Tuesday, June 20, 2017

Sinopsis Lookout Episode 17

Tags

Sinopsis Lookout Episode 17

Sumber Gambar: MBC


Soo Ji mengikuti Do Han tapi Do Han tahu hal itu dan ia hanya diam saja.


Kyung Soo melapor, ia sudah menyelidiki Do Han sesuai instruksi Soo Ji. Do Han orangnya sangat cerdas, dia lulus ujian persamaan dalam sekali coba, lalu diterima di Kejaksaan Negeri Seoul.

"Bukan itu yang kucari. Adakah sesuatu yang tidak wajar atau ada hubungan antara dengan Yoon Seung Ro?" Tanya Soo Ji.


Bo Mi memintanya mengatakan alasannya, kenapa Soo Ji tiba-tiba menyelidiki Do Han. Soo Ji hanya menjawab kalau ada yang membuatnya penasaran.

Kyung Soo: Aku tidak mendapati hal yang aneh. Dia yatim piatu. Ayahnya meninggal saat dia masih kecil, lalu ibunya menyusul ketika dia SMA.

Bo Mi: Kalau saat itu dia SMA, pasti teman-temannya menggunjingkan dia.

Kyung Soo: Ibunya Jang Do Han meninggal tidak wajar. Dia dibunuh.

Soo Ji: Dibunuh?

Bo Mi: Dia keluar dari sekolah, lalu meninggalkan kota itu karenanya.

Kyung Soo: Oh, aku menemukan artikelnya. Dibunuh oleh suami barunya sendiri. Mengalami cedera fisik yang serius.


Do Han saat ini sedang berbelanja. Bo Mi menyadari kalau Do Han berbeda dari yang terlihat, apa itu yang Soo Jo cari. Soo Ji juga belum pasti, lalu ia bertanya sdakah kasus itu berhubungan dengan Yoon Seung Ro?

Kyung Soo: Tidak, saat itu Yoon Seung Ro sudah bekerja di Seoul.

Soo Ji: Aku mengerti. Sampai jumpa nanti.

Soo Ji mematikan telfon lalu bergumam, jika Do Han ingin membalas dendam pada Yoon Seung Ro secara rahasia, alasannya pasti tidak mudah diketahui.


Do Han selesai berbelanja dan akhirnya Soo Ji berhenti mengikutinya. Do Han pun bisa bernafas lega.

Kilas Balik..


Gwan Woo memberitahu Do Han kalau Soo Ji menemuinya dan ingin bertemu dengannya. Do Han bertanya, apa Soo Ji mengingatnya. Gwan Woo menjawab, sekalipun tidak ingat, Soo Ji ingin tahu rencana Do Han juga soal Yu Na.

"Dia akan mengetahuinya saat jajak pendapat. Kenapa keras kepala?"

"Tapi, apa tidak sebaiknya kita memberitahukan rencana kita padanya? Wanita itu mungkin tak mau lagi menuruti perintah bila tidak diberitahu."

"Saat ini, aku hanya punya satu saksi mata."

"Bagaimana dengan yang satunya?"

"Belum. Namun, aku dapat celahnya."

"Detektif yang menyiksa ayahmu itu?"

"Ya. Ayahku hanya mengingat... julukan orang itu. Si bangsat itu."

Kilas Balik Selesai...


Soo Ji melihat beritanya di layar pinggir jalan. Ia diberitakan tertembak oleh detektif lalu melarikan diri.


Eun Joong memasukkan memorycard yang menyimpan video Do Han menyelamatkan Soo Ji Jinseo-dong dalam platik, keknya ia mau menyerahkannya pada seseorang. Lalu SOon Ae menelfonnya.


Ternyata Ibu Soo Ji jatuh sakit. Soon Ae minta maaf karena telah menelfon Eun Joong, padahal ia sendiri yang bilang supaya Eun Joon tidak bersikap bagaikan menantu Ibu Soo Ji.

"Tak apa, aku juga selalu mencemaskan beliau."


Ibu Soo Ji akhirnya sadar. Soon Ae yakin pasti semua ini karena menonton berita mengenai Soo Ji. Soon Ae menjelaskan kalau reporter itu tidak tahu apa-apa, harusnya Ibu tanya langsung padanya.

"Bagaimana bisa? Anakku ditembak oleh polisi. Kalian berdua pun... pada akhirnya akan menangkap Soo Ji."

"Itu benar. Eomma, jangan terlalu cemas. Polisi memang menembaknya, tapi Soo Ji berhasil menghindar. Soo Ji mungkin baik-baik saja sekarang, tapi Ibu bahkan tidak mau makan."

"Sungguh? Sungguh Soo Ji-ku baik-baik saja?"

"Tentu saja, tapi media tidak tahu apa-apa, jadi jangan mengatakan pada siapa-siapa."

"Oh, aku mengerti."

"Makanya, Ibu harus makan juga."

Ibu pun menunjukkan wajah cerianya lagi.


Soo Ji menghubungi Soon Ae tapi Soon Ae menyamarkannya sebagai Detektif Ma, ia lalu keluar dan bicara pelan-pelan. Soon Ae menanyakan keadaan Soo Ji. Soo Ji menjelaskan kalau ia baik-baik saja sekarang.

"Nam Hyeongsa bilang kau melepas borgolnya lalu menyerang dia. Benarkah? Tidak, 'kan?"

"Rahasiakan sampai ketahuan siapa di belakangnya. Byung Jae Sunbae, terus awasi dia."

"Aku tak tahu lagi mana yang polisi sejati."

"Anu... ibuku bagaimana? Dia pasti syok karena berita di TV."

"Tentu saja. Tapi, dia sudah tenang sekarang, jadi jangan cemas."

"Sungguh dia baik-baik saja?"

"Tentu saja. Ibumu sangat kuat. Kau seperti dia."

"Ya, syukurlah. Dari tadi teleponku tidak dijawab, makanya aku gelisah."

"Aku akan menjaga ibumu, jadi kau jagalah diri baik-baik. Jangan terluka. Baik-baik sampai aku yang menangkapmu. Kau mengerti."

"Eomma... Tolong jaga dia, Timjangnim."


Tanpa Soon Ae tahu, Eun Joong menguping pembicaraan mereka.


Byung Jae barusan menutup telfon, Do Han menghampirinya, bertanya apa barusan dari Yoon Seung Ro? Byung jae menatapnya heran. Do Han membujuk, mereka kan sama-sama orang Yoon Seung Ro. jadi apa salahnya saling bertukar indormasi.

"Istriku. Sebab aku lama tidak pulang demi menangkap Jo Soo Ji." Jawab Byung Jae.

"Selama ini kau kan orangnya, Nam Hyeongsa? Kau menghentikan Kim Woo Sung. Kau membantunya kabur. Kau pasti sangat sibuk selama ini."


Do Han memancingnya, pasti Byung Jae sudah lama menjalankan perintah orang lain. Byung Jae dan Yoon Seung Ro pasti memiliki sejarah yang panjang. 10 tahun? atau 15 tahun?

"Kau banyak sekali bertanya." Ujar Byung Jae.

"Aku hanya ingin kita berteman, itu saja."

"Fokuslah saja pada tugas sebagai Jaksa. Aku menuruti ucapanmu sekali, tapi situasinya kacau balau. Oh, bukankah itu aneh? Bagaimana bisa seorang wanita sekarat berhasil kabur? Orang terakhir yang melihatnya masih hidup adalah kau. Bukan begitu?"

"Kalau memang iya, aku pasti sudah menemukan dia."

"Semestinya tidak kupercayakan segalanya pada orang yang cuma bisa duduk di balik meja (tidak pernah beraksi di lapangan). Itu kesalahanku."


Mereka semua lalu rapat soal kasus Bo Mi, Joon Pyo bertanya apa ada yang polisi dapat dari apartemen Bo Mi? Soon Ae menjelaskan, dari sidik jari dan CCTVdiketahui bahwa Bo Mi memang tinggal disana, Bo Mi satu-satunya korban selamat kasus pembunuhan Miseo-dong.

Joon Pyo: Dan Seo Bo Mi komplotan Jo Soo Ji? Kerja sama yang bagus.

Do Han: Kalau begitu, dia pasti yang membantu Jo Soo Ji kabur dari TKP.

Soon Ae: Aigoo... kalau itu belum bisa dipastikan.

Joon Pyo: Bukankah masih ada satu lagi? Orang yang mengirim foto ketiga tersangka itu ke apartemennya. Sudah tahu orangnya?

Jin Ki: Kami sudah menanyai sang kurir. Tapi dia bilang, tidak pernah bertemu langsung si pengirim.

Joon Pyo: Lalu, bagaimana mengambil paketnya?

Jin Ki: Dia ditelepon untuk tempat pengambilannya. Biasanya di antara gedung-gedung apartemen atau tangga darurat yang tidak ada CCTV. Bayarannya juga dibayar tunai.

Eun Joong: Seseorang secermat itu pasti memakai ponsel ilegal. (akhirnya baru bicara setelah sedari tadi hanya memperhatikan DO Han dan Do Han menyadarinya).

Jin Ki: Ya, benar.

Do Han: Aigoo... mustahil menemukan orang itu.

Joon Pyo: Masukkan Seo Bo Mi dalam daftar pencarian dan cari tahu perkenalannya dengan Jo Soo Ji.


Rapat pun usai dan semua bergerak sesuai tugas masing-masing. Do Han memanggil Eun Joong, bertanya kenapa daritadi Eun Joong memelototinya terus, kalau ada yang mengganjal, katakan saja.

"Banyak yang ingin kukatakan, masalahnya aku tidak yakin kau akan menjawab dengan jujur. Tak usah saja. Aku cari saja sendiri jawabannya."


Bo Mi dan Kyung Soo berduaan, mereka bekerja sama memasang peralatan untuk memantau CCTV, tapi mereka canggung gitu daat tak sengaja bertatap muka.


Dan puncaknya saat Kyung Soo minta satu kabel pada Bo Mi. Bo Mi mengulurkannya tapi Kyung Soo tak sengaja menyentuh tangannya. Keduanya sama-sama terkejut, Bo Mi langsung menarik tangannya duluan.

"Oppa akan mengurus semuanya. Kau menonton saja." Kata Kyung Soo.

"Ya, Oppa."

wkwkwkwkwk..


Bo Mi lalu menuju meja makan dan ia membuka salah satu kaleng. Ia kira isinya makanan tapi ternyata celana dalam. Ia terkejut dan refleks melemparkannya pada Kyung Soo.

"Kenapa ribut? Belum pernah lihat celana dalam pria?"

"Cabul!"

"Wah... tidak adil sekali. Wanita boleh mengoleksi pakaian dalam sementara pria disebut cabul? Ini berharga sekali buatku!"

"Omo.. omo... kau gila."

Soo Ji menghampiri karena mereka ribut. Bo Mi langsung bilang tidak ada apa-apa.


Mulai serius lagi sekarang! Bo Mi mencoba menyalakan mobitornya dan ada satu yang tidak mau muncul. Kyung Soo menebak, CCTV itu kalau bukan rusak berarti dipindahkan. Soo Ji lalu meminta Bo Mi untuk mengulangi rekaman CCTV di luar rumah Yoon Seung Ro.


Bo Mi pun melakukannya dan mereka tahu sekarang bahwa Yoo Seung Ri sudah mengetahui persembunyian Soo Ji. Tapi Soo Ji merasa aneh karena Shi Wan masih memakai HP dan komputer yang sama.

Kyung Soo: Mungkin... dia belum tahu?

Soo Ji: Tidak. Mereka memindahkan CCTV-nya karena tahu kita mengawasi mereka.

Bo Mi: Kurasa Shi Wan belum tahu.

Soo Ji: Itu tidak mungkin.

Soo Ji lalu pergi untuk menemukan jawaban.


Shi Wan sepertinya malah sengaja menampakkan diri di segala CCTV yang ada. Saat olah raga, ia membantu teman gadis nya membawa bola tapi saat melihat Se Won ia meninggalkan gadis itu dan memilih untuk membantu Se Won, setelah melihat ke arah CCTV.

Sayangnya Se Won tidak mau dibantu, ia lebih suka mengerjakannya sendiri.


Teman gedis Shi Wan tadi marah karena Shi Wan terus mencoba dekat dengan Se Won.

"Aku merasa terganggu melihatnya. Semua orang di kelas kita bersikap seolah dia tidak terlihat. Bukan salahnya memiliki ibu seorang detektif. Bukan salah dia juga ibunya datang ke sekolah dan memarahi mereka yang membully anaknya. Bukankah keterlaluan mengucilkan dia karena masalah itu?" Jawab Shi Wan. Tapi keknya ia punya rencana sendiri.


Eun Joong memutar kembali rekaman Blackbox itu, dan ia mengingat kelakuan aneh Do Han selama ini. Kenapa Do Han melakukannya? Apa yang diinginkannya?

Lalu Eun Joong mendapat telfon dari seseorang. Orang itu mengatakan kalau ia sudah melacak keberadaan detektif yang Eun Joong minta.

"Oh, benarkah? Di mana dia?"


Tim kejaksaan Negeri Seoul mendatangi Bujangnim Oh di jam makan siang. Mereka hanya memanggilnya Oh Kwang Ho-ssi tanpa embel-embel pengacara (status yang disandangnya saat ini). Mereka menunjukkan surat perintah penggeledahan.

"Saat menjadi Bujang Geomsa (Jaksa Senior), Anda menerima saham 10 juta won dari seorang pebisnis. Kami akan menggeledah ruangan Anda."

Lalu mereka mulai membawa berkas-berkas disana satu per satu.


Semua itu adalah ulah Yoon Seung Ro karena foto yang dikirm Do Han itu.


Do Han berkunjung dan ia pura-pura terkejut melihat keadaan disana yang kau sekali.

"Ini... apa yang terjadi di sini? Astaga... memang kalau sesama teman berbagi saham... apa salahnya? Mereka boleh mengomentari pertemanan kalian, tapi tidak menyinggung hadiah antar teman, 'kan?" Kata Do Han.

"Yoon Seung Ro, 'kan? Terakhir kali kau bilang begitu. Dia akan menyingkirkan semua orang yang menghalangi langkahnya menjadi Jaksa Agung. Saham itu diberikan 3 tahun lalu. Namun, sekarang mendadak baru dilaporkan. Betapapun keras aku berpikir... Bagaimanapun kupikirkan, tetap aneh."

"Tahulah, ya? Sejak kasus Miseo-dong kembali mencuat, Geomsajangnim menjadi sangat emosional, jadi sudah kuduga hal seperti ini akan terjadi. Namun... hal ini sungguh berdampak pada Bujangnim, aku sungguh tidak menyangka."

"Yoon Seung Ro, baj*. Aku selalu loyal padanya."

"Aku tidak tahu siapa yang memberikan info, tapi Geomsajangnim mengira Bujangnim bertemu dengan pihak oposisi. Padahal aku sudah  berusaha meyakinkan dia bahwa Bujangnim bukanlah orang seperti itu. Tapi, tahulah Geomsajangnim bagaimana. Dia lebih memilih mengkhianati duluan sebelum ditikam dari belakang."

"Ya, aku tahu. Aku tahu, tapi Yoon Seung Ro tidak bisa begini padaku. Tidak bisa padaku."

Do han pun tersenyum puas.


Bujangnim Oh langsung menghubungi Anggota Dewan Chae.


Do Han senang karena ia akhirnya dapat saksi pertamanya, sekarang ia hanya perlu dapat satu lagi. Do Han melirik amplop coklat yang ada disebelahnya.


Soo Ji kembali mengikuti Do Han, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Do Han menyadari kalau SOo Ji sungguh tidak sabaran.


Do Han menghentikan mobilnya di depan Pemandian Umum Jang Soo.

"Ini alasan lebih baik kita tidak saling mengenal. Hanya menjadi kelemahan." Kata Do Han dama mobilnya.

"Dia hendak melaporkanku? Dia hanya menggertak, 'kan?" Pikir Soo Ji.

Do Han lalu melemparkan amplop coklat itu keluar, itu adalah misi terakhir mereka dan berharap Soo Ji melakukan yang terbaik.


Mobil Yoon Seung Ro memotong laju mobil Anggota Dewan Chae, ia lalu megajak Anggota Dewan Chae minum teh bersama.

"Tadi itu cara yang ekstrim sekali untuk mengajak minum teh."

"Sebab, sulit menahanmu bila aku tidak berbuat sejauh itu."

"Terima kasih, kau sudah mengonfirmasi bahwa pemikiranku benar. Geomsajangnim, kau orang selamanya tidak boleh menjadi Jaksa Agung. Kau juga tahu, tak ada gunanya menemuiku seperti ini."

"Apakah lebih tidak berguna dibanding seorang dewan yang melanggar aturan pencalonan?"

"Sekarang, wajah aslimu tampak. Kau sanggup menari dimanapun dengan pedang di tangan. Jika sebelum jajak pendapat, kau menahan salah seorang jurinya, apa kau sanggup menanggung konsekuensinya?"

"Kalau hanya kutangkap satu, maka jadi masalah. Namun bila kutangkap semua orang dalam partai, maka rakyat akan berpikir orang-orang politik memang kotor."

"Jika sudah cukup mengancamnya, sekarang katakan apa maumu?"


Soo Ji membawa amplop itu pada Bo Mi dan Kyung Soo. Kyung Soo penasaran apa isi amplop itu dan ternyata foto ibunya.


Eun Joong menemui orang yang menelfonnya tadi, namanya Jang Woo Jin dan ia seorang reporter. Eun Joong lalu mengajak mreka masuk jika tidak keberatan.


Reporter Jang heran kenapa Eun Joong begitu penasaran padahal kasus itu sudah lewat 17 tahun lalu. Eun Joong menjelaskan kalau ia penasaran dengan anaknya, Jang Do Han. Setelah kasus itu terjadi, Eun Joong ingin tahu kabarnya. Apakah ada orang selain Lee Shin Hyuk yang mengetahuinya?

"Aku tidak menulis artikelnya, tapi Park Ji Sook-ssi memiliki anak lain bernama Lee Gwan Woo. Anak bawaan dari Lee Shin Hyuk. Meskipun pernikahannya tidak diregistrasikan, tapi itu pernikahan kedua masing-masing. Ada dua anak di dalamnya. Mereka bukan saudara kandung, tapi sangat akrab satu sama lain."

"Berarti,  satu orang menjadi anak seorang pelaku KDRT, sedangkan yang satunya menjadi anak korban."

"Kalau dipikirkan, mereka semua adalah korban."

"Bukankah Anda bilang ini kasus KDRT?"

"Awalnya, memang seperti itu. Tapi, dia menjadi alkoholik serta mengidap skizofrenia akibat tekanan. Anda akan mengerti saat bertemu dia, tapi kondisinya semakin parah sekarang."

"Disebabkan tekanan?"


Park Ji Sook dibawa petugas ke sebuah ruangan. Ia sangat ketakutan dan selalu memohon agar diselamatkan, ia akan mematuhi perkataan petugas, semuanya pokoknya.


Ternyata Do Han yang menemuinya, dia adalah ayahnya.


Do Han: Tegakkan kepala, kumohon. Ini aku. Appa (Ayah).


Kyung Soo menjelaskan perihal ibunya. Polisi bilang, ibunya mungkin bunuh diri karena depresi. Tapi Daejang mengatakan padanya bahwa ibunya menghilang. Katanya Ibunya mencoba memperbaiki kesalahan di masa lalu, kemudian terlibat sesuatu yang buruk. Tapi, ia percaya ibunya masih hidup. Ia yakin, dia menunggunya untuk menjemputnya.

Di bawah foto itu ada pesan, "Dapatkan Si Detektif Pemaksa : Viper. Maka Kalian Bisa Menangkap Yoon Seung Ro".

Soo Ji: Kali ini, Yoon Seung Ro lagi.

Bo Mi: Itu berarti, kasus ini untuk kita bertiga lagi.

Soo Ji: Tidak, lebih dari itu. Daejang juga perlu kita libatkan.


Kyung Soo menunjukkan berkas yang ia kumpulkan selama ini, semua itu adalah hasil penyelidikan pribadinya. Tidak ada saksi mata, foto terbarunya pun yang ada hanya di selebaran itu. Ibunyatidak terekam dalam CCTV manapun setelah itu. Terakhir kali, ibunya meneleponnya memakai nomor rahasia. Ia mencoba menyelidiki riwayat panggilannya, sayang itu nomor ilegal.

Bo Mi: Itu berarti, kau sudah mencari kemana-mana namun tidak menemukan apa pun.

Soo Ji menemukan sebuah usernamae dan password. Kyung Soo juga tidak tahu apa itu. Kyung Soo sudah memeriksa semua website tempat ibunya teregistrasi. Tapi, tidak ada hubungannya.

Bo Mi: Bukankah itu terlalu panjang untuk jadi password website? Bukankah itu gabungan ID dan password? Ibuku juga... ering lupa hal semacam itu, maka aku tuliskan untuknya.

Kyung Soo: Tapi aku sudah memeriksa semua website yang ibuku menjadi anggotanya.

Soo Ji: Dia mungkin meregistrasikan diri memakai nama orang lain?

Kyung Soo: Ibuku... hanya ibu. Dia memang mengidap depresi, tapi dia hanya ibu rumah tangga biasa. Tidak mungkin dia sampai memakai identitas orang lain untuk menyimpan rahasia begitu.


Soo Ji: Mungkin untuk mengoreksi kesalahannya di masa lalu... dia membutuhkannya?


Reporter Jang menunjukkan artikel yang ditulisnya. "Lee Shin Hyuk Dijatuhi Hukuman 6 Tahun Penjara Atas Kasus Mata-Mata" dan "Seorang Pria Berusia Empat Puluh Tahunan Ditahan Atas Pembunuhan Istrinya".

Reporter Jang: Dia kehilangan ibunya akibat sang ayah tiri yang merupakan korban tindak penekanan.

Eun Hyuk: Maka anak itu pasti bingung,  atas kematian ibunya, siapa yang harus disalahkan.

Reporter Jang: Tidak, mungkin saja tidak. Setelah dia kehilangan ibunya, Lee Shin Hyuk dan putranya menjadi musuh anak itu. Satu saat, dia memukuli putra Lee Shin Hyuk sampai dilarikan ke rumah sakit.

Eun Joong: Bukannya mereka sangat dekat?

Reporter Jang: Darah lebih kental daripada air.


Reporter Jang ada urusan lain jadi ia tidak bisa menemani Eun Joong berkunjung. Tapi sebelum pergi, ia menunjukkan loket untuk mengurus kunjungan.

"Tapi, Geomsanim (Jaksa). Lee Shin Hyuk-ssi... mengatakan kasus mata-mata itu adalah rekayasa. Katanya, yang terjadi pada dirinya sekarang adalah karena pernyataannya itu. Tidak ada kejelasan akan hal itu. Aku hanya ingin menyampaikannya saja. Hati-hati."

"Ya."


Ibunya Kyung Soo benar-benar meregistrasikan diri atas nama orang lain. Itu adalah Password sebuah email. Kyung Soo tidak mengenal orang itu, ia penasaran kenapa ibunya menggunakan ID orang itu.

Bo Mi memeriksa kotak masuk email itu tapi kosong. Soo Ji pernah melihat yang seperti itu dalam proses investigasi. Agar tidak meninggalkan jejak pesan terkirim, mereka saling berbagi ID dan password dan bertukar informasi memakai kotak arsip sementara. Setelah pesan diperiksa, segera dihapus.


Tapi masih ada satu pesan di kotak arsip sementara dan dikirim untuk dirinya sendiri. Subjek: wahai pengacara. Tanggal terkirimnya di hari ibu Kyung Soo menghilang.

"Pengacara, aku mendapat telepon dari Viper. Detektif yang mengancamku. Dia mengetahui aku akan menjadi saksi di pengadilan. Jika aku tidak pergi sekarang, nyawa Kyung Soo terancam. Tolong beritahu Kwan Woo. Dia mengenalkan diri sebagai Jang Do Han, tapi aku mengingat wajahnya saat masih kecil, jadi aku langsung mengenali dia. Katakan pada Kwan Woo, aku akan mencaritahu siapa Viper itu. Orang yang selalu dia cari."

Soo Ji: Jang Do Han adalah... siapa?

1 komentar so far

Wuaahhh makin seru cerita nya suka dgn pasangan bo mi kyung soo.. di lanjut mba nulis sinopsis ep selanjutnya...semangat ya mba ..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...