pesan mengenai pemberhentiannya dan selang beberapa detik kemudian Jeong Il menelfonnya.

Jeong Il mengabari bahwa CEO Choi memberhentikan Young Joo dengan wewenangnya dan kemungkinan Dong Joon menemui Young Joo untuk menyampaikan hal itu.

"Bagaimana dia? Itulah hakim yang diperintah melawan ayahmu dan orang yang kini mencoba meninggalkanmu. Kau harus tinggalkan dia duluan. Maka ayahmu bisa hidup." Lanjut Jeong Il.

Young Joo menatap keluar dan dijalan ada sebuah bis yang berhenti. Di dalam bis, orang itu ternyata sedang mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhir. Young Joo membayangkan orang itu adalah dirinya.

"Semoga Tn. Shin panjang umur. Sepertinya dia orang hebat." Kata Jeong Il.

Dong Joon menatap ke arah yang sama, ia teringat dirinya dahulu juga membayangkan hal yang sama saat CEO Choi menelfonnya untuk menginjak Tuan Shin agar ia bisa naik ke atas. Dong Joon lalu menghubungi Jeong Il dan telfonnya sibuk, pahamlah Dong Joon kalau orang yang menelfon Young Joo itu adalah Jeong Il.

"Kirim... Dong Jun ke dermaga malam ini. Lalu ayahmu akan dikirim ke rumah sakit." Perintah Jeong Il.

Young Joo merasa dilema tai kemudian ia teringat ayahnya yang berkata ingin hidup. Young Joo pun lebih memilih ayahnya dan mengiyakan perintah Jeong Il. DOng Joon nampak kecewa mendengarnya.

Young Joo lalu berbohong pada Dong Joon kalau tadi telfon dari informan untuk kasus rompi antipeluru. Dia ingin menemuinya malam ini.

"Apa yang harus kulakukan? Aku punya janji dengan informan lain." Lanjut Young Joo.

"Aku akan temui mereka sendiri." Jawab Dong Joon mantap.

Dong Joon menemui ayahnya dan ibu tirinya. Ia bersedia mengurus kasus hukum klinik operasi plastik itu. Ibu tirinya sangat senang mendengarnya.

"Dong Jun-ah. Apa yang harus kulakukan?" Tanya Ayahnya.

"Kapan Anda akan berada di Cheong Wa Dae (Istana Presiden)? Ada pasien yang harus kuselamatkan." Jawab Dong Joon.


Dong Joon lalu menemui Hyun Woo.


Smenetara itu, Young Joo menemui Jeong Il. Jeong Il menegaskan kalau janjinya masih sama, hanya penawarannya saja yang berubah sedikit.

"Bawa catatan investigasi Tn. Shin dan data lain yang sudah kau temukan. Jika kau lakukan itu, penangguhan eksekusinya akan berdampak. Dan sidang bandingnya juga. Akui bahwa Tn. Shin telah membunuh Reporter Kim Sung Sik."

Lalu Jeong Il membaca surat pengakuan yang sudah ia siapkan, "Aku menyelidiki kasus rompi antipeluru untuk mendapat uang dari perusahaan yang bagus yang telah memimpin industri pertahanan selama bertahun-tahun". Jeong Il meminta Young Joo untuk menandatangani itu dan mengirimnya ke pengadilan.

"Aku tak bisa menginjak-injak hidup ayahku." Jawab Young Joo.

"Mari kita biarkan dia hidup bahkan ketika diinjak-injak. Lebih baik hidup sebagai gulma daripada mati sebagai bunga. Maksudku, kau tak bisa membuang-buang waktu yang Tn. Shin miliki."

Ibu mendadak menghubungi Young Joo, mengabarkan kalau ayahnya akan dibebaskan dengan penangguhan eksekusi. Petugas medis di penjara menelepon dan katanya dia akan menjadwal operasinya. Operasinya akan dilakukan di RS Hangang.

"Apa dia baik-baik saja? Dia tidak begitu sakit, kan? Operasi soal apa ini?" Tanya Ibu khawatir.

Young Joo berjanji akan memberitahu ibunya di rumah sakit nanti, lalu ia menutup telfon.

Jeong il melanjutkan, akan ada perubahan dalam kejaksaan. Setelah direktur diganti, ia tak bisa menjamin penangguhan eksekusi. Jadi Young Joo harus cepat.

Young Joo akan menerima surat pengakuan itu tapi Jeong Il menariknya kembali, "Pikirkan saja soal Tn. Shin Chang Ho, ayahmu. Shin Young Joo-ssi."

Barulah Jeong Il benar-benar menyerahkan surat itu. Young Joo menjawab, "Tentu saja!"

Keluar dari ruangan Jeong Il, Young Joo langsung masuk ke ruangannya untuk menelfon Dong Joon. Setelah Dong Joon mengangkatnya, Young Joo langsung menanyakan apa masksudnya.

"Aku br*****. Aku seorang b**** yang menjual putusanku untuk menyelamatkan hidupku."

"Lalu Kenapa kau..."

"Aku ingin menyelamatkan hidupku, tapi aku juga harus menyelamatkan ayahmu."

"Berbahaya di sana. Ini jebakan. Jangan pergi ke sana. Kau akan terluka."

"Aku akan terluka. Aku harus terluka, jadi temanmu Park Hyun Soo bisa menangkap mereka. Kang Jeong Il yang menarik kabel di belakang mereka... akan ditangkap sebagai penghasut. Maaf untuk semuanya, SHin Young Joo-ssi."

Ternyata Dong Joon pergi ke dermaga tidak sendirian, ia meminta Hyun Soo untuk mengawalnya.

Dong Joon pergi ke markas mereka sendirian, sementara Hyun Soo menunggu di luar dan tampaknya ia tidak suka mengantar Dong Joon.


Di dalam, Sang Goo dan anak-anak buahnya sudah menantinya. Dong Joon akan maju ke arah Sang Goo tapi salah satu anak buahnya memukul pundaknya hingga ia tersungkur.

"Waktunya masih panjang. Baik-baiklah dengannya." Komando Sang Goo.

Ternyata tadi setelah menutup telfon, Young Joo langsung bergerak menuju dermaga. Dalam perjalanan ia menghubungi Hyun Soo, meminta untuk menghalagi Dong Joon jangan sampai masuk.

"Apa arti Lee Dong Jun bagimu?" Tanya Hyun Soo .

"Dia orang yang aku butuhkan dan akan kubutuhkan."

Hyun Soo kembali teringat video malam itu, hatinya sakit. Young Joo bicara lagi, pokoknya Dong Joon tidak boleh terluka. Hyun Soo makin sakit, kenapa begitu. Tapi tanpa menunggu jawaban Young Joo ia menutup telfon lalu menyuruh semua anak buahnya untuk meninggalkan lokasi.

Jeong Il menjelaskan rencananya pada Soo Yeon. Kapanya sudah siap, Dong Joon akan dikirim ke Filipina dan akan ada artikel tentangnya. Seorang mantan hakim kecanduan judi ditangkap di sebuah rumah judi di Filipina.

Dua anak buah Sang Goo memegangi Dong Joon. Sang Goo masih sibuk dengan pisaunya,

"Mereka tumbuh tanpa kesulitan, sehingga mereka berpikir semua hal menjadi mudah. Jika TV terlalu keras suaranya, kau bisa matikan itu."

Sang Goo menusukkan pisaunya ke perut Dong Joon. Lalu ia memberikan pisau itu ke anak buahnya agar darah yang menempel dipisau dibersihkan.


Young Joo berpapasan dengan Hyun Soo yang meninggalkan lokasi. Mereka berdua sama-sama melihat satu sama lain.

Dong Joo dibopong menuju mobil. Young Joo kebetulan melihat itu dan saat mobil di depan mobil yang ditumpangi Dong Joon akan berjalan, Young Joo menabraknya dengan mobilnya. Beberapa orang keluar dari kedua mobil.

Young Joo melawan semua orang itu dan ia berhasil melumpuhkan mereka sementara lalu melarikan mobil yang ada Dong Joon-nya.

Kejar-kejaran terjadi. Young Joo berhasil menjebak mereka menuju jalan yang salah tapi saat sudah terbebas, ia malah menemui jalan buntu.


Untunglah Young Joo masih bisa membawa Dong Joon untuk bersembunyi diantara kontainer. Dong Joon tampak sudah sangat lemas, omongannya terbata. Dong Joon menyuruh Young Joo pergi.

"Temanmu, Letnan Park Hyun Soo,.. menunggumu. Setelah... setelah aku ditangkap, dia akan... menyelamatkanku... dan menangkap mereka."

Young Joo akan menjelaskan perihal Hyun Soo tapi terpotong karena teriakan anak buah Sang Goo.

Sang Goo melihat ada darah segar lalu ia mengikuti jejak darah itu perlahan dan meminta anak buahnya untuk mengepung.

Young Joo semakin panik apalagi langkah kaki seseorang semakin dekat dengan tempat merela bersembunyi.

Dong Joon malah membuat suara, mengatakan dimana keberadaannya karena ia tidak tahu Hyun Soo menghianatinya. Young Joo bingung mau menghentikannya karena kedua tangannya terpakai, satu untuk menahan tubuh Dong Joon dan satu lagi untuk menahan luka DOng Joon agar pendarahannya tidak semakin parah. Akhirnya ia menggunakan mulutnya untuk menutup mulut Dong Joon.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...