Monday, May 1, 2017

Sinopsis Man To Man Episode 4 Part 2

Sinopsis Man To Man Episode 4 Part 2

Sumber Gambar dan Konten dari jtbc


Do Ha masih bingung dengan perasaannya saat dipeluk Seol Woo. Lalu ia meminta Sang Sik untuk memeluknya, sayangnya ia tidak merasakan apapun walaupun Sang Sik memeluknya sangat erat. 

"Jika orang salah paham dan menyebarkan gosip, akan kulapor kau ke polisi." Kata Sang Sik karena melihat Seol Woo datang.

Do Ha juga melihat Seol Woo dan ia buru-buru melepaskan diri dari Sang Sik.


Sikap Seol Woo mendadak berubah 180 derajad bahkan ia langsung duduk di kursi kehormatan milik Un Gwang. Ia juga menjawab sewot pertanyaan Sang Sik.

"Tapi itu kursinya Hyungnim." Sang Sik mengingatkan.

"Terus kenapa?"

"Ya sudah, duduk saja."


Sang Sik berbisik pada Do Ha, apa Seol Woo kesal padanya. Do Ha menjawab tidak, Seol Woo kesal padanya.


Do Ha mengingat kata-kata Song Yi, "Cemburu itu isyarat yang mengatakan orang menyukaimu."

"Berarti dia barusan menyatakan perasaannya kalau dia menyukaiku?" Gumam Do Ha kemudian.


Un Gwang kembali dari lokasi syuting, "Aku daritadi mencarimu. Kapan kau disini?" Tanyanya saat melihat Seol Woo.

"Barusan." Jawab Seol Woo mengesalkan.

"Tapi, itu kursiku."

"Aku capek."

Mengingat tempramen Un Gwang bisa dipastikan ia bakalan marah, tapi ternyata tidak. un Gwang malah khawatir akan kesehatan Seol Woo sampai menawari untuk memanggil ambulans.


Seol Woo berdiri dengan kesal, ia tidak sakit kok. Lalu ia meninggalkan mereka setelah menendang kursi Un Gwang.


Un Gwang bersyukur karena Seol Woo tidak sakit. Sang Sik berkomentar, menurutnya pengawal tak boleh bersikap seperti itu.

"Benar, 'kan? Dia itu bukan pengawal. Kim Guard itu brother aku, dan keluargaku. Sebagai keluarga, kita harusnya saling perhatian. Dan dia bilang tadi, dia capek."

Karena Sang Sik juga merasa bagian dari keluarga, ia pun hendak duduk di kursi Un Gwang tapi yang ia dapat malah pukulan dan omelan dari Un Gwang. Sementara itu Do Ha melihat Seol Woo sampai tak terlihat lagi.


Do Ha mengalihkan pembicaraan, ia heran karena Un Gwang sudah kembali, apa syutingnya sudah selesai? Seol Ah dan Jung  Hye menggeleng lemas, sementara Un Gwang menjelaskan dengan santai kalau peralatan syuting tidak lengkap dan mereka menyuruhnya menunggu jadi syutingnya selesai.

"Oppa, berarti barusan kau membatalkan syuting hari ini."

"Akulah pemegang saham besar perusahaan kita sekarang. Jika mereka mengeluh, sampaikan pada mereka kalau kita akan membatalkan kontrak dan membayar dendanya. Aku ini punya banyak uang."

"Oppa!"


Lalu Un Gwang menyarankan makan malam perusahaan untuk merayakan permulaan baru mereka. Seol Ah dan Jung Hye loncat kegirangan. Mereka menyarankan makan daging sapi dan susi.

Un Gwang berlagak setuju tapi kemudian, "Berarti kita makan budae jjigae saja. Karena cuaca dingin, kita makan di rumah saja. Harganya 8.000 won per orang. Satu, dua, tiga, empat, lima. Jadi kita berlima, harganya jadi 40.000 won.


Saat akan masuk mobil, Seol Woo mendahului semuanya, padahal seharusnya ia membukakan pintu untuk Un Gwang. Sang Sik mulai merasa itu menyebalkan tapi Un Gwang membela Seol Woo.

"Dia kecapekan. Pria memang biasa seperti itu." Jelas Un Gwang lalu menyuruh Sang Sik untuk membukakakan pintu.

Seol Ah dan Jung Hye berbisik, mereka berdua merasa Seol Woo jauh bereda kelakuannya tapi mereka jauh lebih suka. Sementara Do Ha mendesah karena merasa itu disebabkan olehnya.


Seung Jae dan In Soo bertemu. In Soo menanyakan kolaborasi pengembangan minyak dengan Ketua Victor. Seung Hyun menjelaskan minyak Siberia membeku dengan ditahannya Ketua Vector.

"Oh... Songsan Energy berarti terkena dampaknya juga. Aku juga mungkin menyusahkanmu." Komentar In Soo.

"Orang-orang pasti mengatakan kalau aku tidak hebat berbisnis seperti kakekku."

"Kenapa itu jadi salahmu? Siapa yang tahu kalau Ketua Victor bisa mudah ditaklukkan? Karena itulah seseorang seharusnya tidak boleh terlalu sombong. Pasti takkan menguntungkan jadinya."

"Apa kau membicarakanku?"

"Tidak. Aku tidak bilang kau itu sombong. Mana mungkin itu terjadi."


"Tapi kau sudah membiarkannya terjadi. Robert Yoon. Kenapa kau melakukannya? Kau seharusnya sudah memeriksa kunci gudang dana taktis sebelum menghilangkannya. Makanya ini semua jadi runyam."

"Jadi maksudmu, itu salahku?"

"Terus apa itu salahku?"

"Kami sudah dapat petunjuk ukiran kayunya. Jadi semua pasti beres. Ukiran itu akan kembali ke tanganmu, sang pemilik yang sah."

"Benarkah?"

"Percayalah saja padaku."

"Biar kuurus dana kampanye seperti yang kau minta."


Ki Chul merakit senapan laras panjangnya sambil bicara di telfon dengan In Soo. Ia melapor kalau sepertinya ukiran kayu itu sudah ditemukan.

"Berarti ukirannya ada di tangan Kepala Bagian Jang?"

"Sepertinya dia belum menyerahkannya pada BIN."

"Ya. Mungkin menurut mereka BIN bukan tempat teraman. Apa kau sudah cari tahu tentang agen Ghost dan Lee Dong Hyun atau tempat persembunyiannya?"

"Belum ada perkembangan lanjut, tapi aku akan segera melaporkannya. Bawa ukiran kayu itu ke aku segera setelah kau menemukannya. Aku harus mengajari bagaimana caranya negosiasi ke anak brandal yang suka mengandalkan uang itu."

"Baiklah."


Ki Chul lalu mengarahkan senapannya menuju tempat Agen Ghost yang masih belum ia ketahui identitasnya.


Un Gwang meminta pengertian semua stafnya untuk jadwalnya yang akan kembali padat. Lalu ia menyuruh Se Hoon menyampaikan sepatah dua kata dulu, baru mereka mulai makan. Semua jadi menatapnya.

"CEO Ji... Maksudku.. CEO Cha, sampaikan beberapa kata." Koreksi Un Gwang setelah menyadari salah mengucapkan nama karena sudah kebiasaan.

"Bagaimanapun juga, kita akan sangat sibuk mulai seterusnya. Jadi mohon kerja sama kalian. Mari kita nikmati makanan dan minuman malam ini!"


Un Gwang menyambungnya, nikmati saja malam ini dan besok istirahat full. Sang Sik mengingatkan, tim produksi film menyuruh mereka syuting sebagai ganti pembatalan syuting hari ini.

"Bilang saja ke mereka aku takkan bekerja besok." Jawab Un Gwang.

Do Ha mencoba mengingatkannya juga tapi Un Gwang menenangkan, ia pokonya yang akan mengurus semua itu lalu mengajak semuanya minum.


Seol Ah akan menuangkan untuk Seol Woo tapi Do Ha menjelaskan kalau Seol Woo tidak minum saat bekerja. Seol Ah pun kecewa tapi sumrngah lagi karena Seol Woo mengangkat gelasnya minta diisi.

Un Gwang mengajak semuanya bersulang tapi Seol Woo tidak ikutan, ia hanya melirik Do Ha sekilas lalu menenggak minumannya sekaligus.


Ditempat lain, Tae Ho dan Sharon Kim juga minum-minum tapi cuma berdua. Saharon membicarakan mengenai Un Gwang yang sepertinya sudah mengetahui rahasia Mi Eun, sementara itu terus-terusan mengeluh waktu dia kesana.

Tae Ho khawatir dengan Song Mi Eun yang terlalu emosional. Ia berharap semoga saja dia tidak keceplosan juga hal itu pada Seung Jae.

"Sebegitukah khawatirnya kau pada SOng Mi Eun?"

"Kalau kau tak suka, aku akan berhenti." Jawab Tae Ho kaku.

"PNS Ahjussi, kau itu tidak asyik sekali."


Tae Ho kemudian memberikan tiket pameran pada Sharon, ia ingin bersama Sharon akhir pekan ini.

"Kau sering ke acara ini juga?" Sharon terkejut.

"Katanya kau suka sama artis itu. Kau tak mau pergi bersamaku?"


Seol Woo mendapat SMS dari Do Ha yang mengajaknya bicara sebentar setelah makan malam.


Do Ha minum banyak beget, Un Gwnag berbisik pada Sang Sik, apa ia membuat Do Ha kesal?

"Sangat, malah." Jawab Sang Sik yang kemudian mendapat hadiah tepukan di pipi dari Un Gwang.


Seol Ah dan Jung Hye menjelaskan pada Seol Woo. Kalau Do Ha sudah menungakan soju dalam gelasnya seperti sekarang ini, maka ada orang yang akan kena masalah. Terutama orang yang dapat SMS dari dia, orang itu akan mati karena harus mendengarkan Do Ha semalaman.

Seol Woo khawatir, karena dirinyalah yang mendapat SMS dari Do Ha. Un Gwang bertanya, apa ada Ksatria Hitam yang akan mengorbankan dirinya demi mereka (sambil melirik Sang SIk)?


Seol Woo pun bergerak, ia merebut gelas DO Ha yang baru saja diisi lalu meninumnya sekaligus. Semua orang terpesona dengan pengorbanan Seol Woo itu.


Un Gwang mencoba menawari Do ha soda agar mau berhenti minum tapi Do Ha menolaknya dan mulai menuang soju ke gelas lain. Seol Woo kembali merebut gelas itu dan kali ini disertai kemarahan.

"Berhentilah minum melebihi kemampuanmu."

"Apa?"

"Jangan minum terlalu banyak, mengerti?"

Do Ha mengartikan kemarahan Seol Woo itu sebagai pentuk kekhawatiran apalagi saat Seol Woo kembali menenggak minuman itu sekaligus.


Do Ha kebali teringat kata-kata Song Yi, "Cemburu itu isyarat yang mengatakan orang menyukaimu. Jika dia khawatir juga, berarti memang dia menyukaimu."


Song Yi memukul pundak Do Ha, menyuruhnya berhenti minum karena besok mau menemui ayahnya.

"Kalau dia mengkhawatirkanku, dia pasti menyukaiku, 'kan?" Bisik Do Ha.

"Apa?" Song Yi tidak mengerti.

Sementara itu, Seol Woo berjalan menjauh sambil memegangi perutnya. Do Ha memutuskan, ia harus mengakhiri ini semua, lalu ia mengejar Seol Woo.


Seol Woo ternyata mau pulan. Do Ha tahu Seol Woo marah sangat marah karena dirinya, ia selalu menghalangi dan mencurigai Seol Woo.

"Sangat." Seol Woo membenarkan.

"Ya. Tidak mudah mengatakan pada seseorang kalau kau menyukai mereka. Aku paham apa yang kau rasakan sekarang. Aku paham. Sungguh. Aku paham, tapi... Aku tidak merasakan hal yang sama."

"Ya, baiklah. Itu tidak penting lagi."


"Cinta tak berbalas... Jadi, jangan lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku."

"Baiklah."

"Besok, kita mulai dari awal lagi sebagai rekan kerja."

"Tidak, aku tidak ingin mulai lagi dari awal."

"Tidak. Kau harus melupakannya."

"Jangan cemburu lagi atau mengkhawatirkanku."

"Ya. Aku akan melupakannya."

"Aku minta maaf sekali--"

"Aku pamit pulang." Seol Woo lalu berjalan keluar gerbang. Do Ha berjanji akan bilang pada Un Gwang kalau Seol Woo pulang dan... "aku minta maaf" lanjutnya lirih.


Do Ha juga pulang ke rumah dan ia terus kepikiran Seol Woo yang tadi

"Itu memang karena kau. Kau marah karena aku dan mencemaskanku." Ucapnya. Ia masih merasa bersalah.

Seol Woo di rumahnya juga tidak bisa konsen saat mengerjakan sesuatu, ia beberapa kali geser tempat duduk sampai ia akhirnya menyerah dan mengakiri apa yang ia kerjakan.


Ternyata Seol Wootidak bisa fokus karena foto Do Ha dibelakangnya yang seolah terus melihat kearahnya. Akhirnya ia melakban mata Do Ha agar tidak bisa melihatnya lagi dan ia pun bisa tersenyum puas.


Besoknya, Seol Woo menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Un Gwang dengan alasan kesehatannya yang memburuk. Un Gwang tidak mengijinkannya, pokoknya tidak boleh!

"Kalau begitu, beristirahatlah. Beristirahatlah sampai kondisimu membaik, dan kembali bekerja. Ambil tiga hari... Tidak, seminggu cuti saja. Istirahatlah selama seminggu."

"Saya berencana ingin beristirahat dengan baik."

"Kau memang benar-benar sakit? Baiklah. Akan kubatalkan syarat kau harus melindungiku setiap saat. Kau boleh pulang malam hari."

"Bukan itu maksudku."

"Kim Guard, apa hubungan kita hanya sejauh ini? Maksudku, kenapa kau tiba-tiba seperti ini, brother?"

"Selama ini... sungguh suatu kehormatan bisa bekerja untuk Anda."

Dan Seol Woo benar-benar pergi.


Tae Ho menjelaskan pada Dong Hyun bahwa lokasi ukiran kayu kedua telah berpindah karena sang puteri menjualnya di Acara Lelang Black Auction.

"Black Auction? Lelang pasar gelap?" Tanya Dong Hyun.

"Forum Investasi Asia tahunan pasti selalu diadakan. Semua orang kaya Asia bergabung di forum itu. Mereka mengadakan pertemuan investasi di siang hari dan transaksi rahasia di malam hari. Sistem Black Auction itu sistem keanggotaan. Hanya anggota yang bisa berpartisipasi. Mereka memberitahukan kepada anggota lokasi pelelangan sebelumnya."

"Jadi, bagaimana kita bisa masuk ke organisasi itu?"

"Agen Yoon Sunbae punya kartu anggota yang dia gunakan saat membuat dana taktis Songsan."

"Jadi dimana kartu anggota itu?"

"Agen Yoon punya informan bernama "Goldfinger". Cari dia."


Do Ha benar-benar mengunjungi ayahnya dan menyetor uang ke deposit ayahnya. Ayahnya memujinya makin cantik dan mungkin sudah siap untuk menikah.

"Mana bisa aku menikah saat ayahku seperti ini?!"

"Memangnya kau menikahi ayahmu? Kau harus menikah kalau sudah ada calon. Ayah yakin pasti ada pria yang menyukaimu."

Do Ha tidak mengiyakan maupun mengelaknya. Ayahnya berkesimpulan kalau DO Ha memang sudah memiliki pria. Ayahnya meminta Do Ha untuk membawa pria itu ke sana.

"Kesini?" Ulang Do Ha.

"Kau seharusnya tidak perlu menjaga rahasia. Kau harus jujur."

"Ayah saja sudah melakukan 8 penipuan. Malah, sekarang tambah jadi 9."

"Ayah tidak melakukan penipuan. Semua pebisnis juga mengalami hal ini."

"Pokoknya, ini terakhir kalinya aku memberikan uang ke Ayah. Aku tak mau lagi kasih uang ke Ayah."

"Jangan khawatir. Begitu ayahmu bebas dari sini..."

"Apa yang Ayah rencanakan kali ini?"

"Ayah tidak merencanakan apapun, Ayah hanya ingin berbisnis. Pokoknya, Ayah tidak bisa jelaskan disini. Nanti kujelaskan saat Ayah bebas."

"Sudahlah. Kalau Ayah bebas, jangan hubungi aku."


Ayah lalu mennayakan soal kado yang diberikannya beberapa waktu lalu. Do Ha menjawab asal kalau ia sudah membuangnya.

"Teganya kau membuangnya?! Kau tidak membuangnya, 'kan? Kau pasti bohong."

"Sudah kuperingatkan Ayah. Jika Ayah menimbulkan masalah lagi, aku takkan pernah bicara lagi dengan Ayah. Aku pulang dulu."

Ayahnya yakin Do Ha belum membuang hadiah itu melihat reaksi Do Ha tadi.


Do Ha ke rumah Un Gwang membawakan makanan pereda mabuk. Un Gwang mengurung diri di kamar, ia sudah tidak mabuk lagi kok!

Do Ha tanya, apa ada masalah. Un Gwang menjelaskan kalau Seol Woo mengundurkan diri dengan alasan sakit.

"Sakit apa?" Tanya Do Ha lagi.


"Dia tidak mau kasih tahu. Padahal kami sudah berjanji tak ada lagi rahasia antara kami. Apa mungkin dia malu akan sakit dideritanya? Tapi dia tidak kelihatan sakit. Apa menurutmu dia berpura-pura seperti aku?"

"Dia tidak berpura-pura. Aku tahu."

"Tahu apa?"

"Dia sakit... hati."

"Bukankah itu namanya "berpura-pura"?"

"Tapi ini beda. Biar kuurus masalah ini. Hanya aku satu-satunya orang yang bisa menghentikan Kim Guard."


Seol Woo akan membuka lakban di mata Do Ha tapi yang ada malah merusak foto Do Ha. Akhirnya ia menutup saja selutuh muka  Do Ha dengan kertas note.


Do Ha datang ke tempat Seol Woo dan Seol WOo bisa mengetahuinya dari CCTV.


Lalu mereka bicara di kafe. Seol Woo bertnaya bagaimana Do Ha bisa tahu tempatnya. Do Ha tahu dari CV Seol Woo. Lalu giliran Do Ha yang bertanya, kenapa Seol Woo tidak mengangkat telfonnya.

"Ada perlu apa?" Seol Woo balik bertanya.

"Kami tidak bisa menerima pengunduran dirimu."

"Aku sudah menjelaskannya. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan."

Seol Woo akan bangkit tapi DO Ha bisa menahannya dengan ucapan maaf. Setelah Seol Woo kembali duduk, Do Ha melanjutkan. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan sangat kasar pada Seol Woo. Ia melakukannya karena ia tahu betapa sulitnya berada dalam hubungan sepihak seperti itu. Seol Woo lah satu-satunya yang akan patah hati, cemburu dan khawatir.

"Kau tidak bisa mendekat padaku, tapi kau juga tidak bisa pergi. Hatimu hancur setiap kali kau melihat orang itu, tapi kau terpaksa tersenyum. Aku tidak ingin kau mengalaminya."

Narasi Seol Woo: Dalam penyamaram, bagaimana kau mengakhirinya lebih penting daripada memulainya.

"Apa kau tidak mengerti saat kubilang itu tidak penting lagi? Padahal aku yakin sudah jelas sekali bilang itu."

"Apa?"

"Apa menurutmu aku menyukaimu? Sungguh?" Seol Woo tersenyum, "Jangan khawatir aku tidak menyukaimu. Wanita sepertimu tidak menarik perhatianku."

"Kim Guard-ssi."

"Kau sendiri yang menyimpulkan sendiri dan bersikap kasar. Kau mengabaikan perkataanku, dan kau mengatakan apapun yang kau inginkan. Kau bahkan mengatakan hal-hal yang tidak pernah kutanyakan. Mendengarmu saja membuatku risih dan bosan. Kau tidak pernah memikirkan orang yang terpaksa mendengar ucapanmu.

Tapi aku sadar dari waktu ke waktu, kau tidak bisa memastikan arahmu, mau ke kiri atau ke kanan. Kau hanya maju saja. Kau bersikap tangguh, tapi aslinya penakut. Kau diam-diam menahan diri dan menangis. Kau gampangan, tak mau ambil pusing, dan ekstrem. Juga, kau sangat merepotkan orang. Aku tidak tertarik pada wanita seperti itu."


Do Ha tidak mau mendengarnya lagi dan meminta Seol Woo berhenti. Tapi Seol Woo masih terus lanjut,

"Kau tidak mengerti kepelikan orang. Makanya kau di sini sekarang. Kau pasti bingung karena apa yang kulakukan di pesta itu, tapi itu hanya tiba-tiba saja. Itu hanya salah paham saja. Padahal aku hanya berusaha bersikap baik dan mengabaikannya. Tapi aku lupa kau itu wanita gampangan yang langsung mau digendong pria. Aku yang salah."

"Kim Seol Woo-ssi. Kau..."

"Itulah sebabnya aku berkata semalam, aku akan melupakannya!....

Apa kau mengerti sekarang? Aku tidak mengundurkan diri karenamu. Jangan datang kesini lagi atau bahkan memikirkanku. Tolong hapus aku dari ingatanmu. Kumohon."


"Br*." Ucap Do Ha setelah Seol Woo meninggalkannya dengan bibir bergetar menahan tangis.


Baru beberapa langkah dari pintu kafe, Dong Hyun menelfon, menyuruhnya membatalkan surat pengunduran diri. Lokasi ukiran kayu kedua sudah ditemukan, jadi Seol Woo harus mempertahankan identitasnya yang sekarang.

"Apa maksudmu?!" Kesal Seol Woo.


Seol Woo menengok ke belakang, dimana Do Ha bersiap keluar kafe.


Narasi Seol Woo: Cinta adalah tipuan dan taktik yang berguna bagi agen rahasia. Target saat ini adalah Cha Do Ha. Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak tugasku.

Seol Woo berjalan mendekati Do Ha.

"Apa masih ada yang ingin kaukatakan..." Tanya Do Ha lalu tiba-tiba Seol Woo menciumnya.

Narasi Seol Woo: Tapi firasatku tak enak tentang tugas ini.

5 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon