Saturday, May 6, 2017

Sinopsis Man To Man Episode 5 Part 1

Sinopsis Man To Man Episode 5 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari jtb


Do Ha mendorong Seol Woo yang tiba-tiba menciumnya. Seol Woo minta maaf, tapi ia tidak bisa meninggalkan Do Ha. Ia ingin mengakhiri semuanya di antara mereka dan melupakannya dengan berkelakuan jahat pada Do Ha. Ia sudah mencobanya, tapi ia tak bisa meninggalkan Do Ha.

"Aku juga... tak punya pilihan lagi."


Seol Woo keceplosan marah, ia Woo juga berharapnya main-main. Seol Woo diam sebentar untuk meredam emodinya, Ia biasanya tidak seperti itu, tapi ia selalu buat kesalahan.

"Kesalahan?" Ulang Do Ha.

"Kesalahan karena aku mencoba meninggalkanmu demi dirimu. Aku tak jadi pergi. Lupakan pengunduran diriku.

"Apa?"

"Sampai jumpa di lokasi syuting besok. Permisi."

Setelahnya, Seol Woopergi meninggalkan Do Ha lagi. Do Ha kesal, lagi-lagi Seol Woo pergi setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Seol Woo rupanya bertingkah seenaknya saja.


Seol Woo memainkan pisau di depan Dong Hyun, apa Dong Hyun tahu apa yang barusan ia lakukan? Dong Hyun menjawab gugup, ia tidak tahu tapi apapun itu ia yakin Seol Woo berhasil melakukannya. Karena Seol Woo itu 'kan agen ghost yang luar biasa.

"Jelaskan padaku sekarang misinya. Tapi jika tidak meyakinkan, kau sebaiknya bersiap menghadapiku."

"Negara akan mengingatku, 'kan?"

Seol Woo menendang kaki Dong Hyun kesal. Dong Hyun tidak kalah kesal, ia meminta Seol Woo tenang dan dengarkan saja dulu!


Dong Hyun menunjukkan cincin Black Auction dan Seol Woo harus menemukannya untuk menemukan ukiran kayu yang kedua.

"Kau bilang cincinnya ada di informannya Agen Yoon Sunbae, Goldfinger." Bantah Seol Woo.

"Goldfinger itu rupanya Cha Myung Suk, ayahnya Cha Do Ha."

"Berarti kita butuh ayahnya dulu. Kenapa kita butuh anaknya?"

Dong Hyun lalu memutar CCTV percakapan ayahnya dan Do Ha. Sekali lihat Seol Woo langsung tahu kalau Do Ha tidak membuang cincin itu.


"Masuk akal 'kan menurutmu rencananya?" Tanya Dong Hyun.

"Jadi target kali ini Cha Do Ha?"

"Merayu wanita cantik itu 'kan keahlianmu."

"Entahlah."

"Kenapa? Apa ada masalah?"

"Firasatku tak enak soal misi ini. Mungkin karena dia tidak cantik?"

HAHAHA..


Do Ha makin tidak bisa membuang Seol Woo dari pikirannya setelah kejadian tadi. Ia bingung dengan sikap Seol Woo yang berubah rtiba-tiba.

"Dari perkataanmu saja, menurutku dia itu psiko." Simpulan Song Yi.

"Dia seperti psiko hanya padaku saja. Dia itu biasanya sangat sopan dan normal."

"Tapi dia agresif dan cabul padamu."

"Habis itu, dia juga mematikan dan baik hati."

"Baik hati?"

"Apa?"

"Kau pasti suka ciuman itu."

"Apa?"

"Hatimu mengikuti kemana arah bahasa tubuhmu."

Do Ha mengoreksi yang benar itu, tubuh yang mengikuti kemana gerak hati. Pokoknya Do Ha tidak suka. Ia sungguh tidak tahan melihatnya. Dia itu membuatnya tidak nyaman dan dia menyinggung perasaannya.

"Tidak perlu kesal begitu. Biarkan saja dia menyukaimu."

"Mana bisa? Kalau dia kembali bekerja besok, kami harus saling bertemu."

"Berarti pecat saja dia. Lagipula dia juga sudah mengundurkan diri."

"Seandainya aku bisa, tapi Un Gwang Oppa sangat membutuhkan orang itu. Itulah masalahnya."

"Tapi sepertinya itu alasan yang dibuat olehmu saja."

"Tidak! Aku sungguh tidak menyukainya. Aku sangat membencinya."


Pagi-pagi dalam perjalanan ke rumah Un Gwang. Seol Woo menelfon Do Ha, morning call. Seol Woo menyarankan agar Do Ha memakai pakaian yang hangat soalnya agak mendung.


"Jadi buat apa kau meneleponku pagi-pagi?" Tanya Do Ha terkejut.

"Ingin saja. Sampai jumpa di lokasi syuting."


Un Gwang kembali ke kebiasaan buruknya, tidak mau bangun tidak peduli berapa kalipun Sang Shik membangunkannya dengan berbagai alaram. Sang Shik memberitahukan kalau Un Gwang harus syuting adegan laga pagi ini. 

"Aku tidak mau memukul siapa pun. Jangan bertarung hari ini."

"Kau padahal ingin berlatih dulu sebelum syuting, jadi tim pemeran pengganti sudah menunggu."

"Berarti suruh saja mereka istirahat. Mereka itu selalu bertarung. Marilah kita memiiliki hari yang damai sekali ini saja. Dasar."


Tiba-tiba pintu terbuka lebar membuat cahaya matahari masuk ke kamar Un Gwang. Yang membuka pintu itu adalah Seol Woo. Sang Shik terkejut melihatnya dan langsung berdiri. Seol Woo  mendekati ranjang Un Gwang lalu melihat jam-nya.

"Waktu kita tinggal 2 menit 30 detik sebelum VIP harus bangun jam 7:00 pagi." Jelas Seol Woo.

Un Gwang langsung bangun, Kim Guard kah? Seol Woo membenarkan. Un Gwang membuka penutup matanya dan memang benar-benar Seol Woo. Ia girang, apa SeolWoo jadi kerja kembali?

"Saya tidak bisa menolak Sekretaris Cha Do Ha."

"wah... Dia memang yang terbaik. Bagaimana dengan sakitmu? Apa Sekretaris Cha juga sudah menyembuhkannya?"

Seol Woo menjelaskan kalau mereka sudah merevisi kontraknya. Perlindungan sepanjang hari telah dibatalkan. Un Gwang setuju dengan hal itu, toh Seol Woo juga perlu mengurus diri sendiri. Pokoknya ia senang SeolWoo tidak jadi berhenti kerja.

Seol Woo melihat jamnya kembali, "VIP sudah bangun pukul 7:00 pagi seperti yang dijadwalkan. Mari bersiap berangkat."

Un Gwang menjawabnya patuh, ia segera menuju ruang ganti.


Seol Woo melambai pada Do Ha yang baru datang. Do Ha cuma menatapnya aneh dan langsung buru-buru menuju Un Gwang.


Un Gwang penasaran, bagaimana cara Do Ha membujuk Seol Woo? Do Ha menjawab lesu, mereka hanya melupakan surat pengunduran diri itu. Un gwang memuji kerja bagus Do Ha.

"Tapi bukankah kau terlalu kasar padanya?"

"Memang aku melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun. Ini juga semua gara-gara Kim Guard. Dia sendiri yang berulah." Jawab Do Ha sedikit nyolot sambil menunjuk Seol Woo.

"Memang apa yang dia lakukan?" Tanya Un Gwang.

"Tidak ada sama sekali. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada sama sekali." Jawab Do Ha kikuk yang memicu kecurigaan Un Gwang. Tapi kemudian kru memanggil Un Gwang untuk mulai syuting.


Seol Woo memperhatikan Do Ha, "Kau rupanya tak mau dengar apa kataku. Aku menyuruhmu pakai baju hangat."

Seol Woo akan mendekati Do Ha tapi Do Ha menyuruhnya berhenti, ia menetapkan jarak bagi Seol Woo, dilarang mendekatinya dalam jarak satu meter dan tidak boleh ada kontak fisik.

"Kenapa?"

"Matamu itu cabul, dan tanganmu licik."

"Aku?"

"Khususnya... jagalah bibirmu itu. Selalu pertahankan jarak satu meter."


Seol Woo menggoda Do Ha, serius ia dilarang mendekatinya lebih dari 1 meter? Do Ha membenarkan. Seol Woo bertanya lagi, apa jadinya jika ia mendekat?

"Kau akan mati." Jawab Do Ha.

Tiba-tiba segerombolan orang kejar-kejaran di depan mereka. Sutradara berteriak CUT! Ow.. cuma syuting ternyata. Setelah adegan itu di tonton ulang, Sutradara menemukan ada celah, Backdrop-nya salah.


Sutradara meminta Do Ha berjalan bersama Seol Woo sebagai figuran. Un Gwang kesal, harusnya kan Sutradara melakukan itu dari tadi jadi ia tidak perlu mengulang. Sementara itu, Do Ha bersedia melakukannya dengan baik.


Do Ha sudah siap tapi Seol Woo tak kunjung mendekat padahal Do Ha sudah menyuruhnya mendekat sedari tadi. Seol Woo beralasan tidak ingin mati, ia harus menjaga jarak 1 meter itu.

"Kita ini lagi kerja. Kau tidak perlu menjaga jarak saat kita bekerja." Jelas Do Ha karena Sutradara juga sudah berteriak-teriak menyuruhnya lebih cepat.


Seol Woo pun seutu, ia mendekati Do Ha sambil melepas mantelnya lalu memakaikannya pada Do Ha, "Aku daritadi ingin melakukan ini padamu. Karena kau sepertinya kedinginan."

"Apa kalian berlagak jadi pasangan?" Tanya Sutradara tapi ia setuju saja kok.

Dan mereka berjalan berangkulan bak pasangan kekasih. Un Gwang mengamati mereka dari tempatnya menunggu.


Dong Hyun menemui Tuan Cha Myung Suk (ayah Do Ha). Tanpa basa basi, ia langsung bertanya apa Tuan Cha mengenal Robert Yoon, Si dealer seni. Tuan Cha pura-pura tidak ingat. Dong Hyun lalu menunjukkan foto cincin itu.Lagi-lagi Tuan Cha berbohong bahwa ia tidak tahu cincin itu.

"Wajahmu ini jujur sekali, ya."

"Dan Anda punya mata yang jeli." Mereka berdua tertawa.

"Jadi, kau belum pernah melihat cincin ini sebelumnya?"

"Ya. Aku tidak mencurinya."

"Siapa juga yang bilang kau mencurinya? Juga..."

Dong Hyun membuka dokumen dengan judul "Tahanan yang akan dibebaskan bersyarat". Ternyata disana ada nama Tuan Cha, tapi tidak ada alamat yang terdaftar. Jadi Tuan Cha mau kemana jika Tuan Cha bebas bersyarat?

"Apa aku memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat?" Mata Tuan Cha lasngung melebar.

Dong Hyun menjelaskan kalau Lembaga pemasyarakatan (lapas) dan penjara itu penuh sesak. Jadi ia  merekomendasikan pembebasan bersyarat bagi tahanan tindak pidana ringan. Jika Tuan Cha berjanji untuk tinggal bersama keluarga, ia akan memasukkannya dalam daftar.

"Pak Jaksa, satu-satunya keluarga yang kupunya hanya putriku. Aku tidak ingin membebani dia." Sepertinya Tuan Cha akan menolaknya.

"Begitu, ya?"

"Jika kau membebaskanku, aku akan melindunginya dan menjadi ayah yang berguna." Tapi tiba-tiba ia mengatakan itu dengan penuh semangat.

"Semangat yang bagus. Tunggu saja kabar baik dariku."

"Terima kasih, Pak Jaksa."


Do Ha menemui Se Hoon. Se Hoon membawa kontrak Un Gwang dan kontrak iklan telekomunikasi yang Un Gwang lakukan sekarang. Ia sudah sudah mengulasnya, jadi hanya butuh tanda tangannya. Juga satu lagi iklan yang penting, iklan penanak nasi yang akan berakhir bulan depan.

"Jika pihak mereka menelepon, kau tarik ulur dulu sebelum menyetujuinya. Penjualan mereka menaik karena Hyung, jadi kau mungkin bisa dapat tawaran yang lebih tinggi."

"Baik."

Se Hoon juga memberi saran yang lain-lain. Do Ha menanyakan pergantian kontrak dengan Chewing, berapa banyak dendanya.

"Tak apa. Tak perlu. Lagipula aku yang salah."

"Jadi kenapa kau melakukannya? Apalagi karena Song Mi Eun..."

"Aku tidak menyesalinya. Aku sudah mengambil uang sewaku dan membeli saham Chewing lagi. Aku juga telah memutuskan hubungan dengan Mi Eun Noona, baik secara profesional maupun pribadi."

"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku akan terus mengelola Chewing dan menunggu Woon Gwang Hyung. Karena Chewing itu identitasnya Yeo Un Gwang."

Do Ha mendapat telfon, sepertinya ada masalah di lokasi syuting. 


Sutradara memarahi Sang Shin dan rekannya. Mereka disalahkan karena syuting dibatalkan karena Un Gwang padahal ada adegan yang sangat penting. Mereka berdua hanya bisa minta maaf tapi Sutradara malah semakin marah.


Do Ha datang tepat saat itu dan menanyakan duduk permasalahannya pada PD-nim. Sutradaramenjelaskan, waktu ada Se Hoon, Un Gwang memang sering datang terlambat tapi mereka tidak pernah batal syuting.

"Semenjak kau yang ambil alih, kau membiarkan Yeo Un Gwang karena kau penggemar wanitanya."

"Ucapan Anda sudah kelewatan, Pak."

"Artismu itulah yang kelewatan. Apa menurutmu aku tidak bisa marah?"

Sutradara akan memukul Do Ha dengan naskah tapi Seol Woo menahannya. Sutradara menanyakan identitas Seol Woo, Seol Woo memperkenalkan dirinya sebagai pengawal dan tugasnya menciptakan keamanan.

"Baiklah. Ini di luar hakmu. Jadi jangan ikut campur." Ucap Sutradara karena Seol Woo mulai memelintir tangannya.

Do Ha meminta Seol Woo melepaskan Sutradara, ia yang akan bicara padanya. Sebelum melepaskannya, Seol Woo memperingatkan Sutradara bahwa tidak boleh pakai kekerasan, baik verbal maupun fisik.


Seol Woo menemui Do Ha sambil membawa kopi, saat itu Do Ha tampak kedinginan. Seol Woo menjelaskan kalau Un Gwang sudah datang dan sekarang dan tengah syuting adegan seluruh tubuh. Syutingnya mungkin cepat selesai setelah adegan separuh tubuh.

"Kau pun sekarang tahu adegan separuh tubuh. Kau memang ahli sekarang." Tanggap Do Ha lalu meminum kopinya.


"Itu Jongro Coffee dari Jongro dengan biji yang disangrai tiga hari yang lalu. Kesukaannya Un Gwang."

"Kalau aku, menurutku kopi dari kedai kopi-lah yang terbaik. Apalagi sambil menikmati pemandangan malam yang indah."

"Tidak ada syuting malam ini. Kau ada acara apa setelah kerja nanti?"

"Aku ada pertemuan, dan aku perlu bicara dengan Un Gwang Oppa."

"Kalau habis itu? Kau tidak ada acara lain, 'kan?"

"Kau ini cukup ambisius juga, ya?"

"Jadi kau bisa pergi denganku nanti?"

"Tidak. Biar kuperjelas lagi..."

"Satu meter." Do Ha dan Seol Woo mengatakannya bersamaan, lalu Seol Woo melanjutkan, "Lagipula aku sudah berada satu meter darimu."

"Betul. Tolong pertahankan jarak satu meter seperti sekarang ini."

DoHa mengucapkan terimakasih atas kopinya lalu pergi.


Do Ha menjelaskan persis seperti apa yang dikatakan Se Hoon tadi. Un Gwang sih setuju saja. Do Ha memberitahu kalau ia bertemu Se Hoon tadi siang dan menjelaskan kalau Se Hoon sudah membeli lagi saham Chewing, juga tak berhubungan lagi dengan Song Mi Eun.

"Semua juga sudah berlalu. Syuting adegan laga itu membuatku lelah sekali. Sudah selesai, 'kan, membicarakan ini?" Un Gwang mengalihkan pembicaraan.

Do Ha pun menyuruh Un Gwang untuk segera istirahat.


Saat Do Ha beres-beres, Seol Woo mengiriminya pesan, "Dimana kau? Apa kau masih lagi sama VIP?"

"Orang ini kumat lagi." Ucap Do Ha.

Un Gwang yang tadinya menuju ke kamar kembali lagi, penasaran siapa orang yang dimaksud Do Ha itu, Kim Guard kah?

"Ya. Dia bertanya kapan syuting besok? Dia menanyai jadwalmu." Jawab Do Ha bohong tapi sepertinya Un Gwang juga tidak percaya.

Lalu SS masuk lagi, "Kapan kau selesai kerja?"
"Kim Guard lagi?" Tanya Un Gwang.

"Dia terus bertanya jadwalmu. Dia cuma menanyai pekerjaan. SMS soal pekerjaan yang sangat normal."


Do Ha membalas pesan Seol Woo, "Kau membuatku tidak nyaman, jangan SMS aku lagi!"

Ternyata eh ternyata Seol Woo masuk rumah DO Ha diam-diam dan mengeeledahnya untuk menemukan cincon itu. Disela-sela mencari itulah ia membaca SMS Do Ha lalu membalasnya,

"Aku membuatmu tidak nyaman? Baguslah."


Do Ha kesal tapi ia harus jaga sikap karena Un Gwang tidak jadi tidur malah duduk di tempatnya tadi. SMS Seol Woo datang lagi, "Kapan pertemuan dengan VIP selesai? Kau mau makan malam denganku?"

Do Ha tetap pada kebohongan awalnya kalau Seol Woo bertanya soal kerjaan. Un Gwang cemburu, harusnya Seol Woo kan bisa langsung tanya padanya.

"Aku penasaran apa dia sudah makan malam." Tanya Un Gwang kemudian.

"Tidak, dia belum makan malam." Do Ha refleks menjawabnya.

Un Gwang tersenyum curiga, "Memangnya itu pertanyaan tentang jadwalku? Jadi kalian SMS-an tentang jadwal makan malammu?"


Un Gwang tiba-tiba jadi punya beberapa pertanyaan untuk Seol Woo. Nanti aja deh ia tanyanya (sambil melirik DO Ha).

"Apa? Pertanyaan apa?" Tanya Do Ha takut.

"Pertanyaan seputar kerjaan. Apa ada masalah?" Goda Un Gwang.

"Tidak, tidak sama sekali. Nikmati makan malammu."


Seol Woo tidak menemukan apa-apa dan ia segera melaporkannya pada Dong Hyun. Cincin itu rupanya tidak ada di rumah Do Ha atau di ruang kerjanya.

"Jadi, di mana dia menyembunyikannya?" Heran Do Hyun.

"Dia pasti menyimpannya di tempat lain. Kita butuh ayahnya agar memberikan kita petunjuk."

"Aku tadi sudah minta tolong sama sipir lapas. Bagaimana dengan wanita itu? Kau sudah ada kemajuan? Kau perlu mempercepatnya dan menemukan cincin itu."


Seol Woo memperhatikan foto Do Ha sambil menjelaskan, wanita seperti Do Ha itu harus ditangani pelan-pelan. Ia harus bersikap baik sekaligus bersikap dingin juga.

"Maksudmu, biar dia kebingungan?"

"Kencan itu soal reaksi. Kencan itu bervariasi menurut orangnya dan situasi. Sudah, ya. Aku ada telepon."

"Siapa? Cha Do Ha?"

"Bukan. Tapi Yeo Un Gwang."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...