Wednesday, May 24, 2017

Sinopsis Lookout Episode 2

Tags

Sinopsis Lookout Episode 2

Sumber Gamber : MBC


Soon Ae mengalah, besok laporannya pasti sudah selesai dan akan mereka serahkan. Soo Ji protes tapi Do Han keburu senang, ia langsung pamit karena Sudah waktunya aku pulang ke rumah.


Setelah berdua Soo Ji menanyakan maksud Soo Ae, apa maksudnya akan selesai besok?

"Temukan Je Myung Hoon besok." Suruh Soo Ae.

"Apa?"

"Dia saksi mata terakhir, teman pelaku. Temukan dia."

Soo Ji baru nyambung, ia kira Soo Ae tadi mengalah terhadap Do Han. Soo Ji berjanji akan menemukannya dan memastikan ini pembunuhan.


Soo Ji menghubungi Yu Na lewal video call, Yu Na ngambek dan tidak mau bicara dengan Soo Ji. Soo Ji berusaha keras untuk membujuk Yu Na. Nenek bahkan ikutan membujuk Yu Na tapi Yu Na masih saja cemberut.


"Yu Na-ya, maafkan kali ini. Kali ini saja, tolong maafkan. Tidak akan terjadi lagi lain waktu."

Akhirnya Yoo Na mau bicara, pasti ibunya lipa janji mereka, kan? Soo Ji mengelak, nenek yang akan memberikan hadiahnya. Soo Ji juga mengingatkan kalau besok Yu Na harus ke panti sosial bersama nenek dan katanya ada banyak hal menyenangkan di sana.

Tapi Yu Na masih saja cemberut. Soo Ji tidak menyerah, hari anak akan datang lagi, lain waktu mereka pasti merayakannya bersama. Saat itu, apapun permintaan Yu Na akan Soo Ji turuti.

Yu Na mendesah, "Aku mengerti."

"Oh, puteriku baik sekali. Kau sangat mengagumkan. Eomma sangat mencintaimu, kau tahu, 'kan? I love you."

Soo Ae memuji usaha keras Soo Ji. Soo Ji merasa Yu Na akan marah padanya sampai seminggu.

"Se Won juga begitu. Tapi tidak akan lama selagi dia masih kecil. Jangan kuatir." Soo Ae menangkan.


Nenek memberikan hadiah sesuai janji, sebuah sepatu cantik. Tapi walaupun begitu, Yu Na masih belum mau senyum. Nenek menjelaskan kalau Yu Na memakai sepatu itu pasti akan kelihatan seperti tuan puteri jika dipadukan dengan gaun yang mereka beli kemarin.

"Ayolah. Yu Na masih marah, ya? Eomma... bekerja sangat keras begitu demi masa depan Yu Na. Jangan marah padanya. Ya?"

Yu Na tetap diam saja, bahkan saat nenek akan memotretnya Yu Na tetap saja sedih. Ia bergumam kalau ibunya melupakan janji mereka.

 
[5 Mei 2016]

Yu Na dan neneknya ke Panti Sosial dan disana ada pertunjukan sulap. Tu Na sangat iri melihat teman-temannya datang bersama ibu masing-masing. Sementara nenek sangat antusias melihat pertunjukan sulap itu.


Yu Na menggunakan kesempatan itu untuk pergi. Di luar ia bertemu dengan Oppa yang membantunya menggambar kemarin. Oppa itu bertanya mau kemana Yu Na tapi Yu Na bilang rahasia.

Yu na sudah melangkah tapi ia berbalik lagi, "Oppa, tahu tidak tempat paling dekat dengan langit?" Tanya Yu Na.


Soon Ae dan yang lain menyergap sebuah motel untuk mencari Je Myung Hoon tapi Myung Hoon kabur lewat jendela dan Soo Ji mengejarnya. Soo Ji orangnya pantang menyerah banget padahal lawannya seorang laki-laki tapi ia tak kalah gesit.


Sampai pada akhirnya Myung Hoon terjebak jalan buntu.

"Kami ini bukan mau menangkapmu! Huh! Kim Woo Sung, kau kenal, 'kan? Tahun 2004, Kim Woo Sung memberitahumu telah membunuh di supermarket, bukankah begitu? Jawab saja soal itu!"

"Tidak tahu!" Jawab Myung Hoon dan ia mencoba melompati pagar.


Soo Ji terpaksa mengeluarkan pistolnya. tepat saat itu Soon Ae datang, mengingatkan kalau Myung Hoon tidak bawa senjata jadi mereka tidak boleh menembak.

"Nanti kuberi kalau dia butuh." Jawab Soo Ji asal. Lalu ia bicara pada Myung Hoon, "Kau mau ditembak di sebelah mana? Aku ingin sekali menembak matamu seperti kau melukaiku. Tapi polisi dilarang menembak kepala. Lengan? Kaki? Dimana maumu? Aku bisa membuatmu lumpuh seumur hidup."

"Lakukan saja. Aku tahu kau berbohong."

"Myung Hoon-ah, dia tidak bohong. Dulu dia pernah jadi atlet tembak. Tak ada CCTV di sini." Jelas Soon Ae.

"Bagus sekali. Kita bahkan sampai lari-lari karena dia, jadi kutembak kakinya saja." Lanjut Soo Ji.

Myung Hoon tahu kalau tembakan pertama selalu kosong. Soo Ji lalu mengocok pelurunya. "Kuhitung sekarang. Tiga... satu..."

Myung Hoon akhirnya menyarah.


Sembari memborgol Myung Hoon, Soo Ji cerita, Penjahat memang selalu tertipu dengan kisah "atlet tembak".

"Apa? Itu bualan belaka? Kau tidak pernah memenangkan medali tembak?"

"Tidak."

"Sialan... aish..."

Soon Ae memukul kepala Myung Hoon, "Berani kau bilang sialan? Kalau saja dia tidak jatuh cinta pada seorang pria di usia muda lalu melahirkan, dia mungkin sudah jadi kaya raya sebagai atlit."


Jalanan macet karena ada kecelakaan kecil. Soo Ji terbangun dai tidurnya karena hal itu.


Ibunya menelfon, Soo Ji menanyakan soal Yu Na, Dia baik-baik saja?

"Oh. Tapi aku... aku... Tidak bisa menemukan Yu Na."

"Dia tidak punya tempat tujuan lagi. Carilah dia. Bagaimana dengan temannya? Sudah menelepon mereka?"

"Sudah, tapi tak ada yang melihatnya."

Ada ambulan melintas melewatimobilSoo Ji. Soo Ji lalu bilang pada ibunya kalau ia akan kesana dan bantu mencari.

Soo Ji minta ijin pada Soon Ae. Soon Ae tentu saja mengijinkannya, bahkan membiarkan Soo Ji lama-lama, Yu Na mungkin hanya sedang bermain dengan temannya.


Soo Ji melewati sebuah gedung dan ia sedikit tertarik karena ada tim penyelamat di sana, kayaknya ada kecelakaan.


Soo Ji yang penasaran masuk ke kerumunan warga yang melihat. Saat itu, sepatu korban jatuh. Astaga! itu sepatu Yu Na hadiah hari anak kemarin.

Soo Ji langsung masuk ke ambulan untukmemastikan siapa korban itu. Dan benar saja itu adalah Yu Na, puterinya.

"Yu Na-ya. Yu Na!" Panggil Soo Ji histeris.


Polisi menjelaskan pada Soo Ji dan ibunya yang menunggu operasi Yu Na. Sejauh inikelihatannya Yu Na naik sendiri ke atap lalu terjatuh. Ibu Soo Ji menyalahkan dirinya, seandainya ia mengawasi Yu Na pasti kejadian ini tak akan teradi.

"Kau yakin sudah mengivestigasi dengan benar?" Tanya Soo Ji.

"Apa?"

"Yakin dia jatuh sendiri? Ada saksi mata tidak?"

"Tidak ada yang melihatnya naik ke atap."

"Bagaimana dengan CCTV toko di sekitar situ? Atau CCTV jalanan? Sudah kau periksa semua?"

"Tentu saja. Kami periksa semua, tapi tidak ditemukan apa-apa."

"Kalau begitu semestinya sekalian telusuri dari arah rumahku!"

"Um, harus ada yang mencurigakan baru bisa dilakukan penelusuran."

"Yu Na is itu takut ketinggian. Kenapa dengan fobia seperti itu naik sendiri ke atap? Bagaimana bisa... dia jatuh dari atap? Sama sekali tidak masuk akal."

"Baiklah, kalau begitu. Aku akan mencari tahu lebih jauh."


Ibu Soo Ji terus menangis sambil memeluk sepatu Yu Na. Sementara Soo Ji kelihatannya lebih tegar. Ia mengingat kejadian semalam.

Kilas Balik...


Soo Ji menunjukkan foto Yu Na yang dikirim ibunya pada Soon Ae. Melihat ekspresi Yu Na, Soon Ae berkomantar kalau marahnya Yu Na tidak akan selesai dalam seminggu paling tidak sebulan.

"Masa?" Soo Ji memastikan dan Soon Ae mengangguk.

Soo Ji mengingat-ingat, pada hari ulang tahunnya, maupun Hari Anak, ia tidak pernah ada bersama Yu Na.


"Hei, kau... pernah berpikir berhenti jadi detektif dan bekerja di balik meja?"

"Timjangnim juga berpikir begitu?"

"Tentu saja. Aku bahkan sudah pernah keluar sekali. Tapi, kuharap kau tidak melakukannya. Akhirnya kau akan tetap kembali, sepertiku. Kau... tahu alasanku menjadikanmu detektif?"

"Karena aku gila?"

"Itu alasan kedua. Kau ingat... pencuri yang merampok uang nenek pedagang saat kita tengah melakukan penyergapan?"

"Tentu saja, itu kasus pertamaku."

"Saat aku melihatmu tersenyum setelah mendapatkan kembali uang nenek itu, aku mengerti. Aku tahu kau adalah anak yang memahami arti detektif sesungguhnya. Pekerjaan ini bukan dilakukan untuk mendapatkan banyak uang. Kau juga mengerti konsekuensinya. Kita tidak bekerja di belakang meja."

"Aku merasa terlalu serakah."

"Kita diberi umur panjang bukan hanya untuk menjadi seorang ibu. Itu hidupmu sendiri, tidak masalah menjadi serakah."

"Apakah sungguh tak masalah?"

"Memang kenapa tidak boleh? Kau masih 35 tahun, jangan bersikap seperti nenek-nenek. Kencan sana dengan seseorang. Jaksa Kim kelihatannya tertarik padamu."

"Aigoo.."

"Kau harus jatuh cinta sekali lagi. Berciumanlah dengan seseorang agar kau bisa berubah."

"Aku sudah pernah merasakannya, sudahlah. Yu Na-ku... adalah cinta terakhir dan sejatiku."


Seseorang menghubungi Soo Ji tapi cuma sampai dering kedua lalu mengirim pesan, "Kecelakaan puterimu bukanlah ketidaksengajaan."

Soo Ji hendak menghubungi balik tapi keburu orang itu menghubunginya lagi.

"Tepat di samping gedung ia jatuh, ada CCTV yang merekam kejadian." Suara orang itu, suaranya adalah suara laki-laki.

"Siapa kau?"


Tapi orang itu langsung memutus telfon dan mengirim rekaman CCTV. Soo Ji melihat rekaman itu dan ternyata Yu Na memang bersama Oppa itu.


Soo Ji dan ibunya masuk ke ruang perawatan Yu Na. Kayaknya kondisi Yu Na parah banget, banyak peralatan yang dipasang di tubuhnya. Ibu Soo Ji yang duluan mendekat baru Soo Ji menyusul.

Yu Na seperti akan memegang tangan Soo Ji tapi masih sangat lemah. Soo Ji bertanya, apa Yu Na mau mengatakan sesuatu padanya dan Yu Na mengedipkan matanya.

Ibu Soo Ji bertanya, "Kenapa, Yu Na-ya? Kau kesakitan?" dan Yu Na menggeleng.


Soo Ji bertanya lagi, apa di atap terjadi sesuatu? dan Yu Na kembali mengedipkan matanya. Soo Ji lalu menunjukkan rekaman CCTV itu, "Apa terjadi sesuatu dengan pria ini?"


Yu Na sangat ketakutan, semua tubuhnya bergetar. Ia mengingat kejadian itu, dimana Oppa itu mengangkatnya ke pembatas atap. Ia hendak menerbangkan pesawat kertas buatannya tapi Oppa itu merebut pesawatnya dan mendorongnya.


Soo Ji bertanya lagi, "Apakah dia... Kau... didorong olehnya?"

Yu Na mengedipkan matanya. Baik Soo Ji dan ibunya terkejut mendengarnya. Soo Ji langsung menggenggam tangan Yu Na, "Yu Na-ya, jangan takut lagi. Eomma selalu menangkap orang jahat, kau tahu itu. Yu Na, orang yang sudah jahat padamu, Eomma pasti menangkapnya. Aku berjanji. Kali ini, pasti kutepati."


Orang yang menelfon Soo Ji tadi adalah Seo Bo Mi (Kim Seul Gi) yang sejak tadi duduk di depan buanyak monitor komputer yang menampilkan berbagai video CCTV.

Ia tidak bekerja sendiri, rekannya adalah Kang Kyung Soo (Key) yang jao meretas apapun dan bekerja bagian lapangan. Saat ini Kyung Soo juga sedang meretas CCTV disuatu gedung lalu dikirim ke Bo Mi.

"Hanya ada rekaman video dia bersama pemuda itu." kata Kyung Soo.

"Cukup. Kita sudah melakukan yang semestinya. Cepat keluar. Penjaga menuju tempatmu." Jawab Bo Mi yang langsung memberi perintah saat melihat video di CCTV.


Kyung Ho ketahuan, seorang penjaga memanggilnya. Penjaga heran, soalnya tidak ada yang melaporkan masalah sistem, lalu siapa Kyung Soo?

"Tidak ada yang melapor? Lalu, kenapa ya aku di sini?" Kyung Soo malah balik bertanya.


Petugas melapor pada rekan-rekannya lewat walkie-talkie bahwa ada pemuda mencurigakan yang menerobos ruang server.

"Pemuda mencurigakan? Siapa? Aku? Memang aku kelihatan seperti bocah yang suka mengendap, meretas, lalu mencuri rekaman CCTV? Aku bukan orang semacam itu. Jika tak ada yang melaporkan masalah sistem, maka aku pergi saja tidak perlulah menelepon bantuan. Sampai jumpa." cerocos Kyung Soo lalu melangkah.


Kyung Soo menanyakan bagaimana situasinya pada Bo Mi. Bo Mi menyuruhnya lari karena petugas mengejarnya. Kyung Soo meluncur menggunakan skateboard-nya.

"Sial, kenapa pimpinan menugaskanku begini, sih?" gerutu Kyung Soo.

"Nanti bicara saja langsung padanya." Jawab Bo Mi santai sambil minum kopinya.


Kyung Soo kemudian mendatangi sebuah gereja. Ia masuk ruang pengakuan.

"Kau boleh mengakui segala dosamu dan silakan memohon pengampunan." Kata patur yang berjaga disana.

"Segalanya? Sekalipun begadang, tidak akan cukup menceritakannya. Sungguh tidak masalah? Saya akan kembali lagi kalau Anda sudah punya waktu lagi."

Kyung Soo menempelkan sesuatu di bawah meja lalu ia keluar.


Di luar ia menyalakan sebuah lilin yang ada gambarnya. Seseorang melihat lilin itu saat Kyung Soo sudah pergi dari sana.


Orang itu lalu masuk ke ruangan Kyung Soo tadi dan mengambil kertas yang Kyung Soo tempelkan di bawah meja.

"Misi selesai. Mulai sekarang, tidak perlulah melakukan misi berbahaya begini. Tolong pahami kalau jantungku ini lemah. Tapi, aku tidak sedang memberontak, kok."

Orang itu tersenyum, dia adalah seorang pastur disana.


Eun Joong melihat berita mengenai Yu Na dan tiba-tiba Soo Ji mendatanginya. Soo Ji menunjukkan video CCTV itu.

"Ini video pemuda yang membawa Yu Na ke atap. Dia kelihatannya seorang pelajar. Kemungkinan besar pelajar SMU. Berikan aku izin pencarian... di seluruh SMU sekitar situ."

"Ini video pemuda yang membawa Yu Na naik ke atap. Lalu?"

"Barusan kau bilang "lalu"? Ini rekaman video tersangka yang membawa Yu Na ke atap."

"Bisa membuktikannya?"

"Yu Na juga mengatakan begitu."

"Yu Na sedang koma. Dia tidak mungkin memberi kesaksian."

"Lalu dimana lagi harus mendapatkan kesaksian?"

"Lalu, adakah barang bukti yang bisa mendukung kesaksian itu? Kudengar, selain luka akibat jatuh dari atap, di tubuhnya Yu Na tidak ditemukan luka lain lagi. Kau juga tahu, aku tidak bisa melakukan apa-apa."


"Ini bukan permintaanku sebagai detektif. Aku meminta tolong sebagai ibunya. Pelajar SMU dalam video ini, bantu aku menemukannya. Aku pernah menyesali menjadi seorang ibu. Saat aku memiliki kemampuan lebih dibanding para detektif pria, Yu Na pernah terasa menjadi halangan buatku.

Tapi Yu Na... dia bangga akan diriku sebagai detektif. Namun, puteriku... sampai gemetaran hanya melihat wajah pemuda itu. Dia terbaring di sana dengan patah di sekujur tubuh, kesulitan untuk bernafas, tapi dia menegaskan pemuda itu pelakunya.

Aku... Sekali saja. Sekali saja, bantu aku menjadi ibu yang baik. Kumohon."

"Aku tidak bisa mengizinkan pencarian."

Soo Ji menangis pilu, Selama ini ia selalu menghargai Eun Joong sebagai jaksa yang taat aturan. Namun, hari ini ia ingin memukul Eun Joong karenanya.


Soo Ji mengambil ponselnya dan hendak pergi tapi kata-kata Eun Joong selanjutnya menghentikan langkahnya.

"Hanya itu yang bisa kukatakan sebagai jaksa. Namun ini, perkataan seorang rekan yang selalu bersamamu menangkap penjahat. Ayo kita temukan, bajingan itu."


[9 Mei 2016]

Soo Ji dibantu Eun Joong dan rekannya di kepolisisn menyebarkan selebaran mencari siswa SMU itu. Bahkan mereka juga memasang banner pencarian saksi.


Soo Ji melihat seorang siswa yang mirip dengan pelaku, ia mengejarnya tapi ternyata bukan dia.


Ternyata Oppa itu ada disana dan ia melirik Soo Ji. Nama Oppa itu adalah Yoon Shi Wan. Oh ya, di tas Shi Wan ada stiker Yu Na. Soo Ji sekilas melihat stiker itu, ia teringat Yu Na juga menempelkan stiker itu di jidatnya kemarin.


Do Han menerobos masuk ruangan Bujangnim Oh yang tengah rapat.

"Saya dapat solusinya." Ujar Do Han.


Soo Ji mengejar Shi Wan, ia melihat sekali lagi stiker itu dan benar saja itu stiker milik puterinya.

"Kau... Yu Na-ku... Kau yang membawanya ke atap."


Bujangnim Oh mengunjungi ruangan Geomsajangnim (kepala Jaksa). Do Han mengikutinya dan menampakkan dirinya di mata Geomsajangnim.

Kilas Balik...



Do Han menjelaskan rencananya pada Bujangnim Oh. Tepat di momen krusial, putera Geomsajangnim dapat masalah. Geomsajangnim tidak bisa menyelesaikan masalah puteranya sendiri. Tapi mereka bisa, tanpa menimbulkan kecurigaan.

"Bujangnim tidak bisa membebaskan Kim Sang Woo tapi bisa untuk putera Geomsajangnim. Saya akan membereskannya tanpa jejak. Namu sebagai gantinya, tolong dekatkan saya dengan Geomsajangnim."

Kilas Balik selesai..


Do Han menunggu diluar, membiarkan dua atasannya itu bicara berdua. Ia membungkuk dalam-dalam untuk Geomsajangnim.


Ternyata Do Han adalah orang misterius yang menelfon Kim Woo Sung agar menyerahkan diri. Dan ia juga yang mendorong reporter itu mendatangi Bujangnim Oh.


Setelah pintu di tutup, Do Han berucap, "Saya akan datang lagi. Yoon Seung Ro... Geomsajangnim."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...