Tuesday, June 20, 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 12

Sinopsis The Best Hit Episode 12

Sumber Gambar: KBS2


Gwang Jae mendatangi toko perhiasan untuk mendiskusikan kontrak artisnya yang disewa manjadi model. Lalu ia bertanya apa cincin wanita yang paling laku disana. Ia hanya ingin melihatnya.


Woo Seung memuji Hyun Jae yang sepertinya cukup banyak mengerti tentang pekerjaannya tadi, ia bahkan dapat banyak bonus karena Hyun Jae sudah membagikan cukup banyak brosur.

"Hei, aku tidak bisa mengerjakan sesuatu yang belum aku kerjakan sebelumnya. Tapi aku bisa mengerjakan apapun jika aku menginginkannya."

"Aigoo.. Inilah kenapa aku malas memujimu, walau cuman sedikit."

"Oh, aku mau bertanya sesuatu. Tentang Ji Hoon... apakah dia sedang mempersiapkan ujian masuk PNS?"

"Ji Hoon adalah seorang trainee. Tetapi dia merahasiakannya dari keluarganya."

"Apa? Seorang trainee? Apa itu?"

"Kau bahkan tidak tau apa itu trainee? Trainee adalah orang yang mau menjadi seorang idol."

"Idol? Maksudmu... penyanyi? Begitu caranya untuk menjadi penyanyi sekarang ini?"

"Ya, sudah tiga tahun dia menjadi trainee. Karena Ahjussi tidak menyetujuinya."

"Ahjussi? Apa yang kau maksud Gwang Jae?"


Woo Seung langsung memukul kepala Hyun Jae. Beraninya Hyun Jae memanggil orang dewasa hanya dengan namanya? Hyun Jae kira Ahjussi adalah temannya?

"Wah! Jadi, maksudmu Gwang Jae... Ahjussi... menentangnya?"

"Mungkin karena dia sudah bekerja di industri entertainment sudah cukup lama. Tapi Ahjussi tidak mau Ji Hoon memiliki kehidupan seperti itu. Ji Hoon bilang dia ingin menjadi selebriti dan ikut audisi di beberapa agensi. Tapi Ahjussi pergi kesana dan mengacaukan segalanya. Dan dia bilang bahwa dia tidak akan mengijinkannya."

"Benarkah?"

"Tapi sejak kapan kau sangat memperhatikan Ji Hoon?"

"Tertarik? Siapa, aku? Tidak!"

"Oh! Aku tadi melihat barang baru yang kau suka di perjalanan pulang, jadi aku membelinya. Anggap saja ini bonusmu karena sudah bekerja hari ini. Ada di dalam kamarmu."

" "Barang baru?" Apa maksudmu?"


Hyun Jae langsung mencari "barang baru" yang dimaksud Woo Seung dan ia menemukan sepatu di tas belanjaan. Girang lah ia dan langsung mencobanya.

"Sebenarnya ini bukan seleraku, tapi dia terlihat bersungguh-sungguh. Bagaimana bisa seorang pekerja paruh waktu tahu ukuran sepatuku?"


Ji Hoon datang, ia terkejut melihat sepatu hadiah untuk ayahnya dipakai Hyun Jae.

"Hei, apa yang kau lakukan? Buka sekarang! Zzz!"

Ji Hoon melepas paksa sepatu itu dari kaki Hyun Jae, lalu memasukkannya kembali ke wadahnya. "Jangan coba-coba menyentuhnya!"


Setelah mengatakannya Ji Hoon keluar, giliran Woo Seung yang masuk ke dalam. Woo Seung bertanya kenapa Ji Hoon uring-uringan begitu.

"Kenapa dia seperti itu mengenai barang yang baru kau beli untuk aku?" Hyun Jae balik bertanya.

"Barang baru? Barang baru apa maksudmu?"

"Sepatu!"

"Sepatu? Yang mana... Apa yang kau maksud sepatu baru yang ada disini?"

"Iya."

"Ji Hoon membeli sepatu itu untuk hadiah ulang tahun Ahjussi."

"Apa? H... hadiah ulang tahun? Lalu dimana 'Barang baru' ku?"

Woo Seung menunjuk kimbab segitiga rasa baru, melon dan iga pedas. Hyun Jae kesal, kenapa sih Woo Seung membuatnya bingung?


Woo Seung menyusul Ji Hoon keluar dan tiba-tiba ia berbaring di paha Ji Hoon. Woo Seung mengeluh kalau hari ini sangat melelahkan. Ji Hoon pun bertanya, memangnya apa saja yang Woo Seung lakukan hari ini?

"Hanya ini itu, untuk memenuhi kebutuhanku. Oh ya, tentang sepatunya. Jangan marah. Da Bong tidak sengaja melakukannya. Itu hanya kesalah pahaman."

"Kesalah pahaman apa maksudmu? Jadi, apa kau sudah mendapatkan pekerjaan paruh-waktu?"

"Sudah kubilang, aku mengerjakan apa saja untuk mendapatkan uang."

"Tapi kau juga harus beristirahat."

"Kau pikir aku tidak ingin beristirahat? Jika terserah padaku, aku sudah pergi ke sebuah pulau di Pasifik dan tidur selama beberapa hari. Aku juga akan tiduran dan memakan banyak sashimi. Dan apakah kau senang, Lee Ji Hoon? Maksudku, sekarang?"


Ji Hoon merasa kebahagiaan itu tidak penting. Woo Seung membenarkannya, kebahagiaan tidak begitu penting. Setelah menjalani hidup, Woo Seung baru sadar bahwa kebahagiaan sebenarnya tidaklah jauh. Tidak ada kebahagiaan disekitar mereka, api juga tidak ada ditempat yang jauh. Hal seperti itu tidak ada, titik.


Ji Hoon: Mendengarmu berkata seperti itu membuatku kecewa. Bukankah memiliki teman disampingmu membuatmu cukup bahagia? Sejujurnya, kau juga tidak memiliki banyak teman sepertiku.

Ji Hoon melihat Woo Seung dan ternyata Woo Seung sudah tertidur. Ji Hoon pun menyuruh Woo Seung lanjut tidurnya, tapi jangan mimpi. Hanya tidur saja yang nyenyak.


Drill menanyakan Ji Hoon pada Hyun Jae. Hyun Jaae yang sedang asyik main game bilang tidak tahu dan ia heran kenapa ia harus tahu dimana Ji Hoon.

"Karena kau selalu di kamarnya, bro." Jawab Drill.

Drill lalu menitipkan barang-barang Ji Hoon dari loker yang sudah dia siapkan, tapi dia lupa. Ia meminta Hyun Jae memberitahu dia jika ia yang membawakannya ke sana.

"Tidak mau."

"Brow, sepertinya kau sudah tertular kepribadian Woo Seung. Karena kalian berdua sering berduaan. Oh my god. Yasudah, aku letakkan disini saja."


Hyun Jae penasaran juga apa isi barang-barang itu. Ia lalu memeriksanya dan ada kartu identitas trainee Ji Hoon disana. Hyun Jae memasukkannya kembali karena merasa semua itu sampah. Ia teringat kembali pendaftarannya ke forum itu, apa sudah diterima ya?


BTW, tas barang-barang Ji Hoon dan tas tempat sepatu hadiah untuk Gwang Jae sama persis. Saat tidak ada siapa-siapa di kamar, Ji Hoon mengambil tas berisi barang-barangnya karena ia kira itu tas berisi sepatu.


Ji Hoon lalu memberikannya pada ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Gwang Jae merasa tak enak karena Ji Hoon kan tidak memiliki uang banyak.


Ji Hoon bilang tidak mahal kok lalu ia pamit tapi ayahnya memanggilnya.

"Kau belajar dengan rajin, kan? Aku percaya padamu."

"Ya."

"Baik. Pergilah."

Gwang Jae akan membuka hadiahnya tapi ada yang menelfonnya, jadinya ia tidak jadi membukanya.


Gwang Jae akan pergi dengan artisnya. Soon Tae yang kebetulan ada di depan menanyakan tujuan mereka.

"Mereka mendapatkan sponsor dari dokter kulit mereka, jadi aku akan mengantar mereka."

"Oh. Pulanglah lebih awal. Ayo makan malam bersama."

"Huh? Ada apa?"

"Apa maksudmu? Pulang saja lebih awal."


Woo Seung mencari-caripekerjaan paruh waktu lain dan ia menemukan satu di Star Punch, ia agak tertarik karena lokasinya tepat di depan rumah Ji Hoon.


Hyun Jae melihat tas sepatu untuk Gwang Jae masih ada disana, padahal ia tadi melihat Ji Hoon membawanya turun.

"Apa barangnya tertukar? Ugh, dia sangat gegabah."

Tapi Hyun Jae teringat kalau Ji Hoon merahasiakan status trainee-nya pada keluarga, sementara di tas yang keliru itu ada kartu anggota Ji Hoon. Hyun Jae awalnya tidak peduli, tapi ia tidak tega juga.


Hyun Jae diam-diam masuk rumah. Ia berhasil menuju kamar Gwang jae dan menukar tas itu tanpa ketahuan. Tapi saat ia keluar bersamaan dengan Bo Hee yang akan masuk, ia panik lalu masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi.


Gwang Jae menelfon Bo Hee. Gwang Jae ada di dekat tempat akademi Ji Hoon, jadi ia akan mempir untuk makan siang bersama.

"Kau pikir dia punya waktu luang?"

"Aku hanya akan membelikannya makan siang siap saji."


Ji Hoon selesai latihan, Drill memanggilnya untuk cepat karena mereka akan makan daging hari ini. Ji Hoon menyuruh Drill duluan saja.


Saat membuka ponsel, Ji Hoon membaca pesan dari Gwang Jae.

"Aku sedang menuju ke tempat akademimu untuk membawakan belut kesukaanmu untuk makan siang. Kau di kelas berapa?"


Ji Hoon panik karena mendadak sekali. Ia bergegas ke akademi dengan berlari. Ia juga sambil menelfon Ayahnya.

"Kau dimana? Aku ada di lobi." Kata Gwang Jae.

"Aku tak bisa banyak bicara karena sedang ada kelas."

"Apa?"

"Aku sedang ada kelas!"

"Hah?"

"Aku ada di kelas!"

"Oh, kau di kelas? Jam berapa kau selesai? Oh, sepertinya kelasnya sudah selesai, aku mendengar suara bel. Kau di kelas berapa?"

"Ya, tunggullah di lobi sebentar lagi!"


Ji Hoon sudah sampai di lobi, ia menelfon ayahnya lagi tapi ayahnya ternyata sudah jalan ke kelas Ji Hoon, di lantai 3 kan?

"Tidak, aku sedang tidak berada di kelas."

"Kau bilang tadi ada di kelas."

"Tidak, aku tak pernah mengatakannya!"

"Jadi, kau ada dimana?"

"Aku ada di ruangan rekaman di lantai 8 bersama teman-teman! Tunggulah di lantai 3, aku akan segera kesana."

"Oh, tak perlu kesini. Aku akan kesana."

Ji Hoon naik tangga sambil berlari, ia akhirnya sampai di lantai 3. Nafasnya tersenggal, ia sangat-sangat lelah.


Gwang Jae akhirnya bertemu Ji Hoon di lantai 3, ia heran dengan keringat Ji Hoon itu, apa terjadi sesuatu?

"Itu... Aku punya urusan mendadak." Jawab Ji Hoon.

"Urusan? Urusan apa?"

"Itu... Ayah tahu, nomor dua."

"Nomor dua? Hei, kenapa kau buang air besar sampai segitunya?"

Gwang Jae tersenyum lalu memberikan manakan yang ia bawa.


Woo Seung tiba-toba muncul setelah dari toilet. Gwang Jae terkejut ternyata Woo Seung les disana juga, tahu gitu sekalian ia belikan makan siang juga.


Woo Seung bicara dengan Ji Hoon dengan hanya menggerakkan bibir. Ia bertanya apa yang terjadi dan Ji Hoon hanya menjawab ada sesuatu.


salah satu profesor bertanya, apa Ji Hoon (yang kita tahu adalah Woo Seung) sudah sudah selesai dengan print-outnya? Woo Seung diam saja, Ji Hoon yang mengambil alih.

"Oh, um, Ji Hoon belum menyelesaikannya. Ji Hoon bilang dia akan segera menyelesaikannya."

"Um, siapa kau?" tanya Profesor

"Teman Ji Hoon, Woo Seung."

Lalu Gwang Jae mendapat telfon lalu pamit pergi. Untungnya tidak curiga sama sekali.


Hyun Jae kelamaan sembunyi di toilet sampai kakinya sakit, ia juga haus dan terpaksa minum air keran.


Ia akhirnya mencoba keluar setelah mendengar tidak ada siapapun disana, tapi saat akan menuju pintu, Soon Tae masuk.


Hyun Jae pun sembunyi dibalik sofa biar gak ketahuan.


Soon tae masuk ke kamarnya, Hyun Jae pun buru-buru keluar lagi tapi Mal Sook malah akan masuk, ia pun sembunyi lagi, kali ini dibawah meja makan.

Mal Sook minta jajan sama Soon Tae. Lalu Soon Tae membuka kulkas untuk memilihkannya. Hyun Jae memanfaatkan saat mereka sibuk di kulkas untuk keluar tapi Bo hee masuk. Hyun Jae pun kembali sembunyi di kamar mandi.


Gwang Jae ditelfon kenalannya soal artikel untuk asrama para Trainee Star Punch. Ia lalu meminta temannya itu untuk mengirimkan artikel itu.

Gwang Jae terkejut membaca Artikel itu. "Star Punch membangun dorm untuk para trainee di Dongdaemun-gu, Jeonnong-dong". Ia sadar kalau lokasinya adalah gedung mereka.


Soon Tae memperhatikan Bo Hee yang sedang memasak. Mal Sook menegurnya, nanti mata SOon Tae bisa copot kalau melihatnya sampai seperti itu.

"Mal Sook-ah, apa dia buat makanan untuk makan malam ulang tahun? Atau untuk peringatan hari kematian?"

"Entahlah."

"Kelihatannya seperti peringatan kematian, 'kan?"

"Kurasa tidak. Siapa yang membuat japchae untuk peringatan kematian?"

"Kau benar. Japchae dihidangkan untuk pesta."

"Ya. Jika dia membuat japchae, itu untuk pesta."


Tapi kemudian Bo Hee mengeluarkan kacang kastanye yang identik untuk upacara kematian. Mal Sook menenangkan, kacang kastanye digunakan untuk iga berbumbu. Soon Tae pun kembali berpikir kalau Bo Hee masa untuk pesta ulang tahun.

Dan yang terakhir, Bo Hee mengeluarkan kurma. Mal Sook kembali menenangkan, Bo Hee kelihatannya sedang membuat nasi bumbu yang sangat disukai Gwang Jae.

"Nasi bumbu... itu berarti dia sedang menyiapkan untuk pesta? Makanan yang dia buat ada dimana saja! Apa dia melakukannya untuk membuatku bingung?"


Ji Hoon kembali ke Star Punch dengan wajah lesu. Drill khawatir, ada apa memangnya. Ji Hoon cuma menjawab kalau ada sesuatu.

Lalu teman mereka yang akan debut lewat. Drill menyapa mereka tapi dicuekin.

"Wow. Ya... wow. Lihat dia, dia pura-pura tak kenal kita setelah dia jadi terkenal."

"Kenapa kau harus menyapanya? Apa kau tak punya harga diri?"


Ji Hoon sangat terkejut saat melihat ayahnya ada di lift tak jauh dari mereka, ia langsung mengajak Drill bersembunyi.


Tapi ia tidak bisa sembunyi disana terus karena ayahnya semakin dekat dengan mereka. Akhirnya ia menghampiri teman-teman tadi untuk minta ttd.

"Hei, berikan aku tanda tanganmu. Adikku adalah fans beratmu."

Tapi Drill malah menaikkan kausnya sampai menutupi mukanya. Temannya heran, bukannya untuk adik tapi kenapa mau TTD di badan?

"Sebenarnya, akulah fansmu."


Dengan begitu, Ji Hoon bisa lolos dari ayahnya. Tapi setelahnya ia malu sekali.


Young Jae menanyakan dimana letak tidak sukanya MJ. Tapi MJ hanya menjawab tak menyukainya, ia tidaj bisa menjelaskannya secara spesifik.

"Katakanlah! Apa yang tak kau sukai?"

"Ini... dan itu."

"Apa maksudmu?"

Dan tiba-tiba Gwang Jae masuk paksa ke ruangannya. MJ menggunakan kesempatan itu untuk keluar.


Gwang Jae mempertanyakan maksud Young Jae mengenai gedung asrama untuk para Trainee itu.

"Lalu apa? Apa aku harus membicarakan urusan perusahaanku denganmu?"

"Tapi kau akan menghancurkan gedung kami untuk membangunnya!"

"Oh. Kurasa bangunan itu akan segera dijual. Dan aku sangat suka lokasinya."

"Hei, bagaimana kau bisa begini padaku?"

"Sebenarnya, aku ingin melakukan sesuatu yang lebih jahat lagi. Tapi aku menahan diri."

"Kau pikir aku akan menjual gedung itu?"

"Bukankah kau seharusnya berbicara dengan pihak bank perihal itu? "

"Kau sialan!"

Sekretaris Young Jae segera bertindak, ia menarik Gwang Jae keluar dari sana.


Soon Tae harus menggunakan toilet tapi pintunya tidak bisa dibuka karena Hyun Jae menahannya dari dalam. Sementara mereka mengira pintunya macet, Bo Hee menggunakan obeng untuk membukanya tapi tetap tidak bisa.


Hyun Jae tidak bisa selamanya disana, ia lalu melihat lubang ventilasi di atap. Ia pun naik kesana. Pintu akhirnya bisa terbuka tapi terlembat, Soon Tae sudah kencing di celanan.


Bo Hee menatap sedih kalendar di kamarnya, ia ternyata sudah menandai hari peringatan kematian Hyun Jae.


Gwang Jae sampai rumah, ia melihat cincin yang ia beli tapi ia kembali menyimpannya di mobil.


Pertanyaan Soon Tae akhirnya terjawab. Bo Hee memasak untuk peringatan kematian Hyun Jae dan sekarang ia sedang mempersiapkannya.

"Aigoo, jadi semua makanan yang kau siapkan untuk peringatan kematian? Benar, 'kan? Apa susahnya merayakan ulang tahun Kwang Jae sekali saja setelah apa yang dia lakukan untukmu selama 20 tahun ini?"

"Aku ingin mengadakan peringatan kematian untuknhya."

"Kenapa kau melakukannya? Dan setelah 20 tahun berlalu."

"Hyun Jae tak punya keluarga untuk menyiapkan peringatan kematiannya. Aku akan melupakannya mulai sekarang."

"Ya, bagus sekali!"

"Tapi... aku merasa tidak enak karena aku tak pernah melakukan peringatan kematian untuknya. Karena aku percaya dia masih hidup. Mulai sekarang, dia sudah kuanggap mati."


Gwang Jae mendapat pesan dari pihak Bank. Mereka akan menyita gedung Gwang Jae karena hutang terus membengkak. Hyun Jae sedih.


Tapi saat ia masuk ke rumah, ia menunjukkan senyum lebar.

Gwang Jae: Aroma apa ini? Aku bahkan bisa menciumnya dari luar! Apa hari ini hari yang spesial?

Soon Tae: Oh, dasar bodoh. Hari ini ulang tahunmu!

Gwang Jae: Huh? Tapi ini makanan untuk peringatan kematian.

Soon Tae: Mari kita mengirim Hyun Jae terlebih dulu lalu merayakan ulang tahunmu.

Bo Hee: Aku akan menyiapkan makanan ulang tahunmu setelah upacara ini selesai.


Ji Hoon datang. Bo Hee lalu menyuruhnya untuk ganti baju. Ia meminta Gwang Jae meminjamkan miliknya.


Sementara itu, Hyun Jae terjebak di lubang udara. Ia terus jalan mencoba mencari jalan keluar.


Soon Tae menyuruh Ji Hoon menuangkan alkoholnya. Ji Hoon awalnya bingung tapi ia melaksanakannya juga.

Soon Tae: Aku banyak salah dengannya, jadi lupakanlah sekarang. Aku juga akan melupakan semuanya, jadi kau lupakanlah juga, berandal. Dan juga, tak perlu memerhatikan formalitas. Kita akan melakukan penghormatan bersama-sama.

Lalu semuanya bersujud di depan meja peringatan.


Hyun Jae sampai tepat di atas meja peringatan, ia melihat fotonya diatas meja itu.

Bo Hee mengucapkan selamat tinggal untuk Hyun Jae.


Hyun Jae melewati jaring-jaring di lubang itu tapi ternyata sudah lapuk. Maka Hyun Jae terjun kebawah. Semua terkejut karena tiba-tiba ada orang jatuh dari atap. 

-= E P I L O G =-


Hyun Jae mencari cara membuat e-mail di internet.


Hari berikutnya, Ji Hoon menggunakan laptop itu untuk mencari kado apa yang tepat untuk Ayah. Lalu mencari "cara membuat pria agar terlihat menarik di mata wanita". Ia mencatat semua tips-nya di telapak tangan.

*Menjadi pendengar yang baik
*menjadi seseorang yang mengertian
*puji dia
*kontak mata


Drill juga ikut menggunakan laptop, ia mengetikkan namanya di mesin pencari. Tapi tidak ada yang membahas mengenai dirinya hnaya arti kata Drill itu (Sebuah benda: Alat yang memiliki kepala untuk membuat lubang).


Woo Seung turun tapi Drill cepat-cepat menutup laptopnya. Woo Seung curiga, jangan-jangan Driil sedang melihat video porno.

"Oh, ayolah. Tidak."

"Benar, kok! Kau melihatnya! Kau memang kelihatannya suka yang begituan."

"Sudah kubilang, bukan! Dan juga, apa yang salah dengan penampilanku?"

"Ugh, cukup. Jangan mendekat."

"Ugh, yang benar saja! Hei, lihat! Aku mencari mengenai diriku. Lihat! Aku mencari mengenai diriku! Ini, lihatlah!"

"Sudahlah, jangan mendekat!"


Di layar laptop ada email masuk. Hyun Jae berhasil bergabung dengan forum "Pertanyaan-pertanyaan mengenai hilangnya Yoo Hyun Jae"

2 komentar

Terima Kasih MBA Diana atas sinopsis nya..di tunggu ep selanjutnya...semangat nulis nya mba.dan di lanjut nulis lookout nya ya..hehe..

Ya biar bagaimana pun Hyun Jae adlh ayah ny Ji Hoon mn tega dy klo anak ny dimarahin maka ny dy berusaha ganti tas belanjaan brisi sepatu dgn tas berisi id card Treenir ny Ji Hoon, Sumpah ini dramma lucu bgt, Makasih :) ditunggu sinopsis2 yg lain ny ;) jgn lama2 ngeposting ny hehehe :D

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...