Tuesday, May 23, 2017

Sinopsis Lookout Episode 1

Tags

Sinopsis Lookout Episode 1

Sumber Gambar : MBC


Seorang wanita berteriak histeris di dalam mobil yang melaju sangat kencang. Tapi percuma tidak ada yang mendengarnya. Ternyata si supir adalah suaminya dan ia mencoba menenangkan dan menanyakan dimana anak mereka tapi ia malah dijedotkan ke dasbor mobil.


Sementara itu, seseorang dari balik komputer mengawasi laju mobil itu melalui setiap kemera CCTV yang ada di jalan raya.


Si istri mencoba merebut kendali mobil tapi ia kalah kuat dan beberapa kali suaminya menyingkirkan tangannya.


Di jalanan lain, seorang wanita mengendarai motor dengan sangat kencang pula, ia terlihat sangat terburu-buru.


seorang pria mengetikkan koding di komputernya. Ia meretas ponsel si suami yang terhubung dengan mobil, jadinya suami tidak bisa mengendalikan laju mobil dan terjadilah tabrakan. Mereka masih selamat karena yang menabrak seukuran dengan mobil mereka.


Sementara itu, wanita pengendara motor ternyata menuju mobil itu yang sebentar lagi akan tertabrak truk. Wanita itu melemparkan motornya tepat ke bawah ban truk untuk membantu menghentikan laju truk hingga tabrakan tidak terjadi.


Bersamaan dengan itu, beberapa mobil polisi dan detektif datang dan mereka langsung menuju sepasang suami istri itu. Wanita tadi yang lebih dekat posisinya melumpuhkansi suami yang hendak kabur dengan tendangan mautnya.

Wanita itu melepas helm-nya, dia adalah Jo Soo Ji (Lee Si Young). Si suami perlahan-lahan bangkit.

"Siapa kau? Kau siapa?" bentaknya menahan sakit.

Soo Ji mendesak suami itu ke mobil, "Pemburu orang sepertimu." jawabnya.

"Apa kau... polisi itu?"

"Tidak lagi." Soo Ji langsung memukuli suami itu.


-= KILASAN =-

Soo Ji marah karena puterinya sudah dibunuh. Ia berhadapan dengan Jaksa Jang Do Han (Kim Young Kwang).

"Baj* sepertimu tidak pantas menjadi jaksa!"


Bahkan Soo Ji sampai harus menggunakan pistolnya.

-= EPISODE 1 =-


Seorang pria menatap rumah dari atap gedung dan ia menelfon pemilik rumah itu.

"Kau siapa?" Tanya pemilik rumah.

"Seseorang yang mengawasi tiap gerakmu. Melangkahlah sekali lagi, maka seluruh dunia akan mendengar yang telah kau lakukan." Kata Pria misterius itu.


Si pemilik rumah ditanya sama istrinya,telfon dari siapa. Suami itu menjawab telfon dari kantor, lalu ia bicara di telfon lagi.

"Mau apa kau?"

"Serahkan dirimu."


[3 Mei 2016]

Soo Ji dibangunkan puterinya karena tak kunjung bangun walau alaram ponselnya sudah berbunyi berkali-kali. Puterinya menempeli jidatnya dengan stiker, tapi ia tidak sadar.

"Eomma (ibu)... bangunlah dan tangkap para penjahat itu."

"Ya... ya, aku sudah bangun." Jawab Soo Hee menggeliat.

Sang puteri pun keluar dan bilang pada neneknya kalau Soo Ji sudah bangun.

Soo Ji melihat jam di ponselnya, ia kesal, "Eomma!!!! Auh, kenapa tidak membangunkanku lebih awal?"


Sang puteri yang menjawabnya, mengatakan kalau nenek sudah membangunkannya dari tadi, Soo Ji aja yang gak bangun-bangun. Nenek memuji cucunya yang pintar itu.


Tapi yang tak disukai neneknya adalah saat sang cucu memisahkan semua kedelai di nasinya. Cucunya tak suka karena rasanya tidak enak.

"Aku juga begitu. Aku tak suka kedelai dalam nasi. Eomma, jangan masukkan ke dalam nasi lagi." Kata Soo Ji yang menyusul ke meja makan sambil memakai kemeja. Ia buru-buru sekali kayaknya.

"Benar, jangan dimasukkan." Imbuh sang puteri.

"Kau semestinya mengajari anakmu dengan benar." Tegur nenek.

"Namanya tidak enak ya tidak enak. Benar, 'kan?" Dan jelas saja sanga puteri setuju.

Soo Ji lalu pamit karena ia sudah terlambat. Ibunya mengingatkan ada sesuatu di jidatnya tapi Soo Ji tidak peduli.


Sang cucu memberitahu neneknya kalau itu adalah stiker anak baik. Ia menempelnya karena ibunya selalu sibuk menangkap orang-orang jahat, jadi jelas ibunya adalah anak yang baik.

"Auh... anak pintar. Kau lebih baik daripada ibumu." Puji nenek.


[Kantor Polisi Seoul]

Soo Ji menyapa Sunbaenya, Nam Byung Jae dan hoobaenya, Ma Jin Ki. Byung Jae menyadari ada sesuatu di jidat Soo Ji.

"Aigoo... mendingan kau di rumah saja dan main bersama puterimu daripada pergi bekerja." SindirByung Jae.

"Sunbae-nim, Anda yang sebaiknya pulang satu jam lebih awal dan bermain dengan putera Anda. Kalau begitu..."

"Kalian tidak sadar sudah dipromosikan secara sia-sia? Kau merasa dirimu spesial dan bahkan pamer padaku. Selalu kami yang kena getahnya. Bukan begitu?"

Ketua Tim Soo Ji (Lee Soon Ae) datang membela, Bang Jae tidak mendapat promosi itu karena metode investigasinya kuno sekali.

Mereka hampir bertengkar karena sindiran itu. Tapi Soo Ji dan Jin Ki bergerak cepat untuk menjauhkan mereka berdua.


Soon Ae bertanya, apa stiker di jidat Soo ji itu Yu Na (nama Puteri Soo Ji) yang pasanga. Soo Ji mengiyakan, ia mau melepasnya tapi sulit.

"Lepas dulu baru ikut aku."


Soo Ji berhasil melepasnya dan ia terkejut melihat gambarnya. Saat sedang mem[erhatikan stiker itu ada seorang pria yang menabraknya, Soo Ji fokusnya malah sama tas pria itu yang ada noda daranya.


Pria tadi masuk ke dalam yang tengah sibuk. Ia menghadap kamera CCTV dan berteriak kencang, "Aku di sini. Aku datang ke kantor polisi sesuai keinginanmu. Akan kukatakan semuanya. Apa yang sudah terjadi hari itu..."


Petugas mencoba menegir karena pria itu (yang ternyata adalah pria pemilik rumah yang diancam) tiba-tiba mengeluarkan pisau. Tapi pria itu mengayunkan pisaunya, mengancam.

Soo Ji mendekati pria itu, "Kau tidak kemari untuk itu. Tadi kau bilang, ingin menyampaikan segalanya. Ah, sekarang... apa yang sebenarnya terjadi, katakanlah."

"Seseorang... telah kubunuh. Memakai ini (sambil membuang pisau yang dibawanya."

Petugas lain langsung memborgolnya. Tapi pria tadi kembali melihat CCTV, "Aku sudah menyerahkan diriku. Kau puas?"


Do Han datang ke restoran mewah menggunakan mobil mewah dan memesan makanan mewah pula. Saat pelayan mengantar makanannya, ia meminta tolong untuk difotokan.


Do Han langsung meng-upload-nya ke instagram dengan caption "Kau telah bekerja keras. Penghargaan atas upaya diri sendiri."

Do Han menutup hidungnya sebelum mengangkat sehingga nafasnya terengah-engah. Ia bohong pada bujangnim-nya kalau ia hampir sampai dan tadi sedang lari sampai nafasnya saja tersengal.


Bujangnim-nya menyuruhnya ke kantor polisi sekarang juga. Do Han pun melepaskan serebet di lehernya. Ia memanggil pelayan, dengan senyum lebar ia bertanya, "Bisa aku mendapatkan uangku kembali?"


Soo Ji menginterogasi pria tadi.

"Jadi, pada tahun 2004, telah terjadi pembunuhan di Supermarket Samil. Kau pelakunya?"

"Benar. Aku sudah menikam pemilik tokonya."

"Lalu, orang yang ditahan itu?"

"Polisi yang salah."

"Kau membiarkan orang lain bertanggungjawab dan menikmati kebebasan selama 12 tahun, tapi sekarang kau mendadak menyerahkan diri?"

"Kau pikir aku juga mau melakukannya?"

"Lalu, kenapa kau melakukan ini?"


"Dia melihat. Seseorang mengawasi setiap gerak-gerikku." Jawab pria itu sambil melihat kemera CCTV.

"Itukah... sebabnya kau menyerahkan diri?"

"Bantu aku. Aku dalam ancaman. Jika aku tidak menyerahkan diri, maka dunia akan mengetahui semuanya. Lalu, isteri dan anakku... Apartemenku, sekolah anakku... Ia akan menyebarkan beritanya. Sungguh!"

"Tapi... apa ada orang lain yang tahu (kebenarannya)?"

"Mereka yang tahu kebenarannya... cuma ibu dan noona-ku. Juga... seorang temanku."


Tiba-tiba Do Han masuk ruang interigasi, menyuruh Pria itu berhenti bicara. Semua yang di ruang monitor heran, siapa gerangan Do Han itu.

"Kim Woo Sung-ssi? Jangan ucapkan sepatah katapun mulai sekarang. Kau diberi tahu akan hak-hak dirimu? Apa kau dipaksa bersaksi, diancam, atau bahkan dipukuli?"


Soo Ji menyela, apa Do Han itu pengacaranya Kim Woo Sung-ssi. Do Han lalu menunjukkan tanda pengenalnya. Soo Ji heran, Do Han sejatinya adalah jaksa dan datang untuk menghampiri tersangka.

"HAM itu di atas segalanya." Ucap Do Han.

"Anu, kalau begitu kenapa kau tidak jadi pengacara publik saja?"

"Itu hidupku, bukan urusanmu. Jadi... kasus ini kau yang akan menginvestigasi?"

"Ya. Aku seorang detektif dan penanggung-jawab kasus ini. Apakah ada masalah?"

"Detektif. Kau punya kekasih?"


Soo Ji mendadak menatap Soon Ae. Yang ditatap bertanya pada yang lain, kenapa Soo Ji menataonya?


Soo Ji melarang Do Han bertanya hal oribadi, cukup yang berkaitan dengan kasus saja. Do Han pun menyimpulkan kalau Soo Ji tak memilikinya.

"Lalu, suatu hari seorang pria bertanya padamu, berapa banyak pria yang telah kau kencani sebelum mengenal dia? Apa kira-kira jawaban yang paling tepat?"

"Hentikan omong kosongmu itu!"

"Salah. Kau hanya tak perlu menjawab. Masa lalu ya biarlah berlalu."

"Ada masa lalu yang tak bisa dibiarkan berlalu. Kim Woo Sung-ssi bahkan membuat orang lain bertanggung-jawab."

"Sayang sekali."

"Itulah kebenarannya. Nyawa pria itu dipertaruhkan."


Soo Ji melarang Do Han bertanya hal oribadi, cukup yang berkaitan dengan kasus saja. Do Han pun menyimpulkan kalau Soo Ji tak memilikinya.

"Lalu, suatu hari seorang pria bertanya padamu, berapa banyak pria yang telah kau kencani sebelum mengenal dia? Apa kira-kira jawaban yang paling tepat?"

"Hentikan omong kosongmu itu!"

"Salah. Kau hanya tak perlu menjawab. Masa lalu ya biarlah berlalu."

"Ada masa lalu yang tak bisa dibiarkan berlalu. Kim Woo Sung-ssi bahkan membuat orang lain bertanggung-jawab."

"Sayang sekali."

"Itulah kebenarannya. Nyawa pria itu dipertaruhkan."


Do Han lalu berdiri, "Hanya satu orang? Detektif menyalahkan seorang pria polos tak berdosa, dimana jaksa tak melakukan pekerjaan dengan benar, berikut hakim yang salah memutus perkara. Maka semua orang itu akan kehilangan pekerjaannya (akibat kesalahan putusan sebelumnya). Maka, aku yang menggantikan seniorku mengambil alih dan bertanggungjawab atas kasus ini akan dapat banyak masalah. Lalu, aku mungkin akan dimutasi ke distrik terpencil di Pulau Jeju dan tak akan diperkenankan kembali. Di tempat yang tak ada dataran tinggi dan restoran lezat begitu, bagaimana aku bisa bertahan hidup?"

Soo Ji menjawab, ia dengar udara di Jeju sangat bersih. Siapa tahu? Hal itu bisa membersihkan saluran pernafasan serta pemikiran busuk Do Han itu. Intinya, Soo Ji ingin Do han cepat-cepat keluar.

Do Han masih bicara lagi, "Detektif. Aku tadi hampir menyantap makanan ringan super lezat seharga 230 ribu won saat kemudian mendapat telepon dan harus pergi tanpa sempat menyicipi sedikit saja. Menurutmu, apa artinya itu?"

"Buatlah sebuah kebohongan yang masuk akal! Camilan dimana yang harganya 230 ribu won begitu?"

"Lihat aku baik-baik. Wajahku ini... jenis yang cocok dengan tteokpokki dan sundae?"

"Jangan merendahkan tteokpokki dan sundae!"

"Basa basi, metafora, perumpamaan... Tidak berhasil semua padamu. Sekarang, aku akan langsung ke intinya saja. Kata "camilan"... Itu saja sudah membuatku sakit perut mendengarnya. Di kantor polisi ini, ada seseorang yang menjadi mata-mata."

Do Han berjalan menuju pembatas ruang monitor. Semua yang disana heran dengan perkataan Do Han itu, apa maksudnya coba?!


Do Han mendekati Soo Ji lagi, "Pria yang meneleponku tadi adalah salah seorang petinggi yang sangat loyal. Kau mengerti maksudku sekarang? Jika kau melanjutkan kasus ini, para petinggi akan sangat marah. Sebab itu, bagaimana kalau kau akhiri baik-baik dan tutup rapat kasusnya?"

"Aku tidak sudi."

"Anu... Apa kau berpikir ini masalah kau mau atau tidak?"

"Kasus ini juga tak ada urusan dengan perasaan para petinggi itu."

"Jadi, kau akan tetap melanjutkan kasusnya?"

"Itulah tugasku."

"Kalau begitu, kita akan sering bertemu."

"Ya, kurasa begitu."


Do Han tetap belum menyarah, ia merubah strateginya, "Tapi, bagaimana kalau kita akhirnya justru saling suka?"

"Ugh, tidak akan mungkin terjadi. Kau sama sekali bukan tipe idealku."

"Syukurlah. Sampai jumpa lagi."

Do Han pun pergi meninggalkan Soo Ji yang sangat kesal sekali padanya.


Kim Eun Joong sedang latihan beladiri tapi ia kelelahan sehingga beristirahat. Tapi mendadak Soo Ji datang, maka ia pun pura-pura serius kembali.

Soo Ji memanggilnya tapi Eun Joong pura-pura tidak dengar sampai Soo Ji harus meninggikan suaranya. Ternyata Eun Joong itu adalah seorang jaksa.


Soo Ji sudah menduga kalau Eun Joong pasti ada disana. Eun Joong pun menawari Soo Ji untuk berlatih sekalian. Soo Ji tidak bisa karena ia sebenarnya datang untuk menemui Eun Joong. Eun Joon sudah GR aja tuh, ngapain Soo Ji pengen ketemu dengannya.

"Apa kau mengenal Jaksa Jang Do Han?"

"Ya, berandal itu... ah, ada apa dengannya?"

"Dia jaksa penanggung-jawab kasusku."

"Oh, sayang sekali. Kau harus berhati-hati padanya."

"Kenapa?"

"Aey, dia terkenal sekali di kalangan para jaksa. Dia mendapatkan GED (General Education Development--sertifikasi penyelesaian tingkat SMU) dan lolos ujian dengan nilai tinggi di usia sangat muda, jadi ya jelas sekali betapa pintarnya dia. Tapi, itu juga merupakan kelemahannya."


Do Han disapa temannya tapi ia pura-pura tidak ingat.

"Tentu saja aku tidak ingat. Selain di Seoul, aku tak pernah tinggal di tempat lain." Ia mengatakan itu dengan penuh tekanan.


Saat masuk mobil ia kesal sekali, "Beraninya dia sok kenal padaku. Mestinya kucolok saja matanya itu."


Suara Eun Joong: Dia aslinya dari desa terpencil di Gangneung, dan ingin menyembunyikan bahwa ia dulu adalah orang kurang mampu.

Do Han aslinya tinggal di lingkungan biasa saja dan mobil mewahnya itu cuma sewaan. Bahkan apartemennye kecil banget.

Suara Eun Joong: Ya, belakangan ini, untuk sukses memang harus punya koneksi. Dia berusaha keras mencitrakan diri sudah kaya dari lahir. Segala sesuatu yang ia makan, kenakan, dan kendarai mahal dan mewah. Jaksa Jang akan melakukan segalanya selama menjamin kesuksesan karirnya. 

BTW, Do Han memperhatikan foto Soo Ji lho saat di rumahnya, dapat darimana dia foto itu??


Soo Ji ingat, apa Do Han "penembak jitu" terkenal itu? Sosok dari nol yang sukses dengan segala cara itu! Wah... ia tidak menyangka bakal terlibat dengannya. Kesialan macam apalagi ini?

Eun Joong hanya tersenyum, "Pokoknya, hati-hati. Belakangan ini, dia terlihat bekerja sangat keras. Dari gelagatnya, Oh Kwang Ho Bujangnim ada di balik semua ini. Dia tidak akan mundur dengan mudah."

"Oh, terima kasih untuk sarannya."

"Sama-sama. Itu bukan apa-apa, kok."


Lalu Soo Ji bertanya, apa Eun Joong sudah makan malam. Eun Joong bilang belum tapi Soo Ji malah bilang sudah. Soo Ji lalu mengulurkan kopi, ia tidak enak menerima saran gratis.

"Bagaimana kalau kita minum kopi bersama?" Ajak Eun Joong.

"Lain waktu, ya. Sekarang aku harus menjemput puteriku. Sampai jumpa."


[Hari Sukarelawan SMU Sunyooung]

Yu Na dibantu Oppa SMU untuk dalam menggambar, lalu ibunya datang dan ia langsung menghampiri ibunya senang. Yu Na lalu memamerkan ibunya pada teman-temannya dan meminta ibunya membuktikan kalau ibunya adalah seorang polisi. Awalnya semuanya kagum tapi setelah Soo Ji bicara, semua penjaga dan ibu guru panik.

"Nah, ini gunanya memborgol para pembunuh, pelaku tindak asusila, preman, juga pencuri lalu memasukkan mereka semua ke dalam penjara."

Ibu Guru menegur Soo Ji karena kata-kata Soo Ji barusan agak berlebihan dikatakan pada anak-anak. Ibu guru lalu meminta Yoo Na menunjukkan gambarnya.

Soo Ji bangga dengan gambar anaknya tapi tidak dengan ibu guru karena gambar Yu na tidak lazim untuk seorang anak-anak. Soo Ji berterimakasih pada ibu guru yang sudah mengajari Yu Na.

"Ah, ya. Tapi, bukan saya yang membantunya, tapi para sukarelawan ini."

Soo Ji pun mengucapkan terimakasih pada semuanya.


Seorang gadis di dekati oleh Om-om hidung belang. Om itu mengajaknya gabung. Gadis itu tak mau, bilang kalau pacarnya sebentar lagi datang tapi Om itu tidak percaya.

Lalu datanglah Do Han yang mengaku sabagai pacar Gadis itu dan membuat Om itu pergi.


Do Han pun duduk di samping Gadis itu. "Kurasa, sampai orang itu pergi, aku harus berpura-pura sebagai kekasihmu. Kalau kau tidak suka, aku hanya perlu duduk diam di sini."

Gais itu tersenyum, "Setidaknya, aku perlu tahu nama orang yang sudah menolongku, 'kan?"

Do Han lalu menunjukkan kartu namanya.


Soo Ji menghubungi Soon Ae, menceritakan soal cerita Eun Joong tadi mengenai Do Han. Soo Ji menanyakan soal riwayat telfon, Soon Ae sudah menerima itu tapi dari nomor ilegal yang mustahil dilacak.

"Mencurigakan sekali. Apa... dia sungguh diancam seseorang?" Tanggapan Soo Ji.

"Hei, apa kau pikir ada orang kurang kerjaan mau mengawasi dan menguntitnya?"

Puteri Soon Ae datang tapi langsung ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Sook Ae soal makan. Sepertinya puteri Soon Ae sudah SMS atau SMU.

Soon Ae melanjutkan lagi bicaranya pada Soo Ji, "Dia bilang, orang itu bahkan tahu kegiatannya di dalam rumah."

Tiba-tiba Yu Na bangun. Soon Ae langsung menutup telfon.


Yu Na melihat sesosok hantu masuk lewat jendela. Soo Ji mengerti, ternyata puterinya bbermimpi buruk, ia pun akan menemani Yu na tidur kembali.

"Bagaimana kalau hantunya kembali?"

"Eomma akan menangkapnya."

"Tapi, dia mengerikan sekali."

"Eomma... bahkan menangkap orang-orang yang lebih menyeramkan lagi. Kalau hantunya kembali, akan Eomma borgol lalu masukkan ke penjara. Jadi, jangan takut dan tidurlah lagi."

Soo Ji langsung menggendong Yu na kembali ke kamar.

 
[4 Mei 2016]
 Gadis yang ditolong Do Han ternyata seorang reporter dan hari ini ia mendatangi Bujangnim-nya.

"Jaksa Oh Kwang Ho. Saya Kim Myung Mi dari MBS. Saya dengar, pelaku sebenarnya pembunuhan di Supermarket Samil menyerahkan diri. Sebelumnya, Anda merupakan penanggung-jawab kasus itu bukan?"

Bujangnim Oh sangat terkejut tapi bersikap biasa saja, ia menyuruh kameramen mematikan kameranya sebelum bicara tapi kameramennya tetap menyorotnya.

"Matikan kameranya. Aigoo... darimana kau dengar omong kosong itu? Aku bahkan baru sampai di kantor."

"Anda telah membuat orang tak berdosa bertanggungjawab."

"Kami telah menyelidikinya."

"Bukankah menahan orang yang tidak bersalah merupakan kesalahan Anda sebagai jaksa?"

"Sebagai reporter kau harus lebih hati-hati. Kami bisa saja menuntutmu. Selamat pagi, ya. Dan, matikan kameranya." Akirnya Bujangnim Oh mengancam karena sudah terpojok.


Di ruangannya, Bujangnim Oh marah-marah sambil memabantingi sesuatu. Do han sudah sampai di depan ruangannya tapi menunggu hingga Bujangnim Oh berhenti marah-matah baru ia masuk tapi ia berlagak sedang terburu-buru. Dan masih sempet-sempetnya Do Han menyemprotkan pelembab ke wajahnya.


Bujangnim Oh melemparnya dengan vas bunga, untung meleset.

"Hei, ber*! Apa saja yang sudah kau lakukan? Reporter sampai menghampiriku tadi."

"Detektif penanggung-jawabnya tidak mau bekerja sama."

"Seorang jaksa tidak bisa mengalahkan detektif?"

"Saya bisa, tentu. Tapi... Pelaku sebenarnya terlanjur mengaku. Kalau saya bertindak gegabah, saya akan mendapat citra buruk juga."

"Do Han-ah... Do Han-ah... Bukan hanya aku yang akan jatuh. Kau pasti ikut terseret. Siapa coba yang sudah membantumu sampai ke titik ini?"

"Tentu saja Anda."

"Dan kau begini padaku? Aigoo... mau gila rasanya! Ah, apakah perlu kuambil tindakan atas hal ini?"

"Apa maksud Anda?"


Bujangnim Oh menunjuk koran yang ada gambar Kepala Kejaksaan, katanya hanya dia satu-satunya yang bisa ia percaya.

"Dia pasti sudah tahu gara-gara reporter tadi. Dia tidak akan membiarkanku jatuh kalau aku menghampirinya duluan sebelum dia benar-benar marah. Toh, kami sudah kenal lama."

"Tapi, beliau pasti sedang sangat stres sekarang. Kalau masalah ini semakin besar juga, beliau pasti tidak akan menahan diri."

"Orang kepercayaanku (kau) saja sudah tidak bisa diandalkan. Harus bagaimana lagi aku?"

"Aey, Anda tidak boleh bilang begitu. Saya mungkin masih berguna untuk Anda."


Do Han berjanji akan mengurus semuanya tapi sebagai gantinya, ia meminta Bujangnim Oh mendekatkannya pada Kepala Kejaksaan.

"Kau coba menjadikan dia penyokongmu?"

"Ah, apa maksud Anda? Saya hanya ingin Anda, ikon dari kesuksesan sekaligus teladan sebagai sosok jaksa senior yang anti korupsi semakin berjaya dan dilancarkan dalam segala hal."

"Hentikan omonganmu! Ais.."

"Apakah terlalu jelas? Saya memang naif, sih."

"Kau punya solusi?"

"Belum."

"Aigoo...ish..."

"Aey, Bujangnim kan tahu, saya ini Do Han. Saya akan mencoba lebih keras."


Seorang nenek datang ke kantor polsisi, detektif lain mengusirnya tapi Soo Ji menghampirinya, bertanya ada apa.

"Aku... nenek dari Han Dong Hoon. Kudengar dari detektif penanggung-jawab kasusnya pelaku sebenarnya sudah mengaku. Aku tahu kalian sibuk, tapi sebentar saja, bisa tolong baca ini? Aku mengumpulkannya dari kantor polisi dankejaksaan." Nenek menunjukkan berkas-berkas yang dibawanya.


Kepolisian memanggil Ibu dan Noona Kim Woo Sung, tapi ibunya menyangkal bahwa puteranya sudah membunuh orang. Detektif memaksanya karena Woo SUng sudah mengaku tapi Noona pun membenarkan pernyataan ibunya.


Soo Ji yang mengamati dari ruang monitor menyadari kalau mereka tidak akan mengaku dengan mudah.

"Kita hanya memerlukan DNA korban dari pisau itu." Ucap Soon Ae.


Lalu Do Han datang dengan membawa berkas, katanya DNA dari senjatanya tidak bisa diperiksa. Soon Ae membuka dokumen itu tapi sepertinya ia tidak pusa dengan hasilnya.

"Mungkin saja itu bukan pembunuhan. Atau mereka sudah mencuci pisaunya sangat bersih. Tidak ada saksi mata maupun barang bukti. Bagaimana? Kau masih belum mau menyerah? Kau bisa jatuh dan hancur." Lanjut Do Han.


Soo Ji mengangkat berkas yang dibawa nenek. Ia hanya perlu memeriksa dokumen lama yang ditulis oleh Oh Kwang Ho Bujangnim, yang tidak lain adalah bos Do Han itu.

"Jadi, kau memeriksa latar belakangku? Kau pasti amat tertarik padaku."

"Kemarin, kau datang untuk membebaskan Kim Woo Sung. Kali ini, kau sedang membantu Oh Kwang Ho Bujang? Kapan kau akan... menjadi jaksa sesungguhnya?"

"Siapa kau berani menilaiku begitu? Aku di sini sekarang sebagai jaksa juga datang sendiri kemari penuh gairah untuk melakukan investigasi. Dan kubilang, kita lepaskan saja dia. Hm?"

1 komentar so far

Mau nanya min perempuan yg teriak dari mobil yg melaju kencang di episode pertama.., nama aslinya siapa yahh min???

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...