Thursday, June 1, 2017

Sinopsis Lookout Episode 8

Tags

Sinopsis Lookout Episode 8

Sumber Gambar: MBC


Geumsajangnim Yoon melihat berita soal Soo Ji yang kembali melakukan penyanderaan.


Di sekolah, Shi Wan bergaul dengan teman-temannya seperti biasa. Bedanya, sekarang Se Won (puteri Soon Ae) mendadak menjauhinya. Teman-teman Shi Wan berkomentar mungkin karena Se Won salah satu penggemar Shi Wan.


Teman Shi Wan menunjukkan video Soo Ji yang kembali melakukan penyanderaan. Mereka bertanya, apa Shi Wan tidak takut karena Soo Ji masih bebas berkeliaran.

"Takut? Kenapa aku harus takut padanya?" jawab Shi Wan.


Bujangnim Oh kembali minta maaf pada Geumsajangnim Yoo, ia tahu Geumsajangnim Yoon sudah memperingatkannya untuk hati-hati. Tapi, Soo Ji justru membuat keributan di tengah jalan raya.

"Kenapa kau kemari?"

"Maksud saya... Jika saya diberi satu kesempatan lagi..."

"Apa yang bisa kau lakukan?"

"Itu... Itu..."

"Kau bahkan membuat orang tak bersalah ditahan. Lalu kau tidak bisa menangkap buronan sejak setahun terakhir. Apalagi yang bisa kau lakukan sekarang?"

"Maafkan saya."

"Sudah kukatakan padamu. Jangan menghalangi langkahku."

Geumsajangnim Yoon menelfon agar para reporter dikumpulkan.


Seung Hee akhirnya bisa bertemu kembai dengan putrinya dan Woo Jin. Soo Ji menyaksikan itu haru. Eun Joong menyadari kehadiran Soo Ji tapi Soo Ji cepat-cepat menghilang lagi saat ia akan menghampiri, terlebih Woo Jin memanggilnya.


Woo Jin berjanji akan mengatakan semuanya sekarang. Ia minta maaf pada Seung Hee dan Se Bom, jika sedari awal ia katakan, segalanya tak akan seperti ini.

"Aku akan menerima hukuman atas tindakanku."

"Ya. Kalau begitu, aku akan berusaha keras mengungkap kebenarannya." janji Eun Joong.


Eun Joong mendapat telfon, seseorang memberitahunya bahwa ada yang kabur. Woo Sung kah?


Geomsajangnim juga mendapat telfon, sepertinya ia puas dengan kerja orang itu.


Setelahnya, Geomsajangnim Yoon menghadiri acara konferensi pers.


Bo Mi melapor bahwa Woo Sung melarikan diri algi. Ia tidak bisa melacaknya lewat CCTV karena dia kabur lewat gang kecil. Ia khawatir misi mereka akan gagal jika berkhir disini.

"Jangan khawatir. Aku akan menangkapnya." Soo Ji menenangkan.

Bo Mi tak percaya, bagaimana Soo Ji akan menangkapnya. Soo Ji akan mengangkapnya dengan caranya sendiri, ia tak akan mematuhi Daejang (ketua) yang saat nyawa seseorang dipertaruhkan hanya menonton tanpa melakukan apa-apa.

"Apakah mengacaukan segala sesuatu memang gaya hidupmu?"

"Hei, Noonim melakukannya juga bukan tanpa tujuan. Kita bahkan menyelamatkan dua nyawa berkat dia. Hentikan."

"Siapa yang akan bertanggungjawab bila Daejang tidak menghubungi kita lagi?"

Soo Ji bersedia bertanggungjawab. Jadi, bantulah ia dan caritahu semua orang dekat Kim Woo Sung. Pertama-tama, periksa CCTV dekat rumah ibunya. Ibunya menutupi kelakuan anaknya itu sejak pembunuhan pertama. Ibunya pasti jadi opsi utama.

"Orang akan menyangka aku bekerja untukmu! Aku yang tertua di sini. Aku lebih tua darimu."

"Jangan bohong padaku dan temukan saja keberadaannya. Itu bukan yang terpenting. Lihat dulu ini."


Bo Mi mengirim rekaman acara konferensi pers Geomsajangnim Yoon pada mereka.

"Akibat kelakuan seseorang, masyarakat menjadi gelisah dan ketakutan, saya sungguh minta maaf. Kami, Kejaksaan Korea Selatan, tak akan menutup mata terhadap kejahatan yang mencederai hukum negeri ini. Kami akan melakukan aksi gabungan antara kejaksaan dengan kepolisian. Dan akan memastikan penyelidikan cepat serta adil atas buronan Jo Soo Ji yang meresahkan."

Bo Mi menjelaskan kalau Soo Ji saat ini memenuhi laman berita. Geomsajangnim Yoon sengaja melakukannya. Itu sebabnya ia menyuruh Soo Ji menahan diri. Mereka tidak menyembunyikan Soo Ji selama ini agar Soo Ji bisa membuat keributan seperti ini!

"Anu. Aku menemukan rumah ibunya Kim Woo Sung. Mau alamatnya?" Sela Kyung Soo.


Do Han kena amukan Bujangnim Oh lagi karena gagal menangkap Soo Ji. Ia berjanji akan segera kesana.


Eun Joong ternyata sudah menunggu Do Han. Eun Joong berkata Do Han sungguh tak tahu malu. Do Han membiarkan Kim Woo Sung lolos dan masih berakting sebagai Jaksa. Kim Woo Sung Do Han bebaskan, dan Yoon Seung Ro mengumpulkan reporte agar fokus masyarakat hanya tertuju pada Soo Ji.


Do Han membisiki Eun Joong, ia bicara serius, Eun Joong tak akan memercayainya, tapi ia sungguh ingin menangkap Kim Woo Sung. Eun Joong tertawa, menganggap itu gurauan belaka.


Pada akhirnya Do Han membenarkan tebakan Eun Joong, Geomsajangnim Yoon membiarkan Woo Sung lepas. Namun baik ia maupun Bujangnim Oh tak ada yang Geomsajangnim Oh percayai.

"Kau terlihat sungguh-sungguh dengan ucapanmu." Jawab Eun Joong.

"Yah... Sekalipun kau tahu, tak ada juga yang bisa kau lakukan. Kau pikir Geomsajangnim akan meninggalkan jejak yang dapat terlacak? Sekalipun iya, apakah kau pikir ada orang di Kantor Kejaksaan ini yang mau melawan calon Jaksa Agung kecuali dirimu itu?"

"Kalau begitu, akan kulakukan sendiri. Kakak Kim Woo Sung sudah mengatakan semuanya. Pertama, akan kutahan dulu Kim Woo Sung. Lalu, akan ku ungkap alasan Kim Woo Sung dibebaskan satu persatu, beserta dalang di baliknya."

"Itu tidak akan berhasil, meski kali ini pun aku yakin kau tak akan menyerah."

"Tentu saja."

"Kalau begitu, semoga berhasil."


Eun Joong memberitahu Soon Ae kalau Geomsajangnim Yoon yang ada di balik Kim Woo Sung. Ia menebak kemungkinan itu adalah alasan Soo Ji memburunya.

"Pertama-tama, Anda harus menangkap Kim Woo Sung."


Do Han menyimpulkan ada orang lain yang menangkap Kim Woo Sung. Geomsajangnim Yoon Seung Ro punya "anjing peliharaan" lain.




Soon Ae juga ingin sekali menangkap Woo Sung, tapi mereka diintruksikan untuk menangkap Soo Ji dulu. Eun Joong memaksa, mereka harus menangkap Kim Woo Sung dulu.

"Kau pikir aku tidak mengerti? Di sini, kami sibuk menerima laporan, tidak sempat mengurus Kim Woo Sung."


Bo Mi mendapat alamat ibunya Woo Sung dari Kyung Soo dan ia langsung mengawasi CCTV disekitar sana. Bo Mi terkejut, bahkan tak ada seekorpun anjing pemburu disana.

"Tak ada polisi di sana?" tanya Soo Ji.

"Apa... mungkin ini perangkap?" Duga Kyung Soo.

"Aku tidak yakin. Yoon Seung Ro menutupi kasus Kim Woo Sung untuk bisa menangkapku. Itu sebabnya, seluruh personil kepolisian divisi pencarian difokuskan untuk menangkapku." Jelas Soo Ji.

"Tetap saja, apa tidak sebaiknya kita menunggu saja? Sampai kita yakin."

"Itu sebabnya jangan sok menonjolkan diri." Bo Mi kembali dengan kata kasarnya.


Bo Mi melihat sesuatu, Ibunya Woo Sung keluar rumah dan naik taksi. Soo Ji memperingatkan Soo Ji agar jangan sampai kehilangan dia, karena mungkin dia dalam perjalanan menemui Kim Woo Sung.

"Pikirkan dirimu sendiri. Seluruh penjuru negeri memburumu. Bagaimana kau akan membuntutinya?"

"Aku punya kau dan juga Kyung Soo. Jika tak ingin aku tertangkap, kalian berdua harus membantuku."

"Aku akan lebih senang kau ditangkap saja, tapi tidak bisa karena mungkin kau membocorkan soal kami. Pastikan kau menangkap Kim Woo Sung. Hanya kau satu-satunya yang bisa menangkap baj* itu. Jika tidak, istri serta anaknya akan hidup dalam ketakutan, sampai Kim Woo Sung tertangkap. Seterusnya."

"Kau terlalu banyak bicara. Siagakan pandanganmu pada mereka agar aku bisa menangkapnya. Kyung Soo sudah sampai. Kututup."


Kyung Soo memberikan kunci mobilnya tapi ia ingin Soo Ji berjanji dulu, tidak boleh menubrukkannya seperti sepeda motor Soo Ji. Memang tidak mahal, tapi ia banyak mengungkap perselingkuhan supaya bisa membelinya.


Kyung Soo khawatir melihat luka-luka Soo Ji. Ia lalu mengeluarkan kotak obat dibagasinya, ia membeli itu untuk jaga-jaga saja, karena Soo Ji sering cedera.

"Terima kasih."

"Ya. Kali ini jangan terluka dan kembalilah dengan selamat, ya?"


Soo Ji berhasil mengikuti ibu Woo Sung sampai turun dari taksi. Ibu Woo Sung lalu masuk ke sebuah rumah, sepertinya rumah kosong.


Ibu memanggil Woo Sung,memberikan pakaian ganti dan uang tunai seperti pesan Woo Sung.

"Terima kasih. Eomma satu-satunya yang bisa aku percaya sekarang."

"Kau... makan dengan baik? Tunggu di sini. Kubelikan sesuatu untuk kau makan."


Saat Ibu Woo Sung keluar, Soo Ji mengendap-endap masuk dengan hati-hati. Ia memasuki satu persatu kamar tapi semuanya kosong.


Sampai ia membuka kamar tempat Woo SUng bersembunyi. Woo Sung tahu ia datang, Woo Sung langsung menyerangnya.


Mereka berkelahi, ada kalanya Soo Ji yang unggul atau Woo Sung yang unggul. Sampai Woo Sung memukul kepala Soo Ji dengan botol kaca.


Soo Ji oleng dan jatuh ke lantai. Woo SUng mendesaknya, hendak menusuknya dengan besi tapi SOo Ji masih bisa menahannya.

"Kenapa kau terus mengikutiku? Apa sebenarnya maumu?"

"Kau. Menangkapmu."

"Bagaimana kau akan menangkapku?"

"Kau bukan lagi polisi. Kau itu buronan! Aku bukan seseorang yang bisa kau tangkap. Seorang petinggi di Kejaksaan melindungiku. Saat aku ditahan, seseorang meninggalkan catatan di bawah mangkuk sup-ku. Katanya kalau aku tidak mengaku, kejaksaan akan menutup kasus itu. Tapi, kau mengira bisa menyentuhku? Sekalipun kubunuh kau sekarang, aku juga tak akan ditahan. Mau kita coba?"


Ibu datang, terkejut dengan apa yang Woo Sung lakukan. Woo Sung menjelaskan kalau Soo Ji harus mati, kalau tidak ia akan masuk penjara. Woo Sung bahkan meminta bantuan ibunya.

Ibu mencoba menarik Woo Sung tapi Woo Sung malah mendorongnya hingga terpental. Woo Sung lengah untuk mengawasi ibunya. Soo Ji menendang kepalanya. Soo Ji berdiri lalu membanting Woo Sung hingga Woo Sung tak sadarkan diri.


Tapi Soo Ji lengah. Ibu yang khawatir pada puteranya menodongkan pistol pada Soo Ji. Ibu meminta Soo Ji menjauhi puteranya.

"Akibat kebohonganmu, seorang pria tak bersalah ditahan."

"Itu... bukan kesalahanku."

"Menantu serta cucumu hampir mati hari ini... di tangan anakmu sendiri."

"Itu mustahil. Anakku tak akan melakukan hal keji begitu."

"Masih bilang begitu padahal barusan kau lihat sendiri?"


Woo Sung sadarkan diri, perlahan ia mengambil besinya tadi. Sementara Soo Ji masih fokus untuk membujuk ibu Woo Sung.

"Untuk menutupi kasus 13 tahun yang lalu, dan tetap hidup bebas, dia coba membunuh istri dan anaknya. Seperti itulah anakmu! Ayolah."


Woo Sung sudah siap menyerang Soo Ji, tinggal beberapa detik lagi. Tapi kemudian Kyung Soo muncul, ia menyetrum Woo Sung hingga tak sadarkan diri. Kyung Soo menunjukkan ponselnya, ternyata ia melacak keberadaan Soo Ji.

Soo Ji langsung merebut pistolnya dari ibu Woo Sung.


Kantor polisi masih sibuk menerima laporan. Tiba-tiba ponsel Soon Ae berdering, dari Soo Ji. Soon Ae menyamarkan kalau itu "voice phising" agar rekan-rekannya tidak curiga.


Soon Ae menuju toilet, saat memastikan tidak ada siapapun disana ia baru bicara.

"Beraninya kau meneleponku? Hei! Aku detektif yang hendak menangkapmu dan... Hei... Bagaimana bisa kau... menjadi kriminal?"

"Heol... Timjangnim dan mulut pedasnya." Soo Ji mencoba melucu.

Ia mengatakan kalau ia belum bisa membiarkan dirinya tertangkap, belum. Ada yang harus ia lakukan dulu. Soon Ae menanyakan apa rencana Soo Ji.


Soo Ji menyuruh Soon Ae menangkap Woo Sung,

"Kau sudah... menangkap Kim Woo Sung? Huh? Untuk membuktikan permainan kotor Yoon Seung Ro?"

"Yoon Seung Ro? Benar dia?"

"Itu yang dikatakan Kim Geomsa. Untuk menutupi tindakan anaknya, Yoon Seung Ro meloloskan Kim Woo Sung. Bukankah itu alasan kau memburunya?"

Soo Ji melamunkan surat kaleng Daejang. Ia lalu membenarkan dugaan Soon Ae. Kim Woo Sung harus ditahan agar terungkap sosok asli Yoon Seung Ro.


"Aku akan mengirim SMS. Kim Woo Sung di situ. Kali ini, kau akan menangkapnya, 'kan? Jika kali ini menangkap Kim Woo Sung lagi, para atasan akan menggonggong seperti dulu. Selama ini, Timjangnim sudah mencoba bertahan. Maaf harus mengembalikan keadaan seperti itu."

"Hei, jangan khawatir. Aku pintar... soal berpihak dan memilih teman. Aku akan menangkap Kim Woo Sung tanpa harus dimaki atasan."

"Terima kasih, Timjangnim."

"Kau... Apa kau terluka? Kau sudah makan? Kau cukup tidur?"

"Ya. Di dunia ini sudah tak ada Yu Na, tapi aku makan dan tidur tepat waktu. Aku makan dan tidur teratur."

"Bagus. Tunggulah di sana. Aku sendiri yang akan menangkapmu, sampai saat itu tiba, jangan biarkan orang lain menangkapmu."


Polisi akhirnya sampai dan membawa Woo Sung. Soo Ji memastikan hal itu lalu melapor pada yang lain.


Kyung Soo juga sudah selesai mengatur semuanya sesuai instruksi. Soo Ji senang, kalau begitu mari lihat akhirnya bersama.


Geomsajangnim Yoon disambut para reporter yang menginginkan komentarnya saat tiba di kantor kejaksaan.

"Kejaksaan serta Kepolisian sudah melakukan yang terbaik. Kami akan menangkap buronan Jo Soo Ji..." Komentar Geomsajangnim tapi terpotong.

Mendadak semua reporter mendapat pesan secara bersamaan lalu di layar sebuah gedung terputar rekaman suara Woo Sung.

"Seorang petinggi Kejaksaan melindungiku... Saat aku ditahan, seseorang meninggalkan catatan di bawah mangkuk sup-ku. Katanya selagi aku tidak mengaku, Kejaksaan akan menutupinya."

Soo Ji mengawasi rekasi Geomsajangnim Yoon dan para reporter itu dari atas.


"Noonim. Bagaimana siarannya?" Tanya Kyung Soo.

"Oh, responnya luar biasa. Kerja bagus, semuanya."

"Ohoo... sekarang kau akan berperang di area kekuasannya?" Ujar Bo Mi.

"Memang seharusnya begitu. Tapi, aku berhutang pada Daejang. Kita memburu Kim Woo Sung, tapi ia menuntun kita pada Yoon Seung Ro." Jawab Soo Ji

"Apa... dia tahu segalanya, maka itu melibatkan dirimu?" Tebak Kyung Soo.

"Hei, mungkin memang Daejang kita tahu banyak, tapi tetap saja dia itu bukan Dewa." Sela Bo Mi.

"Ada sebuah cara untuk tahu banyak tanpa menjadi Dewa." Jawab Soo Ji.

"Apa itu?" Tanya Kyung Soo.

"Kemungkinan, dia sangat dekat dengan Yoon Seung Ro, sampai mengetahui rahasia terdalamnya."

"Daejang kita Jaksa? Tidak mungkin." tebak Bo Mi.

"Siapa tahu? Aku tidak yakin, tapi tetap penasaran. Dia sebenarnya siapa? Apa tujuan sesungguhnya?"


Do Han tersenyum melihat Geomsajangnim Yoon dikerumuni banyak reporter begitu.


Pastur kembali mengunjungi nenek Han Dong Hoon, mereka menyaksikan berita soal tertangkapnya Woo Sung, pembunuh yang sesungguhnya.

"Sudah kubilang padamu. Cucuku... tidak mungkin membunuh. Cucuku itu... tidak melakukan kejahatan apa-apa. Dia hanya... Seorang petinggi Kejaksaan melindungiku." Dan nenek pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Do Han mengantar Bujangnim Oh yang akan menghadap Geomsajangnim Yoon, ia membawakan dasi dan jas-nya. Bujangnim Oh bingung, Apa yang harus ialakukan? ia dalam masalah besar.


"Kelihatannya begitu. Di saat seperti ini, dasi apa yang cocok? Ini pilihan yang sulit. Hitam untuk mengisyaratkan kebingungan? Atau untuk mengimplikasikan harapan dilepaskan lagi, pink?"

"Kau pikir sekarang saatnya memikirkan dasi? Yoon Seung Ro akan... Lupakan dasinya! Dia akan membunuhku, Bocah!"

"Kalau begitu, Bujangnim harus mengeluarkan kartu As."

"Apa itu?"

"Aey, Anda juga tahu, soal Geomsajangnim, bahwa Anda telah menutupi kasus anaknya."

"Itu malah akan membunuh kita berdua."

"Anda sedang berada di tepi jurang sekarang. Tidak usah takut akan yang mungkin terjadi. Anda harus menyelamatkan diri dulu dari situasi ini. Hanya dengan itu Bujangnim bisa menyelamatkan saya juga."

"Argh, ini gila."

"Bujangnim harus memberinya petunjuk terselubung namun jelas bahwa Anda juga memiliki senjata rahasia yang dapat Anda gunakan melawan dia."

"Begitu, ya? Itu satu-satunya cara aku bisa selamat, 'kan?"


Akhirnya Bujangnim Oh memilih dasi warna pink, ia sudah masuk pada saran Do Han, atau disebut jebakan Do Han?


"Kau sampah yang mengorbankan seorang anak tidak bersalah dan hanya peduli menyelamatkan diri sendiri. Cobalah terbang semampumu. Semakin kau mencoba terbang, akhirnya kau hanya akan tenggelam. Kau... sudah tamat!" Ucap Do Han pada lift yang menganguk Bujangnim Oh.

1 komentar so far

Terima kasih mbq sinopsisnya.. tetap semangat ya nulis nya..aq suka baca sinopsis di blog ini...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon