Wednesday, June 7, 2017

Sinopsis Lookout Episode 11

Tags

Sinopsis Lookout Episode 11

Sumber Gambar: MBC


Soo Ji membuka pintu tapi ternyata di dalamnya tidak ada siapa-siapa. Sementara Kyung Soo dan Bo Mi menyuruhnya untuk segera bergerak. Soo Ji pun segera merespon mereka.


Setelah Soo Ji pergi dengan mobilnya, Do Han baru menampakkan diri, ternyata Do Han sudah berada di luar.



Korban Lee Jang Soo tertidur di dalam mobil, ia tampak senang karenanya.


Soo Ji meminta komando Kyung Soo. "Seberapa jauh aku harus mengemudi agar bisa menghadangnya?"

"Kalau kau belok kanan sekarang, lima menit lagi. Kali ini, hati-hatilah pada CCTV. Kalau sampai terekam, situasi akan menjadi sulit." Jawab Kyung Soo.

"Masalahnya adalah di sana tidak ada CCTV sama sekali. Aku mungkin kehilangan dia."

Kyung Soo menenangkan, ia telah melacaknya dengan GPS kok. Tapi entah kenapa Bo Mi merasa cemas. Kyung Soo menggerutu, kalau bukan karenanya kasus Kim Woo Sung... tapi belum selesai ia menjelaskan sinyal GPS-nya hilang.

Bo Mi: Bagaimana ini? Di sana tidak ada CCTV.

Soo Ji: Tidak adakah cara lain?

Bo Mi: Cepat lakukan sesuatu!

Kyung Soo: Memang aku Dewa (bisa melakukan segalanya)!? Aku bisa apa coba dalam situasi seperti ini?


Soo ji sampai ke lokasi hilangnya sinyal GPS tadi dan disana ada kecelakaan mobil. Ia meminta Kyung Soo memeriksa, apa kecelakaan itu dilaporkan ke perusahaan asuransi.

Kyung Soo: Ada sebuah laporan kecelakaan taksi, baru saja.

Bo Mi: Kecelakaan itu pasti penyebab sinyal GPSnya menghilang. Taksinya Lee Jang Soo kelihatan?

Soo Ji: Tidak, tapi kurasa aku tahu dia kemana.


Jang Soo menghentikan mobilnya, ia mengambil uang korbannya, juga kalungnya. Selanjutnya ia hendak berbuat tidak senonoh. Sementara itu Soo Ji masih dalam perjalanan.

-=LOOKOUT=-
 

Gadis itu terbangun dan ia tiba-tiba saja sampai di rumah. Di depan ayahnya sudah menunggu. Ternyata Soo Ji yang mengantarkan gadis itu. Sebenarnya gadis itu agak curiga.


Soo Ji meminggirkan taksi di tempat yang sepi. Ia membuka bagasi taksi, di dalam ada Jang Soo yang tak sadarkan diri dengan tangan-kaki terikat dan mulut diplaster. 


Soo Ji meminta Kyung Soo untuk melapor pada polisi. Kyung Soo tak mengerti, Soo Ji mau apa sekarang? Soo Ji bilang tidak bisa kehilangan Jang Soo seperti ini.

Bo Mi: Kau akan melaporkannya atas tuduhan pencabulan dan perampokan?

Soo Ji: Dia harus membayar dulu dosanya di masa lalu.

Kyung Soo: Bagaimana caranya?

Soo Ji: Lee Jang Soo mencuri satu lagi dari Se In. Untuk menemukannya... Kyung Soo harus membantuku.


Yang terjadi tadi...

Soo Ji berhasil melumpuhkan Jang Soo tepat saat Jang Soo akan melakukan sesuatu pada gadis itu. Ia menemukan sebuah kalung di tangan Jang Soo. Soo Ji teringat, So In juga memakai kalung itu.


Soo Ji meminta Kyung Soo meng-upload foto kalung itu di SNS. Dan ada seorang  yang sepertinya familiar dengan kalung itu.

"Korban memakai kalung di hari dia diculik. Tidak ada dalam daftar barang bukti maupun laporan penggadaian. Aku yakin, seperti tindakannya hari ini, saat itu Lee Jang Soo juga berusaha keras mengambil kalung korban. Diberikan sebagai hadiah (pada orang lain). Jika ada yang memberi kesaksian telah menerimanya dari Lee Jang Soo, kita bisa membuktikan tindak pemerkosaan serta perampokannya." Narasi Soo Ji.


Jang Soo kembali ditangkap polisi atas tuduhan pemerkosaan serta perampokan. Kemudian muncul seorang saksi mata dengan pengakuan mengejutkan.

Pernyataan gadis itu: Awalnya aku juga tidak mengenali dia. Sesampainya di rumah, aku baru ingat kalau itu benar dia.


Mendadak Soo Ji menjadi pahlawan karena berhasil mengungkap kejahatan Jang Soo. Do Han menonton berita itu dan ia teringat pengakuan Soo Ji di ruang pengakuan dosa kemarin.


Do Han kembali melihat denah yang ia buat. Kali ini ia fokus pada foto Soo Ji.

"Ini masih awal. Aku tidak bisa membiarkanmu bertindak sesuka hati." Gumam Do Han.


Suasana kelas Shi Wan mendadak anah. Teman-teman memandanginya berbeda pagi ini.


Shi Wan lalu mendekati bangkunya, ternyata disana banyak foto-foto menyeramkan. Sahabat Shi Wan kesal, Kalau ada yang ingin dikatakan, ya bicara langsung!Jangan seperti ini!

Tapi Shi Wan bersikap biasa saja dan menyingkirkan foto itu seperti tidak terjadi apa-apa. Sahabat Shi Wan heran, "Hei, kau tidak marah sama sekali? Kau bahkan tidak sanggup membunuh nyamuk, tidak masuk akal kau membunuh manusia!"

"Tak apa. Mereka akan mengetahui (kebenaran) itu suatu hari nanti."

Se Won memperhatikan dengan seksama reaksi Shi Wan itu.


Eun Joong memeriksa artikel terbaru mengenai Soo Ji. Lalu bawahannya memanggil, di luar ada yang penting katanya.


Anggota Kongres Chae Hye Sun datang ke kantor kejaksaan. ia dikerubungi oleh para wartawan yang menginginkan komentarnya.

"Saat ini, semua laman internet membahas perihal sang buronan, Jo Soo Ji. Aku bahkan belum pernah diperbicangkan sepertinya. Itu berarti, masyarakat sungguh penasaran akan dirinya. Apa dia sungguh seorang kriminal ataukah protagonis yang difitnah? Kejaksaan berhutang jawaban yang tepat pada masyarakat. Jika klaim yang ia sebarkan sebelumnya benar, Kepala Kejaksaan Yoon Seung Ro tidak memiliki hak menjadi Jaksa Agung yang mana bertugas melakukan penyidikan seadil-adilnya."


Do Han melihat itu dan ia langsung melaporkannya pada Geomsajangnim Yoon. Geomsajangnim Yoon melarang Anggota Kongres Chae untuk masuk ke dalam.


Anggota Kongres Chae dihadang oleh seorang petugas keamanan tapi ia memaksa,

"Kenapa tidak boleh? Seluruh penjuru negeri sedang melihat! Kejaksaan ini bertugas melindungi rakyat atau seorang pria yang berkuasa saja? Menurutmu, apa pendapat masyarakat bila melihat ini? Aku kemari untuk mewakili masyarakat, mempertanyakan penyelidikan kasus kematian seorang anak tahun lalu berjalan benar atau tidak. Cepat minggir!"


Mau tidak mau mereka terpaksa mengijinkan Anggota Kongres Chae untuk masuk. Do Han yang membawanya menuju ruang tunggu. Do Han menyampaikan pesan Geomsajangnim yang takut akan memperngaruhi kasusnya.

"Ya, aku yakin dia tidak akan menemuiku. Geomsajangnim kita hidup sesuai perkiraanku. Kau pasti sibuk mengetik laporan. Tak masalah kalau mau pergi." Jawab Anggota Kongres Chae.


Do Han melaporkan itu, Geomsajangnim Yoon malah tertawa, Anggota Kongres Chae memang kesana untuk diabaikan. Do Han tersenyum juga. Artinya Anggota Kongres Chae cuma ingin terlihat baik dihadapan publik, ia mah tidak peduli akan kasus itu sebenarnya.


Ibu Soo Ji melayani pengunjung restorannya seperti biasa. Pengunjung membahas berita pagi ini dimana Soo Ji tampaknya bukanlah seorang psikopat gila. Di internet ramai dibahas kalau dia yang menangkap pelaku sebenarnya kasus Supermarket Samil.


Soo Ji menelfon Ibunya, karena disana ada detektif, ibunya bersembunyi dan menyamarkan seolah berbicara dengan orang lain. Soo Ji minta maaf karena baru menelepon sekarang soalnya ia sibuk melarikan diri dari perbuatannya, dan tidak memiliki keberanian menelepon selama ini.

"Tak apa. Aku bahagia selama kau baik-baik saja. Kapan kau mau kemari?  Aku akan menyiapkan makanan lezat untukmu. Di sini, aku meletakkan sebuah gambar yang cantik. Aku berencana... menjadikannya warisan keluarga."

Kilas Balik...


Setelah pulang dari menjemput Yu Na, Soo Ji memamerkan pada ibunya kalau Yu na membanggakan dirinya di hadapan teman-temannya. Lalu Soo Ji menunjukkan gambar Yu Na.

"Tolong bingkai itu. 10 tahun mendatang, itu akan jadi harta warisan keluarga.

Kilas Balik selesai...

Soo Ji mengerti, pasti itu gambarnya Yu Na. Ibunya tersenyum menangguk,

"Kau mengingatnya? Hal kecil... sebagai bentuk kebanggaan pada ibunya. Dia pasti sedang melihat dari Surga."

"Eomma, tolong tunggu aku sebentar lagi. Saat aku berhasil memenuhi janjiku pada Yu Na, ketika itulah aku akan pulang."

"Maaf. Ini semua salahku."

"Jangan bicara begitu, Eomma. Ini bukan salah Eomma. Aku semestinya mengatakan ini lebih awal. Selama ini Eomma terus menyalahkan diri? Eomma... Kita... tidak perlu saling meminta maaf. Ada banyak orang yang perlu minta maaf atas perlakuan mereka pada kita. Kita... dengarkan dulu permintaan maaf mereka."

"Baiklah."


Soo Ji ternyata memiliki dua ponsel. Ia melihat ponselnya yang lain dan bergegas menuju tampat Kyung Soo.


Kyung Soo khawatir pada Soo Ji, eh Soo Ji malah baru datang. Bo Mi menjelaskan kalau seluruh berita dan dunia maya membicarakan Soo Ji. Kyung Soo mencium kalau mereka akan bertengkar lagi, jadi ia segera mencegahnya.

"Maaf sudah membuat kalian kuatir." Jawab Soo Ji, lalu ia memberikan ponsel itu pada Kyung Soo, ia sudah meretas sebuah ponsel sama seperti cara yang Kyung Soo ajarkan. Ia ingin Kyung Soo memeriksa histori panggilannya.

"Ada histori juga dia mengirim pesan pada Bo Mi." Lanjut Soo Ji.


Ternyata Soo Ji meretas ponsel Gwan Woo saat pembcaraan singkat mereka, jadi itu alasan kenapa Soo Ji berlama-lama bicara dengan Gwan Woo.


Kyung Soo mulai beraksi, dan memang benar bahwa Gwan Woo lah yang mengirim pesan pada Bo Mi. Bo Mi terkejut, jadi Soo Ji sudah menemukan Daejang
(pemimpin) mereka?

Soo Ji: Tidak, Daejang sesungguhnya bukan dia. Orang yang memberitahu jalannya investigasi padanya. Orang itu memberikan nomormu padanya.

Kyung Soo: Oh, siapapun dia, Daejang telah menyelamatkan kita.

Soo Ji: Ya, itu benar. Setelah dia menjebak kita.

Kyung Soo dan Bo Mi meminta Soo Ji menjelaskan itu.

Soo Ji: Orang itu memberi nomor Bo Mi padanya sejam sebelum polisi menangkapku. Daejang sejak awal mengetahui segalanya. Bukan. Sejak semula, dia merencanakannya.

Kyung Soo: Aku tidak mengerti. Kenapa juga dia melakukannya?

Soo Ji: Dia mungkin memaafkan kita untuk meraih tujuannya.

Kyung Soo: Kalau begitu... apakah segala sesuatu yang Daejang katakan itu bohong?

Bo Mi: Tidak mungkin. Itu mustahil terjadi. Lalu, apa yang terjadi dengan semua kerja kerasku selama ini? Aku selalu menunggu giliranku dengan sabar. Dia tidak bisa melakukan ini padaku!

Kyung Soo: Aku harus menemukan seseorang juga. Dia mungkin menungguku datang. Aku harus menemukan dia. Yakin kau tidak salah paham?

Soo Ji: Setelah menemui Daejang, kita akan tahu kebenarannya. Kau bisa melacak nomor ponselnya, 'kan? Temukan siapa pemilik nomornya.

Beraksi lagi si Kyung Soo.


ponsel kedua Do Han berdering, dari Gwan Woo. Kali ini Soo Ji, Kyung Soo dan Bo Mi ikut mendengarkan percakapan mereka.

Gwan Woo: Aku mengirim pesan.

Do Han: Ya, aku mengerti.

Gwan Woo: Tapi wanita itu... kurasa dia tahu soal kita. Kemarin... dia datang ke gerejaku.


Do Han bertanya, apa saat itu Gwan Woo memegang ponselnya dan Gwang Woo mengiyakan, tapi kenapa? Do Han menyuruh Gwan Woo membuang ponselnya segera. Do Han mematikan ponsel lalu mengambil simcardnya.

Kyung Soo meretas operator selulernya dan tengah melacak posisinya. Tapi Do Han membuang simcard itu.


Kyung Soo mendapatkan lokasinya meski ponselnya sudah mati dan lokasi terakhirnya ada di Kantor Kejaksaan Seoul. Jelaslah mereka bahwa Daejang adalah seorang Jaksa.

Soo Ji: Sudah menemukan pemilik ponselnya?

Kyung Soo: Sudah, tapi dia pasti memakai nomor ilegal. Tidak ada jejak selain pembelian ponselnya.


Daejang mengirimkan foto 3 pelaku pembunuhan, ia ingin mereka menemukan mana pelaku sesuangguhnya. Itu adalah pelaku pembunuhan keluarga Bo Mi.


Do Han tersenyum puas, tidak buruk lah. Tapi saat ini terlalu cepat untuk mereka bertemu.


Bo Mi mengirimkan ketiga foto itu pada Kyung Soo. Kyung Soo meminta pendapat yang lain karena sekarang mereka sudah tahu kalau Daejang mengkhianati mereka, apa tetap dilanjutkan?

Soo Ji: Tidak, kita harus tahu identitas sebenarnya sebelum mengerjakan ini.

Bo Mi: Aku akan mengerjakannya.

Kyung Soo: Apa? Bagaimana kalau ini jebakan lainnya?

Bo Mi: Ini bukan jebakan. Sekalipun iya, tetap kulakukan.

Soo Ji: Kasus ini... ada hubungannya denganmu?

Bo Mi: 15 November 2012. Di Pyeongtaek, Misae-dong, terjadi pembunuhan.

 
[2012]

Bo Mi menggulung roknya dan memakai make up di toilet sekolah.


Kakaknya mencegatnya di gerbang. Kakaknya mengomelinya karena menggulung rok juga memakai make up-nya.

"Mau pergi kemana kau? Sudah kubilang kau terlalu muda untuk memakai make up."

"Aku hanya setahun lebih muda saja darimu, kok."

"Jangan kurang ajar pada kakakmu!"

"Auh, jangan memukul kepalaku!"

"Pukulanku toh tidak akan membuatmu lebih bodoh dari sekarang."

Dan kakaknya meminta make up nya dikembalikan.


Orang tua Bo Mi menjalankan bisnis restoran, saat itu ada pengunjung dari amerika, dua orang tentara amerika.


Bo Mi buru-buru pulang, ia meminta uang 10 ribu Won. Ibunya langsung tahu kalau Bo Mi mau membeli make up dengan uang itu dan melarang ayahnya untuk memberikan uang.

"Appa (ayah)... kumohon..." rengek Bo Mi.

"Auh, ibumu bisa mengamuk padaku."


Koki mereka (yang termasuk dalam 3 foto itu) membela Bo Mi, berikan saja uangnya toh tidak banyak, bahkan ia bersedia untuk membelikannya. Ibu melarangnya keras.

"Kenapa Unnie (kakak) boleh sementara aku tidak?" tanya Bo Mi.

"Aigoo... kakakmu itu sebentar lagi sudah kuliah." Jawab ayah.

"Benar. Tunggulah dua tahun lalu. Sekarang fokus saja belajar!" Imbuh ibu.

"Eomma Appa selalu saja memihak dia." Kesal Bo Mi, lalu pergi.

Si Koki tak menyangka BoMi sudah sebesar itu sekarang.


Tentara Amerika itu memperhatikan uang di kasir, ia berkomentar kalau restoran itu sangat ramai.


Paman Bo Mi (juga termasuk dalam 3 foto itu) datang, menyapa Bo Mi dahulu karena Bo Mi kebetukan ada di luar.

"Yah... Bo Mi kita semakin cantik saja sejak terakhir kali bertemu. Apa? Kau memakai make up. Kau masih di bawah umur."

"Tidak juga. Wajahku pun tetap cantik meski tanpa make up."

"Benarkah? Baik, anggap saja kau benar."


Tengah malam Bo Mi terjaga dari tidurnya, ia keluar dan melihat pintu kamar orang tuanya terbuka. Ia mengintip, Ayah dan ibunya dibunuh oleh seorang perampok.

Sebenarnya ada dua orang, yang satu adalah tentara amerika tadi dan yang satu (yang membunuh) tak diperlihatkan wajahnya. Sebenarnya tentara amerika itu mencegah temannya, mereka seharusnya hanya mengambil uangnya saja.


Bo Mi lalu membangunkan kakaknya, ia berbisik kalau ada pencuri. Kakaknya langsung melotot dan pandangannya mengarah pada pintu kamar yang masih terbuka.


Kakaknya lalu menyuruh Bo Mi bersembunyi di kolong ranjang, ia memberi Bo Mi ponsel agar Bo Mi menelfon polisi. Bo Mi saking terkejutnya tidak bisa ngapa-ngapain.

"Cepat! Sadarlah! Apa yang kubilang?" ulang kakaknya.

"Telfon polisi."

"Ya dan tetaplah disini. Aku akan menutup pintu."


Kakaknya berjalan menuju pintu tapi saat itu pencuri melihatnya dan langsung menyeretnya keluar. Tatapan kakaknya pada Bo Mi seolah meminta pertolongan tapi Bo Mi hanya mematung disana.


Bo Mi hendak menelfon polisi tapi kemudian terdengar jeritan terakhir kakaknya, kakaknya juga dibunuh. Bo Mi menangis tanpa suara dan setelah pencuri itu pergi. Bo Mi berjalan menuju pintu, ia melihat kakaknya sudah tak bernyawa. Ia memilih menutup pintu kamar dan menguncinya, sejak itu ia tidak bisa keluar.


Bo Mi: Dua perampok masuk dalam rumah dan membunuh seluruh anggota keluarga kecuali satu orang. Orang itu... aku.

Baik Kyung Soo maupun Soo Ji terkejut mendengarnya.

1 komentar so far

terima kasih mba diana ats sinopsisnya... ditunggu ep 12 nya mba...semangat nulisnya ya mba...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon