Saturday, June 17, 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 8

Sinopsis The Best Hit Episode 8

Sumber Gambar: KBS2


Bo Hee memulai rekaman, ia memilih minum cola sekali teguk untuk bakatnya. Semua orang khawatir, terutama Gwang Jae.

Kilas Balik...


Bo Hee mengaku kalau ia sangat ingin menjadi bintang tamu tetap di acara itu. Jika berjalan lancar, ia bisa merilis album lagi. Dan akhirnya mereka bisa membayar semua hutang mereka.

"Tentu saja! Kita bisa membayarnya dalam satu kali bayar!"

"Kalau begitu aku harus jadi bintang tamu tetap di acara itu. Bagaimanapun caranya."

Kilas Balik Selesai...


Gwang Jae menyilangkan tangannya tanda tidak setuju dengan cara Bo Hee itu. Tapi Bo Hee tetap melanjutkannya meskipun ia tahu reaksi Gwang Jae.

Bo Hee berhasil meminum cola sebotol itu dalamsekali teguk, semua orang bersorak gembira.

Selanjutnya, Bo Hee harus memilih nomor untuk menanyi. Awalnya ia memilih nomor 23 tapi berubah menjadi 25.

"Wah! Dia memilih lagu yang cocok untuk Sang Peri! "Violet Fragrance"!" Ujar pembawa acara.


Bo Hee tampail dengan baik di awal, namun tiba-tiba ia bersendawa sangat keras dan mengeluarkan angin yang kencang, bahkan topi produser pun terbang karenanya. Bo Hee mengucapkan maaf berali-kali tapi sendawanya keluar lagi, maka sengan sangat disayangkan Bo Hee dinyatakan gagal.

"Hei, kurasa mimpiku tentang naga benar-benar naga rupanya." Kata Soon Tae.


Woo Seung dan Hyun Jae sudah turun dari bis dalam perjalanan kembali dari danau. Woo Seung menjelaskan arah mereka pulang dan naik apa.

"Aku tahu apa maksudmu." Sel Hyun Jae.

"Hah?"

"Pegang saja ikat pinggangku. Aku ingat semua tempat yang pernah kudatangi."

"Lihat kau, bertingkah menyebalkan seperti itu lagi."

"Aku tidak menyebalkan. Aku hanya--"

"Kau ingat sesuatu?"

"Tidak, tapi kurasa aku memang pintar."


Woo Seung meminta Hyun Jae mencarikan "itu" disekitar sana, ia harus pergi kesana karena sudah tidak tahan lagi. Hyun Jae tidak paham apa yang dimaksud Woo Seung itu.

"Ugh, kamar mandi! Katanya pintar, tapi kenapa kau telat mikir?" Kesal Woo Seung.

Hyun Jae pun melihat-lihat sekitar. Woo Seung terus mengikutnya sambil memegang ikat pinggangnya.


Hyun Jae menemukan toiletnya, adan di dalam sebuah gedung. Ia menunggu di luar dan menyuruh Woo Seung untuk masuk sendiri. Woo Seung mengerti, ia menitipkan ranselnya pada Hyun Jae.

"Aku bukan seseorang yang bisa membawakan--"

"Dan jangan pergi kemanapun!" Paksa Woo Seung lalu buru-buru masuk.


Sambil menunggu, Hyun Jae menggumamkan lagu ciptaannya dan lama-lama samar-samar ia mendengar lagu yang sama. Merasa itu lagunya, Hyun

Kilas Balik...


Saat Hyun Jae menulis lagu itu, Gwang Jae masuk ke kamarnya membawa panci isi ramen. Gwang Jae memuji lagu ciptaan Hyun Jae itu.

"Hei, jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan membawa semua buku itu dan pergi. Mengerti?"

"Kalau kau mau pergi, pergi saja sendiri. Kenapa kau mau membawa bukuku juga?"

"Aku akan membawanya dan menjualnya. Kenapa?"

"Oh, terserah. Ayo makan ramyun."

Kilas balik selesai...


Hyun Jae yakin betul itu adalah lagunya yang belumia rilis. Ia pun mencari asal lagu itu. Ternyata dari sebuah toko roti. Ia bertanya pada orang yang ada disana, siapa penyanyi lagu yang sedang diputar itu?

"MJ kah?"

"Apa? MJ siapa?"

"Anda tak tahu MJ?"


Orang itu lalu menujuk gambar MJ. Hyun Jae kesal, ia mematahkan kepala MJ lalu dibawanya pergi.

Hyun Jae bertanya-tanya, dimana ia bisa menemui MJ?


Woo Seung kembali, ia asal aja menarik sesuatu yang menjuntai, dikiranya itu adalah ikat pinggang Hyun Jae tapi ternyata tali tas ransel orang asing. Woo Seung terkejut, ia sampai meraba wajah orang utu sambil menyebut Da Bong.

"Da... Da bong? Apa yang kaulakukan?" Orang itu kesal dan menjauh dari Woo Seung.

Woo Seung mengerti, jadi Hyun Jae meninggalkannya lagi seperti waktu itu. Augh!


Lalu Woo Seung mencari telfon umum untuk menelfon Ji  Hoon.

"Hei, ini aku."

"Choi Woo Seung? Ada apa dengan ponselmu?"

"Ceritanya panjang."

"Ini bukan déjà vu, 'kan? Tunggu. Dimana kau? Ya. Kenapa kau bisa sampai kesana?"

"Ceritanya juga panjang. Maaf, apa kau bisa keluar membawa ongkos taksi untukku?"

"Kau selalu menyuruhku untuk membayarnya."

"Kau juga muak melakukannya, 'kan? Kalau begitu, ambilkan kacamata di kamarku. Aku sangat kesal karena tidak bisa melihat apapun."

"Ada apa dengan lensa kontakmu?"

"Sesuatu terjadi. Aku akan menceritakannya padamu nanti. Dah."

Ji Hoon bertanya-tanya sendiri setelah Woo Seung menutup telfon, apa gerangan yang dilakukan Woo Seung hingga sampai disana?


Woo Seung menyeberang jalan tapi ia tidak lihat kalau waktu menyeberang tinggal 5 detik lagi. Alhasil ia diklason beberapa mobil yang melintas, sementara ia berdiam diri di tengah jalan.


Lalu seseorang menarik tangannya, dia adalah Hyun Jae.

"Sudah kubilang ikuti saja aku dan jangan kemana-mana!"

"A.. Apa katamu? Kau yang duluan mengilang!"

"Ya, sesuatu terjadi."

Woo Seung sedikit salah tingkah disini apalagi saat Hyun Jae menggandeng tangannya untuk menyeberang karena lampu sudah kembali hijau.


Sementara itu, Ji Hoon sudah turun dengan ongkos taksi tapi taksi Woo Seung tak kunjung datang, padahal sudah waktunya Woo Seung sampai.

"Dia bilang dia tak bisa melihat, dimana dan sedang apa dia?" Gumam Ji Hoon.


Woo Seung melepaskan gandengan tangan Hyun Jae karena merasa tak nyaman, Hyun Jae juga baru sadar kalau ia menggandeng tangan Woo Seung.

"Hei, sudah jam berapa sekarang?" Tanya Woo Seung mengalihkan pembahasan.

"Hah? Jam 9, kurasa."

Woo Seung panik karena ia harus kerja paruh waktu. Ia langsung menarik ikat pinggang Hyun Jae dan menyuruhnya cepat jalan.

"Hei, cepat! Cepat! Aku terlambat pergi kerja paruh waktu di swalayan!"

"Swalayan? Bukankah kau kerja di karaoke?"

"Aku kerja di minimarket saat akhir pekan. Cepat!"

"Hei, berapa pekerjaan paruh waktu yang kau kerjakan?"

"Cepatlah!"


Saat perjalanan pulang, Bo Hee bilang pada Gwang Jae kalau ia ingin minum hari ini. Gwang Jae pun menghentikan mobil di warung tenda pinggir jalan.


Soon Tae meminta kunci mobilnya pada Gwang Jae, ia akan pulang duluan bareng anak-anak.

"Kenapa? Kita bisa minum bersama." Kata Gwang Jae dan disetujui oleh anak-anak.

"Hei, hei. Semangati dia, ya? Saat yang tepat untuk mengambil hati wanita adalah saat dia merasa gagal."

"Oh... apa maksud Anda?"

"Dasar bodoh. Aku pamit, berandal!"


Gwang Jae pun menemani Bo Hee minum, ia membahas soal Bo hee yang jarang tidur akhir-akhir ini dan sekarang malah minum dengan cepat. Bo Hee malu saat ini, tapi jika ia mabuk rasa malunya itu hilang makanya ia ingin cepat mabuk.

"Malu apanya... Sudahlah! Semua orang didunia pasti bersendawa."

"Apa rekamannya akan ditayangkan di TV?"

"Itu... Aku akan berusaha menghentikannya."

"Aku sangat menyedihkan."

Bo Hee mengajak Gwang Jae minum juga tapi Gwang Jae menolak, ia harus mengurus Bo Hee.

"Dasar manajer." Gerutu Bo Hee.

"Itu bukan karena aku manajer."

"Lalu apa?"


Gwang Jae seperti akan mengatakan hal lain, tapi yang keluar hanya, "Kau benar. Aku jarang tidak menyetir." Lalu ia meminta Bo Hee menuangkan minuman untuknya.

Bo Hee sangat ingin menang dan jadi bintang tamu tetap di acara itu. Gwang Jae menasehati, pelan-pelan saja, terburu-buru takkan membawa hasil yang baik. Ia sudah janji, 'kan? Bahwa ia akan mencarikan Bo Hee pekerjaan lagi? Percaya saja padanya dan lakukan semuanya perlahan-lahan.

Bo Hee mengangguk, Baiklah. Dan Bo Hee mendadak bersendawa lagi. Dua pria yang duduk disamping mereka menertawai Bo Hee. Gwang Jae tak terima, hendak menghampiri mereka tapi Bo Hee mencegahnya.


Gwang Jae lalu memesan cola dan meminumnya satu kali teguk. Setelahnya Gwang Jae bersedawa juga.

"Apa buruknya bersendawa? Semua orang didunia ini makan, buang air, dan bersendawa. Semuanya normal-normal saja! Apa mereka tak bersendawa? Apa mereka tak buang gas?"

Akhirnya Bo Hee tersenyum juga. Gwang Jae pun ikutan senang.


Hyun Jae membantu Woo Seung kerja di minimarket. Woo Seung menyuruh Hyun Jae untuk menata minuman di rak yang kosong. Hyun Jae protes, kenapa ia harus melakukannya?!

"Kau bilang chargeranmu tak berfungsi, 'kan? Aku punya satu yang tak kugunakan, jadi--"

"Aku tak membutuhkannya! Aku pernah miskin. Itulah mengapa aku melakukannya. Tapi sekarang kau lihat, 'kan? Aku punya uang sekarang. Kau pikir aku siapa?

"Ya sudah. Letakkan itu. Aku akan melakukannya."


Woo Seung berjalan dari meja kasir tapi ia malah menabrak sesuatu dan jadi berantakan. Hyun Jae awalnya tidak peduli tapi kasihan juga lama-lama. Ia membantu membereskan yang jatuh tadi dan akan mengisi rak yang kosong juga.

"Baguslah. Pastikan kau melakukannya dengan baik, ya?" Kata Woo Seung lalu kembali ke meja kasir.

"Aish. Dia bisa saja bilang terima kasih daripada bersikap seperti itu. Tunggu, apa wanita zaman sekarang semuanya seperti dia? Atau hanya dia saja?"


MJ : Sudah kubilang antar aku pulang. Apa yang kaulakukan?

Manajer: Daepyo-nim menyuruhku membawamu ke kantor.

MJ: Manajer siapa Hyung sebenarnya?

Manajer: Tentu saja manajermu.

MJ: Lalu kenapa kau hanya mendengarkan perkataan Daepyo-nim?

Manajer: Karena Daepyo-nim yang menggajiku.

MJ: Dan siapa yang menghasilkan uang untuk gajimu?

Manajer kepingin pipis dan sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia pun meminta supir untuk berhenti di tempat terdekat.


Sok dkk membuntuti mobil MJ dengan taksi. Mereka heran karena mobil MJ berhenti, di minimarket pula.


MJ haus dan di mobil tidak ada air, maka ia pun turun untuk beli minum. kebetulannya, minimarket itu adalah tempat kerja Woo Seung.

Hyun Jae mengenali wajah MJ, orang yang mencuri lagunya. MJ mengira Hyun Jae adalah fans-nya, makanya saat Hyun Jae bertanya apa ia MJ, ia pun membantahnya.

"Hei, bukan kau yang menulis "Come Back Again", 'kan?"

MJ terkejut, tapi ia kemudian bilang bahwa Hyun Jae salah orang. MJ akan membayar tapi Hyun Jae manahannya.

"Katakan yang sejujurnya. Dimana kau mencuri lagu itu? Bagaimana kau mencurinya? Hah?"

"Lepaskan."

"Kau tahu siapa aku? Hei, katakanlah!"


Mereka sedikit ribut. Sok dkk masuk karena Oppa mereka diganggu. Mereka lalu menyerang Hyun Jae rame-rame memanfaatkan barang-barang di mini market. Woo Seung mendekat, tapi ia cuma bisa bertanya-tanya apa yang terjadi karena ia tidak bisa melihat apa-apa.


Bos Woo Seung datang tepat saat keadaan sangat kacau. Alhasil, Woo Seung pun dipecat dan cuma digaji barang-barang yang rusak tadi. Woo Seung menyalahkan Hyun Jae sebagai penyebab kesialannya ini.

"Kenapa itu jadi salahku? Apa kau tak lihat para gadis itu memukuliku?"

"Dan juga, pemilik tokonya pun aneh! Dia malah memberikanku ini daripada gajiku!"

"Tapi, dia tidak menyuruhmu mengganti kerusakan barang di toko."

"Lalu, kenapa kau mendekati pelanggan itu... Kenapa kau menyangka dia MJ?"

"Dia benar-benar MJ."

"Apa dia bilang dia MJ?"

"Tidak."

"Augh. Katakanlah yang masuk akal. Kenapa MJ ke Minimarket kalau dia tidak gila?"

"Apa katamu? Tentu saja bisa! Kau juga melihat para fangirl itu, 'kan? Aish, aku juga punya fans, kok!"

"Fans apanya? Aku selalu sial sejak bertemu denganmu!"


Woo Seung baru ingat, Hyun Jae bawa tasnya, kan? Ia meraba punggung Hyun Jae tapi tidak ada.

"Tamat aku. Kurasa aku meninggalkannya di minimarket."

"Sial! Pulanglah duluan. Aku akan mengambilkannya untukmu."

"Tidak usah."

"Kau tak bisa melihat apapun! Pulang saja sana."

Woo Seung pun menurut, ia berjalan pulang. Tapi sebelum berlari kembali ke mini market, Hyun Jae mamnggilnya.

"Kau tahu... Aku juga sial sejak bertemu denganmu, tahu."


Young Jae mengamati CCTV di ruangannya tapi tidak ada siapapun yang masuk ruangannya saat ia keluar, jadi siapa yang menggambar itu?


MJ masuk, bertanya kenapa Young Jae memanggilnya. Young Jae menjelaskan bahwa mini-album MJ sedang dalam proses penyelesaian, Cary dan ia sudah hampir selesai menulis lagunya, jadi--

"Kurasa kita tak bisa melakukan hal ini lagi." Sela MJ.

"Apa maksudmu?"

"Ada seseorang yang tahu bahwa aku bukan penulis lagu "Come Back Again"."

"Apa? Siapa? Apa mereka wartawan?"

"Bukan, dia bukan wartawan."

"Kalau begitu, siapa dia?"

"Seseorang yang kutemui di minimarket."

"Mini.. minimarket? Apa maksudmu? Siapa yang kau temui di minimarket?"

"Entahlah. Aku baru bertemu dengannya."

"Apa dia pekerja paruh waktu?"

"Kenapa kau sangat gegabah--"

"Itu hanya peringatan saja. Oh ya. Dia seperti orang itu."

"Apa maksudmu, "orang itu"?"

"Hyun Jae. Yoo Hyun Jae, anggota J2 bersama Daepyo-nim dulu."


Woo Seung masuk ke rumah tapi kosong. Ia langsung menuju kamarnya dan pintunya sudah dipasangi password. Ada pesan disana, "Pin-nya adalah ulang tahunmu."

Itu adalah pesan dari Ji Hoon. Woo Seung heran, kapa Ji Hoon memasangnya, lalu ia teringat soal project yang Ji Hoon bilang sebelumnya.


Woo Seung sudah memakai lensanya lagi. Saat ia keluar, kebetulan MC Driil juga keluar dari kamar mandi, mereka berpapasan. Woo Seung bertanya, dimana Ji Hoon.

"Huh? Dia keluar tadi. Kau tidak ketemu dia?"

"Tidak. Dia keluar?"


Ji Hoon mencari Woo Seung ternyata di tempat Woo Seung menelfonnya tadi. Ia sudah keliling tapi tidak ada Woo Seung disana. Lalu ada orang yang membicarakan kecelakaan seorang wanita tadi. Ji Hoon pun semakin panik.


Saat itu Drill menelfonnya, tapi ternyata Woo Seung yang bicara. Woo Seung bertanya dimana Ji Hoon, tapi Ji Hoon malah balik bertanya dimana dirinya.

"Aku dirumah. Kau tidak menunggu diluar karena aku menyuruhmu membayar taksi, 'kan?"

"Hei, kau sudah gila? Apa aku terlihat punya banyak waktu untuk itu?"

"Lalu, apa yang kaulakukan diluar malam-malam begini?"

"Baiklah, sampai jumpa di rumah."


Ji Hoon duduk istirahat, ia akhirnya lega mengetahui Woo Seung baik-baik saja.


Gwang Jae menggendong Bong Hee pulang. Dalam mabuknya Bong Hee bertanya, menurut Gwang Jae ia bisa kembali aktif seperti dulu lagi ga?

"Oh, tentu saja."

"Kwang Jae-ah! Apa masih ada yang menyukaiku?"

"Kenapa tidak ada? Tentu saja ada!"

"Jika aku... tak bertemu Hyun Jae saat itu... bagaimana hidupku sekarang?"

"Semuanya itu masa lalu. Semua orang berubah dan duniapun juga berubah. Masa lalu tidak penting.
Masa sekaranglah yang terpenting. Maksudku... Hyun Jae (masa sekarang). Sekarang. Jadi, lupakan Hyun Jae, ya? Aku akan berusaha mengisi tempat kosong yang ditinggalkan Hyun Jae."

Sayangnya Bo Hee tidak mendengar kalimat terakhir Gwang Jae itu karena sudah ketiduran.


Gwang Jae kebelet pipis, ia menurunkan Bo Hee di sebuah gazebo lalu pergi mencari toilet.


Hyun Jae kebetulan melihat Bo Hee, sendirian disana, ia pun menggendongnya pulang.


Gwang Jae keluar dari toilet, tapi Bo Hee tidak ada disana. Ia mencari-cari dan melihat Bo Hee dogendong orang lain. Ia pun mengejar mereka.

"Hei! Kembalikan Bo Hee-ku!"


Gwang Jae terkejut saat melihat ternyata Gwang Jae lah yang membawa Bo Hee.

1 komentar so far

Akhirnya di buat juga sinopsis ep 8 nya..di tunggu sinopsis ep selanjutnya mba diana.semangat nulisnya ya mba.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...