Saturday, June 10, 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 6

Sinopsis The Best Hit Episode 6

Sumber Gambar: KBS2


Gwang Jae terus berusaha menghubungi kenalannya untuk meminjam uang tapi sepertinya hasilnya nihil.


Soon Tae pulang dan ia berjalan lemah. Ia berkata kalau Jung Sajang sudah meninggal.

"Jung Sajang... Maksud Anda... Jung Sajang dari TOP Records?"

"Ya."

"Dia benar-benar baik-baik saja! Kenapa, tiba-tiba?

"Dia serangan jantung. Dia selalu lupa kapan hari ulang tahunnya. Kenapa dia cepat sekali mendahului kita?"


Soon Tae ke atas, ia mengambilsebatang rokok yang ia sembunyikan.

"Aku seharusnya juga sudah pergi. Ya, benar. Aku tidak boleh menyusahkan dan pergi saja. Tanpa kebencian dan penyesalan. Hei, Hyun Jae! Jika kau mau menyusahkan, kenapa kau tak panggil aku saja. Panggilah! Mengerti?"


Soon Tae akan menyalakan rokok itu tapi ia terhenti saat nelihat seseorang tertutupi selimut yang dijemur. Soon Tae terkejut dan mendekatinya.


Soon Tae menyibak selimut itu, ia terkejut bukan main karenya dibaliknya ternyata adalah Hyun Jae dengan dandanan ala 'malaikat maut'.

"Apa itu kau, Hyun Jae?"

"Tunggu, bukan. Bukan."

"Aku tak bisa pergi! Aku hanya mengatakannya saja! Aku belum bisa... Hei, aku tidak bisa pergi sekarang!"

Hyun Jae hendak menjelaskan tapi saat ia semakin mendekat, Soon Tae menyuruhnya pergi dan Soon Tae cepat-cepat berlari ke bawah saat ada kesempatan.


Soon Tae mengadu pada Gwang Jae kalau Hyun Jae berubah menjadi malaikat maut dan hendak membawanya tapi tentu saja Gwang Jae tidak percaya.


Woo Seung ke tempat kerjanya dan ternyata banyak banget sampah yang ditinggalkan pelanggan. Ia mengeluh karena masih banyak yang harus ia pelajari untuk ujian besok.

Kesialan Woo Seung tidak sampai disitu, saat ia hendak membungan sampah, tiba-tiba kresek sampahnya sobek tergores sesuatu jadi sampahnya yang seabrek berserakan di jalan.


Kebetulan Hyun Jae lewat sana dan ia mengenali Woo Seung. Woo Seung bertanya, untuk apa Hyun Jae disana. Hyun Jae menjawab kalau ia lapar.

"Bagaimana kau bisa makan padahal kau tidak tahu siapa dirimu?"

"Kelaparan juga takkan membuatku ingat!"

Hyun Jae menyinggung soal sampah-sampah itu, Woo Seung bikin masalah ya? Woo Seung menyuruh Hyun Jae pergi saja, jangan bikin ia tambah kesal. Hyun Jae memang mau pergi, tidak perlu disuruh-suruh.


Woo Seung berpikir, bagaimana ia bisa membersihkan semua sampah itu. Lalu ia teringat kalau Hyun Jae suka sekali main ponsel.


Woo Seung memanggil Hyun Jae. Ia berjanji akan membelikan Hyun Jae ponsel jika mau membersihkan semua sampah itu.


Hyun Jae entah kenapa malah menurut. Ia membersihkannya walau sambil mengeluh habis-habisan. Woo Seung menungguinya sambil belajar.

"Apa yang kaulakukan disitu?" Tanya Hyun Jae.

"Apa? Kau tidak tahu?"

"Aku tidak akan bekerja keras sepertimu. Pikirkanlah, kau dan Ji Hoon berusaha terlalu banyak untuk sesuatu yang tidak penting."

Woo Seung membalasnya dengan menendang kaleng kosong ke kaki Hyun Jae.


Selanjutnya, Woo Seung mengajari Hyun Jae untuk membuka kimbab segitiga dan Hyun Jae langsung bisa sekali coba, ia pun girang.


Hyun Jae heran, kenapa mereka hanya makan itu saja.

"Maksudmu, kim-seg ini?"

"Kim-seg? Oh, apa itu drama Kim Young Sam, Kim Dae Joong, dan Kim Jong Pil--"

"Bukan. Itu singkatan dari "Kimbab Segitiga"."

"Oh! Apa kau kenyang hanya makan ini? Kita bisa makan yang lain."

"Ini murah. Tapi, semakin aku melihatmu kau semakin aneh. Bagaimana kau bisa lupa untuk melepaskan bungkusannya, karena kau kehilangan semua ingatanmu? Biasanya tubuhmu akan mengingat sesuatu. Atau apa kau lahir dengan sendok perak di mulutmu (kaya)?"

"Sendok perak? Kenapa kau selalu bicara tentang sendok?"

"Karena aku tertarik. Kenapa?"

"Wah, dasar aneh. Aku akan membelikanmu satu set alat makan. Tunggulah. Jadi... apa kau bisa membelikannya satu lagi? Yang rasa tuna. Aku penasaran dengan rasanya."

"Hhhhh..." Woo Seung mendesah.


Ji Hoon sudah di rumah saat mereka berdua pulang bersama. Ji Hoon bertanya, kenapa mereka berdua bersama? Woo Seung menjawab kalau mereka tidak sengaja bertemu.

"Aku sekarang tahu bagaimana caranya membuka bungkusan kimbab... Aku tahu caranya membuka "kim-seg" sekarang." Kata Hyun Jae.


[Hari Ujian]

Ji Hoon mencari-cari sesuatu, sementara Hyun Jae sibuk main ponsel.

"Kau tidak mengutak-atik lemarinya, 'kan?" Tanya Ji Hoon karena barang yang ia cari tidak ada.

"Kenapa? Aku bahkan takkan mau menyentuhnya."

"Kemana itu?"

"Apa maksudmu?"

MC Drill turun, ia menjelaskan kalau Ji Hoon sedang mencari gelang Seung Hyo. Ji Hoon adalah fans berat Tweez. Jadi dia punya gelang Seung Hyo yang bisa membuatnya beruntung kalau dia mengenakan pada hari penting.

MC Drill membantu mencarinya tapi tetap tidak ketemu juga. Tapi Ji Hoon akhirnya menemukannya juga.


Soon Tae masih kepikiran dengan apa yang dilihatnya semalam, ia yakin dia benar-benar Hyun Jae. Gwang Jae membuatkannya air madu (penawar mabuk).

"Kenapa Anda minum banyak sekali? Anda harus memikirkan usia Anda juga!"

"Kau pikir aku berpura-pura karena aku mabuk?"


Bo Hee juga terus memandangi foto Hyun Jae, tak peduli berapa kalipun ia menatap foto itu, tetap saja foto itu sangat mirip dengan Hyun Jae. Ia bertanya-tanya, kapan foto itu diambil?


Semua sudah berkumpul untuk sarapan. Bo Hee memberi Ji Hoon garpu sebagai ganti sumpit karena ini hari ujian Ji Hoon. Menggunakan garpu itu bisa membantunya dalam ujian.


Mal Sook memberikan plaster berharganya pada Ji Hoon. Ia menempelnyapada tangan Ji Hoon supaya nama Ji Hoon 'tertempel' di daftar orang yang lulus.


Gwang Jae memberi Ji Hoon tisu gulung. Ia meminta Ji Hoon mengerjakan soalnya sengan baik seperti saat Ji Hoon menggulung tisu itu.

Soon Tae: Kenapa kau membuatnya tertekan?

Gwang Jae: Aku tidak membuatnya tertekan. Aku menyemangatinya!

Soon Tae: Menyemangatinya dengan cara begitu hanya akan membuatnya tertekan! Kerjakan dengan santai. Mengerti?

Ji Hoon: Ya.

Soon Tae: Oh ya. Jika kau tak bisa menjawab soalnya dengan baik... Pikirkanlah Ayahmu, yang selalu keluar kota tiap saat rumah ini yang sedang berantakan, dan aku yang butuh implan gigi. Semua jawaban akan mengalir dengan sendirinya.

Bo Hee: Jangan pikirkan itu, Ji Hoon.

Soon Tae: Hei, kenapa kau begitu saat orang tua memberinya nasihat?

Bo Hee: Kenapa Anda mengatakan padanya mengenai implan gigi?


Sebelum berangkat, Bo Hee memberikan bekal untuk Ji Hoon.

"Nak! Nak! Nak! Kudengar, makan kue beras bisa membuatmu melewati ujiannya dengan baik. Makanlah beberapa saat kau rasa gugup."

"Baiklah."

"Ibu minta maaf tidak bisa melakukan apapun untukmu."

"Tidak, tidak. Aku akan pergi sekarang."

"Nak, fighting!"

"Fighting!"


Bo Hee masuk ke dalam lalu Gwang Jae keluar, ia memberi Ji Hoon uang saku, 100 rbu won. Ji Hoon hendak mengembalikannya karena ia masih punya uang tapi Gwang Jae menolaknya.  

"Simpan saja. Aku ingin mengantarmu, tapi aku ada acara di Suwon."

"Tak apa."

"Kau memang anak pintar, Lee Ji Hoon. Jangan gugup dan kerjakan dengan baik, ya?"

"Baik. Aku berangkat dulu."


Berbeda dengan Ji Hoon yang diberi perlakuan khusus, Woo Seung cuma minum seadanya di kulkas. Tapi masih ada satu orang yang peduli padanya, Hyun Jae. Hyun Jae memberinya coklat miliknya satu-satunya.

"Kurasa kau tak harus memberikannya."

"Anggap saja itu bayaran untuk ponselnya."

"Harganya bahkan tak sampai segitu. Tapi terima kasih."

Dan Woo Seung pun memakannya.


Ji Hoon menunggu Woo Seung di halte bus. Woo Seung heran, apa Ji Hoon juga mau ujian. Ji Hoon menjawab kalau ayahnya menyuruh, jadi ia mendaftar.

"Oh, wah! Hebat! Kau sangat hebat juga, ya."


Ji Hoon mengantar Woo Seung sampai di depan ruang ujian Woo Seung. Sebelum WOo Seung masuk, Ji Hoon berpesan.

"Hei, Choi Woo Seung. Pastikan kau gagal, ya?" Ji Hoon mengatakannya sambil tersenyum, tanda sebaliknya.

"Kau juga. Semoga kau gagal."

Ji Hoon bahkan meminjamkan gelang keberuntungannya untuk Woo Seung. Ia sangat berharap Woo Seung bisa lulus kali ini.


Woo Seung mengerjakan soal ujiannya, sementara Ji Hoon latihan sendiri di atap. Woo Seung kelihatan santai mengerjakannya, ia hampir bisa menjawab semua soal.


Ji Hoon menemukan bekal yang diberi Bo Hee tadi di tasnya, tapi ia tidak memakannya.


Saat Ji Hoon akan turun, Hye Ri naik ke sana. Hye Ri langsung duduk saja tanpa menyapa Ji Hoon. Ji Hoon menegurnya, sebagai seorang junior bukannya Hye Ri harus menyapa seniornya?


Hye Ri diam saja, ia acuh sambil menyantap makanannya (buah dan sayur).

Ji Hoon mendekatinya, "Kau menyebut itu makanan? Apa kau akan kelaparan saja?"

"Aku akan sangat bersyukur jika kau tidak bicara denganku."

"Aku mengatakannya sebagai Sunbae-mu."

Lalu Ji Hoon memberikan bekalnya untuk Hye Ri, "Kita melakukan semuanya untuk makan dan bertahan hidup. Makanlah dengan baik."


Hye Ri membuka bekal itu dan adapesan di dalamnya.

"Aku tahu kau bekerja paling keras daripada yang lain. Kau hebat seperti penampilanmu. Semoga berhasil!"

Hye Ri mengira kalau itu tulisan tangan Ji Hoon.


Woo Seung mulas sekali, ia sekuat tenaga menahannya tapi tidak bisa, ia pun ridak konsen dalam mengerjakan soal. Ahirnya ia ijin keluar.

"Kau tidak boleh memasuki ruangan lagi setelah keluar. Kau tahu itu, bukan?" kata pengawas.

Woo Seung mengangguk, ia sudah menyerah.


Di dalam toilet, Woo Seung tak sengaja menjatuhkan bungkus coklat dari Hyun Jae. Ia membaca tanggal kadaluarsanya, "23 Desember 1993". Kini ia tahu apa penyebab rasa mulasnya.


Evaluasi bulanan para trainee akhirnya dilaksanakan. Ada empat juri, dua diantaranya Young Jae dan MJ. 

Semua Trainee menunjukkan kebolehan masing-masung, ada beberapa yang menarik perhatian juri tapi beberapa juga mengecewakan.


Giliran Hye Ri tampil, semua tampak mengakui kelebihannya. Para Juri pun menangguk semua.


Sementara itu, Ji Hoon celingukan mencari Drill. Beberapa saat kemudian Drill datang dan duduk disampingnya, Drill kelihatan sangat gugup.


Giliran Drill adalah setelah Hye Ri. Sebenarnya ia sudah menyiapkan banyak tapi ia hanya mampu mengucapkan 'Ho', 'O' dan 'Yo' dalam rap-nya.

Para juri menantikan lebih tapi Drill tak kunjung memperlihatkannya, akhirnya mereka menghentikan Drill.


Setelah itu, giliran Ji Hoon, ia akan melakukan dance dan menyanyi. Tapi baru 5 detik Ji Hoon nge-dance musik sudah dimatikan. Juri ingin Ji Hoon melakukan hal lain, sesuatu yang berkesan.

"Aku bisa melakukan semuanya setelah aku berlatih." Jawab Ji Hoon.

"Lalu bagaimana bila kau tak latihan? Kau tidak bisa melakukan apapun? Apa itu yang akan kau katakan saat tampil di TV nanti? Bahwa kau akan bagus setelah berlatih lagi?" Tanya Young Jae.


MJ membaca data diri Ji Hoon, disana tertulis bahwa Ji Hoon tidak pernah nge-rap, maka ia pun meminta Ji Hoon nge-rap sekarang.

"Rap... aku tidak bisa..." Jawab Ji Hoon.

"Kita akan tetap mendengarkannya." Kata Young Jae.

Musik sudah diputar tapi Ji Hoon tak kunjung mulai, Young Jae pun menyuruh berhenti.


Tapi Ji Hoon malah mulai nge-rap.

Kupikir aku bisa membuat mereka terkesan.
Saat-saat yang kuimpikan.
Itulah mengapa aku sangat percaya diri.
Saat aku terus berharap yang tak pasti.

Kupikir saat aku tak menyerah dan terus berusaha dengan kuat,
Aku bisa bersinar dan mencapai impianku.

Aku berdoa setiap hari dan melihat kedepan dan berharap masih ada secercah cahaya di ujung terowongan gelap ini.

Aku selalu berharap. Lari dan terus lari.
Ya, aku ingin mendapatkan secercah cahaya.
Kurasa sekarang takkan lama lagi ku akan meraihnya.

Lalu, kenapa? Kenapa aku terus merasa aku masih kurang?
Untuk terus berlari, aku harus menahannya dan terus berlari.
Tetapi banyak hal yang sulit untuk dipertahankan.

Kurasa aku tertahan dantak bisa bergerak.
Aku melakukan yang terbaik agar tidak kehilangan semuanya dan ini adalah mimpi yang akan kucapai bahkan bila aku harus melepaskan semuanya.

Tapi kenapa semuanya semakin sulit?
Kenapa tidak ada yang menyadari kesungguhanku?
Kenapa aku selalu seperti ini?
Aku tak pernah meminta apapun, aku hanya ingin satu hal.
Namun seiring waktu berlalu, hal yang ingin kulakukan adalah menyerah.

Kenapa aku harus bertanggung jawab atas semua yang dilakukan dunia ini padaku?
Kenapa aku harus menahan semua rasa sakit ini?
Dunia takkan meninggalkanku sendirian dan itu bukan salahku.

Itu semua hanya bisa kukatakan.
Semua yang kulakukan adalah ingin menyerah.
Karena aku sedang putus asa,
Tuhan, kumohon dengarkan permintaanku!

Dan aku benci hanya ini saja yang bisa kulakukan.
Yang bisa kulakukan hanya mencabut duri dari kakiku
Namun aku menutup mataku seraya berdoa, "I pray for my dream," yeah.



Ji Hoon mengeluarkan kata-kata itu secara dadakan, ia mewakili usaha keras teman-temannya selama ini.

Drill berkaca-kaca setelah Ji Hoon selesai. Sementara Hye Ri tersenyum, ia mengakui Ji Hoon yang sungguh sesuatu.


Hyun Jae mulai paham kalau ia butuh sinyal wifi agar supaya internetnya berfungsi, tapi di dalam rumah sinyalnya sangat sulit. Ia terus mencari sampai ke kamar Woo Seung dan disana sinyalnya penuh.


Hyun jae melihat sebuah kotak disana, ia membukanya dan ternyata itu miliknya. Isinya adalah majalan jaman dahulu serta beberapa surat dari penggemarnya.


Setelah evaluasi bulanan selesai, mereka membahas satu persatu para trainee. Ji Hoon menjadi topik diskusi mereka. Mereka berpendapat kalau Ji Hoon membosankan tapi pendidikannya sangat baik.


MJ berpendapat, bukankah Kevin lebih hebat? Dia lulus dari Sekolah Musik Berklee dan dia lebih tampan. Dia menarik.

"Begitu, ya. Apa kewarganegaraannya?" Tanya Young Jae.

"Amerika. Ayahnya sudah lama menjadi duta besar."

"Oh, benarkah? Baiklah. Pilih dia."

Dan begitulah Ji Hoon tersingkir.


Drill tiduran dilantai tidak bergerak samasekali sejak tadi. Hyun Jae menanyakan penyebabnya pada Ji Hoon.

"Sesuatu terjadi." Jawab Ji Hoon.


Ji Hoon menatap jam dinding, sudah jam 1 lebih, tapi Woo Seung belum pulang juga. Ji Hoon menatap ke bawah, ke arah tangga tapi tidak ada siapapun. Ji Hoon memutuskan menunggu di luar. Setelah beberapa saat, Ji Hoon kembali menatap tangga dibawa dan Woo Seung duduk disana.


Woo Seung minum susu sambil melamun.


Ji Hoon mendekatinya, Apa "kelihatan menyedihkan" adalah pilihan raut wajah Woo Seung hari ini?

"Hah? Oh, kenapa kau keluar?"

Ji Hoon pun duduk di samping Woo Seung, "Kenapa kau disini?"

"Disini dingin dan aku merasa nyaman."

"Ujianmu baik-baik saja?"

"Begitulah."

"Kau sudah bekerja keras."

"Bagaimana evaluasi bulananmu?"

"Ya, begitulah."

"Kau juga sudah bekerja keras."


Woo Seung lalu memberikan susunya untuk Ji Hoon, "Aku sudah meminumnya sedikit, tapi pengemis tak bisa memilih, bukan."

"Semuanya baik-baik saja, 'kan?" Tanya Ji Hoon.

"Tentu saja."

Tapi air mata Woo Seung malah mengalir. Ji Hoon menyuruh Woo Seung ke dokter segera karena sekarang ujian juga sudah selesai.

"Ya, kau benar. Aku terus menangis. Menyebalkan. Bagaimana bisa kantung air mataku bisa bocor begini, ya? Yang benar saja. Aku benar-benar..."


Tapi sepertinya kali ini Woo Seung menangis karena sedih. Ji Hoon paham itu dan ia memberanikan diri menyandarkan kepala Woo Seung ke pundaknya. Woo Seung pun menumpahkan tangisnya disana.


Hyun Jae keluar, ia tak sengaja melihat Woo Seung dan Ji Hoon berduaan.

"Apa yang mereka lakukan?"


Hyun Jae mendengar suara "Bip-bip-bip-bip". Hyun Jae mencari asal suara itu dan ternyata pager-nya yang berdering. Ia syock melihat nomor yang tertera disana.

E P I L O G :


Soon Tae menggeliat saat tidur, ia haus lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Tapi saat ia kembali, ia berpapasan dengan Hyun Jae. Awalnya ia tidak sadar karena setengah mengantuk, tapi setelah itu ia menyadari tadi itu Hyun Jae. Ia pun mengendap ke toilet untuk mencari Hyun Jae. 


Soon Tae membuka pintu toilet tapi tidak ada siapapun disana. Soon Tae pun ketakutan.

Sebenarnya ada sih, cuma Soon Tae saja yang tidak melihatnya. Hyun Jae bersembunyi dibalik tirai.


Soon Tae lalu masuk kamar Gwang Jae, ia ketakutan hingga tidur memeluk Gwang Jae.

"Oh, berandal ini! Sudah kubilang. Aku melihat Hyun Jae! Kenapa kau tak mau percaya aku? Aku tak bisa tidur hari ini. Mengerti?"

"Aish! Kunyuk itu, Hyun Jae! Kenapa dia masih mengganggu kita?"

"Itu benar-benar Hyun Jae!"

1 komentar so far

Mba diana di lanjut ya nulis nya sinopsis the best hit yg ep 7 & 8...Semangat nulis nya mba diana...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon