Monday, June 19, 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 11

Sinopsis The Best Hit Episode 11

Sumber Gambar: KBS2


Gwang Jae melihat Hyun Jae di pinggir panggung, ia merasa Hyun Jae akan buat masalah lalu ia segera turun bahkan harus meninggalkan klien.


Saat sedang ribut maslah jam tangan, Gwang Jae menghampiri mereka, bertanya apa yang Ji Hoon lakukan disana.

"Ayah, bukan begitu..." Ji Hoon mencoba menjelaskan tapi ayahnya malah menarik Hyun Jae untuk bicara berdua.


Woo Seung heran, bukannya Gwang Jae dan Hyun Jae baru kali ini bertemu?

"Aku juga penasaran." Jawab Ji Hoon.


Gwang Jae menegur Hyun Jae, sudah dibilang kan untuk diam saja. Hyun Jae menjawab, ia hanya ingin berbuat sesuatu yang baik.

"Buat sesuatu yang baik? Apapun yang ingin kaulakukan, lupakanlah."

"Aish, jangan memerintahku. Lalu, ada apa dengan jam tangan ini?"

"Kenapa dengan jamnya?"

"Ji Hoon bilang ini milik mendiang Ayahnya. Apa kau mati tanpa sepengetahuanku? Kenapa Ji Hoon bersikeras jam tangan ini miliknya?"

"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan."

"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Apa maksudmu?"

"Jangan ubah topik pembicaraan. Apa itu? Kau menyembunyikan sesuatu? Apa Ji Hoon bukan anakmu?"

"Benar. Lee Ji Hoon... bukan anakku."

"Hah?"

"Ji Hoon... Dia adalah anakmu."

"Lihatlah, kau menyembunyikan sesuatu... Apa?"


Hyun Jae refleks memandang Ji Hoon. Dia... apa?


Gwang Jae membawa Hyun Jae, Ji Hoon dan Woo Seung. Ji Hoon bertanya, apa Gwang Jae mengenal Hyun Jae?

"Mengenalnya? Bagaimana aku bisa mengenalnya? Ini pertemuan pertama kita." Jawab Gwang Jae.

"Ini pertama kalinya aku bertemu bocah ini juga." Imbuh Hyun Jae.

"Bocah?" Ji Hoon heran karena Hyun jae bicara kasar pada ayahnya.

Gwang Jae langsung memukul kepala Hyun Jae karena tidak sopan padanya. Hyun Jae pun terpaksa bicara sopan pada Gwang Jae.


Woo Seung mengalihkan pembicaraan, apa yang Gwang Jae dan Hyun Jae bicarakan tadi. Gwang Jae berbohong, ia melihat kalau Hyun Jae adalah penari yang hebat, makanya ingin mengajaknya bergabung tapi ternyata Hyun jae memiliki kepribadian buruk jadi ia tidak jadi merekrut.

"Omong-omong, aku melihatmu tampil tadi, Ji Hoon. Kuharap kau jangan macam-macam. Jangan sampai kau ketahuan mencari label seperti sebelumnya. Aku takkan membiarkan itu terjadi." Ucap Gwang Jae.

"Bukan begitu. Dia hanya ingin hadiah ponselnya. Aku yang mendaftarkannya." Jawab Woo Seung.


Sampai rumah, Gwang Jae memandangi jam tangannya.

Kilas Balik...


Hyun Jae memamerkan jam tangannya pada Gwang Jae, ada inisial namanya juga. Ternyata Hyun Jae juga membelikan satu untuk Gwang Jae, Gwang Jae merasa tidak pantas memakai jam mahal seperti itu.

"Lee Gwang Jae, percaya padaku dan ikutlah denganku."

Kilas Balik selesai...


Hyun Jae sangat syok karena tiba-tiba ia memiliki seorang anak.


Gwang Jae minum sendirian di ruang tamu. Bo Hee keluar untuk mengambil minum, ia lalu menawari Gwang Jae untuk membuatkan makanan.

Gwang Jae bilang tidak usah tapi Bo Hee memaksa, ia akan memotongkan Gwang Jae bauh-buahan.


Saat Bo Hee sibuk mencari-cari dalam kulkas, Hyun Jae membuka pintu depan. Gwang Jae panik melihatnya, ia pun langsung keluar tanpab bilang apa-apa pada Bo Hee.


Bo Hee selesai mengambil bauh tapi saat ia berbalik, Gwang Jae sudah tidak ada disana, ia malah melihat Soon Tae yang baru keluar kamar.

"Kenapa kau makan larut malam begini?" tanya Soon Tae.

"Ini bukan untukku..."

"Nanti kau mengomel lagi kalau berat badanmu bertambah. Makanlah dengan teratur."


Gwang Jae tidak mengerti dengan Hyun Jae, sudah jelas dibilangin jangan sampai ketahuan, tapi kenapa malah masuk rumah?

"Aku sangat penasaran."

"Bagaimana kalau mereka melihatmu?"

"Lalu kenapa? Ikuti aku."

Hyun Jae menyeret Gwang Jae untuk mengikutinya.


Tapi baru beberapa langkah mereka balik lagi. Ternyata ada Ji Hoon dan Woo Seung yang berjalan pulang. Mereka pun bersembunyi dibalik mobil.


Woo Seung sibuk dengan ponselnya untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Ia ingin pekerjaan yang tidak membutuhkan waktu banyak namun diupah tinggi.

Ji Hoon: Kabari aku jika kau sudah bekerja.

Woo Seung: Ya benar. Kau putera pemilik gedung.

Ji Hoon: Pemilik gedung apanya. Ayo naik.

Woo Seung: Aku akan jalan sebentar dulu sebelum naik. Aku tinggal disana diam-diam. Aku tidak boleh dilihat oleh pemilik gedung.

Ji Hoon: Ayo masuk saja. Sudah gelap disini.


Hyun Jae dan Gwang Jae pun keluar setelah mereka masuk. Hyun Jae tidak mengerti bagaimana semua ini terjadi tak peduli bagaimanapun ia berpikir, kalau Ji Hoon adalah anaknya, lalu siapa ibunya?

"Kau tidak tahu?"

"Aku tidak tahu. Aku benar-benar... Aku tidak tahu... Apa Ibunya adalah... Bo Hee?"

"Apa saja yang bisa kau ingat?"

"Sampai kita memenangkan Golden Cup dan aku memberitahumu aku akan pindah label."

"Apa kau tidak ingat kau berkencan diam-diam dengan Bo Hee?"

"Bo Hee dan aku berkencan diam-diam? Kenapa?"

"Kenapa kau bertanya padaku? Kau-lah yang berpacaran dengannya."

"Woah, kurasa aku sudah gila. Jadi, Bo Hee dan aku diam-diam berkencan."

"Aku tidak tahu yang lainnya. Yang kutahu, kalian berpacaran kurang lebih selama setahun. Dan dia tiba-tiba mengandung Ji Hoon. Kemudian, kau menghilang tanpa jejak. Aku mencarimu di seluruh pelosok negeri."

"Jadi, aku berkencan diam-diam dengan Bo Hee. Lalu, dia tiba-tiba mengandung Ji Hoon."

"Lupakan. Tidak perlu memikirkan itu. Baik Bo Hee dan Ji Hoon sudah tidak ada urusan denganmu. Jadi, tinggallah disini diam-diam dan jangan sampai ketahuan. Hanya itu yang bisa kaulakukan untuk kami."


Hyun Jae tidak mau tapi Gwang Jae memaksanya. Gwang jae tidak menyuruh Hyun Jae untuk melakukan apapun, ia hanya menyuruh Hyun Jae tidak melakukan apapun, sekali ini saja, jangan lakukan apapun.

"Tinggallah disini untuk sementara dan cepatlah pergi, mengerti?"


Woo Seung memandori Ji Hoon dan Drill untuk membersihkan kamar mandi. Hyun Jae menengok depan pintu, apa yang mereka lakukan itu?

Woo Seung: Kupikir aku akan tergelincir saat mandi tadi. Terlalu banyak lumut disana.

Ji Hoon: Kelihatannya baik-baik saja, kok.

woo Seung: Hei. Kalian tak pernah melakukan pekerjaan dengan baik.


Drill bertanya, kenapa mereka harus melakukan itu? Woo Seung menjelaskan, lantai kamar mandi jadi berlumut begitu karena mereka menggunakannya dengan seenaknya.

Drill: Kita tidak keberatan tinggal dengan lumut-lumut ini.

Ji Hoon: Hidup lebih baik tanpa lumut.

Woo Seung: Hei, aku bisa melihat tanganmu. Kau mau begadang saja sepanjang malam?

Maka Drill dan Ji Hoon pun menggosok sekuat mungkin. Sementara Hyun Jae memperhatikan Ji Hoon,

"Tidak mungkin. DNA Yoo Hyun Jae tidak mungkin seperti ini." Batin Hyun Jae.


Hyun Jae sampai tidak bisa tidur, ia memperhatikan Ji Hoon lagi dan lagi-lagi geleng kepala. Tidak mungkin!


Paginya mereka berpapasan di depan kamar mandi, Hyun Jae masih saja memperhatikan Ji Hoon.

"Putera? Putera apanya. Lihatlah. Dia bahkan tidak mirip denganmu. Tidak mungkin!"

Ji Hoon hendak lewat tapi Hyun Jae menghalangi jalannya. Ji Hoon lalu menyuruh Hyun Jae memilih, mau ke kiri atau ke kanan.

"Beraninya kau bicara tidak sopan seperti itu kepada yang lebih tua!"

"Yang lebih tua? Yang benar saja. Pindahlah."


Mal Sook meminta bantuan Soon Tae untuk mengeja. Soon Tae sebenarnya hendak olahraga tapi Mal Sooj memaksanya karena itu PR sekolah. Mal Sook menjelaskan kalau Soon Tae tinggal membacakan untuknya.


Soon Tae akan mulai membaca dan menyuruh Mal Sook siap-siap. Tapi ada yang menelfon Soon Tae, Soon Tae pun menjawabnya dan bicara keras.

Soon Tae: Ya, Anjing Gila.

Mal Sook: "Anjing Gila" (Mal Sook menulisnya di buku hariannya)

Soon Tae: Apa? Kau pasti sudah sangat gila.

Mal Sook: "Sangat..."

Soon Tae: Kenapa kau memerintahku?

Mal Sook: "Memerintah..."

Soon Tae: Apa!

Mal Sook: Kakek, Kakek terlalu cepat membacanya.

Soon Tae: Oh, maaf. Mal Sook, kita lanjutkan setelah aku menerima panggilan dulu, ya?


Soon Tae pun melanjutkan bicaranya di luar. Setelah menutup telfon, Cathy memanggilnya "Oppa!", Cathy juga menyapa Gwang Jae, Lee Daepyo.

Cathy: Kenapa Anda sangat sulit ditemui padahal tempat tinggal kita tidak jauh?

Soon Tae: Kau sudah semakin tua, ya.

Young Jae datang, lalu Cathy pamit menuju pada Young Jae.


Soon Tae menggerutu, Cathy itu memanggil semua sanjing dan kucing "Oppa". Gwang Jae sih cuma menganggap Cathy adalah wanita yang berbeda.

"Apa wanita yang sedikit berbeda langka di dunia ini? Jika dipikir-pikir, Young Jae cukup menyedihkan. Dia menyedihkan."

"Kenapa? Young Jae sukses karena isterinya."

"Sukses, apanya. Dia khawatir suami mudanya akan membawa lari uangnya. Dia bahkan tidak mendaftarkan pernikahan mereka."

"Anda tahu semua urusan orang lain."

"Aku Lee Soon Tae."


Young Jae tidak suka  kalau Cathy bicara pada mereka. Cathy sih biasa saja, ia tidak bisa mendiamkan orang yang ia kenal.

"Kau terkadang bersikap pelit, Oppa. Kau manis."

"Aku hanya tidak menyukai itu."

"Kudengar kau mau menunda villanya dan kau mau menempatkan para trainee di dorm?"

"Mereka butuh dorm sebagai tempat tinggal. Tempatnya dekat dengan kantor."

"Soon Tae Oppa takkan menjualnya. Kenapa kau menyulitkan diri sendiri? Kau tidak boleh seperti itu. Aku akan mencarikan tempat untukmu. Makanlah apapun yang kuberikan padamu. Ini belut. Belut."

Young Jae kesal selalu diperlakukan seperti anak kecil begitu. Ia akan melakukannya sendiri, jadi Cathy tidak perlu ikut campur.

"Kapan aku memperlakukanmu seperti anak kecil? Baiklah, aku takkan ikut campur." Tapi Cathy tetap menyuapi Young Jae makan, gayanya seperti menyuapi anak kecil.


Cathy lalu membuka brankas Young Jae membuat Young jae terkejut karena Cathy tahu passwordnya. Cathy mengambil stempel perusahaan, ia berjanji tidak akan ikut campur, tapi ia akan menyimpan stempel itu untuk sementara.

"Apa kau sebelumnya mengotak-atik isi brangkas ini?"

"Apa? Oh, buku catatan Hyun Jae? Aku melakukannya untuk menjahilimu."

"Ah, aku bahkan tidak tahu itu."

"Kau terkejut, 'kan?"

"Siapa bilang? Dan juga, bagaimana aku menandatangani kontrak tanpa stempelku?"

"Kau bisa memberitahuku jika kau membutuhkannya. Atau akan kuberikan padamu kalau kau menangkapku."

Cathy lalu berlarian di kantor Young Jae sambil berteriak minta Young Jae mngejarnya.


Ternyata tulisan cathy itu disampulnya "Oppa? Tebak siapa aku?". Lalu tiba-tiba dibawahnya ada tulisan yang tercetak sendiri.


Itu karena Hyun Jae sedang menulis, "Putera???"

"Apa yang sudah kulakukan? Pertama, aku tiba-tiba melompati 20 tahun? Lalu, aku punya seorang putera yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya... Ahhhh..."


Hyun Jae latihan terus sambil mengingat kata-kata Hye Ri soal apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Kau juga akan tua dan wajib militer. Banyak yang harus kau pikirkan."
Sampai akhirnya Ji Hoon terpeleset keringatnya sendiri yang jatuh ke lantai. Tapi Hyun Jae lekas mengelapnya. Lalu ia kesal dan melemparkan serbetnya.


Drill datang kemudian, ia menyuruh Hyun Jae istirahat. Ji Hoon berkata kalau ia harus menggerakkan badannya supaya tidak banyak pikiran.

"Benar juga. Kalau begitu keluarlah. Ayo cari udara segar dan berbelanja baju training baru. Bagaimana?" Ajak Drill.

"Aku tidak mau."

"Kenapa?"



Tiba-tiba Hye Ri muncul dan bilang mau pinjam Ji Hoon. Drill terkejut, apa Ji Hoon barang gitu yang bisa dipinjam? Dan walaupun Ji Hoon bisa dipinjamkan, ia tak akan mengizinkannya karena mereka akan berbelanja.

Hye Ri meminta ponsel Drill, ia memilihkan online shop. Ia tahu kalau Drill suka barang gratisan, ia menyarankan belanja saja di toko itu. Lalu ia menarik Ji Hoon.


Hye Ri membawa Ji Hoon ke atap, ia menyodorkan makanan kotak pada Ji Hoon, ia ingin Ji Hoon memakannya lalu mengatakan bagaimana rasanya padanya.

"Kau bisa memakannya."

"Aku akan debut. Aku harus menjaga berat badanku. Kau takkan debut, 'kan."

"Terima kasih sudah mengingatkan, tapi kenapa aku..."

"Fans mengirimnya untukku. Apa aku harus membuangnya?"

"Apa?"

"Aku harus memakannya."

"Kudengar kau akan mendapatkan banyak fans saat kau debut. Bagus untukmu."


Ji Hoon pun membuka kotak itu yang ternyata isinya adalah roti. Ji Hoon benar-benar iri pada Hye Ri. Iri dengan sikap Hye Ri yang selalu percaya diri dan pekerja keras, Hye Ri juga berbakat, tidak seperti dirinya.


"Kau tahu cerita Snow White? Anehnya, aku lebih suka Ratunya daripada Snow White-nya." Ujar Hye Ri.

"Hah?"

"Dia bertingkah seperti memiliki semuanya, tapi sebenarnya dia merasa minder. Itulah mengapa dia selalu bertanya pada kaca mengenai dirinya. Aku juga berpikir semua harus bersikap tidak seperti diri mereka yang sebenarnya. Mereka berpikir mereka minder dan merasakan sakit, namun mereka berpura-pura tidak merasakannya. Itu sangat membuatku nyaman. Apa aku terlihat gila?"

"Sedikit. Aku hanya bercanda."

"Lupakan. Bagaimana rasanya?"

"Rasanya seperti keju."

"Lebih spesifik."

"Rasanya seperti keju, tetapi lebih kuat."

"Ya, jadi rasanya seperti apa?"

"Rasanya seperti duduk di tebing Montmartre sambil melihat Menara Eiffel. Kejunya meleleh di mulutmu... Rasanya seperti itu."

"Kau sudah pernah ke Prancis?"

"Apa kau harus kesana untuk tahu?"

"Aku hanya ingin orang lain tahu bagaimana rasa makanan ini. Selanjutnya, coba ini."


Gwang Jae bertingkah aneh. Bo Hee bertanya, apa ada yang ingin Gwang Jae bicarakan padanya?

"Hah? Bukan apa-apa. Apa yang harus kukatakan? Oh, mengenai acara yang kau bintangi, Aku akan bicara dengan Sutradara Lee. Aku akan meminta mereka mengeditnya. Jangan khawatir."

"Tak apa. Aku juga tidak mengkhawatirkannya."

"Kenapa tidak?"


Saat Bo Hee menjelaskannya sambil menunduk meletakkan sesuatu, Hyun Jae muncul di belakang Bo Hee. Gwang Jae panik dan pergi dari sana. Bo Hee lagi-lagi ditinggal sendiri.


Gwang Jae benar-benar kesal dengan Hyun Jae karena tidak mematuhi kata-katanya. Hyun Jae cuma bingung saja, ia ingin bicara pada Gwang Jae tapi tidak bisa menghubungi Gwang Jae.

"Tetap saja, kau tidak boleh muncul begitu saja... Ah, kau memenangkan ponsel saat itu, 'kan?"


Gwang Jae lalu membawa ponsel Hyun Jae ke galeri untuk mendaftarkan nomor. Gwang Jae sangat senang karena ia akhirnya bisa menelfon dan menggunakan internet juga tanpa WiFi.

Gwang Jae ternyata memasang GPS pada ponsel Hyun Jae dan menginstalnya ke ponselnya. Hyun Jae histeris setelah mencoba ponselnya. Gwang Jae lalu menjelaskan pada petugas kalau adiknya agak sakit.


Gwang Jae meminta Hyun Jae merahasiakan nomornya dari anak-anak, soalnya mereka akan mikir aneh karena ia mendaftarkan nomor Hyun Jae menggunakan namanya. Gwang Jae memperingatkan, Hyun Jae hanya boleh menelfonnya jika keadaannya benar-benar penting.

"Jadi, apa yang mau kaukatakan?" Tanya Gwang Jae.

"Aku ingin bertemu Bo Hee."

"Apa?"

"Untuk mencari tahu apa yang terjadi, aku harus bicara dengan Bo Hee..."


Gwang Jae menarik baju Hyun Jae kesal, Dengarkan baik-baik! Entah Hyun Jae mengingatnya atau tidak, Bo Hee sangat menderita selama ini. Sudah ia bilang Hyun Jae tak berhak untuk muncul dihadapan Bo Hee. Yang bisa Hyun Jae lakukan saat ini adalah diam dan anggap saja tidak ada, mengerti?

"Baiklah. Baiklah."


Woo Seung mendapat pekerjaan baru, menjadi badut. Cuaca saat ini sangat cerah, bos-nya tahu kalau nanti bakalan panas tapi ia tetap meminta Woo Seung melakukannya dengan baik.

"Aku sudah dibayar, jadi jangan khawatir. Aku akan bekerja keras!" Janji Woo Seung.

"Oh ya, kau tak boleh membuka kostummu di depan pengunjung."

"Ini bukan pekerjaan pertamaku. Itu aturan dasarnya."


Woo Seung membagikan selebaran pada orang-orang. Ia sangat kelelahan karena di dalam kostum itu suhunya mencapai 40 derajad.


Soon Tae sudah gemas pada Gwang Jae yang selama ini selalu diam saja, bukannya Gwang Jae menyukai Bo Hee?

"Apa? Apa..."

"Dasar bodoh. Dari apa yang kuliah, Bo Hee tak bisa menjadi penyanyi lagi. Sepertinya dia juga tahu. Jika kau menunggunya selama 20 tahun, kau sudah menunggu lama. Aku senang jika kalian bisa bersama."

"Apa?"

"Hei, berandal. Kau pikir kau akan hidup 1.000 atau 10.000 tahun lagi? Berhenti diam saja dan menyesalinya saat kau tua. Jika kau ingin menyatakan cintamu, lakukanlah."

"Apa? Ayolah. Pernyataan cinta apa?"

"Kecuali Hyun Jae kembali hidup, hanya itu yang bisa kaulakukan. Tidak, bahkan sekalipun dia kembali, itulah sesuatu yang tepat untuk kaulakukan. Kau mengerti maksudku kan?"


Hyun Jae kembali mendaftarkan diri untuk bergabung dengan forum itu. Ia mengetikkan selai kacang untuk pertanyaan apa yang tidak bisa dimakannya. Tapi ia harus menunggu lagi untuk jawaban selanjutnya. Hyun Jae kesal, ia tutup saja laptopnya.


Hyun Jae mengambil buku-buku Ji Hoon, buku catatan Ji Hoon dipenuhi teknik-teknik dance.


Woo Seung istirahat sebentar karena terlalu lelah dan kepanasan. Ia duduk sambil memeriksa ponsel dan ada pesan kalau kelas Instruktur Lee dijadwal ulang pukul 4 sore. Woo Seung bingung karena kerjaannya belum selesai jam segitu.

Lalu Hyun Jae menelfonnya, Hyun Jae berbohong kalau ia meminjam ponsel seseorang.

"Apa maumu?" Tanya Woo Seung.

"Aku... Aku hanya bosan. Ngobrollah denganku kalau kau tak sibuk."

"Kau sudah gila? Apa yang kaulakukan? Aku sibuk. Dah!"

"Dasar sok sibuk. Ya sudah."

"Tunggu! Hei. Dimana kau?"

"Aku? Aku selalu dirumah."

"Kau harus membayar utangmu. Aku akan memotong setengahnya. Kau bisa datang sekarang?"


Soon Tae berpakaian rapi, Bo Hee bertanya, ia mau kemana. Soon Tae menjawab kalau ia ada rapat silver dari Asosiasi Para Manajer. Bo Hee bertanya lagi, kenapa Soon tae harus kesana?

"Hei, apa kau tahu berapa banyak hal yang didiskusikan disana? Kau tidak tahu? Dan juga, apa kau bisa menjemput Mal Sook di perhentian bus? Ah, omong-omong... Kau tahu besok hari apa?"

"Apa?"

"Besok... adalah hari peringatan Hyun Jae menghilang. Besok juga, ulang tahun Kwang Jae. Itu hari dimana temannya meninggal. Selama 20 tahun dia tak pernah merayakan ulang tahunnya. Aku ingin merayakan ulang tahunnya untuk tahun ini. Bagaimana?"


Bo Hee hanya diam saja. Soon Tae lalu memutuskan, ia aiak melakukan apapun yang ia inginkan. Ia mengajak Bo Hee makan malam untuk merayakan ulang tahun Gwang Jae.

"Aku akan mengurusnya." jawab Bo Hee.

"Apa maksudmu kau yang akan mengurusnya? Aku akan mengatakan ini karena kita sedang membicarakannya. Apa kau tidak kasihan dengan Gwang Jae? Jika aku jadi dirimu, aku pasti sudah akan bersama Gwang Jae... Intinya, aku akan mengadakan makan malam untuk ulang tahun Kwang Jae. Kau mengerti?"

Bo Hee pura-pura sibuk mengelap saat Soon Tae bicara begitu tapi setelah Soon Tae pergi, ia menunjukkan wajah sedihnya.


Hyun Jae pun datang ke tempat kerja Woo Seung setelah mendengar cerita WOo Seung bahwa kelasnya tiba-tiba diubah jadi sore.

"Dia mengerjakan semua pekerjaan. Apa dia akan mencoba melakukan semua pekerjaan paruh waktu di dunia ini?" Gerutu Hyun Jae.


Ia lalu mendekati Woo Seung. Ia bertanya, apa ia harus melakukannya?

Woo Seung: Bagaimana caranya seseorang hanya mau melakukan yang mereka inginkan? Tunggu disini, aku akan berganti pakaian.

Hyun Jae: Aku tak ingin melakukannya.

Woo Seung: Jadi, siapa yang menyuruhmu meminjam uang? Itu semua uangku. Kau benar-benar tidak takut.


Saat menunggu Hyun Jae berganti kostum, ibunya menelfon. Woo Seung agak kesal sebenarnya karena ia sibuk.

"Ibu juga sibuk. Jadi aku akan langsung saja. Kau punya tabungan? Ibumu ini bisa masuk penjara nanti. Ibu akan menggunakkannya dan segera menggantinya."

"Apa maksud Ibu? Katakan padaku apa yang terjadi."

"Ibu sulit mengatakannya sekarang. Namun jika usaha ibu sudah lancar, Ibu akan membayarnya berkali-kali lipat. Woo Seung, kau mendengarkan Ibu?"


Woo Seung terluka mendengar perkataan ibunya, ia tidak peduli jika ibunya masuk penjara sekalipun. Ibu tidak mengerti, haruskah Woo Seung bicara sekasar itu?

"Apa Ibu benar-benar Ibuku? Sudah lama Ibu tak menghubungiku. Bukankah Ibu seharusnya menanyakan apa aku sudah makan atau belum? Ibu harusnya bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak. Karena aku melaksanakan ujian, tanyalah apa aku mengerjakannya dengan baik atau tidak. Tanyalah apa aku akan gagal dalam ujian atau tidak. Bukankah seharusnya Ibu menanyakan itu padaku? Ibu macam apa kau?"


Woo Seung menutup telfon, matanya sudah berair, ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh. Hyun Jae menyadari itu, ia lalu memakaikan kepala kostumnya pada Woo Seung.

Hyun Jae lalu duduk disebelah Woo Seung, "Kurasa kau membutuhkannya."

Woo Seung pun menumpahkan tangisnya.

1 komentar so far

Oh Anak kandung Hyun Jae adlh Ji Hoon tpy Woo Seung jga punya nama dpn Yoo tpy krna Hyun Jae menghilang ibu ny menganti nama ny manjadi Cha Woo Seung ahhhh benar2 aneh :/ tpy masak Ji Hoon gx perna lihat foto ayah ny smpai2 gx tw klo Hyun Jea adlh ayah kandung ny :/ lanjut deh ep 12 :) makasih ;)

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon